Bahwa terdapat dua unsur yang terkait dengan hak profesi. Sebagai konsekuensi dari pengertian hak asasi manusia, sebagai hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia, maka seperangkat hak itu dimiliki oleh setiap manusia sejak kelahirannya tanpa membedakan etnis, ras, agama, jenis kelamin, apalagi profesi yang dijalani. Oleh karena itu, setiap umat manusia yang menjalani profesi tertentu dalam perkara ini adalah akuntan publik, juga memiliki hak asasi yang harus dijamin, dijunjung tinggi, dan dilindungi baik secara pribadi maupun dalam menjalani profesinya. Kedua, seperangkat hak yang harus dijunjung tinggi. Tidak hanya berkaitan dengan eksistensi biologis manusia, melainkan mencakup kepentingan untuk menghormati dan melindungi harkat dan martabat manusia. Harkat dan martabat sebagai manusia adalah satu kondisi yang hanya dapat dipenuhi jika manusia memiliki kebebasan untuk hidup bersama dan kebebasan serta kesempatan untuk mendapatkan pengakuan yang sederajat dengan manusia lain. Pengakuan tersebut hanya mungkin didapatkan jika seseorang melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi manusia lain berdasarkan keahlian yang dimiliki dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat;
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercakup sebagai hak asasi manusia juga hak untuk bekerja, hak mengembangkan diri, hak memajukan diri dan memperjuangkan hak secara kolektif, hak memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, serta hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 28C ayat (1), ayat (2), Pasal 88D ayat (1), dan Pasal 28G ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
Oleh karena itu, menjalani suatu profesi akuntan publik adalah perwujudan dari hak untuk bekerja, hak mengembangkan diri, serta hak untuk memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan. Untuk dapat menjalankan profesi tersebut, tentu seseorang harus dipenuhi rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Apalagi di dalam menjalankan profesi itu mutlak diperlukan adanya keahlian yang tidak dimiliki oleh setiap orang, yang
berdasarkan keahlian itulah semua pertimbangan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, harus diletakan. Untuk dapat menjalankan keahlian sebagai dasar pertimbangan utama dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu itu diperlukan adanya independency dari kepentingan atau pengaruh apapun, selain dari keahlian itu sendiri. Oleh karena itu, suatu profesi hanya dapat dijalankan jika terdapat rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk menjalankan profesi itu; Berdasarkan pemikiran tersebut, Ahli berpendapat jelas bahwa
perlindungan hak asasi manusia memiliki implikasi terhadap perlindungan terhadap profesi, baik terhadap orang yang menjalani maupun terhadap tindakan yang dilakukan dalam profesi itu. Hal ini juga bisa kita lihat di dalam proses perubahan Undang-Undang Dasar 1945 walaupun secara khusus atau spesifik tidak dibahas, tetapi pernah disampaikan dalam proses perubahan Undang-Undang Dasar, misalnya pada Rapat ke-III Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR, dengan agenda Pengantar Musyawarah Fraksi. Salah satu fraksi pada saat itu Fraksi Kebangkitan Bangsa melalui juru bicara Abdul Kholiq Ahmad, menyampaikan beberapa prinsip yang harus ada di dalam Undang-Undang Dasar 1945, prinsip- prinsip hak asasi manusia. Salah satunya adalah menjamin dan memelihara terhadap kebebasan berprofesi. Demikian pula dalam Rapat Sinkronisasi Panitia Ad Hoc I BP-MPR tanggal 14 Juli 2000, Anggota Anggota PAH I Hamdan Zoelva menyampaikan perlunya perlindungan terhadap profesi. Walaupun dalam konteks profesi hukum seperti pengacara. Namun pendapat itu lalu ditanggapi oleh Anggota PAH I Andi Mattalatta yang menyatakan bahwa yang dibahas itu pada saat adalah masalah suprastruktur atau institusi yang memiliki kewenangan publik, itu terkait dengan Pasal 24. Sedangkan institusi profesi secara umum masuk dalam pengaturan hak asasi manusia;
Kemudian terkait kerugian konstitusional para Pemohon. Pasal 55 dan Pasal 66 Undang-Undang Akuntan Publik adalah ketentuan yang memberikan ancaman pidana bagi profesi akuntan publik dan terasosiasi yang melakukan tindakan yang dirumuskan dalam pasal tersebut sebagai tindak pidana;
Suatu ketentuan pidana tentu saja tujuannya adalah agar seseorang tidak melakukan sesuatu yang dirumuskan sebagai tindak pidana dengan cara memberikan ancaman pidana bagi yang melakukannya. Sudah pasti ketentuan ini menciptakan rasa tidak aman atau takut untuk melakukan suatu tindakan yang memenuhi kualifikasi tindak pidana. Ancaman pidana berpotensi mengurangi independency profesi karena membuat seseorang dalam profesi itu tidak hanya mendasarkan keahliannya dalam melakukan atau tidak melakukan tugas profesinya, tetapi juga mempertimbangkan apakah tindakan yang dilakukan masuk kualifikasi tindakan pidana atau tidak?
Pada saat tindakan profesi tersebut tidak lagi ditentukan sepenuhnya oleh keahlian yang dimiliki, maka seseorang berpotensi kehilangan profesi itu sendiri. Hukum seharusnya memperkuat atau mendorong agar seseorang melakukan tindakan tersebut sesuai dengan keahlian profesinya. Hal ini berarti hak atas pekerjaan, hak mengembangkan diri, hak untuk menikmati manfaat ilmu pengetahuan akan berpotensi dirugikan. Inilah kerugian konstitusional yang potensial dialami oleh para Pemohon yang disebabkan oleh berlakunya Pasal 55 dan Pasal 56 Undang-Undang Akuntan Publik; Mengenai penggunaan sanksi pidana, sesungguhnya Mahkamah telah
pernah membuat pedoman yang menurut Ahli tidak hanya menjadi dasar dalam pengambilan putusan oleh Mahkamah. Tetapi juga harus menjadi pertimbangan bagi pembentuk Undang-Undang dalam memuat sanksi pidana, yaitu dalam Putusan Nomor 4/PUU-V/2007 yang menyatakan bahwa pemberian sanksi pidana harus memperhatikan perspektif hukum pidana yang humanistis dan terkait erat dengan kode etik. Mahkamah memberikan lima pedoman, yaitu, pertama, ancaman pidana tidak boleh dipakai untuk mencapai suatu tujuan yang pada dasarnya dapat dicapai dengan cara lain yang sama efektifnya dengan penderitaan dan kerugian yang lebih sedikit. Kedua, ancaman pidana tidak boleh digunakan apabila hasil sampingan yang ditimbulkan lebih merugikan dibanding dengan perbuatan yang akan dikriminalisasi. Ketiga, ancaman pidana harus rasional. Keempat, ancaman pidana harus menjaga keserasian antara ketertiban sesuai dengan hukum dan kompetensi.Kelima, ancaman pidana
harus menjaga kesetaraan antara perlindungan masyarakat, kejujuran, keadilan prosedural, dan substantif.