Desa Purwadana dan Desa Tegal Wangi
Desa Purwadana terletak di kawasan Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Secara geografis, desa ini berbatasan langsung dengan 2 desa lain pada bagian barat dan selatan, serta berbatasan dengan 2 sungai pada bagian selatan, barat, dan timur. Berikut batas Desa Purwadana:
Utara : Sungai Citarum Selatan : Desa Sukamakmur
Barat : Desa Parungsari dan Sungai Cibeet Timur : Sungai Citarum
Secara administratif, Desa Purwadana terbagi menjadi 11 RT dan 29 RW. Desa ini juga terbagi dalam 6 dusun atau kampung, antara lain Bugel, Geblug, Gempol Tengah, Jenebin, Bobojong, dan Sumedangan. Kampung Sumedangan adalah satu-satunya wilayah yang masih memiliki lahan pertanian. Pengairan persawahan di kampung tersebut berasal dari Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Petani penggarap lahan tersebut umumnya bermukim pada Kampung Sumedangan dan Kampung Bobojong yang letaknya cukup dekat dengan lahan pertanian.
Desa Tegal Wangi merupakan daerah terluar di Kabupaten Bogor sebelah barat. Desa Tegal Wangi berbatasan langsung dengan Kabupaten Rangkasbitung, Provinsi Banten. Desa Tegal Wangi merupakan desa pemekaran dari Desa Koleang yang berbatasan langsung di sebelah timur. Pemekaran dari Desa Koleang terjadi pada tahun 1987. Desa Tegal Wangi berada pada ketinggian 500 hingga 700 mdpl10. Sebagian besar wilayah Desa Tegal Wangi adalah lereng gunung dengan kemiringan 20 sampai 40 di sebelah timur. Berikut batas Desa Tegal Wangi:
Utara : Desa Candi Timur : Desa Koleang Selatan : Desa Curug Barat : Desa Lebak Asih.
Desa Tegal Wangi terdiri dari 3 dusun dengan 7 Rukun Warga (RW) dan 38 Rukun Tetangga (RT). Terdapat 7 kampung di Desa Tegal Wangi, yakni Lengkong, Nanggung, Cimanggu, Cokrak, Curug Nanggung, dan Tegal.
10
Tabel 8 Luas dan persentase lahan di Desa Purwadana tahun 2011
No Uraian
Purwadana Tegal Wangi Luas (Ha) Persentase (%) Luas (Ha) Persentase (%) 1 Persawahan 34.00 7.89 82 8.68 2 Pemukiman 0.70 0.16 35 3.70 3 Perumahan 360.29 83.58 - - 4 Hutan rakyat - - 333 35.24 5 Hutan negara - - 362 38.31 6 Pertokoan 0.50 0.11 - - 7 Lahan terlantar 20.00 4.64 - - 8 Lainnya 15.60 3.62 133 14.07 Total 431.09 100.00 945 100.00
Sumber: Profil Desa Purwadana, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang 2011 dan Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa Tegal Wangi tahun 2011 – 2015 (diolah)
Dibandingkan dengan Desa Purwadana, kawasan Desa Tegal Wangi memiliki luas yang jauh lebih tinggi. Desa Purwadana sendiri memiliki luas total sebesar 431,089 hektar. Desa Tegal wangi memiliki luas total mencapai 945 hektar. Tingginya luas kawasan Desa Tegal Wangi disebabkan terdapat kawasan hutan negara seluas 333 hektar dan hutan rakyat seluas 362 hektar. Penggunan lahan terluas untuk Desa Purwadana digunakan untuk wilayah perumahan mencapai 83,58 persen dari luas total. Keberadaan dua perusahan pengembang perumahan merupakan hal yang melatarbelakangi kondisi penggunaan lahan tersebut. Berbeda dengan Desa Purwadana, lahan terluas Desa Tegal Wangi ditetapkan sebagai hutan negara dan hutan rakyat dengan luasan berturut-turut mencapai 38,31 persen dan 35,24 persen dari luasan total.
Luas persawahan pada kedua desa berada pada persentase yang hampir sama namun dengan luasan yang jauh berbeda jika dilihat dalam satuan hektar. Luas persawahan untuk Desa Purwadana dan Tegal Wangi berturut-turut mencapai 7,89 persen dan 8,68 persen. Jika dibandingkan dalam hektar, luas persawahan Tegal Wangi yang mencapai 82 hektar jauh lebih luas dibandingkan lahan persawahan Desa Purwadana yang hanya seluas 34 hektar. Sebagian besar lahan pertanian di Desa Purwadana telah dimiliki pihak luar desa. Seluas 20 hektar lahan persawahan tersebut dimiliki oleh PT. R yang bergerak di bidang properti dan 10 hektar dimiliki oleh pengusaha dari Jakarta. Hanya sekitar 4 hektar lahan persawahan yang masih dimiliki warga desa. Berbeda halnya dengan Desa Tegal Wangi yang seluruh lahan persawahannya masih dimiliki oleh masyarakat desa tersebut.
Jumlah penduduk Desa Purwadana pada tahun 2011 berjumlah 11.768 jiwa dengan 5.059 jiwa laki-laki dan 5.909 jiwa adalah perempuan. Jumlah Kepala Keluarga yang ada di Desa Purwadana mencapai 3.006 KK. Berdasarkan data terakhir hasil sensus penduduk pada tahun 2011, tercatat 5.109 jiwa bermukim di Desa Tegal Wangi dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1.292 KK.
Tabel 9 Jumlah dan persentase penduduk Desa Purwadana berdasarkan kelompok umur tahun 2011
No Kelompok umur (tahun)
Purwadana Tegal Wangi
Jumlah (jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 0-17 4 547 38.66 1991 38.89 2 18-35 2 836 24.11 1119 21.86 3 36-53 2 485 21.13 1120 21.88 4 >54 1 894 16.10 889 17.37 Total 11 762 100.00 5 119 100
Sumber: Profil Desa Purwadana, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang 2011 dan Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa Tegal Wangi tahun 2011 – 2015 (diolah)
Dilihat dari sebaran umur pada Tabel 9, penduduk di kedua desa didominasi oleh penduduk yang berada pada usia di bawah 17 tahun. Kategori tertinggi kedua untuk masing-masing desa juga berada pada kategori penduduk yang sama, yaitu penduduk usia 18 sampai 53 tahun. Berdasarkan ilmu kependudukan, penduduk Desa Purwadana dan Tegal Wangi tergolong pada usia produktif yaitu pada rentang 15 sampai 64 tahun. Berikut data jumlah penduduk Desa Purwadana berdasarkan umur pada tahun 2011. Data sebaran penduduk Desa Purwadana pada Tabel 9 merupakan data yang diambil pada tahu 2011. Hal tersebut dimungkinkan menjadi latar belakang terkait perbedaan antara sebaran penduduk pada Tabel 9 dengan kondisi di lapangan saat masa penelitian berlangsung. Kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar penduduk yang tetap bekerja di dalam wilayah desa adalah penduduk usia non produktif (lebih dari 50 tahun). Sebagian besar tenaga kerja muda memilih untuk bekerja di luar wilayah desa. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh pabrik di wilayah sekitar Karawang dan Jakarta. Berbeda halnya dengan sebaran penduduk Desa Tegal Wangi pada Tabel 9. Sebaran tersebut cukup menggambarkan kondisi di Desa Tegal Wangi. Masih terdapat penduduk yang menetap di dalam wilayah desa meski sebagian besar bekerja di wilayah Jakarta dan Depok.
Berdasarkan data dari profil desa pada tahun 2011, sebagian besar penduduk Desa Purwadana bermata pencaharian sebagai karyawan yang berjumlah sebanyak 1.241 jiwa atau sebesar 55 persen dari total penduduk yang bekerja. Jumlah tersebut cukup jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani, dengan jumlah sebesar 212 orang (9,47 persen) dari total penduduk yang bekerja. Petani dalam kategori ini diartikan secara luas yang meliputi petani palawija dan peternak ikan, sapi, kambing serta unggas. Perbandingan jumlah penduduk yang bergerak pada bidang pertanian dengan penduduk yang bekerja sebagai karyawan yang cukup jauh dimungkinkan karena luas lahan pertanian yang semakin sempit serta tidak lagi dimiliki oleh petani. Tingginya jumlah karyawan juga dimungkinkan karena terdapat pabrik dan beberapa perseroan terbatas yang mampu menyerap tenaga kerja dalam desa. Pada sisi lain, hal ini juga menunjukkan masih terdapat sejumlah rumah tangga yang
menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dalam artian luas di tengah kondisi sempitnya lahan pertanian yang tersedia.
Sebaran penduduk Desa Tegal Wangi yang berbeda dibandingkan Desa Purwadana terlihat pada Tabel 9. Jumlah tertinggi penduduk berdasarkan jenis pekerjaan masih berada pada kategori karyawan, namun jumlah penduduk yang bergerak di sektor pertanian berada pada urutan kedua sebesar 21,40 persen. Kondisi ini dimungkinkan terjadi karena jauhnya jarak wilayah desa dengan pusat industri di wilayah Jasinga dan pusat Kota Bogor. Fungsi pertanian yang merupakan kegiatan wajib bagi kepala rumah tangga juga dimungkinkan menjadi penyebab lain tingginya jumlah petani di Desa Tegal Wangi dibandingkan jumlah petani Desa Purwadana. Tingginya jumlah buruh tani yang mencapai 612 penduduk (15,23 persen) juga menunjukkan sektor pertanian masih dijadikan sumber penghasilan dengan jenis tertentu. Sektor pertanian yang umumnya dikerjakan oleh angkatan kerja Desa Tegal Wangi adalah padi sawah dan perkebunan karet.
Tabel 10 Jumlah dan persentase penduduk Desa Purwadana berdasarkan jenis pekerjaan tahun 2011
No Jenis pekerjaan
Purwadana Tegal Wangi Jumlah (jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Petani 212 9.47 860 21.40 2 Buruh tani 148 6.61 612 15.23 3 Buruh - - 804 20.01 4 PNS 54 2.41 11 0.27
5 Industri rumah tangga 5 0.22 - 0
6 Pedagang keliling 170 7.60 9 0.22
7 Montir 18 0.81 - -
8 Ojeg - - 41 1.02
9 Pengusaha kecil dan
menengah 254 11.35 109 2.71
10 Karyawan 1 241 55.45 1562 28.87
11 Dokter 6 0.27 - -
12 Bidan 3 0.13 1 0.02
13 Perawat 5 0.22 1 0.02
14 Pembantu rumah tangga 40 1.79 3 0.07
15 TNI 12 0.54 - -
16 Polisi 6 0.27 1 0.02
17 Pensiunan 64 2.86 5 0.12
Total 2 238 100 4019 100
Sumber: Profil Desa Purwadana, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang 2011 dan Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa Tegal Wangi tahun 2011 – 2015 (diolah)
Penduduk Desa Purwadana yang bekerja sebagai petani padi sawah umumnya menggunakan jenis bibit yang berumur sekitar 4 bulan. Penanaman
umumnya dilakukan sepanjang tahun. Padi hasil produksi dijual untuk biaya hidup dan tambahan modal untuk musim tanam berikutnya. Sedangkan pada rumah tangga yang memiliki mata pencaharian ganda umumnya modal produksi pertanian diperoleh dari hasil mata pencaharian lain di luar sektor pertanian. Berbeda dengan sistem pertanian Desa Purwadana, petani Desa Tegal Wangi menggunakan bibit yang berumur 6 bulan. Seluruh sawah di desa ini merupakan sawah tadah hujan. Jenis bibit yang digunakan pun disesuaikan dengan kondisi tersebut. Penanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun. Hasil produksi tidak dijual melainkan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan beras. Hasil dari pekerjaan pada sektor pertanian dijadikan satu-satunya sumber modal dalam kegitan usaha tani mereka.
Desa Purwadana sendiri merupakan salah satu desa di Kabupaten Karawang yang menjadi lumbung padi. Seluas 60 hektar lahan persawahan di desa ini awalnya merupakan milik warga lokal. Perubahan penguasaan lahan terjadi ketika perusahaan pengembang perumahan membeli tanah milik warga dengan janji untuk memberikan akses kerja bagi warga lokal di perusahaan terebut. Setelah konversi lahan terjadi, banyak warga lokal yang akhirnya mengalami perubahan pekerjaan. Bangkrutnya perusahaan pengembang pada tahun 1994 hingga 2006, menyebabkan sisa lahan yang belum dikonversi menjadi perumahan digarap oleh warga setempat dengan sistem pajak pada pemilik lahan. Berikut kronologi perubahan penguasaan lahan di Desa Purwadana.
Tabel 11 Kronologi perubahan penguasaan lahan
Waktu Kronologi
Sebelum 1981 Luas lahan persawahan Desa Purwadana mencapai 60 hektar dengan status kepemilikan milik sendiri.
Tahun 1981 Muncul kabar rencana pembelian lahan 30 hektar milik masyarakat Desa Purwadana oleh perusahaan PT GRH. Tahun 1981 – 1995
Luasan sawah yang dijual mencapai 40 hektar. Petani penjual sawah beralih profesi menjadi pemilik warung sembako, warung makan, atau guru ngaji tetapi tetap bertani di tanah orang lain dengan sistem sewa atau gadai. Tahun 1990 – 1994
PT. RSD membeli sebagian lahan PT.GRH (10 hektar) dan membeli 10 hektar lahan sawah milik warga.
Tahun 1994 – 2006
Pembangunan perumahan PT.GRH dan PT.RSD terhenti di tengah jalan. Lahan seluas 20 hektar yang belum dibangun menjadi terlantar dan mulai digarap oleh Warga Desa Purwadana. Tidak ada ketentuan mengenai lokasi garapan dan luasan lahan yang digarap.
Tahun 2007 – 2011 Tenaga kerja usia produktif mulai kembali ke pertanian untuk meneruskan lahan garapan orang tuanya.
Tahun 2011 − 2014
Muncul oknum yang mengklaim diri sebagai perwakilan dari pihak pemilik lahan untuk mengumpulkan pajak. Ketentuan pembayaran pajak berubah dari yang awalnya kolektif menjadi per orang.
Berbeda dengan Desa Purwadana, perubahan penguasaan lahan pada Desa Tegal Wangi yang berpengaruh besar terhadap sistem perekonomian rumah tangga masyarakatnya justru bukan pada lahan pertanian. Perubahan penguasaan lahan perkebunan karet pada hutan negara dan hutan rakyatlah yang memiliki andil besar dalam memengaruhi perekonomian rumah tangga masyarakat Desa Tegal Wangi. PT. PJ merupakan salah satu pihak yang memiliki peran besar dalam perubahan penguasaan lahan tersebut. Perkebunan PT.PJ sudah ada sejak zaman Belanda dengan status kepemilikan yang berpindah-pindah. Tahun 1998 masyarakat Desa Tegal Wangi mulai menggarap lahan milik PT.PJ yang bangkrut. Setelah 10 tahun dikelola dengan izin yang legal, tanaman milik masyarakat ditebang paksa oleh pihak perusahaan yang mengaku telah mendapatkan mandat dari PT.PJ untuk memperpanjang HGU11 di atas tanah tersebut. Berikut kronologi perubahan penguasaan lahan perkebunan.
Tabel 12 Kronologi perubahan penguasaan lahan perkebunan Sebelum tahun 1998 Setelah tahun 1998 Setelah tahun 2008 PT. PJ sudah beroperasi
di Kecamatan Jasinga sejak zaman penjajahan Belanda.
Masyarakat Desa Tegal Wangi mulai menggarap lahan bekas Hak Guna Usaha PT. PJ
Perpanjangan Hak Guna Usaha lahan bekas PT. PJ. yang dilakukan di atas lahan seluas 938 hektar. Pada masa Orde Baru,
pengelolaan PT. PJ dikelola oleh orang Indonesia.
Tahun 2000, pembuatan SPPT12 dilakukan di kedua desa sebagai izin yang legal dalam
pengeloalaan lahan milik negara.
PPAN13. Pembagian lahan bekas PT. PJ yang tidak diperpanjang kepada masyarakat di Kecamatan Jasinga. Luasan lahan PPAN adalah 1.200 hektar. Hak Guna Usaha PT. PJ
habis dan tidak diperpanjang lagi.
Tahun 2010, puncak dari penebangan lahan garapan masyarakat di kedua desa. Sumber: Wawancara mendalam dengan aparat Desa Tegal Wangi dan warga pemegang SPPT (diolah)
Sistem pertanian tetap menjadi tumpuan atau kegiatan harian bagi masyarakat Desa Tegal Wangi. Meskipun kehilangan akses terhadap lahan garapan karet, namun pertanian padi sawah masih dikelola. Sistem pertanian yang digunakan oleh masyarakat Desa Tegal Wangi adalah sistem pertanian tradisional. Hasil panen yang didapat bukan untuk dijual melainkan untuk konsumsi rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat Desa Tegal Wangi bekerja sebagai buruh sadap karet dengan sistem bagi hasil atau maparo. Selain itu, sisi lain dari Desa Tegal Wangi adalah kondisi masyarakat yang sangat guyub.
11
Hak Guna Usaha. 12
Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang. 13
Hal ini ditandai dengan adanya sistem gacong. Sistem gacong adalah membantu tetangga atau kerabat saat tandur hingga panen dengan bayaran berupa gabah. Biasanya hal ini dilakukan oleh para wanita. Hasil yang didapatkan dari gacong biasanya lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen dari tanah milik atau garapan sendiri. Sistem pertanian tradisional lain yang ada di Desa Tegal Wangi adalah dengan masih digunakannya ani-ani saat memotong batang padi. Sawah tadah hujan yang ada di Desa Tegal Wangi hanya bisa ditanami 2 kali dalam setahun karena memanfaatkan air hujan. Hasil panen padi yang dihasilkan setiap panennya disimpan dalam leuit. Leuit adalah bangunan yang berukuran 2 × 3 m2 dengan kapasitas gabah yang dapat ditampung mencapai 3 hingga 4 ton.
Karakteristik Sosial Ekonomi Demografi Responden
Sebaran Umur
Kondisi sebaran umur tenaga kerja pertanian di kedua desa penelitian cenderung sama. Sebagian besar responden di kedua desa berada pada usia sangat produktif yaitu pada kisaran 15 hingga 49 tahun. Usia non produktif memiliki komposisi yang paling rendah. Kondisi ini berbeda dengan gambaran dari data Sakernas 2007 sampai 2011 yang memperlihatkan rendahnya persentase petani Indonesia pada golongan usia produktif. Hal ini dimungkinkan terjadi karena karakter tenaga kerja di desa penelitian yang sebagian besar masih menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama seperti di Desa Purwadana, Kabupaten Karawang. Pada sisi lain, penduduk usia kerja di Desa Tegal Wangi, Kabupaten Bogor menjadikan pertanian sebagai kegiatan utama untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok rumah tangga.
Tabel 13 Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur Umur
Purwadana Tegal Wangi
Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Sangat produktif 14 46.7 16 53.3 Produktif 12 40.0 11 36.7 Non produktif 4 13.3 3 10.0 Total 30 100 30 100
Tabel 13 menunjukkan persentase yang berbeda pada masing-masing kategori umur di kedua desa penelitian. Responden yang tergolong pada usia sangat produktif di Desa Purwadana, Kabupaten Karawang berjumlah 14 orang (46,70 persen). Responden yang tergolong pada usia produktif berjumlah 12 orang (40 persen) sedangkan 4 responden atau 13,30 persen tergolong pada usia non produktif. Hasil yang sedikit berbeda terdapat pada responden di Desa Tegal
Wangi, Kabupaten Bogor. Sebanyak 16 orang (53,30 persen) responden tergolong pada usia sangat produktif. Responden yang tergolong pada usia produktif berjumlah 11 orang (36,70 persen) sedangkan responden yang tergolong pada usia non produktif berjumlah 3 orang (10 persen).
Responden di Desa Purwadana memandang bertani sebagai pekerjaan yang sebaiknya dilakukan oleh tenaga kerja yang masih muda. Mereka memper- timbangkan kemampuan fisik tenaga kerja muda yang lebih baik dibandingkan tenaga kerja non produktif. Hal ini dianggap mampu mengurangi biaya produksi seperti upah buruh. Semua responden di Desa Purwadana yang tergolong usia non produktif dan sebagian kecil petani usia produktif dan sangat produktif menggunakan jasa buruh tani untuk mengurus lahan mereka mulai dari pembibitan sampai panen. Petani usia sangat produktif umumnya memiliki 2 mata pencaharian termasuk bertani seperti buruh pabrik, guru, buruh traktor, atau berdagang. Selain sebagai pekerjaan utama, beberapa responden usia sangat produktif menganggap bertani sebagai pekerjaan sampingan sekadar untuk memanfaatkan lahan persawahan yang masih dimiliki hak sewanya dari pada dibiarkan menganggur atau dialihkan kepada petani lain.
“...Ini kan tanah disewa ya. Pake duit. Sayang kalau ga diurus. Jadi ikut orang tua bertani kalau ada waktu kosong...” (T, 32, Purwadana). Kegiatan usaha tani banyak dikerjakan oleh responden golongan produktif sebagai sumber penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang umumnya terdiri dari keluarga inti dan orang tua responden. Petani golongan produktif dan non produktif umumnya banyak yang tetap bertani karena beberapa hal, antara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga inti bagi mereka yang masih menjadi kepala rumah tangga. Bagi mereka yang sudah tidak lagi menjadi kepala rumah tangga, bertani merupakan bentuk usaha mempertahankan posisinya dalam keluarga dengan terus bekerja dan juga karena kondisi fisik dan stamina yang melemah jika harus bekerja pada sektor non pertanian. Berdasarkan pengalaman mereka saat bekerja pada sektor non pertanian, sektor non pertanian dianggap lebih banyak menghabiskan tenaga. Meskipun tetap berusaha untuk bekerja, keterbatasan stamina dan kesehatan responden kedua golongan ini menghambat mereka untuk secara penuh ikut dalam proses produksi pertanian yang berujung pada mahalnya biaya produksi.
Kondisi sebaran umur responden di Desa Tegal Wangi dilatarbelakangi oleh hal yang berbeda dengan Desa Purwadana. Pada Desa Tegal Wangi bertani dipandang sebagai usaha yang wajib dilakukan sebagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Tenaga kerja usia sangat produktif dan produktif memang diwajibkan untuk bertani sedangkan para orang tua atau tenaga kerja non produktif umumnya sudah berhenti bertani dan menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidupnya pada anak atau cucu mereka. Sebanyak 10 persen responden yang tergolong usia non produktif masih melanjutkan kegiatan pertanian dengan berbagai alasan, antara lain untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok karena tidak dapat bergantung pada sanak saudara yang lain, tidak memilik anak yang bersedia mengolah lahan, dan/atau tidak dapat lepas dari kegiatan pertanian. Petani non produktif yang tidak mampu lepas dari kebiasaan bertani biasanya
hanya mengerjakan beberapa tahap pada proses produksi dan sisanya akan diserahkan pada buruh bayaran atau pada sanak saudaranya.
Masyarakat Desa Tegal Wangi tidak memandang kegiatan bertani mereka sebagai usaha yang perlu diperhitungkan untung ruginya.
“...Didieu mah tani lain jang dijual. Jang sapopoe we. Nu penting beas teu meuli ka warung...” (M,58, Tegal Wangi).
“...Disini bertani bukan untuk dijual hasilnya hanya untuk kebutuhan sehari-hari agar tidak beli beras ke warung...” (M,58, Tegal Wangi).
Mereka memandang bertani merupakan kegiatan yang dilakukan oleh rumah tangga sebagai bentuk usaha untuk memperoleh beras. Oleh karenanya terdapat pergantian pelaku usaha tani dalam rumah tangga manakala keturunan mereka telah mampu mengolah sawah untuk memenuhi kebutuhan akan makanan pokok, dan para orang tua akan menggatungkan kebutuhannya pada anak atau saudara lain yang diberikan hak untuk mengolah lahan persawahan.
Tingkat Pendidikan
Pada variabel tingkat pendidikan terdapat kecenderungan yang berbeda pada kedua desa penelitian. Sebagian besar responden di Desa Purwadana tergolong pada tingkat pendidikan rendah (43,3 persen) dan sedang (40 persen). Terdapat 5 responden (16,7 persen) yang tergolong memiliki tingkat pendidikan tinggi. Dapat dilihat bahwa responden dengan tingkat pendidikan rendah memiliki jumlah terbesar. Hal yang sedikit berbeda terlihat pada Desa Tegal Wangi. Sebagian besar responden memang masih berada pada kategori responden dengan tingkat pendidikan rendah (43,3 persen) sampai sedang (50 persen), namun terdapat perbedaan dengan sebaran responden Desa Purwadana. Terdapat 2 responden (6,7 persen) yang termasuk pada kategori pendidikan tinggi.
Tabel 14 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat
pendidikan
Purwadana Tegal Wangi
Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Rendah 13 43.3 13 43.3 Sedang 12 40.0 15 50.0 Tinggi 5 16.7 2 6.7 Total 30 100.0 30 100.0
Tingkat pendidikan yang cenderung rendah pada sebagian besar responden di kedua desa disebabkan oleh hal yang sama yaitu sulitnya akses terhadap fasilitas sekolah, baik dalam hal jarak tempuh maupun biaya. Hanya terdapat 1 Sekolah Dasar di Desa Purwadana yang mulai berjalan sekitar tahun 1990.
Sebagian besar responden di kedua desa juga mengaku tidak bersekolah karena masalah biaya dan sebagian yang sempat menerima pendidikan pesantren atau Sekolah Dasar pun harus berhenti di tengah jalan karena alasan yang sama.
“...Orang tua kita dulu, orang ga punya. Sekolah mewah kayanya. Cuma buat orang menak saja...” (R, 45, Purwadana).
Responden Desa Purwadana yang sempat menerima pendidikan sampai SMP umumnya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena saat itu pendidikan setingkat SMP sudah dianggap cukup, dan sebagian lagi tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang SMA karena masalah biaya. Responden Desa Purwadana yang tergolong pada kategori pendidikan menengah umumnya kembali ke desa untuk melanjutkan usaha tani orang tuanya. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk bekerja di luar sektor pertanian seperti berdagang, menjadi buruh atau pun menjadi kuli bangunan. Responden Desa Tegal Wangi yang tergolong pada tingkat pendidikan rendah sampai menengah (tidak tamat SD hingga tamat SD) umumnya membantu atau mengambil alih pekerjaan menyadap