BAB IV ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 73
B. Alasan Diajukannya Gugatan Penggugat Pada Pengadilan
Dalam Hukum Acara Perdata pada dasarnya terdapat dua macam perkara yang diperiksa, yaitu:127
1. Perkara volunter; dan 2. Perkara kontentiosa.
Dalam perkara volunter, biasanya yang diajukan ialah berupa suatu permohonan. Dalam permohonan tidak ada sengketa, sehingga perkara volunter ini bersifat ex parte (tanpa pihak lawan). Misalnya, apabila segenap ahli waris dari
seorang pewaris secara bersama-sama menghadap ke pengadilan untuk mendapat suatu penetapan perihal bagian masing-masing dari warisan pewaris berdasarkan pasal 263 HIR, maka di sini hakim hanya sekedar sebagai seorang tenaga tata usaha negara. Hakim ini mengeluarkan suatu penetapan atau lazimnya disebut putusan declaratoir, suatu putusan yang bersifat penetapan atau menerangkan saja. Dalam hal ini hakim tidak memutuskan suatu konflik seperti halnya dalam suatu gugatan. Permohonan yang banyak diajukan ke Pengadilan Negeri adalah permohonan sebagai berikut:128
a Permohonan pengangkatan anak angkat; b Permohonan pengangkatan wali;
c Permohonan pengangkatan pengampu; d Permohonan perbaikan akta catatan sipil.
Adapun perkara kontentiosa bersifat sengketa, sehingga di sini pihak-pihaknya saling berhadap-hadapan/berlawanan. Yang diajukan dalam perkara kontentiosa ini adalah gugatan. Dalam suatu gugatan ada seorang atau lebih yang merasa bahwa haknya atau hak mereka dilanggar, akan tetapi orang yang dirasa melanggar haknya atau hak mereka itu, tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu yang diminta itu. Untuk menentukan siapa yang benar atau berhak, diperlukan adanya suatu putusan hakim. Di sini hakim benar-benar berfungsi sebagai hakim yang mengadili dan memutus siapa di antara pihak itu yang benar dan siapa yang salah.
Dalam Perkara Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 73 K/AG/2015.
Adapun dasar gugatan Penggugat yang disampaikan dan sekaligus di sidangkan oleh Pengadilan Agama Padangsidempuan adalah sebagai berikut:129
Pada Tahun 1954, DH bin JH telah melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan yang bernama Hj. SL binti BNS, dan dalam pernikahan tersebut telah dikaruniai 9 orang anak kandung, masing-masing bernama:
1. HBH (almarhum/suami Tergugat); 2. BSH (Penggugat I);
3. KH (Penggugat II); 4. Alm. H. IEH (almarhum); 5. OH (Penggugat III); 6. NH (Penggugat IV); 7. ATH (Penggugat V) 8. LKH (penggugat VI); 9. GSH (Penggugat VII);
Pada Tahun 1985, semasa hidupnya alm. HBH/saudara laki-laki kandung para Penggugat telah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hj. NN binti H. SN/Tergugat di mana pernikahan tersebut dilangsungkan di Lingkungan I, Kelurahan
129 Sumber Putusan Perkara Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 73 K/AG/2015
Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas dahulu Kabupaten Tapanuli Selatan;
Pada tanggal 19 Agustus 1998, ayah kandung para Penggugat (DH) telah meninggal dunia disebabkan sakit, dan dalam keadaan beragama Islam serta dikebumikan di pemakaman tanah wakaf Kelurahan Pasar Sibuhuan;
Pada hari Jum’at tanggal 21 September 2012, HBH/suami Tergugat meninggal dunia disebabkan sakit, dan dalam keadaan beragama Islam serta dikebumikan di pemakaman tanah wakaf Kelurahan Pasar Sibuhuan;
Saudara kandung Penggugat IEH telah meninggal dunia di Lingkungan IV Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun pada tanggal 18 Mei 2013, dengan meninggalkan ahli waris seorang istri bernama Hj. DMN, dan 5 (lima) orang anak kandung yaitu: 2 (dua) orang anak laki-laki bernama: 1. MH, 2. AAH, dan 3 (tiga) orang anak perempuan yaitu: 1. MAH, 2. CH dan 3. SMH, dan selanjutnya anak-anak alm. IEH disebut sebagai ahli waris pengganti, Selama pernikahan alm. HBH dengan Tergugat Hj. NN hingga meninggal dunia tidak dikaruniai keturunan atau anak, sehingga ketika alm. HBH meninggal dunia, beliau meninggalkan ahli waris yaitu:
1. Hj. SL binti BNS (ibu kandung alm. HBH); 2. Hj. NN (istri/Tergugat);
3. BSH (Penggugat I); 4. KH (Penggugat II);
5. Alm. H. IEH, dengan ahli waris pengganti: 1. MH;
2. AAH; 3. MAH; 4. CH; 5. SMH; 6. OH (Penggugat III); 7. NH (Penggugat IV); 8. ATH (Penggugat V); 9. LKH (Penggugat VI); 10.GSH (Penggugat VII);
Selain dari ahli waris yang Penggugat sebutkan di atas, tidak ada lagi ahli waris yang lain dari alm. H. HBH;
Semasa hidupnya dalam pernikahan antara alm. HBH bin DH dengan Tergugat/Hj. NN binti H. SN telah memperoleh harta bersama yang merupakan harta pencaharian bersama berupa:
1. Satu unit rumah permanen, rumah dengan ukuran 8 x 14 m, serta dengan tanahnya seluas 10 x 20 m, yang letaknya di Lingkungan II, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, dengan batas-batas sebagai berikut: • Sebelah Utara berbatasan dengan Porang;
• Sebelah Timur berbatasan dengan Nur Haidah;
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Hj. Aslamiyah Hasibuan;
• Sebelah Barat berbatasan dengan Taman; dengan harga taksiran sebesar Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
2. Satu unit rumah permanen ukuran 8 x 12 m, serta dengan tanahnya seluas 11 x 30 m, yang letaknya di Jalan Bakti Kampung Tobu, Lingkungan I Pasar Sibuhuan, Kelurahan Wek I, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Utara berbatasan dengan H. Darwan Siregar; • Sebelah Timur berbatasan dengan Laidir;
• Sebelah Selatan berbatasan dengan H. Riswan Sikumbang;
• Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Raya; dengan harga taksiran sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);
3. Sebidang tanah perkebunan sawit seluas 2 ha. 1 bunbun, yang terletak di Desa Buiusonik, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Utara berbatasan dengan Partomuan; • Sebelah Timur berbatasan dengan Irpan Hasibuan; • Sebelah Selatan berbatasan dengan Lamuddin Pulungan; • Sebelah Barat berbatasan dengan Bermawi Hasibuan;
dengan harga taksiran sebesar Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah);
4. Satu unit kios ukuran 2.5 x 2.1 m, yang terletak di dalam Pasar Sibuhuan, Kelurahan Pasar Sibuhuan, Kelurahan Wek I, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Timur berbatasan dengan jalan;
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Islahuddin Harahap;
• Sebelah Barat berbatasan dengan Hj. Roidah; dengan harga taksiran sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah);
5. Satu unit mobil merk Daihatsu, jenis Mopen/Mini Bus Tahun 1989 dengan Nomor Polisi BB 1072 LK, STNK atas nama HBH, dengan harga taksiran sebesar Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah);
Selanjutnya disebut sebagai objek perkara;
Setelah meninggalnya alm. HBH bin DH selanjutnya disebut sebagai pewaris, maka seluruh objek perkara tersebut dikuasai oleh Tergugat;
Pada bulan September 2012 menjelang meninggalnya alm. H. HBH, beliau meminta agar tinggal bersama Hj. SL/Ibu kandung para Penggugat dan alm. H. HBH tinggal di rumah orang tua para Penggugat di Lingkungan I, Kelurahan Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, dan pada waktu itu YS (saudara kandung Hj. SL) menanyakan kepada H. HBH/suami Tergugat di hadapan keluarga, apakah ada hutang-hutangnya, dijawab H. HBH pada waktu itu bahwa: saya dan istri saya sudah tiga kali naik haji, dan saya tidak punya hutang kepada siapapun, seluruh barangbarang yang di kios adalah dibayar kontan;
Sejak pewaris/saudara kandung para Penggugat meninggal dunia, hingga saat ini belum ada pembagian warisan menurut hukum Islam di antara para ahli waris alm. HBH termasuk para Penggugat, walaupun para Penggugat sudah meminta berulang kali, namun Tergugat tidak mau membicarakannya, bahkan Tergugat memakimaki
para Penggugat dengan mengatakan para Penggugat pencuri yang ingin harta orang, dan para tokoh masyarakat dan hatobangon, mora kahanggi dan anak boru para Penggugat dan Tergugat sudah menghubungan Tergugat, namun hanya makian yang diterima dari Tergugat, sehingga seluruh ahli waris alm. H. HBH telah tersinggung dan sakit hati akibat hinaan dan cercaan Tergugat, yang tidak pantas diucapkannya apalagi Tergugat sudah berulang kali menunaikan ibadah haji, akan tetapi masih serakah terhadap harta dan tega menghina ahli waris almarhun suaminya/para Penggugat;
Untuk menghindarkan gugatan Penggugat tidak sia-sia atau illusi belaka, sedangkan sikap Tergugat yang tidak mau menyelesaikan sengketa pembagian harta warisan alm. HBH ini dengan musyawarah maka sangat dikhawatirkan Tergugat akan mengalihkan (menjual) secara diam-diam sebagian atau seluruh objek perkara kepada
pihak lain, untuk itu para Penggugat memohon agar Pengadilan Agama
Padangsidimpuan meletakkan sita jaminan terhadap seluruh objek perkara agar nanti penyelesaian perkara ini tidak terkendala atau menjadi sengketa dengan pihak ketiga di kemudian hari;
Upaya musyawarah dan damai dalam penyelesaian pembagian harta peninggalan/objek perkara sudah sering kali dilakukan sejak alm. Hasan Basri Hasibuan meninggal dunia, namun selalu mengalami kegagalan karena sikap keserakahan duniawi dari Tergugat yang tidak mau membagi harta warisan alm. Hasan Basri Hasibuan, padahal menurut syariat Islam masih ada hak ahli waris alm. HBH yaitu Hj. SL ibu kandung alm. H. HBH dan para Penggugat atas sebagian harta
peninggalan/objek perkara tersebut, oleh karena itu jalan damai sudah sulit untuk ditempuh, dan jalan satu-satunya adalah dengan mengajukan gugatan mal waris/ pembagian harta peninggalan alm. Hasan Basri Hasibuan ini ke Pengadilan Agama Padangsidimpuan.
C. Amar Putusan Mahkamah Agung-RI Nomor. 73K /AG/2015 Pada Setiap