BAB II. MEMAHAMI MAKNA AKTUALISASI DIRI
C. Sarana-Sarana dalam Melakukan Aktualisasi Diri
Untuk dapat mengaktualisasikan diri kita memang bukan perkara yang mudah, pasti aka nada kesulitan-kesulitan yang harus dilewati. Karena kita perlu menjaga keseimbangan diri ( semangat dan kemampuan) dilakukan sedikit- demi sedikit atau bertahap agar bisa sampai ke tujuan, tidak putus ditengah jalan. Caranya adalah kita mengerjakan program yang terencana, sistematis, seimbang, menyeluruh dan berkelanjutan. Dalam bukunya Membina Diri, Abdullah Bin Abdul Aziz Al Aidan memaparkan ada 8 sarana yang dapat kita gunakan dalam melakukan aktualisasi diri, yaitu:57
1. Evaluasi Diri
Langkah bijak dan cerdas insan muslim yang memulai aktualisasi diri dengan cara pertama yaitu melakukan evaluasi diri terhadap dirinya atas segala perbuatan (kebaikan dan keburukan) yang belum atau setelah ia kerjakan. Jangan sampai kita sombong mengira bahwa kita orang yang paling baik, shalih, bertakwa dan tidak berdosa. Evaluasi diri yang berkaitan dengan kesehatan akidah, perbuatan yang lebih baik tidak dikerjakan daripada dikerjakan dan waktu. Evaluasi diri secara berkelanjutan.
Langkah pertama ini menjadi pondasi yang baik untuk mengawali aktualisasi diri yang ingin kita lakukan. Hasan Bashri Rahimahullah berkata “Hisab sebagian orang dipermudah pada hari kiamat, karena mereka me-musabah-i diri mereka di dunia”
2. Pembersihan Diri atas Evaluasi Diri
Langkah selanjutnya setelah evaluasi adalah pembersihan diri atas setiap evaluasi diri yang kita lakukan, yang disebut taubat.
Pembersihan/taubat menurut ibnu katsir rahimahullah dilakukan dengan cara ia menyesali kesalahan silamnya dan bertekad tidak mengerjakan lagi pada masa mendatang.
3. Mencari Ilmu dan Memperluas Wawasan
Langkah ketiga ini merupakan pengisian atas aktualiasi diri yang ingin kita lakukan. Ini merupakan unsur penting/jalan masuk yang akan mengarahkan aktualisasi diri yang ideal. Sebab, bagaimana kita dapat melakukan aktualisasi jika kita tidak mengetahui hal halal/baik atau haram/bathil. Ilmu yang menunjang aktualisasi diri adalah ilmu yang syar‟i yang bersumber dari Qur‟an dan hadits, ilmu yang menghasilkan ketakwaan kepada Allah, mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, serta memberikan manfaat untuk orang orang lain. Sejatinya semua ilmu
57 Abdullah Bin Abdul Aziz, Tarbiyah Dzatiyah, diterjemahkan oleh Fadhli Bahri.
Jakarta: An Nadwah.2002. hal.67
didunia ini harus berafiliasi pada hal itu. Kiat-kiat mencari ilmu dan memperluasnya adalah sebagai berikut :58
a. Membaca dan menghafal Al-Quran dan Hadits secara rutin, kemudian memahami isi kandungan dan berusaha mengamalkannya.
b. Menghadiri pelajaran-pelajaran ilmiah yang diselenggarakan ustadz, dosen, atau akademisi lainnya dimanapun tempatnya yang diadakan secara rutin dan kehadiran kita tidak bolong-bolong
c. Membaca buku ilmiah, baik ilmu klasik dan kontemporer, secara rutin.
d. Mengunjungi/silaturahim kepada ustadz, dosen, atau akademisi lainnya untuk menimba ilmu, keahlian, dan pengalaman mereka dengan berdialog atau diskusi dengan mereka.
e. Memanfaatkan media informasi; yaitu radio, TV, majalah, koran, dan internet; untuk menambah wawasan keislaman.
Dalam mencari ilmu dan memperluas wawasan kita harus ikhlas dan rajin/kontinu dan mempelajarinya, menerapkan ilmu itu pada diri kita dan tunaikan hanya yaitu menyebarkannya/memberikan manfaat untuk orang lain.
4. Mengerjakan Amalan-Amalan Iman
Cara ini merupakan realisasi konkrit perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, sekaligus merupakan bukti kuat keinginan ikhlas kita dalam meng-aktualisasi diri. Sebab cara ini ujian untuk mengetahui kejujuran kita dalam mengerjakan-Nya, mencari petunjuk, memperoleh kemudahan, dan istiqamah dalam program aktualisasi diri kita. Wujud realisasinya adalah mengerjakan ibadah-ibadah wajib dengan optimal, menambah ibadah-ibadah-ibadah-ibadah sunnah, peduli ibadah dzikir (Quran, al-ma‟tsurat, dan dzikir harian lainnya) 5. Memperhatikan Masalah Akhlak ( Moral)
Islam sangat peduli dengan akhak. Seluruh perintah, larangan, ibadah, dan ketaatan islam membuahkan hasil positif bagi jiwa dan kehidupan manusia. Hasil besar dari akhlak itu adalah hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Oleh karena itu, kita harus selalu memperbaiki akhlak sesuai dengan yang dianjurkan islam, misalnya sabar, cinta, tawadhu, dermawan, amanah, sabar atas cobaan dan gangguan, berbakti kepada orang tua, silaturahim, menghormati orang lain, penolong, dan lainnya. Agar kita dapat
58 Juandalizar, Aktualisasi Diri Insan Muslim,
https://juandalizar.wordpress.com/2010/09/13/aktualisasi-diri-insan-muslim/ diakses pada 19 Januari 2019 pukul 13.10 WIB
melakukan aktualisasi diri dalam masalah akhlak ini, maka kita harus selalu sabar, mmembersihkan hati, dan memperhatikan etika-etika umum.
6. Terlibat dalam Aktivitas Keislaman atau Kegiatan-Kegiatan Positif Lainnya.
Insan muslim wajib meng-aktualisasi dirinya untuk terlibat di aktivitas keislaman, kita tidak punya alasan dan pilihan selain mengerjakannya, tentunya sesuai dengan kadar ilmu, kondisi dan potensi kita berdasarkan Quran dan Sunnah. Tujuannya adalah agar kita dapat memberikan manfaat untuk orang lain dan sebagai bahan penjagaan untuk diri kita agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.Dengan melakukan berbagai kegiatan yang sesuai dengan kondisi dan keadaan seseorang justru akan mendapatkan banyak keuntungan seperti relasi akan semakin luas, kemampuan berorganisasi berkembang, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain akan ikut bertambah pula. Dengan demikian, kegiatan kegiatan positif ini menjadi salah satu sarana aktualisasi diri.59 7. Mujahadah ( Jihad)
Kita mengetahui bahwa untuk melakukan perbaikan pada setiap kekurangan yang kita miliki sangat sulit atau aktualisasi diri secara sempurna. Kecuali kita melakukan persiapan seperti mempersiapkan jiwa/mental, kontinuitas ibadah pada Allah (sarana keempat) dan meninggalkan maksiat (sarana kelima). Sebab, musuh-musuh kita sudah siap untuk menghadang, seperti setan dan hawa nafsu. Jika kita persiapan tidak matang, maka kita akan mudah takluk di langkah awal atau loyo sehingga tidak mampu naik ke tingkatan yang paling tinggi/sesuai harapan. Oleh karena itu, kita tidak boleh lalai, walau hanya sejenak karena akan berdampak buruk buat kita, maka mujahadah harus dilakukan terus-menerus, dengan arahan yaitu sabar dan bertahap dalam melakukan mujahadah.
8. Berdo‟a dengan Jujur Kepada Allah
Sarana terakhir ini merupakan sisi paling penting dalam aktualisasi diri, karena jika kita tidak mendapat bantuan dan bimbingan dari Allah Ta‟ala, maka tidak mungkin dapat merealisasi semua kecerdasan dan potensi yang kita miliki, meskipun kita sangat hebat. Doa ini kita perlukan untuk mempermudah semua rencana aktualisasi kita, memperbarui semangat aktualisasi dan yang paling penting menjaga keistiqamahan kita pada jalan-Nya.
59 Fita Cakra, Happy Mom; Rahasia menjadi Bunda Bahagia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011, hal. 40.