• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.3 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.3.1 Konsep Risiko dan Perilaku dalam Menghadapi Risiko

Secara umum risiko dan ketidakpastian merupkan satu kesatuan dalam penggunaannya sehari-hari namun keduanya memiliki perbedaan. Risiko berhubungan dengan suatu kejadian, dimana kejadian tersebut memiliki kemungkinan untuk terjadi atau tidak terjadi, dan jika terjadi maka akan menimbulkan kerugian bagi pihak terkait (Kountur 2006). Dengan kata lain risiko merupakan kejadian atau suatu kemungkinan dimana peluang dan hasil akhirnya dapat di ketahui dan dapat diukur oleh para pembuat keputusan. Sedangkan ketidakpastian menunjukkan keadaan dimana hasil dan akibatnya tidak bisa diketahui oleh para pembuat keputusan. Perbedaan antara risiko dan ketidakpastian dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Rangkaian Kejadian Berisiko dengan Kejadian Ketidakpastian Sumber: Debertin (1986)

Pada umumnya peluang terhadap suatu kejadian dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman dalam mengelola kegiatan usaha. Jika dilihat dari definisi-definisi tersebut maka terdapat tiga unsur yang membangun suatu risiko yaitu kejadian, kemungkinan, dan akibat. Selain itu terdapat unsur lainnya yaitu eksposur, waktu, dan rentan. Eksposur berhubungan dengan peluang keterlibatan pada beberapa kejadian. Unsur waktu berhubungan dengan semakin lama sesuatu itu terekspos maka semakin tinggi risikonya. Sedangkan unsur rentan menunjukan semakin mudah rusak maka semakin tinggi risikonya. Indikator adanya risiko yaitu adanya variasi atau fluktuasi baik pada produksi, harga, maupun pendapatan yang diperoleh para pembuat keputusan.

Kejadian berisiko

Probabilitas dan Hasil Akhir Diketahui

Probabilitas dan Hasil Akhir Tidak Diketahui

Para pembuat keputusan perlu menilai tingkat risiko pada bisnisnya untuk menetapkan strategi sebagai upaya untuk mengurangi keberadaan risiko tersebut.

Terdapat hubungan antara risiko dan return yang akan diperolehnya sehingga para pembuat keputusan dapat melakukan pengelolaan risiko pada bisnisnya dengan baik. Hal ini ditunjukan oleh Gambar 8 dimana risiko dan return

yang dihadapi para pembuat keputuusan bergerak satu arah. Dengan kata lain, semakin besar risiko yang dihadapi para pembuat keputusan maka akan semakin tinggi return yang diterima. Begitu pula sebaliknya semakin kecil risiko yang dihadapi para pembuat keputusan maka akan semakin kecil return yang diterima.

Gambar 8. Hubungan Risiko dan Pendapatan (Return)

Sumber : Hanafi (2007)

Selain itu, terdapat hubungan antara kepuasan dan pendapatan yang akan mempengaruhi perilaku para pembuat keputusan untuk menghadapi berbagai jenis risiko. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hubungan Kepuasan dan Pendapatan Sumber :Debertin (1986) Return Risk Expected Return Utility Income Utility Utility Income Income Risk Averse Risk Neutral Risk Lover

Berdasarkan Gambar 9, maka dapat dijelaskan beberapa perilaku para pembuat keputusan dalam menghadapi risiko (Kountur 2006), yaitu:

1. Fungsi kepuasan Risk Lover, pembuat keputusan yang berani terhadap risiko, jadi ketika variasi dari keuntungan meningkat, maka pembuat keputusan akan mengimbanginya dengan menurunkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan ukuran dari kepuasan.

2. Fungsi kepuasan Risk Neutral, pembuat keputusan yang netral terhadap risiko, jadi ketika variasi dari keuntungan meningkat, maka pembuat keputusan akan mengimbanginya dengan menurunkan atau meningkatkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan ukuran dari kepuasan.

3. Fungsi kepuasan Risk averter, pembuat keputusan yang takut terhadap risiko, jadi ketika variasi dari keuntungan meningkat, maka pembuat keputusan akan mengimbanginya dengan meningkatkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan ukuran dari kepuasan.

Gambar 10 menunjukkan perilaku pengambil keputusan dalam menghadapi risiko yang dijelaskan oleh hubungan antara variasi dan keuntungan yang diharapkan.

Gambar 10. Hubungan Expected Return dan Variance Return Sumber :Debertin (1986) Expected Return Variance Return U3 Risk Taker U1 Risk Averter U2 Risk Neutral

Hubungan antara expected return (ukuran dari kepuasan para pembuat keputusan) dan variance return (ukuran dari tingkat risiko) dapat menggambarkan perilaku para pembuat keputusan dalam menghadapi risiko.

1. Risk Averter, Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko, jadi ketika U1 diasumsikan sebagai kurva isoutility pembuat keputusan, maka ketika adanya kenaikan variance return akan diimbangi dengan meningkatkan keuntungan yang diharapkan.

2. Risk Neutral, pembuat keputusan yang netral terhadap risiko, jadi ketika U2 diasumsikan sebagai kurva isoutility pembuat keputusan, maka adanya kenaikan variance return tidak akan diimbangi dengan menaikkan keuntungan yang diharapkan.

3. Risk Taker, pembuat keputusan yang takut terhadap risiko, jadi ketika U3 diasumsikan sebagai kurva isoutility pembuat keputusan, maka adanya kenaikan variance return akan diimbangi oleh pembuat keputusan dengan kesediaannya menerima return yang diharapkan lebih rendah.

3.3.2 Sumber –Sumber Risiko

Beberapa sumber risiko yang sering dihadapi oleh para petani menurut Harwood et al. (1999), yaitu risiko produksi, risiko pasar atau harga, risiko kelembagaan, risiko kebijakan, dan risiko finansial.

1. Sumber risiko yang berasal dari risiko produksi yaitu, gagal panen, penurunan produkstivitas, kerusakan produk akibat serangan hama penyakit, perubahan cuaca, kelalaian sumberdaya manusia, misalnya ketidaksesuaian dalam pemupukan.

2. Sumber risiko yang berasal dari risiko pasar atau risiko harga yaitu, kerusakan produk sehingga tidak memenuhi mutu pasar akibatnya tidak dapat dijual, permintaan terhadap produk rendah, fluktuasi harga input dan output, serta daya beli masyarakat menurun.

3. Beberapa risiko yang berasal dari risiko kelembagaan yaitu adanya aturan yang membuat anggota dari suatu organisasi menjadi kesulitan dalam memasarkan ataupun meningkatkan produksinya.

4. Beberapa risiko yang berasal dari risiko kebijakan yaitu adanya kebijakan tertentu yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha, misalnya kebijakan tarif ekspor.

5. Beberapa risiko yang berasal dari risiko finansial yaitu, adanya piutang tidak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha menjadi terhambat, laba menurun karena terjadinya krisis ekonomi.

3.3.3 Pengukuran Risiko

Risiko merupakan suatu kejadian yang memiliki kemungkinan untuk terjadi atau tidak terjadi dimana peluangnya dapat diukur oleh para pembuat keputusan sehingga para pengambil keputusan dapat menilai tingkat risiko untuk membuat strategi yang dapat meminimalisir munculnya risiko tersebut. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur risiko yaitu variance, standard deviation dan

coeffition variation dimana ukuran tersebut berkaitan satu sama lain.

Variance merupakan suatu ukuran tingkat risiko. Sedangkan simpangan baku (standard deviation) menggambarkan rata-rata perbedaan penyimpangan. Jadi semakin kecil simpangan baku dan variannya makarisiko yang dihadapi akan semakin kecil. Selain itu, Coefficient variation merupakan ukuran yang paling tepat jika dibandingkan dengan variance dan standard deviation bagi pengambil keputusan khususnya dalam memilih salah satu alternatif dari beberapa kegiatan usaha dengan mempertimbangkanrisiko yang dihadapi dari setiap kegiatan usaha. Semakin kecil Coefficient variation maka akan semakin rendah risiko yang dihadapi.

3.3.4 Strategi dalam Mengurangi Risiko

Setiap bisnis yang dipilih oleh para pembuat keputusan baik bisnis yang bergerak pada sektor pertanian, peternakan, lembaga keuangan, maupun industri akan memiliki suatu risiko. Hal ini berbanding terbalik dengan keinginan para pembuat keputusan yang mengharapkan bisnisnya berjalan semulus mungkin tanpa ada risiko apapun. Risiko yang muncul tersebut tidak dapat dimusnahkan tetapi hanya bisa diminimalisir saja oleh para pengambil keputusan.

Menurut Harwood et al. (1999), pembuat keputusan dapat mengelola risiko yang dihadapinya dengan melakukan kemitraan atau menjalin suatu

integrasi vertikal, diversifikasi usaha, kontrak produksi, kontrak pemasaran, perlindungan nilai, dan melakukan asuransi.

3.4Kerangka Pemikiran Operasional

Tomat dan cabai merah merupakan komoditas hortikutura yang cukup memiliki nilai ekonomi. Hal ini dikarenakan, tomat dan cabai merah merupakan komoditas yang banyak digunakan konsumen baik untuk bumbu makanan maupun untuk diolah lebih lanjut. Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Sukabumi yang menjadikan tomat dan cabai merah sebagai komoditas utamanya. Menurut para petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati, produksi tomat dan cabai merah sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, iklim, hama, dan penyakit sehingga produksinya bervariasi pada setiap musim panennya.

Penelitian yang dilakukan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi bertujuan untuk mengetahui kondisi dan tingkat risiko produksi yang dilami petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati, sumber yang menyebabkan risiko produksi, dan menentukan strategi yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko yang dihadapi para petani di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi. Penilaian tingkat risiko produksi ini dilakukan dengan menentukan sumber risiko kemudian menghitung tingkat risiko dengan menggunakan alat ukur risiko yaitu variance, standard deviation, dan coefficient variance baik untuk risiko yang bersifat spesialisasi maupun diversifikasi. Setelah hasil perhitungan tingkat risiko diketahui, maka menetapkan strategi yang tepat untuk mengurangi tingkat risiko agar para petani mampu mencapai hasil yang diharapkan. Bila tahapan analisis tersebut selesai maka dapat direkomendasikan kepada para petani di Desa Perbawati.

Gambar 11. Kerangka Pemikiran Operasional Petani di Desa Perbawati yang Mengusahakan Tomat dan Cabai Merah

Fluktuasi Produksi Tomat dan Cabai Merah

Analisis Kuantitatif Tingkat Risiko

Variance

Standard Deviation Coefficient Variannce

Strategi untuk Mengurangi Risisko Produksi

Analisis Kualitatif Sumber Risiko:

 Perubahan Cuaca dan Iklim

 Hama dan Penyakit

IV. METODE PENELITIAN

Metode penelitian menguraikan tahapan-tahapan yang dilakukan pada saat penelitian berlangsung. Tahapan-tahapan tersebut digunakan peneliti dalam melaksanakan penelitian sehingga proses penelitian sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tahapan-tahapan tersebut meliputi penentuan lokasi dan waktu penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, metode pengolahan data, dan metode analisis data.

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dengan menganalisis risiko produksi yang dihadapi para petani tomat dan cabai merah yang berada di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja karena Desa Perbawati merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilakukan pada tanggal 21 Desember 2011 hingga tanggal 21 Februari 2012.

4.7 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pencatatan dan wawancara langsung dengan para petani di Desa Perbawati. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung mengenai luas lahan yang diusahakan, harga jual komoditasnya, biaya- biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, jumlah produksi yang diperoleh selama masa produksi berlangsung, proses produksi, risiko yang dihadapi petani, penyebab risiko yang terjadi dan untuk mengetahui bagaimana proses penanganan risiko yang selama ini telah dilakukan oleh para petani serta untuk mengetahui peluang terjadinya produksi.

Data sekunder diperoleh dari Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Sukabumi, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi, Dinas Pertanian dan Tanaman pangan Provinsi Jawa Barat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, dan Badan Pusat statistika, perpustakaan, dan situs-situs yang terkait dengan kegiatan penelitian serta literatur yang relevan.

4.8 Metode Pengumpulan Data

Data diperoleh melalui sensus yaitu meneliti semua petani yang mengusahakan tomat dan cabai merah yang berada di Desa Perbawati sehingga para petani memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai responden dalam penelitian ini. Petani yang dijadikan responden untuk kegiatan penelitian berjumlah 25 orang yang merupakan populasi petani yang secara intensif menanam tomat dan cabai merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, artinya, di Desa Perbawati hanya ada 25 orang responden petani yang mengusahakan tomat dan cabai merah secara rutin pada setiap musim tanamnya, sehingga petani yang hanya menanam tomat atau cabai merah saja tidak dimasukkan sebagai petani respoden.

4.9 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, maka dilakukan pengolahan data. Dalam melakukan pengolahan data menjadi informasi dengan bantuan aplikasi Microsoft Excel 2007 dan Word 2007. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan dua analisis yaitu secara kualitatif dan kuantitatif.

4.9.1 Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif digunakan ketika mendeskripsikan kondisi risiko produksi terhadap komoditi cabai merah dan tomat yang dihadapi oleh para petani. Selain itu, untuk mendeskripsikan sumber yang menyebabkan adanya risiko dan juga untuk mendeskripsikan strategi para petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati untuk mengurangi tingkat risiko.

4.9.2 Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitatif digunakan ketika menghitung pendapatan petani, peluang, dan tingkatan risiko produksi baik berdasarkan produktivitas maupun berdasarkan pendapatan dengan menghitung variance, standard deviation, dan coefficient variance.

4.9.2.1Analisis Risiko pada Kegiatan Usaha Spesialisasi

Peluang suatu kejadian dapat diukur berdasarkan pengalaman para petani di masa lalunya. Peluang tersebut diperoleh melalui tiga kondisi, yaitu kondisi baik,

normal, dan kondisi buruk. Pada setiap kondisi, dilakukan pengukuran terhadap peluang yaitu membagi frekuensi kejadian dengan periode waktu proses produksi. Secara sistematis dapat dituliskan:

Keterangan : p = peluang

: f = Frekuensi kejadian (kondisi baik, normal, dan buruk) : T = Periode waktu proses produksi

Penghitungan peluang dilakukan pada komoditas yang diteliti yaitu cabai merah dan tomat. Kondisi normal terjadi ketika produktivitas tomat mencapai 1- 1,6 kg/pohon dan cabai merah mencapai 0,5-0, kg/pohon. Kondisi baik terjadi ketika produksi tomat dan cabai merah mencapai hasil di atas kondisi normal, sedangkan kondisi buruk terjadi ketika produksi tomat dan cabai merah mencapai hasikl di bawah kondisi normal.

Jumlah kejadian (musim panen) yan diteliti yaitu sebanyak 4 kejadian, dimana komoditas dengan kondisi baik sebanyak 1 kejadian, normal sebanyak 1 kejadian, dan buruk sebanyak 2 kejadian. Peluang yang dihasilkan untuk kondisi baik yaitu 0,25, normal sebesar 0,25, dan buruk sebesar 0,5, sehingga total peluang berjumlah satu. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Selain itu, ketika para petani akan melakukan pengambilan keputusan yang mengandung risiko, maka Expected return dapat membantunya. Expected return

merupakan jumlah produksi pada masing-masing kondisi (kondisi baik, normal, dan buruk) yang terjadi akibat adanya peluang (Lampiran 15 dan 16). Rumus

Expected return dituliskan sebagai berikut:

Dimana: Ř = Expected return

pij = Peluang produktivitas tomat/cabai merah ( i = usaha, j = kejadian)

Rij = Return tomat/cabai merah

p = f/T Ř i = � �=1 pij Rij � �=1 pij = 1 atau pi1 + pi2 + pi3 + ... + pim atau Ři = pi1 Ri1 + pi2 Ri2 + pi3 Ri3 + ... + pim Rim

Selanjutnya untuk mengukur return dari suatu usaha diantaranya dapat menggunakan varian (variance), standar deviasi (standard deviation), koefisien variasi (coefficient variation).

1. Variance

Pengukuran varian dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari

return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian (Lampiran 15 dan 16). Secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut

Keterangan : σi2 = variance dari return

Nilai variance menunjukan bahwa semakin kecil nilai variance maka semakin kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi oleh para petani.

2. Standard Deviation

Standar deviasi dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai varian (Lampiran 15 dan 16). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Nilai standar deviasi menunjukan semakin kecil nilainya maka semakin kecil juga risiko yang dihadapi oleh petani.

3. Coefficient variation

Diukur dari rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan (Lampiran 15 dan 16).. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

CV = σi / Ři

Semakin kecil nilai koefisien varian maka semakin rendah risiko yang dihadapi petani.

4.9.2.2 Analisis Risiko pada Kegiatan Usaha Diversifikasi

Varian gabungan dari beberapa usaha yang didiversifikasi menggunakan

fraction tertentu. Dalam penelitian ini, fraction diperoleh berdasarkan luas lahan

σi = √σi2

σi2 =

� �=1

yang digunakan untuk menanam tomat dan cabai merah. Fraction untuk tanaman tomat yaitu sebesar 54 persen, sedangkan untuk cabai merah sebesar 46 persen. Varian gabungan dapat dituliskan sebagai berikut:

Dimana: σp2 = varian portofolio untuk usahatani tomat dan cabai merah

σij = covariance antara investasi usahatani tomat dan cabai merah

k = Fraction portofolio pada investasi usahatani tomat

(1-k) = Fraction portofolio pada investasi usahatani cabai merah

Dalam mencari nilai covariance dapat diperoleh melalui perkalian antara koefisien korelasi usaha i dan j dengan covariance usaha i dan j. secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut:

σij = ρijσiσj

Nilai varian fortopolio (σij2) menunjukkan ukuran risiko portofolio yang

dihadapi petani dalam mengombinasikan beberapa kegiatan usahanya. Nilai varian portofolio sangat ditentukan oleh korelasi antara usaha i dan j. nilai koefisien korelasi investasi usaha i dan j dapat bernilai positif (+) atau negatif (-1). Kemungkinannya antara lain:

1. Nilai koefisien korelasi positif satu (+1) berarti kombinasi dua usaha i dan j bergerak bersamaan.

2. Nilai koefisien korelasi negatif satu (-1) berarti kombinasi dua usaha i dan j bergerak berlawanan arah.

3. Nilai koefisien korelasi nol (0) berarti kombinasi dua usaha i dan j tidak ada hubungan satu sama lain.

4. Nilai koefisien korelasi nol koma lima (0,5) berarti kombinasi dua usaha i dan j tidak ada hubungan satu sama lain.

Kegiatan usahatani, tomat dan cabai merah memiliki koefisien korelasi positif satu (+1) karena keduanya berjalan bersamaan. Ketika curah hujan tinggi maka produksi kedua komoditas tersebut akan menurun dan sebaliknya.

4.10Asumsi-asumsi Dasar dalam Menentukan Skenario Diversifikasi

Dalam menentukan strategi yang digunakan untuk mengurangi risiko produksi, penulis menggunakan beberapa asumsi dasar. Asumsi-asumsi yang digunakan antara lain:

1. Dilihat dari waktu tanam, petani di Desa Perbawati mengusahakan tomat dan cabai merah dalam waktu yang tidak bersamaan sehingga dapat dibandingkan tingkat risiko produksi tomat dan cabai merah yang dilakukan secara spesialisasi dan secara diversifikasi.

2. Menggunakan dua skenario fraction yang berdasarkan pada luas lahan yang digunakan untuk menanam tomat dan cabai merah. Dimana penentuan besarnya fraksi dilakukan secar sembarng. Diantaranya:

a. Proporsi luas lahan yang digunakan untuk menanam tomat dan cabai merah sama (fraksi tomat=fraksi cabai merah = 50:50).

b. Proporsi luas lahan yang digunakan untuk menanam cabai merah lebih tinggi dibandingkan untuk menanam tomat (fraksi tomat:fraksi cabai merah = 40:60).

VIII.

GAMBARAN UMUM

8.1 Karakteristik Wilayah Penelitian

8.1.1 Kondisi Geografis dan Potensi Wilayah

Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat terletak 3 Km (0,25 jam) dari pemerintah kecamatan, 60 km (2 jam) dari ibu kota kabupaten, dan 65 (2,5 jam) km dari Pusat Bakorwil Bogor. Tinggi pusat pemerintahan Desa Perbawati yaitu 900 m dpl dengan suhu udara antara 180C sampai 250C. Jumlah hari dengan curah hujan terbanyak yaitu 171 hari dan curah hujan yaitu 2496 mm/tahun. Sumber air yang digunakan oleh masyarakat Desa Perbawati sehari-harinya yaitu berasal dari sungai dan mata air diantaranya sumber air Cipelang dan Cikarawang. Desa Perbawati mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

 Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Undrusbinangun, Kecamatan Kadudampit

 Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi

 Sebelah Utara berbatasan dengan desa Taman Nasional Gede Pangrango

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Karawang, Kecamatan Sukabumi.

8.1.2 Potensi Pertanian dan Komoditas Unggulan

Luas wilayah Desa Perbawati secara keseluruhan yaitu 503.612,5 Ha. Jenis tanah di Desa Perbawati pada umumnya adalah tanah latosol dan andosol dengan bentuk wilayah 20 persen datar bergelombang dan 80 persen berupa bergelombang berbukit sehingga sebagian besar lahannya digunakan untuk kegiatan usaha tani. Gambar 12 menunjukka bahwa potensi lahan di Desa Perbawati sebesar 74 persen untuk tanaman sayuran terutama tomat dan cabai merah. Hal ini terkait dengan bentuk wilayahnya yang sebagian besar berbukit dan kondisi geografisnya yang mendukung. Selanjutnya sebanyak 7 persen lahannya berpotensi untuk ditanami tanaman palawija seperti jagung, buah- buahan seperti pisang ambon, dan kebun kopi. Selain itu, sebanyak 5 persen lahannya berpotensi untuk pengembangan teh rakyat dan tanaman hias seperti

daun suji dan bunga sedap malam. Potensi usaha tani di Desa Perbawati dapat dilihat pada Gambar 12.

Keterangan:

* : Tanaman hias dan teh rakyat

Gambar 12. Potensi Usaha Tani di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi

Sumber : Buku Profil Desa Perbawati (2011) 8.1.3 Sosial dan Ekonomi Kependudukan

Jumlah penduduk Desa Perbawati yaitu 6.675 orang, dimana jumlah laki-laki sebanyak 3.451 orang sedangkan jumlah perempuannya sebanyak 3.224 orang dengan 1.967 kepala keluarga. Selain itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Keadaan penduduk berdasarkan kelompok usia dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Distribusi Penduduk Desa Perbawati BerdasarkanUsia Tahun 2011 Sumber : Buku Profil Desa Perbawati (2011)

Berdasarkan Gambar 13 dapat dilihat bahwa ditribusi penduduk pada usia 25-55 di Desa Perbawati memiliki persentase terbanyak yaitu sebesar 48 persen,

74% 7%

7% 7% 5%

Sayuran Palawija Buah-buahan Kopi Lain-lain*

4% 16% 10% 9% 48% 13% 0-5 6-12 13-18 19-24 25-55 > 56

diikuti oleh kelompok usia 6-12 sebesar 16 persen, sedangkan kelompok usia 0-5 memiliki presentasi terkecil yaitu sebesar 4 persen. Dengan demikian, banyaknya penduduk usia produktif dan didukung pula oleh kondisi lahannya yang berbukit, sehingga sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Perbawati bergerak pada sektor pertanian. Komposisi penduduk Desa Perbawati berdasarkan mata pencaharian, dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Distribusi Penduduk Desa Perbawati Berdasarkan Mata Pencaharian

Sumber : Buku Profil Desa Perbawati (2011)

Gambar 14 menunjukkan bahwa sebanyak 34 persen dari jumlah penduduk secara keseluruhan bekerja sebagai petani, baik sebagai pengelola usaha tani maupun sebagai buruh tani. Kemudian disusul oleh pedagang sebesar 23 persen, sopir sebesar 14 persen, dan sebagian kecil penduduknya bermatapencaharian sebagai peternak, seperti beternak sapi perah, domba, dan ayam buras.

8.1.4 Sarana dan Prasarana di Desa Perbawati

Sarana dan prasarana di Desa Perbawati cukup memadai sehingga memudahkan para petani terutama kegiatan transportasi karena desa ini dapat ditempuh oleh kendaraan beroda empat. Dengan demikian petani tidak mengalami kesulitan baik dalam memperoleh sarana produksi maupun dalam memasarkan hasil panennya. Secara keseluruhan, sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Perbawati dapat dilihat pada Tabel 8.

5% 10%

34% 10%

23%

14%4% PNS/TNI/POLRI/pensiunan

Pengrajin dan Pengusaha Petani

Buruh Perkebunan Pedagang

Jasa Angkut/Sopir Peternak

Tabel 8. Sarana dan Prasarana di Desa Perbawati Tahun 2011

Jenis Fasilitas Jumlah (Unit)

A. Sosial Budaya  TK/RA 4