UNCONJUGATED BILIRUBIN
II.3.2. Enzim Hati
II.3.2.2. Alkaline Phosphatase
Alkaline phosphatase termasuk bagian dari enzim zinc metalloenzymes yang berdistribusi luas di semua jaringan, namun kadar tertinggi terdapat di hati, tulang, usus halus, ginjal dan plasenta. Alkaline phosphatase berguna secara klinis untuk membedakan penyakit hepatobilier dengan osteogenik. Enzim ALP ini berlokasi di mikrovili dari saluran empedu, sehingga dapat digunakan sebagai penanda untuk gangguan empedu ekstrahepatik seperti batu saluran empedu, kolestatis intrahepatik, dan sirosis empedu primer (Chiasera dan Xu, 2013).
Kadar ALP normal pada pria dewasa sekitar 53-128 U/L sedangkan pada wanita dewasa ssekitar 42-98 U/L. Kadar ALP yang sangat tinggi dapat ditemukan pada obstruksi ekstrahepatik sedangkan pada gangguan hepatoselular seperti hepatitis dan sirosis ditemukan kadar ALP dengan peningkatan yang hanya sedikit sampai sedang. Tulang juga merupakan sumber ALP, oleh karena itu, kadarnya juga meningkat pada Paget’s disease, metastase tulang, penyakit yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang yang cepat selama masa pubertas. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada masa kehamilan yang berhubungan dengan pelepasan plasenta, dan tetap meningkat selama beberapa minggu setelah melahirkan. Interpretasi peningkatan kadar ALP cukup sulit karena peningkatan aktivitas enzim ini dapat terjadi tanpa adanya kerusakan hati (Arneson dan Brickell, 2007;
Chiasera dan Xu, 2013).
II.4. Leukosit II.4.1.Fungsi
Leukosit atau disebut juga sel darah putih merupakan unit penggerak sistem kekebalan tubuh manusia. Imunitas adalah kemampuan tubuh untuk menolak atau menghilangkan benda asing yang berbahaya atau sel yang abnormal. Leukosit dan turunannya, bersama dengan protein plasma, membangun sistem imunitas, sistem pertahanan internal yang mampu mengenali dan menghancurkan atau netralisasi benda asing. Secara khusus, sistem imunitas mampu (1) pertahanan terhadap serbuan mikroorganisme penyebab penyakit (seperti bakteri dan virus) (2) membersihkan sel tidak terpakai atau jaringan debris (3) identifikasi dan merusak sel kanker dalam tubuh (Sherwood, 2010).
Untuk menjalankan fungsinya, leukosit menggunakan strategi “seek out and attack” yang berarti mereka akan pergi ketempat yang mengalami invasi atau jaringan yang mengalami kerusakan. Alasan utama adanya leukosit dalam darah adalah untuk mengangkut dengan cepat dari tempat mereka dihasilkan atau disimpan menuju ketempat dimana mereka dibutuhkan. Tidak seperti eritrosit, leukosit mampu keluar dari darah dengan menyerupai perilaku amoeba seperti menggeliat ketika melewati celah sempit dan merangkak ke lokasi yang terserang. Oleh karena itu, sel efektor sistem pertahanan tubuh terdistribusi luas diseluruh tubuh dan dapat melakukan pertahanan disetiap tempat (Sherwood, 2010).
II.4.2. Jenis
Leukosit tidak bewarna karena kekurangan hemoglobin. Tidak seperti sel darah merah yang mepunyai struktur seragam, fungsi yang identik dan jumlah yang konstan, leukosit memiliki struktur, fungsi dan jumlah yang bervariasi. Ada 5 jenis leukosit yang bersirkulasi yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit dan limfosit. Kelima jenis leukosit ini memiliki struktur dan fungsi yang berbeda dan bentuknya lebih besar dari sel darah merah (Sherwood, 2010).
Kelima jenis leukosit ini dimasukkan kedalam dua kategori utama tergantung inti dan ada tidaknya granul pada sitoplasma saat pemeriksaan mikroskop. Neutrofil, eosinofil dan basofil dikelompokkan menjadi granulosit morfonuklear. Sedangkan monosit dan limfosit dikelompokkan menjadi agranulosit mononuclear (lihat gambar 7) (Sherwood, 2010).
Gambar 7. Sel Darah Normal dan Hitung Jenis Sel Darah Manusia
Dikutip dari: Sherwood, L. 2010. The Blood. In: Sherwood, L. Human Physiology from Cells to Systems. Vol. 10. pp 393. Cangage Learning, Boston.
II.4.2.1.Netrofil
Berperan sebagai fagositik dengan menelan dan menghancurkan
bakteri intraseluler. Granul netrofil mengandung protein antimikroba yang menyerang bakteri lalu difagositosis dan dibunuh didalam sel. Netrofil juga melepaskan zat kimia kedalam cairan ekstraseluler dengan eksositosis granul ke eksterior sel (degranulasi) (Sherwood, 2010).
Netrofil dapat berperan seperti bom bunuh diri dengan melakukan kematian sel terprogram yang disebut NETosis. Selama NETosis, netrofil mengeluarkan netrophil extracellular traps (NETs) yang akan dilepaskan ke cairan ekstraseluler (Sherwood, 2010).
Peningkatan netrofil (netrofilia) biasanya terjadi saat infeksi bakteri akut. Hitung jenis leukosit dapat digunakan sebagai prediksi untuk menentukan apakah terinfeksi bakteri atau virus. Namun untuk menentukan penyebab infeksi yang sesungguhnya diperlukan kultur darah yang hasilnya baru selesai dalam beberapa hari kemudian. Karena peningkatan kadar netrofil dapat digunakan sebagai penanda infeksi bakteri akut, maka antibiotik dapat digunakan sebelum hasil kultur darah keluar Sherwood, 2010).
II.4.2.2. Eosinofil
Peningkatan kadar eosinofil (eosinofilia) berhubungan dengan alergi dan parasit. Eosinofil tidak dapat menelan parasit yang lebih besar, tapi mereka dapat menyerang cacing dan melepaskan zat yang dapat membunuh cacing tersebut (Sherwood, 2010).
II.4.2.3. Basofil
Basofil merupakan leukosit dengan jumlah yang paling sedikit.
Basofil memiliki struktur dan fungsi yang hampir mirip dengan sel mast, dimana basofil tidak pernah bersirkulasi dalam darah namun tersebar dijaringan ikat diseluruh tubuh. Basofil dan sel mast melakukan sintesis dan menyimpan histamin dan heparin. Pada reaksi alergi terjadi pelepasan histamin, sedangkan heparin mempercepat pengangkatan partikel lemak dalam darah setelah makan makanan berlemak dan memainkan peranan penting dalam respon imun tertentu. Heparin juga mencegah terjadinya koagulasi darah (Sherwood, 2010).
II.4.2.4. Monosit
Monosit bersifat fagositik. Monosit berasal dari sum-sum tulang (saat belum dewasa) dan bersirkulasi hanya sekitar 1-2 hari sebelum menetap di berbagai jaringan tubuh. Monosit terus tumbuh dan membesar membentuk makrofag. Makrofag dapat bertahan sekitar dalam hitungan bulan hingga tahun, namun dapat mati lebih cepat ketika terjadi fagositosis (Sherwood, 2010).
II.4.2.5. Limfosit
Limfosit dapat memberikan imunitas terhadap target yang telah diprogram secara khusus. Ada 2 jenis limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit B menghasilkan antibodi yang bersirkulasi dalam darah dan bertanggung jawab terhadap imunitas humoral. Antibodi berikatan dengan antigen asing seperti bakteri untuk membentuk antibodi. Limfosit T tidak membentuk antibodi. Limfosit T langsung menghancurkan sel target khusus dengan menghasilkan bahan kimia dan membuat lubang sel
target. Yang termasuk sel target dari limfosit T adalah sel kanker dan sel yang terinfeksi virus. Limfosit dapat bertahan sekitar 100 hingga 300 hari (Sherwood, 2010).