Mewariskan Iman
2. Alexander Andries Maramis (1887-1977)
Maramis yang lahir di Manado pada Juni 1987 bersekolah di Hogere Burger School (Sekolah Lanjutan Tingkat Menengah) Kristen di Jakarta dan kuliah di Pendidikan Tinggi Hakim di Leiden, Belanda dan mendapatkan gelar
Sarjana Hukum. Pada tahun 1919 sejak masih menjadi mahasiswa, ia s u d a h m e n j a d i p e n g g e r a k semangat kebangsaan Indonesia dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia bagi para mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, d e n g a n t u j u a n m e n g g a l a n g persatuan untuk Kemerdekaan Indonesia. Ia juga menerbitkan buku yang isinya menggugat keabsahan Pemerintahan Hindia B e l a n d a s e c a r a h u k u m internasional.
Sebagai pelopor reformasi g e r e j a d i I n d o n e s i a y a n g memelopori berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, Maramis memiliki gagasan untuk memisahkan gereja dengan politik. Pada waktu itu gereja menyatu dengan pemerintah kolonial. Ide pemisahan yang mengkuduskan motivasi pelayanan gereja itu menimbulkan reaksi keras dari pihak Belanda. Namun Maramis justru membangkitkan semangat nasionalisme gereja Indonesia dengan visi gereja dalam k e b a n g s a a n , p o l i t i k n o n cooperatie, anti kerjasama dengan Belanda.
Maramis terlibat juga dalam persiapan kemerdekaan Indonesia dengan perannya dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang melalui badan ini telah menelorkan Pancasila
menjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Selain itu, ia juga terlibat dalam Panitia Sembilan yang bertugas untuk mencari modus kompromis antara golongan Islam dan golongan kebangsaan mengenai soal agama dan negara sampai diputuskannya pembukaan UUD 1945 yang menekankan semangat kesatuan dan persatuan b a n g s a d e n g a n t a n p a membubuhkan “tujuh kata” yang menekankan agama tertentu.
Peran penting Maramis pada masa perang kemerdekaan nyata dengan kiprahnya sebagai Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1948 tersebut Belanda melakukan agresi. Di saat yang semakin g e n t i n g , M o h a m m a d H a t t a memberi mandat kepadanya bersama Dr Soedarsono dan LN P a l a r u n t u k b e r s i a p - s i a p membentuk Pemerintahan RI di pengasingan (government in exile) di New Delhi, India. Pada masa-masa itu, Maramis juga merangkap tiga tugas sekaligus, sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Utama. Dengan multi kapasitas yang luar biasa, Maramis sebagai tokoh nasional di bidang hukum dan moneter yang telah menguasai beberapa bahasa, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Italia sehingga tak mengherankan jika kemudian ia ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Filipina,
Reserve Officer untuk membantu Belanda melawan Jepang. Ia juga turut serta dalam perang melawan Jepang di Ciater di Jawa Barat. Semasa pendudukan Jepang di Indonesia, ia bekerja di Chisitsu Chosajo (Jawatan Geologis) di Bandung. Ia bersama dengan R. Sunu Sumosusastro termasuk beberapa orang Indonesia yang diberi posisi dalam jawatan tersebut oleh Jepang dan pada September 1945, Presiden RI, Soekarno menginstruksikan untuk mengambil alih instansi-instansi pemerintahan dari Jepang. Lasut ikut serta dalam pengambilalihan jawatan geologis dari Jepang yang berhasil dilakukan secara damai. Jawatan itu kemudian dinamakan Jawatan Pertambangan dan Geologi. Kantor Jawatan terpaksa harus dipindah beberapa kali, antara lain ke Tasikmalaya, Magelang, dan Yogyakarta dari tempat semulanya di Bandung untuk menghindari agresi Belanda setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sekolah pelatihan geologis juga dibuka selama kepemimpinan Lasut, dan ia menjabat sebagai Kepala Jawatan saat itu. Lasut juga aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang b e r t u j u a n u n t u k m e m b e l a kemerdekaan Indonesia. Dia juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat, yang merupakan
awal mula dewan perwakilan di Indonesia.
B e l a n d a t e r u s m e n g i n c a r n y a k a r e n a p e n g e t a h u a n n y a t e n t a n g pertambangan dan geologi di Indonesia, tetapi Lasut tidak pernah mau bekerjasama dengan mereka. Pada pagi hari tanggal 7 Mei 1949, ia diambil oleh Belanda dari rumahnya dan dibawa ke Pakem sekitar tujuh kilometer di utara Yogyakarta dan ditembak mati. Beberapa bulan kemudian jenazahnya dipindahkan ke pekuburan Kristen Kintelan di Yogyakarta di samping isterinya yang lebih dulu meninggal pada bulan Desember 1947. Upacara penguburan dihadiri oleh Mr. Assaat, Penjabat Presiden pada m a s a p e m e r i n t a h a n R I d i Yogyakarta yang merupakan bagian dari RIS (Republik Indonesia Serikat). Akhirnya, Arie Frederik Lasut mendapat penghargaan Pahlawan Pembela Kemerdekaan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969.
2. Alexander Andries Maramis (1887-1977)
Maramis yang lahir di Manado pada Juni 1987 bersekolah di Hogere Burger School (Sekolah Lanjutan Tingkat Menengah) Kristen di Jakarta dan kuliah di Pendidikan Tinggi Hakim di Leiden, Belanda dan mendapatkan gelar
Sarjana Hukum. Pada tahun 1919 sejak masih menjadi mahasiswa, ia s u d a h m e n j a d i p e n g g e r a k semangat kebangsaan Indonesia dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia bagi para mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, d e n g a n t u j u a n m e n g g a l a n g persatuan untuk Kemerdekaan Indonesia. Ia juga menerbitkan buku yang isinya menggugat keabsahan Pemerintahan Hindia B e l a n d a s e c a r a h u k u m internasional.
Sebagai pelopor reformasi g e r e j a d i I n d o n e s i a y a n g memelopori berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, Maramis memiliki gagasan untuk memisahkan gereja dengan politik. Pada waktu itu gereja menyatu dengan pemerintah kolonial. Ide pemisahan yang mengkuduskan motivasi pelayanan gereja itu menimbulkan reaksi keras dari pihak Belanda. Namun Maramis justru membangkitkan semangat nasionalisme gereja Indonesia dengan visi gereja dalam k e b a n g s a a n , p o l i t i k n o n cooperatie, anti kerjasama dengan Belanda.
Maramis terlibat juga dalam persiapan kemerdekaan Indonesia dengan perannya dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang melalui badan ini telah menelorkan Pancasila
menjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Selain itu, ia juga terlibat dalam Panitia Sembilan yang bertugas untuk mencari modus kompromis antara golongan Islam dan golongan kebangsaan mengenai soal agama dan negara sampai diputuskannya pembukaan UUD 1945 yang menekankan semangat kesatuan dan persatuan b a n g s a d e n g a n t a n p a membubuhkan “tujuh kata” yang menekankan agama tertentu.
Peran penting Maramis pada masa perang kemerdekaan nyata dengan kiprahnya sebagai Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1948 tersebut Belanda melakukan agresi. Di saat yang semakin g e n t i n g , M o h a m m a d H a t t a memberi mandat kepadanya bersama Dr Soedarsono dan LN P a l a r u n t u k b e r s i a p - s i a p membentuk Pemerintahan RI di pengasingan (government in exile) di New Delhi, India. Pada masa-masa itu, Maramis juga merangkap tiga tugas sekaligus, sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Utama. Dengan multi kapasitas yang luar biasa, Maramis sebagai tokoh nasional di bidang hukum dan moneter yang telah menguasai beberapa bahasa, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Italia sehingga tak mengherankan jika kemudian ia ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Filipina,
Jerman Barat, dan Uni Sovyet. 3. Sam Ratulangi (1890-1949)
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan Sam Ratulangi adalah seorang putra Minahasa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan salah seorang perintis persatuan Indonesia. S e m a n g a t n a s i o n a l i s m e n y a tumbuh sejak bekerja di sebuah p e r u s a h a a n m i l i k p e n j a j a h Belanda. Setelah lulus dari Sekolah Teknik 'Koninginlijke Wilhelmina School' (KWS) jurusan mesin di Jakarta, ia bekerja pada bagian pembangunan kereta api di Pr i a n g a n S e l a t a n . S e b a g a i k a r y a w a n b u m i p u t e r a , i a diperlakukan tidak adil dan itu sangat menyinggung perasaannya. Ia pun keluar dari perusahaan itu dan melanjutkan pendidikan d e n g a n m a k s u d m e l e b i h i kemampuan orang Belanda dalam penguasaan IPTEK. Pada tahun 1913 ia berhasil memperoleh Middlebare Akte Wiskunde en P a e d a g o g i e k ( I j a z a h u n t u k m e n g a j a r I l m u P a s t i d a n pendidikan di Sekolah Menengah) di Amsterdam. Setelah itu ia belajar ilmu pasti di Vrije Universiteit, Amsterdam.
S a m R a t u l a n g i m e n g g e r a k k a n s e m a n g a t kebangsaan para mahasiswa I n d o n e s i a
semasa ia menjadi mahasiswa di perantauan. Para anggota dalam Indische Vereniging (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia, kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia) d i g e r a k k a n n y a u n t u k memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemampuannya sebagai pemimpin ternyata luar biasa. Pada tahun 1915 ia melanjutkan pendidikan di Zurich. Dengan kecakapannya telah mengantar dirinya menjadi Ketua Gabungan Mahasiswa Negara-negara Asia. Bahkan ia juga berhasil meraih gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr.Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zurich tersebut pada tahun 1919. Setelah itu ia kembali ke Indonesia dan segera menggerakkan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1922 di Bandung, ia bersama dr. Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, Ir. C r a m w e r d a n l a i n - l a i n mengadakan rapat umum untuk mempropagandakan pemerintah s e n d i r i b a g i b a n g s a Indonesia.Selanjutnya, pada tahun 1924, Ratulangi menjadi sekretaris Minahasa Raad dan berhasil menghapuskan kerja paksa (rodi). Sebagai anggota Volksraad (1927-1937), ia sering mengkritik politik pemerintahan Belanda yang cenderung selalu merugikan rakyat Indonesia. Ia juga berjuang dengan senjata pena. Periode tahun 1938-1 9 4 2 i a m e n e r b i t k a n d a n
memimpin majalah Mingguan Politik Nationale Commentaren dan banyak menulis tentang visi kemerdekaan Indonesia. Pada jaman pendudukan Jepang, Ratulangi mendirikan organisasi Sumber Darah Rakyat (Sudara) untuk menyadarkan rakyat tentang kedudukan Jepang yang semakin terjepit dan memberikan jaminan bahwa Indonesia dapat merebut kemerdekaan dari Jepang. Ia juga memainkan peran penting dalam kemerdekaan RI yakni menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI, ia menjadi anggota PPKI (Panitia P e r s i a p a n K e m e r d e k a a n Indonesia). Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi Gubernur Sulawesi dengan kedudukan di Makassar (Ujungpandang).
Ratulangi telah berjuang untuk mempertahankan Sulawesi supaya tidak terpisah dari NKRI. Tanggal 55 April 1946, ia ditangkap o l e h B e l a n d a k e m u d i a n i a dipenjarakan di Ujungpandang, dan dibuang ke Srui (Irian). Ia baru
dibebaskan pada tahun 1948 setelah terjadi perundingan Renville. Selain itu, ia dan Johanes L a t u h a r h a r y t e l a h memperjuangkan supaya Dasar Negara RI (Pancasila) dalam Pembukaan UUD 1945 tidak ditambahi dengan “tujuh kata” yang menekankan agama tertentu. Usul itu ternyata disepakati oleh tokoh-tokoh nasional lainnya yaitu K i B a g u s H a d i k u s u m o (Muhammadiyah), KH Wahid H a s y i m ( N U ) , K a s m a n Singodimedjo (Masyumi), dan Te u k u H a s a n . D e m i k i a n l a h kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dibangun dengan begitu kuat tanpa membeda-bedakan agama.
Semangat perjuangan tokoh nasional ini dalam mencapai kemerdekaan dapat memberikan semangat patriotisme yang mendorong kita semua untuk mengisi kemerdekaan dengan karya-karya kita bagi negeri Indonesia tercinta. Merdeka!
Sumber :
1.
http://christiancitizenship.wordpress.com/category/l-tokoh-kristen-ri/
2. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3452851&page=6
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Arie_Frederik_Lasut
Jerman Barat, dan Uni Sovyet. 3. Sam Ratulangi (1890-1949)
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan Sam Ratulangi adalah seorang putra Minahasa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan salah seorang perintis persatuan Indonesia. S e m a n g a t n a s i o n a l i s m e n y a tumbuh sejak bekerja di sebuah p e r u s a h a a n m i l i k p e n j a j a h Belanda. Setelah lulus dari Sekolah Teknik 'Koninginlijke Wilhelmina School' (KWS) jurusan mesin di Jakarta, ia bekerja pada bagian pembangunan kereta api di Pr i a n g a n S e l a t a n . S e b a g a i k a r y a w a n b u m i p u t e r a , i a diperlakukan tidak adil dan itu sangat menyinggung perasaannya. Ia pun keluar dari perusahaan itu dan melanjutkan pendidikan d e n g a n m a k s u d m e l e b i h i kemampuan orang Belanda dalam penguasaan IPTEK. Pada tahun 1913 ia berhasil memperoleh Middlebare Akte Wiskunde en P a e d a g o g i e k ( I j a z a h u n t u k m e n g a j a r I l m u P a s t i d a n pendidikan di Sekolah Menengah) di Amsterdam. Setelah itu ia belajar ilmu pasti di Vrije Universiteit, Amsterdam.
S a m R a t u l a n g i m e n g g e r a k k a n s e m a n g a t kebangsaan para mahasiswa I n d o n e s i a
semasa ia menjadi mahasiswa di perantauan. Para anggota dalam Indische Vereniging (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia, kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia) d i g e r a k k a n n y a u n t u k memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemampuannya sebagai pemimpin ternyata luar biasa. Pada tahun 1915 ia melanjutkan pendidikan di Zurich. Dengan kecakapannya telah mengantar dirinya menjadi Ketua Gabungan Mahasiswa Negara-negara Asia. Bahkan ia juga berhasil meraih gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr.Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zurich tersebut pada tahun 1919. Setelah itu ia kembali ke Indonesia dan segera menggerakkan perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1922 di Bandung, ia bersama dr. Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, Ir. C r a m w e r d a n l a i n - l a i n mengadakan rapat umum untuk mempropagandakan pemerintah s e n d i r i b a g i b a n g s a Indonesia.Selanjutnya, pada tahun 1924, Ratulangi menjadi sekretaris Minahasa Raad dan berhasil menghapuskan kerja paksa (rodi). Sebagai anggota Volksraad (1927-1937), ia sering mengkritik politik pemerintahan Belanda yang cenderung selalu merugikan rakyat Indonesia. Ia juga berjuang dengan senjata pena. Periode tahun 1938-1 9 4 2 i a m e n e r b i t k a n d a n
memimpin majalah Mingguan Politik Nationale Commentaren dan banyak menulis tentang visi kemerdekaan Indonesia. Pada jaman pendudukan Jepang, Ratulangi mendirikan organisasi Sumber Darah Rakyat (Sudara) untuk menyadarkan rakyat tentang kedudukan Jepang yang semakin terjepit dan memberikan jaminan bahwa Indonesia dapat merebut kemerdekaan dari Jepang. Ia juga memainkan peran penting dalam kemerdekaan RI yakni menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI, ia menjadi anggota PPKI (Panitia P e r s i a p a n K e m e r d e k a a n Indonesia). Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi Gubernur Sulawesi dengan kedudukan di Makassar (Ujungpandang).
Ratulangi telah berjuang untuk mempertahankan Sulawesi supaya tidak terpisah dari NKRI. Tanggal 55 April 1946, ia ditangkap o l e h B e l a n d a k e m u d i a n i a dipenjarakan di Ujungpandang, dan dibuang ke Srui (Irian). Ia baru
dibebaskan pada tahun 1948 setelah terjadi perundingan Renville. Selain itu, ia dan Johanes L a t u h a r h a r y t e l a h memperjuangkan supaya Dasar Negara RI (Pancasila) dalam Pembukaan UUD 1945 tidak ditambahi dengan “tujuh kata” yang menekankan agama tertentu. Usul itu ternyata disepakati oleh tokoh-tokoh nasional lainnya yaitu K i B a g u s H a d i k u s u m o (Muhammadiyah), KH Wahid H a s y i m ( N U ) , K a s m a n Singodimedjo (Masyumi), dan Te u k u H a s a n . D e m i k i a n l a h kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dibangun dengan begitu kuat tanpa membeda-bedakan agama.
Semangat perjuangan tokoh nasional ini dalam mencapai kemerdekaan dapat memberikan semangat patriotisme yang mendorong kita semua untuk mengisi kemerdekaan dengan karya-karya kita bagi negeri Indonesia tercinta. Merdeka!
Sumber :
1.
http://christiancitizenship.wordpress.com/category/l-tokoh-kristen-ri/
2. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3452851&page=6
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Arie_Frederik_Lasut
goncang. Suster segera mengambil tindakan dengan mencek gula darah dan ECG jantung. Hasilnya semua normal. Namun tubuh saya masih tergoncang hebat disertai sesak nafas. Keluarga yang mendampingi saya mulai bingung karena saya berteriak-teriak dan tangan kanan saya terus bergerak dengan keras. Tiap kali dipegang saya berusaha melepaskan dan kembali bergerak dengan keras. Sebenarnya saat itu walaupun mata saya terpejam, saya tahu kejadian di sekeliling. Dalam keadaan seperti itu, saya mendapat penglihatan. Saya melihat mama dan papa saya yang sudah dipanggil Tuhan memakai baju putih, mereka hanya diam sambil memandangi saya. Saya juga melihat Tuhan Yesus memeluk saya dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa sehingga saya menangis dan berteriak-teriak, “Tuhan Yesus, aku mau ikut Engkau”. Kakak-kakak saya semakin panik mendengar teriakan saya. Mereka mengira saya akan meninggal dunia. Kejadian itu berlangsung sekitar 1,5 jam. Setelah itu mata saya terbuka dan tangan kanan saya berhenti bergerak, lalu saya turun dari tempat tidur untuk buang air kecil. Kemudian saya ditawari makan dan sungguh ajaib, makanan yang sama yang semula saya tolak karena mual bisa masuk ke dalam perut tanpa mual lagi dan saya juga bisa mandi sendiri. Rupanya ini cara Tuhan mempersiapkan saya untuk menjalani operasi, karena sejak saat itu hingga menjelang operasi rasa mual benar-benar hilang dan tidak pernah muntah lagi.
Tanggal 12 Mei 2012 dokter mengatakan kistanya berukuran 15 cm dan memang berada di indung telur sebelah kiri sehingga indung telur harus diangkat. Selain itu dokter mengatakan apabila setelah dioperasi kista diperiksa dan hasilnya ganas maka kandungan harus diangkat. Dokter juga menyatakan keprihatinannya mengingat saya belum menikah. Akhirnya pada tanggal 19 Mei 2012 operasi dilaksanakan. Dengan kekuatan, penghiburan dan doa dari Bapak dan Ibu Gembala, rekan-rekan rohaniwan, para jemaat dan tentunya tangan Tuhan sendiri yang menolong, operasi berjalan dengan lancar. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebaikan-Nya. Walau indung telur sebelah kiri diambil, namun setelah dicek indung telur sebelah kanan dalam keadaan baik dan puji Tuhan hasil laboratorium menunjukkan kalau kistanya juga tidak ganas dan tanggal 21 Mei 2012 saya sudah diizinkan pulang ke rumah. Amin.
Bulan April 2012 saya merasakan perut saya sakit sehingga saya putuskan untuk ke dokter. Prediksi dokter ketika itu adalah kejang otot perut. Setelah diberi obat, saya merasa fit. Namun
tidak lama, perut saya kembali sakit. Kali ini dokter memperediksi ada gangguan pada saluran kencing. Setelah diberi obat, saya merasa baik kembali. Tetapi sakit itu kambuh lagi sehingga saya memutuskan ke dokter kembali dan juga dipijat dua kali karena saya mengira kandung kemih saya turun (bhs Jawa: peh
medun). Bulan berikutnya, kondisi tubuh semakin tidak menentu,
mual yang berlebihan disertai muntah terus menerus. Tanggal 5 Mei 2012 saya dirawat di rumah sakit dan di USG. Betapa terkejutnya saya, karena ternyata ada kista di perut sebelah kiri sekitar 13,7 cm dan harus dioperasi.
Saya teringat setahun yang lalu, tanggal 26 April 2011 saya telah menjalani operasi. Saat itu dokter mengatakan usus buntu harus diambil (perut sebelah kanan). Setelah dioperasi dokter mengatakan ada kista pecah di dalamnya. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan. Dari hasil laboratorium dinyatakan kistanya jinak. Menurut beberapa orang, kista yang sudah pecah sangat berbahaya karena bisa melengketkan organ-organ dalam tubuh bahkan bisa menyebabkan kematian. Sebulan pasca operasi saya kembali cek ke dokter karena merasa perut bagian kiri sakit, namun dokter mengatakan bersih, tidak ada kista dan kandungan bagus.
Ternyata tahun ini, kista muncul dengan tiba-tiba dan sudah membesar. Hasil CT Scan dinyatakan ada kista dalam indung telur sebelah kiri. Namun operasi belum bisa dilakukan karena saya masih mual dan muntah yang dapat mengakibatkan terjadinya pendarahan lambung. Tanggal 7 Mei 2012, dari pk. 08.00–pk.12.30 rasa mual mulai menyerang disertai muntah tiada henti hingga terjadi kontraksi yang hebat pada tubuh saya sampai