• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

6. Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang diperlukan, dipergunakan alat pengumpulan data sebagai berikut:

a. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari dokumen resmi berupa peraturan perundang-undangan dan dokumen resmi lain yang berlaku dan menelaah literatur-literatur yang berhubungan dengan objek penelitian.

Wawancara dilakukan pada beberapa nara sumber yang berhubungan dengan b. Wawancara

pen

laboh, Tokoh Adat, Ulama dan anak angkat an pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya.

Johan ngan perincian sebagai berikut :

7. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dalam penulisan tesis ini yaitu Kabupaten Aceh Barat, karena kabupaten Aceh Barat merupakan salah satu kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam yang masyarakat adatnya beragama Islam dan Kecamatan Johan Pahlawan merupakan Kecamatan yang banyak melakukan pengangkatan anak sebagai dampak telah terjadinya bencana tsunami

8. A

Dari hasil pengumpulan data yang diperoleh melalui data primer dan data sekunder sesuai dengan yang diharapkan, untuk menghasilkan data yang akurat, elitian ini, yaitu Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Meulaboh, Panitera Penganti Mahkamah Syar’iyah Meu

dengan menggunak c. Kuisoner

Kuisoner yang dipergunakan adalah kuisoner yang bersifat kombinasi, dilakukan terhadap 4 (empat) responden dari 4 (empat) Kelurahan dari Kecamatan

Pahlawan, de

- Kelurahan Kuta Padang 1 responden - Kelurahan Ujong Baroh 1 responden - Kelurahan Ujong Kalak 1 responden

- Kelurahan Suak Raya 1 responden

dilakuk

iptif.

nalisa kualitatif yaitu metode analisa data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan kebenarannya. Kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang diperoleh dari studi kepustakaan, sehingga akan diperoleh jawaban permasalahan.

Dalam menganalisis data yang diperoleh akan digunakan cara berfikir yang bersifat induktif yaitu data hasil penelitian dari hal yang sifatnya khusus kepada yang sifatnya umum. Dengan metode induktif diharapkan akan diperoleh jawaban permasalahan. Cara berpikir deduktif akan digunakan untuk menggambarkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang akan dijadikan sebagai acuan pelaksanaan di lapangan.

an pemeriksaan dan pengelompokan agar menghasilkan data yang sederhana yang bertujuan agar mudah dimengerti.

Data yang telah dikumpulkan baik dari penelitian kepustakaan maupun data yang diperoleh di lapangan, selanjutnya akan dianalisa dengan pendekatan kualitatif,

56

sehingga akan diperoleh data yang bersifat deskr A

56. Pendekatan Kualitatif sebenarnya merupakan tatacara penelitian yang mengasilkan data bersifat deskriptif yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan, dan perilaku nyata, dipelajari secara utuh. Soerjono Soekanto, Op.cit, hal 32.

BAB II

ANAK ANGKAT PADA MASYARAKAT ACEH

A. Prosedur Pengangkatan Anak di Aceh

Keinginan untuk mempunyai anak adalah naluri manusia dan alamiah. Akan tetapi kadang kala naluri itu terbentur pada kehendak dari Yang Maha Kuasa. Kehendak mempunyai keturunan anak tidak terwujud, walaupun usaha terus menerus dilakukan. Kalau memang sudah takdir,57 usahanya tetap saja tidak kesampaian. Hal yang demikian dapat dipahami dan diyakini oleh masyarakat di Aceh. Walaupun kadang-kadang juga ada di antaranya yang terus berusaha dengan berbagai cara berobat dan berdo'a. Di samping itu ada yang memilih dengan cara berpoligami, kenyataan lain juga didapati umumnya orang yang mampu dan kaya yang tidak saudara/famili untuk dipelihara dan disekol

mcmpunyai keturunan, mencari anak

ahkan. Perbuatan hukum seperti ini sering berakhir dengan kekecewaan. Menurut Hasballah Thaib ada beberapa alasan seseorang untuk melakukan pengangkatan anak diantarannya: 58

a. Untuk menghilangkan rasa kesunyian diri atau kehidupan keluarga dalam suatu rumah tangga yang telah dibina bertahun-tahun tanpa kehadiran seorang anak.

57

Dalam masyarakat aceh ada suatu terminology pemahaman keagamaan untuk menghindari frustasi yaitu keyakinan terhadap takdir. “langkah, rezeki, pertemuan (jodoh), maut”. Pemahaman ini telah menghantarkan umat islam diaceh tidak kecewa, walaupun niatnya tidak terpenuhi.

58

Hasballah Thaib, 21 Masalah Aktual Dalam Pandangan Fiqih Islam, Fakultas Tarbiyah Universitas Dharmawangsa, 1995, hal. 109.

b. Untuk melanjutkan garis keturunan, terutama sekali bangsa yang menganut sistem pengabdian kepada leluhur (vooronder verering).

a. Karena niat baik untuk memelihara dan mendidik anak-anak yang terlantar, menderita, miskin dan sebagainya. Dalam hal ini dengan tidak memutuskan hubungan biologi dengan orang tua kandungnya.

d. ng sangat membutuhkan

dan perbedaan pendapat terus

nai jumlah anak angkat di Aceh tidak un anak

g lain. K

suami isteri yang memiliki kelebihan harta, sedangkan mereka belum dikaruniai anak, arakat melakukan pengangkatan terhadap anak b. Untuk mencari tenaga kerja atau membantu dalam melaksanakan pekerjaan rutin

yang bersifat intern maupun ekstern.

c. Untuk mencapai dan mencari tempat bergantung hidup dihari tua kelak. Untuk memberikan kepuasan bathiniah bagi keluarga ya

kehadiran seorang anak dari kehidupan rumah tangga dan seluruh keluarganya. Hal dan keadaan inilah yang mendorong banyak jalan untuk menemukan rumusan hukum pangangkatan anak. Perdebatan

berlangsung sementara orang yang mampu memberi perlindungan anak melalui pengangkatan anak tidak terselesaikan. Menge

dapat diangkakan, karena ada keengganan, baik orang tua angkat, maup

angkat untuk memberitahukan bahwa dirinya itu seorang anak angkat. Di samping itu juga ada rasa tersinggung bila dikatakan bahwa anaknya sudah diangkat oleh oran

alau tidak melalui formalitas tertentu, nampaknya tidak ada yang keberatan. Keberatan ini sebetulnya berada pada tataran psikologis saja.

Pengangkatan anak pada masyarakat di Aceh Barat, umumnya dilakukan oleh

keluarga dekat.59 Oleh sebab itu dapat dipahami bukan karena untuk membela kepentingan anak. Pengangkatan anak dilakukan karena untuk kepentingan orang tua angkat. Karena orang tua angkat tidak punya anak, atau karena kesepian.

Banyak masyarakat miskin di Aceh, enggan melepaskan anaknya untuk diangkat oleh orang lain. Bahkan anak terlantar sekalipun tidak mau dilepaskan oleh familinya. Pada hal anak terlantar tersebut membutuhkan orang tua angkat. Anak-anak se

ari masing-masing

arian dalam masyarakat temasuk masalah anak. Beberapa

perti inilah yang dipekerjakan oleh sanak saudaranya. Perlindungan terhadap anak-anak seperti ini sulit dilakukan karena ditangani oleh ahli kerabatnya.60 Mereka beranggapan bahwa urusan seperti itu adalah urusan keluarga. Orang lain tidak mungkin mencampurinya.

Dalam praktek, pengangkatan anak yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya di Aceh Barat ini, dilakukan dengan persetujuan keluarga d

pihak. Namun, alangkah lebih baik jika pengangkatan anak dalam Islam, dilakukan dengan melalui sebuah penetapan dari Pengadilan Negeri atau Mahkamah Syar’iyah, Hal ini seiring dengan apa yang disebut dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam masyarakat Aceh dikenal struktur kepemimpinan adat yang berbeda dari kepemimpinan administratif formal. Kepemimpinan adat ini membidangi masalah-masalah adat keseh

59

Wawancara dengan masyarakat yang melakukan Pengangkatan Anak, tanggal 10 November 2009 di Meulaboh

60

Wawancara dengan Ibu Dra Marsani, Panitera Penganti, Mahkamah Syar’iyah tanggal 8 November 2009 di Meulaboh

diantar

Im

angat signifikan. Ia memiliki ah keluarga sebagai pengasuh memiliki keluarga atau kerabat dekat. Imum mukim dalam hal amun

anya memiliki hak untuk menyelesaikan sengketa dalam masyarakat dan keputusannya harus ditaati oleh masyarakat tersebut. Kepemimpinan adat lebih banyak ditentukan oleh masyarakat sendiri dan tidak memiliki hubungan signifikan dengan pemerintahan kecuali dalam hal -hal tertentu.61

Adapun Struktur kepemimpinan adat ini diantaranya : a.Imum Mukim.

um mukim merupakan pimpinan adat di atas keuchik yang membawahi beberapa gampông. Dalam Qanun No.4 Tahun 2003 disebutkan bahwa Mukim adalah kesatuan masyarakat hukum dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terdiri atas gabungan beberapa gampông yang mempunyai batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung di bawah Camat yang dipimpin oleh Imum Mukim.

Peran mukim dalam dalam permasalahan anak s wewenang untuk menunjuk seseorang atau sebu anak yang tidak

ini bisa jadi mengambil sang anak untuk tinggal dan hidup bersamanya, n ia bisa pula menunjukkan orang lain sehingga si anak dapat hidup bersama mereka. Wilayah yang lebih luas dari gampông yang berada di bawah pimpinanya memungkin seorang imum mukim melakukan kebijakan lintas

61

Pemerintahan adat menyelesaikan masalah -masalah adat yang terjadi dalam masyarakat dan mengatur aturan-aturan budaya yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat. baca juga, Muhammad Umar, Peradaban Aceh (Tamaddun); Kilasan Sejarah dan Adat Aceh, Banda Aceh: Yayasan Busafat, 2006

gampông. Imum mukim pada awalnya dulu juga merupakan ulee kawôm (kepala

atau yang dituakan dalam kaumnya) .

atkan standar kehidupan yang layak mpu menghidupi keluarganya. Ia juga menentukan kemana seorang an ad m h c. T i b. Geuchik

Keuchik atau Geuchik merupakan pimpinan tertinggi dalam sebuah gampông. Gampông adalah kesatuan masyarakat hukum yang merupakan organisasi

pemerintahan terendah langsung di bawah mukim yang menempati wilayah tertentu , dipimpin oleh Keuchik dan yang berhak menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. Geuchik adalah ketua “badan eksekutif gampong” dalam penyelenggaraan pemerintahan gampông (Qanun, No.5 Tahun 2003). Dalam konteks perlindungan anak, geuchik memiliki peran yang penting. Ia memastikan masyarakatnya mendap

sehingga ma

ak yang terlantar harus pulang dan siapa yang menghidupinya. Kalau tidak a yang bias dan sanggup memelihara si anak, maka geuchik pula yang engantarkan si anak ke dayah atau kepada teungku dengan jaminan biaya idup dari masyarakat setempat.

Tuha Peut

uha Peut (4 orang yang dituakan) adalah beberapa tokoh adat yang menjad

penasehat sekaligus pengontrol kepemimpinan gampong yang dilaksanakan oleh geuchik. Ada beberapa unsur dalam tuha peut yakni:

· Ulama gampoeng · Tokoh pemuda

· Pemuka adat · Cerdik pandai

s pokok dari tuha peut dalam bida

Tuga ng pemeliharaan anak, memberikan penjelasan

dan saran -saran yang berguna dalam urusan anak. Tuha peut juga menegur orang tua yang

beut/

d. Im

Imum seorang yang dipilih oleh masyarakat desa untuk melaksanakan fungsi memimpin kegiatan agama, peningkatan peribadatan, peningkatan pendidikan agama untuk anak -anak/remaja dan masyarakat, memimpin seluruh kegiatan yang berhubungan dengan kemakmuran masjid/mushalla/meunasah

gai kesalahan sosial. il dalam menentukan siapa yang akan mendidik seorang anak tidak memenuhi kebutuhan dasar anaknya, seperti pendidikan (khususnya

mengaji), dan orang tua yang menelantarkan anak anaknya. um Meunasah

meunasah adalah

dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan agama.

Dalam konteks perlindungan anak, imum meunasah juga memiliki peran besar. Seorang anak yang tidak mengaji akan ditegur oleh imum meunasah dan diilaporkan kepada orang tuanya, demikian juga anak yang melakukan berba

Ia juga memiliki and

yang tidak memiliki keluarga lagi. Bahkan jika tidak ada orang yang mau menghidupi si anak, maka imum meunasahlah yang akan menanggung si anak, jika ia mampu. Namun jika tidak, maka akan diberikan kepada oran lain yang mungkin dapat menghidupinya dan memeliharanya sampai ia mandiri.62

62

Wawancara dengan Bapak Abdul Ghani, Ulama, di Kelurahan Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, tanggal 11 November 2009

Dalam masyarakat Aceh, anak yang telah dijadikan anak angkat umumnya berpindah tempat tinggalnya ke rumah orang tua angkatnya. Biasanya perpindahan tersebut dilakukan melalui prosesi upacara adat yang didahului dengan kenduri (hajatan), di mana dalam prosesi tersebut petua adat atau teungku meunasah (imam) dan geuchik (kepada desa), memberikan nasehat-nasehat baik kepada anak angkat maupun kepada orang tua angkatnya.63 Prosesi tersebut bukan memutuskan hubungan hukum antara anak angkat dengan orang tua kandungnya. Upacara itu semata-mata dimaksudkan untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT, agar anak a

angkat, dapat berarti untuk membela kepentingan anak angkat. Bukan sebaliknya. Seperti yang sekarang terjadi dalam masyarakat di Aceh, khusunya di Aceh Barat

ngkat dan orang tua angkat dapat menjadi keluarga yang baik, dan terjalin hubungan harmonis antara mereka seolah-olah antara anak dengan orang tua kandungnya. Di samping itu, upacara adat juga dimaksudkan untuk memberitakan kepada masyarakat bahwa telah terjadi pengangkatan anak pada suatu desa (gampong).

Secara umum telah disadari, bahwa yang terpenting dalam soal pengangkatan anak ini adalah demi kebahagiaan si anak, sehingga sebaiknya pedomannya adalah mencarikan orang tua angkat bagi seorang anak. Dan tekanannya bukan pada mencarikan anak angkat bagi pasangan suami isteri. Kalau mencari anak angkat ada kesan untuk memuaskan orang tua angkat. Akan tetapi kalau mencari orang tua

63

Wawancara dengan Bapak Said Umar , Tokoh Adat, di Kelurahan Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, tanggal 12 November 2009

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa banyak anak-anak yang memerlukan uluran tangan orang tua, agar anak-anak dapat tertampung kebutu

ungan anak angkat.

hannya. Kebutuhan perlindungan hukum, kasih sayang dan kontak person. Panti asuhan tidak dapat mewujudkan kebutuhan anak, dalam arti kontak perseorangan. Anak-anak yang ada di panti asuhan tidak dapat melakukan kontak person dengan orang orang yang mereka inginkan. Anak panti tidak mendapat perhatian sebagaimana dimaksud, karena pengurus panti hanya menggeneralisasi perhatiannya kepada semua anak yang ada di panti asuhan. Pengurus panti tidak dapat membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain.

Diperkirakan juga anak-anak yatim atau anak terlantar yang berkeliaran, Anak-anak yatim yang berada di rumah-rumah familinya juga lebih banyak. Pada hal familinya itu tidak mampu membiayai kehidupannya. Kalau biaya kehidupannya saja kurang, apalagi biaya untuk pendidikan dan kebutuhan lainnya. Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa kebutuhan penanggulangan anak terlantar, anak yatim. anak orang miskin memang sangat mendesak. Penampungan di panti asuhan harus dianggap sebagai proses penampungan sementara. Tujuan akhir dari seorang anak adalah adanya wali perorangan, bukan badan hukum. Wali badan hukum seperti yang telah dijelaskan terdapat hal-hal yang tidak menjamin perlind

Masalah pengangkatan anak ini, merupakan problema masyarakat, bahkan Ketika musibah tsunami di Aceh juga berkembang berita tentang isu pemurtadan, karena banyak Negara-negara non muslim atas nama LSM-nya mengadopsi anak-anak muslim di Aceh.

Salah satu cara untuk melindungi anak dari permasalahan tersebut, Anak diasuh oleh petua adat desa, baik imum mukim, geuchik atau teungku. kalaupun anak tersebut masih ada saudara, tapi sudah dalam keadaan la’eh (sudah sangat tua). Dalam kondisi begini maka tidak mungkin mereka akan mengasuh anak, sebab mereka sendiri membutuhkan “asuhan”.64 Ada budaya dalam masyarakat Aceh untuk menye

nak bagi yang beragama Islam hanya dapat dilakukan oleh orang

Agama

rahkan si anak kepada teungku, baik teungku di kampung atau teungku pimpinan dayah. Si anak akan hidup di dayah dan tinggal bersama teungku. Anak akan hidup bersamanya sambil belajar ilmu agama hingga ia dewasa dan berkeluarga.

Pengangkatan a

tua yang beragama Islam, dan pengangkatan anak diperlukan adanya persetujuan dari orang tua asal, wali atau orang/badan yang menguasai anak yang akan diangkat dengan calon orang tua angkatnya.

Menurut Pasal 171 huruf h Kompilasi Hukum Islam, anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.

Prosedur pengangkatan anak menurut KHI dilaksanakan di Pengadilan /Mahkamah Syar’yiah. Di antara tujuan pengangkatan anak melalui lembaga Pengadilan adalah untuk memperoleh kepastian hukum, keadilan hukum, legalitas hukum, dokumen hukum. Dokumen hukum telah terjadinya pengangkatan secara

64

Wawancara dengan Bapak Said Umar, Tokoh Adat, di di Kelurahan Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, tanggal 12 November 2009

legal sangat penting dalam hukum keluarga, karena akibat hukum dari pengangkatan anak te

nak yang sangat penting, karena dengan ditetap

ng dahulu

rsebut akan berdampak jauh ke depan sampai beberapa generasi keturunan yang menyangkut aspek hukum kewarisan, tanggung jawab hukum, dan lain-lain.

Sedangkan, penetapan Pengadilan Negeri tentang Pengangkatan Anak adalah salah satu dokumen hukum pengangkatan a

kannya seorang anak menjadi anak angkat dari suatu pasangan suami isteri sebagai orang tua angkatnya, maka dapat dipandang bahwa anak angkat tersebut seolah-olah sebagai anak yang baru lahir di tengah-tengah keluarga itu, karena anak angkat itu telah terputus hubungan nasab dengan orang tua kandungnya, dan lahir di tengah-tengah keluarga orang tua angkatnya dengan segala hak dan kewajibannya yang dipersamakan dengan anak kandung, maka kewajiban orang tua angkat harus mencatatkan anak angkatnya itu ke Kantor Dinas Administrasi Kependudukan, ya

bernama Kantor Catatan Sipil untuk memperoleh akta pengangkatan anak yang memuat peristiwa atau kejadian hukum yang timbul antara anak angkat dengan orang tua angkatnya.65 Dasar pengajuan pencatatan anak angkat ke Kantor Dinas Administrasi Kependudukan adalah Penetapan Pengadilan Negeri tentang Pengangkatan Anak. Dengan lahirnya surat “Akta Pengangkatan Anak” dari Kantor Dinas Kependudukan tersebut, maka “Akta Kelahiran Anak” tersebut dari orang tua kandungnya (orang tua asal) secara serta merta menjadi gugur atau hapus dengan

65

Pasal ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dinyatakan identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya yang dituangkan dalam akta kelahiran.

sendirinya karena aspek administrasi, tidak mungkin seorang anak memiliki dua akta kelahiran dengan dua orang tua kandung.

Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang berlaku mulai tanggal 21 Maret 2006, Pengadilan Agama memiliki kewenangan absolute untuk menerima, memeriksa, dan mengadili perkara permohonan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam. Sebagaimana produk hukum yang dikeluarkan Pengadilan Negeri tentang Pengangkatan Anak yang berbentuk “Penetapan”, maka produk hukum Pengadilan Agama tentang Pengangkatan Anak yang dilakukan berdasarkan hukum

perlu a

angkatnya di Kantor Dinas Administrasi Kependudukan.

Islam juga berbentuk “Penetapan”. Anak angkat berdasarkan hukum Islam oleh Pengadilan Agama tidak memutuskan hubungan hukum atau hubungan nasab dengan orang tua kandungnya. Anak angkat dalam hukum Islam juga tidak menjadikan anak angkat itu sebagai anak kandung atau anak yang dipersamakan hak-hak dan kewajibannya seperti anak kandung dari orang tua angkatnya, hubungan hukum antara anak angkat dengan orang tua angkatnya seperti hubungan anak asuh dengan orang tua asuh yang diperluas. Oleh karena itu, tidak diandaikan seolah-olah anak angkat itu sebagai anak yang baru lahir di tengah-tengah keluarga orang tua angkatnya dengan segala hak yang baru lahir di tengah-tengah keluarga orang tua angkatnya dengan segala hak dan kewajiban seperti anak kandung. Kalau demikian halnya, maka akta kelahiran anak angkat tersebut dapat digugurkan atau hapus dengan sendirinya dengan ditetapkannya Penetapan Pengangkatan Anak oleh Pengadilan Agama. Konsekuensi logisnya tidak danya pencatatan anak angkat yang ditetapkan berdasarkan hukum Islam oleh orang tua

Adapun proses Pengangkatan Anak di Pengadilan Agama atau Mahkamah

Syar’iah Meulaboh, dari keterangan responden adalah dilaksanakan sebagai berikut:66

A. Pengangkatan anak terhadap seorang orang tua yang tidak kawin (single parent). 1) adanya surat permohonan pengangkatan anak yang dibuat dan ditanda tangani

pemohon sendiri atau melalui kuasanya, dengan melampirkan syarat-syarat dan surat surat bukti, antara lain:

a) Berita Acara penyerahan anak.

b) Foto copy Surat Nikah orang tua kandung si anak

c) Foto copy Kartu Tanda Penduduk orang tua kandung si anak. d) Foto copy Kutipan Akte Kelahiran

e) Foto copy Kartu Keluarga orang tua kandung si anak f). Surat Pernyataan Daftar Gaji atas nama pemohon.67

Proses Pemeriksaan di persidangan pada hari yang telah ditetapkan, yaitu: a) Hakim membacakan surat-sur

1)

at yang berkaitan dan meneliti foto copy eterai secukupnya.

a orang yang mengenal anak yang surat-surat bukti yang dilegalisir dan diberi m

b) Pemeriksaan Terhadap saksi-saksi paling sedikit du

pribadi maupun keadaan orang tua yang mengangkat anak dan diangkat.

c) Pemeriksaan terhadap pemohon

66

Wawancara dengan Bapak Drs. Zainy Usman SH, Wakil ketua Mahkamah Syar’iyah tanggal 8 November 2009 di Meulaboh.

67

Dalam hal yang melakukan pengangkatan anak adalah Notaris yang tentunya tidak punya daftar ga

m Pasal 36 telah diatur tentang Honorarium bagi Notaris. ji, Jabatan Notaris telah jelas diatur dalam UU No.30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris adalah sebagai pejabat umum, dan di dala

d) Penetapan hakim pengesahan pengangkatan anak.68 B. Pengangkatan anak terhadap Orang Tua Yang Telah Berkeluarga.

anya surat permohonan pengangkatan anak yang dibuat dan

1) Ad ditanda

sya

a. Foto copy Kutipan Akta Nikah Pemohon n

n anak dari orang tua kandung

2) Pro g telah ditetapkan, yaitu ;

a. rkaitan dan meneliti fotocopy

surat-pnya.

b. ang yang mengenal

mengangkat anak dan orang tua

c.

d. Penetapan hakim pengesahan pengangkatan anak.

tangani pemohon sendiri atau melalui kuasanya, dengan melampirkan syarat-rat dan susyarat-rat susyarat-rat bukti, antara lain:

b. Foto copy Kartu Keluarga Pemoho

c. Foto copy Kartu Tanda Penduduk Pemohon

d. Foto copy Kartu Tanda Penduduk orang tua kandung e. Foto copy Kartu Tanda Penduduk saksi

f. Foto copy Surat Keterangan Kelahiran calon anak angkat g. Foto copy Surat Keterangan Penyeraha

ses Pemeriksaan dipersidangan pada hari yan Hakim membacakan surat-surat yang be surat yang dilegalisir dan diberi meterai secuku

Pemeriksaan terhadap saksi-saksi paling sedikit dua or

Dokumen terkait