• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Gadai Sebagai Jaminan Utang

Berkenaan dengan pranata hukum gadai sebagai jaminan utang, perlu lebih dahulu ditinjau apakah yang dimaksud dengan gadai. Gadai adalah suatu hak kebendaan yang bersifat assessoir yang diberikan oleh pihak pemberi gadai (debitur) kepada pemegang gadai (kreditur) sebagai jaminan atas pembayaran utang.52 Caranya adalah dengan menyerahkan bemda objek gadai yang dapat berupa benda bergerak, bertubuh maupun tidak bertubuh, ke dalam kekuasaan pemegang gadai (kreditur) atau ke dalam kekuasaan seorang pihak ketiga yang disetujui oleh kedua belah pihak. Jadi, pemegang gadai (kreditur) atau pihak ketiga yang disetujui oleh kedua belah pihak memegang hak untuk memakai dan/atau menikmati hasil atas benda objek gadai tersebut.

Gadai juga memberikan hak prioritas bagi pemegang gadai (kreditur) ntuk mendapat pembayaran terlebih dahulu daripada kreditur lainnya atas

tagihan-       52

tagihan dari kreditur pemegang gadai khususnya yang bersangkutan dengan hasil eksekusi objek gadai tersebut dengan kekecualian biaya-biaya yang harus lebih didahulukan, misalnya biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu daigadaikan.

Dalam konteks pengertian benda objek gadai, hukum adat Indonesia (yang masih berlaku sebagai hukum positif) memiliki pengertian yang menyimpang dari pengertian gadai di atas: Di samping barang-barang bergerak, gadai dapat juga diberikan atas tanah dengan atau tanpa segala sesuatu yang ada di atas tanah tersebut.

Penetapan hak gadai atas benda-benda bergerak dan piutang-piutang dilakukan dengan cara membawa barang gadainya ke bawah kekuasaan si berpiutang atau pihak ketiga yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Penetapan inilah yang membedakan lembaga gadai dengan lembaga hipotek, hak tanggungan, ataupun fidusia.

Ketentuan untuk menyerahkan barang gadai ke dalam kekuasaan kreditur pemegang gadai atau pihak ketiga merupakan unsur mutlak dari suatu gadai, shingga menjadi hukum memaksa (mandatory rule). Apabila unsur ini tidak ada, maka gadai dianggap tidak ada sehingga oleh undang-undang gadai dianggap batal (null and void) demi hukum. Demikian juga, manakala barabg gadai beralih kembali ke tangan pemberi gadai (debitur) sewaktu gadai masih berlangsung, maka gadai itupun dianggap batal (null and void) demi hukum dengan sendirinya (by the operation of law).

Dalam knoteks ini, Pasal 1152 KUHPerdata dengan tegas menyatakan: Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan si berpiutang. Hak gadai hapus apabila barang gadainya keluar dari kekuasaan si penerima gadai. Namun, apabila barang tersebut hilang dari tangan penerima gadai atau dicuri darinya, maka ia berhak menuntutnya kembali sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1977 ayat kedua KUHPerdata. Setelah barang gadai didapatkan kembali, hak gadai dianggap tidak pernah hilang. Karena yang beralaih kepada pemegang gadai adalah penguasa atasbenda dan bukan kepemilikannya, gadai menurut hukum Indonesia (yaitu menurut KUHPerdata maupun hukum adat) mirip dengan “pledge” atas barang bergerak yang ada dalam sistem hukum Anglo-Saxon, seperti yang ada di Inggris atau Amerika Serikat. Dalam istilah hukum Anglo-Saxon, lembaga gadai ini sering juga disebut dengan istilah “pawn”.

Di samping lembaga “pledge” (pawan), gadai terhadap barang bergerak dalam sistem hukum Anglo-Saxon juga mengenal bentuk lain yang disebut “chattel mortgage”. Berbeda dengan pledge, dalam chattel mortgage bukan hanya kekuasaan tetapi juka kepemilikan atas benda bergerak yang berpindah dari pemberi gadai kepada pemegang gadai.53

Konsekuensi hukumnya terlihat dengan jelas dalam eksekusi jaminan gadai, yaitu ketika utang yang dijamin ddengan gadai tersebut tidak terbayarkan pada waktunya. Dalam pledge (pawn), yang sama dengan gadai menurut hukum

       53

di Indonesia, jika utang tidak terbayar maka eksekusinya pada prinsipnya harus melewati penjualan umum. Sedangkan dalan chattel mortgage, jika utang tidak terbayar maka pemegang chattel mortgage dapat langsung “mendaku” (dapat langsung memiliki benda tersebut), karena kepemilikan atas benda pada proses pengikatan chattel mortgage sudah langsung berpindah kepada pemegang gadai.

Ada dua faktor yang membedakan jaminan gadai dibanding jaminan lainnya misalnya, hak tanggungan atas hipotek: Pertama, yaitu faktor benda objek jaminan utang; dan kedua berupa penguasaan atas benda objek jaminan utang tersebut.

Perbadaan antara gadai dan hak tanggungan terletak pada benda objek jaminannya. Objek hak tanggungan adalah benda tidak bergerak (tanah), sedangkan bjek gadai pada prinsipnya adalah benda bergerak (movables). Sementara itu, yang membedakan lambaga gadai dengan lembaga fidusia adalah faktor penguasaan fisik atas bendanya. Pada gadai, fisik benda tersebut harus diserahkan kepada pemegang gadai; sedangkan pada fidusia, fisik benda tersebut masih tetap berada dalam kekuasaan pemberi fidusia. Akan tetapi, dalam sistem hukum adat yang masih berlaku dan masih banyak dipraktekkan di pedesaan, tanahpun dapat digadaikan di samping barang bergerak—ini disebut dengan gadai tanah. Dalam gadai tanah, tanah objek gadai juga harus dialihkan kekuasaannya kepada kreditur.54 Dalam konteks ini, pihak kreditur dapat memungut hasil atas tanah tersebut. Bahkan dalam sistem gadai tanah menurut hukum adat, hasil yang dipungut dari tanah tersebut merupakan prestasi atau imbalan jasa bagi kreditur,

       54

karena gadai tanah umumnya tidak berbunga seperti bunga bank. Sedangkan masalah inflasi biasanya ditutupi dengan kurs harga emas.

Selanjutnya, barang bergerak yang menjadi objek gadai adalah barang bergerak bertubuh maupun tidak bertubuh. Hanya saja, gadai atas benda-benda bergerak yang tak bertubuh (kecuali surat-surat tunjuk atau surat-surat bawa) harus diberitahukan kepada orang yang harus menerima pelaksanaan hak yang digadaikan itu (pemilik barang).

Dalam kondisi ini, orang itu dapat meminta bukti tertulis tentang pemberitahuan tersebut serta tentang izin si pemberi gadai, vide Pasal 1153 KUH Perdata. Di samping itu, barang yang digadaikan tidak dapat dibagi-bagi, sekalipun utangnya dapat dibagi-bagi di antara para waris si berutang ataupun pawa warisnya si berpiutang. Demikian juga sebalikya, debitur yang telah membayar sebagian utangnya belum dapat menuntut pengembalian bagiannya dalam barang gadai selama utangnya belum dibayar lunas secara keseluruhan. Sebaliknya, seorang ahli warissi berpiutang yang telah menerima bagian dalam piutangnya tidak diperkenankan mengembalikan barang gadainya bagi kerugian para kawan waris yang belum dibayar.

Selain itu, seperti telah disebutkan, ketika gadai dibuat maka barang objek gadai harus diserahkan ke dalam kekuasaan pihak kreditur. Ketentuan ini berlaku mutlak. Artinya, jika pengalihan kekuasaan barang objek gadai tidak dilakukan, maka perjanjian gadai tersebut menjadi tidak sah dan karenanya akan batal demi hukum (null and void). Karena itu, untuk meletakkan hak gadai atas surat-surat tunjuk akan diperlukan endossemennya beserta penyarahan suratnya. Hak gadai

atas bende-benda bergerak yang tak bertubuh (kecuali surat tunjuk atau surat bawa) diletakkan dengan pemberitahuan perihal penggadaiannya epada orang yang harus menerima pelaksanaan hak yang digadaikan itu.55

Tidak ada ketentuan mengenai dengan apa suatu perjanjian gadai dibuat. Karena itu, gadai (sebagai suatu perjanjian) dapat dibuat secara otentik, tertulis di bawah tangan, bahkan (meskipun sulit di pembuktian) gadai secara lisan pun sebenarnya tidak dilarang. Akan tetapi, menurut Pasal 1151 KUHPerdata, persetujuan gadai dibuktikan dengan segala alat yang diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya. Jadi, model pengikatan gadai mengikuti model yang diperbolehkan terhadap perjanjian pokoknya. Jika misalnya ada keharusan untuk membuat perjanjian pokok (perjanjian yang menerbitkan utang-piutang) dengan akta otentik, maka perjanjian gadai pun hars dibuat dengan akta otentik.

Karena itu, urut-urutan proses pengikatan gadai secara hukum adalah: 1. Pembuatan perjanjian pokok, yakni perjanjian yang menerbitkan

utang-piutang;

2. Pembuatan perjanjian gadai (pengikatan gadai);

3. Penyerahan barang ke dalam kekuasaan pihak kreditur.

Selanjutnya, seperti telah disebutkan bahwa penyerahan kekuasaan atas barang objek gadai kepada kreditur (kepada orang lain yang disetujui) menurut hukum adalah syarat yang merupakan hkum memaksa (dwingend rscht, mandatory law), sehingga tidak dapat dikesampingkan oleh para pihak. Sebab, jika kekuasaan atas barang objek gadai tidak diserahkan kepada pemegang gadai

       55

(kreditur), maka perjanjian tersebut menjadi fidusia, yang tinduk kepada hukum tentang fidusia. Pasal-pasal KUH Perdata yang termasuk dalam konteks ini yaitu Pasal 1152 dan Pasal 1152 bis:

Pasal 1152

Hak gadai atas benda-benda bergerak dan piutang-bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya di bawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan si berpiutang. Hak gadai hapus, apabila barangnya gadai keluardari kekuasaan si penerima gadai. Namun apabila barang tersebut hilang dari tangan penerima gada ini atau dicuri daripadanya, maka berhaklah ia menuntutnya kembali sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1977 ayat kedua, sedangkan apabila barang gadai didapatnya kembali, hak gadai dianggap tidak pernak telah hilang. Hal tidak berkuasanya si pemberi gadai untuk bertindak bebas dengan barang gadainya, tidaklah dapat dipertanggungjawabkan kepada si berpiutang yang telah menerima barang tersebut dalam gadai, dengan tak mengurangi hak si yang kehilangan atau kecurian barang itu, untuk menuntutnya kembali.

Pasal 1152

Untuk meletakkan hak gadai atas surat-surat tunjuk, selain endossemen -nya, diperlukan juga penyerahan suratnya.

Adapun cara menyerahkan barang gadai ke dalam kekuasaan pihak kreditur adalah:

1. Terhadap barang bergerak bertubuh dilaakukan penyerahan fisik oleh debitur kepada kreditur.

2. Terhadap barang bergerak berupa surat tunjuk atau surat bawa dibuatkan endosemen dan juga diserahkan fisik surat-surat tersebut.

3. Terhadap gadai atas benda-benda bergerak yang tak bertubuh (kecuali surat tunjuk atau surat bawa) dibuat endosemen dan diberitahukan perihal penggadaiannya kepada orang yang harus menerima pelaksanaan hak yang digadaikan itu. Pemberitahuan serta izin debitur (pemberi gadai) dapat dimintakan bukti tertulis.

4. Gadai atas tanah menurut hukum adat Indonesia dianggap sabagai suatu transaksi tanah, sehingga dapat dibuat secara terang dan tunai artinya, dibuat di depan pemangku adat.

5. Akan tetapi, gadai atas tanah menurut hukum adat Indonesia sering juga dibuat dengan akta bawah tangan (dibuat di atas surat bermaterai) ini dapat dibenarkan dalam praktek hukum adat.

Barang gadai yang ingin dipakai sebagai pelunasan utang haruslah dieksekusi ketika utang tidak terbayarkan. Kemudian, hasil eksekusi tersebut harus diberikan kepada kreditur untuk membayar utangnya dalam jumlah sebesar cicilan utang yang tidak terbayar, ditambah bunga dan/atauganti rugi. Eksekusi

terhadap barang objek gadai haruslah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, sebagai berikut:56

a. Eksekusi secara menjual di lelang umum

Hukum yang umum berlaku terhadap gadai adalah bahwa barang objek gadai harus dijual di depan lelang umum jika pihak debitur lalai dalam membayar, dan hasil jual lelang tersebut diserahkan kepada kreditur sebesar sisa utang yang belum terbayar, ditambah biaya dan/atau bunga.

b. Eksekusi Secara Mendaku

Mendaku adalah menjadi “aku punya”. Jadi, yang dimaksudkan dengan eksekusi barang objek gadai secara mendaku ketika terjadi wanprestasi adalah bahwa barang gadai yang semula hanya dikuasai (belum dimiliki) oleh kreditur langsung beralih menjadi milik kreditur, tanpa perlu dijual lagi. Pada prinsipnya, eksekusi secara mendaku ini dilarang oleh undang-undang, dengan ancaman batal demi hukum (null and void). KUHPerdata Indonesia melalui Pasal 1151 dengan tegas melarang eksekusi secara mendaku:

Apabila si berutang atau si pemberi gadai tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya, maka tak diperkenankanlah si berpiutang memiliki barang yang digadaikan. Segala janji yang bertentangan dengan ini adalah batal demi hukum. Akan tetapi, sebagai pengecualian, eksekusi secara mendaku masih dapat dibenarkan apabila memenuhi syarat-syarat:

1) Atas persetujuan hakim;

       56

2) Kreditur hanya boleh menahan barang sebesar jumlah piutang yang belum terbayarkan, ditambah bunga dan/atau ganti rugi.

c. Eksekusi secara menjual di bawah tangan

Ketika utang sudah tidak terbayarkan, maka eksekusi dengan cara menjual di bawah tangan (tidak melalui lelang umum) pada prinsipnya tidak dibenarkan. Eksekusi dengan jalan menjual di bawah tangan hanya mungkin dilakukan apabila memenuhi salah satu syarat berikut:57

1) jika diperjanjikan oleh kedua belah pihak; 2) atas persetujuan hakim.

d. Eksekusi dengan jalan menjual menurut cara yang ditentukan oleh hakim Dapat juga suatu eksekusi dilakukan dengan jalan menjual menurut cara yang ditentukan oleh hakim. Dalam hal ini, hakim akan mempertimbangkan berbagai hal yang dapat menjustifikasi cara penjualan yang layak. Misalnya, menjual dengan jalan mengiklankannya di media massa, menjual melalui makelar profesional, atau menjual di atas harga yang ditetapkan oleh appraiser profesional.

e. Eksekusi melalui bursa

Jika barang objek gadai berupa barang-barang atau surat berharga yang dapat diperdagangkan di bursa, maka eksekusi dapat dilakukan di bursa-bursa

       57

tersebut, dengan syarat penjualan itu dilakukan melalui dua orang broker yang ahli untuk itu.