• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aliran Pragmatic Legal Realism

Dalam dokumen FILSAFAT HUKUM (Halaman 121-126)

Bab V Perkembangan Filsafat Hukum

F. Aliran Pragmatic Legal Realism

Aliran ini merupakan sub aliran positivisme hukum, karena :

Pangkal pikirannya bertitik tolak kepada : pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum.

Tokohnya :

John Chipman Gray, Oliver Wendell Holmes, William James, Karl Lewellyn, Jerome Frank dll.

Roscoe Pound juga dapat di golongkan pada mahzab ini berkenaan pendapatnya bahwa :

Hukum itu merupakan : A TOOL OF SOCIAL ENGINEERING (hukum adalah alat perubahan social).

Menurut Fredmann, aliran ini adalah salah satu sub aliran dari aliran positivism hukum. Dasar dari aliran ini berlandaskan pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum.

Menurut Llewellyn, realisme ini bukanlah merupakan suatu aliran di dalam filsafat hukum akan tetapi hanyalah merupakan suatu gerakan (movement) dalam cara berfikir tentang hukum.

Adapun ciri-ciri daripada gerakan ini adalah :

1. realism bukanlah suatu aliran/mahzab. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berfikir dan cara bekerja tentang hukum.

2. Reaisme adalah suatu konsepsi mengani hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan social, maka tiap bagiannya harus diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Hal ini berarti : keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum.

3. Realism mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan. Agar penyelidikan itu mempunyai tujuan maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan susila.

4. Realisme tidak mendasar pada konsep-konsep hukum tradisional, oleh karena realism bermaksud melukiskan apa yang dilakukan sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Untuk itu dirumuskan definisi-definisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oleh pengadilan-pengadilan. Sesuai dengan keyakinan ini maka realism menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah pengolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau.

5. Gerakan realism menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.

Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realism untuk mewujudkan program tersebut di atas digariskan sebagai berikut :

1. Ketrampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot.

2. Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut.

3. Menggantikan katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khusus dari keadaan-keadaan yang nyata.

4. Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang factor-faktor/unsure-unsur yang bersifat perorangan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data-data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan

Tokohnya :

1. John Chipman Gray

a. Slogannya : ALL THE LAW IS JUDGEMADE LAW.

b. Penganut positivisme yang analitis.

c. Menurutnya : dalam dunia ilmu hukum

1. harus terdapat pengertian-pengertian dalam perumusan-perumusan yang jelas dan

2. menentang dimasukkannya unsur-unsur ideologis dalam bidang ilmu hukum.

d. Gray menempatkan Hakim sampai titik pusat perhatian dan penyelidikan hukum, di samping unsur logika sebagai factor penting dalam pembentukan peraturan perUUngan.

e. Unsur kepribadian, prasangka dan unsur-unsur di luar logika juga berpengaruh dangat besar.

Contohnya : dalam sejarah hukum di Inggris dan Amerika Serikat, faktor-faktor politik, ekonomi dll, kualitas individual Hakim memberi pengaruh besar terhadap penyelesaian hal-hal penting bagi jutaan orang selama ratusan tahun.

f. Dengan demikian, Gray telah mempelopori cara pendekatan tidak semata-mata pada factor logika belaka namun juga pada factor-faktor lain di luar logika. Pada akhirnya inilah slogan termasyur dari Grey : All the law is judgemade law.

2. Oliver Wendell Holmes

Pandangan Gray di tegaskan lebih lanjut oleh seorang Hakim dan pemikir hukum Oliver Wendell Holmes.

Pada tahun 1897, Holmes membuat suatu rumusan tentang hukum yang di dasarkan pada pengalaman. Holmes meragukan peran logika.

Menurutnya :

Cobalah berikan jawaban mengenai pertanyaan pokok, apakah yang diartikan dengan hukum ?.

Sebagian dari penulis-penulis tentang hukum akan mengatakan bahwa :

a. hukum adalah suatu system (susunan) pikiran-pikiran, b. bahwa hukum diambil secara deduktif dari dasar etika

atau tindakan-tindakan yang diperkenankan,

c. atau berasal dari sesuatu (apa saja) yang sesuai atau tidak sesuai dengans atu putusan Hakim.

Akan tetapi jika kita memperlihatkan pandangan teman kita “the bad man” si penjahat, kita akan melihat bahwa dia tidak memperdulikan tindakan atau deduksi-deduksi akan tetapi dia ingin mengetahui apa yang diperbuat dalam sesungguhnya oleh pengadilan Messachussette atau pengadilan Inggris.

Saya akan lebih condong pada pendirian the bad men tersebut. Ramalan tentang apa yang sesungguhnya akan diperbuat oleh pengadilan-pengadilan dan bukan hal-hal yang muluk-muluk, itulah yang saya maksudkan dengan hukum.

3. William James

Menurutnya pragmatisme adalah : a new name for some old ways of thinking (nama baru untuk cara berfikir lama).

Pandangannya adalah

a. positif dan menghindari segala sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak lengkap

b. menghindari segala cara analisa kata demi kata untuk memecahkan suatu soal

c. menghindari dasar apriori yang salah

d. menghindari dasar-dasar yang telah ditentukan

f. dan menjauhi segala hal-hal yang seakan-akan adalah mutlak dan asli.

Menurutnya, seorang pragmatis lebih perecaya pada pengalaman.

Pragmatis memberi dorongan dengan cara pendekatan baru terhadap hukum yaitu dengan mengarahkan perhatian pada hal-hal yang terakhir pada hasil-hasil dan akibat-akibat.

4. John Dewey

Bukunya berjudul : LOGICAL METHOD OF LAW.

Menurutnya

1. Logika bukan merupakan pengambilan kesimpulan tentang pengertian-pengertian yang artinya telah pasti yang dapat diperoleh dari dasar-dasar yang bersifat teoritis seperti misalnya : cara-cara yang dipergunakan oleh ajaran syllogisme, akan tetapi adalah penyelidikan mengenai kemungkinan-kemungkinan.

2. Menurutnya Logika adalah :

a. suatu teori tentang penyelidikan tentang akibat-akibat yang mungkin.

b. suatu proses dimana prinsip-prinsip umum hanya dapat dipergunakan sebagai alat yang harus dibenarkan oleh pekerjaan yang harus dilakukannya 3. Jika proses tersebut diterapkan pada hukum, maka hal

tersebut akan berarti bahwa kepercayaan akan kebenaran dari putusan – putusan hakim yang dulu yang telah dipersiapkan akan kepercayaan kepada asas-asas hukum harus ditinggalkan dan diganti dengan satu logika yang fleksibel dan yang didasarkan pada pengalaman.

4. Menurut pendapatnya, seorang ahli hukum mendapat kesimpulan-kesimpulannya tidak dari dasar-dasar umum.

5. Hukum adalah satu proses berdasarkan eksperimen dimana unsur logika hanya merupakan salah satu unsur

sajha dari sejumlah unsur-unsur lain yang memberi petunjuk kearah satu kesimpulan tertentu.

5. Metode psycho – analitis dari Jerome Frank.

Bukunya : LAW AND THE MODERN MIND, terbit 1930.

Dengan metode psycho – analitis, Frank mengadakan analisa tentag hukum. Maksudnya untuk menghancurkan mitos tentang kepercayaan pada kepastian hukum.

Para ahli hukum para umumnya dan para hakim khususnya terpaku pada kepastian hukum, dengan membina suatu system putusan-putusan hakim dan peraturan-peraturan lengkap. (padahal menurutnya  kebenaran tentang system itu hanya terletak pada angan-angan para Hakim saja).

Hal ini menyebabkan mereka melupakan kondisi yang sesungguhnya bahwa tiap-tiap perkara pada hakekatnya merupakan masalah tersendiri yang memerlukan penciptaan suatu putusan hukum yang khusus.

Dalam dokumen FILSAFAT HUKUM (Halaman 121-126)

Dokumen terkait