• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Santri / Kyai menjadi Pejuang (Ketokohan Ulama / Kyai dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia)

Pesantren adalah suatu bentuk lingkungan masyarakat yang unik dan memiliki tata nilai kehidupan yang positif yang mempunyai ciri khas tersendiri, sebagai lembaga pendidikan Islam.

Pondok pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri, dimana kiai, ustadz dan santri dan pengurua pesantren hidup bersama dalam satu lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaannya tersendiri. Sistem pendidikan pesantren dapat diselenggarakan dengan biaya yang relatif murah karena semua kebutuhan belajar mengajar disediakan bersama oleh para anggota pesantren dengan dukungan masyarakat sekitarnya. Adapun tujuan dibentuknya pondok pesantren adalah:

1. Mencetak ulama yang menguasai ilmu–ilmu agama

2. Mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama

Para santri yang telah menamatkan pelajarannya, walaupun tidak sampai ke tingkat ulama, setidaknya mereka harus mempunyai kemampuan melaksanakan syariat agama secara nyata dalam rangka mengisi, membina dan mengembangkan suatu peradaban dalam perspektif Islami.

52 Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), h. 391.

3. Mendidik agar objek memiliki ketranpilan dasar yang relevan dengan terbentuknya masyarakat beragama.53

Dengan demikian tujuan pesantren dapat dilihat dari dua segi, yaitu: 1) Tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannnya dalam masyarakat 2) Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.

Sebagai lembaga penyiaran agama, pesantren melakukan kegiatan dakwah di masyarakat, dalam arti melakukan aktivitas menumbuhkan kesadaran beragama untuk melaksanakan ajaran –ajaran Islam secara konsekuen sebagai pemeluk agama Islam. Lembaga seperti pesantren telah ada sejak masa kekuasaan Hindu-Budha sekitar abad ke-13 M. Bahkan sistem pendidikan pesantren ini bisa jadi diadposi dari akulturasi kedua agama tersebut. Oleh karena itu, pesantren bukan hanya bercirikan keislaman, tapi juga keindonesiaan (indigenous).54 Pesantren juga dianggap seperti akademi militer atau biara dalam arti bahwa para santri sebagaimana prajurit dan “santri” biara mengalami totalitas dalam proses pendidikannya. Oleh karena keunikannya ini, Abdurrahman Wahid menganggap pesantren sebagai subkultur.55 yaitu bagian budaya yang hidup mandiri, bebas dari intervensi, dan tidak terikat dengan budaya mainstream.

Tiga alasan kenapa pesantren dianggap sebagai subkultur. Pertama, pola kepemimpinan pesantren yang berada di luar kepemimpinan pemerintah (desa). Kedua, kitab kuning, sebagai

53 Yusuf Amir Faisal. Reorientasi Pendidikan Islam, ( Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995), hlm. 183

54 Madjid. Nurcholis. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Paramadina. Jakarta.hal. 3

55 Wahid. Abdurrahman. 2010. Menggerakan Tradisi. LKiS. Yogyakarta. Hal. 233

literatur yang dikaji di dalam pesantren terus dipelihara selama berabad-abad. Ketiga, sistem nilai pesantren yang terpisah dari nilai dari yang diikuti oleh masyarakat luas.56

Pemahaman terhadap pesantren dalam ruang lingkup manajemen pendidikan, hal ini dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang yang mengarah pada perspektif seremonial, substansial dan religiusitas. Dalam perspektif seremonial, pesantren dipandang sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berkenan menyelenggarakan sistem pendidikan, seperti layaknya lembaga pendidikan formal lainnya yang berperan dalam mewujudkan sebagian cita-cita dan tujuan pendidikan yang telah digariskan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Aspek yang dikembangkan dalam perspektif seremonial, pesantren tidak terlepas dari bidang lain sebagai pendukung kegiatan, yakni aspek material sebagai standar dan ukuran atas besarnya jumlah dana yang disediakan dalam mengembangkan program pesantren dan aspek material yang berhubungan dengan kelengkapan fisik yang dimiliki oleh pesantren dalam menyelenggarakan program kegiatan belajar-mengajar pada pesantren terkait yang selaras dengan tujuan pendidikan guna mengarah pada pencapaian substansial pesantren. Tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh pesantren, secara substansial mengarah pada pembentukan kualitas hasil pendidikan yang dapat dijadikan sandaran bagi kebutuhan umat (islam) dalam melibatkan diri secara lebih mendalam akan partisipasinya sebagai stakeholder, sehingga pada gilirannya pesantren akan muncul sebagai mercusuar yang berkenan menyinari kebutuhan umat manusia bukan saja pada makna keberagamaan, tetapi pada sisi lain dari kehidupan serta peradaban manusia.57

56Wahid. Abdurrahman. 2010. Menggerakan Tradisi. LKiS. Yogyakarta. Hal. 234

57 Muslichan Noor. 2019. Gaya Kepemimpinan Kyai. Jurnal : Gaya Kepemimpinan Kyai. e-ISSN 2598-4845; p-ISSN 2355-018X. DOI: https://doi.org/10.24090/jk.v7i1.2958. JK 7 (1) (2019) 141-156. hal. 141

Pengetahuan yang menjadi bidang keahlian lulusan pesantren adalah nahwu sharaf, fikih, tauhid, tasawuf, tafsir hadis, bahasa Arab, ilmu falaq, kanuragan, qiraat, ilmu hikmah, juga fundamentalisme. Untuk yang terakhir ini, Para santri diajarkan menjadi insan fundamentalis yang kuat aqidah dan syariatnya, meskipun terkadang mereka melahirkan sikap-sikap kaku.58

Pesantren dikenal sebagai lembaga dan sistem pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dalam operasionalnya pesantren memiliki nilai-nilai pokok yang tidak dimiliki oleh lembaga lain pertama cara pandang kehidupan yang utuh (Kaffah) adalah sebagai ibadah Kedua, menuntut ilmu tidak berkesudahan (Long life education) yang kemudian diamalkan. Ilmu dan ibadah adalah menjadi identik baginya yang dengan sendirinya akan muncul kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan sebagai nilai utama. Ketiga keihlasan bekerja untuk tujuan bersama.59

Kyai dalam konteks pesantren menjadi figur sentral, disamping sebagai rujukan pengetahuan juga sebagai figur yang memberikan contoh bagaimana seharusnya ajaran Islam tersebut diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ajaran Islam yang menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi dan menjadi penerusnya. Doktrin ini menyebabkan ulama / kyai disamping sebagai figur sentral juga dibutuhkan kepemimpinannya. Kepemimpinan ulama bagaiumanapun selalu berpedoman pada contoh contoh yang diberikan oleh Rosulullah dalam memimpin.

Kepemimpinan sendiri saecara umum disepakati sebagai kemampuan seseorang memengaruhi orang lain untuk digerakkan dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan,

58 Madjid. Nurcholis. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Paramadina. Jakarta. Hal. 13

59 Muslichan Noor. 2019. Gaya Kepemimpinan Kyai. Jurnal : Gaya Kepemimpinan Kyai. e-ISSN 2598-4845; p-ISSN 2355-018X. DOI: https://doi.org/10.24090/jk.v7i1.2958. JK 7 (1) (2019) 141-156. hal. 143

merupakan alat atau sarana menggerakkan (memotivasi) orang lain untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan bersama di kalangan para anggota kelompok dibutuhkan sebuah manajemen organisasi yang dapat merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, pembagian tugas, dan mengendalikan perjalanan organisasi untuk fokus pada tujuan bersama.

Kepemimpinan merupakan proses di mana individu mempengaruhi sekelompok individu lain untuk mencapai tujuan bersama dengan beberapa komponen yaitu: kepemimpinan merupakan proses, melibatkan pengaruh, terjadi dalam kelompok, dan melibatkan tujuan bersama.60

Makna sebenarnya dari “pengaruh” (influence) dalam konsep kepemimpinan bukanlah sematamata berbentuk instruksi, melainkan lebih dipahamai sebagai “motivasi” atau pemicu (trigger) yang dapat memberi inspirasi kepada orang yang dipimpin, sehingga inisiatif dan kreatifitas mereka berkembang secara optimal untuk meningkatkan kinerjanya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang paling penting dalam pengaplikasian konsep kepemimpinan ialah bagaimana memanfaatkan faktor-faktor eksternal untuk mengembangkan faktor internal sehingga mendorong tumbuhnya kinerja produktif.61

Secara umum, ada beberapa fungsi atau kedudukan kiai: 1) Kiai sebagai pemimpin tunggal atau pemegang otoritas tunggal di pesantren. 2) Kiai sebagai penyaring informasi di dalam memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitar. 3) Kiai sebagai “penguasa” pesantren yang menawarkan agenda perubahan sosial keagamaan, baik yang menyangkut masalah interpretasi agama dalam kehidupan sosial maupun perilaku keagamaan santri yang akan menjadi rujukan

60Peter G. Northouse, Kepemimpinan Teori dan Praktik, (Jakarta: Indeks, 2003), 12

61 Tjutju Yuniarsuh & Suwatno, Manajemen Sumber Daya Manusia Teori, Aplikasi dan Isu Penelitian, (Bandung:

Alfabeta, 2009), hlm. 165.

masyarakat. 4) Kiai menawarkan perubahan agar komunitas pesantren tidak mengalami kesenjangan budaya (cultural log) atas masuknya budaya asing yang sebelumnya dianggap mengotori kemurnian tradisi pesantren. 5) Jackson menyatakan bahwa kiai berperan dalam mendinamisasi kegiatan politik, seperti dalam melakukan pemberontakan. 6) Kiai juga berperan sebagai pembuka lahan untuk dijadikan tempat pemukiman sehingga ia dianggap pemangku desa, seperti wali songo. Dalam al-Quran, istilah kiai tidak ada. Yang ada istilah ulama. Oleh karena itu kiai disebut juga ulama dan fungsinya sama seperti ulama. Al-Quran memuat istilah ulama ini.62 Sejarah kehidupan dan kepemimpinan Nabi Muhammad sendiri ditempa oleh kondisi dan keadaan masyarakat arab sangat buruk atau yang dikenal dengan zaman jahiliah. Masyarakat tersebut suka minum-minuman keras, berjudi, mengubur bai perempuan hidup-hidup, zina, menyembah berhala dan sanagt jauh dari petunjuk Allah. Sehingga nabi ditus oleh Allah pada masyarakat arab tersebut untuk merubah keadaan mereka. Sungguh tidak mudah bagi Rasulullah, berdakwah di masa tersebut karena sangat banyak ancaman dan hinaan yang dilontarkan. Bahkan nabi Muhammad dianggap orang gila karena menyebarkan ajaran yang bertolak belakang dengan yang diyakini masyarakat Arab pada saat itu. Tetapi beliau berhasil merubah umatnya dari zaman jahiliah menjadi manusia yang memiliki adab dan akhlak, denan kepemimpinan dan teladan yang dimiliki olehnya. Ada 4 sifat rasulullah yang membuatnya sukses dan dipercaya oleh banyak orang, dan juga harus dimiliki dan dijadikan contoh oleh pemimpin yaitu Siddiq (jujur), Amanah (Dapat dipercaya, Tabligh (menyampaikan), dan Fatanah (cerdas). 63

62 Sukamto. 1999. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. LP3ES. Jakarta. Hal. 88.

63 Muhammad Olifiansyah, 2020. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam. Jurnal : AT-TAJDID: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam (p-ISSN: 2548-5784 |e-ISSN: 2549-2101) Vol. (4)(01), (Januari-Juni)(2020), (Halaman)(102-112) Doi:

http://dx.doi.org/10.24127/att.v4i01.1205. hal. 107

Siddiq merupakan sifat rasululah S. A. W dalam mengakui kebenaran yang datang dari Allah, maka seluruh kegiatan, ucapan, perilaku, emosi, bahkandiamnya Rasulullah merupakan sesuatu yang benar. Implementasi sifat siddiq dalam kepemimpinan yaitu selalu jujur dan benar atas keputusan, perintah, dan segala konsekuensi yang diambil. Amanah artinya dapat dipercaya.

Sebagaimana sikap rasulullah apabila ada suatu kabar yang harus disampaikan maka beliau sampaikan, dan dalam mengatakan sesuatu beliau tidak akan mengurangi, menambah, dan merubah hal yang harus dikatakan tersebut. Tabligh atau menyampaikan, merupakan sifat-wajib Rasulallah saw yang mengandung arti menjelaskan dan menerangkan wahyu Allah SWT. Sifat-mustahilnya adalah kitman, menyembunyikan hal-hal yang seharusnya di-tabligh-kan. Dan yang terakhir yaitu Fathonah merujuk kepada sifat-wajib kesadaran, kebijaksanaan, dan kecerdasan, yang dilawankan dengan sifat-mustahil gaflah (lemah) atau ghabwah (bodoh).64

Ulama (atau kiai) adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat kawniyyah dan quraniyyah (M. Quraish Shihab Ulama juga pewaris para Nabi oleh karena itu, tugas ulama sesuai dengan tugas kenabian: (1) Menyampaikan (tabligh) ajaran-ajarannya sesuai dengan perintah; (Q.S. al-Maidah [5]: 67) (2) Menjelaskan ajaran-ajaran al-Quran kepada manusia;

(Q.S. an-Nahl [16]: 44) (3) memutuskan perkara atau masalah yang dihadapi masyarakat; (Q.S.

al-Baqarah [2]: 213). (4) Memberikan contoh pengamalan, sesuai dengan hadis Aisyah, yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa perilaku Nabi adalah praktek al-Quran.65

Dhofier menjelaskan bahwa Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan antara individu dengan Tuhan, tetapi juga hampir semua hubungan sosial dan personal, sehingga dengan demikian

64Muhammad Olifiansyah, 2020. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam. Jurnal : AT-TAJDID: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam (p-ISSN: 2548-5784 |e-ISSN: 2549-2101) Vol. (4)(01), (Januari-Juni)(2020), (Halaman)(102-112) Doi:

http://dx.doi.org/10.24127/att.v4i01.1205. hal. 108

65 Sukamto. 1999. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. LP3ES. Jakarta. 383

memberikan kekuasaan yang luas kepada para kyai dalam masyarakat. Mereka senantiasa mempercayakan kepada kyai bimbingan dan keputusan-keputusan tentang waris, perkawinan, perceraian, dan sebagainya. Dibarengi dengan sikap mereka yang enggan terhadap urusanurusan kenegaraan, maka pengaruh rnereka yang besar itu memberikan pula kekuasaan moral yang luar biasa, dan mernpersembahkan kepada rnereka suatu kedudukan sosial yang menonjol.66

Posisi pesantren sepert itu yang dalam sejarahnya menghasilkan ulama / santri pejuang. Orientasi pendidikan pesantren yang mengarahkan santri menjadi stakeholder dimasyarakat menyebabkan munculnya rasa tanggungjawab tinggi untuk mengemban tanggungjawab sosial. Zaman penjajahan, tanggungjawab sosial ini terlihat dari semangat juang tinggi yang digelorakan ulama – santri demi membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah.

Saiful Akhyar Lubis, menyatakan bahwa “Kiai adalah tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren, maju mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kiai.

Karena itu, tidak jarang terjadi, apabila sang kiai di salah satu pondok pesantren wafat, maka pamor pondok pesantren tersebut merosot karena kiai yang menggantikannya tidak sepopuler kiai yang telah wafat itu”.67

Kedudukan dan pengaruh kiai terletak pada keutamaan yang dimiliki pribadi kiai, yaitu penguasaan dan kedalaman ilmu agama, kesalehan yang teramati dalam sikap dan perilakunya sehari-hari, sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan menjadi ciri dari pesantren.

Ciri utama penampilan Kiai adalah watak karismatik yang dimilikinya. Watak karisma tersebut, timbul oleh sifat kedalaman ilmu dan kemampuan seorang Kiai di dalam mengatasi semua

66 Ahmad Sugiri. 1997. Pola Kepemimpinan Kyai Dalam Tubuh Nahdlotul Ulama (NU). Jurnal : Al-Qolam. No.

68./XIII/1997. hal. 15.

67 Saiful Akhyar Lubis, Konseling Islami Kiai dan Pesantren, (Yogyakarta, eLSAQ Press, 2007), h. 169.

permasalahan yang ada, baik di dalam pesantren maupun lingkungan sekitar. Dalam hal ini Kiai sebagai figur yang senantiasa melindungi, mengayomi masyarakat dengan berbagai perjuangan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Abdurahman Wahid menegaskan terlepas dari sifat kepemimpinan Kiai karismatik dan paternalistik, kepemimpinan Kiai di pesantren adalah mempribadi atau (personal), segala masalah kepesantrenan bertumpu kepada Kiai.68

Posisi Kiai selain mengajarkan ilmu agama juga mewakili sistem sistem sosial, mengembangkan organisasi pondok pesantren, manajer konflik, mengarahkan visi dan menciptakan perubahan (agent of change).

Sebagaimana diketahui bahwa peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, merupakan sejarah panjang yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Berangkat dari pengalaman kelembagaan pesantren yang lama dipimpinnya, ulama hanya memiliki makna lawannya adalah imperealis Barat, yakni kerajaan Protestan Belanda dan pemerintahan kolonial Belanda. Oleh karena itu, fokus perhatiannya dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 hanya dengan angkat senjata dalam organisasi kesenjataan, baik dalam Laskar Hizbullah, Sabilillah bersama BKR, TKR, TRI, TNI, selama perang kemerdekaan 1365-1369 H/ 1945-1950 M, melawan Tentara Sekutu Inggris dan NICA.69

Salah satu fakta sejarah peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tanggal 22 Oktober 1945, Senin Pahing, 15 Dzulqaidah 1364. Terjadi peristiwa yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme, peran ulama dalam menegakkan dan mempertahankan proklamasi berdampak para kiai dan santri dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, membanjiri kota Surabaya, berdasar amanat berupa

pokok-68Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Kyai, Jakarta: LP3ES, 1982. hal. 56

69 Ahmad Mansur Suryanegara, API Sejarah 2 (Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2010), 201.

pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar Hasyim Asyari, dalam rapat PBNU yang dipimpin ketua besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama

“Resolusi Jihad Fi Sabilillah.70

Resolusi jihad tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai perjuangan membela agama Islam saja, tetapi juga membela kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berbekal fatwa jihad yang diteguhkan dalam Resolusi Jihad tersebut, para pejuang pantang mundur menolak kedatangan kolonial. Resolusi Jihad tersebut menyeru seluruh elemen bangsa khususnya umat Islam untuk membela NKRI. Pertempuran 10 November 1945 meletus, laskar ulama santri dari berbagai daerah di garda depan pertempuran. Resolusi Jihad juga membahana di Semarang dan sekitarnya, bahkan telah mengiringi keberhasilan dalam Perang Sabil Palagan Ambarawa. Para laskar ulama santri juga terus melakukan pertempuran mempertahankan daerahnya masing-masing termasuk di tanah Pasundandan daerah-daerah lainnya.71

Resolusi jihad yang diekeluarkan oleh para ulama merupakan ruh dari peristiwa 10 November 1945. Fatwa itu dikeluarkan 20 hari sebelum meletusnya peristiwa yang diperingati sebagai hari pahlawan. Dalam membahas resolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Para ulama se-Jawa dan Madura berkumpul di salah satu bangunan yang saat ini berlokasi di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya. Ditempat tersebutlah para ulama mencetuskan Resolusi Jihad fii Sabilillah sebagai salah satu cara mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman sekutu.72

70 Zainal Munasichin, Resolusi Jihad NU Sejarah Yang Dilupakan (Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa, 2001), 12.

71 Ahmad Royani. 2018. Pesantren Dalam Bingkai Sejkarah Perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jurnal : Jurnal Islam Nusantara. Vol. 02 No. 01. Januari - Juni 2018. hal. 125

72 Ahmad Mansur Suryanegara, API Sejarah 2 (Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2010), 201.

Kirprah ulama - santri dalam membela negara tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada tahun 1943-1945 hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar, dan yang paling populer adalah laskar hisbullah dan sabilillah. Pada kurun waktu tersebut kegiatan pondok pesantren adalah berlatih perang danolah fisik. Bahkan peristiwa-peristiwa pelawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, pada umumnya dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji. Pada 21 oktober 1945, berkumpul para kiai se-jawa dan madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatur Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 oktober 1945 dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”73 Peran ulama dan santri sangat besar, baik dalam perjuangan melawan kolonialisme di Nusantara pada era pergerakan kemerdekaan, maupun dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme dibangun oleh solidaritas yang didasari oleh sentimen agama, terutama agama Islam.

George Mc Turnan Kahin menyimpulkan, nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam di Nusantara. Tumbuhnya kesadaran nasionalisme di Indonesia, dalam pemikiran Kahin, dipengaruhi tingginya homogenitas agama, yang kemudian menjadi pemantik utama gerakan melawan kolonialisme di Nusantara. Agama Islam bukan hanya membentuk suatu ikatan biasa, tetapi benar-benar telah menjadi suatu simbol kekuatan dalam melawan pengganggu asing dan penindas agama.74

Begitu besar peran Islam dalam menggerakkan dan membangkitkan secara kolektif sistem sosial dan kultural masyarakat Nusantara untuk melawan kolonialisme di tanah air. Kolektivitas

73 Ahmad Royani. 2018. Pesantren Dalam Bingkai Sejkarah Perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jurnal : Jurnal Islam Nusantara. Vol. 02 No. 01. Januari - Juni 2018. hal. 125.

74 George Mc Turnan Kahin, Nationalism and Revolution in NY: Cornell University Southeast Asia Program Publications Revolution in Indonesia (Ithaca, m Publications, 1952), hlm. 59 60

dengan spirit agama tumbuh dalam simpul-simpul perlawanan melalui jaringan ulama-santri, terutama di jawa-Madura.

Salah satu wujud rasa cinta tanah air itu terimplementasi melalui perjuangan yang gigih melawan kolonialisme Belanda dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (Wahid, 1974). Sehingga pada waktu itu, pesantren selain berperan sebagai basis edukasi bagi masyarakat, khususnya pedesaan, juga berperan sebagai pusat perlawanan terhadap bangsa kolonial. Dengan slogan jihad fi sabilillah para ulama’ pesantren menjadi motor penggerak perjuangan, bersama sama dengan rakyat berperang melawan belanda dan sekutunya. Oleh karena itu, muncul sederet nama pahlawan yang notabene berasal dari lingkungan pesantren, misalnya K.H. Hasyim Asy’ari dan lain sebagainya.75

Meskipun kyai tinggal di pedesaan, jauh dari kehidupan kota dengan segala problerna sosialnya yang kompleks, mereka diperhitungkan sebagai bagian kelornpok elite dalam struktur sosial, politik dan ekonomi rnasyarakat. Sebagai kelompok, para kyai memiliki. pengaruh yang arnat kuat di masyarakat, dan sekaligus rnerupakan kekuatan penting dalam kehidupan politik Indonesia. Sering-kali mereka menjadi sumber legitimasi atas kebijakan-kebijakan politik yang akan diterapkan.76

Menurut Thomas Stamford Raffles, peran kelompok ulama yang strategis ini bukanlah hasil dari voting (pemilihan suara) atau dari pengaruh karisma raja, tetapi lahir dari perkembangan Islam itu sendiri yang memandang ulama sebagai kelompok intelektual Islam, dan tampaknya telah menjadi watak dasar bangsa Indonesia yang selalu mengangkat kalangan berilmu sebagai

75 Ahmad Royani. 2018. Pesantren Dalam Bingkai Sejkarah Perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jurnal : Jurnal Islam Nusantara. Vol. 02 No. 01. Januari - Juni 2018. hal. 126

76 Ahmad Sugiri. 1997. Pola Kepemimpinan Kyai Dalam Tubuh Nahdlotul Ulama (NU). Jurnal : Al-Qolam. No.

68./XIII/1997.17

pemimpinnya. Kehadiran ulama dalam masyarakat telah diterima sebagai pelopor pembaharuan, dan pengaruh ulama pun semakin mendalam setelah berhasil membina pesantren. Eksistensi ulama jangan dilihat hanya sekedar sebagai pembina pesantren saja, akan tetapi peranannya dalam sejarah perjuangan bangsa cukup militan. Sekalipun banyak penulis sejarah yang menyingkirkan peran para ulama dalam karyanya, namun Raffles menuliskan betapa besar peranan ulama dalam menunjang para Sultan melawan Belanda. Menurutnya, “ulama merupakan kelompok intelektual yang sangat kuat dan membahayakan di tangan penguasa-penguasa pribumi dalam rangka melawan penjajahan Belanda dan kelompok ulama senantiasa aktif menggerakkan perjuangan dan memberikan spirit untuk melakukan pemberontakan pada penjajah Belanda”.77

Kelanjutan dari pengaruh ulama yang demikian luas tersebut tidak hanya terbatas di bidang politik dan militer saja, melainkan meluas juga terhadap ekonomi yang telah meninggalkan bekas-bekasnya baik berupa aktivitas perdagangan, tukar menukar barang ekonomi, kegiatan perniagaan lain yang produktivitasnya untuk menopang perekonomian keluarga dan perjuangan agama. Pasar tidak hanya merupakan kegiatan jual beli barang dagangan, tetapi juga dijadikan arena dakwah, sehingga kegiatan pasar sangat dipengaruhi oleh hari-hari besar Islam. Jadi, Islam sebagai agama yang disebarkan di Indonesia oleh para ulama, memiliki peran yang positif dalam menunjang kegiatan-kegiatan sosial, politik dan kegiatan perekonomian dan perdagangan. 78