• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Akuntabilitas Pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana

Sedangkan staf berjumlah 60 orang atau sebesar 81,08 persen yang tersebar dibeberapa seksi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat jabatan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar sudah cukup baik dan proporsional.

B. Akuntabilitas Pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan surat yang dipergunakan untuk mencairkan dana lewat bank ditunjuk setelah Surat Perintah Membayar (SPM) diterima oleh Bendahara Umum Daerah (BUD).Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah spesifik, artinya satu SP2D hanya dibuat untuk satu SPM saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dapat diterbitkan jika; (1) Pengeluaran yang diminta tidak melebihi pagu anggaran yang tersedia; dan (2) Didukung dengan kelengkapan dokumen sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Adapun waktu pelaksanaan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diselenggarakan paling lambat dua hari sejak Surat Perintah Membayar (SPM) diterima, dan jika terjadi penolakan dikembalikan paling lambat satu hari sejak diterimanya Surat Perintah Membayar (SPM).

1. Akuntabilitas Kinerja

Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 108 tahun 2000 telah menyatakan mengenai penyusunan APBD berdasarkan kinerja dan pertanggungjawaban APBD untuk penilaian kinerja berdasarkan tolok ukur renstra. Demikian pula Inpres Nomor 7 tahun 1999 tentang akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, yang mencerminkan adanya

.

kemauan politik pemerintah untuk segera memperbaiki infra struktur sehingga dapat diciptakan pemerintah yang baik.

Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dapat diartikan sebagai perwujudan sebuah kewajiban suatu lembaga atau instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan melalui sistem pertanggungjawaban secara periodik.Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada dasarnya adalah instrumen yang digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi, terdiri dari berbagai komponen yang merupakan satu kesatuan, yaitu perencanaan stratejik, perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, dan pelaporan kinerja.

a. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Aparatur

Pengembangan sumber daya aparatur merupakan strategi pemerintah daerah Kabupaten Takalar untuk mewujudkan aparatur pemerintah yang memiliki kinerja baik. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan salah satu SKPD di Kabupaten Takalar yang memiliki tugas sebagai penyelenggara pemerintahan, pembangunan daerah, dan pelayanan kepada masyarakat, serta melaksanakan pengembangan sumber daya aparatur sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja.Hal tersebut merupakan syarat penting dalam meningkatkan kualitas masing-masing aparatur dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya agar apa yang telah menjadi tujuan awal dari pembangunan dapat berjalan secara optimal.

.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan SPD, terkait peningkatan kualitas sumber daya aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Kami pikir salah satu hal yang sangat penting dalam mencapai sasaran dan tujuan dari program strategis yang telah ditetapkan pada BPKD Kabupaten Takalar ini adalah bagaimana setiap aparatur dapat memiliki kualitas yang mencukupi dalam melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawabnya. Oleh karena itu, mengapa sampai saat ini kami senantiasa melakukan berbagai macam upaya, diantaranya meningkatkan kemampuan teknis pegawai, melakukan pembinaan sampai kepada melakukan monitoring kepada seluruh pegawai terkait tugas-tugasnya”(Hasil Wawancara dengan Bapak SPD, pada tanggal 29 Juni 2015).

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, dapat diketahui bahwa dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar maka setiap aparatur harus mampu meningkatkan kemampuan teknis dalam melaksanakan setiap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya sehingga dengan demikian maka kualitas dari masing-masing aparat akan meningkat.

Selain hal tersebut, ditambahkan oleh informan dalam upaya mewujudkan aparat yang berkualitas di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, maka perlu ada sebuah pembinaan yang dilakukan kepada seluruh aparatur secara rutin dan melakukan kontrol terhadap masing-masing aparatur saat mereka menjalankan tugas dan tanggungjawabnya selaku abdi masyarakat sehingga dalam pelaksanaannya mampu dijalankan secara optimal.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwasanya para aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar dituntut untuk mampu

.

meningkatkan kemampuan atau kualitasnya dengan mengikuti berbagai macam pelatihan-pelatihan yang bersifat teknis. Hal tersebut juga didukung oleh adanya pembinaan yang dilakukan oleh masing-masing bidang yang berada pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar diantaranya Bidang Anggaran dan Bidang Aset Daerah.Hanya saja dalam hal pengawasan atau kontrol pegawai terkait berbagai pelaksanaan tugas dan kewenangannya terkadang tidak berjalan secara rutin sehinggga terkadang terdapat beberapa pegawai yang tidak menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagaimana yang seharusnya.Hal ini ini merupakan salah satu kelemahan yang terdapat pada badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar yang harus segera ditemukan solusinya.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan HNW, terkait peningkatan kualitas sumber daya aparatur adalah sebagai berikut:

“Menurut saya dek, salah satu cara atau metode untuk meningkatkan kemampuan aparat teruama dalam hal-hal teknis pekerjaannya adalah dengan memberikan pelatihan dan pendidikan (Diklat) baik secara internal dalam arti pihak penyelenggaranya adalah Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait maupun secara eksternal dalam arti memberikan kesempatan kepada para apratur untuk mengecap pendidikan di masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan bidang kerjanya”(Hasil wawancara dengan HNW, pada tanggal 29 Juni 2015).

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan kemampuan sumber daya masing-masing aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah dengan cara memberikan pendidikan dan pelatihan (Diklat) baik yang dilakukan oleh pihak Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar yang

.

bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun dengan memberikan kesempatan kepada para aparatur untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebh tinggi (S1 maupun S2) terutama yang sesuai dengan bidang kerjanya.

Berdasarkan penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar merupakan hal yang sangat penting dalam upayanya memudahkan para pegawai untuk melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawabnya. Terdapat beberapa cara atau upaya yang telah dilakukan oleh pimpinan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) diantaranya adalah dengan melakukan pembinaan kepada para pegawai dan melakukan kontrol atau pengawasan secara rutin kepada para pegawai. Meskipun dalam hal kontrol atau pengawasan yang dilakukan masih belum optimal, namun setidaknya upaya-upaya tersebut mampu untuk meminimalkan berbagai tindak penyelewengan dalam pekerjaan yang dilakukan oleh para aparatur. Selain hal tersebut, pemberian kesempatan kepada masing-masing pegawai untuk mengikuti berbagai macam pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang diselenggarakan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar akan membantu para pegawai dalam peningkatan kualitas kerja dan pencapaian hasil kerja yang diinginkan serta memberikan kesempatan untuk melanjutkan pedidikan di tingkat universitas (baik S1 maupun S2) akan berguna dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman para pegawai dalam melaksanakan setiap tugas-tugas yang dilakukannya.

.

b. Pelaporan Kinerja

Pelaporan kinerja merupakan refleksi kewajiban untuk melaporkan kinerja semua aktivitas dan sumber daya yang perlu dipertanggungjawabkan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, terutama dalam hal penyajian hasil sesuai dengan konteksnya dalam arti pelaporan kinerja harus menyajikan faktor kontekstualdari institusi atau program yang akan dilaporkan, termasuk lingkungan dimana organisasi itu beroperasi, faktor krusial keputusan yang dibuat, arah kebijakan, sasaran-sasaran, strategi pelaksanaan, dan hasil yang telah dicapai. Kapasitas organisasi dan resiko yang dihadapi sangat penting di kaji di awal penulisan laporan.Selain itu, sifat dan karakter produk juga sangat mempengaruhi kemampuan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar untuk mencapai tujuannya. Pelaporan kinerja bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang bersifat masa lampau, tetapi juga harus mengandung dimensi masa depan sehingga setiap program yang dilaksanakan akan dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan HRD, terkait pelaporan kinerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Perlu diketahui bahwa dalam pelaporan kinerja masing-masing SKPD di Kabupaten Takalar harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dan terutama harus mengacu pada KEPMENPAN Nomor 53 tahun 2014. Khusus untuk Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar harus sesuai dengan format pelaporan yang telah ada yaitu dalam pelaporan kinerja tersebut harus terdapat uraian singkat mengenai keadaan atau kondisi organisasi saat ini, harus melaporkan rencana dan target kinerja, sampai kepada penjelasan mengenai hasil evaluasi dan analisis kinerja”(Hasil wawancara dengan HRD, pada tanggal 30 Juni 2015).

.

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, maka dapat diketahui bahwa pelaporan kinerja yang disusun harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Ditambahkan oleh informan bahwa pelaporan kinerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar paling tidak harus melampirkan uraian singkat mengenai keadaan atau kondisi organisasi saat ini, harus melaporkan rencana dan target kinerja, sampai kepada penjelasan mengenai hasil evaluasi dan analisis kinerja.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwa laporan kinerja instansi pemerintah khususnya pada lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar harus sesuai dengan standar pelaporan yang telah ditetapkan berdasarkan aturan yang ada dan sesuai dengan petunjuk teknis pelaporan yang tertuang dalam KEPMENPAN Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Hanya saja dalam pembuatan laporan dan hasil pelaporan peneliti menemukan beberapa hal yang kurang transparan seperti rencana awal program yang telah disepakati dan seberapa jauh target tersebut tercapai, selain itu apakah analisis kinerja aparatur dilakukan secara obyektif dengan berdasarkan kepada hasil evaluasi kinerja yang telah dilakukan.

.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan AMR, terkait pelaporan kinerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Yang perlu diketahui dalam pelaporan kinerja khusunya pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah mengenai format pelaporan yang sesuai dengan standar pelaporan instansi pemerintah dan yang terpenting adalah apakah aparat yang ditunjuk dalam pembuatan laporan memahami tugasnya, seberapa jauh pemahamannya dan kualitas pelaporan yang dibuat berdasarkan pada hasil evaluasi kinerja dan memuat informasi tentang tujuan pelaporan kinerja dankomitmen-komitmennya pada pencapaian hasil secara baik dan benar” (Hasil wawancara dengan AMR, pada tanggal 30 Juni 2015).

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam pelaporan kinerja di lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai format baku pelaporan yang sesuai dengan standar pelaporan instansi pemerintah dan apakah aparat yang ditunjuk dalam pembuatan laporan memiliki tingkat pemahaman yang cukup, seberapa jauh pemahaman aparat tersebut dalam pembuatan laporan serta kualitas laporan yang dibuat berdasarkan pada hasil evaluasi kinerja yang memuat informasi berisi tujuan dan komitmen pada pencapaian hasil dengan baik sehingga laporan yang dibuat khususnya terkait dengan hal pelaporan pencairan dana akan dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan uraian penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pelaporan kinerja aparat instansi pemerintah khususnya pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) di Kabupaten Takalar terdapat dua poin yang harus menjadi acuan dalam menghasilkan laporan yang berkualitas, baik dan benar yaitu: (1) Pemahaman aparat yang membuat laporan

.

kinerja yang dapat dilihat dari standar pelaporan kinerja berdasarkan pada hasil evaluasi kinerja yang memuat informasi tentang tujuan pelaporan kinerja dan komitmen-komitmennya; dan (2) Hasil analisis kinerja harus bersifat objektif dan transparan yang dimasukkan dalam hasil pelaporan kinerja. Sehingga dengan demikian, maka laporan kinerja berdasarkan aturan dan format yang telah ditetapkan baik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun KEPMENPAN dan RB Nomor Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dapat tercapai.

2. Akuntabilitas Biaya

Produktivitas suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh faktor akuntabilitas biaya.Akuntabilitas biaya merupakan komponen utama dalam rangka pencapaian tujuan organisasi publik khususnya pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar.Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang bersifat operasional, maka akuntabilitas biaya merupakan hal terpenting yang mendukung pelaksanaan untuk dapat berjalan dengan efektif dan efisien.Akuntabilitas biaya merupakan persyaratan pelayanan yang dipungut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan dalam hal layanan yang diberikan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar.Selain hal tersebut jumlah biaya tidak sampai memberatkan masyarakat (pihak ketiga/rekanan) yang membutuhkan pelayanan terutama dalam kaitannya dengan penerbitan Surat perintah Pencairan Dana (SP2D).

.

a. Biaya Operasional

Biaya operasional dapat diartikan sebagai pengeluaran yang berhubungan dengan operasi,yaitu semua pengeluaran yang langsung digunakan untuk kegiatan-kegiatan program di lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar baik berupa pembelianbarang termasuk biaya umum, biaya administrasi, danhal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan berbagai kegiatan.Biaya operasional merupakan salah satu pendukung pelaksanaan berbagai tugas-tugas aparat pemerintah khususnya di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar agar program-program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan BKR, terkait biaya operasional pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Jadi begini dek, harus diketahui bahwasanya biaya operasional pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar ini merupakan salah satu bagian terpenting demi kelangsungan kegiatan operasi yang dilakukan agar instansi dapat mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien. Misalnya, dalam hal pengawasan pengadaan perlengkapan dan peralatan kantor yang harus dilakukan dengan tepat agar tidak terjadi pemborosan seperti pembelian yang berlebihan” (Hasil wawancara dengan BKR, pada tanggal 1 Juli 2015).

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraiakan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa biaya operasional pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah untuk menunjang kegiatan-kegiatan dari berbagai program yang ada. Selain hal tersebut, Biaya operasional merupakan salah satu bagian terpenting dalam kelangsungan kegiatan operasi yagn dilakukan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar sehingga

.

mampu untuk mengelola sumber daya yang telah ada secara efektif dan efisien serta mencegah terjadinya pemborosan anggaran. Salah satu contoh sebagaimana yang diungkapkan oleh informan adalah dalam hal pengadaan perlengkapan dan peralatan kantor yang harus dilakukan secara tepat agar tidak terjadi pemborosan seperti pembelian yang berlebihan.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwa biaya operasional yang dianggarkan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar bertujuan untuk membantu berbagai macam kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis serta untuk memudahkan pegawai selama melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

Hanya saja peneliti menemukan bahwa terkadang biaya operasional yang dikeluarkan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar kurang sesuai dengan keperluan yang diinginkan dalam hal ini tidak proporsional sehingga terkadang terkesan berlebihan. Sebagai salah satu contoh adalah pembelian peralatan kantor yang tidak sesuai dengan manfaat atau kegunaan dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas instansi.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan SYH, terkait biaya operasional pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Saya kira hal-hal seperti pembelian perlengkapan dan peralatan kantor merupakan hal yang seharusnya dilakukan dengan catatan tidak melebihi biaya operasional yang tersedia. Bahkan senantiasa kami selalu dihimbau untuk tidak melakukan pemborosan dalam biaya operasional mengingat masih banyaknya hal-hal yang lebih perlu diperadakan dalam menunjang kegiatan-kegiatan pelaksanaan tugas-tugas pada instansi ini” (Hasil wawancara dengan SYH, pada tanggal 1 Juli 2015).

.

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa biaya operasional diperlukan dalam membantu setiap tugas-tugas pegawai dilingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar baik biaya oprasional yang digunakan untuk pembelian perlengkapan dan peralatan kantor maupun untuk hal-hal penunjang kegiatan lainnya yang dianggap perlu.

Hanya saja informan menambahkan bahwa penggunaan biaya operasional tersebut tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang berlebih atau tidak sesuai dengan anggaran operasional yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa biaya operasional yang ada pada lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar digunakan untuk membeli perlengkapan dan peralatan kantor dengan tujuan agar memudahkan setiap pegawai pada bidangnya masing-masing untuk dapat bekerja secara optimal dan efektif dan harus dapat dipertanggungjawabkan secara jujur, obyektif dan terbuka baik kepada pimpinan maupun kepada masyarakat. Hanya saja yang perlu menjadi catatan adalah penggunaan biaya operasional pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar harus tetap mendapat kontrol dari pemerintah Kabupaten Takalar serta masyarakat agar tindakan-tindakan penyelewengan anggaran biaya dan pembelian secara berlebih (pemborosan anggaran) dapat diminimalisir, sehingga dapat dipergunakan untuk program-program kegiatan lain yang telah direncanakan sebelumnya.

.

b. Biaya Pelayanan

Biaya pelayanan dapat diartikan sebagai segala bentuk biaya(dengan nama atau sebutan apapun) sebagai imbal jasa atas pemberian pelayanan publik yang besaran dan tata cara pembayaran ditetapkan oleh pejabat yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal biaya pelayanan yang dikenakan oleh salah satu instansi/lembaga pemerintah khususnya pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, maka masyarakat memiliki hak untuk melakukan pengaduan yang terkait dengan penyimpangan biaya pelayanan publik dan untuk kemudiannya ditangani oleh petugas/pejabat yang ditunjuk berdasarkan surat keputusan/surat penugasan dari pejabat yang berwenang.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan ARA, terkait biaya pelayanan publik pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Jadi biaya pelayanan yang dipungut oleh sebuah instansi pemerintah khususnya di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar paling tidak harus merupakan hasil kesepakatan antara penyaji layanan dengan penerima layanan dan harus transparan kepada siapapun.

Yang menjadi masalah terkadang biaya pelayanan kurang memberikan kepastian dan keterjangkauan mengenai biaya/tarif pelayanan, kurang konkrit dan apakah sudah disampaikan kepada masyarakat dan dalam bentuk yang seperti apa” (Hasil wawancara dengan ARA, pada tanggal 2 Juli 2015).

Berdasarkan uraian penjelasan dari informan di atas, maka dapat diketahui bahwasanya biaya pelayanan yang dipungut oleh salah satu instansi/lembaga pemerintah daerah paling tidak harus merupakan sebuah kesepakatan antara penyaji dan penerima layanan. Demikian halnya biaya pelayanan dalam proses

.

pengeluaran Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar paling tidak berdasarkan pada aturan yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Ditambahkan oleh informan bahwa dalam penetapan biaya pelayanan yang terkadang menjadi masalah adalah biaya pelayanan kurang mampu memberikan kepastian dan keterjangkauan mengenai biaya/tarif pelayanan, kurang konkrit dan apakah sudah disampaikan kepada masyarakat dan dalam bentuk yang seperti apa.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwa biaya pelayanan yang diberikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar terkadang cenderung tidak transparan terutama dalam hal penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) kepada pihak ketiga/rekanan. Selain hal tersebut, peneliti juga menemukan bahwa dalam langkah-langkah teknis penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) terkadang surat perintah membayar-uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan/belanja langsung (SPM-UP/GU/TU/LS) tidak diterima oleh pihak ketiga dengan berbagai alasan yang kurang jelas.

Berdasarkan pada beberapa temuan tersebut, maka hal ini dapat membawa image yang negatif bagi penyelenggara pelayanan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar kedepannya. Dan tidak kalah pentingnya adalah pertanggungjawaban dalam pelaporan terkait biaya pelayanan yang dikenakan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan APD, terkait terkait biaya pelayanan publik pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Terkadang dalam penerbitan dan penyerahan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), terkadang kami memberikan insentif/tip secara sukarela sebagai bentuk terima kasih telah membantu dalam melakukan pengurusan ini.Dan saya kira itu tidak masalah selama mereka juga memberikan hasil yang baik dan tepat waktu” (Hasil wawancara dengan APD, pada tanggal 2 Juli 2015).

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa

Dokumen terkait