• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran

Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses belajar mengajar. Aktivitas siswa diperoleh dari hasil observasi selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Kegiatan-kegiatan yang diamati meliputi : kesiapan siswa untuk

38

belajar, merespon pada saat guru memberikan motivasi dan apersepsi, aktivitas membaca buku, LKS yang relevan dengan pelajaran biologi, aktivitas bertanya, aktivitas menjawab pertanyaan guru dan teman, mengajukan pendapat, mendengarkan penjelasan guru, membuat bagan, pola atau gambar, bekerja dalam kelompok, aktivitas dalam turnamen, mengkomunikasikan dan menanggapi hasil diskusi kelompok, menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan sikap ilmiah.

Berdasarkan hasil rekapitulasi data aktivitas siswa pada pembelajaran di kelas diketahui bahwa kelas XMIPA1 memperoleh persentasi aktivitas sebesar 96,76%; 96,77%; 100%; kelas XMIPA2 sebesar 68,75%; 78,15%; 97,25% dan kelas XMIPA3 sebesar 62,27%; 76,03%; 97% (Tabel 5). Hasil perolehan data pada pertemuan pertama, siswa kelas XMIPA2 dan XMIPA3 belum mencapai persentase aktivitas yang diharapkan (>85%) masing-masing persentase sebesar 68,75% dan 62,27%. Sebaliknya di kelas XMIPA1, persentase aktivitasnya sudah mencapai >85% yaitu sebesar 96,76. Tingginya aktivitas siswa di kelas XMIPA1 disebabkan karena siswa di kelas tersebut memiliki semangat yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran TGT berbasis eksplorasi mampu mengaktifkan siswa kelas XMIPA1 dalam pembelajaran. Rendahnya aktivitas di kelas XMIPA2 dan XMIPA3 disebabkan karena belum maksimalnya motivasi untuk bertanya dan berpendapat pada diri siswa pada kegiatan TGT maupun presentasi materi. Motivasi merupakan faktor yang paling penting dalam pencapaian prestasi belajar siswa, hal ini didukung oleh penelitian I Chao Lee (2010) yang menyatakan bahwa motivasi belajar dalam diri siswa, baik intrinsik maupun ekstrinsik adalah faktor yang paling penting pada prestasi belajar. Pertemuan kedua masing-masing kelas menunjukkan adanya peningkatan aktivitas terutama di kelas XMIPA2 dan XMIPA3, walaupun peningkatan tersebut tidak terlalu signifikan yaitu masing-masing 78,15 dan 76,03. Peningkatan di kedua kelas tersebut karena pada pertemuan kedua diadakan praktikum, sehingga mereka harus aktif dalam bertanya agar dapat melakukan praktikum dengan baik dan benar, selain itu saat kegiatan TGT mereka sudah tidak terlihat kaku lagi dalam menjawab maupun menyanggah pendapat teman lainnya. Meskipun sudah ada peningkatan, kedua kelas tersebut ternyata belum mencapai indikator

39

keberhasilan dalam penelitian. Sebaliknya, di kelas XMIPA1 persentase keaktivan selama proses pembelajaran cenderung stabil yaitu sebesar 96,77. Adanya kestabilan persentase keaktivan di kelas XMIPA1, karena kelas tersebut lebih memiliki motivasi tinggi dalam belajar yang terlihat di aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru serta aktivitas di kegiatan diskusi. dibandingkan dengan kedua kelas MIPA yang lain. Selanjutnya untuk persentase pertemuan ketiga, ketiga kelas sudah mencapai hasil yang diharapkan yaitu aktivitas >85% dari indikator keberhasilan dengan memiliki aktivitas tinggi dan sangat tinggi. Penyebab meningkatnya persentase di pertemuan tersebut karena, pada pertemuan ketiga siswa akan mempresentasikan hasil laporan praktikum dan juga merupakan hari terakhir pelaksanaan TGT. Sebelumnya guru sudah mengumumkan hasil skor sementara pelaksanaan TGT selama dua pertemuan sebelumnya. Bagi kelompok yang belum mencapai skor yang maksimal diharapkan memanfaatkan sebaik-baiknya pelaksaaan TGT di pertemuan ketiga ini. Hal ini memicu semangat siswa untuk lebih meningkatkan keaktivannya dalam kelas.

Analisis tiap aspek penilaian aktivitas siswa pada pertemuan pertama masih terdapat beberapa aspek yang memiliki persentase rendah (<75%) baik di kelas XMIPA1, XMIPA2 maupun XMIPA3. Aspek tersebut diantaranya mengajukan pendapat, mempersiapkan diri untuk belajar, bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru dan teman, membuat bagan atau gambar, merespon guru dalam memberikan motivasi dan apersepsi, membaca buku paket, LKS dsb serta sikap

ilmiah. Kelas XMIPA3 mendapatkan persentase terendah pada aktivitas “bertanya

dan mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan merespon guru dalam memberikan motivasi dan apersepsi” yaitu masing-masing sebesar 58% dan 65%. Pada aktivitas bekerja dalam kelompok dan aktivitas turnamen mendapatkan persentase tertinggi (>75%). Kelas XMIPA1 mendapatkan persentase tertinggi

pada aspek aktivitas “bekerja dalam kelompok dan mendengarkan penjelasan

guru” masing-masing sebesar 100% dan 98%. Kelas XMIPA3 mendapatkan persentase tertinggi pada aktivitas turnamen yaitu sebesar 100% sedangkan kelas XMIPA2 dari tiga aspek diatas masing-masing mendapatkan persentase 78%, 96% dan 89% (Lampiran 15). Adanya aspek yang masih memiliki persentase

40

rendah di kelas XMIPA1, XMIPA2 dan XMIPA3 dan belum adanya semangat dalam bertanya maupun berpendapat disebabkan karena model pembelajaran yang diterapkan berbeda dari biasanya sehingga siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang baru. Pada pembelajaran sebelumnya, mereka hanya datang, menulis dan mendengarkan. Adanya penerapan model pembelajaran TGT disertai dengan kegiatan eksplorasi, siswa dituntut untuk aktif dalam menggali sumber-sumber belajar secara mandiri tanpa tergantung dengan sumber-sumber belajar dari guru.

Pada pertemuan kedua, penilaian aktivitas siswa selama pembelajaran sama seperti pada pertemuan sebelumnya. Ada beberapa aspek yang meningkat dan ada juga aspek yang menurun. Kelas XMIPA2 dan XMIPA3 mengalami penurunan

pada aspek “mendengarkan penjelasan guru dengan persentase sebesar 86% dan 88%. Sebaliknya, di kelas XMIPA1 mengalami peningkatan hampir disemua

aspek yang dinilai. Penurunan terjadi di kelas XMIPA3 pada aspek “aktivitas bertanya kepada guru dan teman” yaitu sebesar 56% (lampiran 15). Adanya

penurunan pada aspek tersebut, hal ini karena pada pertemuan kedua siswa bekerja dalam kelompok untuk melakukan praktikum, fokus pada alat dan bahan yang sudah dipersiapkan, berdiskusi dengan kelompoknya tentang contoh air yang sudah mereka bawa dan akhirnya mengakibatkan siswa tidak terlalu mendengarkan penjelasan guru. Sementara itu, di kelas XIPA1 dalam aspek mendengarkan penjelasan guru, kelas tersebut memiliki persentase yang stabil, dan menunjukkan bahwa siswa di kelas XMIPA1 memiliki keinginan untuk lebih mengetahui cara kerja praktikum dengan mendengarkan penjelasan terlebih

dahulu. Pada aspek “sikap ilmiah” di kelas XMIPA1, XMIPA2 dan XMIPA3

sudah mengalami peningkatan yang cukup tinggi masing-masing sebesar 84%, 85% dan 91% (Lampiran 15).

Aspek sikap ilmiah sangatlah penting dalam penilaian aktivitas terutama di pertemuan kedua. Hal ini karena pada pertemuan tersebut siswa akan mengadakan sebuah eksperimen dengan menggunakan rancangan yang disusun oleh siswa, satu minggu sebelum diadakannya praktikum. Dalam merancang sebuah praktikum, siswa dituntun untuk bersikap ilmiah. Kegiatan merancang eksperimen ini, siswa melakukan sendiri untuk memecahkan permasalahan yang diberikan guru

41

sehingga melibatkan peran dan keaktifan siswa dalam melakukan pengamatan, pengambilan data, dan mengisi lembar pertanyaan. Tugas rancangan tersebut diberikan sebelum siswa memasuki materi Protista. Jika prosedur yang siswa tulis sudah sesuai dengan tema permasalahan yang diberikan, rancangan tersebut akan ditandatangani oleh guru.

Praktikum pengamatan Protista dilakukan dengan pengambilan sampel air. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan siswa adalah mengambil sampel disekitar lingkungan tempat tinggal mereka dan lingkungan sekolah. Adanya kegiatan praktikum yang memanfaatkan lingkungan sekitar, siswa lebih tertarik dalam proses pembelajaran karena siswa menemukan berbagai jenis Protista pada sampel yang mereka amati sehingga menimbulkan rasa ingin tahu siswa yang menyebabkan siswa lebih aktif dan dapat bersikap ilmiah. Sikap ilmiah yang dimaksud pada kegiatan pertemuan kedua ini adalah bagaimana kesiapan siswa dalam persiapan pelaksanaan praktikum, baik menentukan sumber air yang akan digunakan untuk praktikum maupun rancangan praktikum yang mereka susun, melaksanakan praktikum dengan baik, serta membuat laporan praktikum disertai dengan data, pembahasan dan sumber yang mendukung. Manfaat dilaksanakannya kegiatan praktikum mengakibatkan siswa mampu berpikir kristis dan ilmiah dengan apa yang mereka jumpai dilapangan. Selain itu siswa mampu membandingkan dengan teori yang telah mereka peroleh. Hal ini didukung oleh penelitian Taraban et al. (2007) yang membuktikan bahwa implikasi utama dari penerapan laboratorium berbasis pembelajaran aktif yang digunakan oleh guru-guru SMA di ruang kelas, menyebabkan peningkatan penggunaan praktik pembelajaran yang berpusat pada siswa serta meningkatkan pengetahuan dan proses pembelajaran serta dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara ilmiah. Disamping membuat rancangan eksperimen, siswa diberi tugas membuat kartu Alga dan kartu paramecium. Hal ini bertujuan mempermudah siswa dalam membandingkan gambar dengan hasil pengamatan mereka dan memudahkan siswa dalam belajar materi Protista. Tugas kartu Alga dan kartu paramecium menuntut siswa untuk mencari sumber belajar sebanyak-banyaknya baik melalui internet maupun buku biologi yang relevan.

42

Pada pertemuan ketiga, hampir di ketiga kelas MIPA ditiap aspek

mengalami peningkatan. Terlihat di kelas XMIPA1 pada aspek “merespon guru

dalam memberikan motivasi dan apersepsi” mengalami peningkatan sebesar 93%,

begitupun juga di kelas XMIPA2 dan XMIPA3 mengalami peningkatan sebesar

81% dan 67%. Aspek “aktivitas bertanya kepada guru dan teman, menjawab

pertanyaan, mengajukan pendapat, membuat bagan,pola dan gambar, bekerja

dalam kelompok dan menyimpulkan kegiatan pembelajaran” mengalami

peningkatan yang cukup tinggi di kelas XMIPA1 dan XMIPA2. Tetapi, aspek

“bertanya kepada guru dan teman”, menjawab pertanyaan dan mengajukan pendapat” di kelas XMIPA3 cenderung masih rendah yaitu masing-masing sebesar 56%, 67% dan 65% (lampiran 15). Secara keseluruhan siswa di ketiga kelas MIPA, ada beberapa siswa yang tidak mengalami peningkatan aktivitas dari pertemuan ke pertemuan berikutnya. Penyebab secara keseluruhan belum adanya peningkatan pada aspek tersebut karena adanya faktor internal siswa, yaitu karakteristik siswa. Siswa dengan karakter pendiam, sulit berubah menjadi siswa yang aktif dalam waktu singkat. Adanya siswa yang memiliki karakter pendiam, penulis memiliki solusi yaitu memberikan sebuah tanggung jawab kepada siswa tersebut dengan menjadikannya ketua dalam kelompok diskusi, presentasi maupun kelompok praktikum. Hal ini bisa menjadikan siswa yang pendiam bisa menjadi aktif, karena dia mengemban tanggung jawab baik bagi dirinya maupun teman sekelompoknya dalam hal tugas mata pelajaran maupun nilai keaktifan didalam kelas.

Pembelajaran model TGT berbasis eksplorasi mampu mengoptimalkan aktivitas siswa, karena komponen pembelajaran TGT didominasi oleh aktivitas siswa. Melalui serangkaian kegiatan presentasi, diskusi, game dan eksplorasi siswa dapat memahami konsep materi Protista. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa aktivitas siswa mengikuti games tournament sangat tinggi. Keaktifan siswa pada kegiatan games tournament selama tiga pertemuan memiliki rata-rata sebesar 98% (kelas XMIPA1); 96% (kelas XMIPA2) dan 98% (kelas XMIPA3) (lampiran 15). Keaktifan siswa bermain games dipengaruhi oleh ketertarikan siswa terhadap pembelajaran. Pembelajaran yang dikombinasikan

43

dengan games memberikan suasana yang menyenangkan, siswa terlibat langsung dalam pembelajaran dan secara tidak disadari siswa dapat memahami dan mengerti konsep materi yang diajarkan. Hal ini didukung dengan penelitian hyungsung (2012) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan permainan terbukti meningkatkan minat peserta didik dan memotivasi peserta dalam mengeksplorasi dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Penghargaan yang diberikan kepada kelompok dengan skor tertinggi dapat meningkatkan motivasi belajar dan aktivitas selama proses pembelajaran. Kenadala yang dihadapi pada saat pelaksanaan tournament adalah suasana kelas yang ramai dan mengganggu konsentrasi siswa sehingga diperlukan pengelolaan kelas dengan baik. Menurut Usman (2002), pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Ketertarikan dan keantusiasan siswa dalam kegiatan eksperimen dengan mengerjakan LDS dan LKS mampu membangun keterampilan proses sains siswa, diantaranya menjelaskan, mengamati, pengambilan data, interpretasi dan mengkomunikasikan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Haryono (2006) bahwa siswa harus diberikan kesempatan untuk langsung terlibat dalam aktivitas dan pengalaman ilmiah seperti apa yang dilakukan atau dialami oleh ilmuwan, dan demikian siswa dididik dan dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan mengolah informasi melalui aktivitas berpikir dengan mengikuti prosedur (metode) ilmiah yang mana akan membangun keterampilan proses siswa.

2. Hasil Belajar Siswa

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) penilaian dilakukan secara tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni et al. 2005). Penilaian hasil

44

belajar dalam penelitian ini menggunakan assesmen alternatif, sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa karena nilai belajar tidak hanya didapat dari nilai evaluasi akhir saja.

a. Hasil Belajar Ranah Kognitif

Hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran TGT berbasis eksplorasi menunjukkan hasil yang cukup baik. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa presentase ketuntasan pada setiap kelas menunjukkan ketercapaian indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu ketuntasan klasikal siswa ≥80% dengan Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM) sebesar 75. Sebelumnya peneliti menetapkan batas tuntas minmal sebesar 80, tapi melihat kondisi di salah satu kelas yang tidak memungkinkan untuk KKM sebesar 80, maka peneliti menurunkan KKM menjadi 75 dan dalam hal ini peneliti menaikkan KKM yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh guru mata pelajaran yaitu sebesar 70. Ketuntasan klasikal pada penelitian ini tergolong tinggi, yaitu sebesar 93,54% (XMIPA1); 75% (XMIPA2) dan 82,75% (XMIPA3). Berdasarkan tabel 6, diketahui nilai tertinggi dari seluruh sampel kelas XMIPA adalah 89,32 yang terdapat di kelas XMIPA1, sedangkan nilai terendahnya adalah 63,93 yang dicapai oleh kelas XMIPA3. Nilai rata-rata dari semua kelas XMIPA sampel penelitian adalah 83,76 dengan ketuntasan klasikal dari ketiga kelas sebesar 84%

Ketuntasan belajar siswa diperoleh dari perhitungan nilai akhir siswa, diperoleh dari 10% dari nilai turnamen, 20% dari nilai LDS dan tugas, 30% dari nilai laporan dan 40% dari nilai evaluasi. Pencapaian hasil belajar yang sangat tinggi terdapat di kelas XMIPA1 dan XMIPA3 yaitu sebesar 93,54 dan 82,75 sedangkan kelas XMIPA2 hanya memperoleh ketuntasan belajar klasikal sebesar 78,08%. Hal ini dikarenakan oleh faktor internal dan eksternal pada diri siswa. Sebelum peneliti melakukan penelitian dikelas XMIPA2, guru mata pelajaran memberikan informasi tentang keadaan dan bagaimana situasi di kelas XMIPA2. Diketahui bahwa kelas XMIPA2, sebagian siswanya merupakan pindahan dari kelas IPS, dimana atas permintaan orangtua dipindah ke jurusan MIPA. Kondisi yang demikian berdampak pada hasil belajar siswa. Hal tersebut sesuai dengan

45

pendapat Anni et al.(2005) bahwa kondisi eksternal seperti variasi pembelajaran dan lingkungan belajar serta kondisi internal yang mencakup kesehatan fisik, kemampuan intelektual, emosional dan kondisi sosial akan mempengaruhi kesiapan, proses, dan hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar kognitif diketahui bahwa ada beberapa siswa yang dinyatakan tidak tuntas pada hasil belajar ranah kognitif meliputi 2 (dua) orang pada kelas XMIPA1, 7 (tujuh) orang pada kelas XMIPA2 dan 5 (lima) orang di kelas XMIPA3. Dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya terutama untuk kelas XMIPA2, mengalami peningkatan yang sangat baik. Sebelumnya dikelas XMIPA2 hampir sebagian besar siswa mengikuti remidial. Adanya siswa yang belum tuntas belajar salah satunya disebabkan siswa kurang dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru, ribut sendiri, tidak serius dalam proses pembelajaran. Sewaktu kelompok mereka diberikan tugas, beberapa anggota dari kelompok melaporkan bahwa ada yang tidak ikut mengerjakan tugas ataupun mencari sumber materi. Bagi siswa yang mendapatkan hasil tes kurang dari batas tuntas yang telah ditetapkan, guru mengadakan remidial.

Hasil analisis data pada nilai diskusi dan tugas dari tiga kali pertemuan yang diperoleh masing-masing kelas sebesar 93,20 di kelas XMIPA1; 93,09 di kelas XMIPA2 dan 88,78 di kelas XMIPA3 (lampiran 16). Kegiatan diskusi bertujuan untuk merangsang siswa agar lebih siap menerima materi yang akan diberikan oleh guru. Secara umum, aktivitas diskusi meliputi mengerjakan Lembar Diskusi Siswa, membuat kartu Alga dan kartu paramecium, mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi hasil diskusi siswa. Pembelajaran berbasis eksplorasi mengarahkan siswa untuk mencari sumber belajar serta bahan-bahan yang akan digunakan dalam praktikum. Kegiatan selanjutnya yaitu merencanakan kegiatan, menganalisis rencana kegiatan, mencari buku maupun di internet sebagai sumber, melakukan percobaan, menyampaikan data dan menganalisis data serta mengambil kesimpulan.

Analisis kegiatan TGT diketahui bahwa sebagian siswa memperoleh nilai sangat bagus pada kegiatan TGT. Rata-rata nilai hasil tiga kali pelaksanaan TGT

46

yaitu 82 dikelas XMIPA1, 84 di kelas XMIPA2 dan 78 dikelas XMIPA3 (lampiran 16).Games dalam proses pembelajaran juga memiliki peranan penting. Adanya Games tournament, siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan keterlibatan siswa ini dapat memotivasi siswa mengingat kembali materi yang diajarkan oleh guru. Kegiatan Games-Tournament menciptakan suasana yang tidak membosankan. Adanya tournament antar kelompok, setiap siswa bertanggung jawab mencari jawaban dan pemahaman terhadap materi, supaya dapat memberikan konstribusi didalam kelompoknya. Agar dapat meraih tujuan personal mereka, anggota kelompok saling membantu untuk mencapai pemahaman materi dan nilai yang tinggi (Slavin 2008). Akhir dari kegiatan TGT, siswa akan mendapatkan penghargaan kelompok. Tujuan dari penghargaan kelompok ini adalah agar siswa termotivasi dan lebih giat untuk belajar. Penghargaan yang diberikan berupa pujian, applause, sertifikat dan hadiah. Kegiatan ini mampu menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini didukung oleh pendapat Gregory (2012) yang menyatakan bahwa pemberian penghargaan kepada siswa dimaksudkan untuk menyampaikan kompetensi yang dapat mempengaruhi perkembangan prestasi dikemudian hari. Media yang digunakan dalam Games Tournament menggunakan kartu soal yang isinya relevan dengan materi dan pelaksaanaan kerja tim. Kartu tersebut juga divariasaikan dengan gambar agar lebih terlihat menarik.

Secara umum, penggunaan model belajar TGT berbasis eksplorasi efektif digunakan dalam meningkatkan hasil belajar ranah kognitif. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang sudah lebih besar dari 75 dari indikator keberhasilan. Ketercapaian ini disebabkan karena suasana belajar mengajar yang berbeda dari biasanya. Adanya games dalam pembelajaran merupakan suatu yang baru bagi siswa-siswa kelas XMIPA. Kegiatan eksplorasi yang menuntut untuk siswa lebih mandiri dan aktif, baik dalam mencari sumber belajar maupun aktif dalam proses pembelajaran. Adanya semacam penghargaan bagi kelompok terbaik yang mengumpulkan tugas tepat waktu serta kerja tim yang solid merupakan menjadi pengaruh tersendiri bagi siswa untuk menjadi lebih aktif dan bersemangat

47

dari pembelajaran yang biasanya. Selama pelaksanaan penelitian, terdapat beberapa kendala ketika di lapangan diantaranya :

1. Kurangnya waktu untuk memahami materi yang disampaikan.

2. Siswa terkadang mengalami kesulitan dalam menerangkan materi kepada siswa yang lain (kegiatan presentasi).

3. Pembagian kelompok karena ada peserta didik yang menolak pembagian kelompok yang ditentukan oleh guru. Hal ini juga yang menyebabkan motivasi belajar beberapa siswa kurang pada saat pembelajaran berlangsung.

4. Pelaksanaan praktikum yang seharusnya di Laboratorium, dilaksanakan diperpustakaan. Hal ini karena laboratorium biologi di SMA 1 Tengaran sedang dalam proses perbaikan. Sehingga dalam hal ini peralatan praktikum seperti mikroskop harus dipindahkan keperpustakaan. Hal ini yang menyebabkan waktu praktikum menjadi berkurang.

5. Kondisi salah satu dari tiga kelas yaitu kelas XMIPA2 yang memiliki riwayat pindahan dari jurusan IPS, sehingga harus lebih ekstra dalam menjelaskan materi.

b. Hasil Belajar Ranah Psikomotorik

Pengukuran hasil belajar ranah psikomotorik dilakukan menggunakan lembar penilaian aspek psikomotorik siswa. Proses penilaian dilakukan selama proses praktikum berlangsung dengan mengamati keterampilan siswa selama proses pengamatan Protista. Hal-hal yang dinilai meliputi mempersiapkan alat dan bahan, penggunaan mikroskop, proses pengamatan dan pembuatan laporan. Berdasarkan hasil rekapitulasi data hasil belajar ranah psikomotorik, siswa kelas XMIPA1 memperoleh nilai psikomotorik lebih tinggi daripada siswa kelas XMIPA2 dan XMIPA3. Hasil analisis rata-rata nilai psikomotorik siswa kelas XMIPA1 mencapai 86,78 sedangkan di kelas XMIPA2 dan XMIPA3 masing-masing mencapai 82,59 dan 86,37 (Tabel 7). Persentase pencapaian siswa dalam kegiatan praktikum dimulai dari persiapan alat dan bahan sampai pembuatan laporan (Tabel 8). Berdasarkan analisis, ada beberapa aspek yang memiliki persentase rendah. Aspek tersebut diantaranya adalah melakukan pengamatan

48

dengan benar, membuat laporan dan mengkomunikasikan laporan tepat waktu. Sebagian besar siswa tidak membuat laporan dengan lengkap, seperti kurangnya keterangan pada gambar dan beberapa pertanyaan yang belum dijawab dengan

tepat. Pada aspek ”membuat laporan akhir praktikum” kelas XMIPA2

mendapatkan persentase terendah masing-masing sebesar 78% sedangkan untuk

aspek “mengumpulkan dan mengkomunikasikan laporan tepat waktu, kelas

XMIPA1 dan XMIPA2 mendapatkan presentase terendah yaitu masing-masing sebesar 79%.

Dilihat dari aspek “kegiatan pengamatan”, kelas XMIPA2 mendapatkan persentase terendah yaitu 64%, kelas XMIPA1 dan XMIPA3 masing-masing mendapatkan persentase sebesar 79% dan 80% (Tabel 7), belum dapat mengamati obyek dengan benar. Selain itu, mereka belum bisa membedakan antara jenis Protista dan kotoran yang terkandung dalam air. Pada saat pelaksanaan praktikum, masih ada siswa yang kesulitan dalam menggunakan mikroskop karena kurangnya intensitas penggunaan mikroskop disertai dengan preparat dipembelajaran sebelumnya. Hal ini yang menyebabkan siswa masih kesulitan dalam melakukan pengamatan. Secara keseluruhan, aspek yang lain menunjukkan persentase yang cukup tinggi diantaranya aspek kesiapan alat dan bahan, menarik kesimpulan dan

membuat laporan praktikum. Aspek “kesiapan alat dan bahan” persentase kelas XMIPA1 dan XMIPA2 sebesar 100% dan XMIPA3 sebesar 88%. Aspek

“menarik kesimpulan” persentase kelas XMIPA1 dan XMIPA3 sebesar 89% dan

XMIPA3 sebesar 90% (Tabel 7). Berdasarkan Tabel 7, terlihat bahwa sebagian besar siswa sudah mencapai ketuntasan maksimal (>75). Persentase siswa yang

Dokumen terkait