• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

4.4 Rekrutmen Elit Birokrasi .1 Proses Rekrutmen

4.4.2 Peran Aktor Politik dalam Proses Rekrutmen

Peran aktor politik dalam rekrutmen elit birokrasi juga menjadi bagian dalam rekrutmen tersebut. Tekanan aktor politik tersebut dapat dilihat melalui rekrutmen diawal kemenangan Kepala Daerah yang memiliki peran dalam kemenangan tersebut. Desakan untuk mengakomodir kerabat politisi yang telah berjasa tersebut menjadi beban hutang budi bagi kepala daerah.

Diawal kemenangan Bupati dalam pelaksanaan pilkada tahun 2011 terlihat bahwa pejabat birokrasi yang berseberangan dengan Bupati terpilih merasa resah dan takut menjadi korban politik. Upaya-upayapun dilakukan untuk menyelamatkan diri”. Ada yang melakukan pendekatan kepada anggota DPRD yang tergabung dalam koalisi partai, ada yang merapat ke tim sukses, bahkan ada yang melakukan pendekatan melalui materi. Beberapa nara sumber menyampaikan bahwa kepala dinas A dulu adalah tim sukses Bupati, namun saat pergantian Bupati yang bersangkutan justru menjabat Kepala dinas yang sangat strategis. Peranan uang dan aktor politik yang bisa menjadikan situasi itu. Berikut wawancara dengan nara sumber yang menguatkan hasil observasi tersebut:

“Kalau di Eselon II kan tidak gampang melantiknya karena dia harus ada rekomendasi dari Gubernur dulu. Kalau keluarga hanya bermain di eselon III dan IV saja. Mungkin tidak hanya satu marga, tapi bisa juga dari keluarga dari perkawinan-perkawinan keluarga. Salah satunya kan ipar si Daud pindah kemari yaitu Rizal Efendi. Sudah pasti ada. Orang-orang yang ditempatkan itukan kompetensinya kan diragukanlah. Contohnya seperti yang di Ulu Pungkut itu diangkatlah jadi Camat padahal dia itu bekas guru. Sepertinya lebih gampang dengan yang membayar dengan uang. Karena dia harus loyal dengan pimpinan sebab dia sudah membayar

dan dia takut di copot sementara dia sudah membayar uang. Jadi, partai politikpun datang kalau tidak ada burangirna (uangnya), tetap saja tidak di akomodir. Rekrutmen kita tidak jelas. Sudah mulai pragmatis saat ini mungkin karena dilatarbelakangi pendidikan yang sudah berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.

Atas dasar tersebut dan desakan-desakan kepentingan politik, kebijakan pertama yang dilaksanakan oleh Kepala Daerah pasca pelantikan, sudah menjadi agenda prioritas utama dan pertama untuk melaksanakan rolling atau mutasi elit birokrasi. Seolah-olah ritual politik setelah kepala daerah dilantik adalah melakukan mutasi jabatan yang super cepat terhadap elit birokrasi menjadi ciri khas dalam pemerintahan yang dibangun pada pilkada secara langsung.

Selanjutnya mutasi dilakukan untuk menyusun kekuatan dalam rangka persiapan pilkada periode berikutnya.

Alasan „standar‟ mutasi elit birokrasi di suatu kepemimpinan kepala daerah usai dilantik adalah untuk mempercepat tercapainya tujuan atau mewujudkan visi, misi, program kerja atau janji-janji ketika kampanye pilkada.

Kepala daerah mempunyai keyakinan bahwa salah satu kunci keberhasilan yang paling mujarab untuk merealisasikan program kerja adalah dengan “program kerja” mutasi.

Kekhawatiran Kepala daerah dapat pula terjadi bila tidak segera menempatkan orang-orang kepercayaannya menduduki jabatan tertentu kalau tidak semua mau diganti - tidak bisa membayar “hutang” atau janji politik kepada rakyat akan perubahan. Alasan klasik lainnya bahwa mutasi adalah kebutuhan organisasi yang sangat mendesak dan untuk penyegaran bagi pejabat tertentu, selagi hal tersebut sesuai ketentuan yang ada. Padahal tujuan utamanya adalah

mengakomodir kepentingan-kepentingan politik yang merupakan desakan dan pendukung politik (tim sukses) dalam pilkada langsung.

Dukungan aktor-aktor politik tersebut merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terhadap pengambilan kebijakan dalam pengangkatan atau rekrutmen elit birokrasi. Menurut Imawan (1997) bahwa birokrasi bertautan erat dengan sistem politik - maupun sistem kepartaian suatu Negara. Dalam hubungannya dengan fenomena pola relasi politik dan birokrasi terutama dalam rekrutmen elit birokrasi, maka peran partai politik sangat mempengaruhi pengangkatan elit birokrasi pemerintahan. Pertimbangan masukan dan politisi yang berada di lembaga legislatif daerah bisa diakomodir apabila kekuatan kepentingan antara kepala daerah dan kepentingan politisi di DPRD berkompromi untuk menggunakan fungsi politik suatu partai sebagai kendaraan politik dan aktor politik untuk mempengaruhi pemerintahan dalam hal ini eksekutif daerah.

Undang-undang politik telah menyarankan bahwa jika suatu kelompok mau merebut kekuasaan di pemerintahan, maka jalan satu-satunya adalah melalui partai politik. Partai politik memiliki fungsi artikulasi, fungsi agregasi, fungsi sosialisasi, fungsi rekrutmen politik, dan fungsi komunikasi politik. Masing-masing partai politik memiIiki peluang untuk mendudukkan orang-orangnya di birokrasi dalam pemerintahan.

Partai politik memiliki fungsi untuk mengartikulasikan kepentingan, artinya artikulasi kepentingan adalah suatu proses penginputan berbagai kebutuhan, tuntutan, dan kepentingan melalui wakil-wakil kelompok yang masuk dalam lembaga legislatif. Agar kepentingan, tuntutan dan kebutuhan kelompoknya

dapat terrepresentatif dan terlindungi dalam pembuatan kebijakan publik (Puta, 2003) yaitu lembaga eksekutif pemerintah.

Dari uraian-uraian di atas, makna tersirat bahwa masih kuatnya nilai-nilai politis untuk menduduki jabatan-jabatan elit birokrasi pemerintahan. Kekuatan tersebut terlihat bahwa kekuatan legislatif yang merupakan sentral dari kekuatan partai-partai politik masih berpengaruh dalam mekanisme rekrutmen elit birokrasi pemerintahan di daerah.

Sebenarnya, berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu organisasi ikut ditentukan oleh kemampuan pejabatnya dalam birokrasi pemerintahan, dalam hal ini adanya pejabat birokrasi sebagai pemimpin yang mampu membimbing, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan organisasi kearah pencapain tujuan.

Demikian pentingnya peranan pemimpin dalam organisasi sehingga dikatakan kepemimpinan adalah sarana pencapaian tujuan (Stogdill,1974) dalam Yakob (2007)

Menurut Zauhar (1996) partai politik pada umumnya beranggapan bahwa administrasi bukanlah strategi yang dapat digunakan untuk memperoleh dukungan suara. Karena itu kadang partai politik memiliki sikap yang tidak konsisten dalam administrasi publik. Hal ini dapat dijelaskan karena partai politik lebih menyukai system patronage dalam rekrutmen, seleksi dan promosi. Hal ini tentunya bertentangan dengan gerakan pembaharuan administrasi yang umumnya cenderung memakai sistem merit. Persoalan lain adalah partai politik lebih cenderung mementingkan perubahan yang substantif yang hasilnya lebih cepat dirasakan oleh pengikutnya, sedangkan administrasi publik isinya tidak dapat segera dinikmati dan waktunya lama.

Dari pandangan tersebut, maka akan lebih cepat terakomodasi kepentingannya apabila mereka menggunakan partai politik sebagai kendaraan untuk masuk dalam memegang jabatan politik atau jabatan birokrasi di pemerintahan. Artinya akan lebih mudah mempresentasikan dirinya melalui kekuatan partai untuk menduduki suatu jabatan politik ataupun jabatan birokrasi dibandingkan melalui kekuatan diluar partai. Karena partai memiliki fraksi yang dapat dijadikan kendaraan politik di lembaga legislatif. Melalui salah seorang yang kecewa dengan kondisi tersebut mengungkapkan:

“Beberapa pejabat yang sebelumnya berseberangan dengan Bupati terpilih, untuk mendapat jabatan atau bertahan pada eselon II mereka melakukan promosi dengan materi /uang. Dan logikanya, lawan bisa jadi dekat karena didekatkan oleh duit, sementara bupati memenangkan pilkada telah menghabiskan duit, termasuk orang yang berperan dalam penyusunan penetapan pejabat birokrasi. Mereka bisa melakukan ini karena adanya kompensasi.

Hal tersebut dimanfaatkan oleh pejabat-pejabat birokrasi untuk mencapai keinginan karirnya. Dengan meminta bantuan melalui orang-orang kepercayaan Bupati, Tim Sukses (TS) maupun keluarga, walaupun harus mengeluarkan materi sebagai bentuk kompensasinya.