• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORITIS

E. Akulturasi dan Budaya

Menurut istilah ilmu antropologi budaya, akulturasi merupakan proses pencampuran antara dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Akulturasi sebagai istilah yang menunjukkan adanya pengaruh dari satu pihak dalam proses percampuran yang mengandung pengertian adanya pertukaran kebudayaan dan timbal balik. Proses akulturasi umumnya menyebabkan martabat kedua kebudayaan itu meningkat kepada taraf yang lebih tinggi. Dalam bidang

psikiatri berarti proses perubahan budaya, apabila individu dipindahkan dari

suatu lingkungan budaya ethnik tertentu ke lingkungan budaya ethnik lain.26 Akulturasi diberikan pengertian sebagai perpaduan antara dua kebudayaan atau lebih dan telah menyatu sehingga unsur-unsur kebudayaan pembentuknya sudah tidak dapat terlihat lagi. Akulturasi akan mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesenian.27

Dalam proses transformasi budaya, ada dua hal unsur penting terhadap pentingnya perubahan nilai, yaitu terjadinya proses inkulturasi dan akulturasi. kedua proses tersebut mempunyai hubungan timbal balik, dan berganti-ganti – dapat merupakan penghalang atau pendorong satu sama lain, dan mengalami proses kelanjutan atau pembekuan.

26

Franklin Books Programs, Ensiklopedi Umum (Yogyakarta:Kanisius, 1973), h. 30.

27

Inkulturasi merupakan penempaan-penempaan setiap individu sebagai subjek kebudayaan, cita-cita kebudayaan yang diharapkan, kontrol melawan penyelewengan, dan ketegangan terhadap daya cipta seseorang. Inkulturasi dianggap berhasil jika terjadi penggabungan antara tradisi dan ekspresi pribadi, sehingga dengan demikian nilai-nilai dapat berasimilasi secara dinamis.

Di samping inkulturasi, para proses transformasi budaya terjadi pula apa yang disebut sebagai akulturasi. Proses ini merupakan wahana atau area dua kebudayaan bertemu, di mana masing-masing dapat menerima nilai-nilai bawaanya. Untuk dapat berhasil dengan baik, proses akulturasi perlu memenuhi beberapa syarat, diantaranya syarat persenyawaan (affinity), yaitu penerimaan kebudayaan tanpa rasa terkejut. Gillin mengibaratkan

persenyawaan ini sebagai „menyerap‟, sebagai bagian organik, sedangkan

Amman melihatnya sebagai „penjiwaan‟ kebudayaan.

Syarat lain terbentuknya proses akulturasi adalah adanya keseragaman (homogenity), seperti nilai baru yang tercerna akibat keserupaan tingkat dan corak budayanya. Kemudian syarat fungsi, seperti nilai baru yang diserap hanya sebagai suatu manfaat yang tidak penting atau hanya sekadar tampilan, sehingga proses akulturasi dapat berlangsung dengan cepat. Dengan demikian, suatu nilai yang tepat fungsi dan bermanfaat bagi kebudayaan sehingga akan memiliki daya tahan lama. Ciri terjadinya proses akulturasi yang utama adalah diterimanya kebudayaan luar yang diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asal. Sedangkan Soekanto,

mengelompokkan unsur kebudayaan asing yang mudah diterima, di

antaranya adalah „kebudayaan benda‟, sesuatu yang besar manfaatnya, dan

unsur „kebudayaan‟ yang mudah disesuaikan. Unsur „kebudayaan yang sulit diterima‟, adalah kepercayaan, ideologi, falsafah, dan unsur yang membutuhkan proses sosialisasi.28

2. Faktor Akulturasi

Pola-pola akulturasi tidaklah seragam di antara individu-individu tetapi beraneka ragam, bergantung pada potensi akulturasi yang dimiliki imigran sebelum bermigrasi. Berikut ini faktor akulturasi dalam memberi andil kepada potensi akulturasi yang besar.

Kemiripan antara budaya asli (imigran) dan budaya pribumi

mungkin merupakan faktor terpenting yang menunjang potensi akulturasi. Begitu seseorang imigran memasuki budaya pribumi, proses akulturasi mulai berlangsung. Proses akulturasi akan terus berlangsung selama imigran mengadakan kontak langsung dengan sistem sosio-budaya pribumi.

Usia pada saat berimigrasi. Imigran yang lebih tua umumnya

mengalami banyak kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan budaya yang baru dan mereka lamban dalam memperoleh pola-pola budaya baru.29

Latar belakang pendidikan. Faktor penguasaan bahasa ikut juga

menentukan. Imigran yang sudah menguasai bahasa masyarakat pribumi, lebih besar potensi akulturasinya. Latar belakang pendidikan imigran

28

Agus Sachari, Budaya Visual Indonesia (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 29. 29

Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya : Panduan

Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 27.

sebelum berimigrasi mempermudah akulturasi. Pendidikan, terlepas dari konteks budayanya, ternyata memperbesar kapasitas seseorang untuk menghadapi pengalaman baru dan mengatasi tantangan hidup. Dalam beberapa kasus, proses pendidikan seorang imigran di negeri asalnya meliputi kursus bahasa asing yang memberi individu suatu bekal untuk mengembangkan kecakapan berkomunikasi setelah berimigrasi.

Beberapa karakteristik kepribadian seperti bersahabat dan

toleransi. Faktor-faktor kepribadian seperti suka berteman, toleransi, mau

mengambil risiko, keluwesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Karakteristik-karakteristik kepribadian ini bisa membantu imigran membentuk persepsi, perasaan dan perilakunya yang memudahkan dalam lingkungan yang baru. Penting juga sifat kepribadian yang terbuka, toleransi, solidaritas yang kesemuanya dapat membentuk persepsi dan perilaku yang memudahkan akulturasi di lingkungan sosio-budaya baru.30

Pengetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi.

Pengetahuan imigran tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi yang diperoleh dari kunjungan sebelumnya, kontak-kontak antarpersona, dan lewat media massa, juga dapat mempertinggi potensi akulturasi imigran.31 3. Pengertian Budaya dan Asimilasi

Istilah budaya dalam bahasa Inggris Culture masih dapat diketahui asal usulnya, yaitu Colere (Latin) yang berarti mengumpulkan atau

membudayakan. Kata ini jelas-jelas berkaitan dengan kegiatan manusia

30

Alex. H. Rumondor, dkk., Komunikasi Antar Budaya (Jakarta : UT , 1995), h. 95. 31

Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya:Panduan

Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2005) h. 145.

dalam pertanian. Dalam bahasa Indonesia, analisis kata Budaya atau

Kebudayaan kembali ke kata Budi yaitu alat batin yang merupakan paduan

akal dan perasaan untuk menimbang baik buruk. Dari kata budi ini dikembangkanlah kata-kata :

- Budi daya : usaha yang bermanfaat dan memberi hasil - Budaya : pikiran dan hasil

- Kebudayaan : hal-hal berkaitan dengan budaya, pikiran dan batin. Budaya adalah konsep yang menumbuhkembangkan perhatian suatu objek lingkungan dalam sistem sosial. Budaya diartikan sebagai berikut:

- Budaya adalah tatanan kemampuan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hierarki, agama, waktu, peranan konteks ruang, pandangan hidup mengenai dunia dan alam semesta. - Budaya termasuk milik yang diperoleh sekelompok besar manusia dari

generasi ke generasi melalui usaha individu atau kelompok tertentu. - Budaya juga merupakan pengetahuan. Sifat-sifat perilakunya berupa

kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan atau kebiasaan lain, yang diperoleh dari anggota masyarakat.32

Asal kata kebudayaan terutama mengenai maknanya, yaitu berasal dari kata budhayah, yaitu jamak dari buddhiyang berarti “budi” dan “akal”

sehingga kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan akal. Berikut pengertian kebudayaan menurut para ahli, Selo Soemardjan mengatakan bahwa kebudayaan merupakan semua hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Koentjaraningrat berpendapat kebudayaan merupakan

32

keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.33

Clifford Geerts (1973) menyatakan budaya dapat dipahami sebagai pola makna yang tertanam dalam simbol dan ditransmisikan secara historis, sebuah sistem konsepsi turunan yang diekspresikan dalam bentuk simbolik yang digunakan orang-orang untuk berkomunikasi dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang hidup dan sikap terhadapnya.

Selanjutnya menurut Kluckhohn, mendefinisikan budaya terdiri dari berbagai pola tingkah laku, eksplisit dan implisit, dan pola tingkah laku itu diperoleh dan dipindahkan melalui simbol, merupakan karya khusus kelompok-kelompok manusia, termasuk penjelmaanya dalam bentuk hasil budi manusia. Inti utama budaya terdiri dari ide-ide tradisional, terutama nilai-nilai yang melekatnya.34

Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hierarki, agama, waktu, peranata, objek-objek materi dan milik yang diperoleh individu dan kelompok. Budaya berkesinambungan dan hadir di mana-mana; budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama satu periode kehidupan. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi hidup seseorang.35

33

Tedi Sutardi, Antropologi : Mengungkap Keragaman Budaya (Bandung:Setia Purna

Inves, 2007), h. 10.

34

Abu Bakar M. Luddin, Dasar-Dasar Konseling : Tinjauan Teori dan Praktik (Bandung :

Citapustaka Media Perintis, 2010), h. 102. 35

Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya : Panduan

Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 18.

Akulturasi merupakan suatu proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah kepada asimilasi. Asimilasi merupakan derajat tertinggi akulturasi yang secara teoritis mungkin terjadi. Kebanyakan imigran, asimilasi mungkin merupakan tujuan sepanjang hidup.

Asimilasi adalah proses kogitif di mana seseorang mengintegrasikan persepsi dan pengalaman baru ke dalam skema yang sudah ada di dalam pikirannya. Skema tersebut awalnya tidak hanya tetap dipakai, tetapi juga dikembangkan dan dilengkapi. Jadi Asimilasi merupakan salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan/tantangan baru sehingga pengertian orang itu berkembang.36

Asimilasi terjadi pada kelompok masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda, hidup berdampingan sehingga anggota dari kelompok tadi bergaul dengan sesamanya secara langsung dan akrab dalam waktu yang lama. Dengan demikian, memungkinkan kebudayaan kelompok tersebut saling berusaha mendekati satu sama lain dan lambat laun menjadi satu.37

Asimilasi cenderung sejajar dengan hilangnya etnisitas (Kim,

1988:30). “Suatu bentuk yang secara alami segera mengikuti asimilasi struktural adalah asimilasi psikologis, hilangnya identitas etnik yang khas”

(Alba, 1985:12). Senada dengan itu, Van der Berghe berpendapat,

Asimilasi merujuk kepada ”sejauh mana suatu kelompok yang

semula khas telah kehilangan identitas subjektifnya dan telah terserap ke dalam struktur sosial suatu kelompok lain…Memang,

36

Paul Suparno,Teori Perkembangan Kognitif (Yogyakarta : Kanisius, 2005), h. 22.

37

Tedi Sutardi, Antropologi : Mengungkap Keragaman Budaya (Bandung:Setia Purna

Akulturasi adalah suatu prasyarat, atau sekurang-kurangnya seiring dengan asimilasi, karena bagaimana mungkin seseorang kehilangan perasaan khasnya dan sepenuhnya diterima suatu kelompok lain kecuali bila ia lancar dalam bahasa dan budaya kelompok penerima (1981:216).38

Sebuah definisi asimilasi dikemukakan Park dan Burgess:

Asimilasi adalah suatu proses interprenetasi dan fusi. Melalui proses ini orang-orang dan kelompok-kelompok memperoleh memori-memori, sentimen-sentimen dan sikap-sikap orang-orang atau kelompok-kelompok lainnya, dengan berbagai pengalaman dan sejarah, tergabung dengan mereka dalam suatu kehidupan budaya yang sama (1969:735).

Asimilasi merupakan akibat kelompok-kelompok minoritas memasuki budaya dominan dan bahwa kelompok-kelompok minoritas secara bertahap akan kehilangan identitas etnik mereka yang membedakan mereka dari kelompok dominan. Dalam hal ini, Asimilasi menghasilkan dua akibat:

(1) Kelompok minoritas kehilangan keunikannya dan menyerupai kelompok mayoritas. Dalam proses itu kelompok mayoritas tidak berubah.

(2) Kelompok etnik dan kelompok kehilangan keunikannya, lalu muncul produk unik lainnya, suatu proses yang disebut Belanga Pencampuran.

Milton Gordon (1962) membedakan tujuh dimensi asimilasi, yakni: asimilasi kultural, struktural, martial, identifikasional, penerimaan sikap, penerimaan perilaku dan kewarganegaraan. Asimilasi kultural ditandai dengan perubahan pola budaya kelompok minoritas seperti bahasa,

38

Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya:Panduan

nilai, pakaian. Sementara asimilasi struktural ditandai dengan masuknya kelompok minoritas ke dalam lembaga pribumi. Asimilasi struktural-lah yang menimbulkan asimilasi sempurna. Sekali asimilasi struktural terjadi, maka bentuk asimilasi lainnya menyusul secara alami.39

Dokumen terkait