• Tidak ada hasil yang ditemukan

(%) Apakah Anda pernah menggunakan tanaman kelor untuk pengobatan

10. Alasan menggunakan daun kelor dari pada susu formula

Tujuan pertanyaan diberikan ialah agar peneliti mengetahui jawaban responden mengenai alasan responden menggunakan daun kelor dari pada susu formula. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel XII, didapatkan sebanyak 55% (55 responden) memiliki alasan lebih menggunakan daun kelor daripada susu formula adalah karena daun kelor tidak mengeluarkan biaya dan mudah didapat. Sebanyak 26% (26 responden) memiliki alasan karena daun kelor lebih bermanfaat daripada susu formula. Hal ini menunjukan bahwa, berdasarkan dari segi ekonomis daun kelor mudah didapat dan tanpa mengeluarkan biaya dikarenakan banyak responden menanam daun kelor di sekitar pekarangan rumah sehingga mudah untuk peroleh.

Sedangkan, untuk mendapatkan susu formula perlu mengeluarkan biaya.

Berdasarkan hasil pendapatan, sebagian responden tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga serta pendapatan yang mereka peroleh juga rendah. Oleh karena itu, responden cenderung memilih menggunakan daun kelor dari pada susu formula.

Sikap dan Tindakan Responden Tentang Penggunaan Daun Kelor a. Sikap

Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau obyek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.

Seperti halnya pengetahuan, sikap terdiri dari beberapa tingkatan yaitu, menerima, merespon, menghargai dan bertanggung jawab (Notoatmodjo, 2013).

Menurut Budiman dan Riyanto (2013), sikap mempengaruhi kesiapan individu untuk bereaksi atau melakukan tindakan terhadap obyek atau fenomena.

Tabel XIII. Distribusi sikap responden tentang penggunaan daun kelor

Berdasarkan tabel XVIII, diperoleh hasil bahwa responden memiliki sikap positif yaitu sebesar 90% (90 responden). Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang obyek tertentu melalui persuasi serta tekanan kelompok sossialnya (Pratamawati dan Pujiyanti, 2013). Pembentukan sikap juga dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu pengalaman pribadi, budaya, orang lain yang dianggap penting, media massa, lembaga pendidikan dan keagamaan, dan faktor emosional (Lusi et al.,2014).

Tabel XIV. Frekuensi sikap responden tentang penggunaan daun kelor kelor dapat digunakan sebagai obat tradisional pelancar ASI +

100 0 Setuju

2 Menurut saya penggunaan daun kelor pada ibu menyusui tidak memberikan manfaat

- 1 99 Tidak Setuju

3 Menurut saya menggunakan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI menguntungkan

+ 100 0 Setuju

4 Saya tidak yakin penggunaan daun kelor memberikan manfaat bagi saya

7 Menurut saya menggunakan daun kelor sebagai obat tradisional sangat bermanfaat untuk pelancar

Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 100% responden memiliki sikap positif atau setuju bahwa daun kelor dapat digunakan sebagai obat tradisional pelancar ASI. Sebanyak 99% responden memiliki sikap negatif atau tidak setuju bahwa penggunaan daun kelor pada ibu menyusui tidak memberikan manfaat.

Sebanyak 100% memiliki sikap positif atau setuju bahwa menggunakan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI menguntungkan. Sebanyak 99% responden memiliki sikap negatif atau tidak setuju bahwa responden tidak yakin penggunaan daun kelor memberikan manfaat bagi responden. Sebanyak 100% responden memiliki sikap positif atau setuju bahwa responden suka menggunakan daun kelor karena lebih murah dan praktis. Sebanyak 100% responden memiliki sikap negatif atau tidak setuju bahwa responden tidak nyaman mengonsumsi daun kelor karena aromanya yang menyengat. Sebanyak 100% responden memiliki sikap positif atau setuju bahwa responden menggunakan daun kelor sebagai obat tradisional sangat bermanfaat untuk pelancar ASI bagi ibu menyusui. Kemudian, sebanyak 100 %

responden memiliki sikap negatif atau tidak setuju bahwa selama menyusui, responden tidak tahu manfaat dari daun kelor.

Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden cenderung lebih banyak memihak atau bersikap positif pada penggunaan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI. Hal ini dapat dikarenakan sebagian besar pendapatan per bulan responden yang rendah (Rp <500.000), sehingga responden cenderung akan memilih menggunakan daun kelor sebagai pelancar ASI. Selain itu juga, daun kelor yang digunakan mudah didapat, tanpa mengeluarkan biaya, dan lebih praktis, sehingga responden lebih menggunakan daun kelor sebagai pilihan alternatif pengobatan untuk memperlancar produksi ASI.

Berdasarkan data diatas, sikap ibu-ibu dalam menggunakan daun kelor sebagai pelancar ASI seluruh responden memiliki sikap yang positif. Hal ini dapat disebabkan oleh berapa faktor diantaranya pengalaman pribadi seseorang yang pernah menggunakan daun kelor dalam membantu meningkatkan produksi ASI.

Selain itu juga, apabila faktor yang mempengaruhi cenderung positif maka sikap masyarakat juga akan memiliki sikap yang positif, jika sebaliknya apabila faktor tersebut cenderung negatif, maka masyarakat akan memiliki sikap negativ pula (Fuadi,2016).

b. Tindakan

Menurut Notoadmodjo (1993), tindakan adalah kemampuan untuk mengaplikasikan apa yang telah diketahui terhadap stimulus yang diterima.

Tindakan merupakan hasil akhir dari perilaku, sehingga tindakan sangat dipengaruhi ole tingkat pengetahuan dan sikap seseorang (Fitriani, 2011).

Tabel XV. Distribusi tindakan responden terhadap penggunaan daun kelor

Kategori Frekuensi (N=100) Persentase %

Baik 100 100

Kurang 0 0

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil sebanyak 100% (100 responden) memiliki tindakan baik terhadap penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI. Hal ini dapat dilihat dari tingkat pengetahuan responden yang sedang atau cukup baik (62%) dan sikap responden yang positif (90%) tentang penggunaan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI. Sehingga, responden dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan yang diketahuinya. Menurut Lusi (2014), tindakan yang didasari pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif akan bertahan lebih lama dibandingkan tindakan yang tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap.

Tabel XVI. Frekuensi tindakan responden terhadap penggunaan daun kelor kelor walaupun produksi ASI saya semakin berkurang

- 0 100 Tidak Setuju

3 Jika saya mengalami kekurangan ASI saya akan menggunakan daun kelor untuk memperlancar ASI

+ 99 1 Setuju

4 Saya hanya akan menggunakan

obat modern sebagai pelancar ASI - 3 97 Tidak Setuju 5 Saya akan memilih menggunakan

daun kelor sebagai pengobatan utama untuk pelancar ASI

+ 99 1 Setuju

6 Jika saya mengalami kekurangan ASI saya akan lebih memilih menggunakan susu formula

- 7 93 Tidak Setuju

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa sebanyak 99% responden memiliki tindakan baik atau setuju bahwa responden akan memilih menggunakan daun kelor sebagai pengobatan untuk melancarkan ASI. Sebanyak 100% responden memiliki tindakan kurang atau tidak setuju bahwa responden tidak mengonsumsi daun kelor walaupun produksi ASI responden semakin berkurang. Sebanyak 99%

responden memiliki tindakan baik atau setuju bahwa jika responden mengalami kekurangan ASI responden akan menggunakan daun kelor untuk memperlancar ASI.

Sebanyak 97% responden memiliki tindakan yang kurang atau tidak setuju bahwa responden hanya akan menggunakan obat modern sebagai pelancar ASI. Sebanyak 99% responden memiliki tindakan yang baik atau setuju bahwa responden akan memilih menggunakan daun kelor sebagai pengobatan utama untuk pelancar ASI.

Sedangkan, sebanyak 97% responden memiliki tindakan yang kurang atau tidak setuju bahwa jika responden mengalami kekurangan ASI responden akan lebih memilih menggunakan susu formula.

Berdasarkan hasil diatas, dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden memiliki tindakan yang baik terhadap penggunaan obat tradisional sebagai pelancar ASI. Hal ini menunjukan bahwa sebagain besar responden memiliki kecenderungan untuk memilih menggunakan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar produksi ASI. Menurut pangastuti (2014), menyatakan dalam penelitiannya bahwa pada dasarnya, terbentuknya tindakan atau perilaku seseorang dimulai pada domain pengetahuan terlebih dahulu. Kemudian terbentuklah suatu respon batin (sikap), terhadap objek yang diketahui yang akan diwujudkan melalui tindakan atau perilaku. Tindakan ibu-ibu di Kecamatan Lewolema dalam menggunakan daun kelor sebagai pelancar ASI seluruh responden memiliki tindakan yang baik, terlihat dari responden dalam menjawab soal dengan baik. Tindakan ibu-ibu di Kecamatan Lewolema pada saat mengalami kekurangan produksi ASI, mereka lebih

menginginkan melakukan pengobatan yang murah dan mudah didapat sehingga responden cenderung melakukan pengobatan tradisional dengan menggunakan daun kelor untuk membantu meningkatan produksi ASI.

KESIMPULAN

1. Karakteristik responden ibu-ibu di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang berpartisipasi dalam penelitian kebanyakan berusia 20-35 tahun (76%), tingkat pendidikan akhir SMA (35%), tidak bekerja (ibu rumah tangga, pelajar) (63%), pendapatan perbulan <500.000 ( 76%), Ibu yang sedang menyusui (76%), dan usia bayi 0-12 bulan (67%).

2. Diperoleh profil pengetahuan ibu-ibu di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur terhadap penggunaan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI sebagain besar “sedang” yaitu sebesar 62%.

3. Sikap ibu-ibu di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur terhadap penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI sebagain besar memiliki sikap “positif” yaitu sebesar 90%.

4. Tindakan ibu-ibu di Kecamata Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur terhadap penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI sebagain besar memiliki tindakan “baik” yaitu sebesar 100%.

SARAN

1. Perlu adanya sosialisasi atau penyuluhan lebih lanjut oleh petugas kesehatan terkait pengetahuan tentang manfaat dari daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI bagi ibu menyusui, serta cara pengolahan daun kelor untuk dikonsumsi bagi ibu-ibu menyusui di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Hal ini dikarenakan, pengetahuan responden sedang sehingga masih perlu ditingkatkan.

2. Perlu adanya penelitian lanjutan yang serupa untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan kebiasaan ibu-ibu mengkonsumsi daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI.

Dokumen terkait