• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Dalam memberikan keseragaman pengertian mengenai objek penelitian, berikut ini diuraikan beberapa deskripsi fokus:

1. Akuntabilitas pelayanan surat perintah pencairan dana (SP2D) merupakan keawjiban-kewajiban dari aparat pemerintah daerah Kabupaten Takalar yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dalam hal ini terkait pencairan dana dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawabannya.

2. Akuntabilitas Kinerja dapat dilihat berdasarkan proses yang antara lain meliputi; akurasi, kelengkapan sarana dan prasarana dan kejelasan aturan dalam hal ini aturan yang terdapat dalam Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

3. Akuntabilitas Biaya adalah persyaratan pelayanan yang dipungut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan dalam hal layanan yang diberikan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah kabupaten Takalar.

4. Akuntabilitas Produk adalah persyaratan teknis dan administratif yang harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan dari segi kualitas dan keabsahan produk pelayanan dalam hal ini pelayanan yang diberikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

5. Konsumen layanan adalah pihak yang terkait dengan penyajian pelayanan yang diberikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

6. Pengawasan pimpinan penyaji layanan adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pengawasan pelayanan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

7. Penyaji layanan adalah pihak-pihak yang terlibat langsung dalam melakukan pelayanan kepada konsumen layanan.

8. Transparansi pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah kewajiban-kewajiban setiap aparat pemerintah daerah khususnya pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar untuk memberikan pelayanan terbuka kepada konsumen layanan.

36

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini direncanakan berlangsung dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 06 Agustus 2015. Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar sebagai salah satu unsur birokrasi pemerintah di tingkat Kabupaten yang secara fungsional bertanggungjawab terhadap pengelolaan anggaran/dana terkait Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang mendeskripsikan tentang ruang lingkup dan proses pelaksanaan Akuntabilitas Pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

2. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah tipe fenomenologi dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang pernah dialami oleh informan.

C. Sumber Data

Sumber data penelitian ini terutama dijaring dari sumber data primer dan data sekunder sesuai dengan tujuan penelitian ini.

Data primer adalah sumber data utama yang digunakan untuk menjaring berbagai data dan informasi yang terkait dengan fokus yang dikaji. Hal ini dilakukan melalui metode wawancara dan observasi dilapangan. Jenis data yang ingin diperoleh adalah mengenai Akuntabilitas Pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Takalar.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data pendukung yang diperlukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian dengan kebutuhan data dilapangan yang terkait dengan objek yang dikaji, Data sekunder ini diperoleh melalui Dokumentasi.

Adapun informan yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dilihat pada 4 Hisnawati, SE 36 Bendahara Pengeluaran 5 Bakri, S.Sos, M.AP 39 Staf Bidang Anggaran 6 Yulianti Mochtar, S.Sos 28 Staf Bidang Anggaran 7 Sukirman, SE 25 Staf Bidang Aset Daerah 8 Syahid, S.Sos 26 Staf Bidang Aset Daerah

9 Aripuddin 40 Pihak ketiga/rekanan

10 Mahmud 38 Pihak ketiga/rekanan

11 Muh. Taqwan 35 Pihak ketiga/rekanan 12 ArmanArif, SE 40 Staf Humas Kab. Takalar 13 Safaruddin 48 Pihak ketiga/rekanan

14 H. Sakir 50 Kontraktor

15 Saharuddin 47 Pihak ketiga/rekanan E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.Percakapan tersebut dilakukan dengan dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interview). Wawancara dalam penelitian kualitatif bersifat mendalam (indept interview).

Observasi merupakan kegiatan pengamatan fenomena yang secara langsung berhubungan dengan sasaran yang diamati dan hanya membatasi pada persoalan yang ditanyakan. Dengan adanya observasi langsung diharapkan akan lebih melengkapi teknik wawancara yang diperkirakan sulit untuk dipertanyakan serta untuk memperkuat dan membenarkan data yang terkumpul melalui teknik wawancara.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan setiap bahan tertulis yang dibutuhkan atau film untuk penelitian, pengujian suatu peristiwa (record) maupun yang tidak dipersiapkan untuk itu.

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif, kegiatan analisis data dimulai sejak peneliti melakukan kegiatan pra lapangan sampai dengan selesainya penelitian. Analisis data dilakukan secara terus menerus tanpa henti sampai data tersebut bersifat jenuh. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012:91-99), dalam prosesnya analisis data dalam penelitian menggunakan model interaktif yang dapat dilihat sebagai berikut:

1. Reduksi Data (data reduction)

Untuk memperjelas data yang didapatkan dan mempermudah peneliti dalam pengumpulan data selanjutnya, maka dilakukan reduksi data.Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dantransformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan

pengumpulan data masih berlangsung. Pada tahap ini juga akan berlangsung kegiatan pengkodean, meringkas dan membuat partisi (bagian-bagian). Proses transformasi berlanjut terus sampai laporan akhir penelitian tersusun lengkap.

2. Penyajian Data (data display)

Langkah penting selanjutnya dalam kegiatan analisis data kualitatif adalah penyajian data. Secara sederhana penyajian data dapat diartikan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam sebuah penelitian kualitatif penyajian data dapatdilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan anta rkategori, flowchart dan sejenisnya.

3. Penarikan kesimpulan/verifikasi (conclusion drawing/verification)

Dari permulaan pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti dari hubungan-hubungan, mencatat keteraturan, pola-pola dan menarik kesimpulan. Asumsi dasar dari kesimpulan awal yang dikemukakan di muka masih bersifat sementara, dan akan terus berubah selama proses pengumpulan data masih berlangsung. Akan tetapi, apabila kesimpulan tersebut didukung oleh bukti-bukti (data) yang valid dan konsisten yang peneliti temukan dilapangan, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Keabsahan Data

Keabsahan data penelitian dapat dilakukan melalui teknik triangulasi.

Menurut Sugiyono (2012:125) Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari

Sugiyono (2012:127) membagi triangulasi kedalam tiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Dalam hal ini peneliti melakukan triangulasi sumber dengan cara mengecek data yang sudah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh melalui hasil wawancara ,observasi, dan dokumentasi, kemudian peneliti membandingkan hasil observasi dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumentasi.

2. Triangulasi Teknik

Dalam hal ini peneliti melakukan triangulasi teknik dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda.

Kemudian data yang diperoleh melalui hasil wawancara, lalu dicek dengan hasil observasi dan dokumen. Apabila ketiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti disini melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

3. Triangulasi Waktu

Terkadang waktu juga sangat mempengaruhi kredibilitas data. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dapat dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat ditemukan kepastian datanya.

42 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Pegawai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar

Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar merupakan salah satu lembaga teknis daerah di Kabupaten Takalar berbentuk badan, dan merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah dalam bidang pengelolaan keuangan dan asset daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Pegawai yang bertugas pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar berjumlah 74 orang yang tersebar di beberapa bidang kerja serta memiliki tingkat jabatan yang berbeda-beda sesuai dengan eselon dan golongan masing-masing pegawai.

Adapun keadaan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar berdasarkan tingkat eselon dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkat Eselon

No Tingkat Eselon Jumlah

(orang)

Berdasarkan penjelasan dari uraian tabel 2 di atas, dapat diketahui bahwa pegawai dengan tingkat eselon II berjumlah 1 orang atau sebesar 1,35 persen dari

.

keseluruhan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar. Sedangkan untuk pegawai dengan tingkat eselon III berjumlah 4 orang atau sebesar 5,40 persen dan pegawai yang memiliki tingkat eselon IV berjumlah 9 orang atau sebesar 12,16 persen. Adapun pegawai yang tidak memiliki eselon (non eselon) berjumlah 60 orang atau sebesar 81,09 persen.

Lebih lanjut penjelasan mengenai keadaan pegawai berdasarkan tingkat golongan kepangkatan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, dapat kita lihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Golongan Pangkat

No Golongan Kepangkatan Jumlah

(orang)

Sumber data: BPKD Kabupaten Takalar Tahun 2015

Berdasarkan penjelasan dari uraian tabel 3 di atas, maka dapat diketahui bahwa pegawai dengan golongan IV yang bekerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar berjumlah 5 orang atau sebesar 6,75 persen, sedangkan pegawai dengan golongan III berjumlah 54 orang atau sebesar 72,97 persen. Adapun pegawai dengan golongan II berjumlah 13 orang atau sebesar 17,57 persen dan pegawai dengan golongan pangkat I berjumlah 2 orang atau sebesar 2,71 persen. Dengan demikian, maka pegawai dengan golongan pangkat paling banyak berada pada golongan III dengan jumlah 54 orang atau sebesar 72,97 persen sedangkan pegawai dengan golongan pangkat terkecil adalah golongan I dengan jumlah 2 orang atau sebesar 2,71 persen.

.

Adapun keadaan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah

(orang)

Sumber data: BPKD Kabupaten Takalar Tahun 2015

Berdasarkan penjelasan dari tabel 4 di atas, maka dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar bervariasi. Adapun pegawai dengan tingkat pendidikan Strata Dua (S2) berjumlah 7 orang atau sebesar 9,45 persen, sedangkan pegawai dengan tingkat pendidikan Strata Satu (S1) berjumlah 45 orang atau sebesar 60,82 persen.

Pegawai dengan tingkat pendidikan Diploma Tiga (D3) berjumlah 4 orang atau sebesar 5,42 persen dan pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) berjumlah 13 orang atau sebesar 17,56 persen serta pegawai yang memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 5 orang atau sebesar 6,75 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar sudah cukup baik, dimana pegawai yang memiliki tingkat pendidikan paling banyak adalah pegawai dengan tingkat pendidikan Strata Satu (S1) dan yang terkecil adalah Diploma tiga (D3).

.

Lebih lanjut keadaan pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar berdasarkan tingkatan jabatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkat Jabatan

No Tingkat Jabatan Jumlah

(orang)

Sumber data: BPKD Kabupaten Takalar Tahun 2015

Berdasarkan uraian penjelasan dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa keadaan pegawai berdasarkan tingkat jabatan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar terdiri dari Kepala BPKD berjumlah 1 orang atau sebesar 1,36 persen, Sekretaris BPKD berjumlah 1 orang atau sebesar 1,36 persen. Untuk jabatan Kepala Sub Bagian (Kasubag) berjumlah 3 orang atau sebesar 4,05 persen yang terdiri atas Kasubag Umum dan Kepegawaian, Kasubag Keuangan , dan Kasubag Program. Adapun Kepala Bidang (Kabid) berjumlah 3 orang atau sebesar 4,05 persen yang masing-masing terdiri dari Kabid Anggaran, Kabid Akuntansi dan Belanja, dan Kabid Pengelolaan Aset Daerah. Adapun pegawai dengan tingkat jabatan Kepala Seksi (Kasi) berjumlah 6 orang atau sebesar 8,10 persen yang terbagi ke dalam beberapa seksi yaitu Kasi Penyusunan dan Pengendalian APBD, Kasi Otorisasi Dokumen Anggaran, Kasi Akuntansi dan Pelaporan, Kasi Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung, Kasi Analisa Kebutuhan dan inventaris Barang, dan Kasi Pemanfaatan dan Pelaporan Barang.

.

Sedangkan staf berjumlah 60 orang atau sebesar 81,08 persen yang tersebar dibeberapa seksi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat jabatan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar sudah cukup baik dan proporsional.

B. Akuntabilitas Pelayanan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) merupakan surat yang dipergunakan untuk mencairkan dana lewat bank ditunjuk setelah Surat Perintah Membayar (SPM) diterima oleh Bendahara Umum Daerah (BUD).Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah spesifik, artinya satu SP2D hanya dibuat untuk satu SPM saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dapat diterbitkan jika; (1) Pengeluaran yang diminta tidak melebihi pagu anggaran yang tersedia; dan (2) Didukung dengan kelengkapan dokumen sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Adapun waktu pelaksanaan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) diselenggarakan paling lambat dua hari sejak Surat Perintah Membayar (SPM) diterima, dan jika terjadi penolakan dikembalikan paling lambat satu hari sejak diterimanya Surat Perintah Membayar (SPM).

1. Akuntabilitas Kinerja

Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 108 tahun 2000 telah menyatakan mengenai penyusunan APBD berdasarkan kinerja dan pertanggungjawaban APBD untuk penilaian kinerja berdasarkan tolok ukur renstra. Demikian pula Inpres Nomor 7 tahun 1999 tentang akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, yang mencerminkan adanya

.

kemauan politik pemerintah untuk segera memperbaiki infra struktur sehingga dapat diciptakan pemerintah yang baik.

Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dapat diartikan sebagai perwujudan sebuah kewajiban suatu lembaga atau instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan melalui sistem pertanggungjawaban secara periodik.Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada dasarnya adalah instrumen yang digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi, terdiri dari berbagai komponen yang merupakan satu kesatuan, yaitu perencanaan stratejik, perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, dan pelaporan kinerja.

a. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Aparatur

Pengembangan sumber daya aparatur merupakan strategi pemerintah daerah Kabupaten Takalar untuk mewujudkan aparatur pemerintah yang memiliki kinerja baik. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan salah satu SKPD di Kabupaten Takalar yang memiliki tugas sebagai penyelenggara pemerintahan, pembangunan daerah, dan pelayanan kepada masyarakat, serta melaksanakan pengembangan sumber daya aparatur sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja.Hal tersebut merupakan syarat penting dalam meningkatkan kualitas masing-masing aparatur dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya agar apa yang telah menjadi tujuan awal dari pembangunan dapat berjalan secara optimal.

.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan SPD, terkait peningkatan kualitas sumber daya aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Kami pikir salah satu hal yang sangat penting dalam mencapai sasaran dan tujuan dari program strategis yang telah ditetapkan pada BPKD Kabupaten Takalar ini adalah bagaimana setiap aparatur dapat memiliki kualitas yang mencukupi dalam melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawabnya. Oleh karena itu, mengapa sampai saat ini kami senantiasa melakukan berbagai macam upaya, diantaranya meningkatkan kemampuan teknis pegawai, melakukan pembinaan sampai kepada melakukan monitoring kepada seluruh pegawai terkait tugas-tugasnya”(Hasil Wawancara dengan Bapak SPD, pada tanggal 29 Juni 2015).

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, dapat diketahui bahwa dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar maka setiap aparatur harus mampu meningkatkan kemampuan teknis dalam melaksanakan setiap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya sehingga dengan demikian maka kualitas dari masing-masing aparat akan meningkat.

Selain hal tersebut, ditambahkan oleh informan dalam upaya mewujudkan aparat yang berkualitas di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, maka perlu ada sebuah pembinaan yang dilakukan kepada seluruh aparatur secara rutin dan melakukan kontrol terhadap masing-masing aparatur saat mereka menjalankan tugas dan tanggungjawabnya selaku abdi masyarakat sehingga dalam pelaksanaannya mampu dijalankan secara optimal.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwasanya para aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar dituntut untuk mampu

.

meningkatkan kemampuan atau kualitasnya dengan mengikuti berbagai macam pelatihan-pelatihan yang bersifat teknis. Hal tersebut juga didukung oleh adanya pembinaan yang dilakukan oleh masing-masing bidang yang berada pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar diantaranya Bidang Anggaran dan Bidang Aset Daerah.Hanya saja dalam hal pengawasan atau kontrol pegawai terkait berbagai pelaksanaan tugas dan kewenangannya terkadang tidak berjalan secara rutin sehinggga terkadang terdapat beberapa pegawai yang tidak menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagaimana yang seharusnya.Hal ini ini merupakan salah satu kelemahan yang terdapat pada badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar yang harus segera ditemukan solusinya.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan HNW, terkait peningkatan kualitas sumber daya aparatur adalah sebagai berikut:

“Menurut saya dek, salah satu cara atau metode untuk meningkatkan kemampuan aparat teruama dalam hal-hal teknis pekerjaannya adalah dengan memberikan pelatihan dan pendidikan (Diklat) baik secara internal dalam arti pihak penyelenggaranya adalah Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait maupun secara eksternal dalam arti memberikan kesempatan kepada para apratur untuk mengecap pendidikan di masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan bidang kerjanya”(Hasil wawancara dengan HNW, pada tanggal 29 Juni 2015).

Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan kemampuan sumber daya masing-masing aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah dengan cara memberikan pendidikan dan pelatihan (Diklat) baik yang dilakukan oleh pihak Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar yang

.

bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun dengan memberikan kesempatan kepada para aparatur untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebh tinggi (S1 maupun S2) terutama yang sesuai dengan bidang kerjanya.

Berdasarkan penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya aparatur pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar merupakan hal yang sangat penting dalam upayanya memudahkan para pegawai untuk melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawabnya. Terdapat beberapa cara atau upaya yang telah dilakukan oleh pimpinan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) diantaranya adalah dengan melakukan pembinaan kepada para pegawai dan melakukan kontrol atau pengawasan secara rutin kepada para pegawai. Meskipun dalam hal kontrol atau pengawasan yang dilakukan masih belum optimal, namun setidaknya upaya-upaya tersebut mampu untuk meminimalkan berbagai tindak penyelewengan dalam pekerjaan yang dilakukan oleh para aparatur. Selain hal tersebut, pemberian kesempatan kepada masing-masing pegawai untuk mengikuti berbagai macam pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang diselenggarakan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar akan membantu para pegawai dalam peningkatan kualitas kerja dan pencapaian hasil kerja yang diinginkan serta memberikan kesempatan untuk melanjutkan pedidikan di tingkat universitas (baik S1 maupun S2) akan berguna dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman para pegawai dalam melaksanakan setiap tugas-tugas yang dilakukannya.

.

b. Pelaporan Kinerja

Pelaporan kinerja merupakan refleksi kewajiban untuk melaporkan kinerja semua aktivitas dan sumber daya yang perlu dipertanggungjawabkan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar, terutama dalam hal penyajian hasil sesuai dengan konteksnya dalam arti pelaporan kinerja harus menyajikan faktor kontekstualdari institusi atau program yang akan dilaporkan, termasuk lingkungan dimana organisasi itu beroperasi, faktor krusial keputusan yang dibuat, arah kebijakan, sasaran-sasaran, strategi pelaksanaan, dan hasil yang telah dicapai. Kapasitas organisasi dan resiko yang dihadapi sangat penting di kaji di awal penulisan laporan.Selain itu, sifat dan karakter produk juga sangat mempengaruhi kemampuan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar untuk mencapai tujuannya. Pelaporan kinerja bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang bersifat masa lampau, tetapi juga harus mengandung dimensi masa depan sehingga setiap program yang dilaksanakan akan dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan HRD, terkait pelaporan kinerja pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut:

“Perlu diketahui bahwa dalam pelaporan kinerja masing-masing SKPD di Kabupaten Takalar harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dan terutama harus mengacu pada KEPMENPAN Nomor 53 tahun 2014. Khusus untuk Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Takalar harus sesuai dengan format pelaporan yang telah ada yaitu dalam pelaporan kinerja tersebut harus terdapat uraian singkat mengenai keadaan atau kondisi organisasi saat ini, harus melaporkan rencana dan target kinerja, sampai kepada penjelasan mengenai hasil evaluasi dan analisis kinerja”(Hasil wawancara dengan HRD, pada tanggal 30 Juni 2015).

.

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, maka dapat diketahui bahwa pelaporan kinerja yang disusun harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, maka dapat diketahui bahwa pelaporan kinerja yang disusun harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan baik oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar maupun Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja

Dokumen terkait