• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akuntansi Aset Tetap Lainnya 1 Definisi Aset Tetap Lainnya

Dalam dokumen MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 90-93)

Ilustrasi III: Perolehan Gedung dan Bangunan melalui Kredit

E. Akuntansi Aset Tetap Lainnya 1 Definisi Aset Tetap Lainnya

Buletin Teknis No.15 tentang Akuntansi Aset Tetap Berbasis Akrual menjelaskan bahwa Aset Tetap Lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok Aset Tetap Tanah, Aset Tetap Peralatan dan Mesin, Aset Tetap Gedung dan Bangunan, Aset Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

Aset yang termasuk dalam klasifikasi Aset Tetap Lainnya adalah koleksi perpustakaan/buku dan non buku, barang bercorak kesenian/kebudayaan/olah raga, hewan, ikan, dan tanaman. Termasuk dalam kategori Aset Tetap Lainnya adalah Aset Tetap-Renovasi, yaitu biaya renovasi atas aset tetap yang bukan miliknya, dan biaya partisi suatu ruangan kantor yang bukan miliknya.

E.2 Pengakuan Aset Tetap Lainnya

Dalam menentukan apakah suatu pos mempunyai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan, suatu entitas harus menilai manfaat ekonomi masa depan yang dapat diberikan oleh pos tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah.

Manfaat tersebut dapat berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. Manfaat ekonomi masa yang akan datang akan mengalir ke suatu entitas dapat dipastikan bila entitas tersebut akan menerima manfaat dan menerima risiko terkait.

Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika manfaat dan risiko telah diterima entitas tersebut.

Sebelum hal ini terjadi, perolehan aset tidak dapat diakui.

Pengukuran dapat dipertimbangkan andal biasanya dipenuhi bila terdapat transaksi pertukaran dengan bukti pembelian aset tetap yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aset yang dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat diperoleh dari transaksi pihak eksternal dengan entitas tersebut

86 Petunjuk Teknis Akuntansi Kementerian Luar Negeri

untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi.

Tujuan utama dari perolehan aset tetap adalah untuk digunakan oleh pemerintah dalam mendukung kegiatan operasionalnya dan bukan dimaksudkan untuk dijual.

Saat pengakuan aset akan lebih dapat diandalkan apabila terdapat bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum. Apabila perolehan aset tetap belum didukung dengan bukti secara hukum dikarenakan masih adanya suatu proses administrasi yang diharuskan, maka aset tetap tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan atas aset tetap tersebut telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat asset tetap lainnya atas nama pemilik sebelumnya.

Buletin Teknis No.15 tentang Akuntansi Aset Tetap Berbasis Akrual menjelaskan bahwa Aset Tetap Lainnya diakui pada saat Aset Tetap Lainnya telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan/atau pada saat penguasaannya berpindah serta telah siap dipakai oleh entitas. Khusus mengenai pengakuan biaya renovasi atas aset tetap yang bukan milik dapat mengacu pada Buletin Teknis Nomor 04 tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah sebagai berikut:

1. Apabila renovasi aset tetap tersebut meningkatkan manfaat ekonomi dan sosial aset tetap misalnya perubahan fungsi gedung dari gudang menjadi ruangan kerja dan kapasitasnya naik, maka renovasi tersebut dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi. Apabila renovasi atas aset tetap yang disewa tidak menambah manfaat ekonomi, maka dianggap sebagai Beban Operasional. Aset Tetap-Renovasi diklasifikasikan ke dalam Aset Tetap Lainnya.

2. Apabila manfaat ekonomi renovasi tersebut lebih dari satu tahun buku, dan memenuhi butir 1 di atas, biaya renovasi dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi, sedangkan apabila manfaat ekonomi renovasi kurang dari 1 tahun buku, maka pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai Beban Operasional tahun berjalan.

3. Apabila jumlah nilai moneter biaya renovasi tersebut material, dan memenuhi syarat butir 1 dan 2 di atas, maka pengeluaran tersebut dikapitalisasi sebagai Aset Tetap–

Renovasi. Apabila tidak material, biaya renovasi dianggap sebagai Beban Operasional.

Pengakuan Aset Tetap Lainnya harus memperhatikan kebijakan pemerintah tentang ketentuan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap. Sebagai contoh, pada pemerintah Pusat kebijakan nilai satuan minimum kapitalisasi adalah: Aset Tetap Lainnya berupa koleksi perpustakaan/buku dan barang bercorak kesenian/kebudayaan tidak ada nilai satuan minimum sehingga berapa pun nilai perolehannya dikapitalisasi.

E.3 Pengukuran Aset Tetap Lainnya

PSAP No 07 menyatakan Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan. Lebih lanjut lagi Buletin Teknis No.15 tentang Akuntansi Aset Tetap Berbasis Akrual menjelaskan bahwa biaya perolehan Aset Tetap Lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai. Biaya perolehan Aset Tetap Lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, pajak, serta biaya perizinan.

Biaya perolehan aset tetap lainnya yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, biaya perizinan, pajak, jasa konsultan dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap lainnya tersebut.

87 Petunjuk Teknis Akuntansi Kementerian Luar Negeri

Aset Tetap Lainnya yang dikapitalisasi dibukukan dan dilaporkan di dalam Neraca. Aset Tetap Lainnya yang tidak dikapitalisasi tidak disajikan dalam Neraca, namun tetap diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

E.4 Pencatatan Aset Tetap Lainnya

1. Jurnal otomatis bentukan aplikasi SAIBA sesuai SP2D adalah sebagai berikut:

Akun Keterangan Debit Kredit

166411 Aset Lainnya yang Belum Diregister XXX

313111 Ditagihkan ke Entitas Lain XXX

2. Jurnal otomatis bentukan aplikasi SIMAK BMN ketika aset tetap lainnya diterima adalah sebagai berikut:

Akun Keterangan Debit Kredit

135111 Aset Tetap Lainnya – Aset Tetap

Renovasi XXX

166411 Aset Lainnya yang Belum Diregister XXX

3. Jurnal pengakuan kerugian selisih kurs apabila SP2D > BAST adalah sebagai berikut:

Akun Keterangan Debit Kredit

596411 Beban Penyesuaian Selisih Kurs XXX

166411 Aset Lainnya yang Belum Diregister XXX

4. Jurnal pengakuan pendapatan selisih kurs apabila SP2D < BAST adalah sebagai berikut:

Akun Keterangan Debit Kredit

166411 Aset Lainnya yang Belum Diregister XXX

491312 Pendapatan Penyesuaian Selisih Kurs XXX

Ilustrasi Kasus:

Perwakilan XYZ melakukan renovasi senilai USD100,000 atas Gedung kantor yang masih bersifat sewa. Renovasi ini mengakibatkan meningkatnya masa manfaat Gedung tersebut.

Pekerjaan renovasi selesai tanggal 14 Juli 20X1 dengan kurs tengah BI USD 1 = Rp14.600.

Pengeluaran atas renovasi terbit SP2D tanggal 7 Agustus 20X1 dengan kurs SP2D Rp14.620.

1. Jurnal otomatis bentukan aplikasi SIMAK BMN ketika aset tetap lainnya diterima adalah sebagai berikut:

Tanggal Akun Keterangan Debit Kredit

14/07/20X1 135111 Aset Tetap Lainnya – Aset

Tetap Renovasi 1.460.000.000 166411 Aset Lainnya yang Belum

Diregister 1.460.000.000

USD100,000 x Rp14.600 = Rp1.460.000.000

2. Jurnal otomatis bentukan aplikasi SAIBA sesuai SP2D adalah sebagai berikut:

Tanggal Akun Keterangan Debit Kredit

07/08/20X1 166411 Aset Lainnya yang Belum

Diregister 1.462.000.000

313111 Ditagihkan ke Entitas Lain 1.462.000.000 USD100,000 x Rp14.620 = Rp1.462.000.000

88 Petunjuk Teknis Akuntansi Kementerian Luar Negeri

3. Jurnal pengakuan kerugian selisih kurs atas SP2D > BAST adalah sebagai berikut:

Akun Keterangan Debit Kredit

596411 Beban Penyesuaian Selisih Kurs 2.000.000

166411 Aset Lainnya yang Belum Diregister 2.000.000

Rp1.462.000.000 – Rp1.460.000.000 = Rp2.000.000

E.5 Penyajian dan Pengungkapan Aset Tetap Lainnya

Sesuai dengan PSAP 07, aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Penyusutan atas Aset Tetap Lainnya pada suatu periode disajikan sebagai beban penyusutan dalam Laporan Operasional.

Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan:

1. Dasar penilaian yang digunakan untuk mencatat Aset Tetap Lainnya;

2. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap Lainnya;

3. Rekonsiliasi nilai tercatat Aset Tetap Lainnya pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

a. Penambahan (pembelian, hibah/donasi, reklasifikasi dari Konstruksi dalam Pengerjaan, pertukaran aset, dan lainnya);

b. Perolehan yang berasal dari pembelian/pembangunan direkonsiliasi dengan total belanja modal untuk Aset Tetap Lainnya.

c. Pengurangan (penjualan, hibah/donasi, pertukaran aset, dan lainnya);

d. Perubahan nilai, jika ada.

4. Informasi penyusutan Aset Tetap Lainnya yang meliputi: nilai penyusutan, metode penyusutan yang digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, serta nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.

Dalam dokumen MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 90-93)