• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Anak Angkat Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Aceh(Studi Kabupaten Aceh Barat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kedudukan Anak Angkat Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Aceh(Studi Kabupaten Aceh Barat)"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM

WARIS ADAT PADA MASYARAKAT ACEH

(Studi Kabupaten Aceh Barat)

TESIS

Oleh

RAHMAT JHOWANDA

087011012/MKn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar

Magister Kenotariatan Dalam Program Studi Kenotariatan pada

Oleh

RAHMAT JHOWANDA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

WARIS ADAT PADA MASYARAKAT ACEH

(Studi Kabupaten Aceh Barat)

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

087011012/MKn

(3)

Judul Tesis : KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM

Nama Mahasiswa :

Menyetujui

Kom ing

(Prof. H. M. Hasballah Thaib, MH, PhD)

WARIS ADAT PADA MASYARAKAT ACEH (STUDI KABUPATEN ACEH BARAT)

Rahmat Jhowanda

Nomor Pokok : 087011012

n

Program Studi : Kenotariata

isi Pembimb

Ketua

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) (Chairani Bustami, SH, SpN, MKn)

Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

(4)

Telah diuji pada

ENGUJI TESIS

. Hasballah Thaib, MH, PhD

n

S, CN Tanggal : 11 Januari 2010

PANITIA P

Ketua : Prof. H. M

Anggota : 1. Prof. Dr. Runtung, SH, MHum

2. Chairani Bustami, SH, SpN, MK

3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, M

(5)

ABSTRAK

Salah satu akibat hukum dari peristiwa pengangkatan anak adalah mengenai status (kedudukan) anak angkat tersebut sebagai ahli waris orang tua angkatnya. Namun

gkat, Waris adat

menurut hukum Islam, anak angkat tidak dapat diakui untuk bisa dijadikan dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokok dalam hukum kewarisan Islam adalah adanya hubungan darah/nasab/keturunan. Dengan kata lain bahwa peristiwa pengangkatan anak menurut hukum kewarisan Islam, tidak membawa pengaruh hukum terhadap status anak angkat, yakni bila bukan merupakan anak sendiri, maka tidak berhak mewarisi harta orang tua angkatnya. Lain halnya dengan adat istiadat di Indonesia, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri. Tidak semua anak angkat berhak mewarisi harta orang tua angkatnya, dan ada pula beberapa daerah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung, dengan demikian berhak atas harta orang tua angkatnya.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis empiris yaitu dengan menganalisis peraturan perundang-undangan yang berlaku dan juga bahan-bahan perpustakaan, juga informan yang terdiri dari 1 (Satu) orang Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Meulaboh, 1 (Satu) orang Panitera Penganti Mahkamah Syar’iyah Meulaboh, 1 (Satu) orang ulama, 1 (Satu) orang Tokoh Adat dan 1 (Satu) orang anak angkat. Penetuan sample ditentukan secara purposif. Alat pengumpulan data primer adalah kuesioner dan pedoman wawancara. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif baik deduktif maupun induktif dan tetap mengacu pada yuridis empiris

Dari hasil penelitian, kedudukan anak angkat dalam hukum waris masyarakat adat di Aceh Barat, sama seperti dalam hukum Islam. Pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, hubungan wali-mewali dan hubungan waris mewaris dengan orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Selain berhak untuk dipenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari dan memperoleh pendidikan yang layak, anak angkat juga berhak memperoleh hibah sebanyak 1/3 bagian dari harta orang tua angkatnya. Motif yang paling menonjol adalah karena rasa belas kasihan, Karena tidak mempunyai anak, dan sebagai tanggungan dalam daftar gaji. Diharapkan peran Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan segenap jajarannya untuk dapat lebih mensosialisasikan lagi keberadaan wasiat wajibah yang terdapat dalam pasal 209 Kompilasi Hukum Islam guna memberikan pemahaman betapa pentingnya melindungi kepentingan anak angkat dalam hal kewarisan, yang masih dirasakan awam dalam masyarakat. Untuk kepentingan hukum, kepastian melalui pencatatan dan identitas anak angkat mutlak diperlukan. Hal ini berkaitan dengan keberadaan anak angkat itu sendiri di masa yang akan datang. Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah sebagai lembaga yang menerbitkan ketetapan pengangkatan anak harus berdasarkan pada data yang akurat dan identitas yang pasti.

(6)

ABSTRACT

One of the legal consequenc ption is related to status (position) of the adopted child as a heir of the adopting. However, in Islamic law, theadopted

re vailing statutory rulesand also the library meterials, cludi

on has no

eywords : Law of Child Adoption, Status of Adopted Child, Custom Heirs. es of child-ado

child cannot be accepted to be basic and reason of having a bequest, because of thefundamental principle of Islamic bequest Law is fraternal kinship. In other words, that the occurrence of adoption according to Islamic bequest Law has no legal effect on the status of the adopted child, namely, if he/she is not own-child, he/ she has no receive bequest of his/her adopting parents. On the contrarily, wit the traditional custom of Indonesia, each has typical characteristics. No all of the adopted children to have bequest of their adopting parents and some regions considered to adopted child to be own one, and hence, he/she reserve a right to receive the bequest of his/her parents in law.

The present study is a descriptive analytic survey using a juridical empiric method to analyze the p

in ng the informants involving one vice chief of Meulaboh Syar’iah Court of Law, 1 (one) religious figure, 1 (one) traditional figure and 1 (one) adopted child. The sampling was taken purposively. The collection instruments of primery data included questionnaire and interview. Where as the secondary data was collected by a library study. The data analysis was conducted by using qualitative approaches either deductive or inductive and remained to refers to the juridical empiric one.

Based on the findings the status or position of the adopted child in the law of bequest in Western Aceh was similar to that of Islamic Law. The adopti

legal effect on the fraternal kinship, custodial relationship and bequest relationship with the adopting parents. The child remained to be heir of his/her own parents and the child remained to use his/her ownfather’s name.In spite of reserving a right to have daily need satisfaction and receive a proper study, the adopted child also reserves a right of property of his/her parents. The most outstanding motif is due to the sense of compassion as a consequence of having no a child and as adependent of enroll. It is expected that the role of Religious Court/Syar’iyah Court of Law to make in coordination with the related institutions and all the staff to more sociallize the presence of wajibah last testament as stipulated in the article 209 of Islamic Legal Compilation to give an apprecciation of how the importance of protecting the need of the adopted child in heirs thet still considered to be lay in society. For necessary of law, the certainty through registry and identity of the adopted child is a mandatory. It is relatedto the presence of the adopted child in future. The Religious Court / Syar’iyah Court of law as an institution of issuing the decree of adoption should be based on the accurate data end certain identity.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah S T yang telah memberikan Rahmat dan

penuhi untuk

enyel

h

umatera

Prof. Dr. Runrung, SH, MHum selaku Deka Fakultas Hukum

in, SH, M.S, CN, sebagai ketua program

studi Magister Kenotariatan, untuk dapat menjadi mahasiswa Program Studi

Magister Kenotariatan padaFakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. W

Karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus di

m esaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara dengan judul “Kedudukan Anak Angkat Dalam

Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Aceh ( Studi Kabupaten Aceh Barat )”

Dalam penyelesaian tesis ini dengan segala kerendahan hati, perkenankanla

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H,Sp.A (K) Universitas S

Utara, selaku Rektor Universitas Sumatra Utara, atas kesempatan dan fasilitas

yang diberikan kepada peneliti untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan

Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatra

Utara.

2. Bapak

Universitas Sumatra Utara atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk

dapat menjadi mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

(8)

4. Bapak Prof. Hasballah Thaib, MA, PhD, selaku pembimbing pertama, yang

telah memberikan perhatian dengan penuh ketelitian, mendorong serta membekali

penulis dengan nasehat dan ilmu yang bermanfaat dalam penyelesaian studi.

di.

n studi dan pada

emberikan dukungan moril

5. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, Mhum, selaku pembimbing kedua, yang telah

memberikan perhatian dengan penuh ketelitian, memberikan inspirasi penulisan

dan membekali penulis dengan ilmu yang bermanfaat dalam penyelesaian stu

6. Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn, selaku pembimbing ketiga, yang telah

memberikan perhatian dengan penuh semangat dan ketelitian, serta membekali

penulis dengan ilmu yang bermanfaat dalam penyelesaian studi.

7. Ibu Dr, T, Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.HUM, selaku Sekretaris Program

Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

yang telah membimbing dan membina Penulis dalam penyelesaia

kesempatan ini dipercayakan menjadi Dosen Penguji.

8. Terimakasih yang tak terhingga kepada Ibunda Marnawati dan Ayahanda

Darianus Ibnu Hajar, SPd yang telah bersusah payah melahirkan, membesarkan

dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan dalam m

dan finasialnya kepada Ananda, serta doa restunya sehingga Ananda dapat

melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S-2) Program Magister

Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Adik-Adikku Satria Firmana, SE dan Ade Marvira Putri, untuk doa dan

(9)

Strata Dua (S-2) Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara.

10.Semua teman-teman di Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara Khususnya kelas Reguler Khusus angkatan 2008

Medan, Januari 2010

Penulis

Rahmat Jhowanda

yang selalu memberikan semangat, inspirasi dan mengingatkan dikala peneliti

lupa dalam rangka menyelesaikan Studi ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita

semua. Amin.

(10)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama : RAHMAT JHOWANDA

Tempat Tanggal Lahir : Meulaboh, 07 Januari 1983

II. ORANG TUA

Nama Ayah : Darianus Ibnu Hajar, Spd

Nama Ibu : Marnawati

III. PEKERJAAN

Ayah : Pegawai Negeri Sipil

Ibu : Guru Sekolah Dasar

IV. PENDIDIKAN

1. SD : SD Negeri 2 Meulaboh

2. SMP : SMP Negeri 1 Meulaboh

3. SMU : SMU Negeri 1 Meulaboh

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

B. Perumusan Masalah………. 8

ASTRAK ……….... i

ABSTRACT ……… ii

KATA PENGANTAR ………. iii

RIWAYAT HIDUP ……… vi

DAFTAR ISI ………... vii

DAFTAR ISTILAH ……….. ix

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

A. Latar Belakang ……… 1

C. Tujuan Penelitian ……… 8

D. Manfaat Penelitian ………. 9

E. Keaslian Penelitian ……… 9

F. Kerangka Teori dan Konsepsi……… . 10

1. Kerangka Teori………... 10

2. Konsepsi ……… 26

G. Metode Penelitian ……….. 27

1. Spesifikasi Penelitian ………. 27

2. Metode Pendekatan ……… 28

3. Sumber Data………..……… 28

4. Populasi dan Sampel. ……… 29

5. Teknik Pengumpulan Data………. 30

(12)

7. Lokasi Penelitian………. 31

8. Analisis Data………... 31

BAB II

A. Prosedur Pengangkatan Anak di Aceh ……….………….. 33

BAB III H U

ORANG TUA KANDUNG PADA MASYARAKAT

ak…………. 77

Masyarakat Aceh Terhadap Pengangkatan

AB IV HA

WARIS ADAT PADA MASYARAKAT ACEH

DI KABUPATEN ACEH BARAT ……… 98

n Aceh

BAB V

. Kesimpulan ……….. 114

DAFT

ANAK ANGKAT PADA MASYARAKAT ACEH………… 33

B. Prosedur Pengangkatan Anak dalam Hukum Nasional

Indonesia ……… 47

UBUNGAN H KUM ANTARA ANAK ANGKAT DAN

ACEHDIKABUPATENACEHBARAT………… ………... 77

A. Pandangan Ulama Terhadap Pengangkatan An

B. Hukum Adat

Anak ………. 88

B K MEWARIS ANAK ANGKAT DALAM HUKUM

A. Hak yang Diperoleh Anak Angkat Di Kabupate

Barat……… 98

B. Kewarisan Anak Angkat Dalam Kompilasi Hukum

Islam ………. 102

KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 114

A

B. Saran ……….. 115

(13)

DAFTAR ISTILAH

Aneuk Geutung, Aneuk Seubot, Aneuk Ubat : Sebutan masyarakat adat Aceh

untuk anak angkat

Aneuk Keu Ayeum Mata : Anak sebagai hiasan mata dan

penghibur orang tua

Aqli : Pendekatan dengan

mengunakan akal

Baitul Maal : Kas Perbendaharaan Negara

Clan : Keturunan / Hubungan keluarga

Dayah : Sebutan Pesantren pada

Masyarakat Aceh

Gampong : Kampung / Desa

Hak Raheung : Hak berupa uang karena

Mendengar dan

mempersaksikan acara

pembahagian warisan dalam

suatu keluarga

Imum Mukim : Pimpinan adat yang

Membawahi Beberapa Desa

dan berkedudukan langsung

(14)

Imum Meunasah :

untuk

ma

Keuchik/Geuchik :

Naqli :

salam

Nash : ur’an yang bermakna

Peraturan Daerah

ri Seorang yang dipilih oleh

masyarakat desa

melaksanakan fungsi

memimpin kegiatan aga

Kepala Desa

Pendekatan dengan cara

tradisional

Nasab : Hubungan darah / Garis

keturunan

Mahkamah Syar’iyah : Pengadilan Agama di Nanggroe

Aceh Darus

Mahram : Terlarang / Diharamkan untuk

dinikahi

Meunasah : Mushalla atau Surau

Ayat Al Q

aturan

Qanun : Peraturan yang setingkat

dengan

Silapeh Ghafan : Pemberian bagian harta da

Ayah angkat untuk Anak

angkat berupa hibah pada

(15)

Tuha Peut : 4

bagai

Teungku :

Sebutan Tokoh adat yang berjumlah

orang, berfungsi se

penasehat dan pengontrol

kepemimpinan Desa

Orang yang mengerti ilmu

Agama dan biasanya

(16)

ABSTRAK

Salah satu akibat hukum dari peristiwa pengangkatan anak adalah mengenai status (kedudukan) anak angkat tersebut sebagai ahli waris orang tua angkatnya. Namun

gkat, Waris adat

menurut hukum Islam, anak angkat tidak dapat diakui untuk bisa dijadikan dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokok dalam hukum kewarisan Islam adalah adanya hubungan darah/nasab/keturunan. Dengan kata lain bahwa peristiwa pengangkatan anak menurut hukum kewarisan Islam, tidak membawa pengaruh hukum terhadap status anak angkat, yakni bila bukan merupakan anak sendiri, maka tidak berhak mewarisi harta orang tua angkatnya. Lain halnya dengan adat istiadat di Indonesia, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri. Tidak semua anak angkat berhak mewarisi harta orang tua angkatnya, dan ada pula beberapa daerah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung, dengan demikian berhak atas harta orang tua angkatnya.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis empiris yaitu dengan menganalisis peraturan perundang-undangan yang berlaku dan juga bahan-bahan perpustakaan, juga informan yang terdiri dari 1 (Satu) orang Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Meulaboh, 1 (Satu) orang Panitera Penganti Mahkamah Syar’iyah Meulaboh, 1 (Satu) orang ulama, 1 (Satu) orang Tokoh Adat dan 1 (Satu) orang anak angkat. Penetuan sample ditentukan secara purposif. Alat pengumpulan data primer adalah kuesioner dan pedoman wawancara. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif baik deduktif maupun induktif dan tetap mengacu pada yuridis empiris

Dari hasil penelitian, kedudukan anak angkat dalam hukum waris masyarakat adat di Aceh Barat, sama seperti dalam hukum Islam. Pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, hubungan wali-mewali dan hubungan waris mewaris dengan orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Selain berhak untuk dipenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari dan memperoleh pendidikan yang layak, anak angkat juga berhak memperoleh hibah sebanyak 1/3 bagian dari harta orang tua angkatnya. Motif yang paling menonjol adalah karena rasa belas kasihan, Karena tidak mempunyai anak, dan sebagai tanggungan dalam daftar gaji. Diharapkan peran Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan segenap jajarannya untuk dapat lebih mensosialisasikan lagi keberadaan wasiat wajibah yang terdapat dalam pasal 209 Kompilasi Hukum Islam guna memberikan pemahaman betapa pentingnya melindungi kepentingan anak angkat dalam hal kewarisan, yang masih dirasakan awam dalam masyarakat. Untuk kepentingan hukum, kepastian melalui pencatatan dan identitas anak angkat mutlak diperlukan. Hal ini berkaitan dengan keberadaan anak angkat itu sendiri di masa yang akan datang. Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah sebagai lembaga yang menerbitkan ketetapan pengangkatan anak harus berdasarkan pada data yang akurat dan identitas yang pasti.

(17)

ABSTRACT

One of the legal consequenc ption is related to status (position) of the adopted child as a heir of the adopting. However, in Islamic law, theadopted

re vailing statutory rulesand also the library meterials, cludi

on has no

eywords : Law of Child Adoption, Status of Adopted Child, Custom Heirs. es of child-ado

child cannot be accepted to be basic and reason of having a bequest, because of thefundamental principle of Islamic bequest Law is fraternal kinship. In other words, that the occurrence of adoption according to Islamic bequest Law has no legal effect on the status of the adopted child, namely, if he/she is not own-child, he/ she has no receive bequest of his/her adopting parents. On the contrarily, wit the traditional custom of Indonesia, each has typical characteristics. No all of the adopted children to have bequest of their adopting parents and some regions considered to adopted child to be own one, and hence, he/she reserve a right to receive the bequest of his/her parents in law.

The present study is a descriptive analytic survey using a juridical empiric method to analyze the p

in ng the informants involving one vice chief of Meulaboh Syar’iah Court of Law, 1 (one) religious figure, 1 (one) traditional figure and 1 (one) adopted child. The sampling was taken purposively. The collection instruments of primery data included questionnaire and interview. Where as the secondary data was collected by a library study. The data analysis was conducted by using qualitative approaches either deductive or inductive and remained to refers to the juridical empiric one.

Based on the findings the status or position of the adopted child in the law of bequest in Western Aceh was similar to that of Islamic Law. The adopti

legal effect on the fraternal kinship, custodial relationship and bequest relationship with the adopting parents. The child remained to be heir of his/her own parents and the child remained to use his/her ownfather’s name.In spite of reserving a right to have daily need satisfaction and receive a proper study, the adopted child also reserves a right of property of his/her parents. The most outstanding motif is due to the sense of compassion as a consequence of having no a child and as adependent of enroll. It is expected that the role of Religious Court/Syar’iyah Court of Law to make in coordination with the related institutions and all the staff to more sociallize the presence of wajibah last testament as stipulated in the article 209 of Islamic Legal Compilation to give an apprecciation of how the importance of protecting the need of the adopted child in heirs thet still considered to be lay in society. For necessary of law, the certainty through registry and identity of the adopted child is a mandatory. It is relatedto the presence of the adopted child in future. The Religious Court / Syar’iyah Court of law as an institution of issuing the decree of adoption should be based on the accurate data end certain identity.

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan yang ingin dicapai dengan adanya suatu perkawinan adalah

, akan tetapi tidak semua perkawinan itu dapat memperoleh

ketu

tkan keturunan yang diharapkan dan harus di didik

dengan

kum adat, pengangkatan anak dilakukan untuk mengayomi, membantu

dan m

memperoleh keturunan

runan, kadangkala dalam suatu perkawinan yang telah berlangsung cukup lama

sekali tidak memperoleh keturunan. Bilamana hal seperti ini terjadi, secara psikologi

keluarga tersebut akan merasa hampa dengan kata lain kebahagian rumah tangga yang

bersangkutan terasa belum cukup.

Salah satu tujuan perkawinan adalah untuk membentuk dan membina keluarga

yang kekal, berhasil dan mendapa

baik.1

Pengangkatan anak tidak terlepas dari pengaruh hukum adat. Dalam

masyarakat hu

emberikan perlindungan hukum terhadap anak angkat. Dalam tradisi

masyarakat adat, pengangkatan anak yang dilakukan melalui suatu prosesi adat.

Prosesi pengangkatan anak yang dipimpin oleh petua adat, dimaksudkan agar

1

M. Hasballah Thaib, Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, (Medan : Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa, 1993) Hal. 12, Tujuan perkawinan dalam Islam secara luas adalah : 1. Merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan emosi dan seksual yang sah dan benar

2. Suatu mekanisme untuk mengurangi ketegangan 3. Cara untuk memperoleh keturunan yang sah 4. Menduduki fungsi sosial

(19)

seseorang yang dijadikan anak angkat akan mengetahui hak dan kewajibannya

sebagai anak angkat, dan sebaliknya orang tua angkatnya pun mengetahui hak dan

kewajiban sebagai orang tua angkat.

Dikalangan masyarakat adat terdapat berbagai alasan seseorang atau pasangan

suami isteri melakukan pengangkatan anak. Pada daerah-daerah yang mengikut garis

keturun

r kepercayaan agar dengan mengangkat anak, kedua orang tua

at, tidak membawa konsekuensi bahwa

ng tua kandungnya, dan tidak

berpind

an patrilinial pada prinsipnya pengangkatan anak hanya pada anak laki-laki

dengan tujuan utama penerus keturunan. Sedangkan pada daerah-daerah yang

mengikuti garis keturunan parental antara lain Jawa dan Sulawesi, pegangkatan anak

(laki-laki atau perempuan), pada umumnya dilakukan pada keponakannnya sendiri

berdasarkan tujuan:

1. Untuk memperkuat pertalian kekeluargaan dengan orang tua anak yang

diangkat.

2. Untuk menolong anak yang diangkat atas dasar belas kasihan

3. Atas dasa

angkat akan dikaruniai anak sendiri.

4. Untuk membantu pekerjaan orang tua angkat.2

Pengangkatan anak dalam hukum ad

anak angkat akan putus hubungan hukum dengan ora

ah hubungan hukum dengan orang tua angkatnya. Anak angkat tidak akan

terputus hubungan dengan clan asalnya kecuali ada upacara perpindahan clan atau

2

(20)

perpindahan marga. Upacara perpindahan clan sangat mahal dan rumit, oleh sebab itu

sangat jarang terjadi dalam masyarakat adat. Akibat dari perpindahan clan, hubungan

hukum dalam kewarisan dapat berubah dan menyebabkan anak angkat tidak lagi

mewarisi harta dari orang tua kandungnya, demikian pula sebaliknya. Anak angkat

akan memperoleh harta warisan dari orang tua angkat dan juga sebaliknya.

Tradisi mengangkat anak tersebut, hingga saat ini masih merupakan hal yang

hidup dalam masyarakat termasuk dikalangan masyarakat Aceh, khususnya pada

masyar

akat Aceh Barat. Pada penelitian yang dilakukan di Kota Meulaboh, Pasca

Bencana alam tsunami jumlah pengangkatan anak tersebut mengalami peningkatan.

Pengangkatan anak dalam tradisi masyarakat Aceh, berbeda dengan

tradisi pengangkatan anak dalam masyarakat adat pada umumnya. Tradisi

pengangkatan anak dalam masyarakat Aceh, lebih dominan mendapat pengaruh dari

syari'at Islam, bila dibandingkan dengan pengaruh dari hukum adat. Hukum adat bagi

masyarakat Aceh bersumber pada Syari'at Islam.3 Adat4 yang bertentangan dengan

Syari'at Islam adalah bukanlah adat Aceh.5 Oleh karenanya, bagi masyarakat Aceh, Syari'at Islam merupakan standar norma yang mengatur seluruh prilaku kehidupan

termasuk pengangkatan anak. Masyarakat Aceh, melakukan pengangkatan anak

3

Ada istilah dalam masyarakat Aceh, “Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut” ; artinya Hukum

h (Jakarta : Pustaka Kautsar, 1998), Hal. 143 “Adat Kebiasan itu menjadi

idah, Syariah dan Akhlak,

(Makass

dengan adat seperti zat dengan sifat. Tidak dapat dipisahkan. Kalau bertentangan dengan syariat Islam berarti bertentangan juga dengan adat. Lihat dalam Kata Pengantar Othman Ishak,

Hubungan antara Undang-undang Islam dengan Undang-undang Adat, (Kuala Lumpur : Dewan

Bahasa dan Pustaka, 2003), Hal. xv 4

Nasroen Haroen, Ushul Fiq

hukum”, tidak dapat dibantah terjadi perubahan, karena terjadi perubahan zaman dan tempat”, ketetapan melalui ‘uruf (kebiasaan) sama dengan ketetapan melalui nash”.

5

(21)

dalam rangka mewujudkan prinsip ta'awun atau tolong menolong antara sesama

muslim. Hal ini terbukti dengan penggunaan istilah dalam bahasa Aceh dengan

sebutan "aneuk geutung" yang mendekati makna kasih sayang, belas kasihan.

Salah satu akibat dari konflik dan tsunami adalah banyaknya anak-anak yang

terpisah dari keluarga intinya, seperti orang tua dan saudara kandung si anak. Hal ini

terjadi

bahwa

tradisi pengangkatan anak sebenarnya dan telah dipraktikkan oleh masyarakat dan bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Islam, seperti yang dipraktikkan oleh bangsa Yunani, Romawi, India, dan beberapa bangsa pada zaman kuno. Di kalangan baik karena ditinggal orang tuanya yang meninggal dunia, maupun karena

hilang semasa konflik atau tsunami. Menurut catatan jaringan penelusuran dan

penyatuan keluarga (FTR Network)6 sejak tsunami telah terdaftar 2.500 anak yang

terpisah dari atau tak terdampingi oleh keluarga inti. Sebagian besar dari anak-anak

itu diidentifikasi secara langsung di kamp dan barak, dimana para pengungsi

direlokasi, atau di komunitas tempat mereka ditampung seperti pesantren dan panti

asuhan. Beberapa anak diregistrasi di panti asuhan dan Dayah di Aceh, dan sebagian

kecil lainnya di luar Aceh. Sebagai catatan, sejauh ini belum ada komitmen bersama

antar berbagai organisasi untuk melakukan registrasi dan penelusuran anak yang

sistematis baik di institusi maupun dalam komunitas Aceh dan luar Aceh.

Secara historis, pengangkatan anak (adopsi) sudah dikenal dan berkembang

sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mahmud Syaltut menjelaskan,

6

FTR, Family Tracing and Reunification (Jaringan Penelusuran dan Penyatuan kembali Keluarga) adalah sebuah jaringan perlindungan anak di Banda Aceh sejak tsunami 26 Desember 2004. Team yang tergabung dalam Jaringan FTR ini adalah Unicef, Child Fund, Save the Children, Lost Children Operation, Muhammadiyah, Kementrian Perempuan, dan Dinas Sosial.

http//web.acehinstitute.org/files.php?file=Riset Praktik Perlindungan Anak, Tanggal 28 November

(22)

bangsa

dengan at- tabanni dan sudah ditradisikan secara turun-temurun.

Imam Al-Qurthubi (ahli tafsir klasik) menyatakan bahwa sebelum kenabian, Rasulu

menyatakan bahwa dirinya dan Zaid saling mewarisi. Zaid kemudian dikawinkan dengan Zainab binti Jahsy,

kandung). Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa kisah di atas menjadi latar belakang

turunnya ayat tersebut.

Pengangkatan anak dalam hukum Islam tidak mengenal perpindahan, dalam

arti tetap menjadi salah seorang mahram dari keluarga ayah kandungnya, dan berlaku

Arab sebelum Islam (masa jahiliyah) istilah pengangkatan anak dikenal

7

llah SAW sendiri pemah mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya, bahkan tidak lagi memanggil Zaid berdasarkan nama ayahnya (Haritsah), tetapi masyarakat Arab memanggilnya dengan nama Zaid bin Muhammad. Pengangkatan Zaid sebagai anaknya ini diumumkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, didepan kaum Quraisy. Nabi Muhammad SAW, juga

putri Aminah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi Muhammad SAW. Oleh karena Nabi SAW, telah menganggapnya sebagai anak, maka para sahabat pun kemudian memanggilnya dengan Zaid bin Muhammad.8

Setelah Nabi. Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, turunlah surat Al-

Ahzab (33) ayat 4-5,9 yang salah satu intinya, melarang pengangkatan anak dengan akibat hukum seperti di atas (saling mewarisi dan memanggilnya sebagai anak

10

7

Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2002), Hal. 53

uran, 1984), Surat Al-ahzab ayat 4 dan 5, yang artinya : Ayat 4 :

an dia tidak menjadikan anak-anak

mereka, maka 8

Nasroen Haron, Ensiklopedia Hukum Islam, (Jakarta : P.T. Iktiar Baru van Hoeve, 1996), Hal. 29

9

Departemen Agama RI, Alquran dan terjemahannya, (Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Q

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar sebagai ibumu, d

angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri), yang demikian itu hanyalah perkataaanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).

Ayat 5 : Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapa-bapak mereka ; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak

(panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah maha pengamun lagi maha penyayang.

10

H. Ahmad Kamil dan HM fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak

(23)

larangan kawin, serta tetap saling mewarisi dengan ayah kandungnya. Jika ia

melangsungkan perkawinan setelah wanita dewasa, maka walinya tetap ayah

kandun

n tanggung jawab dari seorang muslim yang memiliki

kemam

gnya. Adapun pada pengangkatan anak yang diiringi oleh akibat hukum

lainnya terjadi perpindahan nasab dari ayah kandungnya ke ayah angkatnya.

Konsekuensinya, antara dirinya dengan ayah angkatnya dan keluarga kandung ayah

angkatnya berlaku larangan kawin serta kedua belah pihak saling mewarisi. Jika ia

akan melangsungkan perkawinan nantinya, maka yang berhak menjadi walinya

adalah ayah angkatnya tersebut, bukan ayah kandungnya. Ada dua hal yang terkait

dengan status hukum anak angkat, yaitu dalam hal kewarisan, dan dalam hal

perkawinan.11 Selanjutnya dalam tulisan ini difokuskan pada status hukum anak angkat dalam hal kewarisan.

Pengangkatan anak didasarkan pada pertimbangan bahwa seorang muslim

berkewajiban untuk menolong, memberikan perlindungan kepada orang lain. Anak

yatim, anak fakir miskin, anak terlantar, anak yang tidak mampu secara ekonomi

perlu mendapat perhatian da

puan. Tanggung jawab mulia ini diimplementasikan melalui pengangkatan

anak. Seseorang yang melakukan pengangkatan anak ditujukan untuk memberikan

perlindungan, kasih sayang, perlindungan kesehatan, pendidikan, dan berbagai

kebutuhan psikis lainnya yang dibutuhkan oleh seorang anak. Kebutuhan-kebutuhan

ini menjadi tanggung jawab bagi orang tua angkatnya. Pengangkatan anak merupakan

11

(24)

salah satu perbuatan baik. Agama Islam menyuruh umat untuk berlomba-lomba

dalam kebajikan.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh pengangkatan anak juga dilakukan

berdasarkan pertimbangan lain berupa upaya `pemancingan' untuk mendapatkan

keturunan. Umumnya pengangkatan anak dilakukan oleh keluarga yang tidak

memiliki keturunan. Keberadaan anak angkat diharapkan akan mempercepat hadirnya

keturun

iri

dalam h

an dalam suatu keluarga. Anak angkat benar-benar diharapkan keberadaannya

dalam kehidupan orang tua angkatnya, bukan sekedar basa basi. Orang tua angkat

berusaha sekuat tenaga untuk memberi pelayanan perlindungan terhadap anak angkat

sama dengan orang tua kandung memberi perlindungan kepada anak kandungnya.

Keberadaan anak angkat dalam kehidupan rumah tangga orang tua angkat,

akan terbangun hubungan emosional, hubungan psikis dan berbagai hubungan

kemanusiaan lainnya, sebagaimana hubungan yang terjalin antara anak dengan orang

tua kandung. Hubungan-hubungan ini sudah sewajarnya mendapat posisi tersend

ukum pengangkatan anak, seperti memperoleh sesuatu berupa harta atau `hak'

dari orang tua angkatnya atau sebaliknya. Kewajaran seperti ini tidak dalam arti harus

mengorbankan hak-hak orang lain yang telah ditentukan oleh ajaran agama. Orang

tua angkat tidak serta merta menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Anak

angkat menduduki posisi pada tempat anak angkat, begitu juga anak kandung tidak

dapat bergeser pada posisi anak angkat. Oleh sebab itu tidak ada alasan tentang

kekhawatiran akan terjadi kekeliruan, anak angkat akan menduduki posisi anak

(25)

Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dilakukan pengkajian

Kedudukan Anak Angkat Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Aceh (Studi

Kabupaten Aceh Barat)

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan

adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara pengangkatan anak pada masyarakat Aceh?

an hukum antara anak angkat dan orang tua kandungnya

mewaris dari anak angkat dalam hukum waris adat, pada

C. Tujuan Penelitian

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis

maupun secara praktis.

1. Untuk mengetahui cara pengangkatan anak pada masyarakat Aceh?

ui Bagaimana hubungan hukum antara anak angkat dan orang

ui hak mewaris dari anak angkat menurut Hukum Waris 2. Bagaimana hubung

pada masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Barat?

3. Bagaimana hak

masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Barat?

2. Untuk mengetah

tua kandungnya pada masyarakat Aceh, di Kabupaten Aceh Barat?

3. Untuk Mengetah

(26)

D. Manfaat penelitian

1. penulisan ini diharapakan dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut

ntuk melahirkan peraturan perundang-undangan tentang hak anak angkat

ari orang tua angkat terhadap Hukum Waris Adat Aceh

dapat bermanfaat bagi penyelesaian masalah kewarisan

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan khususnya dilingkungan Universitas

Sumatera Utara, penelitian dengan judul Kedudukan Anak Angkat Dalam Hukum

Waris Adat Pada Masyarakat Aceh (Studi Kabupaten Aceh Barat) belum pernah

sebelumnya, dengan demikian penelitian ini adalah asli.

Adapun

adi dasar pertimbangan bagi Pengadilan Agama Medan

nak angkat atas harta peninggalan orang tua u

d

2. Secara praktis

terhadap anak angkat

dilakukan oleh peneliti

beberapa penelitian yang menyangkut anak angkat dan kewarisan yang

pernah dilakukan adalah :

Hak Anak Angkat Dari Orang Tua Angkat Dalam Hukum Islam, oleh Tresna

Hariadi, NIM 027011065, tahun 2004, Mahasiswa Program Magister Kenotariatan.

Permasalahan yang diteliti adalah:

1. Apakah yang menj

dalam memberikan harta peninggalan orang tua angkat kepada anak angkat?

2. Bagaimanakah pandangan Hukum Islam dan Pengadilan Agama Medan

dalam menentukan hak a

(27)

3. Bagaimanakah ukuran keadilan yang diterapkan Pengadilan Agama Medan

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik

atau proses tertentu terjadi, dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya

njukkan ketidak benarannya.13 Kerangka teori

mikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu

kasus

jamaknya mashalih berarti sesuatu yang baik, yang bermanfaat dan merupakan lawan

untuk menentukan bagian anak angkat?

12

pada fakta-fakta yang dapat menu

adalah kerangka pe

atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan

teoretis14 menyebutkan, bahwa teori yang dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut tetapi merupakan suatu

abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan

pengalaman empiris. Artinya teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang

berkesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun

meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.

Dengan demikian dalam bahasan judul tesis ini, teori yang digunakan sebagai

alat atau pisau analisis adalah teori mashlahat. Secara etimologi kata mashlahat,

12 J.J.J. M. Wuisman, dalam M. Hisyam, Penelitian Ilmu Ilmu Sosial, Asas-Asas, (Jakarta: FE

UI, 1996), hal. 203. lihat M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), hal. 27.

13

Ibid , hal. 16 14

(28)

dari keburukan atau kerusakan. Mashlahat kadang-kadang disebut dengan istilah yang

berarti mencari yang benar. Esensi mashlahat adalah terciptanya kebaikan dan

kesena

ballah,17 mashlahat yang dimaksud adalah ke-maslahat-an yang menjad

kehidupan mereka didunia dan terhindar dari berbagai bentuk yang

dapat m

ngan dalam kehidupan manusia serta terhidar dari hal-hal yang dapat merusak

kehidupan umum15

Ibnu Taymiyyah, sebagaimana dikutip oleh syekh Abu Zahrah,16 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mashlahat ialah pandangan mujtahid tentang perbuatan

yang mengandung kebaikan yang jelas dan bukan perbuatan yang berlawanan dengan

hukum syara'.

Menurut Has

i tujuan syara', bukan ke-maslahat-an yang semata-mata berdasarkan

keinginan hawa nafsu manusia. Sebab disadari sepenuhnya bahwa tujuan dari syariat

hukum tidak lain adalah untuk merealisir ke-maslahat-an bagi manusia dari segala

segi dan aspek

embawa kepada kerusakan.

Oleh karena itu masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau

penegakan hukum. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau

penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan

15

H.M.Hasballah Thaib, 2002, Tajdid Reaktualisasi dan Elastisitas Hukum Islam,

Konsentrasi Hukum Islam, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, (Medan: 2002).

16

Nasroen Haroen, 1997, Ushul Fiqh, PT. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, hal. 126. 17

(29)

sampai

n lawan dari kata mafsadat (kerusakan). Secara majas, kata ini

juga d

agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Segala sesuatu yang

mengan

g

bersangkutan maupun bagi masyarakat. Masyarakat dalam hal ini berkepentingan,

justru karena hukumnya dilaksanakan atau ditegakkan timbul keresahan di

dalam masyarakat.18

Menurut Kamus Bahasa Indonesia manfaat artinya guna, faedah.19 Dalam

Bahasa Arab manfaat disebut mashlahah (jamaknya mashalih) merupakan sinonim

dari kata manfa 'at da

apat digunakan untuk perbuatan yang mengandung manfaat. Kata manfaat

sendiri selalu diartikan dengan ladzhzah (rasa enak) dan upaya mendapatkan atau

mempertahankannya.20

Al-Ghazali mengatakan arti asli mashlahat ialah menarik manfaat atau

menolak mudharat. Adapun artinya secara istilah ialah pemeliharaan tujuan

(maqashid) syara', yakni

dung nilai pemeliharaan atas pokok yang lima ini adalah mashlahat, semua

yang menghilangkannya adalah mafsadat dan menolaknya merupakan mashlahat.21 Menurut Radbruch dalam Chainur Arrasyid yang dimaksud dengan nilai

kegunaan ialah kenyataan apakah hukum tersebut bermanfaat/berguna bagi

masyarakat.22 Pada dasarnya suatu putusan hakim harus bermanfaat, baik bagi yan

18

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), (Yogyakarta: Penerbit Liberty,

to, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini, (Surabaya; Penerbit Terang S

Nazhariyah Al-Mashlahah Fi Al-Fiqh Al-Islami, (Kairo: Al-

Mutanab

, Hal. 23

yid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), hal. 18. 1988), hal. 134 –135.

19

Bambang Marhijan urabaya, 1999), hal. 236. 20

Husein Hamid Hassan,

bi, 1981), hal. 4, dalam Jamaluddin, Analisis Hukum Perkawinan Terhadap Perceraian

Dalam Masyarakat Kota Lhokseumawe Dan Kabupaten Aceh Utara , Disertasi, (Medan: PPs-USU,

2008, hal. 23. 21

Ibid 22

(30)

karena

l ada nilai-nilai yang

lebih ti

masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat.

Dengan adanya sengketa keseimbangan tatanan di dalam masyarakat itu terganggu,

dan keseimbangan yang terganggu harus dipulihkan kembali.23

Hakim hendaknya mendasarkan putusan-putusannya pada peraturan undang-

undang tapi tidak kurang pentingnya supaya putusan-putusan tersebut dapat

dipertanggung-jawabkan terhadap asas-asas keadilan, kesadaran dan perasaan hukum

yang sedang hidup dalam masyarakat. Dalam kehidupan sosia

nggi dan nilai-nilai yang lebih rendah, dan yang lebih rendah harus tumbuh

menjadi yang lebih tinggi.24 Jadi hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat25 Dengan demikian hukum ditujukan untuk tercapainya sebesar-besar manfaat, keuntungan/kebahagiaan bagi masyarakat.26

Hukum adalah pernyataan kesucian dan moralitas yang tinggi, baik dalam peraturan

maupun dalam pelaksanaannya sebagaimana diajarkan dalam agama dan adat rakyat

kita.27 Menurut Mochtar Kusumaatmaadja, dalam Khuzaifah Dimiyati tidak perlu ada

pertentangan antara maksud untuk mengadakan pembaharuan hukum melalui

perundang-undangan dan menyalurkan nilai-nilai atau aspirasi yang hidup dalam

masyarakat28

23

Sudikno Mertokusumo, 1996, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Penerbit Liberty,

1990), hal. 120.

it, hal 24.

Yogyakarta, 1996), hal. 90. 24

Friedmann, 1990, Teori dan Filsafat Hukum, Idialisme Filosofi dan Problema Keadilan, (Susunan II), (Jakarta: Rajawali Pers,

25

Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, 2001, Dasar-dasar Filsafat Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 16.

26

Sudarsono, Op.Cit, hal. 102. 27

Jamaluddin, Op. C 28

(31)

Sebagai satu lembaga hukum, maka kepentingan masyarakat akan Iebih

terjamin, karena misi hukum mempertahankan kedamaian di antara manusia dan

sekaligus melindungi kepentingannya. Hal ini sesuai dengan yang ditulis oleh Prof.

Mr. Dr. LJ. Van Apeldoorn, bahwa:

kepentingan yang bertentangan di antaranya karena hukum hanya dapat mencapai

artinya peraturan pada norma terdapat keseimbangan antara kepentingan-kepentingan

menjadi bagiannya".

tan anak, yang oleh hukum telah diberikan hak

bagi m

struksi Presiden Republik

Indone

sebaga tata perundang-undangan.

"Hukum mempertahankan perdamaian dengan menimbang

kepentingan-tujuan (mengatur pergaulan) hidup secara damai, jika ia menuju peraturan yang adil,

yang dilindungi, pada mana setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang

29

Berbicara masalah pengangka

asyarakat untuk melakukan pengangkatan anak, namun yang paling penting

dengan terjadinya pengangkatan anak tersebut harus dapat memberikan manfaatnya

baik bagi orang tua angkat itu maupun bagi si anak angkat.

Kompilasi Hukum Islam hadir dalam hukum Indonesia melalui Instruksi

Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 1991, tanggal 10 Juni 1991 tentang Kompilasi

Hukum Islam dan diantisipasi secara organik oleh Keputusan Menteri Agama Nomor

154 tahun 1991 tanggal 22 Juli 1991 tentang Pelaksanaan In

sia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Terpilihnya Inpres

menunjukkan fenomena tata hukum yang dilematis pada satu segi, pengalaman

implementasi program legislatif nasional memperlihatkan Inpres berkemampuan

mandiri untuk berlaku efektif di samping instrumen hukum lainnya, karena memiliki

daya atur dalam hukum positif nasional dan pada segi lain Inpres tidak terlihat

i salah satu instrumen dalam

29

(32)

Inpres Nomor 1 Tahun 1991 menginstruksikan kepada Menteri Agama

Republik Indonesia supaya menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam untuk

digunakan oleh Instansi Pemerintah terkait maupun masyarakat yang

memerlukannya.

Atmadja berpendapat bahwa Inpres sebagai perintah, petunjuk dan atau

pedoma

residen ini bersifat teknis operasional untuk melaksanakan sesuatu

hal ya

bangan praktek ketimbang

teknis p

penggunaan instrumen hukum berupa Inpres yang tidak termasuk dalam

hukum tertulis.Kedua, KHI dapat dikategorikan sebagai hukum tertulis, sumber

n bukanlah peraturan perundang-undangan akan tetapi sama halnya dengan

surat edaran, surat perintah, nota yang memberikan kewenangan badan/pejabat tata

usaha negara untuk pelaksanaan pemerintah sehari-hari.30

Instruksi P

ng bersifat mendesak untuk ditangani secepatnya.31 Lembaga ini muncul dalam. praktek pemerintah wewenang kepala negara untuk mengintruksikan sesuatu

dalam rangka implementasi program legislatif dan/atau eksekutif. Dipilihnya

instrumen Inpres lebih banyak merupakan putusan pertim

erundangan.32

Di lihat dari tata hukum Nasional, KHI dihadapkan dua pandangan yaitu:

Pertama, sebagai hukum yang tidak tertulis seperti yang ditunjukkan oleh

rangkaian tata urutan peraturan perundang-undangan yang menjadi sumber

30

Atmadja Gede, "Hukum Dalam Teori Dan Praktek", Kumpulan Karangan Majalah Ilmiah, (FH Udayana, 1994), hal 111

ess, 1994), hal 61-62. 31

Daman Rozikin, Hukum Tata Negara (Suatu Pengantar), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hal 78.

32

(33)

yang ditujukan KHI berisi Law dan Rule yang pada gilirannya terangkat

33

menjadi Law dengan potensi Political Power.

Fungsi KHI merupakan pedoman dalam rumusan Inpres yang dipertegas oleh

Keputusan Menteri Agama dengan kalimat sedapat mungkin menerapkan KHI

terseb

Inpre

ketim si yang tegas. Hal ini tidak

meng

inan, Undang-undang Nomor 7 tahun 1989

tentan

berikut: anak angkat dalam 34

ut. Status KHI bersifat persuasif rekomendatif dan bukan imperatif. Dari sinilah

s dan keputusan Menteri lebih menekankan perintah mensosialisasikan KHI

bang mewajibkan penerapannya dengan sank

urangi efektifitas KHI karena dalam tataran eksekutorial materi KHI ini

dilakukan oleh kantor urusan agama, dan dalam tahapan penyelesaian yudisial

dilaksanakan oleh pengadilan agama.

KHI merupakan suatu tonggak penting bagi lebih berperannya Hukum Islam di

Indonesia. Posisi hukum Islam menjadi lebih tegas dengan adanya beberapa produk

undang-undang dan kebijakan hukum pemerintahan orde baru pada beberapa

dasawarsa terakhir. Setiap pengamat hukum bisa menyebutkan Undang-Undang

Nomor 1 tahun 1974 tentang perkaw

g peradilan agama yang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006

tentang peradilan agama dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1977 tentang

perwakafan tanah milik, sebagai contoh penting terjadi pergeseran beberapa bagian

hukum Islam yang universal kearah hukum positif tertulis dari suatu negara.

Pengertian Anak angkat secara bahasa atau etimologi dapat diartikan sebagai

bahasa Arab disebut "tabanny" perhatian dan kasih

33

(34)

sayang, dan diperlakukan oleh orang tua angkatnya seperti anaknya sendiri tanpa

memberi status anak kandung.35

Iman Sudiyat mendefinisikan "pengangkatan anak dengan suatu perbuatan

memungut seorang anak dari luar kerabat ke dalam kerabat, sehingga terjalin suatu

ikatan s

hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk

kelangs

"menga

osial yang sama dengan ikatan kewangsaan biologisnya."36

Hilman Hadi Kusuma dalam bukunya Hukum Perkawinan Adat menyatakan:

"Anak angkat adalah anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh orang tua

angkat dengan resmi menurut

ungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga."37 Menurut Ali Afandi: "pengangkatan anak adalah pengangkatan oleh seorang

dengan maksud untuk menganggap anak itu sebagai anak sendiri." 38

Djaja S Meliala menyatakan: "pengangkatan anak adalah suatu perbuatan

hukurn untuk memberi status hukum tertentu pada seorang anak status mana

sebelumnya tidak dimiliki anak itu."39

Menurut Soerjono Soekanto pengangkatan anak atau adopsi berarti

ngkat anak untuk dijadikan anak sendiri atau secara umum berarti

34

H. Ahmad Kamil dan H.M. Fuazan, op. cit., ha1.100 35

Mahmud Syaltut, al-Fatawa, Darul Qalam, hal. 321-322.

arata: Liberty, 1981), hal. 117. g: Alumni, 1977), hal. 6.

karta : Gajah M

36

Iman Sudiyat, Hukum Adat dan Sketsa Azas, (Yogyak 37

Hilman Hadi Kusuma, Hukum Perkawinan Adat, (Bandun 38

Ali Afandi, Hukum Keluarga Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Yogya ada), hal. 57

39

(35)

mengan

Pasal 171 huruf (h) dinyatakan: "Anak angkat

adalah

ka dapat dipahami

bahwa

ak angkat tersebut di atas Abdullah Syah

manyat

2. Ada bapak yang bukan bapak sendiri.

gkat seorang dalam kedudukan tertentu yang menyebabkan timbulnya

hubungan yang seolah- olah didasarkan faktor hubungan darah."40 Dalam Kompilasi Hukum Islam

anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidup sehari-hari, biaya pendidikan

dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua

angkatnya berdasarkan putusan pengadilan."41Dari pengertian anak angkat baik

secara etimologi maupun terminologi yang dipaparkan di atas ma

pengertian anak angkat secara umum adalah anak yang sebenarnya bukan anak

sendiri, tetapi karena sesuatu maksud, maka anak angkat tersebut diangkat menjadi

bagian dari keluarga sendiri untuk selanjutnya diberikan hak-hak pemeliharaan yang

layak kepadanya seperti seorang anak.

Selanjutnya istilah anak angkat yang lebih tepat untuk kultur Indonesia yang

mayoritas pemeluk Islam adalah perlakuan sebagai anak dalam segi kecintaan,

pemberian nafkah, pendidikan dan pelayanan dalam segala kebutuhannya, bukan

diperlukan sebagai anak nasabnya sendiri.

Sejalan dengan pengertian an

akan bahwa unsur-unsur pengangkatan anak itu adalah:

1. Ada anak yang bukan anak sendiri.

40

Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, Penerbit Alumni Bandung, 1980, hal. 52 41

(36)

3. Ada kesepakatan diantara kedua belah pihak untuk melakukan pengangkatan

anak (untuk bertindak sebagai anak angkat dan bapak angkat).

4.

um Islam mesti dapat

an.43

sedih melihat anak itu, sebab pendidikannya tidak terurus, keperluan sehari-k punya sama sekali atau miskin. Orang tua yang hendak mengangkat anak itu mengetahui

renakan orang tuanya tidak mengakuinya sebagai anak kandungnya yang menyebabkan anak tersebut

tetapi jika anak yang diangkat tersebut seorang perempuan bila hendak etap diserahkan kepada orang tua kandungnya, tidak kepada bapak angkatnya, bapak angkatnya hanya boleh ebut yang bukan atas nama ahli waris, akan tetapi berbentuk wasiat wajibah dengan ketentuan tidak boleh lebih dari Status nasab kedua belah pihak tidak berubah.42

Khusus untuk pengertian yang diberikan kompilasi huk

dibuktikan dengan adanya putusan Pengadil

Selanjutnya, alasan pengangkatan anak yaitu :

a. Seorang mengambil anak orang lain sebagai anak angkatnya, karena merasa

harinya juga tidak terpenuhi dikarenakan orang tuanya tida

dengan jelas bahwa anak itu terlantar, dika

terlunta lunta. Dalam hal seperti ini dapat diakui sebagai anak angkat akan

dikawinkannya yang menjadi walinya t

memberikan hartanya kepada anak ters

sepertiga hartanya. Seorang mengambil anak orang lain untuk dijadikan sebagai anak angkat dan anak angkat tersebut dianggapnya sebagai anak kandungnya begitu juga dengan nasabnya dihilangkannya dan beralih kepada nasab bapak angkatnya.44

b. Alasan yang kedua bertentangan dengan ajaran Islam, karena tradisi seperti ini terjadi pada zaman jahiliyah yang menjadikan anak angkat menjadi anak kandung, hal ini dilarang dan tidak diakui oleh ajaran Islam.

Di dalam hukum adat secara umum dilakukan oleh keluarga Indonesia untuk

mengangkat seorang anak laki-laki atau perempuan, untuk kemudian dimasukkan ke

dalam lingkungan keluarga mereka, didukung oleh berbagai sistem hukum adat yang

42

H.Abdullah Syah, dkk, Laporan Penelitian Tinjauan Hukum Islam Dan Hukum Adat Terhadap Anak Angkat Pada Suku Melayu Kecamatan Tanjung Pura Langkat, (Medan: Balai Penelitia

isah Pada Masalah-masalsah Kontemporer Hukum

Islam, (J Persada, 1995), hal. 118-119

n IAIN Sumatera Utara, 1995), hal.46-47. 43

Ibid, hal. 46-47 44

(37)

bersifat umum dengan karakteristik yang sama di antara kelompok masyarakat

berbeda-beda.

Pengangkatan anak pada masyarakat hukum adat dapat dilakukan dengan

cara;45

artinya bahwa adopsi dilaksanakan dengan upacara-upacara dengan

hukum masyarakat.

rjadi. Pengangkatan

Menuru

1. Tunai/kontan artinya bahwa anak itu dilepaskan dari lingkungannya semula

dan dimasukkan ke dalam kerabat yang mengadopsinya dengan suatu

pembayaran benda-benda magis, uang, dan/atau pakaian.

2. Terang

bantuan para Kepala Persekutuan, ia harus terang diangkat ke dalam tata

Dalam hukum adat tidak dijumpai beda umur, karena diketahui dalam hukum

adat penyelesaian masalah tergantung pada kasus yang dihadapi. Ketika ada kasus

pada saat itu pula ada inisiatif untuk menyelesaikan kasus yang te

anak dalam hukum adat dipastikan ada kepentingan yang ingin ditegakkan. Oleh

sebab itu dalam hukum adat tidak mungkin ada persoalan hukum yang merugikan

masyarakat.

t Soepomo,46 hukum adat Indonesia mempunyai corak sebagai berikut:

1. Mempunyai sifat kebersamaan atau komunal yang kuat, artinya manusia

menurut hukum adat merupakan makhluk dalam ikatan kemasyarakatan yang

erat, dan rasa kebersamaan ini meliputi seluruh lapangan hukum adat

45

Iman Sudiyat, Hukum Adat-sketsa adat, (Yogyakarta : Liberty, 1999), hal. 102

Hal. 98 46

(38)

2. Mempunyai corak religius-magis yang berhubungan dengan pandangan hidup

alam Indonesia

adat

hukum

ng kelihatan).

i hukum bahwa si anak tersebut, baik

an masyarakat lainnya. Maka di hukum adat

anak a

3. Hukum adat diliputi oleh pikiran penataan serba konkrit; artinya hukum

sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya perhubungan hidup

yang konkrit

4. Hukum adat mempunyai sifat yang visual artinya perhubungan

dianggap hanya terjadi oleh karena ditetapkan dengan suatu ikatan yang dapat

dilihat (tanda ya

Dengan pertimbangan-pertimbangan moral sebagai alasan utama dalam

pengangkatan anak, misalnya untuk menolong anak yatim, suatu keluarga dapat

mengangkat seorang anak dengan konsekwens

laki-laki maupun perempuan, akan memperoleh hak yang sama di hadapan hukum

sebagaimana anak kandung. Walaupun aplikasi anak angkat ini secara terperinci

berbeda antara satu masyarakat deng

ngkat secara otomatis dimasukkan ke dalam lingkungan keluarga orang tua

angkat, hubungan hukum antara anak angkat dan orang tua kandung terputus, dan

posisi hukum anak angkat dalam kewarisan sama dengan anak kandung.47

Pengangkatan anak dalam hal ini tidak memerlukan adanya putusan hakim,

cukup disaksikan oleh ketua adat atau masyarakat setempat. Dari gambaran di atas,

dapatlah dilihat betapa sederhananya bentuk dan prosedur pengangkatan ini cukup

47

(39)

dengan lisan saja, tanpa diperlukan bukti tertulis. Suroyo Wongjodiputro

mengemukakan bahwa :

Di dalam hukum adat dikenal pengangkatan anak. Cara memperoleh atau

mengangkat anak adalah dengan : Anak itu diambil dari lingkungan asalnya dan

dimasukkan dalam keluarga orang yang mengangkat ia menjadi anak angkat.

Lazimnya tindakan ini disertai dengan penyerahan barang-barang magis atau

sejumlah uang kepada keluarga anak semula.

a hanya dikenal adopsi anak laki-laki

dengan

adalah di Indonesia yang berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak diatur dan tidak mengenal

lembaga pengangkatan anak, namun karena kebutuhan di lingkungan masyarakat

Tionghoa, yang terhadapnya berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, adopsi

atau pengangkatan anak diatur secara tersendiri dalam Staatsblad 1917 Nomor. 129.

Di lingkungan golongan penduduk Tiongho

motif untuk mendapatkan keturunan laki-laki. sebab rnenurut kepercayaan

yang hidup di lingkungan masyarakat Tionghoa, hanya anak laki-laki saja yang

berwenang memakai nama keluarga dengan maksud melanjutkan marganya, serta

melakukan upacara penghormatan kepada leluhurnya, karena perkembangan

masyarakat Staatsblad 1917 Nomor. 129 tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan

hukum masyarakat khususnya golongan Tionghoa. Golongan tersebut telah

meninggalkan adat istiadat di negara asalnya dan banyak mengikuti nilai-nilai yang

(40)

1945 yang tidak membenarkan adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Anak

wanita mempunyai derajat dan martabat yang sama dengan anak laki-laki.

Menurut Stb. 1917 Nomor 129 tentang Adopsi, bahwa akibat hukum dari

perbuatan adopsi sebagai berikut :

a. Sesuai dengan Pasal 11 bahwa anak adopsi secara hukum mempunyai nama

keturunan dan orang yang mengadopsi.48

b. Sesuai Pasal 12 ayat (1) bahwa anak adopsi dijadikan sebagai anak yang

ditahirkan dari orang yang mengadopsi. Konsekwensinya, anak adopsi,

t J.Satrio berkomentar, konsekwensi lebih lanjut

dudukan sebagai anak sah, dengan

ukumnya sebagai berikut ;

1.

menjadi ahli waris dari orang yang mengadopsi.49 Terhadap Pasal 12 tersebu

adalah bahwa karena dianggap dilahirkan dari perkawinan orang yang mengadopsi,

maka dalam keluarga adoptan, adoptandus berke

konsekwensinya lebih lanjut.50

Bila anak adopsi dianggap dilahirkan dari perkawinan orang tua angkat dan

adoptandus berkedudukan sebagai anak sah, maka akibat h

Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 maka akibat

hukumnya tunduk kepada Kitab Undang-undang Hukum Perdata, meliputi :

48

Pasal 11 berbunyi : “….bahwa dengan yang diadopsi, jika mempunyai keturunan lain daripada yang mengadopsinya sebagai anak laki-lakinya memperoleh keturunan dari orang yang mengadopsi sebagai ganti daripada nama keturunan orang yang diadopsinya itu.”

49

Bunyi pasal 12 ayat (1) yang menyatakan : bila orang-orang yang kawin mengadopsi seorang anak laki-laki, maka dianggap dilahirkan dari perkawinan mereka.

50

(41)

a. Kekuasaan orang tua terhadap pribadi anak, yaitu orang tua wajib memelihara

dan mendidik sekalian anak mereka yang belum dewasa (Pasal 298

g

n.

l ini hanya didasari atas motif

dekakan lalu diangkat

menjad

dengan penuh rasa tanggung jawab.

Pemeliharaan anak dianjurkan oleh Islam terutama memelihara anak yatim,

. Oleh karena itu perlu diperhatikan larangan Islam KUHPerdata) dan sepanjang perkawinan bapak dan ibu tiap-tiap anak sampai

ia menjadi dewasa, tetap dibawah kekuasaan orang tua sepanjang kekuasaan

orang tua belum dicabut (Pasal 299 KUH Perdata).

b. Kekuasaan orang tua terhadap harta kekayaan anak, yaitu terhadap anak yan

belum dewasa maka orang tua harus mengurus harta kekayaan anak itu (Pasal

307 KUH Perdata).

c. Hak dan kewajiban anak terhadap orang tua, yaitu tiap-tiap anak dalam umur

berapa pun wajib menaruh kehormatan dan keseganan terhadap bapak dan

ibunya serta berhak atas pemeliharaan dan pendidika

Pengangkatan anak merupakan sikap kerelaan dan ketulusan hati seseorang

untuk mengambil alih tanggung jawab pemeliharaan anak. Pada dasarnya Islam tidak

mengatur cara-cara pengangkatan anak, ha

pengangkatan anak yang mengacu kepada fungsi sosial.

Rasulullah SAW pernah mempunyai anak angkat yang bernama Zaid bin

Haritsah dalam status budak, setelah itu anak tersebut dimer

i anak angkatnya. Sebagai orang tua angkat, beliau memelihara, mengasuh dan

mendidiknya dengan penuh kasih sayang serta memperhatikan kesejahteraannya

(42)

seperti memutuskan hubungan nasab dengan orang tua kandung, menyamakan

pembagian harta warisan anak angkat dengan anak kandung dan menjadikan anak

angkat

aku itu dapat diukur dengan norma dan ukuran

yang p

ebut sudah ada sejak zaman nabi

Muham

ami syari'at Islam.

Pemah

sebagai budak yang tidak bermartabat.

Syari'ah Islam merupakan syari'ah yang universal, Al-Qur'an sebagai pokok

yang fundamental dalam syari'at Islam berisi ketentuan-ketentuan yang lengkap. Hal

Ini mencakup kesegenap bentuk tingkah laku manusia yang akan muncul dimasa

yang akan datang. Semua tingkah l

edomannya terdapat dalam AI-Qur'an. Dengan demikian garis hukum apapun

yang akan dibuat oleh manusia dapat diukur menurut Al-Qur 'an.

Ada tiga cara pendekatan untuk memahami Islam atau syari'at Islam, yakni

dengan pendekatan naqli atau tradisional, pendekatan aqli atau akal dan pendekatan

kasyfi atau mistik. Ketiga pendekatan ters

mad SAW, dan terus digunakan oleh ulama-ulama selanjutnya. Ketiga

pendekatan tersebut, salah satu diantaranya sangat berkembang dan berpengaruh, dan

pada masa yang lain menjadi berkurang, silih berganti secara pasang surut.51

Memperhatikan pernyataan di atas, suatu saat orang memahami syari 'at Islam

dengan mengutamakan naqli dari pada aqli dan sebaliknya, oleh karena itu

memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dalam memah

aman itu dapat berbeda antara lain karena nash syari 'at bersifat umum, dan

Hasballah Thaib, Memahami islam Secara rasional, (Medan : Program Pasca Sarjana USU, 1998), hal. 4

(43)

nash syari 'at itu mempunyai beberapa makna sehingga ada alternatif makna yang

terkandung dalam nash.

Memperhatikan pendapat Hasballah Thaib, maka nampak jelas pola pikir atau

paradigma yang menimbulkan atau terjadinya perbedaan mazhab dalam memahami

syari'at Islam, tidak terkecuali memahami nash yang berkenaan dengan

permasaalahan terhadap anak angkat.

2. Konsepsi

Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan

sebaga

itu untuk menjawab permasalahan dalam

i harus didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional

diperol

asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.

i usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang

disebut dengan operational definition.52 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu

istilah yang dipakai.53 Oleh karena penelitian in

eh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Selanjutnya sebagai pendefinisian konsepsi dalam tulisan ini adalah sebagai

berikut:

a. Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidup sehari-hari

biaya pendidikan dan sebagainnya beralih tanggung jawabnya dari orang tua

52

Sutan remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang bagi Para

Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta : Institut Bankir Indonesia, 1993), hal. 10

53

Tan Kamello, Perkembangan Lembaga Jaminan fidusia : Suatu Tinjauan Putusan

(44)

b. Hukum Kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak

pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang

ukum waris adat adalah aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang

, Di daerah

rbeda antara

mpunyai kemiripan dengan

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu

penelitian yang akan memaparkan dan mengkaji bagaimana peraturan

perundang-undangan yang berlaku dihubungkan dengan Kedudukan Anak Angkat Dalam

Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Barat, bagaimana

cara pengangkatan anak pada masyarakat Aceh, bagaimana hubungan hukum berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.

c. H

bagaimana harta peninggalan / harta warisan dapat diteruskan kepada ahli

waris dari suatu generasi kegenerasi berikutnya.

d. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang pluralistis dan terbuka

Nanggroe Aceh Darussalam ini terdapat 8 sub etnis, yaitu Aceh, Alas, Aneuk

Jamee, Gayo, Kluet, Simeulu, Singkil, dan Tamiang. kedelapan subetnis

tersebut mempunyai sejarah asal-usul dan budaya yang sangat be

satu dengan yang lain. Misalnya sub etnis Aneuk Jamee, menurut sejarahnya

merupakan pendatang yang berasal dari Sumatera Barat (etnis Minangkabau)

sehingga budaya sub etnis Aneuk Jamee me

(45)

antara anak angkat dan orang tua kandungnya pada masyarakat Aceh di

t, serta bagaimana hak mewaris dari anak angkat dalam

huk

2. Metode Pendekatan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bersifat

yuridis empiris. Metode yuridis empiris dipergunakan untuk mendapatkan jawaban

dari permasalahan dengan melihat berbagai aspek yang terdapat dalam masyarakat

yang berhubungan dengan Kedudukan Anak Angkat Dalam Hukum Waris Adat Pada

Masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Barat.

3. Sumber Data.

Data Penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data primer dan data

sekunder, yaitu :

a. Data Primer

Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh dari nara sumber yang dianggap

berkompeten untuk memberikan pendapat yang berhubungan dengan permasalahan

ini. Untuk mendukung data primer diperlukan informasi dari anggota masyarakat

engangkatan anak pada Kabupaten Aceh Barat, yang sampelnya

r diperoleh dengan studi kepustakaan dengan mempelajari:

1) Bahan hukum primer yaitu berupa Al-Qur'an dan Al-Hadist. Kabupaten Aceh Bara

um waris adat pada masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Barat.

yang melakukan p

berasal dari 4 (empat) Kelurahan

b. Data Sekunder

Referensi

Dokumen terkait

n'aka dapar dilihat bagaimsia pNduksi dari perdaaingd pada ka'nbiis kacdns... ih] a pemoto n!.' renra( kmbingkacaigditakuk.i pada saar

Tim Evaluator hanya akan melihat bukti – bukti pada folder yang relevan dan tidak akan mencari bukti pada folder lainnya. Pastikan bukti-bukti yang. disampaikan tersusun

Operasi crossover yang dilakukan pada kromosom dengan tujuan untuk memperoleh kromosom-kromosom baru sebagai kandidat solusi pada generasi mendatang dengan fitness

Judul Tesis : PENGARUH PERAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP PARTISIPASI IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI BAYI DI DESA WILAYAH PEGUNUNGAN KABUPATEN PIDIE JAYA PROVINSI ACEH TAHUN 2013

10,5 g/ha memiliki daya kendali yang berbeda dengan herbisida paraquat 900 g/ha dan penyiangan mekanis sehingga dapat diketahui bahwa herbisida 1,8-cineole tidak mampu menyamai

Volume penjualan yang dapat dihasilkan oleh kapasitas. usaha pada saat

HETODE

Mangunwijaya, yaitu: (1) Konflik antarkelas sosial yang meliputi: (a) konflik antara utusan ternate dengan kepala kampung dowing-jo, (b) konflik antara petinggi