• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alat Analisis Data

Dalam dokumen SKRIPSI HENRAWATI (Halaman 47-55)

METODE PENELITIAN

F. Populasi dan Sampel

2. Alat Analisis Data

, = 56,52 atau 56 orang

G. Metode Analisis Data 1. Analisis Deskriptif

Dengan merumuskan dan menafsirkan data yang diperoleh,menyusun dan mengklasifikasikan serta menganilisis, dan menginterprestasikannya sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai disiplin kerja terhadap produktivitas kerja pegawai pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Alat Analisis Data

Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Analisis Regresi Sederhana

Regresi sederhana yaitu untuk menganalisis seberapa besar pengaruh antara beberapa variabel independen. Bentuk umum persamaan regresi sederhana adalah sebagai berikut :

Y = a + bX Dimana :

Y : Produktivitas kerja a : Konstanta

b : Koefisien Regresi Parsial X : Disiplin kerja

b. Uji Koefisien determinasi ( )

Koefisien determinasi adalah salah satu nilai statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara dua variabel.

Nilai koefisien dari determinasi menunjukan presentase variasi nilai variabel yang dapat dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan.

c. Uji Simultan (Uji F)

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan dengan produktivitas kerja pegawai.

Langkah-langkah pengujian terhadap koefisien regresi adalah sebagai berikut :

1. Ho :  = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel disiplin kerja terhadap variabel produktivitas kerja pegawai

Ha : ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel disiplin kerja terhadap variabel produktivitas kerja pegawai.

2. Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikansi sebesar 5% dan derajat kebebasan (d.f) = (k-1, n-k, α), dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer program SPSS.

3. Kesimpulan yang diambil adalah Jika f hitung> f tabel maka Ho ditolak, sebaliknya Jika fhitung< ftabelmaka Ho diterima, dengan ftabel derajat kebebasan = (k-1, n-k, α).

34

d. Uji Persial (Uji t)

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variable indenpen terhadap variable dependen.

Langkah-langkah pengujian terhadap koefisien regresi adalah sebagai berikut :

1. Ho : β = 0, Tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel disiplin kerja terhadap variabel produktivitas kerja pegawai.

Ha : β ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variabel disiplin kerja terhadap variabel produktivitas kerja pegawai.

2. Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikasi sebesar 5% dan derajat kebebasan (d.f) = n-k, dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer program SPSS.

3. Kesimpulan yang diambil adalah Jika > maka Ho ditolak, sebaiknya Jika < maka Ho diterima.

BAB IV

GAMBAR UMUM PERUSAHAAN

A. Gambaran Umum Organisasi/Instansi 1. Sejarah BAPPEDA Prov. Sulsel

Pertama terbentuknya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di awali dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1980 tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, kemudian disusul dengan keluarnya Keputusan Menteri Dalam Negeri No 185 Tahun 1980 tentang pedoman organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II. Selanjutnya untuk memperkuat kelembagaan ini di daerah-daerah maka Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dengan persetujuan Dewan Perwakilan rakyat Provinsi daerah Tingkat I Sulawesi Selatan menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan No 3 Tahun 1982 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Adapun substansi dari masing-masing Keputusan Presiden RI dan peraturan Daerah, masing-masing sebagai berikut :

1.1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1080 tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

35

36

a. Bahwa dalam rangka usaha peningkatan keserasian pembangunan di Daerah diperlukan adanya peningkatan keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan Daerah

b. Bahwa dalam rangka usaha menjamin laju perkembangan, keseimbangan, dan kesinambungan pembangunan di Daerah diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh, terarah, dan terpadu.

c. Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, pengaturan tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1974.

Dengan mencabut Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1974 tentang Pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

a. Di Provinsi Daerah Tingkat I di bentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I, selanjutnya dalam keputusan Presiden ini disebut BAPPEDA Tingkat I;

b. BAPPEDA tingkat I adalah badan staf yang langsung berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;

c. BAPPEDA Tingkat I mempunyai tugas membantu GubernurKepala Daerah tingkat I dalam menentukan kebijaksanaan di bidang perencanaan pembangunan di Daerah tingkat I serta penilaian atas pelaksanaannya;

d. Sedangkan di Kabupaten atau Kotamadya Tingkat II dapat dibentuk Badan Perencanan Pembangunan Tingkat II, selanjutnya dalam keputusan Presiden disebut BAPPEDA Tingkat II;

e. Sedangkan di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingat II, selanjutnya dalam keputusan Presiden ini disebut BAPPEDA Tingkat II;

f. BAPPEDA Tingkat II, adalah Badan staf yang langsung berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II;

g. BAPPEDA Tingkat II mempunyai tugas membantu Bupati/Walikotamadya Kepala Daera Tingkat II dalam menentukan kebijaksanaan dibidang Perencanaan Pembangunan di Daerah Tingkat II serta penilaian atas pelaksanaannya.

1.2 Keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor 185 Tahun 1980 tentag pedoman Organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II.

a. Menimbang bahwa sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1980, dipandang perlu segera menetapkan Keputusan Menteri pedoman organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II.

38

b. Dengan memperhatikan persetujuan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara dalam suratnya Nomor :B-790/I/MENPAN/8/80 tanggal 16 Agustus 1980.

c. BAPPEDA Tingkat I, selanjutnya dalam keputusan ini disebut BAPPEDA Tingkat I, Badan Staf yang langsung berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

d. BAPPEDA Tingkat I dipimpin Oleh seorang Ketua.

e. Dalam melaksanakan tugasnya, ketua dibantu oleh seorang wakil ketua yang bertanggung jawab kepada ketua.

1.3 Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 1982 tentang pembentukan,organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

a. Menimbang dalam rangka peningkatan keserasian pembangunan dalam usaha menjamin laju perkembangan,keseimbangan dan kesinambungan pembangunan dengan perencanaan yang menyeluruh, terarah dan terpadu di Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, maka organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan yang diatur dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor : 542a/XI/1974 berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negri Nomor 142 Tahun 1974 Dianggap Tidak Memadai Lagi, sehingga perlu dikembangkan.

b. Berhubungan dengan hal tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 185 Tahun 1980, perlu

ditetapkan peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan yang mengatur tentang pembentukan, organisasi dan tata kerja BAPPEDA Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

c. Dengan persetujuan DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan dengan menetapkan peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tentang pembentukan organisasi dan tata kerja BAPPEDA Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Selanjutnya hingga saat ini kedudukan BAPPEDA Provinsi Sulawesi Selatan ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2001

2. Visi Dan Misi Bappeda a. Visi Bappeda

Visi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah “Profesional, Terpercaya, dan Kompetitif dalam Perencanaan Pembangunan Wilayah”.

b. Misi Bappeda

Untuk mewujudkan visi Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan maka disusun sebagai berikut :

1. Mengembangkan, mengkoordinasikan dan memfasilitasi perencanaan pembangunan wilayah yang menjaminsinergitas.

2. Meningkatkan Kinerja Pelaksanaan Rencana Pembangunan Wilayah.

3. Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana organisasi.

4. Mengembangkan kualitas dan profesionalisme SDM perencana.

40

Dalam dokumen SKRIPSI HENRAWATI (Halaman 47-55)

Dokumen terkait