BAB II HASIL PENGAWASAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN
D. Akuntabilitas Pengelolaan Program Lintas Sektoral
Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau memprioritaskan pengawasan terhadap program strategis yang menekankan pada audit efisiensi, keekonomisan dan keefektifan pelaksanaan program/kegiatan. Selama tahun 2014, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan pengawasan atas beberapa kegiatan yang mendukung program penanggulangan kemiskinan, antara lain pengawasan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dan Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang bertujuan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan usaha ekonomi masyarakat. Selain itu Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau juga melakukan monitoring Program Prioritas Pembangunan Nasional, evaluasi Lakip dan evaluasi Program Raskin.
Hasil pengawasan menunjukan kinerja kedua program tersebut diatas berada dalam level cukup memadai. Sedangkan hasil monitoring Program Prioritas Pembangunan Nasional menunjukan Puskesmas dan Rumah Sakit belum siap melaksanakan program BPJS. Pelaksanaan program Raskin di nilai cukup berhasil dalam memfasilitasi upaya pemerintah dalam mengurangi beban masyarakat (RTS-PM) dalam memenuhi kebutuhan pokok pangan.
Terhadap permasalahan program bantuan sosial dan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah mengevaluasi terhadap program-program tersebut, dimana masih terdapat beberapa kelemahan dalam pelaksanaan Program yang harus diperbaiki.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 1 BAB I
INFORMASI UMUM
A. Kebijakan Pengawasan dan Pembinaan
Kebijakan pengawasan dan pembinaan BPKP dalam rangka peningkatan kualitas akuntabilitas keuangan negara tahun 2014 secara umum mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang mencakup:
a. Pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara terhadap kegiatan tertentu yang meliputi kegiatan yang bersifat lintas sektoral, kegiatan kebendaharaan umum negara (berdasarkan penetapan oleh menteri keuangan selaku bendahara umum negara), serta kegiatan lain berdasarkan penugasan dari presiden;
b. Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang berupa pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan untuk instansi vertikal;
c. Pembinaan penyelenggaraan SPIP yang meliputi penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP, sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, pembimbingan dan konsultasi, serta peningkatan kompetensi Auditor Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
Untuk dapat memberikan nilai tambah pada setiap kegiatan pengawasan, penyusunan kebijakan pengawasan dan pembinaan juga memperhatikan amanah yang diberikan kepada BPKP dan peraturan perundang-undangan yang harus dilaksanakan oleh BPKP, yaitu sebagai berikut:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;
b. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pedoman Pemberantasan Korupsi;
c. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Kualitas Akuntabilitas Keuangan Negara;
d. Inpres Nomor 17 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012 dan terakhir Inpres Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2014.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 2 Secara khusus menindaklanjuti arahan presiden dan wakil presiden, BPKP melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara konsisten untuk:
a. Berperan dan berfungsi sebagai lembaga auditor internal pemerintah yang efektif;
b. Bekerja sama dan meningkatkan kerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas akuntabilitas pengelolaan keuangan negara pada K/L dan pemda;
c. Bersinergi, berkoordinasi, serta melakukan sinkronisasi dengan BPK dan lembaga internal pada instansi pemerintah lainnya;
d. Memberikan perhatian khusus terhadap pengawasan pengadaan barang dan jasa, terutama pada K/L dan pemda yang anggarannya besar karena rawan penyimpangan;
e. Memberikan pendampingan terkait pengelolaan keuangan daerah karena banyaknya pejabat/pengelola keuangan daerah yang belum memahami administrasi pengelolaan keuangan daerah;
f. Membantu K/L dan pemda yang masih memperoleh opini disclaimer agar dapat meningkatkan kualitas opininya menjadi lebih baik;
g. Melaksanakan Quality Assurance reformasi birokrasi dimana Kepala BPKP ditunjuk sebagai Ketua Quality Assurance Tim Reformasi Birokrasi Nasional; h. Melaksanakan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan pembangunan yang
dilakukan bersama dengan UKP-PPP dan Bappenas secara komprehensif dan terpadu.
B. Program Kerja Pengawasan dan Pembinaan
Berdasarkan kebijakan pengawasan dan pembinaan BPKP Tahun 2014 disusun Program Kerja Pengawasan dan Pembinaan Tahunan (PKP2T) Tahun 2014. PKP2T berisi berbagai jenis penugasan pengawasan terhadap akuntabilitas keuangan negara dan pembinaan penyelenggaran SPIP pada instansi pemerintah. Target dan realisasi kegiatan pengawasan tahun 2014 dapat dilihat di Tabel 1 dibawah ini.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 3 Tabel 1
Target dan Realisasi Kegiatan Pengawasan Tahun 2014
NO. KEGIATAN PENGAWASAN
TARGET TH 2014 REALISASI
OUTPUT ANGGARAN OUTPUT ANGGARAN (LAP) Rp (ribu) (LAP) % Rp (ribu) % Pengawasan Intern Akuntabilitas Keuangan Negara dan Pembinaan Penyelenggaraan SPIP
I. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pengawasan intern akuntabilitas keuangan negara
1. Pengawasan lintas sektor 29 434.384 29 100 333.619 77
2. Pengawasan BUN 22 272.975 22 100 249.073 91
3.
Pengawasan atas
permintaan presiden dan kabinet, penerimaan negara, permintaan stakeholder, kinerja pelayanan publik bidang keuangan daerah
43 551.663 43 100 393.201 71
4.
Bimbingan teknis (bimtek) dan asistensi penyusunan LKKL
15 107.600 15 100 78.410 73
5.
Bimbingan teknis (bimtek) dan asistensi penyusunan LKPD
19 700.907 19 100 261.988 37
6. Pengawasan atas proyek
PHLN 8 112.740 8 100 60.894 54
7.
Bimtek dan asistensi GCG dan penyusunan laporan keuangan BUMD
7 73.251 7 100 34.883 48
8. Pengawasan atas kinerja
BUMD 6 106.296 6 100 69.534 65
9. Korsupgah dan sosialisasi
masalah korupsi 6 45.450 6 100 24.841 55
10.
Bimtek dan asistensi implementasi fraud control plan (FCP)
1 10.220 1 100 770 8
11.
Audit investigasi atas HKP, eskalasi dan klaim, penghitungan kerugian keuangan negara, pemberian keterangan ahli, dan audit investigasi atas permintaan instansi penyidik dan instansi lainnya
25 358.190 22 88 170.361 48
12.
Sosialisasi dan bimtek penerapan Jabatan Fungsional Auditor (JFA)
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 4 NO. KEGIATAN PENGAWASAN
TARGET TH 2014 REALISASI
OUTPUT ANGGARAN OUTPUT ANGGARAN (LAP) Rp (ribu) (LAP) % Rp (ribu) % APIP daerah
13.
Sosialisasi, bimtek, dan evaluasi penerapan tata kelola APIP daerah
8 74.000 8 100 48.726 66
Sub Jumlah 201 2.867.176 188 94 1.737.386 61 II. Peningkatan penyelenggaraan SPIP sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan pemda
1.
Pembinaan
penyelenggaraan SPIP 19 390.415 19 100 142.885 37
Sub Jumlah 19 390.415 19 100 142.885 37 JUMLAH 210 3.257.591 207 99 1.880.271 58 Selama tahun 2014, realisasi jumlah output penugasan (OP) sebanyak 207 laporan atau 99% dari target tahunan sebanyak 210 laporan. Rincian target dan
realisasi output kegiatan pengawasan selama tahun 2014 dapat terlihat pada tabel 1.
C. Penyajian Informasi
Sebagai auditor internal pemerintah, BPKP melaksanakan kegiatan pengawasan yang bersifat assurance dan consulting kepada para stakeholders-nya yang diharapkan dapat meningkatan kualitas akuntabilitas keuangan negara melalui pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, serta lebih mengefektifkan fungsi pengawasan intern di lingkungan instansi pemerintah.
Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan kualitas akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dilakukan dalam upaya mencapai Wilayah Tertib Administrasi (WTA).
Untuk memberikan informasi mengenai kondisi WTA, penyajian informasi hasil pengawasan dikelompokkan dalam 4 (empat) perspektif akuntabilitas, yaitu:
a. Akuntabilitas pelaporan keuangan;
b. Akuntabilitas kebendaharaan umum negara dan pengelolaan aset;
c. Akuntabilitas perwujudan iklim bagi kepemerintahan yang baik dan bersih; d. Akuntabilitas pengelolaan program lintas sektoral.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 5 Gambar Perspektif Penyajian Informasi Hasil Pengawasan
*
Hasil Pengawasan:
Meningkatnya Kualitas Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara
B
Optimalisasi Penerimaan Negara, Peningkatan Cost Recovery Saving (Klaim, Eskalasi Harga, Cost Recovery Bidang Migas), dan Pengelolaan Aset Negara
AKUNTABILITAS PEWUJUDAN IKLIM BAGI KEPEMERINTAHAN YANG BAIK
DAN BERSIH AKUNTABILITAS
PENGELOLAAN PROGRAM LINTAS SEKTORAL
Indikator: Indikator:
Pengungkapan Kasus/Pelanggaran yang Diduga Merugikan Keuangan Negara dan Penyelenggaran SPIP, FCP, dan GCG Peningkatan Efisiensi, Keekonomisan
dan Efektifitas Program Lintas Sektoral, Kinerja Pelayanan Publik, Penanganan Hambatan Kelancaran Pembangunan (Debotklenecking)
AKUNTABILITAS
PELAPORAN KEUANGAN NEGARA
Indikator:
Upaya Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan pada K/L dan Pemda
A
AKUNTABILITAS
KEBENDAHARAAN UMUM NEGARA DAN PENGELOLA ASET
Indikator:
C D
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 6 BAB II
HASIL PENGAWASAN TERHADAP
AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
A. AKUNTABILITAS PELAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan pemerintah disusun berdasarkan sistem dan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan disampaikan secara tepat waktu. Hal ini tercantum dalam Pasal 30-32 UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan keuangan negara oleh Presiden selaku kepala pemerintahan dan pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara dan para Gubernur, Bupati, Walikota selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Laporan keuangan pemerintah meliputi Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
Salah satu indikator kualitas laporan keuangan adalah perolehan opini BPK atas kewajaran penyajian laporan keuangan. Sebagai auditor intern pemerintah, BPKP bersama-sama dengan APIP lainnya berkewajiban untuk meningkatkan dan menjaga kualitas laporan keuangan pemerintah (LKPP, LKK/L/BUN, dan LKPD). Upaya lain yang dilakukanoleh BPKP adalah melalui kegiatan pendampingan pengelolaan keuangan dan penyusunan LKKL, Audit atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN), kegiatan pendampingan reviu atas LKPD, kegiatan pendampingan pengelolaan dan penyusunan LKPD.
A.1 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
A.1.1 Pendampingan Pengelolaan Keuangan dan Penyusunan LKKL
Kegiatan pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan untuk instansi vertikal pada tahun 2014 telah dilaksanakan untuk 13 (tiga belas) instansi vertikal, yaitu dalam rangka dukungan Laporan Keuangan Kementerian dan Lembaga (LKKL), dengan uraian sebagai berikut :
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 7 Tabel 2
Instansi Vertikal yang Dilakukan Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan
No SKPD Yang dilakukan Pendampingan Opini
1.
Kementerian Pekerjaan Umum (Satuan Kerja Kementerian Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau)
WTP 2. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
(Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Kepulauan Riau) WTP 3. Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejaksaan
Tinggi Kepulauan Riau) WTP
4. Kepolisian Republik Indonesia (Kepolisian Daerah
Kepulauan Riau) WTP
5. Kementerian Kesehatan (Dinas Kesehatan Provinsi
Kepulauan Riau) WTP
6. Badan Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik
Provinsi Kepulauan Riau) WTP
7. Badan Pertanahan Nasional (Badan Pertanahan
Nasional Provinsi Kepulauan Riau) WTP 8. Kementerian Pertanian (Dinas Pertanian Provinsi
Kepulauan Riau) WTP
9.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau)
WDP 10. Komisi Pemilihan Umum (Komisi Pemilihan Umum
Daerah Provinsi Kepulauan Riau) WDP 11. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu
Provinsi Kepulauan Riau) WDP
12. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
(Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau) Disclaimer
13. BP Batam Disclaimer
Sasaran pendampingan penyusunan laporan keuangan tahun 2013 adalah membantu K/L untuk:
a. Mendorong pelaksanaan tindak lanjut audit BPK atas laporan keuangan tahun 2013;
b. Meyakinkan bahwa prosedur rekonsiliasi realisasi APBN 2013 dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan telah dilaksanakan;
c. Melihat kesesuaian antara realisasi belanja modal tahun 2013 dan anggaran serta pencatatan aset tetap pada SIMAK BMN;
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 8 d. Meyakinkan kewajaran pelaporan saldo awal dan pengelolaan aset tetap;
e. Memastikan dipatuhinya peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaporan keuangan oleh para pelaksana;
f. Mengungkapkan kejadian-kejadian yang material yang mempengaruhi laporan keuangan untuk dicatat di dalam CaLK dengan pengungkapan yang cukup (full
disclosure);
g. Meyakinkan bahwa barang persediaan pengadaan pusat yang dikirim ke daerah (satuan kerja) dan masih dalam perjalanan per 31 Desember 2013 telah dilakukan rekonsiliasi kebenarannya dengan pihak pengirim (instansi pusat); h. Meyakinkan bahwa penyajian nilai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
pada laporan keuangan telah sesuai dengan keadaannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK RI terhadap Laporan Keuangan K/L tahun 2013, masih terdapat lima K/L yang belum memperoleh opini WTP atas laporan keuangan, yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (mengalokasikan dana dekonsentrasi kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau), Komisi Pemilihan Umum (membawahi KPUD Provinsi Kepulauan Riau), Badan Pengawas Pemilihan Umum (membawahi Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (mengalokasikan dana dekonsentrasi kepada Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau) dan BP Batam.
Permasalahan yang ditemui dalam pembimbingan penyusunan LKKL sebagian besar mengenai CaLK yang belum sesuai dengan format CaLK pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-57/PB/2013 tanggal 30 Desember 2013 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/ Lembaga karena penjelasan CaLK di bagian pos-pos neraca belum disajikan secara informatif. Permasalahan tersebut telah diperbaiki pada saat pendampingan. Sedangkan untuk BP Batam permasalahan Laporan Keuangan tahun 2013, terkait dengan tidak memadainya dalam jumlah yang sangat material pencatatan atas aset tetap, panjar, piutang, aset tidak berwujud dan kewajiban jangka panjang. Untuk itu Perwakilan BPKP Prov. Kepulauan Riau telah melakukan pendampingan untuk penataan aset tetap serta reviu terhadap laporan keuangan.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 9 A.1.2 Audit atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai Pinjaman dan
Hibah Luar Negeri (PHLN)
Upaya untuk peningkatan kualitas akuntabilitas pengelolaan dan pelaporan keuangan pemerintah juga dilakukan Perwakilan BPKP Kepulauan Riau melalui kegiatan yang bersifat assurance dalam bentuk audit atas laporan keuangan proyek yang didanai PHLN.
Pada periode tahun 2014 telah dilakukan audit terhadap dua laporan keuangan PHLN untuk memenuhi permintaan pihak lenders/donor. Seluruh laporan keuangan proyek PHLN tersebut memperoleh opini WTP dengan rincian pada Tabel 3.
Tabel 3
Hasil Audit BPKP atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai PHLN Selama Tahun 2014
No LENDER
(GRANT/LOAN) NAMA PROGRAM JENIS OPINI
1 IBRD PNPM Mandiri Perdesaan WTP
2 IDB PNPM Mandiri Perkotaan WTP
Perolehan opini WTP atas laporan keuangan proyek yang didanai oleh PHLN ini telah diaudit Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau dan disampaikan tepat waktu kepada lenders/donor sehingga meningkatkan kepercayaan lenders/donor kepada pihak pemerintah.
Mengingat strategisnya proyek PHLN ini, baik dilihat dari jumlah alokasi dana maupun banyaknya cakupan beneficiaries/target groups, maka capaian opini WTP menjadi salah satu faktor penting dalam mempertimbangkan kesinambungan kegiatan dan pendanaan proyek selanjutnya.
Adapun audit PHLN yang telah dilaksanakan selama tahun 2014 adalah sebagai berikut :
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 10 Tabel 4
Audit PHLN yang Telah Dilaksanakan Selama Tahun 2014
No Nama Kegiatan Keterangan
1
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
2
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Karimun Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
3
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Lingga Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
4
PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD 5 PNPM Mandiri Perkotaan Kota Batam Tahun
Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
6 PNPM Mandiri Perkotaan Kota Tanjungpinang Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
7 PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
8 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
A.2 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah daerah
Terkait dengan pemerintah daerah sebagai sebuah entitas pelayanan publik, penciptaan good governance merupakan tuntutan yang harus dilakukan dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, yang salah satunya adalah akuntabilitas yang harus dilaporkan secara akurat dan tepat waktu tentang informasi yang terkait dengan pertanggungjawaban anggaran dan kinerja. Bentuk pertanggungjawaban akuntabilitas pemda tersebut adalah penerbitan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
A.2.1 Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
Berdasarkan hasil audit Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Kepulauan Riau atas LKPD Tahun 2013, terdapat 8 (delapan) hasil audit
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 11 yang telah diterbitkan. Opini hasil audit keuangan Perwakilan BPK Provinsi Kepulauan Riau terhadap LKPD masih tetap seperti tahun sebelumnya, yaitu opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) diberikan untuk LKPD Tahun 2013 lima Pemda (Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna dan Kota Batam) dan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) untuk LKPD Tahun 2013 tiga pemda (Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Lingga dan Kota Tanjungpinang). Perkembangan opini BPK atas LKPD tahun 2011-2013 terlihat dalam Tabel 5 dan Tabel 6 dibawah ini.
Tabel 5
Persentase Perkembangan Opini BPK atas LKPD Tahun 2011-2013 NO JENIS OPINI JUMLAH PEMDA 2011 2012 2013 1 WTP 2 25,00% 5 63% 5 63% 2 WDP 6 75,00% 3 37% 3 37% 3 TMP - - - - 4 TW - - - - JUMLAH 8 100,00% 8 100,00% 8 100,00% Tabel 6
Perkembangan Opini BPK atas LKPD Tahun 2011-2013
No. Pemda 2011 2012 2013
1 Provinsi Kepulauan Riau WTP WTP WTP
2 Kota Batam WDP WTP WTP 3 Kota Tanjungpinang WDP WDP WDP 4 Kabupaten Bintan WTP WTP WTP 5 Kabupaten Karimun WDP WTP WTP 6 Kabupaten Natuna WDP WTP WTP 7 Kabupaten Lingga WDP WDP WDP 8 Kabupaten Kepulauan Anambas WDP WDP WDP
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 12 Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, dan Kabupaten Natuna Tahun 2013 telah mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Perwakilan BPK Provinsi Kepulauan Riau atau 63% dari laporan keuangan pemda yang ada. Sedangkan untuk opini WDP yang diberikan terhadap Kota Tanjungpinang, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas, secara umum kondisinya sebagai berikut:
a. Efektivitas SPIP pemda yang bersangkutan belum optimal. Hal ini terbukti dengan lemahnya pengendalian intern dalam pengelolaan akun kas, piutang, persediaan, pengelolaan aset;
b. Kelemahan penganggaran dan penggunaan belanja barang, modal dan batuan sosial (bansos);
c. Kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan akuntansi pemda; d. Pencatatan transaksi yang kurang akurat dan tepat waktu;
e. Kelemahan dalam sistem penyusunan laporan keuangan; f. Pengelolaan dana bergulir belum memadai;
g. Masih kurang memadainya kompetensi SDM pengelola keuangan pemda.
Selain dari opini BPK, kualitas akuntabilitas pelaporan keuangan juga dapat dilihat dari hasil audit terhadap kewajaran penyajian informasi keuangan pada laporan keuangan BUMD terutama PDAM. Hasil audit atas laporan keuangan BUMD menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur good corporate governance BUMD. Dari hasil audit atas laporan keuangan PDAM tahun 2013 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, terdapat satu PDAM atau 33% dari total tiga PDAM yang memperoleh opini WTP, sedangkan dua PDAM lainnya tidak dilakukan audit atas laporan keuangan oleh kantor akuntan publik. Perkembangan hasil audit atas laporan keuangan PDAM tahun 2012-2013 dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7
Perkembangan Opini Audit atas Laporan Keuangan PDAM
No. Opini
Jumlah PDAM
Tahun 2012 Tahun 2013
1. WTP 2 67% 1 33%
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 13 No. Opini Jumlah PDAM Tahun 2012 Tahun 2013 3. TMP 0 0 0 0 4. TW 0 0 0 0 Jumlah 2 67% 1 33%
Kami menyarankan kepada Gubernur Kepulauan Riau untuk mendorong pemda-pemda yang belum mendapat opini WTP agar menindaklanjuti rekomendasi BPK serta meningkatkan akuntabilitas pelaporan keuangannya melalui perbaikan sistem pengendalian intern pemerintah, pembenahan asset dan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas SDM pengelola keuangan dan kegiatan.
A.2.2 Upaya Peningkatan Kualitas LKPD
Upaya BPKP untuk membantu pemda dalam meningkatan kualitas LKPD, antara lain melalui kegiatan pembimbingan teknis/asistensi kepada pemda dalam pengelolaan keuangan, penyusunan LKPD dan pendukungnya (BUMD, BLUD, dan badan lainnya), pemberian bantuan dalam mereviu penyusunan LKPD, pembinaan dan penguatan SPIP, pemberian jasa assurance terkait, serta pembinaan kompetensi inspektorat provinsi, kabupaten dan kota.
Pada tahun 2014, telah dilakukan beberapa kegiatan pembinaan terhadap tujuh pemda atau 87,50% dari delapan pemda terkait dengan penyusunan Laporan Keuangan. Lingkup kegiatan pembinaan untuk tahun 2014, antara lain dalam bentuk:
a. Pendampingan reviu atas LKPD;
b. Pendampingan penyusunan LKPD, termasuk penataan BMD; c. Peningkatan kompetensi APIP;
A.2.2.1 Pendampingan Reviu atas LKPD
Dalam rangka membantu pemda melakukan peningkatan kualitas LKPD tahun 2013, BPKP telah melakukan pendampingan penyusunan LKPD terhadap enam pemda yang dilanjutkan dengan pendampingan reviu atas LKPD tahun 2013.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 14 Pendampingan reviu atas LKPD dilakukan terhadap tiga inspektorat kabupaten/kota dengan tujuan :
1. Memberikan keyakinan terbatas atas akurasi, kehandalan dan keabsahan informasi serta pengakuan, pengukuran dan pelaporan transaksi yang sesuai dengan Standar Akuntansi pemerintahan (SAP),.
2. Meningkatkan/memperbaiki sistem pengendalian intern tata kelola penatausahaan dan pengelolaan keuangan yang bermuara pada peningkatan kualitas LKPD (Neraca, LRA, LAK, dan CaLK),
3. Mempercepat penyelesaian tindak lanjut atas temuan pemeriksaan BPK atau APIP dalam rangka mencapai opini WTP dan meningkatkan kompetensi auditor APIP dalam melakukan tugasnya.
4. Terlaksananya transfer of knowledge atas penyelenggaraan akuntansi dan penyajian Laporan Keuangan.
A.2.2.2 Pendampingan Penyusunan LKPD
Pada tahun 2014, jumlah pemda yang didampingi sebanyak tujuh pemda, dengan prioritas utama kepada pemda yang laporan keuangannya belum memperoleh opini WTP. Tujuan pendampingan penyusunan LKPD adalah meningkatkan kualitas LKPD yang sesuai dengan Standar Akuntansi pemerintahan (SAP) dan membantu terlaksananya transfer of knowledge atas penyusunan laporan keuangan.
Terhadap pemda yang belum mendapatkan opini WTP, Perwakilan BPKP Kepulauan Riau bersama pemda-pemda terkait melakukan pemetaan dan penyusunan Rencana Aksi Peningkatan Opini Laporan Keuangan, yaitu kegiatan asistensi penataan aset, pencatatan dana bergulir, verifikasi piutang pajak bumi bangunan, dan pembinaan SPIP.
Pendampingan penyusunan Laporan Keuangan dan Pengelolaan APBD, sebagian menggunakan program aplikasi SIMDA Keuangan yaitu untuk Kabupaten Karimun, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Pendampingan untuk ketiga pemda lainnya, yakni Kota Batam, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga masih manual (tidak menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan). Dengan menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan, proses pencatatan keuangan, yaitu penganggaran, penatausahaan, dan penyusunan laporan keuangan, dilakukan
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 15 secara terkomputerisasi sehingga dapat meningkatkan kecepatan, keakuratan, dan kesesuaian pemrosesan informasi keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sampai dengan tahun 2014, jumlah pemda yang telah mengimplementasikan SIMDA adalah sebanyak tujuh pemda, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga. Jenis SIMDA yang diimplementasikan meliputi SIMDA Keuangan yang berfokus pada penatausahaan keuangan daerah (tujuh pemda), SIMDA BMD yang berfokus pada manajemen aset (tujuh pemda), SIMDA Gaji yang berfokus pada penatausahaaan gaji, dan SIMDA Pendapatan yang berfokus pada penatausahaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pemda yang menggunakan aplikasi SIMDA tercantum di Tabel 8 di bawah ini:
Tabel 8
Pemda yang Menggunakan Aplikasi SIMDA
No PEMDA SIMDA KETERANGAN KEUANGAN BMD PENDAPATAN 1 Provinsi Kepulauan Riau √ √ - 2 Kota
Tanjungpinang √ √ √ Simda pendapatan, dalam proses implementasi awal
3 Kota Batam √ √ -
Simda Keuangan dalam proses implementasi awal 4 Kabupaten Bintan √ √ √ Simda pendapatan, dalam proses
implementasi awal 5 Kabupaten Karimun √ √ - 6 Kabupaten Natuna - - - 7 Kabupaten Lingga √ √ - Simda Keuangan dalam proses implementasi awal 8 Kabupaten Kepulauan Anambas √ √ -
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 16 Dengan mulai diberlakukannya standar Akrual Basis dalam sistem akuntansi