• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Potensi Tegakan

2. Karakteristik Eksternal

2.7 Aktivitas Usahatani

Berdasarkan hasil wawancara dengan para responden/petani sebagai pelaksana kegiatan pada berbagai pola agroforestri di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ditemukan karakteristik ekstenal dari aspek aktivitas usahatani, yang rinciaannya disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20. Distribusi responden berdasarkan aktivitas usahatani

Pola agroforestri

Aktivitas Usahatani Tembawang Karet Bawas Lalang Total

N % N % N % N % N % Rendah ( < 20 ) Sedang (20-40 ) Tinggi ( > 40 ) 0 30 0 0 100 0 0 21 9 0 70 30 0 23 7 0 77 23 0 22 8 0 73 27 0 96 24 0 80 20 Kisaran 27-45 Rata-rata 36,9

Aktifitas yang dilakukan oleh petani dalam kegiatan usahatani agroforestri berada pada tingkat sedang 96 orang atau meliputi 80% dan 24 orang atau 20%. Aktifitas usahatani yang dilakukan meliputi penyiapan lahan, penggunaan saprodi, pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman dan pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit sebagian masih mempraktekkan cara berusahatani yang sifatnya masih tradisional begitupun dalam penggunaan peralatan masih menggunakan peralatan yang konvensional.

Analisis Kelayakan Finansial Agroforestri

Perhitungan analisis kelayakan finansial untuk kegiatan agroforestri, baik pada pola tembawang, kebun karet, bawas dan lalang dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan para responden/masyarakat, berkaitan dengan pola pengelolaan yang dikembangkan oleh masyarakat, dan berdasarkan hasil pengukuran potensi tegakan pada berbagai pola agroforestri tersebut. Untuk itu kelayakan pengusahaan berbagai pola agroforestri tersebut dengan menggunakan metode aliran kas dari biaya dan pendapatan yang terdiskonto. Dalam analisis kelayakan finansial ini jangka waktu yang digunakan adalah berdasarkan daur (siklus tebang) ekonomis, dimana untuk

pola tembawang digunakan daur 35 tahun, untuk pola kebun karet digunakan daur 25 tahun, untuk pola bawas digunakan daur 35 tahun, dan untuk pola lalang digunakan daur 8 tahun.

Berdasarkan hasil perhitungan berdasarkan biaya produksi dan harga jual pada akhir daur diperoleh pendapatan untuk masing-masing pola agroforestri yang terdapat di Desa Idas seperti tertera pada Tabel 21.

Tabel 21. Distribusi pendapatan berdasarkan pola agroforestri

Pola Agroforestri Biaya Produksi

(Rp) Potensi (m 3 Harga (Rp/m /ha) 3 Pendapatan (Rp/tahun) ) Tembawang 14.685.000 170,07 750.000 766.859.800* Kebun Karet 4,893.000 110,30 150.000 116.158.550* Bawas 5.102.000 163,00 750.000 122.235.093 Lalang 3.355.000 52,29 150.000 7.893.791 Keterangan:*total pendapatan sudah termasuk pendapatan dari hasil non kayu

Data pada Tabel 21 menggambarkan bahwa setiap pola agroforestri yang dikembangkan di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat membutuhkan biaya produksi yang bervariasi, dimana dalam hal ini lebih dipengaruhi oleh bervariasinya jenis tanaman yang ditanam, dimana untuk setiap jenis tanaman mempunyai harga yang berbeda. Khusus untuk pola tembawang jenis tanaman yang dikembangkan terdiri dari jenis tanaman buah dengan harga yang lebih tinggi, dan jenis tanaman kayu-kayuan yang didominasi jenis tanaman dari famili Dipterocarpaceae juga dengan harga yang relatif tinggi. Sedangkan pada pola lalang jenis tanaman yang ditanam adalah jenis akasia dengan harga bibit yang relatif murah.

Dari aspek harga kayu, dimana untuk kayu-kayu yang dihasilkan dari agroforestri pola tembawang dan pola bawas relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga kayu karet yang dihasilkan dari agoforestri pola kebun karet. Begitu juga halnya dengan harga kayu akasia yang dihasilkan dari agroforestri pola lalang hanya 150 ribu/m3. Harga kayu dari setiap pola agroforestri sangat menentukan pendapatan yang diperoleh para petani, dalam hal ini kontribusi pendapatan terbesar diperoleh petani dari agroforestri pola tembawang, diikuti pola kebun karet, disusul pola bawas, dan kontribusi pendapatan terendah adalah dari agroforestri pola lalang.

61

Selanjutnya besarnya suku bunga yang digunakan dalam menganalisis kelayakan finansial terhadap kegiatan berbagai pola agroforestri adalah 14 %, dan satuan yang digunakan berdasarkan perhektar lahan. Selanjutnya rincian penghitungan kelayakan finansial untuk berbagai pola agroforestri di Sanggau Kalimantan Barat disajikan pada Lampiran 10, 11, 12, dan Lampiran 13. Sedangkan rekapitulasi hasil perhitungan kelayakan finansialnya disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22. Hasil Analisis Finansial masing-masing pola pengelolaan agroforestri

No Pola agroforestri Daur (tahun) Discount Factor (DF) NPV (Rp) IRR (%) B/C Rasio 1 Tembawang 35 14% 51.851.785 44 12,64 2 Karet 25 14% 8.308.056 28 2,12 3 Bawas 35 14% 93.273.606 26 0,38 4 Lalang 8 14% 35.280 14 0,99

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel 22 memperlihatkan bahwa hasil analisis kelayakan finansial untuk masing-masing pola agroforestri, baik pola tembawang, kebun karet, bawas dan lalang yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau ternyata memberikan hasil yang sangat bervariasi, dimana pada kondisi Discount Factor (DF) yang sama untuk setiap pola agroforestri yaitu 14 % menghasilkan nilai NPV berkisar antara Rp 35.280 sampai Rp 93.273.606, dan menghasilkan nilai IRR antara 14 % sampai 44 %, sedangkan nilai B/C Rasio antara 0,38 sampai 12,64. Daur atau siklus tebang yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada daur ekonomis, untuk itu setiap pola agroforestri daur ekonomisnya berbeda-beda, dimana untuk agroforestri pola tembawang daurnya 35 tahun, kebun karet 25 tahun, bawas 35 tahun, dan lalang daurnya 8 tahun.

Secara umum kelayakan finansial untuk berbagai pola kegiatan agroforestri yang ada di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat sangat ditentukan oleh potensi kayu yang terdapat pada masing-masing pola agroforestri tersebut. Sementara potensi kayu per hektar pada setiap pola agroforestri tersebut tergantung pada jenis kayu dan kerapatan tegakan untuk setiap jenis kayu, diameter dan tinggi pohon untuk setiap jenis pohon. Disamping itu kelayakan finansial kegiatan tersebut ditentukan harga kayu dari setiap jenis

kayu yang diproduksi dari masing-masing pola agroforestri. Dalam hal ini harga kayu yang digunakan adalah harga kayu berdasarkan harga pasar yang berlaku diwilayah penelitian.

Selanjutnya kelayakan finansial untuk masing-masing pola agroforestri diuraikan sebagai berikut:

Pola Tembawang

Berdasarkan data hasil analisis kelayakan finansial yang tertera pada Tabel 22 terkait dengan kegiatan agroforestri pola tembawang memperlihatkan bahwa pada kondisi Discount Factor (DF) 14 % dan daur atau silkus tebang secara ekonomis pada umur 35 tahun, maka menghasilkan penerimaan sekarang bersih (NPV) sebesar Rp. 51.851.785 per tahun. Sementara dengan nilai tingkat pengembalian (IRR) 44 %, artinya sampai tingkat suku bunga tersebut kredit usaha tani untuk kegiatan agroforestri pola tembawang masih menguntungkan. Disisi lain dari analisis ini juga menghasilkan rasio manfaat biaya (B/C) sebesar 12,64, artinya investasi satu rupiah pada factor disconto 14 % akan memberikan pengembalian sebesar 12,64 rupiah. Karena nilai B/C yang dihasilkan lebih besar dari satu, maka kegiatan agroforestri pola tembawang di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau layak dan dapat dilanjutkan oleh para petani, karena dapat memberikan keuntungan kepada para petani.

Pola Karet

Berdasarkan data hasil analisis kelayakan finansial yang tertera pada Tabel 22 terkait dengan kegiatan agroforestri pola kebun karet memperlihatkan bahwa pada kondisi Discount Factor (DF) 14 % dan daur atau silkus tebang secara ekonomis pada umur 25 tahun, menghasilkan penerimaan sekarang bersih (NPV) sebesar Rp. 8.308.056 per tahun. Sementara dengan nilai tingkat pengembalian (IRR) 28%, artinya sampai tingkat suku bunga tersebut kredit usaha tani untuk kegiatan agroforestri pola tembawang masih menguntungkan. Disisi lain dari analisis ini juga menghasilkan rasio manfaat biaya (B/C) sebesar 2,12, artinya investasi satu rupiah pada factor disconto 14 % akan memberikan pengembalian sebesar 2,12 rupiah. Mengingat nilai B/C yang dihasilkan lebih besar dari satu,

63

maka kegiatan agroforestri pola kebun karet di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau layak dan dapat dilanjutkan oleh para petani, karena dapat memberikan keuntungan kepada para petani.

Pola Bawas

Berdasarkan data hasil analisis kelayakan finansial yang tertera pada Tabel 22 terkait dengan kegiatan agroforestri pola bawas memperlihatkan bahwa pada kondisi Discount Factor (DF) 14 % dan daur atau silkus tebang secara ekonomis pada umur 35 tahun, menghasilkan NPV sebesar Rp. 93.273.606 per tahun. Sementara dengan nilai IRR 26%, artinya sampai tingkat suku bunga tersebut kredit usaha tani untuk kegiatan agroforestri pola bawas masih menguntungkan. Disisi lain dari analisis ini juga menghasilkan B/C sebesar 0,38, artinya investasi satu rupiah pada factor disconto 14 % akan memberikan pengembalian sebesar 0,38 rupiah. Karena nilai B/C yang dihasilkan lebih kecil dari satu, maka kegiatan agroforestri pola bawas di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau tidak layak dan tidak dapat dilanjutkan oleh para petani, karena tidak dapat memberikan keuntungan kepada para petani jika kegiatan tersebut tetap dilanjutkan.

Pola Lalang

Berdasarkan data hasil analisis kelayakan finansial yang tertera pada Tabel 22 terkait dengan kegiatan agroforestri pola lalang memperlihatkan bahwa pada kondisi Discount Factor (DF) 14 % dan daur atau silkus tebang secara ekonomis pada umur 8 tahun, menghasilkan NPV sebesar Rp. 35.280 per tahun. Sementara dengan nilai IRR 14%, artinya sampai tingkat suku bunga tersebut kredit usaha tani untuk kegiatan agroforestri pola tembawang masih menguntunmgkan. Disisi lain dari analisis ini juga menghasilkan B/C sebesar 0,99, artinya investasi satu rupiah pada factor disconto 14 % akan memberikan pengembalian sebesar 0,99 rupiah. Karena nilai B/C yang dihasilkan lebih kecil dari satu, maka kegiatan agroforestri pola lalang di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau tidak layak dan tidak dapat dilanjutkan oleh para petani, karena tidak dapat

memberikan keuntungan kepada para petani jika kegiatan tersebut tetap dilanjutkan.

Analisis Korelasi Faktor Internal dan Eksternal Terhadap Motivasi petani pada Berbagai Pola Agroforestri

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap karakteristik faktor internal dan faktor eksternal yang sudah dibahas pada sub bab analisis sosial ekonomi, lebih lanjut dilakukan analisis korelasi faktor internal dan eksternal terhadap motivasi petani dalam melaksanakan kegiatan agroforestri di Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, baik terhadap pola tembawang, pola kebun karet, pola bawas, dan pola lalang. Untuk menganalisis korelasi ini dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda (program SPSS). Hasil dari analisis regresi terhadap berbagai pola agroforestri diuraikan sebagai berikut: Pola Tembawang

Berdasarkan hasil analisis regresi terkait dengan korelasi anatara faktor internal dan faktor ekternal terhadap motivasi petani pada kegiatan agroforestri pola tembawang diperoleh anovanya seperti tertera pada Lampiran 25. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:

y = 15,102 + 0,041 X14 + 0,332 X22 + 0,666 X25 + e

Berdasarkan persamaan tersebut ternyata tingkat motivasi petani pada pola tembawang dipengaruhi oleh faktor pengalaman usaha tani (X14), intensitas penyuluhan (X22), dan pendapatan petani (X25). Ketiga faktor tersebut berkorelasi secara positif terhadap motivasi petani dalam melakukan kegiatan agroforestri pola tembawang, artinya motivasi para petani untuk melakukan kegiatan pengembangan agroforestri pola tembawang sangat ditentukan oleh ketiga faktor tersebut, dimana para petani akan lebih bersemangat untuk melaksanakan semua program dan arahan yang dianjurkan oleh pihak pelaksana proyek (SFDP-PPHK). Namun demikian sebenarnya tanpa adanya kegiatan proyek SFDP-PPHK pun masyarakat di Desa Idas, sudah melakukan kegiatan agroforestri pola tembawang secara turun-temurun, karena dengan pola tembawang masyarakat dapat memperoleh hasil dari kayu dan non kayu, sehingga

65

masyarakat dapat memperoleh pendapatan untuk kebutuhan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Namun dengan adanya proyek SFDP-PPHK ini para petani/masyarakat akan lebih meningkat motivasi untuk mengembangkan agroforestri pola tembawang di lahan-lahan mareka.

Selanjutnya semakin tinggi pengalaman berusaha tani bagi setiap petani, terutama pengalaman dalam pengembangan agroforestri tembawang, membuat para petani lebih memahami terkait dengan teknik dan strategi pengelolaan tembawang, mulai dari kegiatan pembersihan lahan, perbenihan, persemaian, kegaiatan penanaman, dan kegiatan pemeliharan termasuk pemberantasan hama dan penyakit, serta teknologi pemanenan, dalam hal ini semua tahapan pekerjaan tersebut dapat dikerjakan secara efektif dan efisien. Begitu juga halnya dengan intensitas penyuluhan, dimana semakin sering para petani diberikan penyuluhan, bimbingan baik terkait teknis dan non teknis, membuat para petani dengan mudah dapat memahami dan meyakinkan para petani tentang manfaat yang akan diperoleh melalui pengembangan tembawang, sehingga membuat para petani bersemangat untuk melaksanakan semua tahapan kegiatan pada agroforestri pola tembawang. Disamping itu pendapatan para petani juga ikut berpengaruh terhadap motivasi petani untuk melaksanakan program pengembangan agroforestri pola tembawang, dimana bagi petani dengan tingkat pendapatan lebih tinggi, tentunya sebagian dari pendapatan tersebut dapat digunakan untuk membeli kebutuhan saprodi dan biaya lainnya dalam rangka pengembangan agroforestri tembawang tersebut.

Pola Kebun Karet

Berdasarkan hasil analisis regresi terkait dengan korelasi antara faktor internal dan faktor ekternal terhadap motivasi petani pada kegiatan agroforestri pola kebun karet diperoleh anovanya seperti tertera pada Lampiran 26. Selajutnya berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:

y = 17,007 + 0,22 X14 + 1,46 X24 + 0,78 X25 + e

Berdasarkan persamaan tersebut ternyata tingkat motivasi petani pada pola kebun karet dipengaruhi oleh faktor pengalaman usaha tani (X14), tenaga kerja (X24), dan pendapatan (X25). Ketiga faktor tersebut berkorelasi positif terhadap motivasi petani dalam melaksanakan program pengembangan agroforestri pola

kebun karet. Semakin tinggi jumlah tenaga kerja dan pendapatan maka semakin tinggi pula motivasi dalam kegiatan agroforestri, dimana pada kegiatan pengambangan agroforestri kebun karet dilakukan pada lahan milik masyarakat, dan semua tahapan kegiatan dilakukan oleh masing-masing petani, kecuali kebutuhan bibit karet yang disediakan oleh pihak Proyek SFDP-PPHK. Untuk ketersediaan dan jumlah anggota keluarga para petani yang dapat membatu dalam pelaksanaan kegiatan agroforestri ini tentunya akan sangat membantu. Sementara bagi petani yang mempunyai tingkat pendapatan yang lebih tinggi, tentunya jika tidak tersedia tenaga keluarganya sendiri, akan mengajak tenaga kerja dari luar untuk melakukan tahapan kegiatan pada pola agroforestri tersebut.

Pola Bawas

Berdasarkan hasil analisis regresi terkait dengan korelasi anatara faktor internal dan faktor ekternal terhadap motivasi petani pada kegiatan agroforestri pola bawas diperoleh anovanya seperti tertera pada Lampiran 27. Selajutnya berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:

y = 3,012 + 0,048 X24 + 0,205 X27 + e

Berdasarkan persamaan tersebut ternyata tingkat motivasi petani pada pola bawas hanya dipengaruhi oleh faktor tenaga kerja (X24), dan aktivitas usaha tani (X27). Kedua faktor tersebut berkorelasi positif terhadap motivasi petani dalam melaksanakan kegiatan agroforestri pola bawas. Semakin tinggi kedua faktor tersebut maka semakin tinggi pula tingkat motivasi petani dalam melakukan kegiatan agroforestri, sementara faktor lain tidak berpengaruh terhadap tingkat motivasi petani dalam kegiatan agroforestri.

Pola Lalang

Berdasarkan hasil analisis regresi terkait dengan korelasi anatara faktor internal dan faktor ekternal terhadap motivasi petani pada kegiatan agroforestri pola lalang diperoleh anovanya seperti tertera pada Lampiran 28. Selajutnya berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:

y = 10,41 – 0,079X11 + 0,074X14 + 0,25X27 + e

Berdasarkan persamaan tersebut ternyata tingkat motivasi petani pada pola lalang dipengaruhi oleh faktor umur (X11), pengalaman usaha tani (X14), dan

67

aktivitas usaha tani (X27). Pengalaman usaha tani dan aktivitas usaha tani berkorelasi positif, sedangkan umur petani berkorelasi negatif terhadap motivasi petani dalam melaksanakan kegiatan pengembangan agroforestri pola lalang. Semakin tinggi umur petani maka motivasi petani semakin menurun, hal ini dikarenakan semakin tua umur petani fisik dan daya pikir petani semakin menurun. Sementara semakin tinggi pengalaman berusaha tani dan semakin tinggi aktivitas usaha tani, tentunya membuat para petani lebih mudah memahami dan menerima masukan terkait dengan program pengembangan agroforestri, sehingga akan dapat meningkatkan motivasi petani untuk melaksanakan program tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat/petani yang beraktivitas pada pola lalang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah. Namun demikian, pengalaman petani menjadikan mereka mengerti akan kelebihan dan keuntungan yang didapatkan apabila pola agroforestri diterapkan dengan maksimal.

Berdasarkan hasil Analisis faktor karakteristik internal dan eksternal sosial ekonomi petani, analisis kelayakan finansial, dan analisis korelasi dalam kaitannya dengan pengembangan agroforestri pola tembawang, kebun karet, bawas dan lalang, maka dapat dirumuskan kesimpulan dan saran sebagai berikut:

1. Kesimpulan

a. Faktor karakteristik internal dan eksternal petani yang berhubungan motivasi petani melakukan kegiatan agroforestri pola tembawang, kebun karet, bawas dan lalang di Sanggau Kalimantan Barat yaitu umur, tingkat pendidikan, kepemilikan lahan, pengalaman berusahatani, persepsi, status sosial, dan sifat kosmopolitan, sedangkan faktor eksternal yaitu ketersedian saprodi, intensitas penyuluhan, bantuan modal, penggunaan tenaga kerja, pendapatan, peluang pasar, dan aktivitas usaha tani.

b. Berdasarkan hasil analisis korelasi ternyata faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap motivasi petani untuk melakukan kegiatan agroforestri pola tembawang adalah: pengalaman usahatani, intensitas penyuluhan dan pendapatan (berkorelasi positif). Untuk pola kebun karet dipengaruhi secara nyata oleh: pengalaman usahatani, tenaga kerja dan pendapatan (berkolerasi positif). Adapun motivasi petani pola bawas berkorelasi secara positif dengan tenaga kerja dan aktivitas usahatani sedangkan pola lalang berkorelasi secara negatif dengan umur petani dan secara positif dengan tingkat pendidikan dan jumlah tenaga kerja.

c. Berdasarkan analisis kelayakan finansial bahwa kegiatan agroforestri pola tembawang, dan pola kebun karet, layak untuk dikembangkan. Sedangkan untuk pola bawas dan lalang tidak layak untuk dikembangkan walaupun nilai NPV dan IRR-nya tinggi, tetapi nilai B/C < 1

70

2. Saran

a. Kegiatan agroforestri pola tembawang dan kebun karet layak secara finansial, maka diharapkan kepada para pihak, terutama Pemda setempat untuk melanjutkan pengembangan agroforestri tersebut di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

b. Pemberdayaan, pembinaan, penyuluhan dan pendampingan kepada petani agroforestri pola tembawang dan kebun karet perlu dilakukan secara terus-menerus, sampai para petani mandiri. Disamping itu organisasi kelompok tani perlu diperkuat dan dibangun akses pasar, agar motivasi petani terbangun.

Andayani, W. 2006. Analisis Keuntungan Pengusahaan Hutan Pinus (Pinus merkusii et de Vriese) di KPH Pekalongan Barat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. Vol. XII No. 3:26-39 (2006)

Asnawi, S. 2002. Teori Motivasi Dalam Pendekatan Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Studio Press

Bakir, Z dan Manning, C. 1984. Angkatan Kerja di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali Press.

Bryant, WK. 1990. The Economic Organization of The Household. Cambridge University Press Cambridge.

[Dephut] Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal RLPS. 2001. Perkembangan Hutan Kemasyarakatan sampai dengan Mei 2001.

[Dephut] Departemen Kehutanan 2001. Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Nomor 31/Kpts-II/2001 tentang Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan.

Darusman, D. 1981. Pengantar Perencanaan Pembangunan Kehutanan. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

David. 1992. Memacu Masyarakat Berprestasi. Intermedia Jakarta.

Desa Idas. 2006. Monografi Desa Idas, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.

Gittinger, JP. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Terjemahan Komet Mangiri, Slamet Sutomo. Jakarta UI-Press.

Gouyon, A. de Foresta H dan Levang P. 1993. Kebun Karet Campuran di Jambi dan Sumatera Selatan. Bogor: International Centre for Research in Agroforestry.

Gregory, C. Robinson. 1987. Resource Economics for Foresters. John Willey & Sons, New York.

Handoko, M. 1995. Motivasi: Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

72 [IPB] Institut Pertanian Bogor. 2004. Pedoman Penulisan dan Penyajian Karya

Ilmiah. Bogor: IPB Press.

Joshi, L. Winatani, G. Vincent, G. Boutin. Akiefnawati, R. Manurung, G. van Noordwijk, M. 2001. Wanatani Kompleks Berbasis Karet: tantangan untuk Pengembangan. International Centre for Research in Agroforestry. Bogor.

Kadariah, Karlina, L., Gray, C. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Revisi Lembaga Penerbit FEUI. Jakarta.

Kadir, W A. 2005. Pengembangan Sosial Forestry di SPUC Borisallo : Analisis sosial ekonomi dan budaya masyarakat / Abdul Kadir W. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 297-309

Kartasapoetra, AG. 1988. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Bina Aksara Kartasubrata, J. 1992. Agroforestri dalam Manual Kehutanan. Jakarta:

Departemen Kehutanan Republik Indonesia

Klemperer, W.D. 1996. Forest Resource Economics and Finance. Mc. Graw – Hill. Singapore.

Manurung, EGT. 1989. Analisis Biaya-Manfaat Pilot Proyek Perhutanan Sosial dan Optimalisasi Usaha tumpang sari di Resort Pemangkuan Hutan Kiara Payung, HPH Cianjur Jawa Barat [Thesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB.

Momberg, F. 1993. Tembawang di Kalimantan Barat, editor. Ketika Kebun Berupa Hutan. Agroforest Khas Indonesia -. Bogor: Penerbit ICRAF; IRD; Ford Foundation.

Mosher, AT. 1987. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Jakarta: CV. Yasaguna.

Nair, PKR. 1993. An Introduction to Agroforestry. The Netherland: Kluwer Academic in Cooperation with ICRAF.

Padmowihardjo, S. 1994. Materi Pokok Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Pangihutan, J.J. 2003. Kelayakan Finansial dan Ekonomi Pengelolaan Kebun dan Hutan Karet Rakyat di Desa Langkap, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB.

Publishing Co.

Rogers, EM. 1983. Diffusion of Innovation. Third Edition. New York: Fress Press Rukka, H. 2003. Motivasi Petani Dalam Menerapkan Usahatani Organik (Kasus

di Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat Barat [Thesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB.

Sabti, A. 1997. Motivasi Petani dalam Pemanfaatan Lahan Terbuka diantara Pohon Kelapa di Kabupaten Aceh Timur [tesis]. Bogor. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Sevilla, C. 1993. Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: UI Press.

Siegel, S. 1994. Statistik Non Parametrik. Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia.

SK Menhut No. 31/Kpts-II/2001. Tentang Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan.

Soekanto, S. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali.

Suharjito, D dan Darusman D. 1998. Karakteristik Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Yogyakarta: Aditya Media.

Suharjito, D dan Darusman D. 1998. Kehutanan Masyarakat Beragam Pola Partisifasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan. Bogor: Institut Pertanian Bogor dan Ford Foundation.

Sundawati, L. 1993. The Dayak Garden Systems in Sanggau District – West Kalimantan an Agroforestry Model. Gottingen: Georg – August University Gottingen.

Susantyo, B. 2001. Motivasi Petani Berusahatani di dalam Kawasan Hutan, Wilayah Bandung Selatan (Kasus Petani Peserta Program Perhutanan Sosial di Wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan bandung Selatan) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB.

Wijaya, AW. 1986. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Watanabe, H. 1999. Handbook of Agroforestry. Japan: AICAF (Association for International Cooperation of Agriculture and Forestry).

75

Nama daerah Nama Botani Famili

Durian Durio zibethinus Bombacaceae

Cempedak Arthocarpus cempedens Moraceae

Manggis Garcinia manggostana Guttiferae

Langsat Lansium domesticum Meliaceae

Mentawa Arthocarpus anisophyllus Miq Moraceae

Peluntan Artocarpus sp Moraceae

Dokumen terkait