• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Alasan Pembebanan Harta Pailit dengan Gadai

Pembangunan ekonomi Indonesia, di bidang hukum jaminan memerlukanperhatian dalam pembinaan hukumnya di antaranya ialah lembaga jaminan. Pembinaan hukum terhadap bidang hukum jaminan tersebut sebagai konsekuensi logis dan merupakan perwujudan tanggung jawab dari pembinaan hukum untuk mengimbangi lajunya kegiatan-kegiatan dalam bidang perdagangan, perindustrian, perseroan, pengangkutan, dan kegiatan-kegiatan dalam proyek pembangunan.59

Lembaga jaminan tergolong bidang hukum yang bersifat netral tidak mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan spiritual dan budaya bangsa. Sehingga terhadap bidang hukum demikian tidak ada keberatan untuk diatur dengan segera. Gadai sebagaimana ketentuan Pasal 1150 KUH perdata adalah, ”Suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seseorang berutang atau seorang lain atas namanya dan memberikan kekuasaan kepada kreditur (si berpiutang) untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan”.

       59

Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 175.

Sifat hak gadai sebagaimana dikatakan Vollmar adalah bersifat kebendaan, yang hanya dapat ditanamkan atas semua benda bergerak yang dapat ditanamkan atas semua benda bergerak yang dapat dikenai perpindah-tanganan, jadi baik benda-benda berwujud maupun benda tak berwujud, dengan perkecualian kapal-kapal yang telah didaftarkan60

Sehubungan dengan hak kebendaan sebagai jaminan hutang yang dibebankan dengan gadai tersebut, maka pengertian hutang terdapat dua pendirian, yaitu pendirian yang menganut hutang dalam arti sempit yang timbul dari perjanjian hutang piutang saja dan pendirian yang menganut hutang dalam arti luas yang timbul dari perikatan apapun juga, baik yang timbul dari perjanjian hutang piutang maupun perjanjian lainnya maupun yang timbul karena Undang-Undang.61

Dalam hukum perdata umum pembedaan kreditur hanya dibedakan dari kreditur preferen dengan kreditur konkuren. Kreditur preferen dalam hukum perdata umum dapat mencakup kreditur yang memiliki hak jaminan kebendaan dan kreditur yang menurut undang-undang harus didahulukan pembayaran piutangnya. Akan tetapi di dalam kepailitan yang dimaksud dengan kreditur preferen hanya kreditur yang menurut undang-undang harus didahulukan pembayaran piutangnya, seperti pemegang hak privillage, pemegang hak retensi, dll. Sedangkan kreditur yang memiliki jaminan kebendaan dalam hukum kepailitan diklasifikasikan dalam kreditur separatis. Dalam hubungannya dengan

       60

H.F.A. Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata (Jakarta: Rajawali Pers, 1992) hlm 310.

61

Sutan Remy Sjahdeni, 2002, Hukum Kepailitan, Pustaka Utama Grafiti, Yogyakarta, hlm 115.

aset-aset yang digunakan, kedudukan kreditur preferen sangat tinggi, lebih tinggi dari kreditur yang diistimewakan lainnya, kecuali undang-undang menentukan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan Pasal 1134 ayat (2) KUHPerdata yang berbunyi: "Gadai dan hipotik adalah lebih tinggi dari pada hak istimewa kecuali dalam hal-hal dimana oleh undang-undang ditentukan sebaliknya". Sehingga berdasarkan semua penjelasan diatas maka kreditur preferen memiliki kedudukan yang diistimewakan dimana kreditur preferen memiliki hak untuk mendapat pelunasan terlebih dahulu dari hasil penjualan harta pailit berdasarkan sifat piutangnya.

Pembebanan harta pailit hanya boleh dilakukan pada harta pailit yang tidak dijadikan jaminan hutang. Pasal 74, ayat 1-3 keadaan harta pailit harus dilaporkan pada hakim pengawas setiap tiga bulan sekali yang bersifat terbuka untuk umum, dan hakim dapat memperpanjang jangka waktu pelaporan pada hakim pengawas. Pasal 98, dan Pasal 99 Harta pailit yang diambil oleh kurator harus memberikan tanda terima paada debitur. Pasal 100, 1-3 Setelah ditunjuk sebagai kurator dalam jangka waktu paling lambat dua hari kurator harus membuat cacatan terhadap harta pailit dan pencatatan dapat dilakukan dibawah tangan dengan persetujuan hakim pengawas. Anggota kreditur berhak menghadiri pencatatan harta pailit. Kurator harus bertanggung jawab atas kesalahan dan kelalaiannya yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Kreditur dan debitur dapat mengajukan surat keberatan kepada hakim pengawas terhadap perbuatan yang dilakukan oleh kurator untuk mengeluarkan surat perintah pada kurator. Surat keberatan hakim pengawas harus diberikan pada kurator paling lambat tiga hari setelah surat keberatan diterima. Kurator harus memberikan

tanggapan paling lambat tiga hari setelah menerima surat dari hakim pengawas. Hakim harus memberikan penetakan pada kurator paling lambat tigas hari setelah menerima tanggapan. Menunjuk kurator debitur, kreditur dan pihak berwenang dapat mengajukan permohonan pailit kurator harus independen, tidak sedang mengalami perkara menetapkan dua surat kabar harian. Mengawasi dan membereskan harta pailit. Pasal 67 Berwenang untuk mendengar saksi dan memerintahkan penyidikan mengenai kepailitan Saksi dipanggil atas nama hakim pengawas Hukum acara perdata berlaku jika saksi menolak untuk hadir atau tidak datang Jika saksi bertempat tinggal di luar daerah hukum pengadilan niaga, maka hakim pengawas melimpahkan pemeriksaan saksi pada pengadilan didaerah hukumnya. Keluarga atau bekas suami atau istri memiliki hak undur diri sebagai saksi. Merupakan hak yang diberikan kepada setiap kreditur untuk menuntut keberatan dari tindakan debitur yang tidak diwajibkan dan dapat dibuktikan tindakannya, yang merugikan kreditur. (pasal 41-50) 25. 90 hari.

Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya di bawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Tak sah adalah hak gaadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan si berpiutang.

Berhubung kebendaan jaminannya berada dalam tangan atau penguasaan kreditur atau pemberi pinjaman, penerima gadai dinamakan juga pemegang gadai. Namun atas kesepakatan bersama antara debitur dan kreditur, barang-barang yang

digadaikan berada atau diserahkan kepada pihak ketiga berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1152 ayat (1) KUHPerdata, maka pihak ketiga tersebut dinamakan pula sebagai pihak ketiga pemegang gadai. Berdasarkan Pasal 1156 ayat (2) KUHPerdata memberikan kemungkinan barang yang digadaikan untuk jaminan hutang tidak harus kebendaan bergerak milik, namun bisa juga kebendaan bergerak milik orang lain yang digadaikan. Dengan kata lain, seseorang bisa saja menggadaikan kebendaan bergerak miliknya untuk menjamin hutang orang lain atau seseorang dapat mempunyai hutang dengan jaminan kebendaan bergerak milik orang lain.

Dari ketentuan tersebut di atas secara umum dapat dikatakan bahwa unsure-unsur gadai dari Pasal 1150 KUH Perdata adalah sebagai berikut :

1. Gadai adalah merupakan suatu hak yang diberikan atas suatu benda bergerak kepada kreditur / penerima gadai.

2. Benda bergerak sebagai jaminan gadai dari pemberi gadai diserahkan kepada kreditur / penerima gadai secara nyata / fisik (levering).

3. Penerima gadai mempunyai hak untuk memperoleh pelunasan dari benda tersebut secara didahulukan dari pada kreditur lainnya (droit de preference), dalam hal pelunasan hutang-hutang debitur / pemberi gadai.

4. Pelunasan hutang-hutang debitur ini sebelumnya dikurangi terlebih dahulu dari biaya yang dikeluarkan untuk melelang barang tersebut dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan barang selama digadaikan. Biaya-biaya yang harus didahulukan sebelum pelunasan hutang debitur / pemberi gadai kepada kreditur / penerima gadai

B. Penyelesaian Utang Debitur Melalui Pembebanan Harta Pailit dengan