• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN HASIL PENELITIAN

A. Alasan Berdirinya Hizbullah

Situasi di Indonesia khususnya Jawa pada awal kemerdekaan mulai tidak kondusif. Di beberapa daerah terjadi perebutan kekuasaan antara pihak Republik Indonesia dengan pemerintah pendudukan Jepang. Situasi keamanan belum stabil kemudian disusul kedatangan tentara Sekutu yang ternyata diboncengi kekuatan Netherlands Indies Civil Administration (NICA yang hendak mengambil kekuasaan di Indonesia. NICA yang berniat menegakkan kembali kekuasaannya di Hindia-Belanda dan berkuasa di Indonesia mengundang perlawanan rakyat.1

Pembelaan Negara adalah hak dan kewajiban setiap warga Negara. Dengan kekuatan selurh rakyat Surabaya termasuk ulama dan santri yang ada di seluruh pondok pesantren akhirnya membentuk kekuatan untuk melawan tentara sekutu dan NICA tersebut. Pertempuran melawan tentara sekutu yang berintikan tentara inggris mulai berkobar pada akhir bulan nopember dan pada saat itu pihak inggris mundur kedaerah pesisir.2

Organisasi-organisasi sosial keagamaan itu tidak lepas dari para tokoh atau ulama yang menjadi panutan di dalam organisasi tersebut. Ulama-ulama besar tersebut banyak yang

1 Nurhajarini, Dwi Ratna. 2018. Solidaritas Dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan: Nahdatul Ulama (NU) Dalam Pertempuran di Surabaya Pada Awal Kemerdekaan. Jurnal : Jantra Vol.13, No. 2, Desember 2018. ISSN 1907 – 9605. hal. 176.

2 As Sajdah, Nur Fitri, Artono. 2021. Peranan Ulama Mojokerto Dalam Pertempuran 10 November 1945. Jurnal : AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 11, No. 2 Tahun 2021. hal. 3.

mempunyai reputasi dan jaringan sampai tingkat nasional. Sebagai salah satu simpul dalam proses perkembangan Islam di Indonesia, organisasi Islam tersebut satu diantaranya adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki basis lembaga pesantren.3

Dalam cerita tutur yang berkembang di Mojokerto, khususnya di kalangan santri, masyhur dikatakan jika KH Achyat Chalimy merupakan penggerak dan inisiator utama dari terbentuknya hizbullah Mojokerto.

Para pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi pada akhir bulan Oktober dan awal bulan Npember menyatakan bahwa perang memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesa termasuk dalam jihad fi sabilillah, suatu kewajiban atas semua muslim untuk melaksanakannya. Surabaya menjadi tujuan dari para kyai dan santrinya yang berasal dari pesantren-pesnatren senatero jawa timur. Tidak keitnggalan para ulama dan santri dari Kota Mojokerto. Lazkar Hizbullah di Kota Mojokerto diprakarsai oleh KH Achyat Halimy yang merupakan salah satu ulama mojokerto.

Seelah diadkan rapat di Langgar Achyat Halimy di Desa Mentikan Mojokerto para ulama mengumpulkan para pemuda Islam dari semua kecamaan di Mojokerto untuk dilatih oleh dua orang yang mengikuti pelatihan Peta atau pelatihan Hizbullah di Cibarosa yaitu Mulyadi dan Achmad Qosim (Mat Yatim).4

Ayuhanafiq, penulis buku “Garis Depan Pertempuran Lasykar Hizbullah 1945-1950”

menjelaskan tentang proses awal pembentukan Hizbulloh Mojokerto bahwa “Saat itu melalui Masyumi, Wachid Hasyim, anak KH Hasyim Asy’ari meminta agar para santri dilatih militer, sebagai persiapan menjaga wilayah Indonesia, jawa khususnya, dan akhirnya dibentuknya

3 Nurhajarini, Dwi Ratna. 2018. Solidaritas Dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan: Nahdatul Ulama (NU) Dalam Pertempuran di Surabaya Pada Awal Kemerdekaan. Jurnal : Jantra Vol.13, No. 2, Desember 2018. ISSN 1907 – 9605. hal. 176

4 As Sajdah, Nur Fitri, Artono. 2021. Peranan Ulama Mojokerto Dalam Pertempuran 10 November 1945. Jurnal : AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 11, No. 2 Tahun 2021. hal. 3.

lasykar/ tentara Hizbulloh yang dilatih langsung oleh Jepang. Nah, abah yat ini kan santri tebuireng, dan saat itu jadi ketua Ansor di Mojokerto, jadi beliau langsung mengorganisir pengurus2 ansor tingkat kecamatan, kalau dulu kawedanan. Rapat untuk memutuskan siapa yang akan diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan hizbullah di Cibarusa itu ya di lakukan di rumah Abah Yat. Itu mungkin salah satu klaim bahwa peran abah yat sangat sentral waktu itu”

Kepemimpinan KH Achyat Chalimy berada pada situasi dimana Jepang mendaratkan tentaranya di Banten, yang kemudian Pemerintahan Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Jawa Barat. Mereka memencar ke desa dan kota di wilayah yang semula dikuasai Belanda, termasuk kota Mojokerto. Penduduk berbondong-bondong menyaksikan tentar Jepang datang di alun-alun kota, dengan menabuh genderang bertalu-talu. Beberapa saat kemudian genderang berhenti ditabuh, tiba-tiba mencuat suara komando dari mulut seorang tentara Jepang, agar massa menyerbu toko-toko kepunyaan orang Tionghoa.

Saat KH Achyat Chalimy memimpin laskar hizbulloh, Jepang mengeluarkan instruksi, supaya penduduk mengembalikan barang-barang rampokan. Dan barang siapa yang tidak memperhatikan perintah ini akan diambil tindakan: ditembak!. Penduduk berbondong-bondong keluar rumahnya untuk mengembalikan barang-barang yang pada hari-hari kemarin mereka curi dari toko-toko milik orang China. Perilaku Jepang yang seperti itu, jelas sangat menyayat hati dan meninggalkan luka yang amat dalam. Lebih-lebih beberapa bulan berikutnya, mereka dengan semena-mena menguras kekayaan alam Indonesia dengan menggunakan tenaga orang-orang Indonesia sebagai romusa.

Di Mojokerto sendiri, Jepang menyimpan barang-barang rampasan dari mulai bahan pakaian, makanan dan bahan-bahan baku lainnya di gudang-gudang yang mereka jaga dengan sangat ketat. Di pasar, tidak kelihatan orang berjualan beras. Keadaan rakayat kita dari hari ke hari

makin miskin, badan mereka kurus-kurus kurang gizi. Sedangkan serdadu-serdadu Jepang sehat dan tegap.

Menyadari keadaan tentara Jepang yang semena-mena terhadap penduduk pribumi, pemuda-pemuda Ansor Mojokerto yang dipimpin Kyai Ahyat menarik antisipasi dengan mempersiapkan diri sebagai bagian dari kekuatan bangsa. Dari pertemuan yang mereka selenggarakan di musholla Pak Halim diambil keputusan bahwa, tenaga-tenaga penggerak perjuangan pemuda Ansor dibagi menjadi 4 wilayah pembinaan, meliputi (1) Mojosari dibawah pimpinan Munasir, Munadi, dan Mustaqim, (2) Mojokasri dibawah pimpinan Mansur Sholikhi dan Imam Mahdi, (3) Pugeran dibawah pimpinan Sofuan dan Abdul Hamid, dan (4) Mojokerto Kota dibawah pimpinan Ahyat Halimy, Ahmad Rifa‟I, Badrun dan Syamsumadyan.5

Lebih jauh lagi, Ayuhanafiq, menceritakan dengan detail tentang peran sentral Abah Yat, bahwa ; “Peran penting abah yat ini juga banyak diceritakan para pejuang. Salah satunya diceritakan cerita Abah Sueb. Beliau yang saat itu ikut dalam lasykar, menceritakan: “lasykar hizbulloh itu tidak makan jika tidak ada kiriman dari Abah Yat.” Pernyataan ini Mungkin terlalu bombastis ya? Akan tetapi itu menjelaskan bahwa Abah Yat itu melakukan fund rising atau penggalian dana dari para aghniya’ yang ada di Mojokerto untuk membantu perjuangan lasykar hizbulloh, termasuk mencukupi kebutuhan makanan itu para pejuang hizbulloh tersebut. Terbukti memang makanan para pejuang hizbulloh ini lebih banyak, bahkan mungkin saat itu lebih mewah daripada lasykar atau kelompok pejuang lainnya. Karena sempat terjadi kesalahpahaman, saat itu kesatuan dari lasykar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), mengepung lokasi markas hizbulloh Mojokerto, mereka menuduh hizbulloh melakukan manipulasi makanan yang berasal dari dapur umum, karena jumlah lauknya lebih banyak daripada kesatuan laskar lainnya.

5 Nisa, Umi Choirun. 2019. Peran KH. Ahyat Halimy Dalam Perjuangan Laskar Hizbullah Mojokerto (1945-1949M).

Skripsi : Fakultas Adab Dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Hal. 65.

Padahal, saat itu memang hizbulloh mendapat tambahan bantuan makanan terutama lauk, dari hasil fund rising yang dilakukan Abah Yat yang bertugas menjadi pembantu umum dalam struktur hizbulloh Mojokerto”

Ayuhanafiq, memberikan contoh detail tentang peran sentral Abah Yat. Salah satunya adalah ; “saat pembagian seragam untuk hizbulloh. Saat itu, markas Pusat hizbulloh di Jakarta menetapkan jika seragam untuk hizbulloh adalah warna putih. Akan tetapi justru Abah Yat membelikan kain warna hitam. Kemungkinan besar, saat itu stok kain putih di Mojokerto tidak cukup jika dibagikan kepada seluruh pasukan hizbulloh. Karena memang pasukan ini paling besar jumlahnya di Mojokerto daripada kesatuan kelaskaran lainnya. Nah kain seragam tersebut juga dibelikan dari usaha Abah Yat, selain dari kantung beliau sendiri, menghimpun sumbangan dari para saudagar. Saat itu penyumbang paling besar dari seorang juragan kedelai di Jetis. Serta sumbangan-sumbangan lainnya dari kecamatan-kecamatan yang ada di Mojokerto”

Solidaritas adalah rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa simpati, dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Dalam kondisi negara yang sangat krusial akibat rongrongan dari pihak luar (Jepang, Sekutu) di Surabaya, kaum Nahdliyin yang dimotori oleh para kiai menggelorakan semangat cinta tanah air. Semangat yang sejak awal pendirian Nahdlatul Ulama telah menjadi pedoman bersama. Kehadiran Nahdlatul Ulama pada awal kelahirannya memiliki ciri – ciri sesuai dengan teori gerakan sosial. Ciri yang tersebut adalah tantangan kolektif, tujuan bersama, solidaritas sosial dan memelihara interaksi. Kekuatan yang ada di dalam tubuh Nahdlatul Ulama menjadi potensi yang sangat besar dan itu kemudian digandeng oleh Sukarno.6

6 Nurhajarini, Dwi Ratna. 2018. Solidaritas Dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan: Nahdatul Ulama (NU) Dalam Pertempuran di Surabaya Pada Awal Kemerdekaan. Jurnal : Jantra Vol.13, No. 2, Desember 2018. ISSN 1907 – 9605. hal. 180

Dengan demikian perlawanan terhadap para penjajah yang dilakukan oleh para ulama dan santri tidak pernah surut bahkan semakin efektif dan lebih strategis. Selain berjuang dalam medan pertempuran para ulama juga berjuang dengan membina kader penerus agar dapat meneruskan perjuangan yang dilakukan pada ulama sebelumnya. Para ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH.

Wahab Hasbullah dan dan para ulama-ulama lainnya telah berhasil membangun jejaring ulama Nusantara yang menjahit keterikatan hubungan antara guru-murid yang dikemudian hari membangun Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang memiliki konstribusi penting bagi terbangunnya pergerakan nasional menegakkan bangsa dan Negara Indonesia.7