VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3 Alternatif untuk Mengurangi Risiko Produks
Risiko produksi yang dihadapi oleh petani tomat dan cebe merah di Desa Perbawati sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim. Selain melakukan diversifikasi usahatani, para petani belum melakukan kegiatan pencegahan untuk mengurangi timbulnya risiko. Sebagian besar dari mereka, melakukan sesuatu ketika risiko itu sedang terjadi sehingga tingkat risiko yang mereka alami kemungkinan akan lebih tinggi dan perlakuan mereka terhadap risiko tersebut berdasarkan pengalaman saja.
Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko dapat berasal dari hasil evaluasi risiko-risiko yang sudah ada sebelumnya kemudia melakukan suatu tindakan untuk meminimalisir risiko yang ada.
1. Perbaikan pola tanam
Pada umumnya para petani di Desa Perbawati masih ada yang tidak memperhatikan teknik penanaman yang baik. Kenyataannya dalam satu kali pembukaan lahan yang digunakan untuk tiga kali masa tanam beberapa responden petani tidak memperhatikan jenis tanaman yang mereka tanam yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap keberadaan hama dan penyakit. Hal ini biasanya banyak dilakukan oleh petani responden dengan kepemilikan lahannya kurang dari 1 ha. Misalnya dalam satu kali pembukaan lahan, para petani mengawali dengan menanam tomat selanjutnya cabai merah dan yang terakhir ditanami tomat kembali yang ditumpangsari dengan berbagai jenis tanaman penyela lainnya. Padahal tanpa mereka sadari hal itu yang menyebabkan tingginya serangan hama dan penyakit.
Maka dari itu, perlu adanya perbaikan pola tanam yang mereka lakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganti tanaman pada musim selanjutnya dengan menanam sayuran yang bukan berasal dari family yang sama. Seperti ketika pada awal pembukaan lahan para petani biasanya menanam tomat, maka musim selanjutnya sebaiknya petani tidak menanan cabai merah yang termasuk family
yang sama yaitu solonaceae tetapi menanamnya dengan jenis tanaman yang lain seperti kubis ataupun pakcoy. Perlakuan tersebut secara berturut-turut pada setiap musim tanam akan memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman sehingga akan mengurangi biaya produksi terutama biaya penyemprotan yang dikeluarkan setiap musimnya oleh para petani. Oleh karena itu, perlunya dilakukan penerapan pola tanam dengan menanam komoditas lain pada musim berikutnya.
2. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit tidak bisa hanya bergantung pada pestisida saja. Namun, kenyataannya hampir semua petani di Desa Perbawati mengandalkan pestisida untuk mengurangi serangan hama dan penyakit dan penggunaannya terkadang melebihi dosis yang dianjurkan sehingga akan berbahaya baik bagi ekosistem maupun bagi manusianya sendiri. Perlu diketahui bahwa penyemprotan yang dilakukan secara terus menerus dan meningkatkan dosis pestisida justru akan menyebabkan organisme yang menjadi hama dan penyakit akan kebal terhadap pestisida. Selain itu, biaya yang akan dikeluarkan oleh petani tersebut akan lebih tinggi dan juga akan terjadi peningkatan residu pestisida di dalam tanah. Akibatnya, tingkat serangan hama dan penyakit akan semakin tinggi sehingga dapat menyebabkan penurunan produktivitas baik pada tomat maupun pada cabai merah.
Dengan adanya informasi seperti itu, maka diperlukan suatu upaya untuk mengurangi serangan dan hama dan penyakit yang bersifat alami. Hal ini dapat dilakukan dengan perbaikan pola tanam seperti yang sudah dijelaskan pada point 1. Selain itu dapat dilakukan dengan cara mencabut inang yang sudah terinfeksi dan tidak membiarkan inang tersebut di lahan pertanian tetapi harus dibakar. Dapat pula dilakukan pada benih sebelum dijadikan bibit yaitu dengan merendam benih tersebut di dalam air bersuhu 500C untuk membunuh pathogen penyebab munculnya hama dan penyakit, mengatur jarak tanam perpohonnya agar antara
pohon yang satu dengan pohon yang lainnya tidak terlalu dekat sehingga semua tanaman dan buah dapat terkena sinar matahari secara merata. Kemudian, perlakuan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit dapat pula dilakukan pada media tanamnya. Dimana lahan yang akan ditanami harus diperlakukan dengan sebaik mungkin agar hama yang menyerang tanaman lewat akar dapat dikurangi. Hal ini dapat dilakukan ketika pembukaan lahan baru, lahan yang sudah diolah, diberi kapur tanaman, pupuk kandang, dan pupuk kimia tidak langsung ditutup dengan mulsa tetapi terlebih dahulu harus didiamkan beberapa hari agar terkena sinar matahari sehingga kondisi tanah tidak terlalu lembab.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tindakan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan tingkat produktivitas tomat dan cabai merah dengan cara lain selain penggunaan pestisida dapat lebih efektif untuk memutus siklus hidup organisme hama dan penyakit tersebut dan juga efisien terhadap biaya penyemprotan yang dikeluarkan oleh para petani tomat dan cabai merah dapat ditekan dibandingkan ketika petani meningkatkan frekuensi dan dosis penyemprotan.
3. Pengelolaan lahan yang baik
Pada umumnya para petani di Desa Perbawati memanfaatkan lahannya secara intensif. Intensitas pemanfaatan lahan yang tinggi semakin lama akan menurunkan tingkat kesuburan lahan yang dikelola oleh para petani. Hal ini pun ditambah tingkat residu pestisida yang terus meningkat setiap musimnya. Eksploitasi lahan secara terus menerus tanpa ada perbaikan yang mendukung akan merusak kehidupan organisme di dalam tanah dan unsur hara lainnya yang bermanfaat bagi tumbuh kembang tanaman tomat dan cabai merah akibatnya akan berpengaruh pada produksi sayuran yang ditanam.
Untuk mengendalikan penurunan produksi tanaman akibat berkurang unsur hara dalam tanah maka para petani perlu pengolahan lahan yang lebih baik dengan memberikannya kaptan (kapur pertanian). Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa kondisi asam basa tanah karena baik tomat maupun cabai merah dapat berproduksi tinggi pada lahan denga kondisi tanah yang netral. Pada kondisi lahan dengan PH netral maka dapat memperbaiki struktur tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme dalam tanah dalam membantu proses penguraian bahan organik
tanah dan menurunkan zat yang bersifat racun tanpa menghilangkan zat-zat penting yang lain. Selain itu, penggunaan pupuk organic seperti pupuk kandang harus lebih banyak penggunaannya dibandingkan pupuk kimia karena selain dapat meningkatkan unsur hara secara alami juga agar tidak merusak kehidupan mikrorganisme lain yang bermanfaat. Mengurangi penggunaan obat kimia juga dapat berperan untuk mengurangi residu pestisida di dalam tanah dan juga lahan harus ditanamai dengan tanaman selingan yang dapat meningkatkan unsur hara tanah seperti menyelingi tanaman tomat dan cabai merah dengan tanaman kacang- kacangan.
4. Pembukuan
Proses pencatatan yang baik yang dilakukan oleh para petani pada setiap panen permusimnya dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat risiko produksi. Dengan begitu maka mereka dapat mengetahui hal apa saja yang dapat dilakukan oleh para petani untuk meningkatkan hasil produksi setiap musimnya. Selain itu, adanya pencatatan yang terstruktur dapat membantu para petani untuk melihat bulan apa saja cuaca ekstrim yang dapat menurunkan produksi sayuran mereka. Akibatnya hal ini cukup efektif untuk melakukan perencanaan produksi bagi para petani, mulai dari musim tanam hingga musim panen dilakukan. Artinya, dengan adanya data tahunan dapat diketahui perolehan hasil panen yang dilakukan pada bulan-bulan tertentu dan juga pada bulan apa saja terjadinya panen raya. Misalnya produktivitas turun atau meningkat pada bulan-bulan tertentu. Dengan begitu para petani akan tahu, ketika mereka mengalami panen pada musim yang biasanya terjadi penurunan produktivitas upaya apa yang harus dilakukan agar produksinya tidak turun seperti musim panen sebelumnya.
5. Pengembangan dan Peningkatan kreativitas
Alternatif terakhir yang bisa dilakukan oleh para petani ketika risiko tersebut sudah terjadi yaitu kegiatan pengembangan kreativitas para ibu rumah tangga. Ketika terjadi musim panen, pada umumnyatidak semua tomat dan cabai yang dihasilkan mulus sesuai dengan permintaan pasar. Biasanya ada saja tomat ataupun cabai yang mengalami busuk buah secara keseluruhan, sebagian, atau hanya cacat akibat hama dan penyakit sehingga tidak bisa dimasukan ke dalam
peti untuk dijual. Tomat atau cabai merah yang busuk secara keseluruhan memang tidak bisa dimanfaatkan lagi, namun tomat atau cabai merah yang hanya sedikit tingkat kebusukannya ataupun hanya cacat kadang dibawa pulang oleh para pekerjanya tapi ketika musim panen yang terjadi secara terus menerus mengakibatkan tomat atau cabai merah tersebut dibuang begitu saja baik di dalam lahan pertanian mereka maupun di luar area lahan mereka seperti di jalanan.
Kondisi tersebut menyebabkan terganggunya ekosistem lingkungan karena tomat atau cabai merah yang dibuang begitu saja merupakan limbah dan juga sebagai sumber bagi munculnya hama dan penyakit baik bagi tanaman tomat maupun bagi cabai merah. Berdasarkan penuturan para Ibu Rumah Tangga yang berada di Desa Perbawati bahwa desa tersebut sudah diberikan inventaris berupa peralatan lengkap untuk mengolah buah tomat ataupun cabai merah yang tidak layak jual untuk menambah pemasukan bagi rumah tangga di Desa Perbawati karena kerugian yang telah terjadi. Dalam hal ini, tomat atau cabai merah yang tidak layak jual dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut lagi sehingga bisa dikonsumsi oleh masyarakat seperti membuat saus tomat atau saus cabai dan manisan. Selain itu, hal ini juga dapat mengurangi besarnyakerugian setelah kejadian risiko produksi tersebut terjadi.