BAB II. MEMAHAMI MAKNA AKTUALISASI DIRI
B. Aktualisasi Diri Ditinjau dari Pendekatan Islam
Sebagaimana uraian sebelumnya,bahwasannya Maslow berpendapat, aktualisasi diri bisa diartikan sebagai proses memaksimalkan atau mengembangkan potensi diri. Berkaitan dengan hal ini, Islam pun mengajarkan kepada umatnya untuk mengaktualisasikan diri mereka. Sebagai buktinya bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk aktualisasi diri yaitu terdapat dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw yang artinya “Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa Sallam, dari Nabi Shalallahu „alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintaisaudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai dirinya sendiri”49
Hadist diatas sesuai dengan salah satu ciri-ciri orang yang telah aktualisasi, yakni penerimaan terhadap orang lain dan diri-sendiri.
Ketika seseorang sudah mencintai orang lain, berarti ia telah menerima segala aspek yang ada pada orang lain itu, baik kekurangan maupun
48 Jaenudin dan Hambali Jaenudin dan Hambali, Studi Atas Teori dan Tokoh Psikologi kepribadian. Bandung: CV. Pustaka Setia,2013 Hal. 183-184
49 Musthafa Dieb Al- Bugha dan Muhyiddin Mistu, Al Wafi: Syarah Hadis Arba‟in Imam an- Nawawi. Diterjemahkan oleh Rohidin Wahid dari judul asli Al Wafi Fi Syahril Arba‟in an-Nawawiyah. Jakarta: Qisthi Press. 2014.hal 84
kelebihannya. Sebagaimana hadis tersebut, ketika hal itu terjadi berarti seseorang tersebut sama halnya mencintai dirinya sendiri.
Adapun salah satu cara seseorang bisa beraktualisasi diri, ialah dengan mencari ilmu untuk menambah wawasannya. Di dalam Islam, mewajibkan umatnya untuk menunut ilmu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. Yang diriwayatakan Ibnu Abdil bari ” Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat. 50
Berkenaan dengan hadis tersebut, ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama dan ilmu tentang cara bertingkah laku. Meski hanya sebatas 2 kategori ilmu tersebut, hal ini menunjukkan dalam Islam juga terdapat aktualisasi
Cara selanjutnya agar umat Islam bisa mengaktualisasikan diri mereka adalah dengan memperhatikan aspek akhlak mereka.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
َلاَق َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِالله َل ْوُسَر َّنَأ ُهْنَع ُالله َي ِضَر َة َرْي َرُه يِبَأ ْنَع َناَك ْنَم :
ِم ْوَيلْا َو ِللهاِب ُنِم ْؤُي َناَك ْنَم َو ، ْتُمْصَيِل ْوًأ ًارْيَخ ْلُقَيْلَف ِرِخلآا ِم ْوَيْلا َو ِللهاِب ُنِم ْؤُي ُهَ ْيَض ْم ِرْكُيْلَف ِرِخلآا ِم ْوَيْلا َو ِللهاِب ُنِم ْؤُي َناَك ْنَم َو ،ُ َراَ ْم ِرْكُيْلَف ِرِخلآا [
اور ملسمويراخبلا
]
“Dari Abu hurairah radhiallahu „anhu, dari Rosulallah Saw, beliau bersabda, “ Barangsiapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yg baik atau diam. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah & hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah &
hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim).51
Aspek akhlak itu dibutuhkan dalam mencapai aktualisasi diri, karena aktualisasi diri bisa tumbuh sebab pengaruh lingkungan yang baik. Dan dalam diri manusia ada perasaan keraguan atau ketakutan pada pengembangan potensi pribadi atau kreatifitas, disamping itu juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang ada di sekelilingnya.
Dijelaskan dalam surat Al-Qomar ayat 49:
رٖرَ َقِب ُه َن يۡقَلَخ ٍ يۡيَ َّلُك اَّنِ
ٗ٩
” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.
50 Hening, Cipta, Di dalam diri ada Allah: ada Sifat-Nya, Ada ASma-Nya, Ada Af‟al-Nya, dan Ada Dzat-Nya, Jakarta: PT Elex Media komputindo. 2010.hal.46
51 Muhyiddin Abi zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi ad-Dimasyqi asy- Syafi‟I, Matan Hadits Arba‟in, dalam Shahih: HR. Al Bukhari (no. 6018, 6136, 6475), Muslim (no.
47), Ahmad (II/267,433,463), Abu Daud (no. 5154), at- Tirmidzi (no. 2500) , diterjemahkan oleh tim pustaka Ibnu „Umar, Jakarta: Pustaka Ibnu „umar, t.th, hal.26-27.
Seluruh makhluk diciptakan-Nya sesuai dengan ketentuan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Dan segala sesuatu akan terjadi sesuai dengan ketepan-Nya. Dalam ayat lain Allah berfirman mengenai takdir. Allah Swt juga berfirman dalam Al Qur‟an Surat Al Mudatsir Ayat 38
ٌةَنيِه َر يۡتَبَسَك اَمِب ِِۢس يۡ َن ُّلُك
ٖ٨
“ Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
Dalam ayat ini Allah Swt menegaskan bahwa setiap jiwa manusia terjadi dalam pengawasan dan Penguasaan-Nya. Baik yang Muslim maupunyang kafir, yang ingkar maupun yang taat. Semuanya bergantung pada Allah Swt. Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakannya di dunia ini.
Kemudian Allah Swt juga berfirman dalam Surat At-Thin:4
اَن يۡقَل َخ يۡ َقَل َن َسنِ يۡ ٱ
رٖميِويۡقَت ِنَس يۡحَأ ٓيِف
ٗ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Dari ayat tersebut Allah menegaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan Psikis terbaik. Manusia diciptakan dapat berdiri tegak sehingga otaknya dapat bebas berfikir sehingga ia bisa memperoleh ilmu untuk kemudian ia juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya. Sehingganyatalah teknologi berbentuk manusia yang paling indah dari semua Makhluk-Nya.
Mengenai aktualisasi diri yang digambarkan dalam Al Qur‟an tersebut adalah bahwa semua manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya, sehingga mereka memiliki tangung jawab pada setiap perbuatannya
Aktualisasi diri adalah keadaan dimana seseorang manusia telah merasa menjadi dirinya sendiri, ia mengerjakan sesuatu yang disukainya dan ia mengerjakannya dengan hati yang gembira. Ia tidak lagi menempatkan keberhasilan dari pekerjaanya dengan ukuran yang biasanya berlaku, yakni penghasilan yang diperoleh dari hasil sebuah kerja. Ukurannya menjadi berubah sesuai dengan nilai-niai kehidupan yang dianut atau dipahaminya.
Aktualisasi diri juga dapat diartikan bagaimana kita mengembangkan kekuatan diri kita sendiri. Dan untuk mempraktekkan aktualisasi diri diperlukan kesehatan dan kekayaan mental( kepercayaan diri, disiplin, tanggung jawab dan integritas) untuk mengetahui potensi kita dan mampu mencapai apa yang diinginkan. Sehingga secara sederhana proses aktualisasi dapat dikatakan sebagai proses perkembangan atau penemuan jati diri dan mekarnya potensi yang terpendam dalam diri seseorang.
Dalam teori kebutuhan Maslow, aktualisasi diri didefinisikan sebagaikeinginan untuk mewujudkan kemampuan diriatau keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mewujudkannya.
Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relative dekat dan demokratis, kreativitas dan humoris dan mandiri atau dapat dikatakan sehat secara psikologis.52
Aktuaisasi diri adalah tahap pencapaian oeh seorang manusia terhadap apa yang mulai disadarinya ada dalam dirinya. Ia mulai mencari tahu untuk apa dirinya diciptakan dan dikirimkan Tuhan Yang Maha Esa ke muka bumi. Semua fasa mengaami fase itu, hanya saja sebagian manusia terkena jebakan pada nilai-nilai atau ukuran-ukuran pencapaian dari tiap tahapan yang dimukakan Maslow.
Kalau menengok sejarah para sahabat Nabi Saw maka kita akan menemukan bahwa para sahabat mampu tampil menjadi figur-figur hebat, dengan ciri khas dan kelebihannya masing-masing. Padahal Guru dan ajaran Islam yang disampaikan kepada mereka adalah sama.
Namun, kita bisa membaca sejarah yang mana beliau-beliau mampu melakukan aktualisasi diri secara optimal. Mereka mampu meningkatkan kualitas diri menuju tingkatanseideal yang mereka bisa, mengadakan perbaikan dirisecara konsisten dan kontinyu, serta meningkatkan semua potensi mereka hingga semua potensi pun terbangun secara maksimal. Mereka menerima panggilan Tuhan-Nya dengan hati yang terbuka. carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”
Aktualisasi diri atau bisa disebut membina diri adalah berbagai sarana yang dilakukan seseorang kepada/untuk dirinya sendiri untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan potensinya untuk membentuk kepribadian muslim diseluruh sisinya( iman, Islam, akhlak, dll) sehingga akan memberikan manfaat pada dirinya sehingga mampu menghasilkan karya / kontribusi terbaikdalam melaksanakan amanahnyadi semua medan dan amalnya serta mampu membuat daya tahan pada dirinya sehingga terhindar dari perbuatan yang akan berdampak buruk pada dirinya.
52 Ivancevich, John M dkk, Perilaku dan manajemen organisasi. Alih bahasa,Gina Gania. Ttp. PT Gelora Aksara Pratama. 2006. Hal 148
Pencapaian aktualisasi diri membutuhkan kondisi lingkungan yang menunjang juga adanya keberanian dan keterbukaan individu untuk menerima gagasan- gagasan baru dan pengalaman-pengalaman baru.53
Dalam hierarcy of need Maslow, dikatakan, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan-kebutuhan pokok yang berjenjang dan dimulai dengan kebutuhan yang paling mendasar, yakni kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, tidur, dan reproduksi atau seks.
Timgkat kebutuhan dasar ini juga dibicarakan dalam Islam. al Quran menyebut manusia dalam tiga bentuk, yakni „Al-Basyar, artinya makhluk fisik yang membutuhkan makan. „Al-Nas‟, menunjukkan sebutan bagi keturunan Adam. Dan terakhir „Al-Ins‟, bermartabat, karena memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah Swt. Berkaitan dengan amanah yang diembannya. Berarti tidak liar atau dapat mengendalikan diri karena memiliki akal.
Dilihat dari ketiga bentuk istilah yang digunakan di atas, menunjukkan adanya jenjang yang dimulai dari Al- Basyar, kemudian Al-Nas dan Al- Ins. Secara analogi, kebutuhan manusia dari fisiologis sampai dengan kebutuhan rasa aman, bisa dikategorikan dengan istilah Al-Basyar. Kemudian kebutuhan sosialisasi dan kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) dikategorikan Al-Nas. Selanjutnya manusia yang sampai pada kebutuhan aktualisasi diri dan ketika sudah terinternalisasi seluruh potensinya, barunya dikategorikan al-Ins.54Namun, dalam bentuk Al-Ins sesungguhnya manusia suka melampaui batas atau berlebihan, menunjukkan manusia yang cenderung tidak dapat mengendalikan diri. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan bahwa pada manusia terdapat metakebutuhan yang ingin diraih. Seperti yang dialami oleh Imam Ghazali yang mendambakan keyakinan dan ketentraman serta kebenaran ketika beliau kecewa dan tidak puas dengan sekian banyak ilmu dan kesuksesan yang telah dicapainya. Sehingga ada tuntunan dalam tasawuf untuk tidak berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan dasar itu. Dimana kebutuhan fisiologis-psikologis itu bukanlah sesuatu yang mutlak, namun hanya sebagai sarana dalam upaya beribadah kepada Allah Swt.
Sehingga pengembangan pribadinya akan terarah untuk memiliki akhlak terpuji, ketentraman hidup, keyakinan akan keesaan Tuhan, kearifan serta kebahagiaan lahir dan batin. Dan jika ini terwujud
53 E. koeswara, Teori- Teori Kepribadian, Bandung :PT Eresco, 1986. Hal.119-127
54 Rani Anggraeni Dewi, Menjadi manusia Holistik, Jakarta: PT Mizan Publika.
2006.hal. 171
maka akan terus berproses menuju kesempurnaan atau insan takamullatyang pada akhirnya menjadi insan kamil.
Teori “multiple intelegens” dari Gardner memperkuat keyakinan bahwa manusia sebenarnya memiliki kecerdasan yang beragam yang dapat dikembangkan dengan berjalannya waktu dan sosialisasi. Penerapan teori-teori psikologi humanistik manusia dengan panca indranya dapat menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya,melalui pengukuran kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya.55
Dalam Islam manusia diperbolehkan mencintai keluarga dan harta kekayaanya, namun dengan paradigma rukun pasangan, manusia dalam mencintai materi dunia (apapun itu) tidak boleh meningggalkan aspek akheratnya. Karena manusia harus sadar dan memahami pasangan dari hidup di dunia adalah ia akan hidup di akherat. Sehingga apapun yang dilakukan manusia di dunia ini akan mempunyai implikasi pada kehidupan akhiratnya kelak bagi manuisia pada umumnya.
Dengan demikian, kecintaan dunia secara bersamaan harus berimplikasi pada manfaat akherat. Jadi materialisme harus dipasangkan dengan spiritualisme, memasangkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat sebagai cerminan dari aktualisasi diri dari rukun iman, yaitu beriman kepada Allah SWT, beriman kepada malaikat, beriman kepada rosul, beriman kepada kitab suci, Beriman kepada akhirat dan beriman kepada Qodlo dan Qodar Allah SWT. Dengan demikian, falsafah materialism dan spiritualisme disatukan menjadi satu pandangan hidup yang utuh dan hal ini dapat diwadahi dalam ssatu istilah yaitu “ ibadah” itu sendiri ( material – spiritualisme )dalam ibadah pasti meliputi aspek material dan aspek spiritual ; material menyangkut kebendaan , sedangkan spiritual menyangkut ilahiah ( ketuhanan) karena apapun yang manusia lakukan adalah karena Allah Semata dan atas dasar atuan Allah jua.56
Aktualisasi diri yang dibarengi dengan tazkiyyat al-nafs akan menghasilkan pengetahuan indrawi yang memberikan makna eksoteris dan mendalam menjadi makna eksoteris yang mengandung nilai-niai ilahiah. Dengan demikian, individu mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang utuh, menjadi pribadi yang self actualized dengan kepribadian sufi.
55Rani Anggraeni Dewi, Menjadi manusia Holistik, Jakarta: PT Mizan Publika.
2006.hal 195
56 Slamet Wiyono, Manajemen Potensi diri: seri motivasi dan aksi, strategi jitu mendongkrak kesuksesan pribadi dan organisasi tanpa mengorbankan integritas moral , sukses hidup sejati, Jakarta : Grasindo.2004. Hal.34.