Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan iii DAFTAR ISI
Kata Pengantar... i
Daftar Isi... iii
Daftar Tabel... iv
Ringkasan Eksekutif... v
BAB I INFORMASI UMUM A. Kebijakan Pengawasan dan Pembinaan... 1
B. Program Kerja Pengawasan dan Pembinaan... 2
C. Penyajian Informasi... 4
BAB II HASIL PENGAWASAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA A. Akuntabilitas Pelaporan Keuangan A.1 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat... 6
A.2 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah... 10
A.3 Penugasan SDM BPKP pada Instansi dan Pemda... 16
B. Akuntabilitas Kebendaharaan Umum Negara dan Pengelolaan Aset B.1 Penghematan Pengeluaran Keuangan Negara... 18
B.2 Pengelolaan Aset Negara... 20
B.3 Evaluasi Penyerapan Anggaran... 23
B.4 Verifikasi Pertanggungjawaban Dana Bantuan Hibah... 25
C. Akuntabilitas Perwujudan Iklim Bagi Kepemerintahan yang Baik dan Bersih C.1 Pembinaan dan Penyelenggaraan SPIP pada K/L dan Pemda... 26
C.2 Pencegahan KKN melalui Upaya Preventif – Edukatif... 28
C.3 Pemberantasan KKN Melalui Upaya Represif... 36
C.4 Pemberian Keterangan Ahli... 38
C.5 Temuan Pemeriksaan Yang Belum Ditindaklanjuti... 39
D. Akuntabilitas Pengelolaan Program Lintas Sektoral D.1 Pengawasan Kinerja Program Prioritas Nasional... 40
D.2 Pengawasan Kinerja Pelayanan Publik... 44
D.3 Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD)... 45
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan iv DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Target dan Realisasi Kegiatan Pengawasan Tahun 2014
Tabel 2 : Instansi Vertikal yang Dilakukan Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan
Tabel 3 : Hasil Audit BPKP atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai PHLN Selama Tahun 2014
Tabel 4 : Audit PHLN yang Telah Dilaksanakan Selama Tahun 2014 Tabel 5 : Persentase Perkembangan Opini BPK atas LKPD
Tabel 6 : Perkembangan Opini BPK atas LKPD
Tabel 7 : Perkembangan Opini atas Laporan Keuangan PDAM Tabel 8 : Pemda yang Menggunakan Aplikasi SIMDA
Tabel 9 : Jumlah SDM BPKP Dipekerjakan pada K/L, Pemda dan Universitas Berdasarkan Pemerintahan
Tabel 10 : Jumlah SDM BPKP Dipekerjakan pada Instansi Pemerintah Berdasarkan Jabatan
Tabel 11 : Kegiatan Pengawasan terhadap BUMD dan Badan Lainnya pada Tahun 2014
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan v
RINGKASAN EKSEKUTIF
Untuk mewujudkan good governance dan clean government, diperlukan pengelolaan keuangan yang akuntabel (akuntabilitas keuangan dan kinerja). Akuntabilitas keuangan ditandai dengan kualitas opini pelaporan keuangan pemerintah yang Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang didukung dengan pengelolaan keuangan yang tertib dalam Wilayah Tertib Administrasi (WTA). Akuntabilitas kinerja yang baik ditandai dengan terwujudnya Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) di seluruh instansi pemerintah sehingga program pembangunan yang mengedepankan pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment terselenggara dengan efisien dan efektif.
Hasil pengawasan BPKP tahun 2014 diarahkan terhadap empat perspektif pengawasan akuntabilitas, yaitu pelaporan keuangan negara, kebendaharaan umum negara dan pengelolaan aset, perwujudan iklim bagi kepemerintahan yang baik dan bersih, serta pengelolaan program lintas sektoral.
A. Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Negara
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2013 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau telah mendapat opini dari Perwakilan Badan Pemeriksaaan Keuangan (BPK) Provinsi Kepulauan Riau, yaitu lima pemda mendapat opini terbaik Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan tiga pemda mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Lima pemda yang mendapat opini WTP tersebut adalah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, dan Kabupaten Natuna. Sedangkan Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Lingga, dan Kota Tanjungpinang masih mendapatkan opini WDP. Keadaan ini tidak berubah dari Opini untuk Laporan Keuangan Tahun 2012. Selain itu, dari hasil audit eksternal auditor atas laporan keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tahun 2013 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, terdapat satu PDAM, yaitu PDAM Tirta Kepri yang memperoleh opini WTP. Pada Tahun 2014, Perwakilan BPKP Prov. Kepulauan Riau melakukan pembinaan terhadap delapan Pemda Provinsi Kepulauan Riau serta satuan-satuan kerja K/L di wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang meliputi kegiatan pendampingan penyusunan, reviu laporan keuangan, implementasi SIMDA dengan versi Akrual Basis.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan vi Permasalahan terhadap Laporan Keuangan Tahun 2013 adalah:
a. Belum memadainya SPIP;
b. Kelemahan pengelolaan belanja barang, modal dan batuan sosial (bansos); c. Kurang tertibnya pengelolaan aset;
d. Pencatatan transaksi yang kurang akurat dan tidak tepat waktu; e. Pengelolaan dana bergulir belum memadai;
semua itu terutama karena kurang memadainya kompetensi SDM pengelola keuangan.
Untuk membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan menuju WTP, kegiatan pengawasan BPKP di fokuskan pada penyelesaian permasalahan antara lain berupa pengelolaan barang milik Negara/daerah, pembinaan penyelenggaran SPIP, melakukan asistensi Penyusunan Action Plan atas hasil pemeriksaan LKPD oleh BPK, dan melakukan verifikasi piutang PBB-P2 serta penugasan pegawai ke Instansi Vertikal dan Pemda.
B. Akuntabilitas Kebendaharaan Umum Negara dan Pengelolaan Aset Pengawasan akuntabilitas kegiatan kebendaharaan umum negara dan pengelolaan aset diprioritaskan pada penghematan pengeluaran keuangan negara. Hasil pengawasan selama tahun 2014 menghasilkan penghematan pengeluaran keuangan negara sebesar Rp2.574.683.366,00 dari koreksi atas tagihan pihak ketiga. Selain itu Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau juga telah melakukan verifikasi terhadap hutang Tunjangan Profesi Guru PNSD dan Guru Agama serta terhadap klaim dana Jamkesmas Rumah Sakit di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, masing-masing sebesar Rp9.424.415.592,00, Rp4.121.654.200,00, dan Rp15.743.402.581,95.
C. Akuntabilitas Pewujudan Iklim bagi Kepemerintahan yang Baik dan Bersih
Untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau juga mendorong terbangunnya iklim bagi terselenggaranya pemerintahan yang baik dan bersih. Hal tersebut dilaksanakan melalui upaya pengawasan represif yang telah menghasilkan potensi penyelamatan keuangan negara sebesar Rp9,46 miliar. Upaya represif terutama untuk menimbulkan efek jera
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan vii dalam rangka mengungkapkan kasus yang diduga merugikan keuangan negara yang dilakukan melalui audit investigatif, audit penghitungan kerugian keuangan negara, dan pemberian keterangan ahli. Perwakilan juga melakukan upaya preventif – edukatif melalui kegiatan Sosialisasi Program Anti Korupsi untuk pelajar, Fraud Control Plan di Dinas pendapatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau, dalam hal ini Kantor Pelayanan Pajak Kota Batam, Koordinasi Supervisi pencegahan Korupsi Bidang APBD, Pendapatan dan Pertambangan, Bimbingan Teknis Sistem Pengendalian Intern, Sosialisasi Good Corporate Gevernance, Probity Audit serta peningkatan kapabilitas APIP.
D. Akuntabilitas Pengelolaan Program Lintas Sektoral
Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau memprioritaskan pengawasan terhadap program strategis yang menekankan pada audit efisiensi, keekonomisan dan keefektifan pelaksanaan program/kegiatan. Selama tahun 2014, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan pengawasan atas beberapa kegiatan yang mendukung program penanggulangan kemiskinan, antara lain pengawasan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dan Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang bertujuan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan usaha ekonomi masyarakat. Selain itu Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau juga melakukan monitoring Program Prioritas Pembangunan Nasional, evaluasi Lakip dan evaluasi Program Raskin.
Hasil pengawasan menunjukan kinerja kedua program tersebut diatas berada dalam level cukup memadai. Sedangkan hasil monitoring Program Prioritas Pembangunan Nasional menunjukan Puskesmas dan Rumah Sakit belum siap melaksanakan program BPJS. Pelaksanaan program Raskin di nilai cukup berhasil dalam memfasilitasi upaya pemerintah dalam mengurangi beban masyarakat (RTS-PM) dalam memenuhi kebutuhan pokok pangan.
Terhadap permasalahan program bantuan sosial dan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah mengevaluasi terhadap program-program tersebut, dimana masih terdapat beberapa kelemahan dalam pelaksanaan Program yang harus diperbaiki.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 1 BAB I
INFORMASI UMUM
A. Kebijakan Pengawasan dan Pembinaan
Kebijakan pengawasan dan pembinaan BPKP dalam rangka peningkatan kualitas akuntabilitas keuangan negara tahun 2014 secara umum mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang mencakup:
a. Pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara terhadap kegiatan tertentu yang meliputi kegiatan yang bersifat lintas sektoral, kegiatan kebendaharaan umum negara (berdasarkan penetapan oleh menteri keuangan selaku bendahara umum negara), serta kegiatan lain berdasarkan penugasan dari presiden;
b. Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang berupa pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan untuk instansi vertikal;
c. Pembinaan penyelenggaraan SPIP yang meliputi penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP, sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, pembimbingan dan konsultasi, serta peningkatan kompetensi Auditor Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
Untuk dapat memberikan nilai tambah pada setiap kegiatan pengawasan, penyusunan kebijakan pengawasan dan pembinaan juga memperhatikan amanah yang diberikan kepada BPKP dan peraturan perundang-undangan yang harus dilaksanakan oleh BPKP, yaitu sebagai berikut:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;
b. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pedoman Pemberantasan Korupsi;
c. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Kualitas Akuntabilitas Keuangan Negara;
d. Inpres Nomor 17 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012 dan terakhir Inpres Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2014.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 2 Secara khusus menindaklanjuti arahan presiden dan wakil presiden, BPKP melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara konsisten untuk:
a. Berperan dan berfungsi sebagai lembaga auditor internal pemerintah yang efektif;
b. Bekerja sama dan meningkatkan kerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas akuntabilitas pengelolaan keuangan negara pada K/L dan pemda;
c. Bersinergi, berkoordinasi, serta melakukan sinkronisasi dengan BPK dan lembaga internal pada instansi pemerintah lainnya;
d. Memberikan perhatian khusus terhadap pengawasan pengadaan barang dan jasa, terutama pada K/L dan pemda yang anggarannya besar karena rawan penyimpangan;
e. Memberikan pendampingan terkait pengelolaan keuangan daerah karena banyaknya pejabat/pengelola keuangan daerah yang belum memahami administrasi pengelolaan keuangan daerah;
f. Membantu K/L dan pemda yang masih memperoleh opini disclaimer agar dapat meningkatkan kualitas opininya menjadi lebih baik;
g. Melaksanakan Quality Assurance reformasi birokrasi dimana Kepala BPKP ditunjuk sebagai Ketua Quality Assurance Tim Reformasi Birokrasi Nasional; h. Melaksanakan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan pembangunan yang
dilakukan bersama dengan UKP-PPP dan Bappenas secara komprehensif dan terpadu.
B. Program Kerja Pengawasan dan Pembinaan
Berdasarkan kebijakan pengawasan dan pembinaan BPKP Tahun 2014 disusun Program Kerja Pengawasan dan Pembinaan Tahunan (PKP2T) Tahun 2014. PKP2T berisi berbagai jenis penugasan pengawasan terhadap akuntabilitas keuangan negara dan pembinaan penyelenggaran SPIP pada instansi pemerintah. Target dan realisasi kegiatan pengawasan tahun 2014 dapat dilihat di Tabel 1 dibawah ini.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 3 Tabel 1
Target dan Realisasi Kegiatan Pengawasan Tahun 2014
NO. KEGIATAN PENGAWASAN
TARGET TH 2014 REALISASI
OUTPUT ANGGARAN OUTPUT ANGGARAN (LAP) Rp (ribu) (LAP) % Rp (ribu) % Pengawasan Intern Akuntabilitas Keuangan Negara dan Pembinaan Penyelenggaraan SPIP
I. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pengawasan intern akuntabilitas keuangan negara
1. Pengawasan lintas sektor 29 434.384 29 100 333.619 77
2. Pengawasan BUN 22 272.975 22 100 249.073 91
3.
Pengawasan atas
permintaan presiden dan kabinet, penerimaan negara, permintaan stakeholder, kinerja pelayanan publik bidang keuangan daerah
43 551.663 43 100 393.201 71
4.
Bimbingan teknis (bimtek) dan asistensi penyusunan LKKL
15 107.600 15 100 78.410 73
5.
Bimbingan teknis (bimtek) dan asistensi penyusunan LKPD
19 700.907 19 100 261.988 37
6. Pengawasan atas proyek
PHLN 8 112.740 8 100 60.894 54
7.
Bimtek dan asistensi GCG dan penyusunan laporan keuangan BUMD
7 73.251 7 100 34.883 48
8. Pengawasan atas kinerja
BUMD 6 106.296 6 100 69.534 65
9. Korsupgah dan sosialisasi
masalah korupsi 6 45.450 6 100 24.841 55
10.
Bimtek dan asistensi implementasi fraud control plan (FCP)
1 10.220 1 100 770 8
11.
Audit investigasi atas HKP, eskalasi dan klaim, penghitungan kerugian keuangan negara, pemberian keterangan ahli, dan audit investigasi atas permintaan instansi penyidik dan instansi lainnya
25 358.190 22 88 170.361 48
12.
Sosialisasi dan bimtek penerapan Jabatan Fungsional Auditor (JFA)
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 4 NO. KEGIATAN PENGAWASAN
TARGET TH 2014 REALISASI
OUTPUT ANGGARAN OUTPUT ANGGARAN (LAP) Rp (ribu) (LAP) % Rp (ribu) % APIP daerah
13.
Sosialisasi, bimtek, dan evaluasi penerapan tata kelola APIP daerah
8 74.000 8 100 48.726 66
Sub Jumlah 201 2.867.176 188 94 1.737.386 61 II. Peningkatan penyelenggaraan SPIP sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan pemda
1.
Pembinaan
penyelenggaraan SPIP 19 390.415 19 100 142.885 37
Sub Jumlah 19 390.415 19 100 142.885 37 JUMLAH 210 3.257.591 207 99 1.880.271 58 Selama tahun 2014, realisasi jumlah output penugasan (OP) sebanyak 207 laporan atau 99% dari target tahunan sebanyak 210 laporan. Rincian target dan
realisasi output kegiatan pengawasan selama tahun 2014 dapat terlihat pada tabel 1.
C. Penyajian Informasi
Sebagai auditor internal pemerintah, BPKP melaksanakan kegiatan pengawasan yang bersifat assurance dan consulting kepada para stakeholders-nya yang diharapkan dapat meningkatan kualitas akuntabilitas keuangan negara melalui pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, serta lebih mengefektifkan fungsi pengawasan intern di lingkungan instansi pemerintah.
Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan kualitas akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dilakukan dalam upaya mencapai Wilayah Tertib Administrasi (WTA).
Untuk memberikan informasi mengenai kondisi WTA, penyajian informasi hasil pengawasan dikelompokkan dalam 4 (empat) perspektif akuntabilitas, yaitu:
a. Akuntabilitas pelaporan keuangan;
b. Akuntabilitas kebendaharaan umum negara dan pengelolaan aset;
c. Akuntabilitas perwujudan iklim bagi kepemerintahan yang baik dan bersih; d. Akuntabilitas pengelolaan program lintas sektoral.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 5 Gambar Perspektif Penyajian Informasi Hasil Pengawasan
*
Hasil Pengawasan:
Meningkatnya Kualitas Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara
B
Optimalisasi Penerimaan Negara, Peningkatan Cost Recovery Saving (Klaim, Eskalasi Harga, Cost Recovery Bidang Migas), dan Pengelolaan Aset Negara
AKUNTABILITAS PEWUJUDAN IKLIM BAGI KEPEMERINTAHAN YANG BAIK
DAN BERSIH AKUNTABILITAS
PENGELOLAAN PROGRAM LINTAS SEKTORAL
Indikator: Indikator:
Pengungkapan Kasus/Pelanggaran yang Diduga Merugikan Keuangan Negara dan Penyelenggaran SPIP, FCP, dan GCG Peningkatan Efisiensi, Keekonomisan
dan Efektifitas Program Lintas Sektoral, Kinerja Pelayanan Publik, Penanganan Hambatan Kelancaran Pembangunan (Debotklenecking)
AKUNTABILITAS
PELAPORAN KEUANGAN NEGARA
Indikator:
Upaya Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan pada K/L dan Pemda
A
AKUNTABILITAS
KEBENDAHARAAN UMUM NEGARA DAN PENGELOLA ASET
Indikator:
C D
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 6 BAB II
HASIL PENGAWASAN TERHADAP
AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
A. AKUNTABILITAS PELAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan pemerintah disusun berdasarkan sistem dan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan disampaikan secara tepat waktu. Hal ini tercantum dalam Pasal 30-32 UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan keuangan negara oleh Presiden selaku kepala pemerintahan dan pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara dan para Gubernur, Bupati, Walikota selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Laporan keuangan pemerintah meliputi Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
Salah satu indikator kualitas laporan keuangan adalah perolehan opini BPK atas kewajaran penyajian laporan keuangan. Sebagai auditor intern pemerintah, BPKP bersama-sama dengan APIP lainnya berkewajiban untuk meningkatkan dan menjaga kualitas laporan keuangan pemerintah (LKPP, LKK/L/BUN, dan LKPD). Upaya lain yang dilakukanoleh BPKP adalah melalui kegiatan pendampingan pengelolaan keuangan dan penyusunan LKKL, Audit atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN), kegiatan pendampingan reviu atas LKPD, kegiatan pendampingan pengelolaan dan penyusunan LKPD.
A.1 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
A.1.1 Pendampingan Pengelolaan Keuangan dan Penyusunan LKKL
Kegiatan pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan untuk instansi vertikal pada tahun 2014 telah dilaksanakan untuk 13 (tiga belas) instansi vertikal, yaitu dalam rangka dukungan Laporan Keuangan Kementerian dan Lembaga (LKKL), dengan uraian sebagai berikut :
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 7 Tabel 2
Instansi Vertikal yang Dilakukan Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan
No SKPD Yang dilakukan Pendampingan Opini
1.
Kementerian Pekerjaan Umum (Satuan Kerja Kementerian Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau)
WTP 2. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
(Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Kepulauan Riau) WTP 3. Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejaksaan
Tinggi Kepulauan Riau) WTP
4. Kepolisian Republik Indonesia (Kepolisian Daerah
Kepulauan Riau) WTP
5. Kementerian Kesehatan (Dinas Kesehatan Provinsi
Kepulauan Riau) WTP
6. Badan Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik
Provinsi Kepulauan Riau) WTP
7. Badan Pertanahan Nasional (Badan Pertanahan
Nasional Provinsi Kepulauan Riau) WTP 8. Kementerian Pertanian (Dinas Pertanian Provinsi
Kepulauan Riau) WTP
9.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau)
WDP 10. Komisi Pemilihan Umum (Komisi Pemilihan Umum
Daerah Provinsi Kepulauan Riau) WDP 11. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu
Provinsi Kepulauan Riau) WDP
12. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
(Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau) Disclaimer
13. BP Batam Disclaimer
Sasaran pendampingan penyusunan laporan keuangan tahun 2013 adalah membantu K/L untuk:
a. Mendorong pelaksanaan tindak lanjut audit BPK atas laporan keuangan tahun 2013;
b. Meyakinkan bahwa prosedur rekonsiliasi realisasi APBN 2013 dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan telah dilaksanakan;
c. Melihat kesesuaian antara realisasi belanja modal tahun 2013 dan anggaran serta pencatatan aset tetap pada SIMAK BMN;
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 8 d. Meyakinkan kewajaran pelaporan saldo awal dan pengelolaan aset tetap;
e. Memastikan dipatuhinya peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaporan keuangan oleh para pelaksana;
f. Mengungkapkan kejadian-kejadian yang material yang mempengaruhi laporan keuangan untuk dicatat di dalam CaLK dengan pengungkapan yang cukup (full
disclosure);
g. Meyakinkan bahwa barang persediaan pengadaan pusat yang dikirim ke daerah (satuan kerja) dan masih dalam perjalanan per 31 Desember 2013 telah dilakukan rekonsiliasi kebenarannya dengan pihak pengirim (instansi pusat); h. Meyakinkan bahwa penyajian nilai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
pada laporan keuangan telah sesuai dengan keadaannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK RI terhadap Laporan Keuangan K/L tahun 2013, masih terdapat lima K/L yang belum memperoleh opini WTP atas laporan keuangan, yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (mengalokasikan dana dekonsentrasi kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau), Komisi Pemilihan Umum (membawahi KPUD Provinsi Kepulauan Riau), Badan Pengawas Pemilihan Umum (membawahi Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (mengalokasikan dana dekonsentrasi kepada Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau) dan BP Batam.
Permasalahan yang ditemui dalam pembimbingan penyusunan LKKL sebagian besar mengenai CaLK yang belum sesuai dengan format CaLK pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-57/PB/2013 tanggal 30 Desember 2013 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/ Lembaga karena penjelasan CaLK di bagian pos-pos neraca belum disajikan secara informatif. Permasalahan tersebut telah diperbaiki pada saat pendampingan. Sedangkan untuk BP Batam permasalahan Laporan Keuangan tahun 2013, terkait dengan tidak memadainya dalam jumlah yang sangat material pencatatan atas aset tetap, panjar, piutang, aset tidak berwujud dan kewajiban jangka panjang. Untuk itu Perwakilan BPKP Prov. Kepulauan Riau telah melakukan pendampingan untuk penataan aset tetap serta reviu terhadap laporan keuangan.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 9 A.1.2 Audit atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai Pinjaman dan
Hibah Luar Negeri (PHLN)
Upaya untuk peningkatan kualitas akuntabilitas pengelolaan dan pelaporan keuangan pemerintah juga dilakukan Perwakilan BPKP Kepulauan Riau melalui kegiatan yang bersifat assurance dalam bentuk audit atas laporan keuangan proyek yang didanai PHLN.
Pada periode tahun 2014 telah dilakukan audit terhadap dua laporan keuangan PHLN untuk memenuhi permintaan pihak lenders/donor. Seluruh laporan keuangan proyek PHLN tersebut memperoleh opini WTP dengan rincian pada Tabel 3.
Tabel 3
Hasil Audit BPKP atas Laporan Keuangan Proyek yang Didanai PHLN Selama Tahun 2014
No LENDER
(GRANT/LOAN) NAMA PROGRAM JENIS OPINI
1 IBRD PNPM Mandiri Perdesaan WTP
2 IDB PNPM Mandiri Perkotaan WTP
Perolehan opini WTP atas laporan keuangan proyek yang didanai oleh PHLN ini telah diaudit Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau dan disampaikan tepat waktu kepada lenders/donor sehingga meningkatkan kepercayaan lenders/donor kepada pihak pemerintah.
Mengingat strategisnya proyek PHLN ini, baik dilihat dari jumlah alokasi dana maupun banyaknya cakupan beneficiaries/target groups, maka capaian opini WTP menjadi salah satu faktor penting dalam mempertimbangkan kesinambungan kegiatan dan pendanaan proyek selanjutnya.
Adapun audit PHLN yang telah dilaksanakan selama tahun 2014 adalah sebagai berikut :
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 10 Tabel 4
Audit PHLN yang Telah Dilaksanakan Selama Tahun 2014
No Nama Kegiatan Keterangan
1
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
2
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Karimun Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
3
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Lingga Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD
4
PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2013 (Loan IBRD No.7867/8079, TF 098819/098862, IFAD 755)
IBRD 5 PNPM Mandiri Perkotaan Kota Batam Tahun
Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
6 PNPM Mandiri Perkotaan Kota Tanjungpinang Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
7 PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
8 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2013 (Loan IDB IND 147 Istisna'a IDB IND-148 Jeddah Declaration IND-149 ISFD IND-150 dan Grant IND-151)
IDB
A.2 Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Pemerintah daerah
Terkait dengan pemerintah daerah sebagai sebuah entitas pelayanan publik, penciptaan good governance merupakan tuntutan yang harus dilakukan dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, yang salah satunya adalah akuntabilitas yang harus dilaporkan secara akurat dan tepat waktu tentang informasi yang terkait dengan pertanggungjawaban anggaran dan kinerja. Bentuk pertanggungjawaban akuntabilitas pemda tersebut adalah penerbitan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
A.2.1 Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
Berdasarkan hasil audit Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Kepulauan Riau atas LKPD Tahun 2013, terdapat 8 (delapan) hasil audit
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 11 yang telah diterbitkan. Opini hasil audit keuangan Perwakilan BPK Provinsi Kepulauan Riau terhadap LKPD masih tetap seperti tahun sebelumnya, yaitu opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) diberikan untuk LKPD Tahun 2013 lima Pemda (Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna dan Kota Batam) dan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) untuk LKPD Tahun 2013 tiga pemda (Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Lingga dan Kota Tanjungpinang). Perkembangan opini BPK atas LKPD tahun 2011-2013 terlihat dalam Tabel 5 dan Tabel 6 dibawah ini.
Tabel 5
Persentase Perkembangan Opini BPK atas LKPD Tahun 2011-2013 NO JENIS OPINI JUMLAH PEMDA 2011 2012 2013 1 WTP 2 25,00% 5 63% 5 63% 2 WDP 6 75,00% 3 37% 3 37% 3 TMP - - - - 4 TW - - - - JUMLAH 8 100,00% 8 100,00% 8 100,00% Tabel 6
Perkembangan Opini BPK atas LKPD Tahun 2011-2013
No. Pemda 2011 2012 2013
1 Provinsi Kepulauan Riau WTP WTP WTP
2 Kota Batam WDP WTP WTP 3 Kota Tanjungpinang WDP WDP WDP 4 Kabupaten Bintan WTP WTP WTP 5 Kabupaten Karimun WDP WTP WTP 6 Kabupaten Natuna WDP WTP WTP 7 Kabupaten Lingga WDP WDP WDP 8 Kabupaten Kepulauan Anambas WDP WDP WDP
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 12 Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, dan Kabupaten Natuna Tahun 2013 telah mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Perwakilan BPK Provinsi Kepulauan Riau atau 63% dari laporan keuangan pemda yang ada. Sedangkan untuk opini WDP yang diberikan terhadap Kota Tanjungpinang, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas, secara umum kondisinya sebagai berikut:
a. Efektivitas SPIP pemda yang bersangkutan belum optimal. Hal ini terbukti dengan lemahnya pengendalian intern dalam pengelolaan akun kas, piutang, persediaan, pengelolaan aset;
b. Kelemahan penganggaran dan penggunaan belanja barang, modal dan batuan sosial (bansos);
c. Kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan akuntansi pemda; d. Pencatatan transaksi yang kurang akurat dan tepat waktu;
e. Kelemahan dalam sistem penyusunan laporan keuangan; f. Pengelolaan dana bergulir belum memadai;
g. Masih kurang memadainya kompetensi SDM pengelola keuangan pemda.
Selain dari opini BPK, kualitas akuntabilitas pelaporan keuangan juga dapat dilihat dari hasil audit terhadap kewajaran penyajian informasi keuangan pada laporan keuangan BUMD terutama PDAM. Hasil audit atas laporan keuangan BUMD menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur good corporate governance BUMD. Dari hasil audit atas laporan keuangan PDAM tahun 2013 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, terdapat satu PDAM atau 33% dari total tiga PDAM yang memperoleh opini WTP, sedangkan dua PDAM lainnya tidak dilakukan audit atas laporan keuangan oleh kantor akuntan publik. Perkembangan hasil audit atas laporan keuangan PDAM tahun 2012-2013 dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7
Perkembangan Opini Audit atas Laporan Keuangan PDAM
No. Opini
Jumlah PDAM
Tahun 2012 Tahun 2013
1. WTP 2 67% 1 33%
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 13 No. Opini Jumlah PDAM Tahun 2012 Tahun 2013 3. TMP 0 0 0 0 4. TW 0 0 0 0 Jumlah 2 67% 1 33%
Kami menyarankan kepada Gubernur Kepulauan Riau untuk mendorong pemda-pemda yang belum mendapat opini WTP agar menindaklanjuti rekomendasi BPK serta meningkatkan akuntabilitas pelaporan keuangannya melalui perbaikan sistem pengendalian intern pemerintah, pembenahan asset dan dana bergulir, serta meningkatkan kualitas SDM pengelola keuangan dan kegiatan.
A.2.2 Upaya Peningkatan Kualitas LKPD
Upaya BPKP untuk membantu pemda dalam meningkatan kualitas LKPD, antara lain melalui kegiatan pembimbingan teknis/asistensi kepada pemda dalam pengelolaan keuangan, penyusunan LKPD dan pendukungnya (BUMD, BLUD, dan badan lainnya), pemberian bantuan dalam mereviu penyusunan LKPD, pembinaan dan penguatan SPIP, pemberian jasa assurance terkait, serta pembinaan kompetensi inspektorat provinsi, kabupaten dan kota.
Pada tahun 2014, telah dilakukan beberapa kegiatan pembinaan terhadap tujuh pemda atau 87,50% dari delapan pemda terkait dengan penyusunan Laporan Keuangan. Lingkup kegiatan pembinaan untuk tahun 2014, antara lain dalam bentuk:
a. Pendampingan reviu atas LKPD;
b. Pendampingan penyusunan LKPD, termasuk penataan BMD; c. Peningkatan kompetensi APIP;
A.2.2.1 Pendampingan Reviu atas LKPD
Dalam rangka membantu pemda melakukan peningkatan kualitas LKPD tahun 2013, BPKP telah melakukan pendampingan penyusunan LKPD terhadap enam pemda yang dilanjutkan dengan pendampingan reviu atas LKPD tahun 2013.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 14 Pendampingan reviu atas LKPD dilakukan terhadap tiga inspektorat kabupaten/kota dengan tujuan :
1. Memberikan keyakinan terbatas atas akurasi, kehandalan dan keabsahan informasi serta pengakuan, pengukuran dan pelaporan transaksi yang sesuai dengan Standar Akuntansi pemerintahan (SAP),.
2. Meningkatkan/memperbaiki sistem pengendalian intern tata kelola penatausahaan dan pengelolaan keuangan yang bermuara pada peningkatan kualitas LKPD (Neraca, LRA, LAK, dan CaLK),
3. Mempercepat penyelesaian tindak lanjut atas temuan pemeriksaan BPK atau APIP dalam rangka mencapai opini WTP dan meningkatkan kompetensi auditor APIP dalam melakukan tugasnya.
4. Terlaksananya transfer of knowledge atas penyelenggaraan akuntansi dan penyajian Laporan Keuangan.
A.2.2.2 Pendampingan Penyusunan LKPD
Pada tahun 2014, jumlah pemda yang didampingi sebanyak tujuh pemda, dengan prioritas utama kepada pemda yang laporan keuangannya belum memperoleh opini WTP. Tujuan pendampingan penyusunan LKPD adalah meningkatkan kualitas LKPD yang sesuai dengan Standar Akuntansi pemerintahan (SAP) dan membantu terlaksananya transfer of knowledge atas penyusunan laporan keuangan.
Terhadap pemda yang belum mendapatkan opini WTP, Perwakilan BPKP Kepulauan Riau bersama pemda-pemda terkait melakukan pemetaan dan penyusunan Rencana Aksi Peningkatan Opini Laporan Keuangan, yaitu kegiatan asistensi penataan aset, pencatatan dana bergulir, verifikasi piutang pajak bumi bangunan, dan pembinaan SPIP.
Pendampingan penyusunan Laporan Keuangan dan Pengelolaan APBD, sebagian menggunakan program aplikasi SIMDA Keuangan yaitu untuk Kabupaten Karimun, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Pendampingan untuk ketiga pemda lainnya, yakni Kota Batam, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga masih manual (tidak menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan). Dengan menggunakan aplikasi SIMDA Keuangan, proses pencatatan keuangan, yaitu penganggaran, penatausahaan, dan penyusunan laporan keuangan, dilakukan
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 15 secara terkomputerisasi sehingga dapat meningkatkan kecepatan, keakuratan, dan kesesuaian pemrosesan informasi keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sampai dengan tahun 2014, jumlah pemda yang telah mengimplementasikan SIMDA adalah sebanyak tujuh pemda, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga. Jenis SIMDA yang diimplementasikan meliputi SIMDA Keuangan yang berfokus pada penatausahaan keuangan daerah (tujuh pemda), SIMDA BMD yang berfokus pada manajemen aset (tujuh pemda), SIMDA Gaji yang berfokus pada penatausahaaan gaji, dan SIMDA Pendapatan yang berfokus pada penatausahaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pemda yang menggunakan aplikasi SIMDA tercantum di Tabel 8 di bawah ini:
Tabel 8
Pemda yang Menggunakan Aplikasi SIMDA
No PEMDA SIMDA KETERANGAN KEUANGAN BMD PENDAPATAN 1 Provinsi Kepulauan Riau √ √ - 2 Kota Tanjungpinang √ √ √ Simda pendapatan, dalam proses implementasi awal 3 Kota Batam √ √ - Simda Keuangan dalam proses implementasi awal 4 Kabupaten Bintan √ √ √ Simda pendapatan, dalam proses implementasi awal 5 Kabupaten Karimun √ √ - 6 Kabupaten Natuna - - - 7 Kabupaten Lingga √ √ - Simda Keuangan dalam proses implementasi awal 8 Kabupaten Kepulauan Anambas √ √ -
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 16 Dengan mulai diberlakukannya standar Akrual Basis dalam sistem akuntansi keuangan pemerintah, maka Perwakilan BPKP Prov. Kepulauan Riau juga telah memberikan kegiatan sosialisasi Akrual Basis, pendampingan penyusunan Kebijakan Akuntansi dan Sistem Prosedur serta implementasi SIMDA versi terbaru yang sudah mengadopsi Akrual Basis yang telah dikembangkan oleh BPKP. Kegiatan ini akan terus berlanjut ditahun 2015 sehingga nantinya Laporan Keuangan Tahun 2015 Pemerintah Daerah se Provinsi Kepulauan Riau sudah disusun menggunakan Akrual Basis.
Percepatan implementasi sistem akuntansi dengan Akrual Basis untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan, memerlukan petugas pengelola keuangan yang handal. Agar hal tersebut terwujud, diperlukan adanya peningkatan kompetensi SDM APIP pada pemda yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan secara terprogram, pemberian sosialisasi, bimbingan teknis, dan workshop di bidang akuntansi dan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.
Kami sarankan kepada Gubernur Kepulauan Riau untuk mendorong Bupati dan Walikota sewilayah Prov. Kepulauan Riau untuk meningkatkan kapasitas pengelola keuangan dan penggunaan Program/ Aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan sistem akuntansi Akrual Basis.
A.2.2.3 Peningkatan Kompetensi SDM APIP
Untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan juga diperlukan auditor yang memahami teknis akuntansi dan teknis auditing. Agar hal tersebut terwujud, diperlukan adanya peningkatan kompetensi SDM APIP pada pemda yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan secara terprogram, pemberian sosialisasi, bimbingan teknis, dan workshop di bidang akuntansi dan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan. Ditambahkan kegiatan yang terkait (diklat SPIP,diklat RLKP, bimtek tata kelola APIP)
A.3. Penugasan SDM BPKP pada Instansi dan Pemda
Dalam rangka percepatan peningkatan kualitas proses pengelolaan keuangan Pemerintah diperlukan SDM yang handal dan memiliki komitmen yang tinggi. Beberapa Instansi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau mengajukan permintaan tenaga dipekerjakan dalam rangka peningkatan kualitas laporan keuangan. Sampai
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 17 dengan tahun 2014 BPKP telah menugaskan 17 (tujuh belas) pegawai untuk diperkerjakan pada 1 (satu) K/L sebanyak 4 orang dan 5 pemda sebanyak 11 orang dan 1 Universitas sebanyak 2 orang, dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Tabel 9 dan table 10.
Tabel 9
Jumlah SDM BPKP Dipekerjakan pada K/L , Pemda dan Universitas Berdasarkan Pemerintahan
No. Pemerintahan Pegawai
1. BP Batam 4
2. Pemda 11
3. Universitas Maritim Raja Ali Haji 2
Jumlah 17
Tabel 10
Jumlah SDM BPKP Dipekerjakan pada Instansi Pemerintah Berdasarkan Jabatan
No. Jabatan Jumlah
1. Eselon II 7
2. Eselon III 9
3. Eselon IV 1
Jumlah 17
B. AKUNTABILITAS KEBENDAHARAAN UMUM NEGARA DAN PENGELOLAAN ASET
Kebendaharaan umum negara (BUN) adalah kegiatan pengelolaan kas, utang dan hibah, investasi pemerintah, penerusan pinjaman, transfer ke daerah,
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 18 belanja subsidi dan belanja lain-lain, serta transaksi khusus badan lainnya oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
Pengawasan BPKP terhadap akuntabilitas kegiatan BUN dilaksanakan berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan, sesuai dengan ketentuan Pasal 49 (2).b. PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian lntern Pemerintah. Tujuan pengawasan intern atas kegiatan BUN adalah menilai apakah kinerja pengelolaan kegiatan BUN telah dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Indikator keberhasilan atas pengawasan akuntabilitas pengelolaan BUN pada saat ini difokuskan terhadap optimalisasi penerimaan negara, penghematan
cost saving, pengelolaan aset negara, dan penyerapan anggaran.
B.1 Penghematan Pengeluaran Keuangan Negara
Pengawasan terhadap pengeluaran keuangan negara dilaksanakan terhadap beberapa kegiatan yang dinilai masih dapat ditingkatkan penghematannya. Pengawasan dilakukan terhadap pengeluaran keuangan negara yang berasal dari klaim pengadaan barang dan jasa dan tagihan pihak ketiga yang telah menghasilkan potensi penghematan pengeluaran negara sebesar Rp2.574.683.366,00
B.1.1 Tagihan Pihak Ketiga dan Audit Operasional
Pengawasan terhadap pengeluaran keuangan negara untuk kegiatan operasional instansi pemerintah dilaksanakan terhadap pengajuan pembayaran tagihan pihak ketiga kepada instansi tersebut. Potensi penghematan/koreksi atas nilai pengajuan pembayaran yang dihasilkan dari audit ini sebesar Rp2.574.683.366,00
Tagihan pihak ketiga dan audit operasional yang cukup materiil, antara lain:
1) PNPM Mandiri Perdesaan pada Kabupaten Bintan, terdapat kelebihan pembayaran atas pekerjaan fisik senilai Rp15.301.221,00, kuitansi bukti biaya konsumsi yang tidak dapat dinyakini kebenarananya senilai Rp3.120.000,00, penyalahgunaan uang angsuran pinjaman Kelompok UEP sebesar Rp7.002.000,00, dan sisa uang muka DOK yang belum dipertanggungjawabkan sebesar Rp1.211.000,00.
2) PNPM Mandiri Perdesaan pada Kabupaten Karimun, Terdapat kelebihan pembayaran dalam penggantian biaya transportasi peserta pelatihan senilai
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 19 Rp3.125.000,00, dan bukti pembayaran biaya sewa alat berat pada TPK Sungai Asam melebih jumlah yang dibayarkan senilai Rp3.200.000,00.
3) Hasil verifikasi atas kekurangan pembayaran Tunjangan Profesi Guru PNSD untuk wilayah provinsi Kepulauan Riau menunjukkan bahwa Tunjangan Profesi Guru PNSD yang harus dibayar Pemerintah adalah sebesar Rp9.424.415.592,00.
Hasil verifikasi juga menunjukkan terdapat kelebihan pembayaran Tunjangan Profesi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (TPG-PNSD) kepada sejumlah guru karena jumlah jam mengajarnya kurang, mengajar tidak sesuai dengan mata pelajaran dalam sertifikat pendidik, menjalankan cuti, pensiun, dan promosi ke jabatan struktural, yang terjadi pada enam kabupaten dan kota (Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Natuna. Kelebihan pembayaran tersebut sebesar Rp223.186.176,00;
4) Hasil verifikasi atas kekurangan pembayaran Tunjangan Profesi Guru Agama untuk wilayah provinsi Kepulauan Riau menunjukkan bahwa Tunjangan Profesi Guru Agama yang harus dibayar Pemerintah adalah sebesar Rp4.121.654.200,00.
Hasil verifikasi juga menunjukkan terdapat kelebihan pembayaran TPG Agama kepada sejumlah guru karena jumlah jam mengajarnya kurang, menjalankan cuti, pensiun, yang terjadi pada 2 (dua) kabupaten (Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna). Kelebihan pembayaran tersebut bertotal sebesar Rp127.595.275,00;
5) Hasil audit klaim dana Jamkesmas atas Rumah Sakit-Rumah Sakit di wilayah Provinsi Kepulauan Riau menghasilkan jumah dana Jamkesmas yang harus dibayar oleh Pemerintah sebesar Rp15.743.402.581,95.
a) Audit juga menemukan adanya penerimaan jasa giro yang belum disetor ke kas negara. Jasa giro merupakan hasil pengelolaan dana luncuran untuk kegiatan klaim Jamkesmas pada:RSUD Kabupaten Natuna senilai Rp39.075.508,00
b) RSUD Embung Fatimah dan Rumah Sakit Casa Medica Kota Batam senilai Rp12.335.834,00
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 20 6) Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), terdapat pencatatan pengeluaran BPP melebihi nilai SPJ beserta bukti-bukti pendukungnya senilai Rp18.879.430,00. terdapat biaya perjalanan dinas tidak dapat dipertanggungjawabkan karena bukti-bukti pendukung diragukan kebenarannya senilai Rp85.774.000,00. Terdapat jasa giro dan pajak pada rekening bendahara pengeluaran Sekretariat Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau yang belum disetorkan pada Kas Negara senilai Rp23.420.000,00.
7) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Tanjungpinang, terdapat pajak yang telah dipungut namun belum disetor ke kas negara senilai Rp 162.008.756,00
B.2 Pengelolaan Aset Negara
Pengawasan BPKP terhadap BUMN/BUMD/BLUD dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan investasi pemerintah kepada BUMN/BUMD berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik, antara lain:
a. Penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); b. Manajemen aset;
c. Penerapan Sistem Informasi Akuntansi PDAM (SIA PDAM);
d. Penerapan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).
e. Sosialisasi dan pengembangan Good Corporate Governance (GCG).
Kegiatan pengawasan terhadap BUMN/BUMD dan badan lainnya pada tahun 2014 dilaksanakan pada empat BLUD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan dua PDAM serta satu Perusda atau 30,43% dari dua puluh tiga BUMD yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, dengan penjelasan sebagai berikut :
a) Bimbingan teknis penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK dan SAK ETAP, yaitu untuk BLUD RSUD Kabupaten Karimun, BLUD RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang dan PDAM Kabupaten Lingga;
b) Audit kinerja terhadap PDAM Tirta Kepri, PDAM Kabupaten Lingga, dan Perusda Kota Tanjungpinang;
c) Sosialisasi dan pengembangan infrastruktur GCG pada PDAM Tirta Kepri, PDAM Kabupaten Lingga, RSUD Kota Tanjungpinang, dan RSUD Provinsi Kepulauan RiauTanjung Uban;
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 21 e) Pendampingan Penyusunan Kebijakan Akuntansi BLUD RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang, RSUD Kota Tanjungpinang dan RSUD Kabupaten Karimun;
f) Pendampingan Penyusunan Lap.Keuangan Badan Layanan Umum Daerah RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang dan RSUD Kabupaten Karimun; g) Evaluasi Kinerja Badan Layanan Umum Daerah pada RSUD Kota
Tanjungpinang dan RSUD Kabupaten Karimun dan RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Uban;
h) Bimtek Penyusunan Dokumen Persyaratan Administrasi bagi tiga Puskesmas menuju PPK BLUD pada Pemda Kabupaten Karimun;
Kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2014 terlihat dari Tabel 11 dibawah ini.
Tabel 11
Kegiatan Pengawasan terhadap BUMD dan Badan Lainnya Pada Tahun 2014
No Nama BUMD Kegiatan Bimtek dan Peny. LK SAK/SAK ETAP Bimtek dan Peny. LK BLUD Bimtek dan Peny. Kebijakan Akuntansi SIA PDAM Audit Kinerja Sosialisas i dan pengemba ngan GCG 1 RSUD Provinsi Kepri Tanjungpinang 1 1 1 - 2 RSUD Provinsi Kepri Tanjung Uban 1 1 3 RSUD Karimun 1 1 1 1 - 4 RSUD Kota Tanjung Pinang 1 1 1
5 PDAM Tirta Kepri 1 1 1
6 PDAM Kabupaten Lingga 1 1 1 7 BUMD Kota Tanjungpinang 1 - 8 Puskesmas Kabupaten Karimun 3 Jumlah 3 5 3 1 6 5
Kinerja PDAM dinilai berdasarkan pedoman penilaian menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 47 tahun 1999 tanggal 31 Mei 1999. PDAM Tirta Kepri
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 22 mendapatkan nilai 51,99 yang tergolong “cukup”. Disamping itu dinilai juga tingkat kesehatan berdasarkan indikator yang dikeluarkan oleh BPPSPAM Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai 2,715 atau dalam kategori “kurang sehat”.Terdapat penurunan kinerja yang disebabkan oleh penurunan dalam rasio laba terhadap aktiva produktif, penurunan rasio laba terhadap penjualan, tingginya kehilangan air, penurunan cakupan pelayanan, dan belum adanya perbaikan kinerja dari aspek administrasi.
PDAM Kabupaten Lingga mendapatkan nilai 47,69 yang tergolong “cukup”. Disamping itu dinilai juga tingkat kesehatan berdasarkan indikator yang dikeluarkan oleh BPPSPAM Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai 2,88 atau dalam kategori “sehat”. Terdapat kenaikan kinerja yang disebabkan oleh rasio aktiva lancar terhadap utang lancar dan rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi yang membaik.
Kinerja BUMD Kota Tanjungpinang dinilai berdasarkan kriteria yang terdapat dalam Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara. Berdasarkan kriteria tersebut, BUMD Kota Tanjungpinang memperoleh nilai sebesar 27,50 dengan kategori CCC atau tidak sehat. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya pendapatan yang diikuti dengan menurunnya laba, tingkat perputaran piutang yang cukup lama, dan adanya beberapa kebijakan yang kurang tepat dalam menentukan usaha lainnya.
Pada tahun 2014, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau melakukan evaluasi Kinerja pada BLUD RSUD di Provinsi Kepulauan Riau dengan hasil evaluasi kinerjanya sebagai berikut;
1) RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Uban yang memperoleh skor kinerja sebesar 63,00 atau dalam katagori “Kurang Sehat”.
2) RSUD Kabupaten Karimun yang memperoleh skor kinerja sebesar 76,35 dalam kategori “Sehat”.
3) RSUD Kota Tanjungpinang yang memperoleh skor kinerja sebesar 62,80 atau dalam kategori “Kurang Sehat”.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 23 Faktor penyebab rendahnya capaian kinerja tersebut antara lain;
a. Sarana prasarana yang masih kurang memadai, misalnya terbatasnya jumlah ruangan pasien rawat inap, fasilitas bangunan yang belum bisa dimanfaatkan, dan kurangnya tempat tidur pasien;
b. System antrian pasien di loket pendaftaran yang kurang efisien; c. Terbatasnya kapasitas poli rawat jalan;
d. Ruang operasi tidak berjalan dengan system 24 jam;
e. Kecepatan pelayanan resep obat terlalu lama di banding kriteria maksimal 8 menit;
f. Rata-rata waktu tunggu pasien dalam pelayanan rawat jalan lebih lama dari kriteria maksimal 30 menit;
g. Belum melakukan pengukuran terhadap capaian dari implementasi SPM; h. Tidak adanya program pembinaan oleh RSUD kepada Puskesmas; i. Tidak dilakukannya uji AMDAL secara berkala;
Disamping itu, ketiga RSUD yang di evaluasi telah mempunyai Sistem Informasi Rumah Sakit namun belum bisa untuk menyusun laporan keuangan.
Kami sarankan kepada Gubernur Kepulauan Riau untuk meningkatkan kinerja BUMD di wilayah Provinsi Kepulauan Riau terutama terhadap BUMD dan BLUD berkinerja tidak sehat dengan memperbaiki kemampuan manajemen.
B.3 Evaluasi Penyerapan Anggaran
Evaluasi penyerapan anggaran dilaksanakan untuk mengidentifikasi tingkat penyerapan anggaran per semester, tujuan evaluasi penyerapan anggaran bertujuan untuk memperoleh informasi tentang penyerapan anggaran, mengidentifikasi permasalahan yang menghambat penyerapan anggaran, serta memberi saran dan langkah-langkah strategis dalam percepatan penyerapan anggaran.
B.3.1 Evaluasi Penyerapan Anggaran Pusat
Pada tahun 2014 telah dilakukan evaluasi penyerapan anggaran dana APBN periode 1 Januari 2014 sampai dengan 30 Juni 2014 pada satker di Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Kementerian Hukum
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 24 dan HAM, Kementerian Agama, KPU, Bawaslu, Kejaksaan RI, BPN dan Badan Meterologi,Klimatologi dan Geofisika (BMG).
Hasil evaluasi penyerapan anggaran pada satker tersebut di atas menunjukkan masih rendahnya penyerapan belanja barang, belanja modal dan belanja bantuan sosial, kondisi ini antara lain disebabkan;
a. Belum adanya Petunjuk Operasional Kegiatan dari pusat b. Petunjuk Teknis pelaksanaan kegiatan masih berupa draft.
c. Adanya revisi DIPA yang menyebabkan proses pengadaan Barang dan Jasa baru dimulai bulan Agustus.
d. KPA yang ditunjuk tidak melaksanakan fungsi secara efektif.
e. Adanya MAK yang bertanda bintang dan baru di buka bulan Maret 2014.
f. Adanya keterbatasan SDM yang menangani kegiatan dan administrasi keuangan.
Kami sarankan kepada Gubernur untuk mendorong Kepala-kepala Satker Instansi Pusat untuk meningkatkan serapan anggaran APBN terutama belanja barang, belanja modal dan belanja bantuan social sejak awal tahun anggaran.
B.3.2 Evaluasi Penyerapan Anggaran Pemda
Pada Tahun 2014 dilakukan evaluasi penyerapan anggaran terhadap realisasi anggaran pada periode 1 Juli 2013 sampai dengan 31 Desember 2013 pada Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau. Pada Semester I Tahun 2014 Evaluasi dilaksanakan terhadap realisasi anggaran pada periode 1 Januari 2014 sampai dengan 30 Juni 2014 pada Pemerintah Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun.
Hasil evaluasi penyerapan anggaran pada masing-masing Pemda tersebut di atas menunjukkan masih rendahnya realisasi belanja barang dan jasa, belanja modal, belanja hibah, dan belanja bantuan sosial. Kondisi ini terutama disebabkan oleh keterlambatan penetapan APBD-P, keterlambatan penetapan pejabat yang bertangungjawab terhadap suatu kegiatan, masih rendahnya kompetensi sumber daya manusia dalam proses penyusunan anggaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan yang dilaksanakan, serta tidak terpenuhinya persyaratan administrasi oleh calon penerima hibah dan bantuan sosial.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 25 Kami sarankan kepada Gubernur Kepulauan Riau meningkatkan serapan APBD Pemda-pemda di wilayah Provinsi Kepulauan Riau terutama pada belanja barang dan jasa, belanja modal dan belanja hibah dan bantuan dengan memperbaiki ketaatan periode penyusunan anggaran, serta peningkatan kompetensi SDM pengelola anggaran dan pengelola kegiatan.
B.4 Verifikasi Pertanggungjawaban Dana Bantuan Hibah
Pada tahun 2014, Perwakilan BPKP Prov. Kepulauan Riau melakukan verifikasi dana hibah terhadap dana hibah Kementerian Agama untuk Panitia MTQ Nasional XXV Prov. Kepulauan Riau dan dan audit hibah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Pelaksanaan verifikasi dan audit dana bantuan bertujuan untuk memastikan bahwa dana bantuan telah digunakan sesuai proposal kegiatan yang disampaikan.
Jumlah dana bantuan diterima oleh Panitia MTQ Nasional XXV dari Kementerian Agama sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam Nomor DJ.II/517 Tahun 2014 tanggal 14 Mei 2014 ke rekening panitian MTQ sebesar Rp999.950.000,00 dari pagu anggaran sebesar Rp1 Milyar. Hasil verifikasi atas pelaksanaan MTQ Nasioanl XXV, antara lain sebagai berikut;
a. Panitia MTQ belum menyampai surat pertanggungjawaban penggunaan dana bantuan kepada Dirjen Bimas Islam;
b. Tidak adanya SOP dan pengaturan Tupoksi MTQ Nasional XXV yang mengakibatkan terjadinya pembebanan yang tidak tepat terhadap anggaran panitia MTQ nasional XXV;
c. Adanya PPh atas pembayaran honor/bonus penari, pembayaran jasa kebersihan, keamanan dan maintenance yang belum dipungut dan disetor ke Kas Negara;
d. Adanya pembayaran honor Dewan juri pawai Ta’aruf tidak sesuai dengan Standar Satuan Harga (SSH) yang diterbitkan Gubernur kepulauan Riau.
Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan audit operasional Dana Hibah pada Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) tahun 2013-2014 atas permintaan dari Rektor Umrah Nomor 1451/UN53.0/TU/2013-2014 tanggal 28
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 26 Agustus 2014. Pelaksanaan audit operasional ini di dikhususkan dana hibah yang berasal dari Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau tahun 2013-2014 sebesar Rp19 Milyar.
Hasil audit operasional ini, menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan pengendalian internal, belum dibuatnya penilaian resiko atas pengelolaan dana hibah, pengendalian terhadap bendahara kurang memadai karena belum dibuatnya SOP pengelolaan/pertanggungjawaban dana hibah, informasi dan komunikasi kurang memadai khususnya pelaporan dan pertanggungjawaban atas pengelolaan dana hibah dan belum dilakukan evaluasi secara terpisah oleh APIP/Irjen kemendikbud dan Inspektorat Provinsi Kepulauan Riau, hal ini ditunjukkan adanya temuan-temuan berupa;
a. Terdapat penggunaan dana hibah yang tidak sesuai dengan proposal.
b. Terdapat penerimaan pada rekening bank yang tidak jelas sumbernya dan pengeluaran yang tidak jelas penggunaannya.
c. Terdapat bunga dana hibah yang belum disetorkan. d. Tidak tertibnya pencatatan atas dana hibah.
C. AKUNTABILITAS PERWUJUDAN IKLIM BAGI KEPEMERINTAHAN YANG BAIK DAN BERSIH
Dalam rangka mewujudkan instansi pemerintah yang tertib administrasi, lingkungan organisasi yang kondusif, dan upaya penyelamatan keuangan negara dalam mendorong perwujudan iklim kepemerintahan yang baik dan bersih, BPKP melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi melalui kegiatan
assurance dan consulting, kerja sama dengan aparat penegak hukum, seperti
Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kegiatan pencegahan dilakukan melalui implementasi SPIP, Fraud
Control Plan (FCP), sosialisasi anti korupsi, assessment penerapan Good Corporote Governance (GCG) pada BUMN, pendampingan PBJ, dan peningkatan kapabilitas
APIP.
C.1 Pembinaan dan Penyelenggaraan SPIP pada K/L dan Pemda
Pengawasan intern yang efektif atas akuntabilitas keuangan negara adalah pelaksanaan sistem pengendalian intern pemerintah pada seluruh tahapan proses
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 27 manajemen/pengelolaan keuangan negara yaitu perumusan kebijakan, perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, hingga monitoring dan evaluasi dalam upaya mencapai Wilayah Tertib Administrasi (WTA), opini WTP, dan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).
Untuk peningkatan keandalan laporan keuangan, pengamanan aset, efektivitas operasi, dan kepatuhan terhadap peraturan pengelolaan dan pelaporan keuangan, perlu dilakukan penguatan SPIP secara terus-menerus. BPKP melakukan pembinaan SPIP berupa penyusunan pedoman teknis, sosialisasi, bimbingan teknis, diklat, dan diagnostic assessment.
Pada tahun 2014 pembinaan SPIP dilaksanakan dalam beragam bentuk kegiatan, sebagai berikut:
a. Sosialisasi SPIP pada Dinas Pendapatan Provinsi Kepulauan Riau.
b. Asistensi Penyusunan Dokumen RTP pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan dan Kota Batam.
c. Penilaian Maturitas SPIP pada Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang dan Kota Batam.
Secara umum hasil kegiatan sosialisasi dan asistensi tentang SPIP tersebut diatas dapat disimpulkan telah dapat dihasilkan identifikasi dan analisis peristiwa risiko dan penetapan Rencana Tindak Pengendalian (RTP) atas Implementasi Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern (SPIP) berdasarkan metode CEE dan CSA.
Penilaian maturitas penyelenggaraan SPIP di Provinsi Kepulauan Riau bertujuan untuk menentukan tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP pada Pemeritah Daerah dan memberikan saran peningkatan level maturitas atas penyelenggaraan SPIP, secara umum hasil penilaian maturitas SPIP dengan hasil sebagai berikut:
a. Penyelenggaraan SPIP kota Batam menunjukkan maturitas berada pada level
Rintisan atau tingkat 1 dari 5 tingkat maturitas SPIP.
b. Penyelenggaraan SPIP Kota Tanjungpinang menunjukkan maturitas berada pada level Rintisan atau tingkat 1 dari 5 tingkat maturitas SPIP.
Disarankan untuk meningkatkan maturitas SPIP ketingkat berikutnya, sebagai berikut;
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 28 1) Menetapkan kebijakan dan prosedur pengendalian untuk semua kegiatan pokok
unit organisasi Pemda sesuai dengan PP Nomor 60 Tahun 2008.
2) Melakukan sosialisasi/diseminasi kebijakan dan prosedur kepada seluruh pegawai.
3) Mengintegrasikan dan menginternalisasikan pengendalian intern sebagai proses yang melekat/intergral dengan seluruh kegiatan pemerintahan.
4) Melakukan evaluasi secara berkala atas efektifitas prosedur pengendalian.
5) Melakukan pemantauan pengendalian yang terintegrasi dan secara otomatis dalam setiap kegiatan.
C.2 Pencegahan KKN melalui Upaya Preventif - Edukatif
Pencegahan KKN melalui upaya preventif-edukatif dilaksanakan melalui pengembangan Fraud Control Plan atau Rencana Aksi Pemerintahan yang Bersih, sosialisasi program antikorupsi, assessment penerapan Good Corporote
Governance (GCG) pada BUMN, dan pendampingan PBJ.
C.2.1 Fraud Control Plan (FCP)
Tahun 2014 Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan kegiatan Fraud Control Plan berupa sosialisasi Fraud Control Plan dan Bimbingan Teknis pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau. Pelaksanaan ini kegiatan untuk memberikan gambaran dan pemahaman FCP yang bersifat preventif dan menumbuhkan kepedulian pimpinan instansi dan seluruh pegawai untuk mengimplementasikan pada unit organisasinya.
Hasil pelaksanaan kegiatan sosialisasi FCP yang di Kota Batam dengan hasil sebagai berikut;
1) Tingkat pemahaman peserta terhadap FCP di nilai sangat paham. 2) Tingkat keperdulian peserta dinilai cukup memadai
3) Perhatian dan antusiasme peserta dalam diskusi cukup tinggi.
4) Adanya komitmen Pimpinan Organisasi untuk menerapkan FCP untuk menjadikan Pilot Project Kantor Pelayanan Pajak Daerah (KPPD) Kota Batam Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 29 Dari kegiatan Bimbingan Teknis penerapan FCP telah di identifikasikan dan evaluasi area/bidang dari atribut Program Anti Korupsi (PAK) untuk Kantor Pelayanan Pajak Kota Batam, antara lain sebagai berikut;
1) Hasil identifikasi atas area/bidang atribut PAK pada Pemerintah Daerah Provinsi memperoleh skor rata-rata 6,7 dari nilai maksimal 10 yang di katagorikan cukup memiliki resiko fraud.
2) Hasil evaluasi atas eksistensi dan implementasi pada Pemda Provinsi Kepulauan Riau memiliki tingkat pengendalian resiko kategori tinggi.
3) Hasil pengumpulan persepsi responden menunjukkan bahwa organisasi yang dievaluasi cenderung baru sebagian kecil menerapkan atribut FCP dengan predikat kurang.
4) Dari hasil evaluasi atas tugas dan tanggungjawab terdapat resiko yang tinggi terhadap kemungkinan adanya kecurangan/fraud.
C.2.1 Sosialisasi Program Antikorupsi (SOSPAK)
Sosialisasi Program Antikorupsi (SOSPAK) dilaksanakan sebagai bagian dari strategi pencegahan KKN melalui upaya edukasi dengan memberikan edukasi kepada masyarakat berlandaskan pemikiran bahwa kejadian korupsi dapat dimulai, difasilitasi, didorong, dilaksanakan, dipengaruhi, dihambat, dicegah, dan diketahui oleh masyarakat di sekitar pelaku korupsi.
Kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab BPKP dalam pemberantasan korupsi sesuai dengan peran BPKP menurut PP Nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP, yaitu tanggap terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat. BPKP sebagai APIP diharapkan memberi kontribusi untuk membantu upaya pencegahan kebocoran, terutama di internal pemerintah.
Tujuan akhir dari edukasi masyarakat adalah terciptanya public awareness yaitu masyarakat yang mempunyai budaya malu untuk melakukan korupsi dan masyarakat yang proaktif dalam mencegah dan memberantas korupsi. Dalam pelaksanaan SOSPAK telah disampaikan pesan sebagai berikut:
a. Korupsi memiliki dampak negatif terhadap individu, pembangunan, dan kemakmuran;
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 30 c. Korupsi telah menyebabkan kualitas layanan publik menjadi hilang atau
berkurang;
d. Korupsi hanya dapat dibendung dan dicegah secara bersama-sama melalui partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Kegiatan SOSPAK telah dilakukan pada tanggal 13 Juni 2014 di SMAN 1 Batam dengan jumlah peserta sebanyak 322 orang dan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dengan peserta siswa-siswi Kelas 6 SD dan siswa-siswi Kelas 2 SMP se-Kabupaten Bintan.
C.2.2 Korsup Pencegahan Korupsi
Dalam tahun 2014, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan kegiatan Koordinsi Supervisi Pencegahan Korupsi dan semiloka Koordinasi Supervisi Pencegahan Korupsi. Pelaksanaan Korsupgah ini dilaksanakan pada Pemerintah Daerah Kota Batam dan Kabupaten Bintan, sedangkan kegiatan semiloka Korsupgah dilaksanakan pada Provinsi Kepulauan Riau selama 3 (tiga) hari pada tanggal 26 Nopember sampai dengan 28 Nopember 2014.
Pelaksanaan Korsupgah pada Pemerintah Kota Batam dan Kabupaten Bintan dilaksanakan pada Bidang Pendapatan, Bidang Pengelolaan APBD dan Bidang Pertambangan. Tujuan dilaksanakan kegiatan Korsup pencegahan ini untuk melakukan pengamatan atas bidang pendapatan, bidang pengelolaan keuangan dan bidang pertambangan serta melakukan identifikasi resiko atas kegiatan-kegiatan sesuai dengan ruang lingkup korsup.
Hasil pelaksanaan Korsup Pencegahan Korupsi pada Pemerintah Daerah di atas, sebagai berikut;
1) Pelaksanaan pengelolaan pendapatan khusus PAD belum optimal.
2) Anggaran Belanja pada APBD tahun 2013 dan 2014 belum sepenuhnya memperioritaskan urusan wajib.
3) Penetapan anggaran pendapatan lebih rendah dari yang seharusnya.
4) Pertanggungjawaban atas pemberian hibah dan bansos yang belum dilakukan secara memadai.
5) Hibah yang diberikan secara terus menerus.
6) Belum adanyaperaturan teknis yang mengatur pajak mineral bukan pajak logam dan batuan serta pajak bumi dan bangunan.
Akuntabilitas Keuangan dan Pembangunan 31 7) Keterbatasan tenaga pemeriksa.
8) Bidang pendapatan belum menyusun dasar perhitungan potensi penerimaan pajak.
9) Belum optimalnya pelaksanaan pendataan dan penggalian potensi perpajakan. 10) Belum dilakukannya pemutahiran data NJOP
11) Belum adanya ketentuan yang jelas terhadap batasan bantuan social dan hiibah.
12) Perubahan asumsi alokasi pendapatan pada saat penyusunan KUA PPAS. 13) Kurangnya konsisten (TAPD dan legislatf) terhadap perencanaan dan
penggangaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
14) Kurangnya evaluasi dan verifikasi oleh SKPD dan TAPD terhadap pelaksanaan hubah dan bansos.
15) Pelaksanaan pertambangan belum sepenuhnya berpedoman pada ketentuan perundang-undangan dibidang pertambangan baik pemberian ijin, pengawasan atas ijin yang diberikan dan pengawasan atas reklamasi dan pasca tambang.
Hasil Kooordinasi dan Supervisi Pencegahan korupsi tersebut telah dilaksanakan Semiloka di Provinsi kepulauan Riau.
Dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas, kami sarankan Gubernur untuk mendorong Pemda-pemda di Prov. Kepulauan Riau membangun sistem pengendalian intern berupa rencana tindak pengendalian untuk kegiatan APBD, Pendapatn dan Pertambangan.
C.2.3 Sosialisasi Penerapan GCG pada BUMD dan BLUD
Dalam tahun 2014, Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau telah melakukan sosialisasi penerapan GCG dan bimbingan teknis penyusun infrasruktur GCG pada PDAM Tirta Kepri dan PDAM Lingga serta pada RSUD Kota Tanjungpinang dan RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Uban.
Dengan sosialisasi GCG di ketahui bahwa PDAM dan RSUD belum mempunyai infrastruktur untuk mengimplementasikan GCG berupa Pedoman GCG (Code of Corporate Governance), Pedoman Perilaku (Code of Conduct), Pedoman Dewan pengawas/Badan Pengawas/Dewan Komisaris dan Direksi (Board Manual).