• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alat Pelindung Diri (APD), Alat Pengaman Kerja (APK), peralatan

BAB IV BAHAN MATERI UNIT KOMPETENSI

4.5. Mengawasi dan menerapkan ketentuan Sistem Manajemen K3

4.5.1. Alat Pelindung Diri (APD), Alat Pengaman Kerja (APK), peralatan

Jenis-jenis APD yang umum digunakan, diantaranya :

1. Helm penutup kepala: merupakan alat pelindung kepala dari : jatuh dari ketinggian; terkena benda benda jatuhan ; terbentur saat menaiki tangga dll. Helm yang digunakan harus helm standar baik nasional maupun internasional.

Gambar 4.1 Alat Pelindung Kepala (Helm) :

2. Sarung tangan: merupakan alat pelindung tangan, dari : lecet akibat mengoperasionalkan alat kerja atau luka akibat teriris/tersenggol alat pertukangan kayu; terpelesetnya tangan pada waktu memegang tangga karena licin. Sarung tangan yang

digunakan adalah sarung tangan dari katun yang khusus digunakan untuk memegang alat alat pertukangan kayu.

Gambar 4.2 alat pelindung tangan (sarung tangan) :

3. Sepatu lapangan : merupakan alat pelindung kaki , dari : terkena jatuhan benda benda keras atau kaki terkena benda benda tajam lainnya .

Gambar 4.3 alat pelindung kaki (sepatu lapangan) :

4. Alat pelindung telinga: merupakan alat pelindung dari suara bising yang ditimbulkan oleh mesin gergaji, gerinda dll . Biasanya gangguan suara ini terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, yaitu selama pekerja mengoperasikan alat alat pertukangan kayu, sehingga bisa berakibat pada pekak atau tulinya telinga pekerja tersebut .

Gambar 4.4 Alat pelindung telinga :

5. Ikat pinggang pengaman : merupakan alat pelindung diri pada waktu mandor tukang kayu bekerja diketinggian , agar jika terpeleset tidak fatal akibatnya bila jatuh dari ketinggian.

Gambar 4.5 Alat pelindung ikat pinggang pengaman :

6. Tali pengaman : merupakan alat pelindung diri dari jatuh dari ketinggian , akibat terpeleset pada waktu bekerja diketinggian . Biasanya tali ini diikatkan pada ikat pinggang pengaman yang dipakai pekerja yang bekerja diketinggian dan ujung yang lain dikaitkan pada besi pagar pengaman .

Gambar 4.6 Aalat pelindung tali pengaman

7. Penutup hidung (masker) : digunakan pada saat bekerja pada daerah yang berdebu atau yang mengandung unsur kimia seperti debu semen yang dapat menimbulkan gangguan pada pernapasan.

Gambar 4.7 Penutup hidung (masker)

8. Pakaian yang dikenakan juga harus dipilih yang kira-kira tidak terlalu ketat juga tidak terlalu longgar. Pakaian yang terlalu ketat akan menyulitkan pada saat memanjat, sedangkan pakaian yang terlalu longgar dapat tersangkut pada bagian-bagian tertentu sehingga bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Disamping alat alat pengaman diri seperti tersebut diatas , masih ada beberapa lagi alat alat pelindung diri yang lain seperti : kartu pengenal (name tag) , senter , tas pinggang dll .

Jenis –jenis Alat Pengaman Kerja (APK) , antara lain :

1. Kotak P3K, kotak ini amat diperlukan untuk mengatasi gangguan kecil kecil yang terjadi pada waktu sedang bekerja , misalkan ada luka kulit, gatal gatal, kurang sehat (pusing pusing), flu , batuk dll. Sehingga gangguan tersebut dapat diatasi.

Gambar 4.9 Kotak P3K

2. Alat pemadam kebakaran , yang disediakan biasanya adalah tabung pemadam kebakaran (fire extingused) , alat ini bentuknya tidak terlalu besar tetapi sangat diperlukan untuk mengatasi bila ada kebakaran kecil, yang diakibatkan oleh korsleiting listrik dll , di kabin dan sekitarnya.

Alat pemadam jenis ini biasanya dibuat di pabrik dalam bentuk tabung dari logam yang diisi dengan cairan kimia atau bubuk kimia kering. Kondisi tabung harus diperiksa secara berkala bahkan isinya harus diganti dalam batas waktu tertentu sesuai petunjuk pabrik yang membuatnya.

Gambar 4.10 Tabung pemadam (fire extinguisher)

Alat ini biasanya ditempatkan di ruang kantor atau di lorong-lorong dan digunakan untuk memadamkan sumber api yang masih kecil, dengan cara seperti berikut :

a. Melepas kunci pengaman pada bagian atas tabung b. Memegang alat dalam keadaan tegak

c. Melepas pipa dari penjepitnya (clip) d. Menekan pengatup (pembuka katup)

e. Mengarahkan moncong pipa ke sumber api dan menyemburkannya secara merata

Gambar 4.11 Pengoperasian tabung pemadam (fire extinguisher)

3. Slogan slogan dan Rambu-rambu K-3 :

penerapan K-3 di lingkungan proyek konstruksi dan harus dipasang pada tempat-tempat yang strategis, dalam arti mudah terlihat dan sesuai dengan situasi kerja.

Dengan Slogan dan rambu rambu ini terlihat kesungguhan para pemangku kerja yang ada dilingkungan proyek Konstruksi untuk selalu hati hati dalam bekerja dan selalu mengutamakan

keselamatan dan kesehatan dalam bekerja .

Slogan dan rambu-rambu yang diperlukan pada pekerjaan konstruksi adalah sebagai berikut :

a. Wajib menggunakan topi pengaman (helmet)

b. Dilarang merokok atau menyalakan api pada daerah yang berdekatan dengan tempat penyimpanan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti bensin, bahan kimia dan sejenisnya c. Wajib menggunakan kaca mata pelindung sinar matahari,bagi

operator tower crane

d. Wajib menggunakan penutup/pelindung telinga pada daerah yang bising akibat bunyi mesin

e. Rambu-rambu lainnya sesuai dengan karakteristik bidang pekerjaannya

f. Tanda peringatan tentang penangkal petir yang menempel pada peralatan dan komponen (warning,caution,danger dsb)

g. Contoh slogan yang sering digunakan : Keselamatan dan

Kesehatan Kerja adalah Prioritas Utama Kami ;

Perusahaan memberikan ucapan selamat kepada Tim atas

prestasi 1000.000 jam kerja tanpa kecelakaan kerja ( ZERO ACCIDENT) pencapaian besar,sukses besar dan ingat tetap berhati hatilah .

Gambar 4.12 Papan Petunjuk K3

Gambar 4.13 Slogan K3

Gambar 4.14 Slogan K3

4. Disamping alat alat pengaman kerja seperti tersebut diatas , masih terdapat beberapa alat pengaman kerja yang lain , diantaranya adalah : tool kit , bak sampah , genset , penangkal petir , toilet (mck) , air bersih , air minum, klinik , tempat istirahat , kantin , tandu , instalasi listrik , instalasi air , mushola dll .

4.5.2. Standar prosedur kerja (SOP) diterapkan secara benar

Pengertian SOP

1. Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.

2. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.

Tujuan SOP

1. Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.

2. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi

3. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas/pegawai terkait.

4. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.

5. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi

Fungsi :

1. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja. 2. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.

3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.

4. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.

5. Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.

Kapan SOP diperlukan

1. SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan

2. SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau tidak

3. Uji SOP sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.

Keuntungan adanya SOP

1. SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten

2. Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan

3. SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa digunakan untuk mengukur kinerja pegawai/tenaga kerja.

Dalam menjalankan operasional perusahaan , peran pegawai/tenaga kerja memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan standar-standar operasi prosedur sebagai acuan kerja secara sungguh-sungguh untuk menjadi sumber daya manusia yang profesional, handal sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan

Contoh SOP

SOP Penggunaan APAR

1. Ambil APAR yang paling dekat dan mudah dijangkau

2. Bawa ke sumber api dan jaga jarak kurang lebih 3 meter, dan jangan melawan arah angin.

3. Bentangan hose pada posisi lurus dan arahkan ke sumber api dan semprotkan sampai padam

SOP Penggunaan Hydrant

1. Buka tutup box, pastikan bahwa selang tersambung dengan benar.

2. Tarik keluarselang dalam box, pastikan selang lurus kemudian : 1 orang mengarahkan ujungnya, 1 orang menjaga dibelakang orang pertama (dengan posisi kaki saling menopang), 1 orang mengatur kran air sambil mengontrol jangkauan & kecepatan air terkendalikan.

3. Arahkan pancaran air ke obyek sasaran.

4. Setelah selesai valve ditutup sampai sampai air berhenti.

5. Masukkan selang air ke box dengan melipat dan menggantung pada tempatnya.

4.5.3. Tanda peringatan dan informasi, ditempatkan sesuai kebutuhan

Dokumen terkait