• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktor-Aktor dalam Proses Rekrutmen Pejabat Struktural

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

5.1 Proses Rekrutmen Pejabat Struktural di Kab. Mandailing Natal

5.1.1 Aktor-Aktor dalam Proses Rekrutmen Pejabat Struktural

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya bahwa birokrasi adalah mesin pemerintahan yang akan menggerakkan program-program dari pejabat politik yang dalam hal ini adalah kepala daerah. Untuk mencapai kepentingan dari kepala daerah, maka penguasaan terhadap birokrasi merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Namun, tindakan ini tentu saja dapat mengusik orang-orang yang berada di birokrasi itu sendiri. Kontrol politik yang terlalu besar terhadap

birokrasi menciptakan para pejabat karir yang sampai menduduki elit birokrasi berada dalam pilihan yang sulit, karena mereka berada di tengah-tengah kepentingan, yakni komitmen untuk menjaga dan menjalankan kepentingan politik kepala daerah dan di sisi lain mereka harus menjalankan kewajiban mereka sebagai pegawai profesional. Kondisi dilematis ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap aktivitas pejabat karir birokrasi, ketidaknyamanan mereka dalam bertugas sangat lumrah ditemukan.

Kontrol politik yang membentuk pola hubungan layaknya bawahan dan atasan seperti yang ditampilkan oleh politik dan birokrasi sangat mungkin untuk disalahgunakan. Kepala daerah dapat bertindak powerful dengan mengeluarkan kebijakan apa saja terhadap birokrasi yang sesungguhnya merupakan area kerja internal birokrasi yang harusnya steril dari intervensi politik. Misalnya saja seorang kepala daerah bisa memasukkan dan mendudukkan orang-orang dekatnya di jajaran birokrasi. Hal ini diperumit lagi dengan tidak adanya tugas dan fungsi dari Baperjakat dalam memberikan pertimbangan kepada kepala daerah.

Baperjakat hanya dianggap sebagai formalitas yang hasil dan luarannya sudah ditentukan oleh kepala daerah. Hal ini yang mempertegas bahwa di era otonomi daerah, kepala daerah bertindak layaknya seorang raja yang memiliki kewenangan luas dan tak terbatas terhadap birokrasi. Permainan kepala daerah di ranah birokrasi seperti mutasi, merekrut dan mendudukkan orang-orang kepercayaan, serta memanfaatkan seluruh instrumen birokrasi untuk kepentingan-kepentingan politik jangka pendek sudah muncul di berbagai daerah seperti salah satunya yang terjadi di Kabupaten Mandailing Natal.

Pasca pilkada tahun 2011, intervensi politikterhadap rekrutmen pejabat elit birokrasi telah dilakukan oleh bupati atas dukungan keluarga dibelakangnya.

Kekuatan keluarga bupati adalah super power yang mampu mengalahkan dan membatasi kekuatan politik lainnya seperti DPRD dan partai politik. Intervensi politik terhadap birokrasi memang sulit dihindarkan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni, Pertama, masih kuatnya primordialisme politik, dimana ikatan kekerabatan, politik balas budi, keinginan membangun pemerintahan berbasis keluarga, mencari rasa aman dan perilaku oportunis birokrat. Kedua, mekanisme check and balance belum menjadi budaya dan belum dilaksanakan dengan baik. Ketiga, kekuasaan yang dimiliki oleh politisi cenderung untuk korup. Keempat, rendahnya kedewasaan partai politik dan ketergantungan yang tinggi terhadap birokrasi. Kelima, kondisi kesejahteraan aparat birokrasi di daerah masih rendah yang cenderung melahirkan praktik rent seeking melalui aktivitas politik tersembunyi demi mendapatkan income tambahan. Keenam, perangkat aturan yang belum jelas dan mudah dipolitisasi, seperti lemahnya instrumen pembinaan pegawai, kode etik belum melembaga, adanya status kepala daerah sebagai pembina kepegawaian, dan rangkap jabatan kepala daerah dengan ketua umum partai politik (Heldan, 2011)

Bila diperhatikan dengan seksama, faktor-faktor penyebab yang telah disebutkan di atas tadi masih sangat kuat terjadi di daerah, termasuk di Mandailing Natal terutama membangun pemerintahan berbasis kekeluargaan. Hal ini menciptakan perilaku yang tidak nyaman para pejabat birokrasi dalam menjalankan kerja. Pasca pilkada, orang-orang yang dianggap loyal tentu dipertahankan, tetapi orang-orang yang berada di kubu lawan sudah pasti disapu

bersih. Adapun orang-orang yang masih dikatakan netral dipaksa memberikan materi untuk bisa bertahan di jabatannya. Situasi ini pada akhirnya melahirkan iklim kerja yang tidak kondusif.

Tidak kondusifnya para pejabat struktural di birokrasi dalam bekerja di Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal pasca Pilkada tahun 2011 dan juga ditampilkan di berbagai daerah pada umumnya disebabkan oleh lemahnya proteksi birokrasi untuk mengantisipasi intervensi politik. Ada beberapa kondisi yang menjadi entry point tidak kondusifnya para pejabat struktural daerah.

Pertama, posisi kepala daerah sebagai personifikasi pemda membuat PNS tunduk pada apapun keputusan kepala daerah. Kuatnya posisi kepala daerah menjadi senjata yang sangat ampuh untuk memaksa pejabat struktural di birokrasi ikut dalam permainan politik kepala daerah. Kedua, status PNS terikat kontrak kerja yang di dalamnya dinyatakan dengan jelas untuk siap ditempatkan dimana saja.

Kontrak kerja ini adalah alasan kuat sehingga kepala daerah dapat memutasi para pejabat. Ketiga, belum adanya rumusan dan instrumen yang jelas untuk mengukur kadar objektivitas dan intervensi politik dalam kebijakan kepala daerah di bidang kepegawaian.

Situasi yang telah diuraikan di atas, semakin dipertegas oleh pandangan Mosher mengenai model rekrutmen pejabat birokrasi. Mosher menjelaskan bahwa terdapat sistem pengangkatan kepegawaian berdasarkan aspek politik atau disebut dengan sistem pengangkatan politik. Dalam sistem ini pejabat politik seperti kepala daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan pengangkatan di luar sistem kepegawaian negara. Model ini sangat cocok bila dikaitkan dengan apa yang terjadi di pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal yang pada akhirnya

menyebabkan ketidaknyamanan kerja birokrasi. Pegawai yang tidak nyaman dalam bekerja maka fungsi birokrasi tidak akan maksimal dijalankan.

Berdasarkan hasil temuan yang telah dibahas tadi, maka dapat disusun proposisi minor sebagai berikut :

Proposisi Minor Kedua :

Kepala Daerah adalah aktor utama dalam penataan kepegawaian. Jika kewenangan kepala daerah sebagai pejabat politik begitu kuat mengontrol birokrasi dan menyebabkan birokrasi menjadi subordinasi dari politik, maka akan membuat pejabat struktural birokrasi bekerja tidak kondusif dan fungsi birokrasi tidak akan maksimal.

5.1.2 Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Politisasi Birokrasi dalam