Enam puluh tujuh tahun sudah bangsa kita merdeka dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan tersebut merupakan karunia Allah bagi kita. Di dalam merebut kemerdekaan itu ada banyak orang yang rela mengorbankan nyawanya. Mereka adalah para pahlawan bangsa. Mereka saling bahu membahu, tanpa melihat perbedaan suku, kelompok, dan agama, untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Tentu patut disayangkan apabila hasil pengorbanan mereka kemudian kita nodai dengan kemalasan, ketidakjujuran, keangkaramurkaan, dan kekacauan.
Negeri yang dilimpahi Tuhan dengan kekayaan ini harus sepenuhnya kita garap dengan penuh iman. Kita bisa menabur benih, tetapi Tuhan yang menumbuhkan. Kita bisa bekerja keras, tetapi Tuhan yang membuat segalanya berhasil. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bukan mengandalkan pada kekayaan alam itu sendiri, melainkan yang mengandalkan Tuhan – Sang pencipta alam.
Mari kita memperkatakan kata-kata iman, yang baik dan positif bagi bangsa dan negara kita. Kita percaya bahwa hari esok pasti lebih baik daripada hari ini … Dirgahayu Indonesiaku! Jayalah negeriku, sejahteralah bangsaku!
Pahlawan Iman
Redaksi Sinar Kasih mengucapkan terima kasih atas persembahan yang telah diberikan oleh pembaca yang budiman. Perlu Saudara ketahui bahwa persembahan yang Saudara berikan sangat bermanfaat untuk mendukung pelayanan Sinar Kasih bagi hamba-hamba Tuhan yang melayani di daerah-daerah yang sulit mendapatkan buku renungan harian. Apabila Saudara rindu untuk mendukung pelayanan tersebut,
Saudara dapat mengirimkannya melalui wesel pos ke Redaksi Sinar Kasih, Jl. Pringgading 13 Semarang - 50135, atau transfer melalui BCA KCP
Bangkong a/n Bambang Santoso atau Lydia Lianawati No. A/C 7830340381. Tuhan Yesus Kristus membalas setiap dukungan doa dan dana Saudara
dengan berkat-Nya yang melimpah.
Semarang, 1 Agustus 2012
Penasihat : Pdt. Indrawan Eleeas, Budhi Wibowo Pemimpin Redaksi : Lydia Lianawati Redaktur Pelaksana : Pdt. Petrus F. Setiadarma, Pdt. Lukas Budijana, Pdt. Agus Sutrisno, Pdt. Anon D. Lukito Sekretaris : Bibit Gunawan Bendahara : Bambang Santoso Penulis : Pdt. Indrawan Eleeas (IE), Pdt. Petrus F.S. (PF), Pdt. Lukas Budijana (LB), Pdt. Anon Dwi Lukito (ADL), Pdt. Agus Sutrisno (AS), Pdt. Sudra Militanto (SM), Pdt. Lie Yun Ling (YL), Leny Pancaningrum (LP), Imeiliana (MI), Lydia Lianawati (LL), Pdt. Dedy Irianto (DI), Teng Yoe Hong (YH) Desain Grafis/Layout :
Rahelia Linda Pengganti ongkos cetak : Rp 4000,-
email : renungan _sk@yaho o.com webs ite : www .sinarkas ih.net Ruang T anya J awab :
sinarkasihsm ash@gma il.com Jl. Pringgading 13 Semarang-50135 Telp. 024-3540563 Fax. 024-3559861
Harga berlangganan untuk satu eksemplar (termasuk ongkos kirim): Jawa dan Bali : 6 bulan Rp 33.000,- 12 bulan Rp 65.000,-Luar Jawa : 6 bulan Rp 36.000,- 12 bulan Rp 71.000,-Pembayaran dapat melalui:
Wesel Pos : Redaksi SINAR KASIH
Jl. Pringgading 13 Semarang, 50135
Bank : BCA KCP Bangkong a/n Bambang Santoso atau Lydia Lianawati No. A/C 7830340381
Untuk mempermudah proses berlangganan, bukti pembayaran dan formulir berlangganan harap di-fax ke (024)3559861, atau dikirim via pos.
Renungan Sinar Kasih akan segera dikirimkan selambatnya 1 bulan setelah bukti pengiriman biaya berlangganan kami terima.
Tanda tangan pelanggan
(_____________________)
Harap diisi dengan huruf cetak
Nama : _____________________________________________ Alamat : _____________________________________________ _____________________________________________ Kota & Kode Pos : _____________________________________________ Telepon/HP : _____________________________________________
Iman dan ketaatan kepada Tuhan tak dapat
dipisahkan.
Agar setiap orang percaya sungguh-sungguh hidup
beriman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ibrani 11:1 Ibrani 11:1-6
Kita sering
mendengarkan banyak ungkapan tentang iman,
misalnya, “kita hidup karena iman”; “kita menghadapi semua
tantangan hidup dengan iman”; “jadilah menurut imanmu”; “iman
tanpa perbuatan adalah mati.” Apa sebenarnya definisi iman?
Dalam keseluruhan surat Ibrani pasal 11 ini terkandung makna
tentang iman, namun ada dua kata yang menggambarkan tentang
definisi iman. Dua hal tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama,
iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita
harapkan. Artinya jika kita beriman, kita memiliki kepercayan yang
pasti bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya. “Harapan” bagi
setiap orang percaya merupakan suatu keinginan berdasarkan pada
karakter Tuhan yang bisa dipercaya.
Kedua,
iman adalah bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat.
Artinya jika kita beriman, kita percaya/yakin dalam kenyataan
yang ada tentang sesuatu walaupun kita belum melihat, merasa,
mendengar atau pun menyentuhnya. Sesuatu yang tidak kita lihat
termasuk di antaranya adalah kehidupan yang kekal, upah yang
akan datang, sorga, dan lain-lain. Jika Tuhan telah berjanji, maka Ia
memenuhi janji-janji-Nya walaupun kita diizinkan menghadapi
kesulitan, penganiayaan, perlawanan dan cobaan.
Ada hubungan yang menyatu antara iman dan ketaatan. Iman
yang menyelamatkan menyatu dengan ketaatan kepada Tuhan.
Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya memiliki iman yang
benar dan semakin kuat. Apakah kehidupan iman Saudara sudah
seperti yang Allah kehendaki?
(AS)Yesaya 21-23 Bacaan Alkitab Setahun
rabu, 1 agustus 2012
Definisi Iman
D
O
A
r e n u n g aHarga berlangganan untuk satu eksemplar (termasuk ongkos kirim): Jawa dan Bali : 6 bulan Rp 33.000,- 12 bulan Rp 65.000,-Luar Jawa : 6 bulan Rp 36.000,- 12 bulan Rp 71.000,-Pembayaran dapat melalui:
Wesel Pos : Redaksi SINAR KASIH
Jl. Pringgading 13 Semarang, 50135
Bank : BCA KCP Bangkong a/n Bambang Santoso atau Lydia Lianawati No. A/C 7830340381
Untuk mempermudah proses berlangganan, bukti pembayaran dan formulir berlangganan harap di-fax ke (024)3559861, atau dikirim via pos.
Renungan Sinar Kasih akan segera dikirimkan selambatnya 1 bulan setelah bukti pengiriman biaya berlangganan kami terima.
Tanda tangan pelanggan
(_____________________)
Harap diisi dengan huruf cetak
Nama : _____________________________________________ Alamat : _____________________________________________ _____________________________________________ Kota & Kode Pos : _____________________________________________ Telepon/HP : _____________________________________________
Iman dan ketaatan kepada Tuhan tak dapat
dipisahkan.
Agar setiap orang percaya sungguh-sungguh hidup
beriman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ibrani 11:1 Ibrani 11:1-6
Kita sering
mendengarkan banyak ungkapan tentang iman,
misalnya, “kita hidup karena iman”; “kita menghadapi semua
tantangan hidup dengan iman”; “jadilah menurut imanmu”; “iman
tanpa perbuatan adalah mati.” Apa sebenarnya definisi iman?
Dalam keseluruhan surat Ibrani pasal 11 ini terkandung makna
tentang iman, namun ada dua kata yang menggambarkan tentang
definisi iman. Dua hal tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama,
iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita
harapkan. Artinya jika kita beriman, kita memiliki kepercayan yang
pasti bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya. “Harapan” bagi
setiap orang percaya merupakan suatu keinginan berdasarkan pada
karakter Tuhan yang bisa dipercaya.
Kedua,
iman adalah bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat.
Artinya jika kita beriman, kita percaya/yakin dalam kenyataan
yang ada tentang sesuatu walaupun kita belum melihat, merasa,
mendengar atau pun menyentuhnya. Sesuatu yang tidak kita lihat
termasuk di antaranya adalah kehidupan yang kekal, upah yang
akan datang, sorga, dan lain-lain. Jika Tuhan telah berjanji, maka Ia
memenuhi janji-janji-Nya walaupun kita diizinkan menghadapi
kesulitan, penganiayaan, perlawanan dan cobaan.
Ada hubungan yang menyatu antara iman dan ketaatan. Iman
yang menyelamatkan menyatu dengan ketaatan kepada Tuhan.
Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya memiliki iman yang
benar dan semakin kuat. Apakah kehidupan iman Saudara sudah
seperti yang Allah kehendaki?
(AS)Yesaya 21-23 Bacaan Alkitab Setahun
rabu, 1 agustus 2012
Definisi Iman
D
O
A
r e n u n g aPada zaman Nuh, manusia hidup dalam kejahatan. Bumi telah rusak dan penuh kekerasan. Sungguh mengerikan! Hal tersebut sangat memilukan hati Tuhan dan Ia menyesal telah menjadikan manusia. Tetapi Nuh tidak terpengaruh oleh orang-orang di sekelilingnya, sehingga Ia dipuji sebagai orang yang benar, tidak bercela dan bergaul dengan Allah. Itu pula sebabnya ia dipilih Allah untuk melaksanakan rencana-Nya yaitu menghapus manusia dari muka bumi dengan air bah. Seperti apakah iman Nuh sehingga ia masuk dalam daftar pahlawan iman seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:7?
Yang pertama, Nuh percaya saja dan taat pada perintah Tuhan ketika disuruh membuat bahtera yang sangat besar. Tidak ada penolakan atau perdebatan yang keluar dari lidah bibirnya. Kedua, Nuh memperhatikan firman Tuhan dengan seksama sehingga ia dapat membuat bahtera itu tepat seperti yang dikehendaki Tuhan. Ketiga, Nuh siap menerima ejekan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Jika kita pikir, buat apa membuat bahtera begitu besar sementara jumlah keluarganya hanya delapan orang. Tetapi ia tidak peduli apa kata orang. Keempat, dengan penuh kesabaran ia membuat bahtera dan menantikan datangnya air bah. Diperkirakan air bah terjadi setelah 120 tahun sejak Tuhan berfirman kepada Nuh. Dengan imannya ia dapat melihat sesuatu yang belum kelihatan. Waktu menjadi alat untuk membuktikan apakah seseorang itu tetap sabar dan setia menunggu sampai tiba waktunya.
Mari kita meneladani iman Nuh, agar kita juga mendapat pujian seperti yang dikatakan Tuhan, “engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang-orang zaman ini”(Kejadian 7:1). (LL)
Zaman Nuh berulang lagi di akhir zaman ini,
hati-hatilah!
Jagalah hatiku ya Tuhan dari segala bentuk
kejahatan.
Karena iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan-dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamat-kan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia diten-tukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. Ibrani 11:7
Iman Nuh
Kejadian 6:13-22 Yesaya 24-26Bacaan Alkitab Setahun kamis, 2 agustus 2012
Hanya di dalam kebenaran Tuhan, iman kita akan
bertumbuh.
Orang-orang yang tidak mempedulikan kehidupan iman,
supaya sadar akan pentingnya iman dalam hidup sehari-hari. Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4:15
Iman Yang Bertumbuh
Matius 13:31-35Kehidupan yang kita jalani bukan hanya sekedar kehidupan jasmaniah saja, melainkan juga kehidupan rohaniah. Kalau kehidupan jasmani kita perhatikan dengan baik, maka akan terjadi keseimbangan yang baik antara pertumbuhan dengan kekuatan fisik. Demikian pula dengan kehidupan rohani, semakin kuat kerohanian seseorang, maka kuat pula mental dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu kerohanian perlu kita pelihara agar iman semakin bertumbuh.
Ketika Tuhan Yesus berada di tepi pantai Galilea, Ia mengajar mengenai pentingnya pertumbuhan iman melalui banyak perumpamaan. Tentu hal ini Ia lakukan supaya murid-murid-Nya lebih mudah memahami pengajaran-Nya. Salah satu perumpamaan itu adalah tentang biji sesawi. Biji sesawi yang kecil dengan sengaja dipakai oleh Tuhan Yesus sebagai gambaran benih iman yang tidak mudah untuk dilihat dan tantangan yang menghalanginya untuk bertumbuh. Namun ketika iman itu sungguh-sungguh dipelihara dengan baik lalu hidup dan bertumbuh, maka iman akan menjadi besar dan kuat bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan yang lain. Setelah pohon ini menjadi besar, ia bukan hanya memberi kehidupan untuk dirinya sendiri, melainkan juga memberi kehidupan makhluk yang ada di sekitarnya.
Melalui perumpamaan di atas Tuhan Yesus, Sang Kebenaran mengajar kita supaya iman kita terus bertumbuh. Dengan demikian kehidupan rohani kita semakin kuat dalam menghadapi pergumulan hidup yang tidak semakin ringan dan supaya hidup kita memiliki arti serta menjadi berkat bagi kehidupan banyak orang. (ADL)
Yesaya 27-29 Bacaan Alkitab Setahun
jumat, 3 agustus 2012
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aPada zaman Nuh, manusia hidup dalam kejahatan. Bumi telah rusak dan penuh kekerasan. Sungguh mengerikan! Hal tersebut sangat memilukan hati Tuhan dan Ia menyesal telah menjadikan manusia. Tetapi Nuh tidak terpengaruh oleh orang-orang di sekelilingnya, sehingga Ia dipuji sebagai orang yang benar, tidak bercela dan bergaul dengan Allah. Itu pula sebabnya ia dipilih Allah untuk melaksanakan rencana-Nya yaitu menghapus manusia dari muka bumi dengan air bah. Seperti apakah iman Nuh sehingga ia masuk dalam daftar pahlawan iman seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:7?
Yang pertama, Nuh percaya saja dan taat pada perintah Tuhan ketika disuruh membuat bahtera yang sangat besar. Tidak ada penolakan atau perdebatan yang keluar dari lidah bibirnya. Kedua, Nuh memperhatikan firman Tuhan dengan seksama sehingga ia dapat membuat bahtera itu tepat seperti yang dikehendaki Tuhan. Ketiga, Nuh siap menerima ejekan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Jika kita pikir, buat apa membuat bahtera begitu besar sementara jumlah keluarganya hanya delapan orang. Tetapi ia tidak peduli apa kata orang. Keempat, dengan penuh kesabaran ia membuat bahtera dan menantikan datangnya air bah. Diperkirakan air bah terjadi setelah 120 tahun sejak Tuhan berfirman kepada Nuh. Dengan imannya ia dapat melihat sesuatu yang belum kelihatan. Waktu menjadi alat untuk membuktikan apakah seseorang itu tetap sabar dan setia menunggu sampai tiba waktunya.
Mari kita meneladani iman Nuh, agar kita juga mendapat pujian seperti yang dikatakan Tuhan, “engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang-orang zaman ini”(Kejadian 7:1). (LL)
Zaman Nuh berulang lagi di akhir zaman ini,
hati-hatilah!
Jagalah hatiku ya Tuhan dari segala bentuk
kejahatan.
Karena iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan-dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamat-kan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia diten-tukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. Ibrani 11:7
Iman Nuh
Kejadian 6:13-22 Yesaya 24-26Bacaan Alkitab Setahun kamis, 2 agustus 2012
Hanya di dalam kebenaran Tuhan, iman kita akan
bertumbuh.
Orang-orang yang tidak mempedulikan kehidupan iman,
supaya sadar akan pentingnya iman dalam hidup sehari-hari. Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4:15
Iman Yang Bertumbuh
Matius 13:31-35Kehidupan yang kita jalani bukan hanya sekedar kehidupan jasmaniah saja, melainkan juga kehidupan rohaniah. Kalau kehidupan jasmani kita perhatikan dengan baik, maka akan terjadi keseimbangan yang baik antara pertumbuhan dengan kekuatan fisik. Demikian pula dengan kehidupan rohani, semakin kuat kerohanian seseorang, maka kuat pula mental dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu kerohanian perlu kita pelihara agar iman semakin bertumbuh.
Ketika Tuhan Yesus berada di tepi pantai Galilea, Ia mengajar mengenai pentingnya pertumbuhan iman melalui banyak perumpamaan. Tentu hal ini Ia lakukan supaya murid-murid-Nya lebih mudah memahami pengajaran-Nya. Salah satu perumpamaan itu adalah tentang biji sesawi. Biji sesawi yang kecil dengan sengaja dipakai oleh Tuhan Yesus sebagai gambaran benih iman yang tidak mudah untuk dilihat dan tantangan yang menghalanginya untuk bertumbuh. Namun ketika iman itu sungguh-sungguh dipelihara dengan baik lalu hidup dan bertumbuh, maka iman akan menjadi besar dan kuat bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan yang lain. Setelah pohon ini menjadi besar, ia bukan hanya memberi kehidupan untuk dirinya sendiri, melainkan juga memberi kehidupan makhluk yang ada di sekitarnya.
Melalui perumpamaan di atas Tuhan Yesus, Sang Kebenaran mengajar kita supaya iman kita terus bertumbuh. Dengan demikian kehidupan rohani kita semakin kuat dalam menghadapi pergumulan hidup yang tidak semakin ringan dan supaya hidup kita memiliki arti serta menjadi berkat bagi kehidupan banyak orang. (ADL)
Yesaya 27-29 Bacaan Alkitab Setahun
jumat, 3 agustus 2012
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aPada umumnya ketika seorang atlit berhasil meraih prestasi terbaiknya dalam suatu perlombaan atau pertandingan, didatangi wartawan yang menanyakan rahasia keberhasilannya tersebut. Jawabannya beragam, yang intinya ada banyak faktor penyebab keberhasilannya. Namun semua faktor penyebab itu merupakan satu kesatuan yang menjadi pusat atau fokus persiapannya untuk menjadi pemenang.
Gambaran yang dipaparkan oleh penulis Surat Ibrani adalah mengenai lomba lari estafet. Bagaimana cara atlit pelari estafet bisa – secara tim – memperoleh kemenangan? Pertama, karena mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lebih baik yang tersedia bagi mereka (Ibrani 11:40a). Kedua, karena melihat bahwa dirinya sebagai orang penting yang ikut menentukan kemenangan. Tanpa kesungguhan pelari berikutnya, maka upaya pelari sebelumnya menjadi sia-sia (Ibrani 11:40b). Ketiga, karena sadar bahwa ada banyak penonton atau saksi yang melihat sepak terjangnya. Keempat, karena mau menanggalkan beban. Kelima, menjalani perlombaan dengan tekun (Ibrani 12:1).
Keenam, berfokus pada tujuan (Ibrani 12:2).
Mari kita jadikan keenam hal di atas sebagai gambaran pusat iman kita untuk memperoleh kemenangan: adanya mahkota kemuliaan yang Tuhan telah sediakan bagi kita; adanya kesadaran bahwa para pahlawan iman sebelum kita tidak sempurna tanpa kita; status kita sebagai surat yang terbuka di hadapan banyak orang (2 Korintus 3:2); adanya kesungguhan hati dalam mengikut Tuhan kita Yesus Kristus; perlunya ketekunan dalam pengiringan kita; dan fokus utama kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri. (PF)
Pusat iman adalah Yesus Kristus saja, bukan yang
lain.
Kedewasaan rohani semua orang percaya. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada
Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Ibrani 12:2
Pusat Iman
Ibrani 11:40-12:17sabtu, 4 agustus 2012
Yesaya 30-32
Bacaan Alkitab Setahun minggu, 5 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 33-35
Bertindak dengan iman, raih kemenangan yang
Tuhan sediakan.
Orang-orang Kristen bangkit dari kemalasan dan
berjuang dalam kerja. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan
tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati. 2 Raja-Raja 7:4b
Berani Bertindak
2 Raja-Raja 7:1-11Kemiskinan bisa terjadi karena seseorang hanya berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu. Ada ungkapan berkata: “Jikalau anda dilahirkan miskin, bukan salah anda. Namun jikalu anda mati dalam keadaan miskin itu salah anda sendiri.” Tidak cukup seseorang berdoa saja, tetapi perlu juga memiliki keberanian untuk bertindak. Jadi iman diperlukan saat berdoa, tetapi juga harus dimiliki agar kita berani bertindak.
Nabi Elisa sudah menyampaikan firman Tuhan bahwa keadaan akan segera berubah dari kondisi bangsa yang mengalami bencana kelaparan menjadi bangsa yang akan menerima berkat berkelimpahan. Reaksi sebagian orang menertawakan dan tidak percaya sama sekali, sebagian lagi acuh tak acuh terhadap perkataan firman Tuhan dan tidak berbuat apa-apa.
Namun saat itu ada empat orang yang sakit kusta berada di depan pintu gerbang. Mereka sadar bahwa kondisi memang sulit, dan bisa berakibat kematian. Duduk-duduk saja tidak membawa hasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk bangkit dari tempatnya dan mendatangi perkemahan tentara Aram. Mereka berani bertindak mengadu nasibnya. Entah hidup atau mati nantinya, tidak terlalu dipusingkan. Mereka telah mengambil sikap optimis.
Jangan Saudara putus asa saat berada dalam kesukaran dan kesulitan! Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan pertolongan bagi Saudara. Teladani empat orang kusta itu, melangkahlah dengan iman! Jangan duduk-duduk saja, mulailah berdiri dan berpikir serta bertindak untuk mengatasi kesukaran yang Saudara hadapi. Saat Saudara melangkah berjuang mengatasi kesukaran, Saudara akan berjumpa dengan pertolongan Tuhan yang mengherankan. (LB)
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aPada umumnya ketika seorang atlit berhasil meraih prestasi terbaiknya dalam suatu perlombaan atau pertandingan, didatangi wartawan yang menanyakan rahasia keberhasilannya tersebut. Jawabannya beragam, yang intinya ada banyak faktor penyebab keberhasilannya. Namun semua faktor penyebab itu merupakan satu kesatuan yang menjadi pusat atau fokus persiapannya untuk menjadi pemenang.
Gambaran yang dipaparkan oleh penulis Surat Ibrani adalah mengenai lomba lari estafet. Bagaimana cara atlit pelari estafet bisa – secara tim – memperoleh kemenangan? Pertama, karena mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lebih baik yang tersedia bagi mereka (Ibrani 11:40a). Kedua, karena melihat bahwa dirinya sebagai orang penting yang ikut menentukan kemenangan. Tanpa kesungguhan pelari berikutnya, maka upaya pelari sebelumnya menjadi sia-sia (Ibrani 11:40b). Ketiga, karena sadar bahwa ada banyak penonton atau saksi yang melihat sepak terjangnya. Keempat, karena mau menanggalkan beban. Kelima, menjalani perlombaan dengan tekun (Ibrani 12:1).
Keenam, berfokus pada tujuan (Ibrani 12:2).
Mari kita jadikan keenam hal di atas sebagai gambaran pusat iman kita untuk memperoleh kemenangan: adanya mahkota kemuliaan yang Tuhan telah sediakan bagi kita; adanya kesadaran bahwa para pahlawan iman sebelum kita tidak sempurna tanpa kita; status kita sebagai surat yang terbuka di hadapan banyak orang (2 Korintus 3:2); adanya kesungguhan hati dalam mengikut Tuhan kita Yesus Kristus; perlunya ketekunan dalam pengiringan kita; dan fokus utama kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri. (PF)
Pusat iman adalah Yesus Kristus saja, bukan yang
lain.
Kedewasaan rohani semua orang percaya. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada
Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Ibrani 12:2
Pusat Iman
Ibrani 11:40-12:17sabtu, 4 agustus 2012
Yesaya 30-32
Bacaan Alkitab Setahun minggu, 5 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 33-35
Bertindak dengan iman, raih kemenangan yang
Tuhan sediakan.
Orang-orang Kristen bangkit dari kemalasan dan
berjuang dalam kerja. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan
tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati. 2 Raja-Raja 7:4b
Berani Bertindak
2 Raja-Raja 7:1-11Kemiskinan bisa terjadi karena seseorang hanya berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu. Ada ungkapan berkata: “Jikalau anda dilahirkan miskin, bukan salah anda. Namun jikalu anda mati dalam keadaan miskin itu salah anda sendiri.” Tidak cukup seseorang berdoa saja, tetapi perlu juga memiliki keberanian untuk bertindak. Jadi iman diperlukan saat berdoa, tetapi juga harus dimiliki agar kita berani bertindak.
Nabi Elisa sudah menyampaikan firman Tuhan bahwa keadaan akan segera berubah dari kondisi bangsa yang mengalami bencana kelaparan menjadi bangsa yang akan menerima berkat berkelimpahan. Reaksi sebagian orang menertawakan dan tidak percaya sama sekali, sebagian lagi acuh tak acuh terhadap perkataan firman Tuhan dan tidak berbuat apa-apa.
Namun saat itu ada empat orang yang sakit kusta berada di depan pintu gerbang. Mereka sadar bahwa kondisi memang sulit, dan bisa berakibat kematian. Duduk-duduk saja tidak membawa hasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk bangkit dari tempatnya dan mendatangi perkemahan tentara Aram. Mereka berani bertindak mengadu nasibnya. Entah hidup atau mati nantinya, tidak terlalu dipusingkan. Mereka telah mengambil sikap optimis.
Jangan Saudara putus asa saat berada dalam kesukaran dan kesulitan! Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan pertolongan bagi Saudara. Teladani empat orang kusta itu, melangkahlah dengan iman! Jangan duduk-duduk saja, mulailah berdiri dan berpikir serta bertindak untuk mengatasi kesukaran yang Saudara hadapi. Saat Saudara melangkah berjuang mengatasi kesukaran, Saudara akan berjumpa dengan pertolongan Tuhan yang mengherankan. (LB)
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aUntuk mengetahui seperti apakah seseorang, kenalilah lingkungan pergaulan orang tersebut. Pergaulan yang salah dapat membuat seseorang tidak lagi bertahan dan bertekun dalam iman! Itu sebabnya 1 Korintus 15:33 memperingatkan kita: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Jangan heran apabila ada orang Kristen yang dulunya beriman, begitu setia dan taat beribadah, sekarang sebaliknya menjadi kacau hidupnya.
Orang Kristen yang rindu terus bertumbuh dalam iman, perlu terus menerus menyadari bahaya pergaulan. Memang kita hidup dalam lingkungan yang majemuk, kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Namun jangan kita mengikatkan diri secara mendalam dalam pergaulan dengan sembarang orang. Mengikut Tuhan Yesus Kristus perlu dihayati dengan baik, bahwa kita harus mengalami perubahan selera!
Apa yang dahulu menarik perhatian kita dan menyenangkan daging kita, sekarang di dalam Tuhan Yesus Kristus harus kita tinggalkan. Dalam iman kepada Tuhan Yesus, kita telah mati terhadap hal-hal yang berdosa! Dan hal-hal yang berdosa biasanya dapat masuk dalam hidup kita melalui pergaulan yang buruk. Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, membawa konsekuensi perubahan terhadap teman bergaul! Tinggalkan dan putuskan teman-teman yang bisa mempengaruhi pertumbuhan iman Saudara. Arahkan diri Saudara kepada perkara-perkara rohani, kepada teman seiman yang mendorong pertumbuhan imanmu. Pergaulan yang benar akan membuat iman kita tidak bantut, namun terus bertumbuh. Jadi, evaluasilah hari ini dengan siapa Saudara bergaul erat. Ambillah keputusan untuk menyeleksi teman pergaulanmu agar Kristus bertahta di hatimu. (LB)
Pergaulan berperan dalam kualitas iman seseorang.
Anak-anak remaja agar tidak terjebak dalam
pergaulan buruk. Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Amsal 4:14
Penghalang Iman
Amsal 4:14–17senin, 6 agustus 2012
Yesaya 36-38 Bacaan Alkitab Setahun
Tanpa iman tak seorang pun dapat berkenan pada
Allah dan iman tanpa perbuatan hakikatnya mati
Semakin banyak orang yang membangun hubungan
karib dengan Tuhan. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Kejadian 5:24
Iman Henokh
Kejadian 5:18-24Kesalehan Henokh memiliki keunggulan yang jarang dimiliki orang pada zamannya. Hidup bergaul dengan Allah merupakan karakter iman yang menonjol yang hanya ditemukan pada kehidupan dua orang dalam pasal-pasal awal Kitab Kejadian, yaitu Henokh dan Nuh (Kejadian 6:91).
Henokh hidup bergaul dengan Allah oleh karena mempercayai kedaulatan firman dan janji Allah (Ibrani 11:5-6). Imannya diperkenan Allah sehingga ia diangkat ke hadirat Allah. Orang berikut yang perjalanan imannya sama dengan Henokh adalah Elia (2 Raja:8-11).
Kedua orang ini begitu diistimewakan sehingga mereka dibuat-Nya menembus apa yang sudah ditetapkan Allah tentang kematian bahwa manusia mati hanya satu kali saja (Ibrani 9:27). Mereka diangkat oleh Allah mencapai Kerajaan Sorga tanpa melalui kematian secara jasmani.
Henokh seorang yang saleh. Ia hidup di tengah masyarakat yang sarat dengan kejahatan, haus kefasikan, lapar kedurhakaan, dan pengumbar nafsu yang semakin merajalela. Kondisi ini sangat membahayakan Henokh (Yudas 1:14-16). Di sinilah tampak perhatian Allah terhadap iman yang dimiliki Henokh sebagai orang biasa yang juga memiliki kelemahan dan rentan menjadi korban kedurhakaan. Imannya yang kuat bisa juga terkontaminasi dengan moralitas buruk yang menjamur di sekelilingnya. Guna mencegahnya dari semua kemungkinan itu, maka Allah mengangkatnya dari kondisi masyarakat yang amoral.
Bergaul dengan Allah adalah jalan satu-satunya menuju kepada iman yang kokoh. Dengan iman yang kokoh, maka Allah dengan kerelaan hati-Nya memberi keistimewaan kepada umat-Nya. Bahkan Ia melakukan kebaikan demi kebaikan bagi umat-Nya yang imannya kokoh.
(SM)
selasa, 7 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 39-41
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aUntuk mengetahui seperti apakah seseorang, kenalilah lingkungan pergaulan orang tersebut. Pergaulan yang salah dapat membuat seseorang tidak lagi bertahan dan bertekun dalam iman! Itu sebabnya 1 Korintus 15:33 memperingatkan kita: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Jangan heran apabila ada orang Kristen yang dulunya beriman, begitu setia dan taat beribadah, sekarang sebaliknya menjadi kacau hidupnya.
Orang Kristen yang rindu terus bertumbuh dalam iman, perlu terus menerus menyadari bahaya pergaulan. Memang kita hidup dalam lingkungan yang majemuk, kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Namun jangan kita mengikatkan diri secara mendalam dalam pergaulan dengan sembarang orang. Mengikut Tuhan Yesus Kristus perlu dihayati dengan baik, bahwa kita harus mengalami perubahan selera!
Apa yang dahulu menarik perhatian kita dan menyenangkan daging kita, sekarang di dalam Tuhan Yesus Kristus harus kita tinggalkan. Dalam iman kepada Tuhan Yesus, kita telah mati terhadap hal-hal yang berdosa! Dan hal-hal yang berdosa biasanya dapat masuk dalam hidup kita melalui pergaulan yang buruk. Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, membawa konsekuensi perubahan terhadap teman bergaul! Tinggalkan dan putuskan teman-teman yang bisa mempengaruhi pertumbuhan iman Saudara. Arahkan diri Saudara kepada perkara-perkara rohani, kepada teman seiman yang mendorong pertumbuhan imanmu. Pergaulan yang benar akan membuat iman kita tidak bantut, namun terus bertumbuh. Jadi, evaluasilah hari ini dengan siapa Saudara bergaul erat. Ambillah keputusan untuk menyeleksi teman pergaulanmu agar Kristus bertahta di hatimu. (LB)
Pergaulan berperan dalam kualitas iman seseorang.
Anak-anak remaja agar tidak terjebak dalam
pergaulan buruk. Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Amsal 4:14
Penghalang Iman
Amsal 4:14–17senin, 6 agustus 2012
Yesaya 36-38 Bacaan Alkitab Setahun
Tanpa iman tak seorang pun dapat berkenan pada
Allah dan iman tanpa perbuatan hakikatnya mati
Semakin banyak orang yang membangun hubungan
karib dengan Tuhan. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Kejadian 5:24
Iman Henokh
Kejadian 5:18-24Kesalehan Henokh memiliki keunggulan yang jarang dimiliki orang pada zamannya. Hidup bergaul dengan Allah merupakan karakter iman yang menonjol yang hanya ditemukan pada kehidupan dua orang dalam pasal-pasal awal Kitab Kejadian, yaitu Henokh dan Nuh (Kejadian 6:91).
Henokh hidup bergaul dengan Allah oleh karena mempercayai kedaulatan firman dan janji Allah (Ibrani 11:5-6). Imannya diperkenan Allah sehingga ia diangkat ke hadirat Allah. Orang berikut yang perjalanan imannya sama dengan Henokh adalah Elia (2 Raja:8-11).
Kedua orang ini begitu diistimewakan sehingga mereka dibuat-Nya menembus apa yang sudah ditetapkan Allah tentang kematian bahwa manusia mati hanya satu kali saja (Ibrani 9:27). Mereka diangkat oleh Allah mencapai Kerajaan Sorga tanpa melalui kematian secara jasmani.
Henokh seorang yang saleh. Ia hidup di tengah masyarakat yang sarat dengan kejahatan, haus kefasikan, lapar kedurhakaan, dan pengumbar nafsu yang semakin merajalela. Kondisi ini sangat membahayakan Henokh (Yudas 1:14-16). Di sinilah tampak perhatian Allah terhadap iman yang dimiliki Henokh sebagai orang biasa yang juga memiliki kelemahan dan rentan menjadi korban kedurhakaan. Imannya yang kuat bisa juga terkontaminasi dengan moralitas buruk yang menjamur di sekelilingnya. Guna mencegahnya dari semua kemungkinan itu, maka Allah mengangkatnya dari kondisi masyarakat yang amoral.
Bergaul dengan Allah adalah jalan satu-satunya menuju kepada iman yang kokoh. Dengan iman yang kokoh, maka Allah dengan kerelaan hati-Nya memberi keistimewaan kepada umat-Nya. Bahkan Ia melakukan kebaikan demi kebaikan bagi umat-Nya yang imannya kokoh.
(SM)
selasa, 7 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 39-41
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aMaut berarti kematian. Berdasarkan penjelasan Kitab Suci, maut terdiri dari dua bentuk kematian. Kitab Suci menyebutnya, “kematian pertama dan kematian kedua” (Wahyu 20:12, 14). Kematian pertama adalah kematian yang dialami oleh semua manusia. Semua bangsa, semua suku, semua manusia di bumi pasti akan menghadapi kematian. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari kematian. Apabila waktu kematian tiba, manusia di mana pun dia berada pasti akan mati. Inilah yang disebut kematian pertama.
Kematian pertama tidaklah berarti manusia kembali kepada debu tanah. Atau semuanya habis tidak ada lagi kelanjutannya. Kitab Suci jelas-jelas menyatakan, “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkhotbah 12:7). Jadi kematian bukan selesai atau habis semuanya, namun roh manusia kembali kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Suatu saat, roh yang fisik manusianya telah mati akan menghadap takhta putih dari Tuhan. Roh-roh manusia tersebut akan diadili oleh Tuhan. Bagi roh manusia yang namanya tidak tercantum dalam kitab kehidupan akan mengalami kematian yang kedua yaitu lautan api (Wahyu 20:11-15).
Pertanyaannya, apakah kita dapat dibebaskan dari kematian yang kedua? Jawabannya jelas, tegas, tandas, “ya, dapat dibebaskan.” Contoh yang jelas tampak pada pengalaman penjahat yang disalib di sisi salib Yesus. Penjahat yang disalib jelas akan mengalami kematian, yaitu kematian pertama. Namun, Yesus membebaskan dia dari kematian kedua. Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus"(Lukas 23:43). Penjahat tersebut bebas dari lautan api yaitu kematian kedua. Percaya pada Tuhan Yesus akan membebaskan kita dari maut. (IE)
Maut telah dikalahkan oleh kebangkitan Tuhan Yesus.
Terimakasih Tuhan atas pembebasan hidupku dari
kematian yang kedua. Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:43
Lukas 23:39-43
rabu, 8 agustus 2012
Yesaya 42-43 Bacaan Alkitab Setahun
Bebas Dari Maut
kamis, 9 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 44-45
Mengasihi pasti memberi, tetapi memberi belum tentu karena mengasihi.
Tuhan, ajarku mengenal-Mu lebih dalam dan mengerti isi hati-Mu. Karena iman Habel telah mempersembahkan
kepada Allah korban yang lebih baik dari pada
korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih bicara, sesudah ia mati. Ibrani 11:4
Kejadian 4:1-15
Kain dan Habel, keduanya tumbuh bersama sebagai kakak beradik. Kain bekerja sebagai petani dan Habel bekerja sebagai gembala. Mereka sama-sama ingin memberikan korban persembahan kepada Tuhan dari hasil kerja mereka. Kain memberikan hasil pertaniannya dan Habel memberikan anak sulung kambing dombanya dan lemak-lemaknya. Habel dan persembahannya diterima oleh Tuhan, tetapi Kain tidak. Mengapa? Apakah Tuhan pilih kasih? Tentu tidak.
Pada ayat 3 dikatakan, “setelah beberapa waktu lamanya,” artinya selama proses waktu yang berjalan sejak mereka masih kanak-kanak sampai dewasa, Tuhan telah mendeteksi hati mereka. Tuhan dapat membaca isi hati mereka lebih dari pada orang tua mereka, Adam dan Hawa. Tuhan mengetahui apakah persembahan mereka didasarkan dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau tidak. Habel dan persembahannya diindahkan oleh Tuhan karena Ia mengenal Tuhan dengan baik dan mengetahui dengan tepat apa yang Tuhan sukai. Ia pasti juga sangat mengasihi Tuhan. Habel seorang yang memperhatikan perkara-perkara rohani. Buktinya ia memilih anak kambing domba yang sulung dan berlemak. Anak sulung adalah kepunyaan atau hak Tuhan (Imamat 27:26, Bilangan 8:17) yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dan lemak yang dibakar adalah korban api-apian yang baunya menyenangkan hati Tuhan (Bilangan 18:17). Karena imannya, maka sekalipun Habel sudah mati karena dibunuh kakaknya, darahnya bisa berteriak kepada Tuhan. Itu artinya roh Habel tidak mati.
Tahukah Saudara apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan sukai? Kenalilah hati Tuhan dengan baik dan berikan untuk Tuhan yang terbaik. Dia akan senang menerima kita dan persembahan kita. Dia juga akan memberikan kehidupan kekal kepada orang yang mengasihi Dia. (LL)
Iman Habel
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aMaut berarti kematian. Berdasarkan penjelasan Kitab Suci, maut terdiri dari dua bentuk kematian. Kitab Suci menyebutnya, “kematian pertama dan kematian kedua” (Wahyu 20:12, 14). Kematian pertama adalah kematian yang dialami oleh semua manusia. Semua bangsa, semua suku, semua manusia di bumi pasti akan menghadapi kematian. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari kematian. Apabila waktu kematian tiba, manusia di mana pun dia berada pasti akan mati. Inilah yang disebut kematian pertama.
Kematian pertama tidaklah berarti manusia kembali kepada debu tanah. Atau semuanya habis tidak ada lagi kelanjutannya. Kitab Suci jelas-jelas menyatakan, “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkhotbah 12:7). Jadi kematian bukan selesai atau habis semuanya, namun roh manusia kembali kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Suatu saat, roh yang fisik manusianya telah mati akan menghadap takhta putih dari Tuhan. Roh-roh manusia tersebut akan diadili oleh Tuhan. Bagi roh manusia yang namanya tidak tercantum dalam kitab kehidupan akan mengalami kematian yang kedua yaitu lautan api (Wahyu 20:11-15).
Pertanyaannya, apakah kita dapat dibebaskan dari kematian yang kedua? Jawabannya jelas, tegas, tandas, “ya, dapat dibebaskan.” Contoh yang jelas tampak pada pengalaman penjahat yang disalib di sisi salib Yesus. Penjahat yang disalib jelas akan mengalami kematian, yaitu kematian pertama. Namun, Yesus membebaskan dia dari kematian kedua. Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus"(Lukas 23:43). Penjahat tersebut bebas dari lautan api yaitu kematian kedua. Percaya pada Tuhan Yesus akan membebaskan kita dari maut. (IE)
Maut telah dikalahkan oleh kebangkitan Tuhan Yesus.
Terimakasih Tuhan atas pembebasan hidupku dari
kematian yang kedua. Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:43
Lukas 23:39-43
rabu, 8 agustus 2012
Yesaya 42-43 Bacaan Alkitab Setahun
Bebas Dari Maut
kamis, 9 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 44-45
Mengasihi pasti memberi, tetapi memberi belum tentu karena mengasihi.
Tuhan, ajarku mengenal-Mu lebih dalam dan mengerti isi hati-Mu. Karena iman Habel telah mempersembahkan
kepada Allah korban yang lebih baik dari pada
korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih bicara, sesudah ia mati. Ibrani 11:4
Kejadian 4:1-15
Kain dan Habel, keduanya tumbuh bersama sebagai kakak beradik. Kain bekerja sebagai petani dan Habel bekerja sebagai gembala. Mereka sama-sama ingin memberikan korban persembahan kepada Tuhan dari hasil kerja mereka. Kain memberikan hasil pertaniannya dan Habel memberikan anak sulung kambing dombanya dan lemak-lemaknya. Habel dan persembahannya diterima oleh Tuhan, tetapi Kain tidak. Mengapa? Apakah Tuhan pilih kasih? Tentu tidak.
Pada ayat 3 dikatakan, “setelah beberapa waktu lamanya,” artinya selama proses waktu yang berjalan sejak mereka masih kanak-kanak sampai dewasa, Tuhan telah mendeteksi hati mereka. Tuhan dapat membaca isi hati mereka lebih dari pada orang tua mereka, Adam dan Hawa. Tuhan mengetahui apakah persembahan mereka didasarkan dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau tidak. Habel dan persembahannya diindahkan oleh Tuhan karena Ia mengenal Tuhan dengan baik dan mengetahui dengan tepat apa yang Tuhan sukai. Ia pasti juga sangat mengasihi Tuhan. Habel seorang yang memperhatikan perkara-perkara rohani. Buktinya ia memilih anak kambing domba yang sulung dan berlemak. Anak sulung adalah kepunyaan atau hak Tuhan (Imamat 27:26, Bilangan 8:17) yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dan lemak yang dibakar adalah korban api-apian yang baunya menyenangkan hati Tuhan (Bilangan 18:17). Karena imannya, maka sekalipun Habel sudah mati karena dibunuh kakaknya, darahnya bisa berteriak kepada Tuhan. Itu artinya roh Habel tidak mati.
Tahukah Saudara apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan sukai? Kenalilah hati Tuhan dengan baik dan berikan untuk Tuhan yang terbaik. Dia akan senang menerima kita dan persembahan kita. Dia juga akan memberikan kehidupan kekal kepada orang yang mengasihi Dia. (LL)
Iman Habel
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aBanyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya hati manusia adalah ”tempat peperangan rohani” yaitu tempat pergolakan batin antara melakukan kehendak Tuhan dan keinginan diri sendiri.
Alkitab mencatat kisah Ananias dan Safira yang menjual sebidang tanah dan kemudian menyerahkan sebagian hasil penjualannya kepada rasul-rasul. Kemungkinan pada saat itu, tanah tersebut laku dengan harga yang cukup tinggi sehingga terjadi pergolakan batin atau peperangan rohani yang hebat di dalam hati Ananias. Pergolakan antara menyerahkan semua hasil penjualannya seperti yang telah dijanjikannya atau mengambil sebagian dari hasil penjualan itu untuk kepentingannya sendiri. Ternyata Ananias menuruti keinginan hatinya yang jahat. Ia memilih mengambil sebagian dari hasil penjualan tanahnya. Petrus yang mengetahui kelicikan hati Ananias, menegurnya dengan keras (ayat 3 dan 4). Demikian juga dengan Safira yang saat ditanya juga berkata dusta. Sebenarnya bukan masalah besar kecilnya atau sebagian uang yang mereka serahkan kepada rasul-rasul, namun sikap hati mereka yang salah yaitu tidak berkata jujur. Mereka membiarkan diri dikuasai oleh nafsu serakah yang akhirnya menjadi tempat Iblis bernaung dan memperalat mereka untuk berbuat jahat yaitu mendustai Roh Kudus. Allah tidak tinggal diam. Melalui Petrus, Allah ingin menyadarkan mereka, namun mereka tetap menuruti Iblis yang adalah bapa dari segala dusta. Akhir dari peperangan rohani yang mereka hadapi adalah kematian karena mereka lebih menuruti Iblis daripada menuruti Allah.
Bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita menyadari bahwa hati adalah salah satu tempat di mana seringkali peperangan rohani itu terjadi? Jangan ikuti bisikan Iblis! (LP)
Tanpa kita sadari hati pun bisa menjadi tempat
peperangan rohani.
Orang Kristen yang masih terikat dengan kebohongan
finansial seperti korupsi dan lain-lain. Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus...
Kisah Para Rasul 5:3 Kisah Para Rasul 5:1-11
jumat, 10 agustus 2012
Yesaya 46-48 Bacaan Alkitab Setahun
Peperangan Rohani
Berkat Abraham
Berkat ada karena ada tindakan iman yang nyata
dalam Tuhan.
Orang-orang yang pandai tetap hormat dan takut
akan Allah. Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan
TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mazmur 112:1-2 Kejadian 22:15-19
Abraham adalah seorang pribadi yang taat pada Tuhan. Ia mengikuti kehendak Allah ketika diminta untuk menyerahkan Ishak, anak tunggal yang disayanginya itu. Maka Tuhan pun menghargai ketaatan Abraham. Tuhan bersumpah melalui malaikat-Nya akan memberkati Abraham berlimpah-limpah dan memberikan keturunan yang sangat banyak. Bahkan melalui keturunannya semua bangsa di bumi juga mendapat berkat (ayat 17-18). Itulah dampak positif atas apa yang dilakukan orang benar.
Secara rohani orang-orang percaya yang mengasihi dan takut akan Allah disebut juga “keturunan Abraham”. Mereka turut mewarisi “berkat Abraham” yang berlimpah-limpah itu. Berkat Abraham juga dicurahkan atas negara Republik Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kemampuan yang setara dengan bangsa-bangsa lain dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu bukti adalah kalau dunia mengenal Albert Einstein sebagai seorang keturunan Yahudi yang jenius maka bangsa Indonesia juga patut berbangga hati memiliki Nelson Tansu. Nelson, kelahiran Medan tahun 1977 adalah sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) dengan predikat Summa Cum Laude. Ia meraih gelar Master pada bidang yang sama serta gelar Doktor (Ph.D) pada usia 26 tahun. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University Amerika, tempatnya bekerja sekarang.
Marilah kita semua umat percaya berusaha untuk menjadi pribadi yang mengasihi, takut, taat dan berkenan di hadapan Tuhan sebagaimana teladan Abraham supaya berkat Tuhan juga selalu dilimpahkan dalam hidup kita! (YH)
sabtu, 11 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 49-50
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aBanyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya hati manusia adalah ”tempat peperangan rohani” yaitu tempat pergolakan batin antara melakukan kehendak Tuhan dan keinginan diri sendiri.
Alkitab mencatat kisah Ananias dan Safira yang menjual sebidang tanah dan kemudian menyerahkan sebagian hasil penjualannya kepada rasul-rasul. Kemungkinan pada saat itu, tanah tersebut laku dengan harga yang cukup tinggi sehingga terjadi pergolakan batin atau peperangan rohani yang hebat di dalam hati Ananias. Pergolakan antara menyerahkan semua hasil penjualannya seperti yang telah dijanjikannya atau mengambil sebagian dari hasil penjualan itu untuk kepentingannya sendiri. Ternyata Ananias menuruti keinginan hatinya yang jahat. Ia memilih mengambil sebagian dari hasil penjualan tanahnya. Petrus yang mengetahui kelicikan hati Ananias, menegurnya dengan keras (ayat 3 dan 4). Demikian juga dengan Safira yang saat ditanya juga berkata dusta. Sebenarnya bukan masalah besar kecilnya atau sebagian uang yang mereka serahkan kepada rasul-rasul, namun sikap hati mereka yang salah yaitu tidak berkata jujur. Mereka membiarkan diri dikuasai oleh nafsu serakah yang akhirnya menjadi tempat Iblis bernaung dan memperalat mereka untuk berbuat jahat yaitu mendustai Roh Kudus. Allah tidak tinggal diam. Melalui Petrus, Allah ingin menyadarkan mereka, namun mereka tetap menuruti Iblis yang adalah bapa dari segala dusta. Akhir dari peperangan rohani yang mereka hadapi adalah kematian karena mereka lebih menuruti Iblis daripada menuruti Allah.
Bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita menyadari bahwa hati adalah salah satu tempat di mana seringkali peperangan rohani itu terjadi? Jangan ikuti bisikan Iblis! (LP)
Tanpa kita sadari hati pun bisa menjadi tempat
peperangan rohani.
Orang Kristen yang masih terikat dengan kebohongan
finansial seperti korupsi dan lain-lain. Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus...
Kisah Para Rasul 5:3 Kisah Para Rasul 5:1-11
jumat, 10 agustus 2012
Yesaya 46-48 Bacaan Alkitab Setahun
Peperangan Rohani
Berkat Abraham
Berkat ada karena ada tindakan iman yang nyata
dalam Tuhan.
Orang-orang yang pandai tetap hormat dan takut
akan Allah. Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan
TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Mazmur 112:1-2 Kejadian 22:15-19
Abraham adalah seorang pribadi yang taat pada Tuhan. Ia mengikuti kehendak Allah ketika diminta untuk menyerahkan Ishak, anak tunggal yang disayanginya itu. Maka Tuhan pun menghargai ketaatan Abraham. Tuhan bersumpah melalui malaikat-Nya akan memberkati Abraham berlimpah-limpah dan memberikan keturunan yang sangat banyak. Bahkan melalui keturunannya semua bangsa di bumi juga mendapat berkat (ayat 17-18). Itulah dampak positif atas apa yang dilakukan orang benar.
Secara rohani orang-orang percaya yang mengasihi dan takut akan Allah disebut juga “keturunan Abraham”. Mereka turut mewarisi “berkat Abraham” yang berlimpah-limpah itu. Berkat Abraham juga dicurahkan atas negara Republik Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kemampuan yang setara dengan bangsa-bangsa lain dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu bukti adalah kalau dunia mengenal Albert Einstein sebagai seorang keturunan Yahudi yang jenius maka bangsa Indonesia juga patut berbangga hati memiliki Nelson Tansu. Nelson, kelahiran Medan tahun 1977 adalah sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) dengan predikat Summa Cum Laude. Ia meraih gelar Master pada bidang yang sama serta gelar Doktor (Ph.D) pada usia 26 tahun. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University Amerika, tempatnya bekerja sekarang.
Marilah kita semua umat percaya berusaha untuk menjadi pribadi yang mengasihi, takut, taat dan berkenan di hadapan Tuhan sebagaimana teladan Abraham supaya berkat Tuhan juga selalu dilimpahkan dalam hidup kita! (YH)
sabtu, 11 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 49-50
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aBagaimana orang di sekitar melihat Saudara? Apakah mereka melihat Saudara sebagai seorang yang disertai Tuhan? Atau sebaliknya, orang tidak percaya bahwa Saudara adalah orang Kristen? Payah apabila orang di sekitar Saudara meragukan dan berkata : “Masak Anda adalah orang Kristen?” Bisa jadi ada sesuatu yang tidak beres dengan hidup iman Saudara.
Kita perlu mempelajari kehidupan Ishak sebagai seorang yang beriman dan hidupnya disertai Tuhan. Pertama, Ishak seorang yang rajin bekerja. Ayat 12-14 mengatakan Ishak menabur benih dan memelihara kambing domba. Kedua, ia seorang yang tidak berlaku jahat dalam bisnisnya. Dalam ayat 18-22, dikatakan bahwa Ishak adalah seorang yang suka mengalah. Saat orang lain merebut haknya atas sumur yang digali untuk menghidupi peternakan dan pertaniannya, Ishak rela pindah dan berusaha menggali sumur baru. Mengapa dia bisa lakukan itu, padahal menurut perhitungan bisnis tindakannya itu sangat merugikan bisnisnya? Ishak bisa mengalah, karena dia tahu hidupnya tidak ditentukan oleh sumur yang berair itu, tetapi sumber berkat adalah Tuhan sendiri. Ketiga, ia seorang yang taat beribadah seperti dikatakan dalam ayat 25, Ishak suka mendirikan mazbah dan memanggil nama Tuhan.
Ketiga tindakan Ishak itu mencerminkan bahwa Ishak memiliki iman yang sehat, sehingga janji-janji Tuhan digenapi dalam hidupnya secara ajaib. Tuhan memberkati dan terus memberkati dengan materi maupun keturunan yang banyak. Dia menjadi makin masyhur. Banyak orang mengenalnya bahkan Raja Abimelekh dari Gerar yang semula memusuhi dan mengusir Ishak dicelikkan matanya dan mengakui bahwa Ishak disertai oleh Tuhan.(LB)
Cara hidup Saudara menunjukkan kualitas
iman Saudara.
Kesaksian orang Kristen di tengah dunia kerja. Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN
menyertai engkau....Kejadian 26:28a Kejadian 26:12-33
minggu, 12 agustus 2012
Yesaya 51-53 Bacaan Alkitab Setahun
Masa lalu yang kelam dapat diubah Tuhan
menjadi baik.
Untuk orang tua kita agar dapat menikmati hidup
bahagia. Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati,
memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. Ibrani 11:21
Kejadian 48:1-20
Ketika mendengar nama Yakub, mungkin yang terbersit di benak kita adalah “Yakub si penipu”. Masa lalu Yakub memang tidak baik karena dia telah mengambil hak kesulungan kakaknya dan menipu ayahnya untuk mendapatkan warisan. Ia menyadari kesalahannya dan menerima risiko akibat perbuatannya itu. Berpisah dari orang tua dan hidup sendiri membuat ia bergantung penuh pada Tuhan. Ia membangun mezbah bagi Tuhan, sehingga Tuhan pun menghargainya dan senantiasa menyertainya. Bahkan Tuhan acapkali menampakkan diri dan berfirman kepadanya. Hidup Yakub diberkati oleh Tuhan luar biasa. dan dari Yakublah menurunkan bangsa Israel, bangsa pilihan Allah.
Hal yang membuat Yakub sedih adalah ketika kehilangan Yusuf, anak yang paling dikasihinya. Tetapi Tuhan memberi kesempatan kepadanya berjumpa lagi dengan Yusuf yang dikiranya sudah mati setelah berpisah selama 13 tahun. Di ujung hidupnya Yakub menyampaikan kesaksian imannya kepada Yusuf tentang Allah Yang Mahakuasa yang menuntun dan melindunginya; yang memberkati hidupnya; yang berjanji menjadikan keturunannya sekumpulan bangsa-bangsa. Yakub juga sempat memberitahukan tempat di mana Rahel, ibu kandung Yusuf dikuburkan. Ia bersyukur dapat melihat cucu-cucunya, anak-anak Yusuf yaitu Manasye dan Efraim. Mereka keduanya diakui sebagai anak-anak Yakub, maka Yakub menaruh berkat atas keduanya dan mereka berhak menerima warisan sama seperti anak-anak Yakub yang lain. Tuhan melimpahkan kebahagiaan yang tak terhingga kepada Yakub di akhir hidupnya. Ia bisa menutup mata dalam kedamaian.
Mari kita jelang hidup bahagia bersama Tuhan yang senantiasa melimpahkan berkat dan menyertai perjalanan hidup sampai kita berada di kedamaian yang abadi yaitu sorga yang mulia. (LL)
senin, 13 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 54-56
Iman Ishak
Iman Yakub
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aBagaimana orang di sekitar melihat Saudara? Apakah mereka melihat Saudara sebagai seorang yang disertai Tuhan? Atau sebaliknya, orang tidak percaya bahwa Saudara adalah orang Kristen? Payah apabila orang di sekitar Saudara meragukan dan berkata : “Masak Anda adalah orang Kristen?” Bisa jadi ada sesuatu yang tidak beres dengan hidup iman Saudara.
Kita perlu mempelajari kehidupan Ishak sebagai seorang yang beriman dan hidupnya disertai Tuhan. Pertama, Ishak seorang yang rajin bekerja. Ayat 12-14 mengatakan Ishak menabur benih dan memelihara kambing domba. Kedua, ia seorang yang tidak berlaku jahat dalam bisnisnya. Dalam ayat 18-22, dikatakan bahwa Ishak adalah seorang yang suka mengalah. Saat orang lain merebut haknya atas sumur yang digali untuk menghidupi peternakan dan pertaniannya, Ishak rela pindah dan berusaha menggali sumur baru. Mengapa dia bisa lakukan itu, padahal menurut perhitungan bisnis tindakannya itu sangat merugikan bisnisnya? Ishak bisa mengalah, karena dia tahu hidupnya tidak ditentukan oleh sumur yang berair itu, tetapi sumber berkat adalah Tuhan sendiri. Ketiga, ia seorang yang taat beribadah seperti dikatakan dalam ayat 25, Ishak suka mendirikan mazbah dan memanggil nama Tuhan.
Ketiga tindakan Ishak itu mencerminkan bahwa Ishak memiliki iman yang sehat, sehingga janji-janji Tuhan digenapi dalam hidupnya secara ajaib. Tuhan memberkati dan terus memberkati dengan materi maupun keturunan yang banyak. Dia menjadi makin masyhur. Banyak orang mengenalnya bahkan Raja Abimelekh dari Gerar yang semula memusuhi dan mengusir Ishak dicelikkan matanya dan mengakui bahwa Ishak disertai oleh Tuhan.(LB)
Cara hidup Saudara menunjukkan kualitas
iman Saudara.
Kesaksian orang Kristen di tengah dunia kerja. Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN
menyertai engkau....Kejadian 26:28a Kejadian 26:12-33
minggu, 12 agustus 2012
Yesaya 51-53 Bacaan Alkitab Setahun
Masa lalu yang kelam dapat diubah Tuhan
menjadi baik.
Untuk orang tua kita agar dapat menikmati hidup
bahagia. Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati,
memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. Ibrani 11:21
Kejadian 48:1-20
Ketika mendengar nama Yakub, mungkin yang terbersit di benak kita adalah “Yakub si penipu”. Masa lalu Yakub memang tidak baik karena dia telah mengambil hak kesulungan kakaknya dan menipu ayahnya untuk mendapatkan warisan. Ia menyadari kesalahannya dan menerima risiko akibat perbuatannya itu. Berpisah dari orang tua dan hidup sendiri membuat ia bergantung penuh pada Tuhan. Ia membangun mezbah bagi Tuhan, sehingga Tuhan pun menghargainya dan senantiasa menyertainya. Bahkan Tuhan acapkali menampakkan diri dan berfirman kepadanya. Hidup Yakub diberkati oleh Tuhan luar biasa. dan dari Yakublah menurunkan bangsa Israel, bangsa pilihan Allah.
Hal yang membuat Yakub sedih adalah ketika kehilangan Yusuf, anak yang paling dikasihinya. Tetapi Tuhan memberi kesempatan kepadanya berjumpa lagi dengan Yusuf yang dikiranya sudah mati setelah berpisah selama 13 tahun. Di ujung hidupnya Yakub menyampaikan kesaksian imannya kepada Yusuf tentang Allah Yang Mahakuasa yang menuntun dan melindunginya; yang memberkati hidupnya; yang berjanji menjadikan keturunannya sekumpulan bangsa-bangsa. Yakub juga sempat memberitahukan tempat di mana Rahel, ibu kandung Yusuf dikuburkan. Ia bersyukur dapat melihat cucu-cucunya, anak-anak Yusuf yaitu Manasye dan Efraim. Mereka keduanya diakui sebagai anak-anak Yakub, maka Yakub menaruh berkat atas keduanya dan mereka berhak menerima warisan sama seperti anak-anak Yakub yang lain. Tuhan melimpahkan kebahagiaan yang tak terhingga kepada Yakub di akhir hidupnya. Ia bisa menutup mata dalam kedamaian.
Mari kita jelang hidup bahagia bersama Tuhan yang senantiasa melimpahkan berkat dan menyertai perjalanan hidup sampai kita berada di kedamaian yang abadi yaitu sorga yang mulia. (LL)
senin, 13 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 54-56
Iman Ishak
Iman Yakub
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aNas yang kita baca berkaitan dengan pernyataan Tuhan untuk membebaskan umat Israel. Pembebasan dari perbudakan di Mesir. Perbudakan tersebut telah dilihat oleh Abram beberapa abad sebelumnya. Bahkan lamanya perbudakan yaitu 400 tahun juga telah ditetapkan (Kejadian 15:13). Tidak ada satu pun orang yang mampu membebaskan perbudakan umat Israel. Satu-satu-nya hanya Tuhan sendiri. Pembebasan perbudakan umat Israel ditulis dalam Kitab Keluaran.
Kini peradaban manusia sudah jauh lebih maju dibanding peradaban Mesir kuno. Perbudakan ala Mesir sudah tidak diketemukan di kehidupan manusia masa kini. Namun kita dapat menemukan jenis perbudakan baru. Apa itu? Ketagihan obat-obat terlarang seperti narkoba telah memperbudak jutaan manusia. Kepuasan minum-minuman keras telah banyak menghancurkan kesehatan manusia. Rekayasa hal-hal yang bersifat pornografi telah mengikat dan merusak mental jutaan manusia. Hobi pelacuran telah memperbudak kehidupan moral manusia. Masih banyak hal-hal lain yang mengikat dan menghancurkan kehidupan manusia. Pertanyaannya, siapa yang mampu membebaskan perbudakan manusia tersebut?
Sebagaimana hanya Tuhan yang mampu membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir, demikian pula hanya Tuhan yang dapat membebaskan manusia dari perbudakan masa kini. Perawatan medis, pemberian obat-obat tertentu atau pemulihan secara psikologis sering mengalami kesulitan. Itu sebabnya hanya kuasa Tuhan melalui firman-Nya yang mampu membebaskan perbudakan atas diri manusia secara tuntas. Bagi manusia yang terikat oleh hal-hal yang dapat menghancurkan kehidupannya perlu datang kepada Tuhan dengan hati penuh percaya. (IE)
Perbudakan atas diri manusia hanya dapat dibebaskan oleh Tuhan.
Terima kasih Tuhan atas pembebasan diriku. Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Keluaran 3:17
Keluaran 3:16-20
selasa, 14 agustus 2012
Yesaya 57-59 Bacaan Alkitab Setahun
Iman membawa Saudara berada dalam rencana-Nya
yang agung.
Pendidikan rohani anak-anak usia dini Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir
dengan tidak takut murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. Ibrani 11:27 Ibrani 11:24-27
Siapa yang tidak bangga mendapat pendidikan istana sekaligus diangkat menjadi anak seorang raja. Terbayang masa depan yang cerah dengan segala fasilitas terbaik dan harta berlimpah bahkan mendapat posisi sebagai pewaris tahta. Rasanya tidak mungkin orang menolak kesempatan yang langka bahkan dapat dikatakan mustahil ini. Kondisi semacam ini yang dialami oleh Musa, karena dia adalah anak angkat putri Firaun.
Tentu banyak orang terkejut ketika mendengar bahwa Musa secara sadar menolak posisi yang paling diimpikan banyak orang. Ia menolak disebut anak puteri Firaun. Ia lebih suka meninggalkan kemewahan istana Mesir dan dengan sengaja berkumpul dengan umat Allah, bangsanya sendiri. Dari kenikmatan dan kemudahan hidup, beralih hidup dalam penderitaan dan sengsara; dari kelimpahan, beralih dalam kekurangan.
Musa berani mengambil langkah yang tidak lazim, karena memiliki landasan iman yang kuat. Iman mampu melihat apa yang tidak kelihatan. Iman di dalam Tuhan menyebabkan seseorang mengukur hidupnya berdasarkan firman Tuhan. Orang yang beriman lebih berani menderita daripada hidup bersenang-senang dalam dosa. Dia percaya bahwa Tuhan akan memberi kekuatan dan kesanggupan untuk bertahan dalam hidup benar.
Iman Musa membawanya masuk dalam rencana Allah yang besar. Justru di luar istana Mesir itulah, Musa dibentuk dan dipilih Allah untuk membawa kelepasan bagi bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Bukan karena Musa mampu atau hebat, tetapi karena Allah berkenan memakai dan melengkapinya dengan wibawa ilahi dan kuasa serta mukjizat yang Tuhan nyatakan melalui dia. (LB)
rabu, 15 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 60-63
Bebas Dari Perbudakan
Iman Musa
D
O
A
r e n u n g aD
O
A
r e n u n g aNas yang kita baca berkaitan dengan pernyataan Tuhan untuk membebaskan umat Israel. Pembebasan dari perbudakan di Mesir. Perbudakan tersebut telah dilihat oleh Abram beberapa abad sebelumnya. Bahkan lamanya perbudakan yaitu 400 tahun juga telah ditetapkan (Kejadian 15:13). Tidak ada satu pun orang yang mampu membebaskan perbudakan umat Israel. Satu-satu-nya hanya Tuhan sendiri. Pembebasan perbudakan umat Israel ditulis dalam Kitab Keluaran.
Kini peradaban manusia sudah jauh lebih maju dibanding peradaban Mesir kuno. Perbudakan ala Mesir sudah tidak diketemukan di kehidupan manusia masa kini. Namun kita dapat menemukan jenis perbudakan baru. Apa itu? Ketagihan obat-obat terlarang seperti narkoba telah memperbudak jutaan manusia. Kepuasan minum-minuman keras telah banyak menghancurkan kesehatan manusia. Rekayasa hal-hal yang bersifat pornografi telah mengikat dan merusak mental jutaan manusia. Hobi pelacuran telah memperbudak kehidupan moral manusia. Masih banyak hal-hal lain yang mengikat dan menghancurkan kehidupan manusia. Pertanyaannya, siapa yang mampu membebaskan perbudakan manusia tersebut?
Sebagaimana hanya Tuhan yang mampu membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir, demikian pula hanya Tuhan yang dapat membebaskan manusia dari perbudakan masa kini. Perawatan medis, pemberian obat-obat tertentu atau pemulihan secara psikologis sering mengalami kesulitan. Itu sebabnya hanya kuasa Tuhan melalui firman-Nya yang mampu membebaskan perbudakan atas diri manusia secara tuntas. Bagi manusia yang terikat oleh hal-hal yang dapat menghancurkan kehidupannya perlu datang kepada Tuhan dengan hati penuh percaya. (IE)
Perbudakan atas diri manusia hanya dapat dibebaskan oleh Tuhan.
Terima kasih Tuhan atas pembebasan diriku. Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Keluaran 3:17
Keluaran 3:16-20
selasa, 14 agustus 2012
Yesaya 57-59 Bacaan Alkitab Setahun
Iman membawa Saudara berada dalam rencana-Nya
yang agung.
Pendidikan rohani anak-anak usia dini Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir
dengan tidak takut murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. Ibrani 11:27 Ibrani 11:24-27
Siapa yang tidak bangga mendapat pendidikan istana sekaligus diangkat menjadi anak seorang raja. Terbayang masa depan yang cerah dengan segala fasilitas terbaik dan harta berlimpah bahkan mendapat posisi sebagai pewaris tahta. Rasanya tidak mungkin orang menolak kesempatan yang langka bahkan dapat dikatakan mustahil ini. Kondisi semacam ini yang dialami oleh Musa, karena dia adalah anak angkat putri Firaun.
Tentu banyak orang terkejut ketika mendengar bahwa Musa secara sadar menolak posisi yang paling diimpikan banyak orang. Ia menolak disebut anak puteri Firaun. Ia lebih suka meninggalkan kemewahan istana Mesir dan dengan sengaja berkumpul dengan umat Allah, bangsanya sendiri. Dari kenikmatan dan kemudahan hidup, beralih hidup dalam penderitaan dan sengsara; dari kelimpahan, beralih dalam kekurangan.
Musa berani mengambil langkah yang tidak lazim, karena memiliki landasan iman yang kuat. Iman mampu melihat apa yang tidak kelihatan. Iman di dalam Tuhan menyebabkan seseorang mengukur hidupnya berdasarkan firman Tuhan. Orang yang beriman lebih berani menderita daripada hidup bersenang-senang dalam dosa. Dia percaya bahwa Tuhan akan memberi kekuatan dan kesanggupan untuk bertahan dalam hidup benar.
Iman Musa membawanya masuk dalam rencana Allah yang besar. Justru di luar istana Mesir itulah, Musa dibentuk dan dipilih Allah untuk membawa kelepasan bagi bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Bukan karena Musa mampu atau hebat, tetapi karena Allah berkenan memakai dan melengkapinya dengan wibawa ilahi dan kuasa serta mukjizat yang Tuhan nyatakan melalui dia. (LB)
rabu, 15 agustus 2012 Bacaan Alkitab Setahun Yesaya 60-63