• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK WARIS JANDA DALAM PERKAWINAN YANG TIDAK MEMILIKI KETURUNAN (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR PERKARA 73K/AG/2015) TESIS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HAK WARIS JANDA DALAM PERKAWINAN YANG TIDAK MEMILIKI KETURUNAN (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR PERKARA 73K/AG/2015) TESIS."

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

ABI YOGA HARAHAP

137011044/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

ABI YOGA HARAHAP

137011044/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Nomor Pokok : 137011044

Program Studi : KENOTARIATAN

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD)

Pembimbing Pembimbing

(Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA) (Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum)

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD Anggota : 1. Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA

2. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

(5)

Nim : 137011044

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : HAK WARIS JANDA DALAM PERKAWINAN YANG

TIDAK MEMILIKI KETURUNAN (STUDI PUTUSAN

MAHKAMAH AGUNG NOMOR PERKARA

73K/AG/2015)

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : ABI YOGA HARAHAP

(6)

ahli waris Dzulfara-idh (ahli waris yang bagiannya telah tertentu). Dalam kenyataannya sering terjadi janda yang ditinggal mati oleh suaminya tanpa memiliki keturunan, hal ini pula yang terjadi dalam perkara nomor 73K/AG/2015 yang diangkat sebagai acuan dalam menganalisis. Adapun permasalahan yang diangkat adalah : Bagaimanakah kedudukan janda tanpa keturunan terhadap harta warisan suami menurut Hukum Islam, Berapakah bagian untuk janda tanpa keturunan menurut hukum Islam, Bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam putusan

Mahkamah Agung Nomor Perkara73K/AG/2015dalam pandangan Hukum Islam. Jenis penelitian yang digunakan dalam dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, penelitian ini bersifat deskriptif analitis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan Library Research (penelitiankepustakaan) melalui penelitian kepustakaan.

Di dalam sistem Hukum Waris Islam, Janda merupakan ahli waris keutamaan sehingga tidak terhalang (terhijab) oleh ahli waris yang lain. Namun demikian, walaupun tidak ada anak, Janda tidak mewaris seluruh harta warisan, namun Janda mewaris bersama orang tua dan saudara-saudara pewaris. Seorang janda tanpa keturunan akan menerima porsi bagian waris 1/4 dari harta suami yang meninggal, dalam KHI 1/4 tersebut di ambil setelah dipotong dari harta bersama oleh istri (janda) bila ada harta bersama. Pertimbangan Hukum Hakim dalam putusan Mahkamah Agung-RI Nomor 73K /AG/2015 tentang pembagian harta warisan suami yang tidak memiliki keturunan, Hakim Mahkamah Agung sependapat dengan putusan Pengadilan Tinggi Agama Medan yang didahului dengan Pengadilan Agama Padangsidempuan dengan ketentuan bahwa perkara ini ditolak karena ibu almarhum pewaris tidak diikut sertakan sebagai para pihak dalam perkara serta masih dalam proses kasasi dimana dalam perkara 182/Pdt.G/PA.Psp, ibu almarhum pewaris diletakkan sebagai tergugat bersama dengan istri almarhum pewaris dengan putusan Majelis Hakim menolak gugatan penggugat dengan alasan salah menempatkan ibu alamarhum pewaris sebagai tergugat sementara ibu almarhum pewaris tidak menguasai harta peninggalan pewaris.

(7)

determined). Practically, the widow is often left alone without any descendant after her husband passes away; this was what happened in the case number 73K/AG/2015 that was taken for analysis. The research problem was how a widow without any descendant was positioned in her husband’s inheritance distribution according to the Islamic Law, how much her part was in accordance with the Islamic Law, and how the judge’s legal consideration was in handing out the Ruling of the Supreme Court on the Case Number 73K/AG/2015 in the Islamic Law.

This was a judicial normative research that applied descriptive analytical method. The research was expected to obtain a detailed and systematical description about the problems that were analyzed. The data were gained by means of Library Research through library study.

In the system of the Islamic Inheritance Law, a widow is the main heir so that she cannot be counteracted by the other heirs. However, although there is no descendant, she does not inherit all of the inheritance; she inherits it together with the husband’s parents and siblings. A widow without any descendant receives a quarter of her deceased husband’s inheritance; according to KHI (Compilation of the Islamic Laws), this part is taken after the inheritance has been previously separated from their joint property if there is one. The Judge’s legal consideration in the Ruling of the Supreme Court of the Republic of Indonesia on the Case No. 73K/AG/2015 regarding the inheritance distribution of a man who does not have any descendant. The Judge concurred with the Medan Religious Court that was preceded by the Padangsidempuan Religious Court which case was objected because the deceased husband’s mother was not included into the group of the heirs. This case was still in cassation with the Case No. 182/Pdt.G/PA.Psp; the mother who was regarded as a defendant together with the wife in the Ruling of the Panel of Judges objected the plaintiff’s complaint with an argument that she has been misplaced as the defendant whereas she did not possess all of the inheritance.

(8)

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah me limpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

tesi sini yang berjudul “ HAK WARIS JANDA DALAM PERKAWINAN YANG

TIDAK MEMILIKI KETURUNAN (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH

AGUNG NOMOR PERKARA 73K/AG/2015) ”.Shalawat beserta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suritauladan bagi kita semua.

Tesis ini selesai berkat dukungan materil dan inmateril, bimbingan, dan motivasi serta doa dari segala pihak yang telah bersedia untuk meluangkan dan mencurahkan waktunya untuk membantu dalam penyusunan tesis ini, tanpa itu semua penulis tidak akan mampu untuk menyelesaikannya. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormatBapak Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA. Ph.D, Bapak Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, M.A, Ibu Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum, selaku komisi pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tesis sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.

Selanjutnya di dalam penelitian tesis ini penulisan banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan, arahan dan bahan informasi dari semua pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyamaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(9)

3. BapakProf. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, atas segala dedikasi dan pengarahan serta masukan yang diberikan kepada penulis selama menuntut ilmu

pengetahuan di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Dr. T Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum,selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah membimbing dan membina penulis dalam penyelesaian studi selama menuntut ilmu pengetahuan dan penyelesaian tesis ini di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak dan Ibu Dosen serta segenap civitas akademis Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Ayahanda saya Kapten Infantri Hidayat Harahap dan Ibunda sya Asni yang telah membesarkan, mendidik , memberikan dorongan, dan tak henti-hentinya berdoa untuk kesuksesan penulis.

7. Terima kasih kepada semua sahabat, rekan-rekan serta teman-teman seperjuangan grup A MKN 2013, serta rekan-rekan MKN USU Angkatan 2013, atas dukungan morilnya, sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

8. Tim WISUDA, Bang Mahyar, Okri, Rafa, Nuel serta teman seperjuangan kelas B Karyo, Nandar, Yaya, Ira, Kak Putri.

9. Terimakasih kepada seluruh anggota keluarga Drs. Rijal Lubis, M.Pd di medan tempat saya bernaung selama ini.

(10)

bermanfaat untuk melengkapi segala kekurangan yang ada. Bagaimanapun juga besar harapan penulis agar kiranya penulisan tesis ini dapa tmemberikan manfaat dan berguna bagi pembaca serta penulisan-penulisan selanjutnya.Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, Amin.

Medan, Agustus 2016

Penulis,

(11)

Nama : ABI YOGA HARAHAP

NIM : 137011044

Tempat/Tanggal Lahir : Pangkatan, 20 Januari 1991

Alamat : Asrama Kodim 0209/LB, kelurahan/Desa Padang

Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Propinsi Sumatera Utara

Status : Belum Kawin

Agama : Islam

Nomor HP : 081397415581

II. PENDIDIKAN FORMAL

1. SD Negeri No 115530 Tamat Tahun 2002 2. SMP Negeri 2 Kabanjahe Tamat Tahun 2005 3. SMA Negeri 1 Sidikalang Tamat Tahun 2008

4. S1 Fakultas Hukum Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Tamat Tahun 2012

5. S2 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Tamat Tahun 2016

(12)

vii

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR ISTILAH ASING... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 11 C. Tujuan Penelitian ... 11 D. Manfaat Penelitian ... 12 E. Keaslian Penelitian... 12

F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 14

1. Kerangka Teori ... 14

2. Kerangka Konsepsi ... 21

G. Metode Penelitian ... 24

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 25

2. Sumber Data... 26

3. Teknik Pengumpulan Data... 27

4. Analisis Data ... 27

BAB II KEDUDUKAN JANDA TANPA KETURUNAN DALAM KEWARISAN ISLAM... 29

(13)

viii

5. Harta Peninggalan Dalam Hukum Islam ... 45

B. Bagian Masing-Masing Ahli Waris Dalam Hukum Islam... 49

C. Kedudukan Janda Sebagai Ahli Waris... 59

BAB III PEMBAGIAN WARISAN UNTUK JANDA TANPA KETURUNAN DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR PERKARA 73 K/AG/2015... 69

A. Harta Peninggalan Pewaris ... 69

B. Bagian Ahli Waris Yang Berhak ... 74

1. Bagian Ahli Waris Menurut Hukum Islam ... 76

2. Bagian Ahli Waris Menurut Kompilasi Hukum Islam ... 78

C. Bagian Warisan Janda Tanpa Keturunan ... 81

BAB IV ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 73 K/AG/2015 TERKAIT BAGIAN WARISAN UNTUK JANDA TANPA KETURUNAN DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM... 85

A. Pihak Yang Berpekara ... 85

B. Alasan Diajukannya Gugatan Penggugat Pada Pengadilan Agama Padangsidempuan ... 86

C. Amar Putusan Mahkamah Agung-RI Nomor. 73K /AG/2015 Pada Setiap Tingkatan Peradilan Yang Menyidangkan Perkara Tersebut ... 94

1. Amar Putusan Mahkamah Agung-RI Nomor 73K /AG/2015 Pada Tingkat Pengadilan Agama Padangsidempuan ... 94

2. Amar Putusan Mahkamah Agung-RI Nomor 73K /AG/2015 Pada Tingkat Pengadilan Tinggi Agama Medan ... 95

(14)

ix

E. Analisis atas Putusan Hakim Mahkamah Agung-RI Nomor

73K/AG/2015 Dalam Pandangan Hukum Islam... 106

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 114

A. Kesimpulan ... 114

B. Saran ... 115

(15)

x

(16)

xi

kepada ahli waris ashâb al-furûdh.

Asabah bi al-gair = ahli waris yang menerima bagian sisa, karena

bersama dengan ahli waris lain yang telah menerima bagian sisa.

Asabah bin nafsih = ahli waris yang karena kedudukan dirinya

sendiri berhak menerima bagian asabah, ahli waris kelompok ini semua laki-laki.

Asabah ma’al-gair = ahli waris yang menerima bagian asabah,

karena bersama ahli waris lain yang bukan penerima bagian asabah, apabila ahli waris lain tidak ada, maka ia menerima bagian tertentu.

ashâb al-furûdh = ahli waris yang menerima bagian yang besar

kecilnya telah ditentukan dalam al-Qur’an.

Asshar = hubungan periparan.

Faraidh = pembagian yang telah ditentukan sesuai

dengan kadarnya masing-masing.

furu’I = Anak, cucu baik laki-laki maupun perempuan.

Hawasy = Saudara laki-laki atau perempuan, paman dan

anak laki-laki paman, bibi.

Hukmi = menurut Putusan Hakim.

Hukmiyah = hubungan yang ditetapkan oleh Hukum Islam.

Ikhtilâf = golongan yang hak warisnya masih

diperselisihkan.

Mawali = hubungan perwalian.

mu’tikah = perempuan yang memerdekakan hamba

(17)

xii

Tajhiz = biaya pengurusan jenazah.

Taqdiri = menurut dugaan.

Tasabbub = pembunuhan tidak langsung.

Tatsachen = hukum berdasarkan pada fakta.

Tirkah = Segala apa yang ditinggalkan oleh orang yang

meninggal yang dibenarkan oleh syariat untuk diwarisi oleh ahli warisnya.

Usuly = Ayah, kakek, ibu.

Zawi Al-Arham = ahli waris karena hubungan darah tetapi

menurut ketentuan Al-Qur’an tidak berhak menerima warisan.

zawi al-arhâm = ahli waris yang sesungguhnya memiliki

hubungan darah.

Zunnasbi = para ahli waris yang mempunyai hak

waris dari seseorang yang meninggal dunia – baik yang ditimbulkan melalui hubungan turunan.

(18)

A. Latar Belakang

Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam interaksi antar manusia terbentuk melalui perkawinan, ikatan antara kedua orang yang berlainan jenis dengan tujuan membentuk mahligai rumah tangga. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1

Berdasarkan Pasal 2 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan dalam ayat (1), Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu, dan ayat (2) menjelaskan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.2 Sahnya suatu perkawinan selanjutnya akan menimbulkan akibat hukum keperdataan serta hak dan kewajiban secara hukum bagi setiap individu dalam perkawinan.

Pasal 33 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menjelaskan bahwa suami isteri wajib saling saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.3

1

Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 2Pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan 3Pasal 33 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

(19)

Tujuan dari pengaturan hak dan kewajiban suami istri adalah agar suami istri dapat menegakkan rumah tangga yang merupakan sendi dasar dari susunan masyarakat.Sehingga undang-undang memberikan hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.4

Hak dan kewajiban suami istri terkait harta benda dalam perkawinan telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Pengaturan terkait harta benda dalam perkawinan ini dirasa perlu guna mencegah terjadinya perselisihan terkait harta benda dalam perkawinan jika dikemudian hari salah satu individu dalam perkawinan meninggal dunia terlebih dahulu, yang menyebabkan terbukanya harta warisan.

Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama5. Artinya, sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama menyeluruh antarà suami isteri. Harta bersama itu meliputi barang-barang bergerak dan barang-barang tak bergerak suami isteri, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, juga barang-barang yang mereka peroleh secara cuma-cuma. Hukum, sebagaimana ditentukan Pasal 122 KUHPerdata, mensyaratkan bahwa semua penghasilan dan pendapatan suami-istri, begitu pula semua keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian yang diperoleh selama perkawinan, juga menjadi keuntungan

4Pasal 31 Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 5Pasal 35 Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan

(20)

dan kerugian harta bersama. Yang dianggap sebagai keuntungan pada harta bersama suami isteri ialah bertambahnya harta kekayaan mereka berdua, yang selama perkawinan timbul dan hasil harta kekayaan mereka dan pendapatan masing-masing, usaha dan kerajinan masing-masing dan penabungan pendapatan yang tidak dihabiskan. Sementara yang dianggap sebagai kerugian ialah berkurangnya harta benda itu akibat pengeluaran yang lebih tinggi dari pendapatan. Adapun untuk pemanfaatan dan penggunaan harta bersama, Pasal 36 ayat (1) UU Perkawinan menyatakan bahwa suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

Seiring dengan pengertian harta bersama perkawinan sebagaimana diatur dalam UU No.1 Tahun 1974 dan KUHPerdata, Kompilasi Hukum Islam juga mengatur pengertian tentang harta bersama yang sama seperti dianut dalam UU No. 1 Tahun 1974 dan KUHPerdata di atas. Harta bersama perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam diistilahkan dengan istilah “syirkah” yang berarti harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami istri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.

Dikalangan masyarakat awam, terkait dengan harta bersama suami istri, sering menjadi polemik adalah mengenai kedudukan serta hak janda cerai mati (istri yang menjadi janda karena kematian suami) yang telah mendapatkan bagian dari harta bersama tetapi menuntut pula bagian dari harta warisan almarhum. Sebagian kalangan masyarakat awam tersebut menyatakan janda cerai mati tidak berhak atas harta warisan, sebagian kalangan menyatakan berhak.

(21)

Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum yang timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang menjadi ahli waris.

Hukum waris merupakan bagian dari hukum harta benda6, karena wafatnya seseorang maka akan ada pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya. Pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati pada dasarnya diberikan kepada keluarga tapi juga tidak menutup kemungkinan adanya pemindahan harta kekayaan tersebut kepada pihak ketiga.

Terdapat aneka hukum waris yang berlaku bagi warga negara Indonesia, yaitu:7

1. Hukum Waris Barat, tertuang di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Hukum Waris Islam, merupakan ketentuan yang diatur dalam Alquran dan Hadist.

3. Hukum Waris Adat, beraneka ragam tergantung di lingkungan mana masalah warisan itu terbuka.

6

H.Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal 82.

7Tamakiran, Asas-asas Hukum Waris Menurut Tiga Sistem Hukum, (Bandung: Pionir Jaya, 1992), hal 7.

(22)

Pembagian warisan menurut hukum waris perdata dapat dilaksanakan ketika terbukanya warisan, ditandai dengan meninggalnya pewaris. Pewarisan hanya berlangsung karena kematian.8 Peristiwa kematian menurut hukum mengakibatkan terbukanya warisan dan sebagai konsekuensinya seluruh kekayaan (baik berupa aktiva maupun pasiva ) yang tadinya dimiliki oleh seorang peninggal harta beralih dengan sendirinya kepada segenap ahli warisnya secara bersama-sama.9

Pembagian harta warisan atau harta peninggalan diawali dengan penentuan siapa saja yang berhak untuk mendapatkan bagian-bagian tersebut, menentukan besar bagian yang didapat oleh yang berhak tersebut serta langkah selanjutnya penyelesaian pembagian harta warisan yang dilaksanakan dengan kesepakatan para pihak yang berhak dalam pembagian harta warisan tersebut. Pihak yang berhak dalam pembagian harta warisan atau harta peninggalan adalah ahli waris, ahli waris merupakan orang-orang yang berhak menerima harta warisan (harta pusaka).

Pasal 174 KHI menyatakan mengenai kelompok ahli waris dalam hukum Islam, yang berbunyi:

1. Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari: a. Menurut hubungan darah:

1) Golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.

2) Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

8

Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

9 Syahril Sofyan, Beberapa Dasar Teknik Pembuatan Akta (Khusus Warisan), ( Medan : Pustaka Bangsa Press, 2011), hal. 5.

(23)

b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari : duda atau janda.

2. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Dalam kajian fiqh islam, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang dengan orang lain saling waris mewarisi, yaitu:

1. Karena hubungan pertalian darah

Ajaran islam mengatur bahwa kekerabatan melalui pertalian darah merupakan factor penyebab antara seseorang dengan orang lain saling mewarisi. Kekerabatan melalui hubungan darah dapat dalam bentuk hubungan kekerabatan garis lurus ke atas, atau garis lurus ke bawah, atau kekerabatan dalam garis menyamping.10

2. Karena ikatan perkawinan yang sah

Ikatan perkawinan yang dianggap sah sehingga karena nya timbul hak saling mewarisi antara suami dan istri, adalah ikatan perkawinan yang telah memenuhi ketentuan pasal 2 ayat (1 dan 2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.11 Ketentuan pasal 2 tersebut berbunyi sebagai berikut:

(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hokum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu;

10

M. Anshary, Hukum Kewarisan Islam, dalam teori dan praktik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2013, hal. 25

(24)

(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Karena kesamaan iman pewaris dan ahli waris

Kompilasi Hukum Islam memberikan satu syarat lagi tentang sebab adanya saling mewaris di samping karena adanya hubungan pertalian darah dan pertalian perkawinan sebagaimana di atas, adalah bahwa seorang ahli waris dan pewaris harus memiliki iman dan akidah yang sama, yaitu sama-sama berakidah islam.12 Ketentuan ini diatur dalam pasal dalam pasal 171 huruf b dan c Kompilasi Hukum Islam, bunyinya sebagai berikut:

(b) pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan agama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

(c) ahli waris adalan orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

Hukum waris menduduki tempat amat penting dalam Hukum Islam. Ayat-ayat Al Qur’an mengatur hukum waris dengan jelas dan terperinci : hal ini dapat dimengerti sebab masalah warisan pasti dialami oleh setiap orang. Sedemikian pentingnya kedudukan hukum waris Islam dalam hukum Islam dapat terlihat dari hadits Nabi riwayat Ibnu Majah dan Darru Quthni sebagaimana dikutip Mukhlis Lubis yang menyatakan bahwa “Pelajarilah faraidh (hukum waris) dan ajarkanlah

(25)

kepada manusia (orang banyak), karena dia (faraidh) adalah setengah ilmu dan dia (faraidh) mudah dilupakan serta merupakan ilmu yang pertama kali hilang dari umatku”.13

Ketentuan-ketentuan hukum waris mengenai warisan untuk janda terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara ketentuan KUHPerdata dan hukum Islam. Dalam KUHPerdata janda karena kematian suami mendapatkan warisan yang sama besar dengan anak-anak yang ditinggalkan dan apabila tidak terdapat keterununan maka janda tersebut berhak atas seluruh warisan.14 Suami atau istri yang hidup terlama tersebut mengesampingkan orang tua, saudara laki-laki dan perempuan seandainya mereka masih ada.

Dalam Hukum Islam warisan untuk janda dibagi berdasarkan dengan bagian tertentu.15 Dalam Al-Qur’an Surat An Nisa’ ayat 7 memberi ketentuan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama berhak atas warisan orang tuanya dan kerabatnya. Menurut Hukum Islam, istri adalah ahli waris dari almarhum suaminya. Janda termasuk Dzul fara-idh yaitu ahli waris yang bagiannya telah ditentukan, dalam sistem Hukum Waris Islam walaupun tidak ada anak, janda tidak mewaris seluruh warisan. Janda mewaris bersama orang tua dan saudara-saudara pewaris.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian ini akan dikaji putusan Mahkamah Agung Nomor 73K/Ag/2015. Perkara ini diawali DH bin

13Mukhlis Lubis,Ilmu Pembagian Waris, Pesantren Al Manar, Medan , 2011, hal. 87 14

Riki Budi Aji,Perbandingan Pembagian Warisan Untuk Janda Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Kompilasi Hukum Islam, JOM Fakultas Hukum, 2015, hal. 2

15Bagian tertentu dalam Al-Qur’an yang disebutFurudhadalah dalam bentuk angka pecahan yaitu 1/2, 1/4, 1/8, 1/6, 1/3, dan 2/3.

(26)

JH telah melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan yang bernama Hj. SL binti BNS, dan dalam pernikahan tersebut telah dikaruniai 9 orang anak kandung, masing-masing bernama:

1. HBH (almarhum/suami Tergugat); 2. BSH (Saudara alm HBH);

3. KH (Saudara alm HBH);

4. Alm. H. IEH (almarhum/ Saudara alm. HBH); 5. OH (Saudara alm HBH);

6. NH (Saudari alm HBH);

7. ATH (Saudara alm HBH)

8. LKH (Saudari alm HBH); 9. GSH (Saudara alm HBH);

Pada Tahun 1985, semasa hidupnya alm. HBH/saudara laki-laki kandung para Penggugat telah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hj. NN/Tergugat di mana pernikahan tersebut dilangsungkan di Lingkungan I, Kelurahan Pasar Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas dahulu Kabupaten Tapanuli SelatanKabupaten Padang Lawas. pada hari Jum’at tanggal 21 September 2012, HBH/suami Tergugat meninggal dunia disebabkan sakit, dan dalam keadaan beragama Islam. Selama pernikahan alm. HBH dengan Tergugat Hj. NN hingga meninggal dunia tidak dikaruniai keturunan atau anak, sehingga ketika alm. HBH meninggal dunia, beliau meninggalkan ahli waris yaitu:

(27)

2. Hj. NN (istri/Tergugat); 3. BSH (Saudara alm. HBH); 4. KH (Saudara alm. HBH);

5. Alm. H. IEH, dengan ahli waris pengganti: 1. MH; 2. AAH; 3. MAH; 4. CH; 5. SMH; 6. OH (Saudara alm. HBH); 7. NH (Saudari alm. HBH); 8. ATH (Saudara alm. HBH); 9. LKH (Saudari alm. HBH); 10. GSH (Saudara alm. HBH);

Semasa hidupnya dalam pernikahan antara alm. HBH dengan Tergugat/Hj. NN telah memperoleh harta bersama yang merupakanharta pencaharian bersama berupa: rumah, tanah, mobil. Setelah meninggalnya alm. HBH, maka seluruh objek perkara tersebut dikuasai oleh Hj. NN.

Oleh karena itu penggugat melakukan gugatan terhadap tergugat yang tetap menguasai harta warisan alm. HBH dan menuntut hak-hak mereka atas harta warisan tersebut.

(28)

Berdasarkan uraian di atas tesis ini akan difokuskan untuk melakukan penelitian terkait dengan hak waris janda dengan mengambil judul “Hak Waris Janda Dalam Perkawinan Yang Tidak Memiliki Keturunan (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor Perkara 73K/AG/2015)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kedudukan janda tanpa keturunan terhadap harta warisan suami menurut Hukum Islam?

2. Berapakah bagian warisan untuk janda tanpa keturunan menurut Hukum Islam? 3. Bagaimanakah pertimbangan hukum hakim dalam putusan Mahkamah Agung

Nomor Perkara 73K/AG/2015dalam pandangan Hukum Islam?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang disebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui kedudukan janda tanpa keturunan terhadap harta warisan suami menurut Hukum Islam.

2. Mengetahui bagian warisan untuk janda tanpa keturunan menurut Hukum Islam. 3. Mengetahuipertimbangan hukum hakim dalam putusanMahkamah Agung Nomor

(29)

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara Teoritis maupun secara Praktis dibidang hukum perdata dan hak waris janda.

1. Secara Teoritis

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa :

a. Menambah khasanah ilmu Hukum Perdata khususnya mengenai kedudukan janda sebagai ahli waris.

b. Memberi bahan masukan dan/atau dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk melahirkan berbagai konsep keilmuan yang dapat memberikan andil bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum perdata khususnya mengenai kedudukan janda sebagai ahli waris.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa :

a. Manfaat yang sebesar-besarnya bagi para praktisi hukum khususnya bagi para Notaris sehubungan dengan hak waris janda dalam perkawinan yang tidak memiliki keturunan.

b. Mengungkap masalah-masalah yang timbul dan/atau muncul dalam lapangan hukum dan masyarakat serta memberikan solusinya sehubungan dengan hak waris janda dalam perkawinan yang tidak memiliki keturunan.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Magister

(30)

Kenotariatan Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan judul “Hak Waris Janda Dalam Perkawinan Yang Tidak Memiliki Keturunan (Studi Kasus Mahkamah Agung Nomor Perkara73K/AG/2015) belum pernah dilakukan. Akan tetapi ditemukan beberapa judul tesis yang berhubungan dengan topik dalam tesis ini diantara lain :

1. Rizki Febri Hadiyati, NIM. 087011102, dengan judul Kedudukan Janda Terhadap Harta Peninggalan Suami Menurut Hukum Waris Adat Bali (Studi Penelitian Pada Masyarakat Bali Di Desa Kertalangu Kecamatan Kesiman Kabupaten Badung Denpasar Timur).

Rumusan Masalah :

a. Bagaimanakah pergeseran kedudukan janda dalam hukum waris adat Bali? b. Bagaimanakah pembagian harta warisan dalam hukum waris adat Bali?

c. Upaya yang dilakukan oleh janda apabila pembagian warisan suami yang meninggal dunia tidak dapat diselesaikan menurut hukum adat waris Bali? 2. Fedy Ridho, NIM. 087011141, dengan judul Hak Mewaris Bagi Ahli Waris

Golongan Kedua (Studi Kasus Pada Pengadilan Negeri Medan Nomor Perkara : 127/PDt.G/2008/PN.Mdn.

Rumusan Masalah:

a. Bagaimana kedudukan hukum ahli waris golongan II setelah terbitnya penetapan pengesahan yang dilakukan setelah pewaris meninggal dunia ? b. Bagaimana akibat hukum penetapan pengesahan perkawinan yang dilakukan

(31)

c. Bagaimana kekuatan pembuktian surat ke terangan ahli waris yang dibuatkan oleh Notaris ?

3. Villa Sari, Nim. B4B001210, dengan judul Kedudukan Janda dalam Hukum Waris Adat di Kabupaten Semarang.

Rumusan Masalah:

a. Bagaimana kedudukan janda dalam hukum waris adat terhadap harta gono gini dan harta gono di Kabupaten Semarang ?

b. Bagaimanakah kedudukan janda dalam hukum waris adat terhadap harta gono-gini dan harta gono sehubungan dengan adanya dua putusan yang berbeda antara Pengadilan Negeri Kab. Semarang dan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah ?

Dari judul penelitian tersebut tidak ada kesamaan dengan penelitian yang dilakukan. Dengan demikian judul ini belum ada yang membahasnya sehingga penelitian ini dijamin keasliannya dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Dalam penelitian suatu permasalahan hukum, maka relevan apabila

pembahasan dikaji menggunakan teori-teori hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum. Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian hukum.16

16

(32)

Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi. Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya. Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.17

Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk menstrukturisasikan penemuan-penemuan selama penelitian, membuat beberapa pemikiran, prediksi atas dasar penemuan dan menyajikannya dalam bentuk penjelasan-penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan. Penelitian ini berusaha untuk memahami kepastian hukum dari hak waris janda yang tidak memiliki keturunan. Hal ini berarti teori yang digunakan untuk menjelaskan fakta dan peristiwa hukum yang terjadi sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum dan teori keadilan.

Pembahasan mengenai hak waris janda jika tidak memiliki keturunan pada hakekatnya tidak dapat terlepas dari hubungan dengan masalah kepastian hukum dan keadilan, dimana adanya kepastian hukum dan keadilan hak waris janda. Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:

a. Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,

b. Berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa Pasal-Pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim

17 JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, (Jakarta : UI Press, 1996), hal. 203.

(33)

yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah di putuskan”.18

Kepastian hukum bermuara pada ketertiban secara sosial. Dalam kehidupan sosial, kepastian adalah mensamaratakan kedudukan subjek hukum dalam suatu perbuatan dan peristiwa hukum. Dalam paham positivisme, kepastian diberikan oleh negara sebagai pencipta hukum dalam bentuk undang-undang. Pelaksanaan kepastian di konkritkan dalam bentuk lembaga yudikatif yang berwenang mengadili atau menjadi wasit yang memberikan kepastian bagi setiap subjek hukum. Dalam hubungan secara perdata, setiap subjek hukum dalam melakukan hubungan hukum melalui perjanjian juga memerlukan kepastian hukum. Pembentuk Undang-undang memberikan kepastiannya melalui Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian yang berlaku sah adalah Undang-undang bagi para subjek hukum yang melakukannya dengan itikad baik. Subjek hukum diberikan keleluasaan dalam memberikan kepastian bagi masing-masing subjek hukum yang terlibat dalam suatu kontrak. Kedudukan yang sama rata dipresentasikan dalam bentuk itikad baik. Antar subjek hukum yang saling menghargai kedudukan masing-masing subjek hukum adalah perwujudan dari itikad baik.

Teori kepastian hukum menurut Radbruch, hubungan antara keadilan dan kepastian hukum perlu diperhatikan. Oleh karena kepastian hukum harus dijaga demi keamanan dalam negara, maka hukum positif selalu harus ditaati, walaupun isinya kurang adil atau juga kurang sesuai dengan tujuan hukum.Tetapi dapat pengecualian

18Peter Mahmud Marzuki,Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Kencana Pranada Media Group, 2008), hal. 158.

(34)

bilamana pertentangan antara isi tata hukum tentang keadilan begitu besar. Sehingga tata hukum itu tampak tidak adil pada saat itu tata hukum boleh dilepaskan.19

Menurut Soerjono Soekanto bagi kepastian hukum yang penting adalah peraturan dan dilaksanakan peraturan itu sebagaimana yang ditentukan. Dengan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, siapa pun yang berkepentingan akan mudah mengetahui kemungkinan apa yang tersedia baginya untuk menguasai, bagaimana cara memperolehnya, hak-hak, kewajiban serta larangan-larangan apa yang ada didalam.20

Tentang teori kepastian hukum, Soerjono Soekanto mengemukakan: Wujud kepastian hukum adalah peraturan-peraturan dari pemerintah pusat yang berlaku umum diseluruh wilayah negara. Kemungkinan lain adalah peraturan tersebut berlaku umum, tetapi bagi golongan tertentu, selain itu dapat pula peraturan setempat, yaitu peraturan yang dibuat oleh penguasa setempat yang hanya berlaku di daerahnya saja, misalnya peraturan kotapraja.21

Jika dikaitkan dengan teori kepastian hukum menurut Satjipto Rahardjo, kepastian hukum adalah “Sicherkeit Des Rechts Selbst” (kepastian mengenai hukum itu sendiri). Ada 4 (empat) hal yang erat kaitannya dengan makna kepastian hukum.22

a. Hukum itu positif, dengan maksud bahwa hukum adalah perundang-undangan (gesetzliches Recht).

19Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, (Yogyakarta, Kanisius, 1982) hal. 163

20 Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah

Sosial,(Bandung, Alumni, 1982) hal. 21 21

Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam Kerangka Pembangunan Indonesia, Jakarta, UI Pres, 1974) hlm. 56

(35)

b. Hukum itu didasarkan pada fakta (Tatsachen), bukan pada suatu rumusan tentang penilaian yang nantinya akan diterapkan oleh hakim, seperti “kemauan baik” dan ”kesopanan”.

c. Fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga nantinya menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, di samping itu juga bertujuan agar mudah dijalankan.

d. Bahwa hukum positif itu tidak boleh sering diubah-ubah atau diganti.

Berdasarkan teori kepastian hukum menurut Satjipto Rahardjo diatas, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta (Tatsachen), fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga nantinya menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping itu juga bertujuan agar mudah dijalankan. Jika dikaitkan dengan teori kepastian hukum tersebut bahwa hak waris janda kurang memiliki kepastian hukum yang jelas, disebabkan karena peraturan perundang-undangan yang belum baku mengenai hak waris janda di Indonesia sangat sering menimbulkan permasalahan dan kebingungan dalam masyarakat.

Keadilan menjadi isu penting dalam penerapan hukum yang diberlakukan pada masyarakat. Untuk menjamin situasi adil tersebut perlu ada jaminan terhadap sejumlah hak dasar yang berlaku bagi semua, seperti kebebasan untuk berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan berserikat, kebebasan berpolitik dan kebebasan di mata hukum.23 Hesti Armiwulan Sochmawardiah, memberikan konsep mengenai teori keadilan :

a. Teori keadilan Rawls dapat disimpulkan memiliki inti sebagai berikut memaksimalkan kemerdekaan. Pembatasan terhadap kemerdekaan ini hanya untuk kepentingan kemerdekaan sendiri.

23Hesti Armiwulan Sochmawardiah,Diskriminasi Rasial Dalam Hukum HAM, Studi Tentang

(36)

b. Kesetaraan bagi semua orang, baik kesetaraan dalam kehidupan sosial maupun kesetaraan dalam bentuk pemanfaatan kekayaan alam (“social goods”). Pembatasan dalam hal ini anya dapat diizinkan bila ada kemungkinan keuntungan yang lebih besar.

c. Kesetaraan kesempatan untuk kejujuran, dan penghapusan terhadap ketidaksetaraan berdasarkan kelahiran dan kekayaan.24

Rawls melahirkan 3 (tiga konsep) prinsip keadilan, yang sering dijadikan rujukan oleh beberapa ahli yakni :

a. Prinsip Kebebasan yang sama (equal liberty of principle) b. Prinsip perbedaan (difference principle)

c. Prinsip persamaan kesempatan (equal opportunity principle)

Rawls berpendapat jika terjadi benturan (konflik), maka :Equal liberty principle harus diprioritaskan daripada prinsip-prinsip yang lainnya. Dan Equal opportunity principle harus diprioritaskan daripada difference principle.25

Teori Keadilan John Rawls juga mempersoalkan kebenaran dari Teori Utilitarianisme atau Utilisme yang selama ini digunakan untuk memahami hakekat dari norma hukum dalam suatu negara.26 Dalam Teori Utilitarianisme, pada hakekatnya hukum dibentuk dibentuk tentu dimaksudkan tidak hanya sekedar sebagai norma yang mengatur masyarakat namun hukum tentu dibentuk untuk mencapai kebahagian individu atau setidak-tidaknya untuk sebagian terbesar masyarakat. Teori Utilitarianisme selama ini digunakan untuk menganalisis tentang makna hukum. Teori Utilitarianisme atau Utilisme adalah alliran yang meletakkan kemanfaatan sebagai tujuan utama hukum.27

24 Ibid. 25 Ibid.Hal 102 26Ibid.Hal 102-103 27Ibid.Hal 103.

(37)

Hans Kelsen mengemukakan keadilan sebagai pertimbangan nilai yang bersifat subjektif. Walalupun suatu tatanan yang adil yang beranggapan bahwa suatu tatanan bukan kebahagian setiap perorangan, melainkan kebahagian sebesarnya-sebesarnya bagi sebanyak mungkin individu dalam arti kelompok, yakni terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan.28Teori ini mengemukakan bahwa nilai keadilan berlaku apabila dapat dinikmati oleh masyarakat banyak.

Gagasan Islam tentang keadilan dimulai dari diskursus tentang keadilan ilahiyah, apakah rasio manusia dapat mengetahui baik dan buruk untuk menegakkan keadilan dimuka bumi tanpa bergantung pada wahyu atau sebaliknya manusia itu hanya dapat mengetahui baik dan buruk melalui wahyu (Allah).

Pada optik inilah perbedaan-perbedaan teologis di kalangan cendekiawan Islam muncul. Perbedaan-perbedaan tersebut berakar pada dua konsepsi yang bertentangan mengenai tanggung jawab manusia untuk menegakkan keadilan ilahiah, dan perdebatan tentang hal itu melahirkan dua mazhab utama teologi dialektika Islam yaitu:mu`tazilahdanasy`ariyah.

Dasar Mu`tazilah adalah bahwa manusia, sebagai yang bebas, bertanggung jawab di hadapan Allah yang adil. Selanjutnya, baik dan buruk merupakan kategori-kategori rasional yang dapat diketahui melalui nalar yaitu, tak bergantung pada wahyu. Allah telah menciptakan akal manusia sedemikian rupa sehingga mampu melihat yang baik dan buruk secara obyektif. Ini merupakan akibat wajar dari tesis pokok mereka bahwa keadilan Allah tergantung pada pengetahuan obyektif tentang

(38)

baik dan buruk, sebagaimana ditetapkan oleh nalar, apakah sang Pembuat hukum menyatakannya atau tidak. Dengan kata lain, kaum Mu`tazilah menyatakan kemujaraban nalar naluri sebagai sumber pengetahuan etika dan spiritual, dengan demikian menegakkan bentuk obyektivisme rasionalis.29

2. Kerangka Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dalam teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi, antara abstraksi dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal- hal yang khusus yang disebut definisi operasional.30Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini haruslah didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil dalam penelitian ini yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum disamping yang lain- lain, seperti asas dan standar. Oleh karena itu kebutuhan untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal- hal yang dirasakan penting dalam hukum.

Konsep adalah suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analisis.31Suatu konsep atau suatu kerangka konsepsionil pada hakikatnya merupakan suatu pengarah atau pedoman yang lebih konkrit dari pada kerangka teoritis yang seringkali masih bersifat abstrak. Namun demikian, suatu kerangka konsepsionil, kadang- kadang

29

Mumtaz Ahmad ,Masalah-Masalah Teori politik Islam, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 154-155. 30

Samadi Suryabrata,Metodelogi Penelitian, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998) , hal. 3 31Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1995, hal 7

(39)

dirasa masih juga abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi operasional yang akan dapat menjadi pegangan konkrit di dalam proses penelitian.32

Untuk dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini perlu didefenisikan beberapa konsep dasar sehingga diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan. Konsep tersebut sebagai berikut :

a. Pewaris adalah orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta kekayaan pada orang yang masih hidup.33

b. Harta warisan adalah segala harta kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris setelah dikurangi dengan semua hutangnya. Harta warisan menjadi hak ahli waris.34

c. Ahli waris adalah setiap orang yang berhak atas harta peninggalan pewaris dan berkewajiban menyelesaikan hutang-hutangnya. Hak dan kewajiban tersebut timbul setelah pewaris meninggal dunia. Hak waris ini didasarkan pada hubungan perkawinan, hubungan darah, dan surat wasiat, yang diatur dalam undang-undang.35

d. Janda adalah orang yang tidak bersuami, baik karena perceraian hidup maupun mati.36 Janda dalam hukum waris adalah sebagai suami atau istri yang hidup terlama dalam hubungan perkawinan yang putus akibat peristiwa kematian atau

32

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia Press, 2008, hal 13

33 Abdulkadir Muhammad,Hukum Perdata Indonesia.Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000, hal. 270.

34

Ibid, hal.292 35

Ibid,282

36 Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia.Semarang:CV Widya Karya, 2005, hal. 199.

(40)

cerai mati.

e. Hak waris janda adalah sesuatu yang menjadi hak milik seorang janda yang berasal dari harta peninggalan suaminya.37

f. Keturunan adalah adanya hubungan darah antara orang seorang dengan orang lain atau pertalian keluarga.38

g. Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha.39

h. Harta bersama adalah harta yang berhasil dikumpulkan selama berumah tangga sehingga menjadi hak berdua suami istri. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dimaksud harta bersama atau harta gono-gini adalah harta perolehan bersama selama bersuami istri.40

i. Harta asal (bawaan) adalah harta benda yang telah dimiliki masing-masing suami-istri sebelum mereka melangsungkan perkawinan, baik yang berasal dari warisan, hibah, atau usaha mereka sendiri-sendiri. Harta bawaan dikuasai oleh masing-masing pemiliknya yaitu suami atau istri.41

j. Mahkamah Agung adalah sebuah lembaga Negara yang berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah

37

Muhammad Najich Chamdi,Hak Waris Janda Dalam Tradisi Masyarakat Osing Di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2008, hal. 1.

38Poerwadarminta,Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003) hal. 672 39

Pasal 1Undang-undang Nomor I Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 40

Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Setelah Terjadinya Perceraian, (Jakarta: Visimedia, 2008), hal. 2

(41)

undangundang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang.42

k. Boedel harta adalah warisan yang berupa kekayaan saja, dan Yang perlu segera dikeluarkan dari harta orang meninggal dunia antara lain ialah :

1. Biaya pengurusan mayat. 2. Dibayarkan utangnya.

3. Dilaksanakan wasiatnya/hibah wasiatnya.

4. Dalam Hukum Waris Islam diambil zakatnya/sewanya. 5. Sisanya adalah harta warisan.

Umumnya biaya pengurusan mayat ditanggung oleh pihak keluarganya.43 l. Boedel menurut Hukum Islam adalah seluruh harta kekayaan berupa atau yang

terdiri dari aktiva dan passiva yang dimiliki oleh seorang muslim semasa hayatnya dan yang ditinggalkan saat wafatnya.44

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu; sistematis adalah

42Pasal 24A angka (1) Undang-undang Dasar 1945. 43

Subekti Raden, Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Jakarta : PT. Pradnya Paramita,

1995.

44M. Hasballah Thaib dan Syahril Sofyan, Teknik Pembuatan Akta Penyelesaian Warisan,

(42)

berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.45

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan normatif, yaitu penelitian hukum kepustakaan. Pendekatan normatif oleh karena sasaran penelitian ini adalah hukum atau kaedah (norm). Pengertian kaedah meliputi asas hukum, kaedah dalam arti sempit (value), Peraturan hukum konkret. Penelitianyang berobjekan hukum normatif berupa asas-asas hukum, sistem hukum, taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal.46

Penelitian yuridis normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan perpustakaan atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama bahan sekunder dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum.47

b. Sifat Penelitian

Metode pendekatan penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif analisis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis

45

Soerjono Soekanto.Opcit, hal. 42.

46Soejono Soekanto dan Sri Mamudji.Opcithal 70. 47Ibid,hal .33.

(43)

dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.48

2. Sumber Data

Sebagai data dalam penelitian ini digunakan data sekunder sebagai data yang dapat menunjang keberadaan data primer tersebut, adapun kedua data tersebut meliputi sebagai berikut:

a. Data Sekunder

Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahaan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum.49Data sekunder berasal dari penelitian kepustakaan (library research) yang diperoleh dari :

1) Bahan Hukum Primer.

Yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini yaitu : Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Studi Kasus Mahkamah Agung Nomor Perkara 73K/AG/2015.

2) Bahan Hukum Sekunder.

Yaitu bahan hukum memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Fiqh islam, Al-Qur’an dan

48

Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung Alumni, 1994), hal 101.

49 Fajat dan Yulianto, Dualisme Penelitan Hukum. Normatif dan Empiris, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) hal 34.

(44)

Hadist, hasil-hasil penelitian, hasil karangan dari kalangan hukum, dan seterusnya.50

3) Bahan Hukum Tertier.

Yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, contohnya adalah kamus dan ensiklopedia lain.51

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui penelitian kepustakaan (Library Research). Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil permikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Sedangkan alat pengumpulan datanya adalah mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang-undangan yang terkait selanjutnya digunakan untuk kerangka teoritis pada penelitian lapangan.

4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang

50Ibid,hal 13. 51Ibid.

(45)

bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regulitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).52

Analisis data penelitian berisi uraian tentang cara-cara analisis yang menggambarkan bagaimana suatu data dianalisis dan apa manfaat data yang

terkumpul untuk dipergunakan memecahkan masalah yang dijadikan objek

penelitian.53

Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, yang artinya data diuraikan secara deskriptif, sebagaimana bentuk-bentuk penelitian ilmu sosial, bila dilakukannya sebuah penelitian atas ilmu tersebut. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik

kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus, guna menjawab

permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

52

Burhan Bungin,Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 53.

(46)

BAB II

KEDUDUKAN JANDA TANPA KETURUNAN DALAM KEWARISAN ISLAM

A. Hubungan Ahli Waris Dengan Pewaris

Hukum waris adalah segala peraturan hukum yang mengatur tentang beralihnya harta warisan dari pewaris karena kematian kepada ahli waris atau orang yang ditunjuk.54 Subekti dan Tjitrosoedibio mengatakan bahwa waris adalah hukum yang mengatur tentang apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan dari seorang yang meninggal.55

Pengertian waris timbul karena adanya peristiwa kematian yang terjadi pada seorang anggota keluarga yang memiliki harta kekayaan. Yang menjadi pokok persoalan bukanlah mengenai peristiwa kematian itu, melainkan harta kekayaan yang ditinggalkan. Artinya siapakah yang berhak atas harta kekayaan yang ditinggalkan oleh almarhum tersebut. Dengan demikian bahwa waris disatu sisi berakar pada keluarga dan di sisi lain berakar pada harta kekayaan. Berakar pada keluarga karena menyangkut siapa yang menjadi ahli waris, dan berakar pada harta kekayaan karena

menyangkut hak waris atas harta kekayaan yang ditinggalkan oleh

pewaris/almarhum.

Hukum kewarisan Islam sering dikenal dengan istilah faraidh. Hal ini karena dalam Islam, bagian-bagian warisan yang menjadi hak ahli waris telah ditentukan

54

Abdul Kadir Muhammad,Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, (Bandung: 1990), hal.267 55

(47)

dalam Al Qur’an. Hukum kewarisan dalam Islam mendapat perhatian besar, karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan.56

Hukum kewarisan menurut fiqh mawaris adalah fiqih yang berkaitan dengan pembagian harta warisan, mengetahui perhitungan agar sampai kepada mengetahui bagian harta warisan dan bagian-bagian yang wajib diterima dari harta peninggalan untuk setiap yang berhak menerimanya.57

Pengertian hukum kewarisan menurut Pasal 171 huruf a Kompilasi Hukum Islam adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Dalam konteks yang lebih umum, warisan dapat diartikan sebagai perpindahan hak kebendaan dari orang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya yang masih hidup.58

Mewaris berarti menggantikan tempat dari seseorang yang meninggal dalam hubungan hukum harta kekayannya. Hubungan-hubungan hukum yang lain, misalnya hubungan hukum dalam hukum keluarga.59 Dalam redaksi yang lain, Hasby Ash-Shiddieqy mengemukakan, hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur siapa-siapa orang yang mewarisi dan tidak mewarisi, bagian penerimaan setiap ahli waris dan cara-cara pembagiannya. Berbeda dengan dua definisi di atas, Wirjono

56 Ahmad Rofiq ,Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995), hal.355.

57 http://edon79.wordpress.com/2009/07/10/fiqh-mawaris/, di unduh pada tanggal 29 Desember 2015.

58

Ahmad Rofiq,Fiqh Mawaris, (Jakarta : PT Raja GrafindoPersada, 2002), hal.4.

59 R Soetojo Prawirohamidjojo, Hukum Waris Kodifikasi, (Surabaya: Airlangga University Press, 2000), hal.3.

(48)

Prodjodikoro menjelaskan, warisan adalah soal apa dan bagaimana berbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.60

Waris dalam bahasa Indonesia disebut pusaka, yaitu harta benda dan hak yang

ditinggalkan oleh orang yang mati untuk dibagikan kepada yang berhak

menerimanya. Pembagian itu lazim disebut Faraidh, artinya menurut syara’ ialah pembagian pusaka bagi yang berhak menerimanya.61

Adapun yang menjadi dasar pelaksanaan pembagian harta warisan dalam hukum Islam adalah berpedoman pada ayat-ayat Al Qur’an berikut ini, yaitu :

a. Surat An-Nisa’ ayat 7, yang artinya :

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”62

b. Surat An-nisa’ ayat 8, yang artinya :

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”63

c. Surat An-Nisa’ ayat 11, yang artinya :

60Ahmad Rofiq ,Hukum Islam di Indonesia, Op.Cit., hal.355. 61

Moh Rifai, Ilmu Fiqih Islam, (Semarang: CV Toha Putra,1978), hal.513. 62

Joko Utama, Muhammad Faridh, Mashadi, Al-Qur’an Al Karim dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Putra Toha Semarang), hal.62.

(49)

“Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibubapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetpan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha bijaksana.”64

d. Surat An-Nisa’ ayat 12, yang artinya

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah, dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja), atau saudara perempuan (seibu saja), maka bagian masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”65

e. Surat An-Nisa’ ayat 33

“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dan

64Ibid. 65Ibid.

(50)

orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”66

f. Surat An-Nisa’ ayat 176, yang artinya :

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : Jika seseorang meningal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkanya dan saudara-saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara

laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah

menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”67

g. Surat Al-Baqarah ayat 180, yang artinya :

“Diwajibkan atas kamu apabila sesorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang bertakwa.”68

h. Surat Al-Baqarah ayat 240, yang artinya :

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk ister-isterinya (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka membuat yang makruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”69

66 Ibid., hal.66. 67 Ibid.,hal.84. 68Ibid., hal.21 69Ibid., hal 31.

(51)

i. Surat Al-Azhab ayat 4, yang artinya :

“Allah sekali-sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri yang kamu zhihar itu sebagai ibu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).”70

Masalah-masalah yang menyangkut warisan ada yang sudah dijelaskan permasalahannya dalam Al-Qur’an atau sunnah dengan keterangan yang kongkret, sehingga tidak timbul macam-macam interpretasi, bahkan mencapai ijma’ (konsensus) di kalangan ulama dan umat Islam. Selain dari itu masih banyak masalah warisan yang dipersoalkan atau diperselisihkan.71 Dan dasar hukum pelaksanaan pembagian warisan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI), yaitu terdapat dalam Pasal 171-193 KHI.

1. Sebab Terjadinya Hubungan Waris Dalam Hukum Islam

Pewarisan adalah peralihan hak waris dari pewaris kepada ahli waris yang masih hidup, sedangkan pewarisan tersebut baru bisa terjadi jika ada sebab-sebab yang mengikat antara pewaris dan ahli warisnya. Adapun seseorang yang berhak mendapat waris berdasarkan salah satu sebab sebagai berikut:72

a. Kekerabatan

Kekerabatan adalah hubungan nasab antara pewaris dengan orang yang akan menerima warisan karena adanya pertalian darah, waris karena hubungan nasab ini mencakup:

70

Ibid.,hal 334.

71

Muhammad Jawad Mughniyah,Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta: Lentera, 2001), hal.535. 72Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Kewarisan Islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau, (Jakarta: Gunung Agung, 1984),hal. 28-41

(52)

1) Anak, cucu baik laki-laki maupun perempuan (furu’i) 2) Ayah, kakek, ibu (usuly)

3) Saudara laki-laki atau perempuan, paman dan anak laki-laki paman, bibi (hawasy)

b. Perkawinan

Perkawinan menyebabkan adanya hubungan hukum saling mewarisi antara suami dan istri, apabila di antara keduanya ada yang meninggal dunia, maka istri atau jandanya mewarisi harta suaminya. Demikian juga jika istri meninggal dunia, maka suami mewarisi harta istrinya.73

c. Wala’

Wala’ yaitu hubungan hukmiyah, yaitu suatu hubungan yang ditetapkan oleh Hukum Islam, karena tuannya telah memberikan kenikmatan untuk hidup merdeka dan mengembalikan hak asasi kemanusiaan kepada budaknya. Tegasnya, jika seorang tuan telah memerdekakan budaknya, maka terjadilah hubungan kekeluargaan yang di sebutwala’ itqi.74Dengan adanya hubungan tersebut, seorang tuan menjadi ahli waris dari budak yang dimerdekakannya itu, dengan syarat budak yang bersangkutan itu tidak mempunyai ahli waris sama sekali, baik karena hubungan kekerabatan maupun karena perkawinan.75 Adapun bagian orang yang memerdekakan hamba sahaya (budak) adalah 1/6 (seperenam) dari harta peninggalan.76

73 Rachmad Bodiono,Pembaharuan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bahkti, 1999),hal. 8.

74

Muhammad Ali as-shabuni,Hukum Waris Dalam Syariat Islam, (Bandung: Diponegoro, 1988), hal. 47.

75Ibid, hal. 47.

(53)

Oleh syari’at Islam,wala’digunakan untuk memberikan pengertian:

a. Kekerabatan menurut hukum yang timbul karena membebaskan (memberi hak emansipasi) kepada hamba sahaya.

b. Kekerabatan menurut hukum yang timbul karena adanya perjanjian tolong menolong dan sumpah setia antara seorang dengan seorang yang lain.77

Pada masyarakat sekarang , sebab mewarisi karena wala’ tersebut sudah kehilangan makna, dilihat dari segi praktis secara umum pada masa sekarang , perbudakan sudah tidak ada lagi. Sedangkan Kompilasi Hukum Islam pasal 174 ayat 1 hanya membedakan dua sebab, yakni karena hubungan darah atau hubungan perkawinan.78

Dalam Kompilasi Hukum Islam, hubungan pewaris dengan pewaris diatur dalam Pasal 174 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam. Adapun isi lengkap Pasal 174 Kompilasi Hukum Islam itu menegaskan sebagai berikut :

a. Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari : 1) Menurut hubungan darah ;

a) golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.

b) golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara

perempuan dan nenek.

2) Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.

77

Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris untuk UIN, STAIN, dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2006, cet. III), hal. 22.

(54)

b. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Yang membedakan dengan ilmu faraidh adalah dalam KHI terdapat ahli waris pengganti yang terdapat dalam Pasal 185 tentang ahli waris pengganti dirumuskan sebagai berikut;

1. Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris maka

kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173.

2. Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Pasal ini memerlukan perhatian karena dalam anak pasal 1 secara tersurat mengakui ahli waris pengganti. Adalah bijaksana pasal ini menggunakan kata dapat yang tidak mengandung maksud imperative. Hal ini berarti bahwa dalam keadaan tertentu yang kemaslahatan menghendaki keberadaan ahli waris pengganti dapat diaku. Namun, dalam keadaan tertentu bila keadaan menghendaki, tidak diberlakukan adanya ahli waris pengganti.

Anak pasal 2 menghilangkan kejanggalan penerimaan adanya ahli waris pengganti dengan tetap menganut asas perimbangan laki-laki dan perempuan.

2. Syarat-syarat Kewarisan a. Meninggal dunianya pewaris

Yang dimaksud dengan meninggal dunia di sini ialah baik meninggal dunia hakiki (sejati), meninggal dunia hukmi (menurut Putusan Hakim) dan

Gambar

Tabel 1. Bagian masing-masing ahli waris

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian ini bahwa : (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan media pembelajaran dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Negeri

Selatan sampai saat ini. Hamam Santoso, April 2016), “Orang biasa mengenal kesenian tari Piring Gelas yang terdapat di Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan, karena

Menurut Jarolimek dan Parker (1993) Individu yang memiliki keterampilan sosial yang tinggi mampu mengontrol diri untuk berperilaku sesuai dengan norma di

Penambahan tepung daun waru ( Hibiscus tiliaceus) pada imbangan BK jerami padi amoniasi dan konsentrat yang berbeda tidak meningkatkan konsumsi bahan kering,

Berdasarkan hasil analisis penelitian dan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, variabel sikap mengeluh berpengaruh positif dan

Berdasarkan latar belakang pe- nelitian yang telah diuraikan maka tu- juan dari penelitian ini tidak lain ada- lah untuk mengetahui dan mengana- lisis pengaruh

Menurut Anoraga (2004:220) dalam bukunya Manajemen Bisnis mengatakan bahwa Marketing mix adalah variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan yang terdiri

Pengaruh kompensasi dan motivasi terhadap kinerja pegawai negeri sipil dengan kepuasan kerja sebagai variabel intervening. PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI