• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA _______________________________________ 21

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja.

B. Realisasi Anggaran

Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran kantor pusat dan dana dekonsentrasi yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.

Bab IV Penutup

Pada bab ini diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA

Perencanaan kinerja merupakan proses penetapan kegiatan tahunan dan indikator sasaran berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam sasaran strategis. Perencanaan kinerja disusun sebagai pedoman bagi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi secara sistematis, terarah dan terpadu. Kementerian Kesehatan telah menetapkan 8 (delapan) Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020 - 2024 merupakan dokumen negara yang berisi upaya-upaya pembangunan kesehatan yang dijabarkan dalam bentuk program/kegiatan, indikator, target, sampai dengan kerangka pendanaan dan kerangka regulasinya. Selanjutnya Renstra Kementerian

Kesehatan Tahun 2020 – 2024 dijabarkan dalam bentuk Rencana Aksi

Program (RAP) di tingkat Eselon I dan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) di tingkat Eselon II. Renstra Kementerian Kesehatan sebagai dasar penyelenggaraan pembangunan kesehatan mengamanatkan Sasaran Strategis kepada Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan untuk meningkatkan akses, kemandirian dan mutu kefarmasian dan alat kesehatan. Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dimaksud disusun tujuh strategi yang perlu dilakukan antara lain:

a. Memastikan ketersediaan obat esensial dan vaksin di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas, dengan melakukan pembinaan pengelolaan obat dan vaksin sesuai standar di instalasi farmasi provinsi, kabupaten/kota dan puskesmas;

b. Menerapkan sistem data dan informasi pengelolaan logistik obat secara terintegrasi antara sarana produksi, distribusi, dan pelayanan kesehatan; c. Penguatan regulasi sistem pengawasan pre dan post market alat kesehatan, melalui penilaian produk sebelum beredar, sampling dan pengujian, inspeksi sarana produksi dan distribusi termasuk

pengawasan barang impor Border dan Post Border, dan penegakan hukum;

d. Meningkatkan daya saing dan kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri, melalui penciptaan iklim ramah investasi, optimalisasi hubungan kerjasama luar negeri, membangun sinergi

Academic-Bussiness-Government-Community-Innovator (A-B-G-C-I),

hilirisasi, serta fasilitasi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan ke arah biopharmaceutical, vaksin, natural, Active Pharmaceutical Ingredients (API) kimia dan industri alat kesehatan teknologi tinggi;

e. Mendorong tersedianya vaksin halal melalui penyusunan roadmap vaksin halal;

f. Mendorong produksi alat kesehatan dalam negeri dengan

mengutamakan pemanfaatan komponen lokal serta penggunaan alat kesehatan dalam negeri melalui promosi, advokasi, dan pengawasan implementasi regulasi;

g. Menjalankan program promotif preventif melalui pemberdayaan masyarakat, terutama untuk meningkatkan penggunaan obat rasional dan alat kesehatan tepat guna di masyarakat serta pemanfaatan kearifan lokal melalui Gerakan Bugar dengan Jamu dan pemanfaatan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020

tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020 – 2024,

sasaran kinerja kegiatan pada Direktorat Pelayanan Kefarmasian adalah: 1) Meningkatnya rumah sakit dengan penggunaan obat sesuai Fornas; 2) Meningkatnya pelaksanaan pelayanan kefarmasian sesuai standar.

Tercapainya sasaran tersebut direpresentasikan dengan Indikator Sasaran Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian beserta target yang harus dicapai. Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan

Tahun 2020 – 2024, berikut Indikator Sasaran Kegiatan Peningkatan

Tabel 3. Indikator Sasaran, Definisi Operasional dan Target Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian Tahun 2020 – 2024

Indikator Sasaran Definisi Operasional Target

2020 2021 2022 2023 2024 Persentase rumah

sakit dengan penggunaan obat sesuai FORNAS

Rumah sakit yang melayani pasien JKN menggunakan item obat sesuai ketentuan dalam Fornas ≥80%. 70% 75% 80% 85% 90% Persentase fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar Fasilitas pelayanan

kesehatan dengan Apoteker yang melakukan pengkajian dan pelayanan resep, Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling yang terdokumentasi.

50% 55% 60% 65% 70%

B. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2020

Perjanjian kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator sasaran. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.

Perjanjian kinerja berisi tekad dalam rencana kinerja tahunan yang dicapai antara pimpinan instansi pemerintah/unit kerja yang menerima amanah/tanggungjawab/kinerja dengan pihak yang memberikannya. Perjanjian kinerja ini merupakan suatu janji kinerja yang diwujudkan oleh seorang pejabat penerima amanah kepada atasan langsungnya.

Di dalam perencanaan kinerja ditetapkan target kinerja tahun 2020 untuk seluruh indikator sasaran yang ada pada tingkat luaran dan kegiatan. Pernyataan Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian tahun 2020 menjadi komitmen bagi Direktorat Pelayanan Kefarmasian untuk mencapainya pada tahun 2020.

Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kefarmasian mengalami perubahan, karena perubahan anggaran serta perubahan target kinerja. Pada awal tahun 2020 sebelum adanya efisiensi anggaran karena pandemi Covid-19, anggaran yang dikelola sebesar Rp. 24.952.647.000,- (Dua puluh empat milyar sembilan ratus lima puluh dua juta enam ratus empat puluh tujuh ribu rupiah).

Setelah memasuki triwulan III tahun 2020, anggaran yang dikelola telah turun menjadi Rp. 9.313.476.000,- (Sembilan milyar tiga ratus tiga belas juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah), dan target kinerja telah berubah sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020 – 2024.

Tabel 4. Perubahan Indikator Sasaran Kegiatan dan Anggaran

No Sasaran Kegiatan Indikator Sasaran Target

1 Meningkatnya rumah sakit dengan penggunaan obat sesuai FORNAS

Persentase rumah sakit dengan penggunaan obat sesuai FORNAS

70%

2 Meningkatnya pelaksanaan pelayanan kefarmasian sesuai standar

Persentase fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar

50%

Kegiatan: Peningkatan Pelayanan Kefarmasian

Anggaran: Rp. 9.313.476.000,- (Sembilan milyar tiga ratus tiga belas juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah)

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

A. TANTANGAN DAN PELUANG

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia sejak bulan Maret 2020, membuat seluruh negara mengalami krisis di bidang kesehatan yang berdampak pada segala aspek kehidupan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi gerak dan interaksi manusia untuk menekan laju penularan penyakit dan mencegah kolapsnya fasilitas pelayanan kesehatan, mengakibatkan terhentinya roda perekonomian bangsa.

Direktorat Pelayanan Kefarmasian sebagai entitas dalam Kementerian Kesehatan, dituntut untuk ikut berperan dalam penanganan pandemi. Sesuai tugas dan fungsi yang telah diberikan, salah satu peran Direktorat Pelayanan Kefarmasian adalah menyiapkan tenaga apoteker dalam pelayanan kesehatan selama era pandemi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah menyelenggarakan beberapa webinar untuk apoteker.

Sejalan dengan penanganan pandemi, Direktorat Pelayanan Kefarmasian tetap berproses untuk mencapai sasaran kegiatan yang telah

ditetapkan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2020 – 2024.

Keterbatasan anggaran dan metode penyelenggaraan kegiatan tidak menyurutkan upaya pencapaian indikator, justru melahirkan langkah-langkah inovatif dalam mencapainya.

B. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Pengukuran kinerja memberikan gambaran kepada pihak internal dan eksternal tentang pelaksanaan misi organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen Renstra ataupun Penetapan Kinerja, merupakan proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi instansi pemerintah. Indikator merupakan

dokumen perencanaan kinerja yang diukur dalam pengukuran kinerja yaitu dengan membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan standar, rencana, atau target yang telah ditetapkan. Pengukuran kinerja ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Direktorat Pelayanan Kefarmasian.

Dalam rangka menunjang kegiatan peningkatan pelayanan

kefarmasian, maka Direktorat Pelayanan Kefarmasian melakukan berbagai aktivitas/kegiatan yang dapat menunjang pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen Renstra Kementerian Kesehatan Tahun

2020 – 2024. Berikut ini akan diuraikan penjelasan tolak ukur kinerja dari

Direktorat Pelayanan Kefarmasian berdasarkan definisi operasional indikator sasaran kegiatan sebagai berikut:

a. Persentase Rumah Sakit dengan Penggunaan Obat sesuai Fornas

Untuk mendukung upaya pelayanan kesehatan yang bermutu dalam pelaksanaan JKN, penggunaan obat oleh pelayanan kesehatan hendaknya mengacu kepada Formularium Nasional. Selain dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengobatan, penggunaan obat Formularium Nasional juga bertujuan untuk meningkatkan mutu penggunaan obat karena obat dalam Formularium Nasional telah diseleksi berdasarkan pertimbangan manfaat (efikasi), keamanan (safety) berdasarkan bukti ilmiah terkini, dan dengan harga yang terjangkau.

Sebagai bentuk nyata dukungan tersebut, dalam Kegiatan Peningkatan Pelayanan Kefarmasian ditentukan indikator sasaran “Persentase Rumah Sakit dengan Penggunaan Obat sesuai Fornas”. Pengukuran penerapan Fornas sesungguhnya telah dilakukan sejak Pedoman Penerapan Fornas ditetapkan. Akan tetapi belum diketahui seberapa banyak rumah sakit yang telah menggunakan obat sesuai Fornas, sehingga belum ada data sandingan capaian tahun sebelumnya untuk indikator tersebut.

Tujuan

Melalui penggunaan obat yang sesuai dengan Formularium

Nasional diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan

kefarmasian dan penggunaan obat yang rasional serta menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dalam rangka

menunjang keberhasilan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional.

Dengan demikian tujuan pengukuran indikator adalah untuk mengetahui persentase rumah sakit yang telah menggunakan obat sesuai Fornas sebesar ≥ 80%.

Manfaat

1) Bagi Tenaga Kefarmasian

- Membantu pemantauan terapi obat di fasilitas kesehatan;

- Memudahkan tenaga kefarmasiaan dalam proses pengadaan obat.

2) Bagi Rumah Sakit

- Mengoptimalkan pelayanan kesehatan kepada pasien; - Menjadi acuan untuk perencanaan kebutuhan obat; - Meningkatkan efisiensi anggaran pelayanan kesehatan; - Mengendalikan biaya dan mutu pengobatan.

3) Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota/Provinsi

- Turut berkontribusi dalam mendukung program kefarmasian dan alat kesehatan;

- Meningkatkan penggunaan obat rasional pada pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten/kota/provinsi;

- Menetapkan penggunaan obat yang aman, berkhasiat, bermutu, terjangkau, dan berbasis bukti ilmiah dalam JKN;

- Meningkatnya jumlah rumah sakit yang telah melaksanakan kesesuaian obat dalam Fornas sehingga dapat menjadi indikator keberhasilan pembinaan kesesuaian fornas di wilayah setempat.

Definisi Operasional

Rumah sakit menggunakan obat sesuai Fornas adalah rumah sakit yang menggunakan obat sesuai Fornas ≥ 80 %.

Dalam hal ini sasaran indikator adalah rumah sakit yang melayani pasien JKN, dan yang dimaksud dengan obat sesuai Fornas adalah obat yang digunakan dengan mengacu pada Formularium Nasional dan sesuai dengan ketentuan yang tercantum didalamnya.

Dalam perhitungan capaian indikator maka ditetapkan terlebih dahulu persentase kesesuaian Fornas pada rumah sakit yang melaporkan dengan rumus sebagai berikut:

Rumus : Perhitungan % Kesesuaian obat

= Jumlah Item Obat yang sesuai dengan Fornas di FKRTL

Jumlah Item Obat yang tersedia di FKRTL 𝒙 100% = 314

378𝑥100%

= 83,07%

Selanjutnya dilakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut : Rumus : Perhitungan % RS dengan penggunaan obat sesuai Fornas

=

Jumlah rumah sakit dengan persentase kesesuaian 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐹𝑜𝑟𝑛𝑎𝑠 ≥ 80%

Jumlah rumah sakit yang dipantau 𝒙 100% = 143

200𝑥100%

= 71,50% Kondisi yang Dicapai:

Capaian indikator persentase rumah sakit dengan penggunaan obat sesuai Fornas tahun 2020 meningkat setiap triwulannya hingga pada triwulan IV mencapai 71,50%, atau sebesar 102,14% dari target.

pertama Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2020 – 2024 (Gambar 5), menunjukkan upaya Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah berada di jalur yang tepat untuk mencapai target akhir 90% pada tahun 2024.

Gambar 5. Target Persentase Rumah Sakit dengan Penggunaan Obat sesuai Fornas pada Tahun 2020 – 2024

Gambar 6. Grafik Capaian Indikator Persentase Rumah Sakit dengan Penggunaan Obat sesuai Fornas Tahun 2020

Permasalahan:

1. Belum semua rumah sakit menerapkan SIM-RS dalam pengambilan data obat sehingga masih adanya rumah sakit yang terkendala dalam pengiriman laporan.

2. Masih terdapat klinisi/dokter yang belum memahami penerapan penggunaan obat dalam Fornas.

3. Belum semua rumah sakit melaporkan Kesesuaian obat Fornas. Upaya yang Telah Dilakukan:

Telah melakukan sosialisasi mekanisme pelaksanaan kajian implementasi Fornas di rumah sakit melalui pengisian google form penerapan Fornas dalam kegiatan Evaluasi Implementasi Fornas di Rumah Sakit.

Analisis Capaian:

Gambar 7. Perbandingan Persentase Capaian Indikator dan Realisasi Anggaran

Dalam mewujudkan sasaran meningkatnya rumah sakit dengan penggunaan obat sesuai Fornas, Direktorat Pelayanan Kefarmasian mampu memenuhi target indikator, hingga mencapai 102,14% dari target. Sumber daya anggaran yang digunakan untuk mencapai target tersebut adalah 98,04% dari total anggaran yang tersedia.

102.14% 98.04%

Gambar 7. Perbandingan Persentase Capaian Indikator dan Realisasi Anggaran

Pelayanan Kefarmasian telah cukup efektif dan efisien dalam memenuhi target yang ditetapkan.

Kegiatan Pendukung Indikator:

1) Kajian Evaluasi Implementasi Formularium Nasional sebagai Kendali Biaya di Rumah Sakit pada Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2019

Kajian Evaluasi Implementasi Formularium Nasional sebagai Kendali Biaya di Rumah Sakit pada Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2019 dilakukan oleh pihak ketiga terhadap 251 Rumah Sakit, data terbanyak diperoleh dari Rumah Sakit kelas C sejumlah 111 Rumah Sakit atau 44,2%.

Tabel 5. Persentase Penggunaan Obat Fornas di Rumah Sakit per Kelas Rumah Sakit

Kelas RS

Rerata Jumlah Item Obat Sesuai

Fornas (n)

Rerata Jumlah Item Obat (n total) Persentase Kesesuaian dengan Fornas (%) Semua Kelas Rumah Sakit 351 463 75.8% A 466 660 70.6% B 392 515 76.2% C 335 436 76.8% D 213 276 76.8%

Tabel diatas menampilkan, persentase kesesuaian Fornas tertinggi adalah rumah sakit kelas C dan D sebesar 76.8%, sedangkan persentase kesesuaian Fornas terendah pada rumah sakit kelas A sebesar 70.6%. Tabel tersebut juga menggambarkan pola persentase kesesuaian dengan Fornas semakin tinggi kelas rumah sakit maka semakin rendah persentase kesesuaian dengan Fornas.

2) Pengembangan Fornas sebagai Acuan dalam Penggunaan Obat sebagai Kendali Mutu dan Kendali Biaya pada Pelayanan Kesehatan di Era JKN

Untuk menjamin tersedianya obat yang aman, berkhasiat dan bermutu dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan,

maka disusun Formularium Nasional. Sejak pertama diterbitkan pada tahun 2013, Formularium Nasional telah mengalami perkembangan baik dari segi jumlah item obat maupun jumlah sediaan/kekuatan sebagaimana ditampilkan pada gambar 8.

Gambar 8. Perkembangan Formularium Nasional

Dalam upaya pengembangan Formularium Nasional, pelaksanaan peninjauan Formularium Nasional tidak hanya dilakukan dengan pelaksanaan proses revisi Formularium Nasional secara menyeluruh setiap 2 (dua) tahun namun juga dapat dilakukan secara berkala berdasarkan peninjauan Formularium Nasional.

Pada tahun 2020 telah ditetapkan adendum Fornas sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/350/2020 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/813/2019 tentang Formularium Nasional, terkait perubahan restriksi pada obat rituksimab dan peresepan maksimal pada obat mesna.

Dalam upaya untuk menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, juga untuk memberikan ruang perbaikan terhadap isi Formularium Nasional, serta meningkatkan kepraktisan dalam penggunaan dan penyerahan obat kepada pasien yang

fasilitas kesehatan yang ada maka perlu dilakukan revisi Formularium Nasional. Untuk itu pada tahun 2020 telah dimulai persiapan revisi berupa penerimaan usulan melalui aplikasi

e-Fornas sejak 1 Maret – 15 Juni 2020 yang kemudian akan di

lakukan pembahasan dengan melibatkan tim Komnas

Penyusunan Fornas dan instansi terkait pada tahun 2021.

3) Penyusunan Revisi DOEN

Konsep obat esensial merupakan pendekatan yang telah terbukti paling bermanfaat untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Konsep ini diwujudkan dengan penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), yang memilih obat yang paling dibutuhkan dengan mempertimbangkan ratio manfaat terhadap risiko maupun manfaat terhadap biaya.

Proses penyusunan DOEN 2021 telah dilakukan mulai dari permintaan usulan sejak bulan Juni tahun 2020 dan penerimaan usulan sampai dengan tanggal 14 Agustus 2020, dan telah diterima usulan dari 16 instansi/organisasi profesi sebanyak 489 item zat aktif dalam 654 bentuk sediaan/kekuatan, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 6. Rekapitulasi Usulan DOEN

No Nama Instansi

Jumlah Instansi Jumlah Usulan Yang

dikirimkan

Yang

mengirimkan Obat Sediaan

1 Dinas Kesehatan Provinsi 34 - - -

2 Dinas Kesehatan Kab/Kota 504 1 3 6

3 RS Pemerintah 337 2 128 153

4 RS Non Pemerintah 126 1 8 8

5 Perhimpunan/Organisasi 88 10 341 472

6 Instansi Pemerintah 10 2 9 15

Jumlah 1.099 16 489 654

Penyusunan DOEN 2021. Selanjutnya pada tahun 2021, akan dilaksanakan rapat pembahasan hingga finalisasi DOEN 2021.

4) Pendampingan Tenaga Kesehatan dalam Kendali Biaya Obat yang High Cost, High Risk, dan High Volume di Rumah Sakit Vertikal

Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah melakukan upaya peningkatan kapasitas SDM dalam kendali mutu dan kendali biaya obat agar mampu melakukan pengendalian biaya obat untuk

menjamin sustainabilitas pelayanan kesehatan melalui

optimalisasi data pada Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS). Pendampingan tenaga kesehatan ini dilakukan di 6 rumah sakit yaitu:

a. RS Tipe A: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

b. RS Tipe B: RSUD Gambiran, RSUD Gunung Jati, RSUD Provinsi NTB, RS Siloam

c. RS Tipe C: RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo

Hasil dari kegiatan ini adalah pola penggunaan obat yang dinyatakan sebagai drug utilization (DU) 90 % di setiap rumah sakit (Lampiran 7).

5) Workshop Analisis Penggunaan Obat di Rumah Sakit

Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah melakukan upaya peningkatan kapasitas SDM khususnya di bidang farmakoekonomi terutama dalam penyajian dan analisis data penggunaan obat untuk mengetahui pola penggunaan obat dan tren penggunaan obat serta biaya di rumah sakit. Workshop diikuti oleh 39 peserta dari 3 Rumah Sakit Umum Pusat dan Rumah Sakit Umum Daerah di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Lampung serta 1 Rumah Sakit Swasta di wilayah Banten.

Materi yang disampaikan dalam workshop sebagai berikut: a. Kebijakan Penerapan Analisis Farmakoekonomi dalam

c. Pengolahan Data Evaluasi Penggunaan Obat di Rumah Sakit. Sehubungan dengan adanya pandemi Covid-19 workshop yang semula akan dilaksanakan secara tatap muka diubah menjadi pertemuan daring (webinar).

6) Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kendali Mutu dan Kendali Biaya di Rumah Sakit

Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah melakukan upaya penyusunan NSPK di bidang farmakoekonomi dalam rangka efektifitas dan efisien penggunaan obat dan biaya pelayanan kesehatan. Petunjuk Teknis tersebut disusun sesuai dengan Permenkes Nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit dan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS).

Petunjuk teknis ini membahas rincian pelaksanaan pengendalian biaya obat yang merupakan bagian dari upaya kendali mutu dan biaya serta pemenuhan standar akreditasi rumah sakit.

7) Penyusunan Pedoman Penilaian Farmakoekonomi dalam Seleksi Obat

Direktorat Pelayanan Kefarmasian telah melakukan upaya

penyusunan NSPK di bidang farmakoekonomi sebagai acuan

dalam melakukan analisis rasio manfaat biaya obat. Analisis

tersebut diperlukan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan alternatif terbaik dalam proses seleksi obat di era Jaminan Kesehatan Nasional.

Pedoman ini telah disusun dengan merujuk pada pedoman farmakoekonomi di 3 negara yaitu Inggris, Vietnam dan Thailand sebagai benchmark. Pedoman ini dimaksudkan sebagai tools

dalam pengambilan keputusan mulai dari alur penilaian, proses

penilaian aspek farmakoekonomi dalam seleksi obat dan rekomendasi hasil evaluasi.

b. Persentase Fasyankes Yang Melaksanakan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar

Dalam mencapai sasaran meningkatnya pelaksanaan pelayanan kefarmasian sesuai standar, Direktorat Pelayanan Kefarmasian memiliki dua jenis indikator. Pada triwulan I-II, Rencana Strategis

Kementerian Kesehatan 2020 – 2024 belum selesai disusun,

sehingga indikator yang dipantau dalam pencapaian sasaran pada triwulan I-II menggunakan indikator dari RPJMN Tahun 2020 – 2024 yaitu “Jumlah Fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar” dengan target 3000 Fasyankes. Setelah memasuki triwulan III, indikator sasaran yang dipantau dalam pemantauan kinerja berubah berdasarkan Renstra Kementerian Kesehatan 2020 – 2024, yaitu menjadi “Persentase Fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar” dengan target 50%.

Indikator “Persentase Fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar” sesungguhnya bukan indikator yang

benar-benar baru bagi Kegiatan Peningkatan Pelayanan

Kefarmasian. Pada RPJMN dan Renstra periode sebelumnya, pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang sesuai standar telah menjadi indikator yang diukur pada dua tipe fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu Puskesmas dan rumah sakit. Capaian masing-masing pun cukup memuaskan, dimana pada Puskesmas capaiannya sebesar 60,06% dari target 60%, dan pada rumah sakit capaiannya sebesar 65,28% dari target 65%.

Menjawab tantangan perkembangan zaman akan tingginya standar kualitas pelayanan kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan, maka Direktorat Pelayanan Kefarmasian menambahkan kriteria baru bagi Fasyankes yang pelayanan kefarmasiannya disebut sesuai standar yaitu dengan adanya keberadaan apoteker sebagai pelaksana pelayanan kefarmasian. Oleh karena itu capaian pada tahun 2020 tidak dapat dibandingkan dengan capaian periode

Tujuan

Mengetahui jumlah fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) dengan Apoteker (dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian) yang melakukan pengkajian dan pelayanan resep, Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling yang terdokumentasi.

Manfaat

1) Untuk Tenaga Kefarmasian

- Meningkatkan peran tenaga kefarmasian dalam pemberian pelayanan kesehatan di Fasyankes.

- Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kefarmasian di Fasyankes.

2) Untuk Puskesmas dan Rumah Sakit

- Meningkatkan kinerja Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut.

- Meningkatkan daya saing dalam komitmen peningkatan pelayanan kesehatan.

3) Untuk Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota

- Turut berkontribusi dalam mendukung program kefarmasian dan alat kesehatan.

- Meningkatkan jaminan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat provinsi/kabupaten/kota.

- Meningkatnya jumlah Puskesmas dan rumah sakit yang telah melaksanakan pelayanan kefarmasian dapat menjadi indikator keberhasilan pembinaan pelayanan kefarmasian di wilayah setempat.

Perhitungan

I. Indikator RPJMN:

Jumlah Fasyankes yang melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai standar, sebagai berikut:

- Capaian tahun 2020 : 3.010 Fasyankes (data dukung terlampir)

II. Indikator Renstra:

Persentase Fasyankes yang melaksanakan pelayanan

kefarmasian sesuai standar, sebagai berikut: - Target tahun 2020 : 50,00%

- Capaian tahun 2020 : 50,72%

=

Jumlah Fasyankes yang melaksanakan

Dokumen terkait