Dana yang dianggarkan dan realisasinya untuk mewujudkan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dapat dirinci sebagai berikut :
Dana yang digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian sasaran tersebut berasal dari Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) tahun 2007 yaitu Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung dengan rincian sebagai berikut :
Plafond anggaran tahun 2007 Rp. 248.174.339.324
a. Belanja Langsung : Rp. 185.210.785.586 (74,63%) b. Belanja Tidak Langsung : Rp. 62.963.553.738 (25,37%)
Penyerapan anggaran tahun 2007 Rp. 197.158.575.548 (79,44%)
a. Belanja Langsung : Rp. 145.511.003.978 (73,8%) b. Belanja Tidak Langsung : Rp. 51.647.571.570 (26,2%)
Untuk menekan penggunaan anggaran, maka pada tahun mendatang akan dilakukan perencanaan kegiatan yang lebih cermat dan lebih terarah.
I
IVV.. PPEENUNUTTUPUP
Kesimpulan
Dinas Tramtib dan Linmas telah cukup berhasil melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yang diwujudkan dalam keberhasilan pencapaian sasaran strategis yang telah ditetapkan untuk tahun 2007. Keberhasilan pencapaian sasaran ini dapat dilihat dari pemenuhan indikator kinerja yang telah ditetapkan masing-masing sasaran tersebut.
Keberhasilan capaian indikator kinerja sasaran tidak hanya ditentukan oleh kinerja Dinas Tramtib dan Linmas semata, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan para instansi terkait. Adapun beberapa indikator kinerja yang menggambarkan keberhasilan Dinas antara lain adalah :
a. Peningkatan, Pembinaan dan Pelatihan MFD secara rutin dan berkelanjutan terhadap para Anggota Pol PP serta Anggota Banpol PP dan Linmas
b. Peningkatan kemampuan dan kemahiran menyelam Anggota Dinas Tramtib dan Linmas Provinsi DKI Jakarta melalui Diklat Selam Tingkat Lanjutan
c. Pembinaan Anggota Linmas dan pemberian bantuan perlengkapan Anggota Linmas Rt/Rw dan Sat.Linmas Obyek Vital
d. Pembinaan/bimbingan teknis yang berkesinambungan terhadap pengelolaan kearsipan dinamis dan imbas Satminkal Dinas Tramtib dan Linmas Provinsi ke Satminkal Sudin Tramtib Kodya
e. Pembinaan/bimbingan teknis yang berkesinambungan terhadap para pengelola administrasi keuangan Dinas Tramtib dan Linmas Provinsi DKI Jakarta
f. Pengadaan sarana dan prasarana pendukung kegiatan operasional Dinas Tramtib dan Linmas Provinsi DKI Jakarta
g. Beroperasinya Crisis Center PBP Provinsi DKI Jakarta
h. Pengesahan Rancangan Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum yang merupakan penyempurnaan dari Peraturan Daerah Nomor 11/1988 tentang Ketertiban Umum di Wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
i. Pelaksanaan pengamanan/antisipasi situasi dan pengamanan pada hari-hari besar Nasional dan keagamaan serta terhadap tamu-tamu negara dan Gubernur
j. Pengamanan dan penertiban terhadap lokasi pembangunan jalur busway koridor 8, 9 dan 10
k. Penertiban terhadap sengketa tanah dan bangunan serta penyelesaiannya l. Peningkatan penerimaan retribusi dari pengurusan Izin UUG yang
didukung dengan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan terhadap tempat-tempat usaha
m. Pembinaan Anggota Linmas dalam rangka antisipasi dan penanggulangan bencana di wilayah Provinsi DKI Jakarta
n. Keterlibatan peranserta masyarakat dalam antisipasi dan penanganan bencana melalui pelaksanaan Geladi Posko dan Geladi Lapang serta Pekan Sadar Bencana
o. Tersedianya data lokasi rawan pelanggaran Perda
p. Tersedianya data-data lokasi rawan bencana dan tinggi muka air q. Koordinasi antara Anggota Satkorlak PBP Provinsi DKI Jakarta
Adapun indikator kinerja yang menggambarkan ketidakberhasilan Dinas adalah : Jumlah personil Anggota Banpol PP dan Linmas yang sesuai klasifikasi, yang dalam hal ini belum mencukupi.
Permasalahan
Beberapa permasalahan yang dihadapi Dinas Tramtib dan Linmas selama pelaksanaan kinerja tahun 2007 :
1. Permasalahan Intern Organisasi
a. Masih terdapatnya tumpang tindih pelaksanaan kegiatan / tugas-tugas di antara unit-unit organisasi, seperti :
• Subdis Pembinaan dan Pelatihan dengan UPT Sat. Linmas dalam hal pendidikan dan pelatihan.
• Seksi Pengendalian Operasi Subdis Ketertiban Masyarakat, Subdis Sarana dan Prasarana Perkotaan dengan Seksi Operasional UPT Satpol PP, dimana Subdis-subdis dan Seksi dimaksud, berdasarkan disposisi pimpinan, sama-sama ditugaskan melaksanakan operasi-operasi penertiban tertentu atau untuk sesuatu penugasan tertentu. • Seksi Sengketa Tanah Subdis Ketertiban Masyarakat dengan
Subdis Sarana dan Prasarana Perkotaan, dimana tugas-tugas penanganan sengketa tanah juga ditugaskan kepada staf tertentu pada Subdis Sarana dan Prasarana Perkotaan berdasarkan diskresi pimpinan. Dalam hal ini, tugas ini sebenarnya merupakan wewenang dan tanggung jawab Seksi Sengketa Tanah Subdis Ketertiban Masyarakat.
b. Belum adanya tindaklanjut terhadap Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.32 Tahun 2004 tentang pedoman Satuan Polisi Pamong Praja, dimana semestinya PP dimaksud dituangkan ke dalam sebuah Perda sebagai payung hukum terbaru Dinas Tramtib dan Linmas Provinsi DKI Jakarta
a. Organisasi belum mewujudkan keseimbangan kebutuhan aparatur sejalan dengan volume tugas-tugas atau kegiatan yang ditangani. Dalam hal ini, di satu unit organisasi terdapat jumlah pegawai yang relatif banyak, sedangkan di unit organisasi lainnya relatif sedikit.
b. Kurangnya analisis mendalam terhadap penempatan pegawai sesuai dengan kemampuan SDM serta volume tugas yang ada
c. Perlu adanya institusi serta tupoksi yang jelas bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)
d. Disiplin moril, motivasi, kreativitas aparatur dalam melaksanakan tugas-tugas kewajibannya belum sepenuhnya memberikan dampak terhadap peningkatan kinerja dinas secara keseluruhan
e. Standar Kinerja untuk setiap program kerja belum disusun dan dituangkan dalam surat keputusan formal, sehingga sulit mengukur keberhasilan pelaksanaan program.
f. Leadership dan pengawasan yang diperankan oleh pimpinan unit-unit organisasi belum sepenuhnya berjalan optimal di dalam pelaksanaan tugas wewenang dan tanggung jawab terhadap staf.
2. Mekanisme Operasional Penertiban
a. Belum tersusunnya secara baik sebuah mekanisme operasional penertiban yang terkoordinasi dan terintegrasi antar Subdis-subdis terkait, baik yang menyangkut perencanaan program dan pelaksanaannya belum terwujud dalam satu kesatuan sistem.
b. Belum terintegrasinya secara optimal dalam hal mekanisme operasional penertiban mulai dari tingkat Provinsi hingga Kelurahan, baik menyangkut perencanaan program, pengawasan dan pengendalian dan pemeliharaan /pembinaan hasil-hasil penertiban.
c. Belum terintegrasinya sistem pelaporan kegiatan operasional di bidang tramtib dan linmas, mulai dari tingkat Subdis / Bagian / UPT
hingga tingkat wilayah Kelurahan.
d. Belum tersedianya posko permanen dengan dukungan logistik yang memadai bagi personil Banpol PP dan Linmas sebagai pendukung operasional kegiatan tramtib dan linmas di tingkat wilayah, mulai dari Provinsi hingga Kelurahan.