Alternatif pemecahan yang dapat dilakukan yaitu memotivasi istri dari Bpk M sebagai pengawas manajemen diet. Hal ini dilakukan karena istri Bpk M adalah orang yang terdekat dengan Bpk M dan yang menyiapkan makanan di rumah. Motivasi juga diberikan kepada Bpk M sendiri yaitu untuk mematuhi diet DM dengan mengingatkan kembali tentang komplikasi DM yang dapat terjadi dan
mengingatkan bahwa Bpk M pernah bercerita akan menunaikan ibadah haji tahun depan sehingga kondisi tubuh Bpk M harus dalam keadaan sehat.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran gaya hidup di wilayah perkotaan salah satunya yaitu pergeseran pola makan. Hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti timbulnya penyakit degeneratif yaitu DM. Salah satu keluarga yang terkena DM yaitu Bpk M telah dibina oleh penulis selama 5 minggu. Asuhan keperawatan telah dilakukan penulis kepada keluarga Bpk M.
Pengkajian kepada keluarga Bapak M terutama difokuskan kepada 5 tugas kesehatan keluarga. Berdasarkan hasil pengkajian, dapat ditegakkan 3 diagnosa yaitu pertama ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM, kedua yaitu perilaku kesehatan cenderung berisiko pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M, dan yang ketiga adalah koping individu tidak efektif pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M. Penulis hanya mengintervensi diagnosa utama yaitu ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM khususnya intervensi manajemen diet.
Intervensi yang penulis implementasikan kepada keluarga Bapak M yaitu mengarah pada 5 tugas keluarga yaitu TUK 1 mengenal masalah yaitu dengan mendiskuskan definisi, penyebab, tanda dan gejala DM sampai keluarga dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM; TUK 2 menjelaskan akibat DM dan keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang menderita DM; TUK 3 menjelaskan dan mengajarkan kepada keluarga cara perawatan DM yang dapat dilakukan yaitu manajemen diet, motivasi minum obat secara teratur, perawatan kaki, senam kaki, motivasi olahraga teratur dengan manajemen diet sebagai intervensi unggulan; TUK 4 memodifikasi lingkungan seperti menjauhkan makanan yang manis-manis; dan TUK 5 memotivasi penderita DM untuk pergi ke pelayanan kesehatan untuk cek gula darah secara berkala.
Evaluasi dari intervensi unggulan manajemen diet yang telah dilakukan oleh penulis selama 7 kali kunjungan yaitu didapatkan kadar glukosa darah yang tidak stabil karena ketidakstabilan pula dalam melakukan manajemen diet. Ini dibuktikan dengan kadar glukosa darah 334 mg/dl sebelum dilakukan manajemen diet, setelah kunjungan berikutnya didapatkan kadar glukosa darah 300 mg/dl dengan pengakuan dari Bpk M bahwa ia mematuhi pola makan yang telah diberikan oleh penulis. Penulis memonitoring diet pada kunjungan berikutnya didapatkan GDS= 417 mg/dl dengan pengakuan bahwa ia makan cemilan manis yaitu roti isi kacang ijo 3 bungkus dan begadang, pagi hari makan bubur ayam 1 mangkok penuh. Monitoring terus dilakukan pada kunjungan berikutnya didapatkan GDS= 447 mg/dl karena Bpk M mengatakan makan nasi padang 1 porsi, makan soto ayam, nasi juga tidak ditakar, pagi hari kemudian makan bubur seporsi, lalu diselingi makan nasi uduk. Kunjungan terakhir didapatkan GDS= 318 mg/dl dengan pengakuan bahwa Bpk M telah mematuhi pengaturan makan kembali setelah mengetahui saat pemeriksaan kunjungan lalu GDS nya tinggi. Jadi, berdasarkan intervensi unggulan manajemen diet yang diterapkan kepada Bpk M adalah intervensi berhasil sebagian karena dengan manajemen diet yang baik dan terkontrol, ternyata Bpk M memiliki kadar glukosa darah yang terkontrol pula begitupun sebaliknya.
5.2 Saran
Saran penulis ditujukan untuk keluarga, masyarakat, perawat Puskesmas, dan keilmuan. Saran yang dapat penulis berikan dari karya ilmiah akhir ini, yaitu: 5.2.1 Keluarga
Sebaiknya keluarga dapat mandiri dalam merawat anggota keluarga dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
5.2.2 Masyarakat
Sebaiknya masyarakat dapat meningkatkan pengetahuannya dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan masalah kesehatan DM khususnya dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri.
5.2.3 Perawat Puskesmas
Sebaiknya perawat Puskesmas dapat menjadikan karya ilimiah akhir ini sebagai data dasar yang digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan dengan masalah DM dan dapat menjadi role model pelayanan asuhan keperawatan keluarga kepada klien dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
5.2.4 Keilmuan
Sebaiknya pengembangan ilmu terkait asuhan keperawatan keluarga dapat lebih ditingkatkan kembali khusunya dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
ADA. (2010). Position statement: Standars of medical care in diabetes -2010. 25
Juni 2013.
http://care.diabetesjournals.org/content/35/Supplement_1/S11.full .
Alfian, M. (2007). Kota dan permasalahannya. Yogyakarta: Makalah Seminar Diskusi Sejarah FIB UI.
Allender, J.A., Rector, C., & Warner, K.D. (2010). Community health nursing: promoting and protecting the public’s health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Asmadi. (2008). Konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. (2009). Profil kesehatan Indonesia tahun 2008. Jakarta: Depkes RI.
Friedman, M.M., Bowden, V.R., & Jones, E.G. (2003). Family nursing: research, theory, and practice. New Jersey: Prentice Hall.
Kompas. (2013). Perubahan pola makan bikin diabetes melonjak. 10 Juli 2013. http://health.kompas.com/read/2013/05/04/11525581/Perubahan.Pola.Mak an.Bikin.Diabetes.Melonjak.
Lancester & Stanhope. (2004). Community and public health nursing. St.Louis: Mosby.
MADINA. (2013). Diabetes mellitus ancaman umat manusia di dunia. 21 Juni 2013. http://madina.co.id/kesejahteraan-rakyat/4659-diabetes-mellitus-ancaman-umat-manusia-di-dunia.html.
NANDA. (2012). Nursing diagnosis definition and classification. Oxford: Wiley-Blackwell.
OKEZONE. (2012). Gaya hidup penyebab utama diabetes. 24 Juni 2013.
http://health.okezone.com/read/2012/11/06/482/714412/gaya-hidup-penyebab-utama-diabetes
PERKENI. (2011). Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia 2011. Jakarta: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Potter & Perry. (2005). Fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan praktik.
Prijadi, B., Nila, K.F., & Hartono, R. (2013). Hubungan asupan serat larut dan aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. 9 Juni 2013. fk.ub.ac.id/artikel/id/filedownload/gizi/RUDI%20HARTONO.pdf .
Rahmawati, Amminuddisyam, & Hidayanti, H. (2011). Pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah penderita DM tipe 2. 9 Juni 2013. http://www. journal.unhas.ac.id.
Republika. (2011). Wew, penderita diabetes di Indonesia melonjak pesat. 30 Juni 2013. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/06/08/lmh6cj-wew-penderita-diabetes-di-indonesia-melonjak-pesat
RISKESDAS. (2007). Laporan nasional 2007. Depkes RI.
Rozaline, H. (2006). Terapi jus buah & sayur. Jakarta: Puspa Swara.
Smeltzer, S.C.(2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah vol 2. Jakarta: EGC. Suyono, S. (2009). Kecenderungan peningkatan jumlah penyandang diabetes
mellitus. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Tim Vitahealth. (2004). Diabetes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tjokroprawiro, A. (1989). Diabetes mellitus (klasifikasi, diagnosis, dan dasar-dasar terapi). Jakarta: PT Gramedia.
Vivalife. (2009). Diabetes banyak menyerang kaum muda di Asia. 30 Juni 2013.
http://life.viva.co.id/news/read/61354-diabetes_menyerang_kaum_muda_di_asia
Waspadji, S. (2007). Pedoman diet diabetes mellitus. Jakarta: FK UI.
Waspadji, S., Kartini, S., & Suharyanti. (2010). Daftar bahan makanan penukar edisi 3. Jakarta: Badan Penerbit FK UI.
Wibisono, A.H. (2012). Pengalaman klien diabetes mellitus tipe 2 dalam mengontrol glukosa darah secara mandiri di Kota Depok. Tesis FIK UI.