• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 100 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik responden penelitian ini meliputi usia, tingkat pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan perbulan, sedang menyusui atau tidak dan usia bayi.

Tabel IX. Karakteristik responden

Karakteristik Parameter N= 100 %

Pegawai Honor,

Berdasarkan hasil penelitian pada masyarakat di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sebanyak 100 responden yang berpartisipasi dalam penelitian. Usia yang digunakan dalam penelitian ini adalah usia dari 18-40 tahun yang merupakan salah satu kriteria dari inklusi. Menurut Rahmawati (2020), usia 20-35 tahun merupakan rentang usia produktif dimana seharusnya menjadi usia paling ideal untuk bereproduksi sehingga kemampuan dalam menyusui juga dianggap paling optimal. Usia >35 tahun merupakan usia dengan resiko tinggi kehamilan dan melahirkan sehingga dianggap kemampuan untuk menyusui juga mengalami penurunan seiring dengan semakin menuanya sistem organ. Sedangkan usia <20 tahun organ reproduksi masih dalam pertumbuhan (belum matang), secara psikis juga dianggap belum siap untuk

menjadi ibu sehingga menganggu proses pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan tabel IV, diperoleh jumlah responden dengan usia <20 tahun sebanyak 4%, jumlah responden dengan usia 20-35 tahun sebanyak 76% sedangkan usia >35 tahun sebanyak 20%. Pada penelitian diperoleh kebanyakan usia responden 20-35 tahun.

Pada rentang usia tersebut merupakan rentang usia menikah sehingga responden memiliki anak berusia balita atau batita yang cukup tinggi.

Menurut Wawan dan Dewi (2011), mengatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah usia. Hal ini dikeranakan, semakin cukup usia seseorang maka kemampuan bepikir akan lebih matang dan mudah mengerti, sehingga akan berhubungan dengan hal-hal yang diketahui oleh responden terhadap penggunaan daun kelor sebagai obat tradisional pelancar ASI.

2. Pendidikan Terakhir

Berdasarkan karakteristik pendidikan terakhir menunjukan bahwa pendidikan terakhir responden paling banyak adalah tamat SMA dengan persentase sebesar 35% responden. Menurut Melina (2011), seseorang dengan tingkat pendidikan SMA atau sederajat sudah mampu mengolah informasi yang diperoleh dengan baik dan dapat mempertimbangkan hal yang baik atau buruk untuk dirinya.

Indivindu dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung lebih mudah menerima dan kritis dalam mengolah informasi. Informasi yang diperoleh bekaitan dengan pengetahuan ibu-ibu di Kecamatan Lewolema tentang penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI. Menurut Simbolon (2017), menyebutkan bahwa pendidikan dan pekerjaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI, dimana tingkat pendidikan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan, semakin tinggi pendidikan maka semakin besar peluang untuk memberikan ASI. Dari segi pekerjaan, alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu tidak menyusui adalah karena mereka harus bekerja. Hal ini menunjukan bahwa, dengan adanya peran ganda seorang ibu, baik sebagai pekerja dan ibu rumah tangga bila proporsinya tidak seimbang maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan rumah tangga dan anak.

Menurut Rosyadi (2016), keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat dipengaruhi oleh status pekerjaan ibu, dimana ibu pekerja mempunyai potensi untuk gagal dalam memberikan ASI secara eksklusif. Hal ini dapat terjadi, jika ibu yang bekerja pada sistem kerja shift memiliki potensi untuk terjadinya kelelehan maupun stress sehingga dapat mempengaruhi kondisi fisik ibu dan dapat mempengaruhi penurunan produksi ASI. Menurut Candra (2013), jika ibu dalam kondisi lelah atau stress, maka produksi hormon oksitosin akan terhambat sehingga proses keluarnya ASI juga menjadi terhambat. Hormon oksitosin merupakan salah satu hormon yang dapat mempengaruhi produksi ASI.

3. Pekerjaan

Berdasarkan hasil penelitian (Tabel IX), responden yang bekerja sebesar 37% yaitu sebagai petani, pedagang/wirausaha, aparat desa, PNS, ADD gizi kontrak desa, pegawai swasta, honor desa, pegawai honor, tenaga kontrak daerah, sedangkan yang tidak bekerja sebesar 63% (63 responden) yaitu sebagai ibu rumah tangga (IRT), pelajar. Pekerjaan berkaitan dengan status ekonomi, masyarakat dengan jenis pekerjaan yang memiliki pengahasilan rendah cenderung akan memilih pengobatan tradisional daripada pengobatan modern. Faktor ekonomi mempunyai peran besar dalam penerimaan pengobatan (Yuliani et al., 2020).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rosinta (2018) yaitu mayoritas responden tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga sehingga memiliki waktu untuk bersama dengan anaknya lebih lama. Artinya bahwa, ibu lebih sering menyusui anaknya, sehingga dapat memberikan ASI secara eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Sedangkan, ibu yang bekerja cenderung tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dikarenakan alasan pekerjaan yang memyebabkan cakupan pemberian ASI eksklusif tidak semaksimal mungkin dan tidak sesuai target yang diharapkan.

4. Penghasilan per bulan

Berdasarkan hasil penelitian (Tabel IX), diperoleh sebanyak 76 responden (76%) memiliki penghasilan per bulan sebesar Rp <500.000. Menurut Pritiani dan Herawanto (2019), kondisi keuangan atau pendapatan yang diterima seseorang

dapat mempengaruhi keputusan dalam pemanfaatan fasilitas kesehatan. Orang-orang yang memiliki pendapatan tinggi cenderung akan memilih pengobatan modern, sedangkan orang yang memiliki pendapatan kurang akan memilih pengobatan tradisional. Rendahnya penghasilan per bulan yang diperoleh responden dapat mempengaruhi responden untuk cenderung menggunakan obat tradisional yaitu dapat memanfaatkan penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI. Selain itu juga, daun kelor ini sangat mudah ditemukan di sekitar lingkungan responden.

Faktor lain yang dapat mempengaruh rendahnya pendapatan ialah tingkat pendidikan dimana, pada penelitian ini sebagian besar responden tingkat pendidikan akhir SMA dan SD yaitu sebesar 35% dan 29%. Menurut Christoper (2017), mengatakan bahwa tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia juga berpengaruh terhadap peran wanita dalam mencari pekerjaan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan salah satu sarana dalam mengembangkan kecerdasan, kemampuan pengetahuan dan keterampilan bagi sumber daya manusia, jika tingkat pendidikan di suatu daerah tersebut rendah maka kualitas sumber daya manusia itu sulit bersaing untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik. Berdasarkan pendapatan per bulan yang diperoleh, responden cenderung akan menggunakan daun kelor. Hal ini dikarenakan dalam mendapatkan daun kelor, responden tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar.

5. Apakah responden sedang menyusui atau tidak

Pada penelitian ini, hasil dari karakteristik terkait responden sedang menyusui atau tidak (tabel IX), diperoleh ibu yang sedang menyusui sebanyak 76 responden (76%), sedangkan ibu yang tidak menyusui diperoleh sebanyak 24 responden (24%). Seorang ibu sering mengalami masalah dalam pemberian ASI eksklusif, salah satu kendala utamanya ialah produksi ASI tidak lancar. Hal ini menjadi faktor penyebab rendahnya pemberian cakupan ASI eksklusif kepada bayi yang baru lahir. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan intervensi program kesehatan terutama dalam penggunaan obat tradisional untuk melancarkan ASI (Rukmini et al., 2020).

6. Usia bayi

Berdasarkan hasil penelitian dari karakteristik terkait usia bayi diperoleh bayi berusia 0-12 bulan sebesar 67%, sedangkan usia bayi 13-24 bulan sebesar 33%.

ASI ekskusif merupakan ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan atau makanan minuman lain (Karang et al., 2020).

Pengetahuan Responden Tentang Penggunaan Daun Kelor Sebagai Pelancar ASI

Menurut Oktarlina (2018), pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi seseorang terhadap penggunaan obat-obatan dan pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang terhadap daya tangkap informasi, pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang.

Tabel X. Distribusi pengetahuan responden tentang penggunaan daun kelor

Kategori Frekuensi (N=100) Persentase %

Baik 38 38

Sedang 62 62

Rendah 0 0

Menurut Hupunau (2019), kategori pengetahuan dibagi menjadi tiga bagain yaitu kategori pengetahuan baik jika nilainya 76-100%, kategori pengetahuan sedang jika nilainya 60-75% sedangkan kategori pengetahuan rendah jika nilainya <50%. Berdasarkan Tabel X, diperoleh bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan “sedang” terkait pengetahuan ibu-ibu tentang penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI yaitu sebesar 62% (62 responden). Hal ini sejalan dengan karakteristik responden yang sebagian besar berpendidikan SMA dan SD. Menurut Dharmawati (2016), bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula seseorang menerima informasi dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika tingkat

pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Begitu pula dengan karakteristik responden sebagian berusia 20-35 tahun, dimana dalam penelitian Purwati (2013), bahwa dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui beberapa cara yaitu melalui pengelaman sendiri, pengalaman orang lain, dan lingkungan yang dapat membentuk pengetahuan seseorang (Dharmawati, 2016).

Berdasarkan hasil penelitian pada (tabel X.) didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang sebanyak 62 responden (62%). Hal tersebut menunjukkan bahwa responden sudah punya pengetahuan yang sedang, sehingga kemungkinan aplikasi pengetahuan mengenai penggunaan daun kelor sebagai obat tradisional dalam membantu meningkatkan produksi ASI secara umum dapat diterapkan atau diaplikasikan dengan cukup baik dalam memanfaatkan penggunaan daun kelor sebagai pelancar ASI bagi ibu-ibu menyusui di Kecamatan Lewolema.

Tabel XI. Frekuensi jawaban responden terkait pengetahuan tentang penggunaan daun kelor

No Pernyataan Jawaban Persentase

(%)

Dokumen terkait