Secara garis besar dalam penelitian ini, alasan utama responden bertahan pada sektor pertanian dibagi menjadi 2 jenis, yaitu karena sektor pertanian yang dianggap lebih baik sebagai sumber penghasilan atau karena ketidakmampuan responden untuk beralih ke sektor non pertanian akibat adanya hambatan tertentu. Data terperinci di lapangan untuk variabel kekuatan faktor transformasi dapat menunjukkan alasan atau latar belakang yang paling banyak dimiliki responden untuk bertahan pada sektor pertanian di Desa Purwadana dan Desa Tegal Wangi.
Tabel 30 Jumlah dan persentase responden Desa Purwadana menurut jenis faktor transformasi tenaga kerja yang dirasakan responden
Faktor-faktor transformasi
Pertanian/Rendah
Sektor non pertanian sama dengan pertanian/Sedang Non pertanian/Tinggi Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Sumbangan penghasilan 6 20 13 43.3 11 36.7 Kepastian waktu kerja 4 13.3 9 30 17 56.7 Nilai kerja 6 20 12 40 12 40.0 Kecukupan luas lahan 6 20 16 53.3 8 26.7 Akses ke sektor non pertanian 21 70 7 23.3 2 6.7
Hasil data lapangan menunjukkan nilai terendah pada faktor-faktor transformasi berada pada faktor transformasi akses ke sektor non pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden Desa Purwadana merasakan bahwa mereka memiliki hambatan yang besar untuk memasuki sektor non pertanian. Terdapat 6,7 persen responden Desa Purwadana yang merasa memiliki akses yang mudah untuk memasuki sektor non pertanian. Data juga menunjukkan sebesar 70 persen merasa bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap sektor non pertanian, baik dalam segi tingkat pendidikan, umur, stamina, modal dan/atau keterampilan.
Data pada Tabel 30 menunjukkan sebagian besar responden untuk 3 faktor transformasi selain akses ke sektor non pertanian dan nilai kerja, terkonsentrasi pada kategori sedang, atau pandangan bahwa sektor pertanian dan non pertanian memiliki tingkat yang sama. Data tersebut juga menunjukkan bahwa ketiga faktor transformasi tersebut memiliki persentase peringkat kedua tertinggi pada kategori
tinggi, yaitu pandangan bahwa sektor non pertanian lebih baik dalam ketiga faktor transformasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak responden yang merasakan bahwa sektor non pertanian lebih baik dari sektor non pertanian, namun hal tersebut terganjal oleh rendahnya akses ke sektor non pertanian untuk sepenuhnya beralih ke sektor tersebut.
Tingginya persentase kepastian waktu kerja dilatarbelakangi oleh kondisi responden yang harus berhutang untuk keberlanjutan usaha padi sawah mereka. Penambahan jam kerja untuk usaha tani dianggap tidak memberikan kelebihan penghasilan. Hal ini terjadi ketika pemberian pupuk, air, dan obat-obatan ditingkatkan maka jumlah pinjaman pun meningkat. Sementara itu tidak terdapat jaminan bahwa penghasilan dari sawah akan mencukupi untuk membayar hutang, memenuhi seluruh atau sebagian kebutuhan rumah tangga, dan memenuhi kebutuhan akan modal untuk musim tanam berikutnya.
“...Buat makan kan harus kerja, buat kerja kan butuh modal, modal pinjam dari Haji. Minjem juga harus buat pupuk, air, buat tani lah. Mau digedein (modal) biar bagus hasilnya, ga ada jaminan. Bisa-bisa nambah panen kagak, nambah hutang iya...” (Y, 44, Purwadana).
Fakta ini sejalan dengan karakteristik sosial demografi responden yang memiliki pengaruh paling besar terhadap kekuatan faktor transformasi, yaitu luas lahan dan besar sumbangan penghasilan sektor pertanian. Luas lahan memiliki pengaruh yang tinggi karena peningkatan luas lahan dianggap mampu meningkatkan jumlah produksi gabah meski harus meningkatkan jumlah pinjaman. Lebih lanjut, peningkatan jumlah produksi akan berimbas pada peningkatan besar penghasilan sektor pertanian dalam rumah tangga. Responden berharap kondisi ini mampu sedikit demi sedikit mengeluarkan usaha padi sawah mereka dari sumber modal berupa hutang. Pada kenyataannya kondisi sebagian besar responden berada pada kategori petani yang menguasai lahan rendah dengan besar pendapatan sektor pertanian lebih dari 33 persen dalam pandapatan total rumah tangga.
Fakta tersebut menunjukkan alasan sebagian besar responden Desa Purwadana tetap mempertahankan usaha padi sawahnya adalah ketidakmampuan untuk mengakses sektor non pertanian, bukan sepenuhnya karena sektor pertanian yang mereka kerjakan dianggap lebih menguntungkan. Ketidakmampuan ini juga dapat diartikan sebagai rendahnya kemampuan responden untuk mengembangkan usaha sektor non pertanian yang saat ini sedang dikerjakan agar mampu menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Sektor pertanian tetap diperjuangkan umumnya karena penghasilan dari sektor pertanian masih memegang bagian yang besar dalam penghasilan rumah tangga dan kondisi ini membuat usaha sektor pertanian yang tidak menguntungkan tetap diperjuangkan sekalipun dengan berhutang.
Untuk responden dengan penghasilan rumah tangga yang didominasi oleh penghasilan sektor non pertanian umumnya mereka tetap bertani dengan alasan memiliki hak atas lahan yang sebisa mungkin tidak disia-siakan. Hal ini terjadi akibat sistem sewa lahan dengan biaya sewanya yang tetap dibayarkan per musim tanam meski tidak diusahakan. Hanya sebagian kecil responden, yaitu responden berlahan luas yang benar-benar memandang bahwa sektor pertanian lebih menguntungkan dalam segala aspek faktor transformasi.
Pandangan responden tentang kelayakan usaha tani sebagai sumber penghasilan rumah tangga bukannya tanpa dasar. Pada sisi lain, fakta yang berbeda diperoleh dari hasil analisis kelayakan usaha tani yang membandingkan antara penerimaan dan biaya usaha tani. Data hasil analisis menunjukkan 93,3 persen usaha tani responden Desa Purwadana berada pada kategori layak dengan nilai rasio penerimaan dan biaya terendah sebesar 1,29 dan tertinggi mencapai 4,23. Hal ini menunjukkan jumlah penerimaan atau pemasukan kotor usaha tani mereka lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Hasil analisis tersebut seharusnya mampu menunjukkan bahwa usaha tani responden sangat potensial untuk dikembangkan dan dijadikan sumber penghasilan utama rumah tangga, namun kondisi di lapangan tidak sepenuhnya mendukung hal tersebut.
Perbandingan antara penerimaan dan biaya bisa dijadikan patokan untuk menilai kelayakan usaha tani ketika petani hanya membayar modal satu musim untuk setiap panen. Sebagian besar responden Desa Purwadana justru harus membayar modal 2 kali tanam dengan penerimaan 1 kali tanam karena modal yang digunakan pada awal musim diperoleh dengan berhutang, sementara itu uang hasil penjualan harus digunakan untuk membayar hutang sekaligus untuk dijadikan modal musim tanam berikutnya yang sering kali tidak mencukupi dan harus tetap berhutang. Dengan memasukkan kondisi tersebut pada analisis kelayakan usaha tani, terjadi penurunan jumlah usaha tani yang tergolong layak (76,67 persen) dan peningkatan jumlah usaha tani yang tidak layak (20 persen).
Kondisi yang dimasukkan dalam sistem perhitungan tersebut belum sepenuhnya mewakili sistem usaha tani responden Desa Purwadana karena belum memasukkan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga. Pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dimasukkan untuk menilai apakah usaha tani responden layak untuk terus dipertahankan jika sebagian hasilnya digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Hasil analisis kondisi ini menunjukkan penurunan jumlah usaha tani yang tergolong layak menjadi 23,33 persen yang merupakan responden berlahan luas dan penurunan usaha tani yang tergolong tidak layak sebesar 76,67 persen. Hal ini sejalan dengan pandangan responden yang sebagian besar menilai bahwa usaha tani yang mereka kerjakan cenderung merugikan karena pada dasarnya sebagian besar usaha tani tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan tidak dapat dilanjutkan tanpa harus berhutang.
Berdasarkan hasil beberapa analisis sebelumnya dapat diketahui bahwa setidaknya terdapat 3 alasan utama sektor pertanian masih dijadikan tumpuan hidup responden Desa Purwadana. Alasan pertama adalah usaha pemenuhan kebutuhan rumah tangga yang terganjal hutang dari usaha tani, kedua adalah kepemilikan hak garap atas lahan, dan ketiga adalah keuntungan usaha padi sawah yang dinilai lebih besar dalam sebagian besar aspek faktor transformasi dari sektor non pertanian.
Pada Tabel 31 terdapat sebaran yang berbeda dengan kondisi responden Desa Purwadana. Sebagian besar responden Desa Tegal Wangi (63,3 persen) memandang bahwa luas lahan yang saat ini mereka garap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Berbeda dengan responden Desa Purwadana, persentase terendah responden berada pada faktor transformasi besar penghasilan, yang berarti responden dengan pandangan penghasilan pada sektor pertanian lebih kecil dibandingkan sektor non pertanian berjumlah lebih sedikit dibandingkan dengan responden pada kategori faktor transformasi lain. Ketiga faktor lain selain
besar sumbangan penghasilan sektor pertanian dan kecukupan luas lahan, sebaran persentase responden terkonsentrasi pada kategori sedang, yaitu pandangan responden bahwa sektor pertanian dan non pertanian memiliki tingkat yang sama dalam kategori ketiga faktor transformasi tersebut.
Tabel 31 Jumlah dan persentase responden Desa Tegal Wangi menurut jenis faktor transformasi tenaga kerja yang dirasakan responden
Faktor- faktor transformasi
Pertanian/Rendah
Sektor non pertanian sama dengan pertanian/Sedang Non pertanian/Tinggi Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Besar penghasilan 3 10.0 20 66.7 7 23.3 Kepastian waktu kerja 11 36.7 11 36.7 8 26.7 Nilai kerja 4 13.3 14 46.7 12 40.0 Kecukupan luas lahan 3 10.0 8 26.7 19 63.3 Akses ke sektor non pertanian 12 40.0 9 30.0 9 30.0
Tingginya responden yang merasakan rendahnya kecukupan luas lahan sejalan dengan karakteristik responden yang seluruhnya tergolong petani berlahan sempit. Pada sisi lain, sebagian besar responden merupakan tenaga kerja yang juga bekerja pada sektor non pertanian dan menjadikan penghasilan dari sektor tersebut sebagai sumber panghasilan utama rumah tangga. Besar sumbangan pendapatan sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga tergolong pada kategori rendah kurang dari 33 persen. Berbeda dengan responden Desa Purwadana yang dapat dikatakan tidak mampu meninggalkan pekerjaan pada sektor pertanian karena besarnya penghasilan sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga, responden Desa Tegal Wangi justru tetap mempertahankan sektor usaha padi sawahnya meski hanya memberikan penghasilan yang kecil pada pendapatan rumah tangga. Tidak seperti responden Desa Purwadana yang status lahan garapannya adalah sewa, responden Desa Tegal Wangi tidak membayar biaya sewa dan tidak menanggung kerugian apapun meski lahan garapan mereka tidak diusahakan.
Fakta tersebut menunjukkan ada alasan yang berbeda yang dimiliki responden Desa Tegal Wangi dalam mempertahankan usaha padi sawahnya meski tidak menguntungkan secara ekonomi. Berbeda dengan kondisi Desa Purwadana yang memiliki perkembangan industri yang pesat dan dekat dengan pusat kota, lokasi Desa Tegal Wangi yang sangat jauh dari pusat kota mempengaruhi perkembangan pandangan warganya terkait usaha padi sawah. Usaha padi sawah yang mereka kerjakan tidak dinilai dengan sistem untung rugi melalui perhitungan
antara modal dan keuntungan. Mereka hanya memandang usaha pada sawah yang mereka kerjakan sebagai usaha untuk mendapatkan beras. Beras merupakan komoditas yang dianggap janggal untuk dijual, terlebih jika harus membeli untuk kebutuhan rumah tangga. Hasil uji statistik dan tabulasi silang pada Tabel 24 menunjukkan luas lahan dan jumlah anggota rumah tangga memiliki pengaruh paling besar terhadap kekuatan faktor transformasi. Pandangan responden tentang fungsi usaha padi sawah dapat menjelaskan latar belakang dari fakta yang bertolak belakang tersebut, yaitu antara keuntungan sektor pertanian yang tidak diperhitungkan oleh responden, namun ternyata luas lahan dan jumlah anggota rumah tangga berpengaruh pada kekuatan faktor transformasi.
Meski tidak memperhitungkan keuntungan dan kerugian usaha padi sawah mereka, kepemilikan akan lahan menjadi sejenis jaminan sosial bagi responden untuk ikut melakukan gacong di lahan padi sawah petani lain. Sistem ini juga menjelaskan cara responden dengan lahan 100 hingga 200 meter persegi memenuhi kebutuhan rumah tangganya akan beras. Semakin tinggi luas lahan garapan responden, semakin berhak pula mereka ikut dalam kegiatan gacong di banyak lahan padi sawah petani lain. Sistem ini terbentuk dengan dasar pemikiran semakin besar lahan yang dimiliki maka semakin banyak pula petani lahan lain yang bisa ikut dalam kegiatan panen (gacong). Bayaran 2 ikat padi yang biasa disebut pocong, meski tidak termasuk dalam penghasilan dari sektor pertanian, responden memandang bahwa penghasilan tersebut bisa didapatkan saat mereka masih mengerjakan bidang pertanian. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin besar luas lahan maka semakin besar pula alokasi waktu yang diperlukan untuk ikut dalam kegiatan gacong. Kondisi tersebut dapat melemahkan kekuatan faktor transformasi yang dialami responden. Jumlah anggota rumah tangga juga berpengaruh pada kekuatan faktor transformasi bukan dalam hal pembagian waktu kerja, melainkan dalam konteks semakin banyak jumlah anggota rumah tangga maka semakin banyak beras yang dibutuhkan. Kebutuhan akan beras yang diusahakan sepenuhnya agar dapat dipenuhi dari hasil sektor pertanian memberikan pandangan pada responden bahwa pertanian masih menguntungkan. Tidak seperti pekerjaan sektor non pertanian, pekerjaan sektor pertanian mampu menghasilkan beras, baik dari hasil panen sawah milik pribadi maupun hasil gacong.
Besar sumbangan penghasilan pertanian yang tergolong rendah yaitu kurang dari 30 persen terhadap pendapatan rumah tangga, untuk sebagian besar responden (96 persen) tidak menjadikan mereka memutuskan untuk meninggalkan sektor pertanian. Melalui hasil wawancara mendalam, ditemukan fakta bahwa meski tidak memberikan porsi yang besar dan sangat mungkin digantikan oleh pendapatan dari sektor non pertanian dalam bentuk nominal uang, sektor pertanian tetap memegang peran penting dalam segi jenis komoditas yang dihasilkan.
“...Mau usaha dimana-mana, mau gaji berapa juga, ga akan dibayar beras, (tidak) dibayar padi. Harus beli dulu dari uang gaji. Anak petani ga bisa lah beli beras...” (RAS, 49, Tegal Wangi).
Kebutuhan akan beras yang hanya bisa dipenuhi jika mereka masih berstatus sebagai petani memegang peran penting dalam mempertahankan luasan fungsi lahan garapan mereka. Dapat disimpulkan bahwa alasan utama responden Desa
Tegal Wangi tetap mempertahankan usaha padi sawahnya adalah untuk memenuhi kebutuhan akan komoditas beras yang tidak dapat dipenuhi oleh penghasilan dari sektor non pertanian. Perbedaan yang dapat terlihat antara alasan responden Desa Purwadana dengan responden Desa Tegal Wangi untuk tetap bertahan pada sektor pertanian padi sawah adalah fungsi dari usaha pada sawah itu sendiri. Responden Desa Purwadana memandang pertanian merupakan sumber penghasilan untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu meski dengan kondisi berhutang sektor pertanian harus tetap berjalan. Hutang yang ditanggung jika harus berhenti bertani juga menjadi faktor pengikat lain responden pada sektor pertanian. Perhitungan untung rugi sektor pertanian dalam nominal uang terlihat lebih mendasari keputusan responden Desa Purwadana untuk bertahan, berbeda dengan responden Desa Tegal Wangi yang justru tidak memandang untung rugi dalam nominal uang melainkan dalam besarnya kesempatan yang hilang untuk memenuhi kebutuhan akan beras tanpa membeli jika harus meninggalkan sektor pertanian.
Ikhtisar
Bab ini membahas alasan-alasan responden di kedua desa yang membuat mereka tetap bertahan pada usaha tani padi sawah. Berdasarkan perincian sebaran responden berdasarkan kekuatan faktor transformasi yang dirasakan, kemudahan akses ke sektor non pertanian merupakan faktor transformasi yang paling lemah. Pada sisi lain, responden memandang sektor non pertanian lebih baik dalam hal sumbangan penghasilan, kepastian waktu kerja, dan kecukupan luas lahan. Hal ini menunjukkan sebagian besar responden memandang sektor non pertanian lebih baik setidaknya dalam 3 kategori faktor penyebab transformasi, namun mereka terhambat untuk beralih karena rendahnya akses responden ke sektor non pertanian. Lebih jauh data kualitatif di lapangan menunjukkan setidaknya terdapat 3 alasan utama sebagian besar responden Desa Purwadana tetap mempertahankan usaha taninya. Alasan pertama adalah besarnya sumbangan penghasilan dari sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga yang sulit digantikan jika meninggalkan sektor pertanian. Selain itu, kondisi responden yang berhutang kepada Haji mengikat mereka untuk terus bertani demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membayar hutang. Alasan kedua adalah adanya kepemilikan hak sewa atas lahan, terlepas dari ada atau tidaknya kebutuhan untuk menambah jumlah sumber penghasilan. Responden yang bertahan dengan alasan ini umumnya juga memperhitungkan besar biaya sewa yang tetap akan dibayarkan meski lahan tidak diolah. Alasan ketiga adalah besar keuntungan sektor pertanian yang diperoleh sebagian responden lebih besar dibandingkan keuntungan dari sektor non pertanian yang mereka kerjakan. Umumnya repsonden ini adalah responden dengan kategori berlahan luas. Lain halnya dengan alasan responden di Desa Tegal Wangi. Persentase tertinggi berada pada kecukupan luas lahan. Hal ini menunjukkan sebagian besar responden memandang luas lahannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan beras. Untuk tingkat kemudahan akses cenderung menyebar untuk setiap kategori dan ketiga faktor lainnya
terkonsentrasi pada kategori sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan faktor transformasi yang dirasakan sebagian besar responden Desa Tegal Wangi tidak menimbulkan pandangan bahwa sektor non pertanian lebih baik dalam sebagian atau seluruh aspek faktor-faktor penyebab transformasi. Lebih jauh data di lapangan menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 2 alasan yang membuat mereka mempertahankan usaha taninya meski tidak menguntungkan jika melihat kelayakan usaha tani yang mereka jalani. Alasan pertama adalah demi mempertahankan status sebagai petani. Status sebagai petani berfungsi sebagai jaminan sosial agar mereka dapat mengikuti kegiatan panen di lahan petani lain (gacong). Hal ini menjadi penting karena menurut mereka kebutuhan akan beras tidak sepantasnya dipenuhi dengan membeli beras, melainkan dengan bertani. Alasan kedua adalah komoditas atau hasil yang berbeda antara sektor pertanian dan non pertanian. Sektor pertanian yang menghasilkan gabah dianggap tidak dapat digantikan oleh hasil dari pekerjaan mereka pada sektor non petanian.
PENUTUP
Simpulan
Secara umum karakteristik sosial ekonomi demografi responden berpengaruh terhadap kekuatan faktor transformasi di kedua desa penelitian. Hasil uji statistik regresi linear berganda menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara kedua variabel tersebut untuk responden di masing-masing desa. Berdasarkan uji statistik dan kecenderungan sebaran persentase responden pada tabel tabulasi silang, diketahui bahwa luas lahan dan besar sumbangan panghasilan sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga responden merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling signifikan terhadap kekuatan faktor transformasi. Variabel karakteristik responden lain seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah keahlian non pertanian, jumlah anggota rumah tangga, dan nilai kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan berdasarkan hasil uji statistik dan sebaran persentase responden pada Tabel 24.
Berbeda dengan kondisi data responden di Desa Purwadana, data responden Desa Tegal Wangi menunjukkan luas lahan dan jumlah anggota rumah tangga merupakan karakteristik responden yang memiliki pengaruh paling signifikan terhadap kekuatan faktor transformasi. Variabel karakteristik lain seperti umur, tingkat pendidikan, keahlian non pertanian, sumbangan penghasilan sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga, dan nilai kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan berdasarkan hasil uji statistik dan sebaran persentase pada Tabel 25. Perbedaan variabel karaktersitik yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kekuatan faktor transformasi di kedua desa disebabkan oleh posisi panghasilan sektor pertanian dan posisi sektor pertanian itu sendiri bagi responden di kedua desa. Luas lahan dan besar sumbangan pendapatan sektor pertanian yang tinggi dapat menjadi faktor pengikat yang mampu memperlemah kekuatan faktor transformasi dan mempertahankan responden untuk tetap bekerja pada sektor pertanian. Kondisi ini juga dipicu oleh lokasi Desa Purwadana yang dekat dengan pusat kota dan industri, sehingga sektor pertanian dijadikan sebagai suatu usaha berdasarkan perhitungan untung rugi seperti laiknya usaha di sektor non pertanian. Hal tersebut berbeda dengan responden Desa Tegal Wangi yang memandang sektor pertanian sebagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan akan beras, terlepas dari perhitungan untung dan rugi. Luas lahan dan anggota rumah tangga dapat menjadi faktor yang berpengaruh secara signifikan dalam melemahkan kekuatan faktor transformasi akibat dari fungsi penghasilan sektor pertanian yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan beras untuk setiap anggota keluarga.
Tingkat pemenuhan syarat pokok pembangunan pertanian di Desa Purwadana memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kekuatan faktor transformasi. Hal ini berbeda dengan kondisi di Desa Tegal Wangi. Bagi responden Desa Tegal Wangi tingkat pemenuhan syarat pokok pembangunan pertanian tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam melemahkan kekuatan faktor transformasi. Tingkat pemenuhan syarat pokok pembangunan pertanian
dapat mengefisiensikan penggunaan modal dalam usaha tani. Oleh karena itu, kegiatan usaha tani dengan perhitungan untung dan rugi seperti di Desa Purwadana akan mendapatkan pengaruh yang besar terhadap tingkat pemenuhan syarat pokok pembangunan pertanian. Kondisi responden yang terikat hutang untuk modal usaha tani dan status lahan sewa juga menjadi salah satu faktor dominan yang mengikat responden pada sektor pertanian. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden Desa Purwadana menganggap sektor non pertanian lebih menguntungkan dibandingkan sektor pertanian dan mereka tetap memperta- hankan usaha taninya karena alasan selain keuntungan ekonomi. Lain halnya dengan posisi usaha tani bagi responden di Desa Tegal Wangi. Efisiensi modal usaha tani tidak diperhitungkan sebagai faktor yang memengaruhi keputusan mereka untuk bertani. Besar penghasilan dari sektor non pertanian yang justru menjadi pertimbangan kapan akan memulai usaha tani mereka. Oleh karena itu, ketersediaan syarat pokok pembangunan pertanian tidak menjadi faktor yang memengaruhi kekuatan transformasi yang dialami responden Desa Tegal Wangi. Nilai budaya masyarakat yang memandang usaha tani merupakan kegiatan pokok dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga akan beras juga menjadi salah satu