• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alat-Alat Bukti dan Jenis-Jenis Putusan Dalam Hukum Perdata

TANAH YANG BELUM TERDAFTAR A. Pengertian dan Perinsip-Perinsip Hukum Acara Perdata

B. Alat-Alat Bukti dan Jenis-Jenis Putusan Dalam Hukum Perdata

Pembuktian merupakan tahap yang cukup penting dalam semua proses pemeriksaan perkara, dari tahap inilah nantinya yang akan menentukan apakah dalil penggugat atau bantahan tergugat yang akan terbukti. Dari alat-alat bukti yang diajukan para pihak, Majeis Hakim dapat menilai peristiwa hukum apa yang terjadi sengketa. Dari peristiwa hukum yang terbukti tersebut nantinya Majelis

133 John Z. Loudoe & Willy B.Pedrico, Skema Hukum Acara Perdata Menurut HIR, Surabaya, Sindoro, 1982, hal 3.

Hakim akan mempertimbangkan hukum apa yang akan diterapkan dalam perkara tersebut dan memutuskan siapa yang menang dan kalah dalam perkara tersebut.

Untuk membuktikan suatu peristiwa yang disengketakan, hukum acara perdata sudah menentukan alat-alat bukti yang bisa diajukan para pihak dipersidangan, yaitu tersebut dalam Pasal 164 HIR/Pasal 284 RBg yaitu : Surat; Saksi;

Persangkaan; pengakuan; dan sumpah.

Hukum pembuktian merupakan keseluruhan aturan pembuktian yang menggunakan alat bukti yang sah sebagai alatmya dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran melalui putusan atau penetapan hakim.134 Tujuan pembuktian pada hakikatnya adalah untuk menghasilkan suatu putusan, yang menyatakan salah satu pihak menang, dan pihak yang lain kalah (jika merupakan peradilan yang sebenarnya), atau untuk menghasilkan suatu penetapan, sehingga putusan hakim didasarkan pada pembuktian itu.135

Kesempata pertama mengajukan pembuktian akan diberikan oleh Majelis Hakim kepada pihak penggugat.dalam praktik persidangan terlebih dahulu pihak penggugat akan mengajukan bukti surat yaitu berupa fotocopi yang ditempeli materai dan telah dibubuhi cap kantor pos. Dipersidangkan fotokopi bukti surat tersebut akan dicocokkan dengan aslinya oleh Majelis Hakim guna memastikan fotokopi surat adalah benar. Setelah bukti surat dari pihak penggugat, dilanjutkan bukti surat dari pihak tergugat dengan prosedur yang sama seperti bukti surat pada penggugat. Dipersidangkan pihak tergugat diberi kesempatan untuk melihat dan meneliti surat yang diajukan pihak penggugat dan begitu juga sebaliknya pihak

134Wiwie Heryani&Achmad Ali, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group, 2013, hal 22

135 Op Cit, 57.

penggugat juga diberi kesempatan untuk melihat dan meneliti bukti surat yang diajukan tergugat. Masing-masing pihak dapat mengemukakan tanggapan terhadap bukti surat tersebut dan tanggapan itu dicatat dalam berita acara sidang.

Akan tetapi, dalam praktik persidangan tanggapan terhadap bukti surat itu sering para kuasa hukum para pihak menyatakan akan menanggapinya dalam kesimpulan yang akan diajukan pada persidangan tahap.

Orang yang akan menjadi saksi untuk didengar keterangannya di persidangan biasanya dibawa sendiri oleh para pihak, setelah bukti surat selesai di ajukan. Akan tetapi, ada juga saksi tidak bisa dibawa sendiri oleh para pihak, sehingga kuasa para pihak dapat meminta ke Majelis Hakim agar saksi tersebut dipanggil melalui pengadilan. Kesaksian jenis ini umumnya diperlukan dari pihak-pihak tertentu yang karena jabatannya harus dipanggil secara resmi. Sesuai urutan kepentingan, Majelis Hakim terlebih dahulu akan mendengar keterangan saksi dari pihak penggugat baru kemudian dari pihak tergugat. Pasal 145 HIR/Pasal 172 dan Pasal 174 Rbg menentukan dengan jelas orang-orang dapat didengar keterangannya sebagai saksi, dan yang harus mengundurkan diri karena alasan terkait hubungan keluarga atau hubungan karena perkawinan.136

Tahap pembacaan putusan merupakan tahap akhir dalam proses persidanagn. Penjelasan Pasal 60 Undang-undang nomor 7 Tahun 1989 memberi defenisi tentang putusan “putusan adalah keputusan pengadilan atas perkara gugatan berdasarkan adanya suatu sengketa” putusan hakim atau yang lazim disebut dengan istilah putusan pengadilan merupakan sesuatu yang sangat

136 Op Cit, hal 67-68

diinginkan oleh para pihak yang berperkara guna menyelesaikan sengketa yang dihadapi, dengan putusan hakim akan mendapatkan kepastian hukum dan keadilan dalam perkara yang mereka hadapi. Dapat disimpulkan bahwa, suatu putusan hakim merupakan suatu pernyataan yang dibuat secara tertulis oleh hakim sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu yang diucapkan dimuka persidangan sesuai dengan perundangan yang ada yang menjadi hukum bagi para pihak yang mengandung perintah kepada suatu pihak supaya melakukan suatu perbuatan atau supaya jangan melakukan suatu perbuatan yang harus ditaati.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 178 HIR, Pasal 189 Rbg, apabila pemeriksaan perkara selesai, Majelis Hakim karena jabatannya melakukan musyawarah untuk mengambil putusan yang akan di ajukan. Proses pemeriksaan dianggap selesai apabila telah menempuh tahap jawaban dari tergugat sesuai dari Pasal 121 HIR, Pasal 113 Rv, yang dibarengi dengan replik dari penggugat berdasrkan Pasal 115 Rv, maupun duplik dari tergugat, dan dilanjutkan dengan proses tahap pembuktian dan konklusi.

Apabila semua tahapan ini telah tuntas diselesaikan, Majelis menyatakan pemeriksaan ditutup dan proses selanjutnya adalah menjatuhkan atau pengucapan putusan. Mendahului pengucapan putusan itulah tahap musyawarah kepada pihak yang berperkara. Suatu putusan hakim itu, secara sistematika terdiri atas empat bagian yaitu :

1. Kepala Putusan 2. Identitas Para Pihak 3. Pertimbangan dan 4. Amar.

Pengadilan dalam mengambil suatu putusan diawali dengan uraian mengenai asas yang mesti ditegakkan, agar putusan yang dijatuhkan tidak mengandung cacat. Asas tersebut dijelaskan dalam Pasal 178 HIR, Pasal 189 Rbg, dan Pasal 19 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004. Menurut ketentuan undang-undang ini, setiap putusan harus memuat hal-hal sebagai berikut :

1. Kepala putusan, suatu putusan harus mempunyai kepala pada bagian atas putusan yang berbunyi “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970, ke[ala putusan ini memberi kekuatan eksekutorial pada putusan apabila tidak dibubuhkan maka hakim tidak dapat melaksanakan putusan tersebut.

2. Identitas pihak yang berperkara, didalam putusan harus dimuat identitas dari pihak : nama, alamat, pekerjaan, dan nama dari pengacaranya kalu para pihak menguasakan pekerjaan kepada orang lain.

3. Pertimbangan atau alasan-alasan, pertimbangan atau alasan putusan hakim terdiri atas dua bagian yaitu pertimbangan tentang duduk perkara dan pertimbangan tentang hukumnya. Pasal 184 HIR/195 Rbg/23 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 menentukan bahwa setiap putusan dalam perkara perdata harus menentukan bahwa setiap putusan dalam perkara perdata harus memuat ringkasan gugatan dan jawaban dengan jelas, alasan dan dasar putusan, pasal-pasal serta hukum tidak tertulis, pokok perkara, biaya perkara serta hadir tidaknya pihak-pihak yang berperkara pada waktu putusan di ucapkan. Putusan yang kurang cukup pertimbangan merupakan alasan untuk kasasi dan putusan harus dibatalkan, MA tanggal

22 Juli 1970 Nomor : 638 K/SIP/1969; MA tanggal 16 Desember 1970 Nomor : 492/K/SIP/1970. Putusan yang didasarkan atau pertimbangan yang menyimpang dari dasar gugatan harus dibatalkan MA tanggal 01 September 1971 Nomor : 372 K/SIP/1970.

4. Amar atau diktum putusan, dalam amar dimuat satu pernyataan hukum, penetapan suatu hak, lenyap atau timbulnya suatu keadaan hukum dan isi putusan yang berupa pembebanan suatu prestasi tertentu. Dalam diktum itu ditetapkansiapa yang berhak atau siapa yang benar atau perselisihan.

5. Mencantumkan biaya perkara, pencantuman biaya perkara dalam putusan diatur dalam Pasal 184 ayat (1) H.I.R dan Pasal 187 RBg, bahkan dalam 183 ayat (1) HIR dan Pasal 194 RBg dinyatakan bahwa banyaknya biaya perkara yang dijatuhkan kepada pihak yang berperkara.137

Jenis-jenis putusan hakim dalam persidangan perdata penyusunan hukum acara perdata telah dibuat sedemikian rupa agar prosesnya dapat berjalan secara cepat, sederhana, mudah dimengerti dan tentunya dengan biaya yang murah.138

Menurut bentuknya penyelesaian perkara oleh pengadilan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. Putusan/ vonis : suatu putusan diambil untuk memutusi suatu perkara.

2. Penetapan/ beschkking : suatu penetapan diambil berhubungan dengan suatu permohonan yaitu dalam rangka yang dinamakan “yuridiksi voluntair”.

137Ibid, hal.70-71

138 Ibid, hal.73

Sedangkan dalam putusan pengadilan dikenal dua macam penggolongan putusan yakni :

Putusan sela (Putusan interlokutoir) adalah putusan yang dijatuhkan sebelum putusan akhir yang diadakan dengan tujuan untuk memungkinkan atau mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara. Dalam hukum acara dikenal macam putusan sela yaitu:

1. Putusan Preparatoir, putusan persiapan mengenai jalannya pemeriksaan untuk melancarkan segala sesuatu guna mengadakan putusan akhir;

2. Putusan Interlocutoir, putusan yang isinya memerintahkan pembuktian karena putusan ini menyangkut pembuktian maka putusan ini akan mempengaruhi putusan akhir;

3. Putusan Incidental, putusan yang berhubungan dengan insiden yaitu peristiwa yang menghentikan prosedur peradilan biasa;

4. Putusan provisional, putusan yang menjawab tuntutan provisi yaitu permintaan pihak yang berperkara agar diadakan tindakan pendahulu guna kepentingan salah satu pihak sebelum putusan akhir dijatuhkan.

Putusan akhir adalah putusan yang mengakhiri perkara pada tingkat pemeriksaan pengadilan tingkat pertama, pengadilan tinggi, mahkamah agung, dengan bentuk putusan akhir yaitu :

1. Putusan Declaratoir, putusan yang sifatnya hanya menerangkan, menegaskan suatu keadaan hukum semata, misalnya menerangkan bahwa A adalah ahli waris dari B dan C;

2. Putusan Constitutif putusan yang sifatnya meniadakan suatu keadaan hukum atau menimbulkan suatu keadaan hukum yang baru, misalnya putusan yang menyatakan seseorang jatuh pailit;

3. Putusan Condemnatoir, putusan yang berisi penghukuman, misalnya pihak tergugat dihukum untuk menyerahkan sebidang tanah berikut bangunan yang ada diatasnya untuk membayar hutangnya.139

C. Dasar Gugatan Dalam Perkara No. 32/Pdt.G/2013/PN/.Gst

Tentang Duduk Perkara Menimbang, bahwa Penggugat dalam surat gugatannya tertanggal 14 Agustus 2013 dan telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Gunungsitoli tertanggal 15 Agustus 2013 dengan Register Perkara Nomor : 32/ PDT/G/2013/PN.GS, telah mengemukakan hal-hal, sebagai berikut :

1. Bahwa Penggugat memiliki sebidang tanah yang terletak di kampung baru ilir Kec. Gunungsitoli, yang dibeli dari ZANUDIN DACHI berdasarkan surat jual beli tertanggal 24 Januari 1971;

2. Bahwa Tergugat I dan Tergugat II pada hari selasa tanggal 21 Maret 2006 masing-masing telah meminjam sebagian tanah milik Penggugat yang terletak dulunya dikenal dengan Kampung Baru Ilir Kec. Gunungsitoli sekarang dikenal dengan Jalan Kelapa Lingkungan VIII Kel. Ilir Kec.

Gunungsitoli Kota Gunungsitoli;

3. Bahwa Tergugat I meminjam tanah milik Penggugat dengan ukuran 4,5 x 10 meter selama 5 (lima) tahun terhitung mulai tanggal 01 Mei 2006

139 Ibid, hal.74

sampai dengan 01 Mei 2011 sedangkan Tergugat II meminjam tanah milik Penggugat dengan ukuran 7 x 7 meter selama 7 (tujuh) tahun terhitung mulai 01 Juni 2006 sampai dengan 01 Juni 2013;

4. Bahwa adapun tujuan Tergugat I meminjam tanah milik Penggugat tersebut adalah Tergugat I akan membangun 1 (satu) unit rumah permanent diatas tanah milik Penggugat dengan biayanya sendiri/ bantuan dari BRR sedangkan Tergugat II meminjam tanah milik Penggugat tersebut adalah Tergugat II akan membangun 1 (satu) unit rumah diatas tanah milik Penggugat dengan biayanya sendiri;

5. Bahwa terhadap pinjaman Para Tergugat tersebut, selanjutnya Penggugat dan Para Tergugat membuat dan menandatangani surat perjanjian diatas selembar kertas bermaterai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) yang masing-masing tertanggal 21 Maret 2006 dengan diketahui dan ditandatangani oleh Kepala Lingkungan VIII bernama AL AZ LUBIS;

6. Bahwa dalam masing-masing surat perjanjian tersebut, Tergugat I dan Tergugat II sama-sama menjanjikan kepada Penggugat jika jangka waktu masa penyewaan tanah tersebut habis maka :

• Tanah tersebut dikembalikan oleh Tergugat-Tergugat kepadaPenggugat.;

• Apabila Penggugat tidak memberi perpanjangan kontrak kepada Tergugat-Tergugat maka bangunan rumah milik masing-masing Tergugat tersebut dapat menjadi milik Penggugat jika Penggugat

bersedia memberikan sekedar ganti rugi kepada Tergugat-Tergugat dan rumah tersebut menjadi milik Penggugat selamanya;

7. Bahwa dengan itikad baik untuk membantu dan kepercayaan atas janji Tergugat-Tergugat sesuai dengan surat perjanjian tersebut selanjutnya Penggugat mengijinkan Tergugat I dan Tergugat II untuk masing-masing membangun rumah diatas tanah milik Penggugat tersebut;

8. Bahwa setelah limit waktu yang diperjanjikan sebagaimana tertera dalam surat perjanjian yang ditandatangani oleh Tergugat I pada tanggal 01 Mei 2011, Penggugat mendatangi Tergugat I untuk menagih janji Tergugat I;

9. Bahwa atas tagihan Penggugat tersebut, Tergugat I tidak mengindahkannya bahkan Tergugat I mengkontrakkan rumah yang seharusnya menjadi milik Penggugat dengan berakhirnya masa penyewaan tanah kepada orang lain tanpa persetujuan ataupun ijin dari Penggugat bahkan menganjurkan Penggugat untuk menempuh jalur hukum jika penggugat tidak terima;

10. Bahwa demikian juga terhadap Tergugat II setelah limit waktu yang diperjanjikan sebagaimana tertera dalam surat perjanjian yang ditanda tangani oleh Tergugat II yaitu pada tanggal 01 Juni 2013, Penggugat juga mendatangi Tergugat II untuk menagih janji Tergugat II;

11. Bahwa atas tagihan Penggugat tersebut, Tergugat II juga tidak mengindahkannya bahkan Tergugat II menyatakan bahwa rumah yang seharusnya menjadi milik Penggugat dengan berakhirnya masa penyewaan tanah tersebut adalah milik dari Tergugat II bahkan Tergugat II

menganjurkan jika Penggugat tidak terima supaya menyelesaikannya melalui jalur hukum;

12. Bahwa tanpa alasan yang patut, Tergugat I dan Tergugat II sama-sama tidak ada itikad baik untuk memenuhi isi surat perjanjian tertanggal 21 Maret 2006 yang ditandatangani masing-masing Tergugat walaupun sudah beberapa kali didatangi oleh Penggugat secara baik-baik untuk mematuhi dan memenuhi isi surat perjanjian tersebut;

13. Bahwa permasalahan antara Penggugat dengan Tergugat I dan Tergugat II sudah berulang kali Penggugat usahakan melalui jalur kekeluargaan dengan melibatkan kepala lingkungan bahkan juga melalui lurah ilir tetapi para Tergugat tetap tidak mempunyai itikad baik;

14. Bahwa dengan demikian Tergugat I dan Tergugat II menunjukkan itikad tidak baik yaitu dengan sengaja dan tanpa alasan yang patut, mengingkari isi surat perjanjian tanggal 21 Maret 2006;

15. Bahwa dengan demikian Tergugat I dan Tergugat II sama-sama telah melakukan wan prestasi terhadap perjanjian yang disepakati sebagaimana tertuang dalam surat perjanjian yang ditanda tangani oleh masing-masing Tergugat diatas materai Rp.6000,- (enam ribu rupiah);

16. Bahwa dengan demikian patut dan berdasar hukum apabila Tergugat I dan Tergugat II dihukum oleh karena wan prestasi;

17. Bahwa atas wanprestasi yang dilakukan oleh Para Tergugat tersebut, Penggugat mengalami kerugian baik kerugian materiil maupun kerugian moriil;

18. Bahwa adapun kerugian materiil yang diderita oleh Penggugat yaitu : 19. kerugian materiil berupa :

- Sewa tanah oleh masing-masing Tergugat sejak tahun 2006 sebesar @ Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah)/tahun x 7 tahun = Rp.35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) jika dikumulatifkan untuk Tergugat I dan Tergugat II sebesar Rp.70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah). ;

- Bangunan yang seharusnya menjadi milik Penggugat dengan berakhirnya masa sewa Tergugat I dan Tergugat II @ Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) jika dikumulatifkan untuk Tergugat I dan Tergugat II sebesar Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah);

20. Bahwa kerugian immaterial yang diderita oleh Penggugat akibat wan prestasi Tergugat I dan Tergugat II sesungguhnya tidak dapat dinilai akan tetapi untuk melengkapi gugatan ini kerugian moriil Penggugat disebutkan sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah);

21. Bahwa untuk menjamin gugatan Penggugat agar tidak hampa serta dikhawatirkan bahwa Tergugat I dan Tergugat II akan mengalihkan rumah sesuai yang tercantum dalam surat perjanjian, maka patut dan berdasar hukum apabila pengadilan menjatuhkan conservatoir beslag atas rumah yang dibangun oleh Tergugat I dan Tergugat II diatas tanah milik Penggugat tersebut;

22. Bahwa dikhawatirkan pula para Penggugat lalai untuk mematuhi putusan pengadilan apabila gugatan Penggugat dikabulkan maka patut dan berdasar hukum apabila Tergugat I dan Tergugat II masing-masing

dikenakan uang paksa (dwangsom) sebesar Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah) setiap harinya setelah putusan berkekuatan hukum tetap;

23. Bahwa karena gugatan ini didasarkan dengan bukti otentik, maka berdasarkan pasal 180 ayat 1 HIR patut dan berdasar hukum apabila putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij vorraad) meskipun ada upaya hukum banding, verzet ataupun kasasi. ;140

D. Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Agung Menguatkan Putusan