• Tidak ada hasil yang ditemukan

 Tembawang  Kebun Karet  Pola Bawas  Pola Lalang • Peningkatan Kesejahteraan • Keuntungan Ekonomi Kelestarian Ekologi DEPHUT-GTZ Funding Fasilitator MASYARAKAT Karakteristik Internal Umur Tingkat Pendidikan Kepemilikan lahan Pengalaman usaha tani AF Persepsi

Status Sosial Petani Kekosmopolitan Karakteristik Eksternal Ketersediaan Saprodi Intensitas Penyuluhan Ketersediaan modal Tenaga kerja Pendapatan Peluang pasar Aktivitas usahatani AF Motivasi

Hutan Kemasyarakatan

Hutan kemasyarakatan atau Social Forestry terdiri dari kata Social dan Forestry. Forestry mengandung makna kehutanan atau perhutanan sebagai isinya, perhutanan dalam hal ini adalah merupakan tatanan sistem (rangkaian) kegiatan pembangunan hutan, tanah, air dan masyarakatnya melalui tata nilai dan tata aturan tertentu baik teknis, ekonomis, politis dan sebagainya dengan fungsi-fungsi tertentu yaitu perencanaan, pengorganisasian, maupun pengawasan seperti yang tersurat dalam Undang-undang Pokok Kehutanan.

Istilah hutan kemasyarakatan untuk pertama kali digunakan oleh Westoby di India pada tahun 1968 dalam Kongres Persemakmuran Kehutanan IX (Ninth Commonwealth Forestry Congress). Menurut Tiwari (1984) mendefinisikan hutan kemasyarakatan sebagai ilmu pengetahuan dan seni menumbuhkan pohon-pohon dan atau vegetasi lain pada semua lahan yang tersedia, di dalam dan di luar areal hutan tradisional, dan mengelola hutan yang ada dengan melibatkan masyarakat secara intim dan kurang lebih terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan lain, untuk tujuan menghasilkan tataguna lahan yang seimbang dan saling melengkapi untuk memberikan barang-barang dan jasa-jasa secara luas kepada individu-individu maupun masyarakat. Selanjutnya dikatakan bahwa hutan kemasyarakatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dipedesaan dari hutan yaitu: bahan bakar, pakan ternak, makan, kayu, pendapatan dan lingkungan.

Suharjito dan Darusman (1998) memberikan 3 strategi umum hutan

kemasyarakatan dan mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

Community or Communal Forestry yaitu: hutan yang dikelola oleh masyarakat secara kolektif dan dapat dilaksanakan pada lahan komunal, lahan milik, maupun lahan negara.

Farm Forestry yaitu; hutan yang dikelola oleh individu atau perorangan, dapat dilaksanakan pada lahan yang dikuasai oleh masyarakat secara kolektif, lahan milik perorangan maupun lahan negara.

Publicly-managed forestry for local community development yaitu ; hutan yang dikelola oleh negara untuk pembangunan masyarakat lokal, dapat

12

dilaksanakan pada lahan milik komunal, lahan milik perorangan maupun lahan negara.

Manurung (1989) menyatakan hutan kemasyarakatan berbeda dalam beberapa aspek dengan kehutanan yang bersifat komersial yaitu : (a) Hutan kemasyarakatan untuk sebagian besar mencakup pemanfaatan hasil hutan dalam ekonomi non keuangan; (b) Hutan kemasyarakatan melibatkan partisifasi langsung pihak penerima manfaat yang bersangkutan; (c) Dalam pelaksanaan hutan kemasyarakatan diperlukan perubahan sikap dan ketrampilan rimbawan dari sebagai “pelindung hutan” dari ganguan manusia menjadi “bekerjasama” dengan masyarakat dalam membudidayakan pohon-pohon, baik secara perorangan maupun kelompok.

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 31/Kpts-II/2001 tentang Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan dijelaskan bahwa hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang dicadangkan atau ditetapkan oleh menteri untuk diusahakan oleh masyarakat setempat dengan tujuan pemanfaatan hutan secara lestari sesuai dengan fungsinya dan menitik beratkan pada kepentingan mensejahterakan rakyat.

Prinsip pengelolaan yang dianut oleh hutan kemasyarakatan adalah; (a) Masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengambilan manfaat; (b) Masyarakat sebagai pengambil keputusan dan menentukan sistim pengelolaan; (c) Pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau kegiatan; (d) Adanya kepastian hak dan kewajiban semua pihak; (e) Kelembagaan penggelolaan ditentukan oleh masyarakat; (f) Pendekatan didasarkan pada keanekaragaman hayati dan budaya.

Adapun tujuan pengelolaan hutan kemasyarakatan bertujuan untuk; (a) Meningkatkan kesejahteraan, kualitas hidup, kemampuan dan kapasitas

ekonomi dan sosial masyarakat; (b) Meningkatkan ikatan komunitas masyarakat pengelola hutan kemasyarakatan; (c) Mengembangkan keanekaragaman hasil hutan yang menjamin kelestarian fungsi dan manfaat hutan; (d) Meningkatkan mutu, produktivitas dan keamanan hutan; (e) Menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesempatan berusaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat dan negara; (f) Mendorong serta mempercepat pengembangan wilayah.

Agroforestri

Pengertian agroforestri menurut Nair (1993) yaitu suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan lahan dan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu, jenis jenis palem, bambu dsb) ditanam bersamaan dengan tanaman pertanian, dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan ruang (spasial) dan waktu (temporal) dan didalamnya terdapat interaksi-interaksi ekologi dan ekonomi diantara berbagai komponen yang bersangkutan.

King dan Chandler (1978) menjelaskan bahwa agroforestri merupakan bentuk pemanfaatan lahan atau pola pengelolaan lahan yang dapat mempertahankan dan bahkan menaikkan produktivitas lahan secara keseluruhan, yang merupakan kegiatan campuran antara kegiatan kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan, baik secara bersamaan ataupun bergiliran, dengan menggunakan manajemen praktis yang disesuaikan dengan pola budaya masyarakat setempat.

Lundgren dan Raintree (1982) dalam

a. Agroforestri biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan/atau hewan. Paling tidak satu diantaranya tumbuhan berkayu.

Pangihutan (2003) mengemukakan beberapa ciri penting dari agroforestri, yaitu :

b. Siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun.

c. Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu.

d. Selalu memiliki dua macam produk atau lebih.

e. Memiliki mempunyai satu fungsi pelayanan jasa, misalnya pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga menjadi pusat berkumpulnya keluarga/masyarakat.

f. Untuk system pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestri tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa tanaman terutama dengan mengoptimalkan penggunaan sisa panen.

Suharjito dan Darusman (2000) mengatakan bahwa dalam mencampur berbagai jenis tanaman pohon-pohon dengan tanaman pertanian secara

bersama-14

sama atau dalam satu rotasi maka akan diperoleh beberapa keuntungan sebagai berikut ;

(a) Keuntungan ekologis, yaitu penggunaan sumberdaya alam dengan lebih efisien.

(b) Keuntungan ekonomis, yaitu jumlah produksi yang dicapai akan lebih tinggi, kenaikan produksi kayu dan pengurangan biaya pemeliharaan tegakan kayu

(c) Keuntungan sosial, yaitu memberikan kesempatan kerja sepanjang tahun, menghasilkan panenan kayu pada waktu paceklik pertanian, produksi yang diarahkan kepada keperluan sendiri atau pasar

(d) Keuntungan psikologis, yaitu perubahan yang relatif kecil dari cara produksi tradisional dan lebih mudah untuk dapat diterima oleh penduduk daripada teknik-teknik pertanian yang berlandaskan sistem monokultur (e) Keuntungan politis, yaitu sebagai alat untuk memberikan pelayanan sosial

yang lebih baik dan kondisi yang baik bagi petani atau masyarakat

Watanabe (1999) menyatakan manfaat dari agroforestri yaitu : (1) Suplai bahan bangunan, kayu bakar, dan pakan ternak, (2) Penggunaan lahan secara optimal, (3) Pemanfaatan energi matahari dalam luasan yang maksimal, mencegah aliran permukaan, dan pemanfaatan sumberdaya air lebih efisien. Tujuan agroforestri adalah : (1) Penghutanan kembali, (2) Penyediaan sumber makanan dan pakan ternak, (3) penyediaan kayu bahan bangunan dan kayu bakar, (4) Pencegahan migrasi penduduk ke kota dan (5) Berkontribusi dalam fiksasi C02

Kartasubrata (1992) menegaskan bahwa agroforestri adalah suatu sistem penggunaan lahan dengan suatu tujuan tertentu dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Pohon sebagai salah satu komponen utama di dalam agroforestri, dapat menghasilkan beberapa produk antara lain : kayu, buah-buahan, pakan ternak, kayu bakar, serat, mulsa, obat-obatan, bahan kosmetik, minyak dan damar. Selain menghasilkan berbagai produk. Pepohonan juga menyediakan jasa-jasa antara lain; cadangan pangan, mempertahankan tanah, mempertinggi kesuburan tanah, memperbaiki iklim mikro, sebagai pagar hidup bagi tanaman pertanian

dan pohon buah-buahan, menstabilkan daerah aliran sungai (DAS), melindungi keanekaragaman hayati, mereklamasi lahan-lahan yang terdegradasi, dan mengontrol rumput-rumput liar.

Sistem agroforestri yang dikembangkan oleh masyarakat di wilayah kerja proyek ini didasarkan pada komoditi yang dikembangkan, yaitu agroforestri pola tembawang, kebun karet, bawas, dan pola lalang. Pola agroforestri ini dibedakan berdasarkan pencampuran penanaman pohon kayu-kayuan dan buah-buahan lokal serta pada lokasi lahan yang memiliki ciri khas masing-masing.

Tembawang

Momberg (2000) menyebutkan agroforestri tembawang adalah kegiatan yang memadukan pohon-pohon buah dengan tanaman tengkawang, dan merupakan salah satu contoh keberhasilan budidaya Dipterocarpaceae oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Kegiatan peladang berpindah yang memadukan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian pada lahan-lahan yang diberakan membuat sistim agroforestri bersiklus atau menetap dan dapat dilihat pada budidaya karet dan tembawang.

Regenerasi alam merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem agroforestri Dayak berupa tembawang yang dinamis serta dengan menanam jenis tanaman hutan dilahan bera, makin tua suatu tembawang maka akan semakin mirip struktur dan komposisinya dengan hutan alam, dan jenis-jenis pohon tanaman awal semakin tidak dominan, dengan luas bidang dasar (LBDS) lebih besar dari pada yang ditemukan dihutan alam.

Susunan strata tembawang biasanya terdiri dari : (1) pohon kempas dan tualang yang kadang-kadang mencuat di atas kanopi sampai 70 m; (2) penyusun tajuk utama berada ketinggian 35-45 m dan didominasi jenis tengkawang dan nyatoh serta pohon buah tinggi (durian dan mangga); (3) dibawah lapisan utama terdapat jenis pohon buah (cempedak, sukun, rambutan, manggis dan tampui,

serta berbagai jenis kayuan, atau karet) yang membentuk tajuk bawah; dan (4) Dipterocarpaceae lantai hutan berupa tanaman muda dan semak menyerupai

susunan lapisan diatasnya.

Komposisi struktur tembawang tidak homogen dan dapat dibedakan kedalam 5 tipe yaitu : tengkawang dan pohon tua; tengkawang dan nyatoh serta

16

pohon buah; tengkawang dan karet dan pohon buah; tengkawang, coklat dan pohon buah; dan tengkawang, pohon kayu dan pohon buah.

Sundawati (1993) menyatakan tembawang dibedakan berdasarkan kepemilikan lahannya yaitu ;

1. Tembawang pribadi: tembawang yang dibangun oleh kepala keluarga pada saat muda dan dimiliki dan dimanfaatkan hanya oleh keluarga tersebut. Dimasa depan tembawang ini dapt menjadi tembawang waris.

2. Tembawang waris: tembawang yang diperoleh dari warisan leluhur dan dimiliki dan dimanfaatkan oleh beberapa keluarga. Tembawang waris dapat dilihat dari beberapa generasi yang memiliki yaitu : tembawang waris tua : berusia 3-6 generasi yang dimiliki oleh kelompok keturunan (Sanjan); tembawang waris muda : berusia 1-2 generasi dan hak pemanfaatannya dimiliki bersama-sama keluarga besar ( Gok Tanjung dan Embaong)

Tabel 1. Jenis produk yang dapat di peroleh dari Tembawang

No Jenis Produk Spesies pohon

1. Buah-buahan

Mangifera sp., Durio, sp. Baccaurea sp., Lansium sp., Artocarpus sp., Nephelium sp., Garcinia selebica, Garcinia candicula, Garcinica mangostama, Willughbeia firma (liana)

2. Biji Shorea macrophyla, S. Pinanga,S. Stenomtera

3. Kayu Eusideroxylon zwageri, Shorea plaviflora,

Hopea sangal, Hopea dryobalanoides

4. Lateks Havea brasilensis

5. Getah Palaquium gutta, Styrax benzoin, Dyera

costulata

6. Damar Hopea dryobalanoides

7. Serat Horfieldia sp. Sterculia macrophyla

8. Obat Orophea sp.:daun untuk obat demam; Psycotria

viridifolia: daun untuk obat mata, Pasak bumi 9. Rotan

Calamus, Daemonorops, Ceralolobus, Callospatha, Plectocomia, Plectocomiopsis dan Korthailsia

10. Gula Merah, ijuk Arenga porphyrocarpa

11. Kerajinan Anyaman Pandan

12. Racun Dehaasia elmeri Merr

13. Kayu bakar dan arang Vitex glabarata Sumber : Sundawati dalam ICRAF (2003)

Kebun Karet

Menurut Gouyon et al (1993) kebun karet merupakan sistem berusahatani yang seimbang dan berisi beranekaragam jenis tumbuhan dimana petani dapat menganekaragamkan penghasilannya dengan biaya yang murah serta pembuatan dan perawatan yang mudah. Selanjutnya dikatakan struktur kebun karet mendekati struktur hutan sekunder, dengan pohon karet menggantikan tempat ekologi pepohonan pionir dan tumbuhan bawah berisi jenis semak-semak serta anakan spesies kanopi termasuk karet.

Joshi et al (2001) dalam

1. Rubber Agroforestry System (RAS I) merupakan sistem agroforestri dimana karet lokal yang biasa digunakan diganti dengan bibit karet klon berproduksi tinggi. Penyiangan dilakukan pada jalur tanaman karet saja, perpohonan dan semak dibiarkan tumbuh diantara barisan karet. Pola penyiangan yang terbatas dan tidak intensif sangat mudah diterapkan serta tidak banyak membutuhkan tenaga dan biaya

[ICRAF] merekomendasikan beberapa model alternatif untuk pola agroforestri berbasiskan karet yaitu :

2. Rubber Agroforestry System (RAS II) merupakan sistem dimana tanaman semusim ditanam secara bersamaan dengan tanaman tahunan. Karet mendapat keuntungan dari penyiangan tanaman semusim dan pohon-pohonan membantu untuk mengendalikan gulma karena tingkat naungannya yang tinggi. Sistem ini sangat fleksibel dalam implementasinya karena petani dapat memilih tanaman yang disukai dan bernilai ekonomi tinggi.

Agroforestri kebun karet ini merupakan pencampuran tanaman karet sebagai pohon inti dan tanaman semusim sebagai tanaman sela ataupun tanaman buah-buahan. Lokasi pengembangan agroforestri kebun karet adalah pada areal bekas perladangan atau pada kawasan Usaha Tani Hutan Menetap (UTHM).

Adapun karet yang ditanam merupakan bibit hasil okulasi yang diperoleh dari kebun entris proyek perkebunan karet rakyat (PPKR) yang ada di Kalimantan Barat dengan jenis PB. 260. Dari kedua pola RAS yang ada sudah sangat umum dilakukan oleh petani karena dari segi pengelolaannya tidak memerlukan tenaga dan biaya yang banyak.

18

Pola Bawas

Pola Bawas yaitu kegiatan berusahatani yang dilakukan pada lahan hutan sekunder dengan menanam jenis tanaman buah-buahan lokal dan kayu-kayuan lokal berupa jenis Diptherocarp dan Shorea sp (tengkawang tungkul, keladan, kayu raya, nyatoh, penyauk, ulin dsb). Jumlah tanaman yang ditanam pada pola bawas sebanyak 500 batang/ha dan komposisi jenis tanaman pada kawasan lindung 70 % buah-buahan dan 30 % tanaman kayu-kayuan, sedangkan pada kawasan hutan produksi sebaliknya 70% kayu-kayuan dan 30% buah-buahan. Bawas berasal dari bahasa Dayak yang artinya hutan sekunder, bawas terbentuk dari kegiatan berladang berpindah (shifting cultivation) secara tradisional yaitu dengan membuka lahan pada hutan primer.

Pola Lalang

Cara bertani dari masyarakat lokal dengan berladang secara berpindah (shifting cultivation), kebakaran hutan dan adanya pembukaan lahan akibat pertambahan penduduk menyebabkan berkurangnya kawasan hutan dan banyak bertambahnya lahan kritis dan lahan terlantar. Berdasarkan kondisi yang ada maka perlu untuk dilakukan penanaman kembali kawasan hutan yang sudah kritis

Pola lalang yaitu kegiatan berusahatani dengan menanami kembali lahan-lahan kritis berupa padang ilalang (Imperatta cylindrica) akibat dari perlandangan berpindah dan kebakaran hutan dengan pencampuran tanaman akasia (Accacia mangium) pada lahan kritis yang terdapat dikawasan hutan produksi maupun hutan lindung di wilayah kerja. Berdasarkan petunjuk teknis reboisasi partisipatif 1994 jumlah tanaman pada pola ini yaitu 1.000 batang/ha.

Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif dan difasilitasi oleh proyek berupa bantuan bibit, saprodi, bantuan penyuluhan dan pemberian insentif. Kegiatan ini dilaksanakan sejak tahun 1994 sampai saat ini dengan beberapa pola tanam yang disesuaikan dengan kondisi lokasi.

Dalam pelaksanaan kegiatan pola bawas dan pola lalang petani diberikan insentif berupa insentif pemeliharaan tanaman sebanyak 4 kali yaitu pada umur tanaman 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 24 bulan, adapun besarnya insentif yang diterima didasarkan pada : jenis tanaman yang ditanam, % tumbuh tanaman, jarak

lokasi kegiatan dari pemukiman dan pembayaran dilakukan setelah petani melakukan pemeliharaan terhadap tanamannya.

Analisis Finansial

Menurut Kadariah (1986) analisis finansial adalah analisis dimana suatu proyek dilihat dari sudut badan-badan atau orang-orang yang menanam modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam proyek. Gittingger (1986) mengemukakan bahwa analisis finansial hampir sama dengan analisis ekonomi, hanya saja variabel yang dipakai adalah harga riil dari apa yang benar-benar terjadi. Data penerimaan dan pengeluaran yang telah dikumpulkan dilakukan analisis anggaran arus tunai (cash flow analysis) dan ditetapkan faktor diskonto (discount factor). Cash flow analisis yaitu membandingkan penerimaan dan pengeluaran pada kondisi harga riil, sedangkan discount factor yaitu suatu bilangan yang menggambarkan weight (pembuat) pada setiap nilai discount factor.

Cara menilai suatu proyek yang paling banyak diterima untuk penilaian proyek jangka panjang adalah dengan menggunakan analisis aliran kas yang didiskonto (Discounted Cash Flow Analysis) atau DCF dalam Darusman (1981). Besarnya faktor diskonto dipilih diantara variasi bunga bank yang berlaku didaerah tersebut. Angka faktor diskonto ini digunakan dengan pertimbangan agar perhitungan yang dipakai dalam evaluasi proyek terlepas dari pengaruh distorsi pasar. Artinya dengan menggunakan angka faktor diskonto maka diharapkan hasil analisis dapat menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Besar kecilnya faktor diskonto sangat menentukan besar kecilnya angka benefit cost (B/C), internal rate of return (IRR), dan net present value (NPV).

Motivasi

Asnawi (2002) menyatakan bahwa motivasi berasal dari kata "motive" yang berarti sesuatu pernyataan batin yang berwujud daya kekuatan untuk bertindak atau bergerak, baik langsung ataupun melalui saluran perilaku yang mengarah kepada sasaran. Dari kata dasar motive lahir kata ”motivasi" yang berarti dorongan dari dalam diri seseorang untuk berbuat dalam mencapai

20

tujuannya.

Motivasi itu tidak dapat dilihat akan tetapi hanya dapat diamati dari perilaku yang dihasilkannya, yaitu dari cara atau pola pemenuhan kebutuhan atau pencapaian tujuan yang dikehendaki. Motivasi dapat menjelaskan tentang alasan seseorang melakukan sesuatu tindakan, karena motivasi merupakan daya pendorong yang menyebabkan seseorang berbuat (maupun tidak berbuat) sesuatu guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Handoko (1995) menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu tenaga atau faktor yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, menggerakkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Motif adalah suatu alasan/dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau melakukan suatu tindakan. Motif terdapat dua unsur pokok yaitu dorongan dan tujuan yang ingin dicapai, proses interaksi antar kedua unsur ini di dalam diri manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal) diri manusia sehingga menimbulkan motivasi untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Perubahan motivasi dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat, apabila motivasi yang pertama mendapat hambatan atau tidak terpenuhi.

Kekuatan relatif motif-motif yang menguasai seseorang pada umumnya dapat dilihat melalui ; (1) kuatnya kemauan untuk berbuat, (2) jumlah waktu yang disediakan, (3) kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas yang lain, (4) kerelaan untuk mengeluarkan biaya demi perbuatan itu, dan (5) ketekunan dalam mengerjakan tugas tersebut. Ada dua cara untuk mengukur motivasi, yaitu: (1) mengukur faktor-faktor luar tertentu yang diduga menimbulkan dorongan dalam diri seseorang, dan (2) mengukur aspek tingkah laku tertentu yang mungkin menjadi ungkapan dari motif tertentu. Ada tidaknya motivasi dalam diri seseorang dapat juga dilihat dari beberapa segi tingkah lakunya, antara lain : kekuatan tenaga yang dikeluarkan (usahanya), kecepatan reaksinya, dan yang menjadi perhatiannya. Selanjutnya sesuatu yang diterima itu diberi oleh orang yang bersangkutan menurut minat dan keinginannya.

Ada beberapa kajian teori yang dikemukakan oleh para ahli berkenaan dengan motivasi, diantaranya oleh Handoko (1995) yaitu teori kognitif, teori hedonitis, teori insting, teori psikonalistis, teori keseimbangan dan teori dorongan.

Berdasarkan teori-teori tersebut terjadinya tingkah laku disebabkan oleh adanya kebutuhan yang dirasakan oleh manusia yang mana kebutuhan ditimbulkan oleh suatu dorongan tertentu.

Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Motivasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi sangatlah beragam. Menurut Petri (1981) motivasi disebabkan oleh lima faktor, yaitu : (1) kekuatan dalam tubuh yang menimbulkan rangsangan untuk melakukan suatu kegiatan tertentu, (2) keturunan yang menimbulkan keinginan-keinginan naluriah, (3) hasil proses belajar, (4) hasil dan interaksi sosial dan (5) sebagai bagian dari proses kognisi. Wijaya (1986) menyebutkan kematangan, latar belakang kehidupan, usia, kelebihan fisik, mental dan pikiran, sosial budaya serta lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang.

Berbagai teori yang telah dikemukakan mengenai motivasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, maka hal itu digunakan sebagai titik perhatian dan penelitian ini yakni motivasi petani dalam menerapkan agroforestri, maka faktor-faktor penting dan yang berperan dalam mempengaruhi motivasi petani tersebut terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor internal terdiri dari : (1) umur, (2) tingkat pendidikan, (3) luas lahan garapan, (4) pengalaman berusahatani agroforestri, (5) persepsi, (6) status sosial petani dan, (7) kekosmopolitan. Faktor-faktor ekstemal terdiri dari : (1) Ketersedian sarana produksi, (2) ) intensitas penyuluhan, (3) bantuan modal, (4) penggunaan tenaga kerja, (5) pendapatan, (6) peluang pasar, dan (7) aktifitas berusahatani agroforestri. Kesemua faktor ini pada hakekatnya merupakan perincian dari faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi yang telah digabungkan dari pendapat beberapa para ahli seperti yang telah dikemukakan diatas.

Faktor Internal yang Mempengaruhi Motivasi Umur

Bakir dan Manning (1984) mengemukakan bahwa umur produktif untuk bekerja di negara-negara berkembang umumnya adalah 15-55 tahun. Kemampuan kerja seseorang petani juga sangat dipengaruhi oleh tingkat umur

22

petani tersebut, karena kemampuan kerja produktif akan terus menurun dengan semakin lanjutnya usia petani.

Susantyo (2001) menyatakan bahwa petani-petani yang lebih tua tampaknya cenderung kurang aktif melakukan difusi inovasi berusahatani daripada mereka yang relatif umur muda. Petani yang berumur lebih muda biasanya akan lebih bersemangat dibandingkan dengan petani yang lebih tua. Dengan demikian ada kecenderungan bahwa umur petani akan mempengaruhi motivasi dalam mengikuti kegiatan.

Pendidikan

Pendidikan yang ditempuh seseorang baik secara formal dan non formal akan sangat mempengaruhi perilakunya baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Rukka (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya akan mempengaruhi cara dan pola pikir petani. Pendidikan yang relatif tinggi dan umur yang muda menyebabkan petani lebih dinamis. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin efisien dia bekerja dan semakin banyak juga dia mengikuti serta mengetahui cara-cara berusahatani yang lebih produktif dan lebih menguntungkan.

Selanjutnya dikemukakan, bahwa tingkat pendidikan yang dipunyai seseorang tenaga kerja bukan saja dapat meningkatkan produktivitas dan mutu kerja yang dilakukan, tetapi sekaligus mempercepat proses penyelesaian kerja yang diusahakan. Berdasarkan pendapat di atas maka terdapat kecenderungan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan yang dimiliki oleh petani dengan motivasi mereka dalam menerapkan agroforestri

Kepemilikan Lahan

Lahan sebagai salah satu faktor produksi merupakan suatu sumber daya alam fisik yang mempunyai peranan sangat panting dalam berbagai segi kehidupan manusia. Luas lahan merupakan asset yang dimiliki petani yang dapat mempengaruhi produksi total yang dihasilkan dan akhirnya juga akan mempengaruhi terhadap total pendapatan yang diterima petani. Petani yang memiliki lahan yang lebih luas, dapat memberikan posisi atau status sosial yang

Dokumen terkait