• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab VI MENGAPA ORANG MEMAKAI NARKOBA?

3. Alasan Internal

Perasaan ingin tahu biasanya dirniliki oleh generasi rnuda pada urnur setara siswa SO, SLTP, dan SLTA. Bila di hadapan sekelornpok anak rnuda ada seseorang yang rnernperagakan "nikrnatnya" rnengonsurnsi narkoba, rnaka didorong oleh naluri alarni anak rnuda, yaitu keingintahuan, rnaka salah seorang dari kelornpok itu akan rnaju rnencobanya.

Selain didorong oleh keingintahuan, keberaniannya juga karena didesak oleh gejolak dalarn jiwanya yang ingin dianggap hebat, pernberani, dan pahlawan di antara ternan-ternan sebayanya. Maka jatuhlah satu anak dalarn pelukan setan!

Dalarn kondisi seperti itu, reaksi kawan-kawan sebayanya berbeda­ beda:

v Ada yang ingin rnenyaingi, rnenunjukkan bahwa dirinya lebih hebat lagi, lalu rnernakai.

v Ada yang ingin tahu, kernudian ikut rnernakai.

v Ada yang setia kawan, lalu ikut rnernakai juga.

Sikap seperti inilah yang rnenyebabkan bandar dan pengedar senang. Mereka rnengincar generasi rnuda, rnahasiswa, atau pelajar karena 2 pertirnbangan:

v Kalau salah satu anak muda kena, anak muda yang lain akan ikut kena sehingga konsumen cepat bertambah.

v Kalau anak muda kena, ia akan menjadi pemakai setia dalam waktu yang lama. Berbeda dengan orang tua yang cepat mati, keuntungan komersial yang diperoleh dari kelompok anak muda ini akan banyak.

• Ingin Dianggap Hebat

Perasaan ingin dianggap hebat biasanya dimiliki oleh generasi muda. Seperti diterangkan di atas, salah satu sifat alami yang positif dari generasi muda adalah daya saing. Sayang sekali, karena ketidaktahuan, sifat positif ini juga dapat dipakai untuk masalah negatif. Sifat positif ini seharusnya didorong untuk berlomba dalam prestasi pada bidang pendidikan, kesenian, olahraga, dan lain-lain, yang bermanfaat dalam kehidupan.

Bila sikap ingin berkompetisi ini diarahkan untuk mengonsumsi narkoba, akibatnya sungguh mengerikan, yaitu kegagalan hidup dan kesengsaraan. Pemakai narkoba hanya dianggap hebat oleh lingkungan kecil pem!lkai narkoba. Di masyarakat luas, ia hanya akan menuai cerca dan nista.

• Rasa Setia Kawan

Perasaan setia kawan sangat kuat dimiliki oleh generasi muda. Jika tidak mendapatkan penyaluran yang positif, sifat positif tersebut dapat berbahaya dan menjadi negatif. Bila temannya memakai narkoba, ia ikut memakai. Bila temannya dimarahi orang tuanya atau dimusuhi masyarakat. ia membela dan ikut bersimpati.

Sikap seperti itulah yang menyebabkan anak i kut-ikutan. Awalnya hanya satu orang yang merokok, kemudian semuanya menjadi perokok. Setelah semua merokok, satu orang mulai memakai ganja. Lalu yang lain ikut sehingga menjadi sekawanan pemakai ganja. Setelah semua memakai ganja, satu orang mulai memakai ekstasi, kemudian semua ikut. Demikian seterusnya meningkat menjadi shabu dan akhirnya putaw.

• Rasa Kecewa, Frustrasi, Kesal

Perasaan kesal, kecewa, atau frustrasi biasanya terjadi karena kegagalan pada generasi muda, eksekutif muda, suami, atau istri. Penggunaan narkoba pada kelompok ini bertujuan untuk sesaat melupakan kekecewa.an, kekesalan, dan frustrasi.

Kondis1 masyarakat yang carut marut telah banyak melahirkan kekecewaan, kekesalan, bahkan frustrasi. Narkoba dapat dipakai untuk melupakannya sesaat, tetapi tidak untuk mengatasi masalah yang sesungguhnya.

Hubungan buruk yang disebabkan oleh kegagalan berkomunikasi antara orang tua dengan anaknya dapat menyebabkan perasaan kesal. Hal ini menjadi faktor pemicu pemakaian narkoba oleh anak. Interaksi antara orang tua dengan anak tidak cukup hanya berdasarkan niat baik. Cara berkomunikasi juga harus baik. Masing-masing pihak harus punya kesabaran untuk menjelaskan isi hatinya dengan cara yang tepat. Banyak sekali konflik di dalam rumah tangga yang terjadi h a nya karena salah paham atau kekeliruan dalam berkomunikasi. Kekeliruan kecil itu dapat berakibat fataL yaitu masuknya narkoba ke dalam keluarga.

Kekecewaan, kekesalan, dan frustrasi dapat terjadi karena kekeliruan dalam berkomunikasi.

1) Komunikasi Anak dengan Orang Tua

Komunikasi yang buruk antara anak dengan orang tua akan melahirkan kesalahpahaman. Masalah komunikasi berkisar pada pertentangan karena masalah pilihan profesi masa depan, pertengkaran karena soal pacar, permusuhan karena pilihan sekolah, kemarahan karena permintaan yang tidak dikabulkan, dan lain-lain.

Solusinya adalah komunikasi. Orang tua perlu selalu meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam membimbing anaknya. Anak perlu belajar berkomunikasi untuk dapat menyampaikan maksud dengan jelas, logis, santun, dan rendah hati.

2) Komunikasi Antaranak

Konflik horizontal di rumah biasanya teljadi karena orang tua kurang bijaksana dalam menghadapi putra-putrinya - pilih kasih, membeda-bedakan, tidak adil, ada anak emas, ada anak tiri, dan sebagainya. Orang tua harus dapat menjadi mediator (penyambung) jiwa yang baik antara semua anaknya. Hubungan yang akrab, harmonis, dan hangat antars_audara harus dimulai dan dibina sejak anak-anak masih kecil.

3) Komunikasi di Lingkungan Eksekutif Muda

Didorong oleh persaingan, eksekutif muda sering kali ingin tampil di depan umum dengan imej sebagai orang yang Lebih sukses, eneljik, riang, dan optimis. Narkoba pun menjadi pilihannya, karena dengan narkoba, ia dapat menipu masyarakat (ternan, orang tua, klien). Ia dapat tampil eneljik, padahal Loyo. Ia tampak optimis dan riang, padahal pesimis dan sedih. Ia ingin tampak sukses padahal bangkrut.

Sikap seperti ini didorong oleh pendapat yang berkembang di kalangan generasi muda bahwa "yang penting penampilan". 4) Komunikasi Suami Istri

Beban berat dalam kehidupan dapat membuat suami istri kalang kabut didera pelbagai konflik. Kesulitan ekonomi dapat merembet ke Lahirnya masalah dalam percintaan, munculnya pihak ketiga atau kekasih baru (PIL/WIL), datangnya penyakit fisik, dan Lain­ Lain.

Semua masalah tersebut dapat melahirkan beribu tekanan yang tidak jarang diselesaikan del)gan mengonsumsi narkoba. Masalah ini seharusnya diselesaikan dengan komunikasi. Dengan kepala dingin dan hati yang jernih, stres dapat dihadapi bersama sambil mencari solusi. yang bijaksana.

• lngin bebas dari rasa sakit/pusing

Penderita penyakit berat yang kronis dan tidak kunjung sembuh, misalnya kanker hati, tuka bakar, Luka tusuk, wasir, kanker

paru-paru, migren, encok, pengapuran, dan lain-lain, selalu merasakan sakit yang luar biasa karena penyakitnya. Rasa sakit tersebut sering kali tidak dapat dihilangkan dengan obat penghilang rasa sakit biasa (analgetik) sehingga penderitanya mencoba narkoba.

Narkoba tertentu dapat menghilangkan rasa sakit tersebut, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Celakanya, dengan memakai narkoba, yang bersangkutan malah mendapat masalah baru, yaitu ketergantungan narkoba dengan segala komplikasinya yang justru lebih berbahaya.

• Ingin menikmati rasa gembira, tampil lincah, enerjik, dan mengusir rasa sedih dan malas

Para eksekutif dan selebritis biasanya memiliki gaya hidup yang trendi. Ia merasa dituntut untuk selalu tampil prima. Dengan narkoba, ia dapat tampil prima dan percaya diri karena kehilangan rasa malu, walaupun sesungguhnya tidak.

Perasaan hebat tersebut di atas seharusnya dicapai melalui tekun berolahraga, hidup teratur, meningkatkan kualitas fisik, mentaL intelektual, dan moralnya. Bukan mengambil jalan pintas dengan tampil (seolah-olah) prima melalui manipulasi atau tipuan, yaitu dengan mengonsumsi narkoba. Penampilan prima yang semu atau tipuan itu lambat laun akan terungkap juga. Lama kelamaan akan ketahuan juga siapa ia sesungguhnya.

• Ingin tampil langsing

Narkoba juga banyak digunakan oleh artis atau ibu rumah tangga yang berbadan gemuk untuk melangsingkan tubuh. Narkoba tertentu dapat menghilangkan nafsu makan sekaligus menambah aktivitas fisik sehingga dapat menurunkan berat badan.

Seharusnya untuk menurunkan berat badan ditempuh cara yang alami yaitu dengan menambah aktivitas fisik, berolahraga dan mengurangi energi yang masuk dengan mengatur pola makan, banyak makan makanan renah kalori seperti sayur dan buah.

• Takut mengalami rasa sakit (sakaw)

Pengguna narkoba yang sudah menjadi pemakai tetap (pemadat) akan mengalami rasa sakit (sakaw) bila tidak memakai. Karena takut merasakan penderitaan tersebut, ia terus memakai narkoba sehingga menjadi pemakai setia Uunkies).

Banyak pemakai narkoba yang setia adalah orang-orang yang merasa "terpaksa" memakai, sebab kalau tidak memakai, ia akan mengalami sakaw. Dalam kondisi seperti ini, ia tidak menikmati apa pun dari narkoba yang dikonsumsinya. Yang ia butuhkan adalah bebas dari sakaw.

Dokumen terkait