• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.5. Alak Simpang Tonang: Pengidentifikasian Diri dan

Berbahasa Mandailing tetapi dalam keseharinnya mengenakan adat-istiadat Minangkabau, agaknya membuat sebahagian masyarakat rancu dalam menetapkan identitas dirinya. Meskipun mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai “Urang Minang” tetapi masyarakat lain melihat mereka bukan orang Minangbau. Hal ini disebabkan karena mereka berkomunikasi dengan bahasa Mandailing dan mereka memiliki rmarga seperti orang Mandiling, yakni: Lubis dan Nasution. Hal ini menimbulkan keraguan sebagian orang untuk mengatakan kelompok masyarakat tersebut adalah orang Minangkabau. Begitu juga dengan saudara mereka di Utara, mereka mengakui bahwa masyarakat tersebut memang berasal dari tanah Batak. Namun, mereka sudah tidak paham dan tidak menerapkan lagi adat-istiadat Batak (habatakon). Mereka kemudian dijuluki dengan istilah “na leplap” atau “dalle” yaitu etnis Batak yang tak paham adat-istiadat Batak.

Keadaan demikianlah yang membuat mereka bangga menegaskan diri sebagai “Alak Pangtonang” atau orang Simpang Tonang. Mereka sadar bahwa kebudayaan mereka sebenarnya tidak sepenuhnya sama dengan kebudayaan Minangkabau dan kebudayaan Mandailing. Bagi mereka hidup bersama justru lebih penting daripada membahas perbedaan budaya yang ada. Bahkan demi bisa hidup survive, mereka menghilangkan marganya.

Kebudayaan yang terbentuk pun merupakan perpaduan antara kebudayaan Mandailing dengan Minangkabau. Hal ini terlihat pada sistem kekerabatan,

pemerintahan adat, bahasa dan juga seni masyarakat setempat. Dalam bidang kesenian misalnya, tidak ada lagi tortor dan gordang sambilan serta onang-onang yang menjadi masyarakat Mandailing. Di daerah ini lahir kesenian ronggeng14 dan dikiarapano15

Seiring dengan perkembangan zaman, tampaknya banyak dari generasi muda Simpang Tonang yang merasa aneh dengan keunikan identitas yang mereka miliki. Hal ini turut dipengaruhi oleh arus globalisasi yang membuat Nagari Simpang Tonang seperti tidak berbatas lagi. Alak Simpang Tonang telah akrab dengan media internet, televisi, telephone seluler, dan lain sebagainya. Dengan memanfaatkan media ini tentu mereka dapat mengakses berbagai informasi yang ada, salah satunya mengenai kebudayaan. Di samping itu dengan memanfaatkan

.

Sebagai pendatang etnis Mandailing pada generasi pertama berusaha untuk menjadi identik dengan etnis Minangkabau. Banyak kebudayaan Minangkabau yang mereka adopsi mereka, mulai dari bahasa, kebiasaan hidup, tradisi-tradisi budaya dan sebagainya. Hubungan mereka dengan bona pasogit atau daerah asal pun dapat dikatakan sudah terputus. Hal ini menyebabkan kebudayaan daerah asal sudah hampir terlupakan dan sudah amat jarang dilaksanakan, mereka pun tidak menggunakan marga dalam dokumen formalnya, sekalipun mereka tahu dan sadar atas marga mereka.

14

Ronggeng Pasaman merupakan satu tradisi lisan Minangkabau, berupa seni pertunjukan yang terdiri atas pantun, tari atau joget, dan musik. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada hari besar Islam. Kesenian ini sangat berkembang di Nagari Cubadak dan Simpang Tonang Kabupaten Pasaman.

15

Kesenian ini biasanya dimainkan pada saat upacara-upacara adat seperti mengantarkan

marahpulai dan upacara turun mandi. Kesenian ini dimainkan oleh tiga atau empat orang pemain dengan bernyanyi dan mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT sambil memukul sejenis rebana. Adapun kata-katanya diambil dari buku bersanji yang terdiri dari tiga irama yaitu: irama

lancarnya sarana transportasi, tidak sedikit alak Simpang Tonang yang merantau ke daerah tetangga seperti Medan, Padang dan Pekanbaru. Di perantauan, alak Simpang Tonang bertemu dengan berbagai etnis lain dan etnis Mandailing yang masih mempertahankan adat-istiadatnya. Dari bahasa yang mereka gunakan ketika berkomunikasi di antara sesama alak Simpang Tonang, tentu etnis lain menganggap mereka adalah etnis Batak. Namun alak Simpang Tonang tidak suka disebut sebagai orang Batak karena dalam identitas tersebut terdapat berbagai stereotype16

16

Stereotype adalah pandangan atau penilaian mengenai sifat-sifat dan watak pribadi suatu individu atau golongan lain yang bersifat subjektif, tidak tepat, dan cenderung negatif karena tidak lengkapnya informasi yang didapatkan.

dan mereka adalah penganut agama Islam yang membuat mereka berbeda dari kebanyakan. Mereka merasa lebih dekat dengan saudara-saudaranya yang berasal dari Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan. Setelah menjalin interaksi dengan etnis lain ini maka ada rasa kegalauan identitas yang timbul dalam diri alak Simpang Tonang. Bahkan ada yang beranggapan bahwa kebudayaan saudaranya yang berasal dari Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan itulah yang lebih benar sebagaimana mestinya. Di rantau pun tidak sedikit mereka menemukan jodoh yang masih mempertahankan adat Mandailing. Mereka pun akan mengadopsi adat serta kebudayaannya. Keberadaan ikatan para perantau pun turut merubah pola fikir alak Simpang Tonang mengenai identitasnya. Bahkan ada yang berfikiran ekstream untuk mengembalikan adat sumondo kepada adat manjujur. Belakangan makin banyak yang mencoba untuk menguatkan identitas kemandailingannya. Misalnya saja penampilan kesenian tortor dan gordang sambilan Mandailing pada pelantikan Rajo Sontang beberapa waktu yang lalu.

2.5.2. Sistem Kekerabatan dan Pergeseran Konsep Dalihan Natolu di Simpang Tonang

Berbicara mengenai sistem kekerabatan maka tidak akan lepas dari perkawinan sebagai pondasinya. Di samping merupakan suatu proses melanjutkan keturunan secara genealogi, perkawinan juga akan memperlebar jarak persaudaraan atau yang lebih dikenal dengan istilah kekerabatan. Bagi masyarakat Simpang Tonang sistem kekerabatan yang mereka anut ialah sistem kekerabatan matrilineal (silsilah keturunan yang diperhitungkan melalui garis ibu) sebagaimana etnis Minangkabau lainnya. Anak-anak akan lebih dekat dan akrab dengan keluarga ibunya dibangdingan dengan keluarga ayahnya. Dalam sistem kekerabatan matrilinial ini terdapat 3 unsur yang paling dominan, yakni: 1) Garis keturunan menurut ibu, 2) Perkawinan eksogami matrilineal (harus dengan kelompok lain di luar kelompok sendiri), dan 3) Ibu memegang peranan yang sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan dan kesejahteraan keluarga.

Dengan mengadopsi sistem matrilineal, marga Mandailing yang mereka miliki pun diturunkan dari ibunya. Jika dia bermarga Nasution, maka ibunya pun pasti bermarga Nasution. Sebagian lagi yang masih mempertahankan sistem patrilineal menurunkan marganya dari ayah. Namun secara keseluruhan marga-marga yang mereka miliki haya sebagai “hiasan” semata, bukan identitas yang penting. Marga tidak lagi turut membentuk struktur masyarakat seperti di Mandailing. Bahkan tidak sedikit yang bingung apabila ditanya tetang marganya. Hal ini terjadi akibat terjadinya perkawinan campuran antara etnis Mandailing dan Minangkabau di Simpang Tonang.

Pada masyarakat Simpang Tonang dikenal adanya hubungan saboltok (seperut) atau dikenal juga dengan istilah sadaina. Hubungan saboltok ini merupakan tingkat sanak unyang yang paling jauh, yakni ibu dari nenek. Beberapa boltok ini kemudian membentuk satuan terkecil dalam masyarakat, yang disebut koum. Dalam suatu koum biasanya terdiri dari tiga boltok (induk) yang terdiri dari lima keturunan dari garis ibu (senenek). Kaum ini dikepalai oleh mamak kaum yang disebut mamak tuo. Beberapa koum kemudian menghimpun dalam satu kepenghuluan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.

saboltok sakoum sapanghulu

Gambar 3. Kesatuan Genelogis dan Tertorial Masyarakat Simpang Tonang Gambaran di atas sama dengan konsep yang terdapat di Minangkabau, hanya berbeda istilah penyebutannya saja. Dalam pelembagaan matrilineal Minangkabau terdapat berbagai unit kesatuan, yakni: pertama, serumah sebagai kesatuan yang paling rendah disebut juga dengan samande (berasal dari satu ibu); kedua, sajurai sebagai kesatuan yang lebih tinggi dari serumah jika terus berkembang; ketiga, saparuik (berasal dari nenek yang sama), sebagai kesatuan yang menempati rumah gadang asal jika masih bisa ditelusuri silsilahnya; keempat sasuku (satu nenek moyang), sebagai kesatuan yang paling tinggi, tetapi sulit menelusuri silsilahnya karena sudah berkembang sedemikian rupa (Yaswirman: 2011:120-121).

Adanya kesatuan-kesatuan tersebut tidak terlepas dari konsep persekutuan yang bersifat genelogis dan teritorial. Menurut Kharlie (2013:117), dalam persekutuan genelogis anggota-anggotanya merasa diri terikat satu sama lain karena mereka berketurunan dari nenek moyang yang sama, sehingga di antara mereka terdapat hubungan keluarga. Sementara dalam persekutuan teritorial anggotanya terikat karena bertempat tinggal di suatu daerah yang sama. Di Sumatera Barat dan Simpang Tonang persekutuan teritorial ini disebut dengan nagari.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Simpang Tonang terdapat berbagai istilah partuturon. Menurut Nasution (2005), partuturon merupakan penentu etika, sikap dan tingkah laku yang menunjukkan sejauh mana hubungan seseorang dengan orang lain berdasarkan hubungan darah, hubungan kekerabatan, atau hubungan perkawinan. Panggilan kekerabatan ini lahir dari adanya hubungan perkawinan Berbagai istilah kekerabatan tersebut telah mengalami persentuhan antara kebudayaan Mandailing dan Minangkabau. Adapun panggilan kekerabatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Apak, merupakan sebutan terhadap orang tua laki-laki dari ego

b. Indek/umak, merupakan sebutan terhadap orang tua perempuan dari ego

c. Angkang, merupakan sebutan terhadap kakak laki-laki atau perempuan dari ego

d. Nggik, merupakan sebutan terhadap adik laki-laki atau perempuan dari ego e. Nonok/nenek, merupakan panggilan kekerabatan terhadap orangtua dari ayah

atau ibu si ego.

f. Uwo, merupakan panggilan kekerabatan terhadap orang tua laki-laki/ perempuan dua tingkat diatas ayah dan ibu Ego

g. Amei/namboru/bou, panggilan kepada kakak atau adik perempuan dari ayah ego

h. Pak tuo, merupakan panggilan kepada kakak laki-laki dari ayah ego i. Pak etek/uda, merupakan panggilan kepada adik laki-laki dari ayah

j. Mamak, merupakan panggilan kepada saudara laki-laki dari ibu dan ego akan dipanggil bere atau babere olehnya

k. Unyang/etek, merupakan panggilan kepada adik perempuan dari ibu ego l. Ndek tuo kakak perempuan ibu ego

m. Ipar/pariban, panggilan kepada saudara laki-laki dari isteri ego

n. Adaboru, merupakan isteri dari ego biasanya dipanggil dengan sebutan indek anu atau namanya

o. Anak, merupakan anak laki-laki dari ego, biasanya dipanggil dengan sebutan apak atau namanya atau namanya langsung

p. Boru, merupakan anak perempuan dari ego, biasanya,dipanggil dengan sebutan indek atau namanya langsung

q. Pahompu, merupakan sebutan nenek kepada cucunya sementara panggilannya nggik

r. Parmaen adalah anak pisang atau menantu perempuan s. Lae, panggilan antara lelaki sesama besar

Untuk dapat lebih memahami konsep partuturon yang berlaku di Simpang Tonang dapat dilihat pada gambar di halaman sebelah.

Gambar 4. Diagram Kekerabatan atau Partuturon di Simpang Tonang Dari panggilan-panggilan kekerabatan tersebut dapat kita lihat bahwa terdapat saling pinjam-meminjam istilah antara etnis Mandailing dan Minangkabau. Panggilan-panggilan kekerabatan di atas dikenal dengan istilah martutur. Martutur merupakan suatu bentuk refleksi dari nilai kesopan-santunan seseorang ketika berkomunikasi. Sebelum melakukan komunikasi lebih lanjut biasanya alak Simpang Tonang selalu menarik garis kekerabatan terlebih dahulu agar mengetahui posisinya dalam kerabat dan tutur apa yang sepantasnya diucapkan olehnya dan kepadanya. Lebih lanjut Koentjaraningrat (1967)

F F F F E E H G A I G F F F F E E L B K J J C D C D G M N O P

membedakan dua istilah dalam sistem kekerabatan. Pada umumnya tiap bahasa memiliki dua macam sistem istilah yaitu: istilah menyebut dan istilah menyapa. Istilah menyebut digunakan untuk memanggil seseorang apabila berhadapan dengan orang lain atau berbicara tentang orang ketiga; sementara istilah menyapa digunakan untuk memanggil seseorang apabila berhadapan langsung.

Selain martutur di Simpang Tonang juga terdapat adanya pelapisan sosial, meskipun tidak begitu kentara. Pelapisan sosial tersebut berupa perbedaan antara penduduk yang mula-mula membuka perkampungan tersebut atau yang dikenal dengan natobang natoras dengan penduduk yang datang belakangan. Penduduk pendatang tersebut harus mengisi adat dan menuang limbago terlebih dahulu, maksudnya mengaku sebagai kemenakan dari niniak mamak yang ada dengan syarat harus beragama Islam dan berjanji untuk mengikuti adat istiadat Minang.

Perubahan sistem kekerabatan pada masyarakat Simpang Tonang membawa dampak terhadap perubahan struktur sosial masyarakat. Di Simpang Tonang peranan niniak mamak lebih kuat dibandingkan dengan konsep Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga) yang menjadi ciri khas etnis Mandailing. Bahkan bisa dikatakan bahwa konsep Dalihan Na Tolu ini telah hilang seiring pergantian zaman. Dalihan Na Tolu sendiri merupakan suatu sistem kekerabatan yang terdiri dari tiga kelompok, yakni: golongan mora, yaitu pemberi anak gadis, anak boru, yaitu penerima anak gadis, dan kahanggi yaitu kelompok kerabat satu marga. Ketiga kelompok kekerabatan tersebut masing-masing memiliki kedudukan dan saling terikat berdasarkan hubungan fungsionalnya. Dalam setiap upacara adat

ketiga kelompok tersebut memiliki hak dan kewajibannya sendiri-sendiri. Misalnya saja kelompok anak boru yang bertugas sebagai parhobas atau pelayan. Pada prinsipnya di Kanagarian Simpang Tonang masih terdapat ciri-ciri khas suatu wadah kelembagaan Mandailing, yakni natobang natoras. Namun, wadah tersebut diisi juga dengan prinsip-prinsip Minangkabau seperti adanya mamak yang mewakili keluarga dalam struktur masyarakat berdasarkan garis keturunan ibu. Di Simpang Tonang mamak tersebut dikenal dengan istilah Niniak Mamak Na Sapulu. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan adat Mandailing, dimana masyarakat tidak mengenal kedatukan hanya ada kerajaan yang masyarakatnya dibentuk berdasarkan marga-marga.

2.6. Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial yang Dijalin dalam Kehidupan Sehari- hari antara Etnis Mandailing dan Minangkabau di Simpang Tonang

Kerjasama, konflik dan akomodasi merupakan tiga bentuk kemungkinan atau konsekuensi yang tidak terhindarkan dalam setiap hubungan antar etnis. Konsekuensi itu dapat terjadi antarkelompok etnik yang memiliki ciri-ciri kelompok, identitas dan nilai-nilai budaya sendiri yang diterima oleh dan dapat dibedakan dari kelompok lain. Pada masyarakat Simpang Tonang yang terjadi ialah hubungan yang sangat harmonis. Hal ini terjalin karena masyarakat lebih menekankan pada aspek kebersamaan dan tidak menonjolkan perbedaan yang ada. Pada umumnya masyarakat Simpang Tonang mengenal antara satu dengan lainnya. Bukan hanya etnis Mandailing saja, melainkan mereka juga mengenal tetangganya etnis Minang secara mendalam. Hal ini terjadi akibat

adanya hubungan kekeluargaan melalui perkawinan. Bahkan tidak jarang ditemukan perkawinan campuran antara kedua etnis tersebut. Mereka saling bertegur-sapa ketika bertemu di jalan, mengobrol di teras rumah dan ketika berbelanja di lopo atau kedai. Di samping itu juga ada juga perkumpulan ibu-ibu majelis pengajian dan organisasi muda-mudi masjid. Sarana-sarana tersebut dinilai cukup fungsional dalam menjalin hubungan antar etnis yang ada. Hubungan saling tolong-menolong pun dilakukan tanpa membeda-bedakan etnis, baik dalam kehidupan sehari-hari, acara yang bersifat sukacita seperti pesta perkawinan maupun peristiwa duka atau meninggal dunia. Dengan hubungan yang sangat intensif tersebut menyebabkan terjadinya pertukaran bahasa antar-etnis. Seseorang yang pergaulannya luas biasanya akan menguasai kedua bahasa yang ada. Terkadang dalam suatu percakapan terjadi pergantian antara satu bahasa dengan bahasa yang lain sangat cepat. Namun hal serupa sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan etnis Minangkabau yang tampak sedikit lebih sulit dalam memahami bahasa Mandailing.

2.6.1. Hubungan Sosial di Arena Lokal dan Pasar

Indahnya harmonisasi hubungan antar etnis yang terjalin di arena lokal dapat dilihat dari eratnya interaksi yang ada. Demi menjalin harmonisasi tersebut maka dapat dilakukan dengan cara saling tolong-menolong antara sesama tanpa memandang etnis. Bahkan antara satu etnis dengan etnis yang lainnya berusaha untuk saling memahami bahasa yang beragam sehingga tidak terjadi benturan ketika berinteraksi. Masyarakat juga turut mengikuti apa yang sesuai dengan aturan adat setempat dan ikut mengambil bagian dalam setiap kegiatan yang ada

supaya tidak dikucilkan. Sikap saling menghormati pun bukan hanya antar etnis saja melainkan karena adanya perbedaan usia dan status sosial seseorang. Walaupun adat-istiadat Minangkabau terlihat lebih mendominasi pada pranata dan nilai budaya, namun hal tersebut hanya dijadikan acuan agar bisa hidup berdampingan. Mereka tidak pernah mempersoalkan idendtitas etnis masing sehingga melahirkan karakter interaksi sosial yg unik.

Penduduk Simpang Tonang biasanya melaksanakan jual beli di pasar. Pasar merupakan urat nadi penggerak kegiatan perekonomian masyarakat. Pasar yang masih bersifat tradisional tersebut menjadi arus distribusi barang dan jasa serta sarana ajang pertemuan antar-kerabat tetangga dengan lalu lintas berbagai informasi yang ada. Ketika hari pasar tiba maka para pedagang dan pembeli dari beberapa pelosok nagari dan daerah lain akan berdatangan ke pasar-pasar yang ada. Hari pasar atau yang lebih dikenal dengan istilah poken diadakan sekali seminggu. Hari pasaran di beberapa jorong yang ada di Simpang Tonang berbeda-beda. Di Pasar Simpang Tonang, Simpang Andilan dan Air Dingin hari pasarnya adalah hari Selasa, sementara di Simpang Duku hari pasarnya adalah hari Jumat.

Di dalam arena pasar, para pedagang yang terdiri dari etnik Mandailing dan Minangkabau bercampur tanpa ada pembagian yang tegas. Pedagang kain dan makanan biasanya adalah etnis Minangkabau sedangkan etnis Mandailing menjual peralatan rumah tangga atau pecah belah. Suasana pasar juga diwarnai dengan keberagaman diaelek yang ada. Para pedagang dan pembeli saling berinteraksi dengan menggunakan bahasa Mandailing sebagai bahasa pengantar. Bahasa ini mereka gunakan apabila berinteraksi antar sesama individu yang merupakan

anggota dari etnisnya. Namun bila berinteraksi dengan etnis lainnya biasanya mereka akan menggunakan bahasa Minang atau bahasa Indonesia. Selama ini belum pernah terjadi perselisihan akibat perbedaan bahasa.

2.6.2. Hubungan Sosial di Lembaga Pendidikan dan Instansi Pemerintahan Di sekolah tidak ada perbedaan perlakuan antara etnis Mandailing dan etnis Minangkabau. Semua siswa dianggap sama-sama individu yang haus akan ilmu pengetahuan. Anak-anak dari berbagai etnis etnis ini berintekrasi hampir sepanjang waktu ketika belajar di sekolah atau bermain di area perkampungan. Guru-guru yang ditugaskan di sana pun selain etnis Mandailing juga terdapat etnis Minangkabau. Penggunaan bahasa Mandailing kerap terdengar di bangku pendidikan ini di samping bahasa Indonesia Raya.

Ada beberapa instansi pemerintahan di Simpang Tonang. Pegawai dan pejabatnya terdiri dari etnis Mandailing dan etnis Minangkabau yang ditugaskan di sana. Bahasa yang digunakan di arena perkantoran tersebut ialah bahasa Minangkabau, Mandailing dan Indonesia. Corak interaksi di arena ini tidak jauh berbeda dengan arena yang penulis ungkapkan sebelumnya. Perbedaanya terletak pada batasan tegas mengenai wewenang dan kewajiban administratif personal. Dasar dari interaksi tetap mengacu pada nilai pemahaman terhadap karakter atau nilai budaya kedua etnis tersebut. Namun mereka dapat menempatkan diri masing-masing dengan caraa meredam karakter kurang positif. Sehingga terjalin kerjasama antara pemimpin, pegawai dan masyarakat. Hubungan mereka pun terbatas pada jam kerja yang sifatnya resmi urusan kantor, tetapi sekali-sekali diadaakan acara atau pertemuan yang sifatnya non-formal untuk menumbuhkan

rasa kekeluargaan Di samping itu juga instantsi pemerintahan ini menjalin kerjasama dengan tokoh agama dan tokoh adat karena mereka lah yang dijadikan panutan oleh masyarakat setempat.

2.6.3. Hubungan Sosial yang Dijalin untuk Kegiatan Upacara Adat

Kaba baiak baimbauan kaba buruak bahambauan. Falsafah tersebut dapat mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan tolong-menolong. Dalam peristiwa kemalangan seperti kematian tolong-menolong dilakukan secara spontan, sedangkan pada upacara peristiwa kegembiraan seperti perkawinan tolong-menolong dilakukan dengan pamrih. Pamrih yang dimaksudkan ialah adanya harapan dalam diri seseorang yang memberikan pertolangan bahwa suatu saat dia akan mendapat pertolongan pula jika mengadakan perhelatan.

Dalam perhelatan perkawinan di Simpang Tonang juga ada tradisi gotong-royong. Selain membantu dengan tenaga seperti menyiapkan hidangan dan perlengkapan lain, terdapat juga tradisi gotong –royong dengan mengumpulkan beras. Tradisi ini seperti julo-julo, dimana setiap rumah yang telah didaftar sebagai anggota mengumpulkan beras, setiap ada anggota yang melaksanakan perhelatan perkawinan atau meninggal dunia.

Di Simpang Tonang etnis Mandailing bermukim secara berdampingan dengan etnis Minangkabau. Kedua etnis ini adalah penganut Islam dengan paham keagamaan yang sama. Dalam upacara-upacara tertentu maka kedua etnis tersebut biasanya akan saling mengundang. Terkadang bahkan tetangga yang berbeda etnis tersebut dilibatkan secara langsung karena memiliki perenan yang sangat penting. Hal ini cenderung mendorong keterikatan kebersamaan di kalangan masyarakat

perbatasan Simpang Tonang. Kebersamaan ini terefleksi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dokumen terkait