[BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Sensus Pertanian Tahun 2003. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2008. Statistik Indonesia. Jakarta : Badan Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011a. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2004 - 2011. Jakarta: Badan Pusat Statistik
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011b. Produksi sayuran di Indonseia Tahun 1997- 2011. Jakarta: Badan Pusat Statistik
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. 2009. Kabupaten Sukabumi dalam Angka. Sukabumi: BPS Kabupeten Sukabumi.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. 2010. Kabupaten Sukabumi dalam Angka. Sukabumi: BPS Kabupeten Sukabumi.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. 2011. Kabupaten Sukabumi dalam Angka. Sukabumi: BPS Kabupeten Sukabumi.
[BP3K] Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Sukabumi. 2012a. Curah Hujan Curah Hujan Kecamatan Sukabumi Periode September 2009-September 2011. Sukabumi: Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Sukabumi.
[B4PK] Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi. 2012b. Penyakit dan Hama Tanaman Cabai. Sukabumi: Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi.
[B4PK] Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi. 2012c.Penyakit dan Hama Tanaman Tomat. Sukabumi: Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi.
[BP4K] Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi. 2012. BP3K Sukabumi. Sukabumi: Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi. Buku Profil Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi tahun
2011.
Debertin DL. 1986. Agricultural Production Economics. New York: Macmillan Publishing Company.
Departemen Pertanian. 2012a. Produktivitas Sayuran di Indonesia Tahun 2007- 2011. Jakarta: Departemen Pertanian.
Departemen Pertanian. 2012b. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Hortikultura di Indonesia. Jakarta: Departemen Pertanian
Departemen Pertanian. 2012c. Produktivitas Cabai Merah menurut Provinsi Tahun 2007-2011*. Jakarta: Departemen Pertanian
Departemen Pertanian. 2012d. Produktivitas Tomat menurut Provinsi Tahun 2007-2011*. Jakarta: Departemen Pertanian
Dewa. 2007. Teknik Budidaya Tomat. www.google.com. [ 26 Januari 2012]. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. 2012a. Produksi Sayuran
Tahun 2006-2010. Jawa Barat: Diperta Jawa Barat.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. 2012b. Luas Panen Sayuran Tahun 2006-2010. Jawa Barat: Diperta Jawa Barat.
Direktorat Jendral Hortikultura. 2009. Gambaran Kinerja Makro Hortikultura 2008. Jakarta: Direktorat Jendral Hortikultura.
Direktorat Jendral Hortikultura. 2012. Produk Domestik Bruto Hortikultura 2007- 2010. Jakarta: Direktorat Jendral Hortikultura.
Fariyanti A. 2008. Perilaku Ekonomi Rumahtangga Petani Sayuran dalam Menghadapi Risiko Produksi dan Harga Produk di Kecamatan Panagalengan Kabupaten Bandung [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Ginting LE. 2009. Risiko Produksi Jamur Tiram pada Usaha Cempaka Baru di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Hanafi. 2007. Risiko. Jakarta : Universitas Terbuka.
Harwood J, Heifner R, Coble K, Perry J, Somwaru A. 1999. Managing Risk in Farming: Concepts, Research and Analysis. Agriculutural Economic Report No.774. US Department of Agriculture.
Jamilah M. 2010. Analisis Risiko Produksi Wortel dan Bawang Daun di Kawasan Agropolitan Cianjur Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Kountur, R.2006. Manajemen Risiko Operasional (Memahami Cara Mengelola Risiko Operasional Perusahaan). PPM. Jakarta
Kurnia U et al. 2004. Teknologi Konservasi Tanah Pada Lahan Kering Berlereng. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.
Piay S et al. 2010. Budidaya dan Pascapanen Cabai Merah (Capsium annuum L.). Jawa Tengah: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jawa Tengah.
Purnaningsih N, Sugihen BG. 2008. Manfaat Keterlibatan Petani dalam Pola Kemitraan Agribisnis Sayuran di Jawa Barat. Jurnal Penyuluhan 2 (4): 80-81. Purwati E. 2009. Daya Hasil Tomat Hibrida (F1) di Dataran Medium. Jurnla
Hortikultura. 19(2): 125-128.
Rahardi, F. 2006. Agribisnis Tanaman Sayuran. PT Penebar Swadaya. Depok. Sembiring L. 2010. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organik pada The
Pinewood Organic Farm di Kabupaten Bogor, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
SIPUK-Bank Sentral Republik Indonesia. Budidaya Sayuran Bernilai Tinggi. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=11013&idrb=41001. [09 Oktober 2011].
Situmeang H. 2011. Analisis Risiko Produksi Cabai Merah Keriting pada Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen Kecamatan Ciawi Bogor [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Surmaini E et al. 2008. Upaya Sektor Pertanian dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Jurnal Litbang Pertanian 30 (1): 4.
Suwandi. 2009. Menakar Kebutuhan Hara Tanaman dalam Pengembangan Inovasi Daya Sayuran Berkelanjutan. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 2(2): 136.
Syngenta. 2008. Strategi Pengendalian Gulma, Hama, dan Penyakit pada Tanaman Sayuran (Cabai). www.syngenta.co.id. [04 Februari 2012]
Syngenta. 2008. Strategi Pengendalian Gulma, Hama, dan Penyakit pada Tanaman Sayuran (Tomat). www.syngenta.co.id. [04 Februari 2012]
Tarigan PES. 2009. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organik pada permata Hati
Organic Farm di Bogor, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Tim Penulis PS. 2008. Agribisnis Tanaman Sayur. Depok: Penebar swadaya. Utami AD. 2009. Risiko Produksi dan Perilaku Penawaran Bawang Merah di
Kabupaten Brebes [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Wardani N, Purwanta J. 2008. Teknologi Budidaya Cabai Merah. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
SKRIPSI
JAYANTI MANDASARI H34080077
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT DAN CABAI MERAH
DI DESA PERBAWATI, KECAMATAN SUKABUMI,
KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT
RINGKASAN
JAYANTI MANDASARI. Analisis Risiko Produksi Tomat dan Cabai Merah di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NARNI FARMAYANTI).
Tomat dan cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi. Namun, jika dilihat dari tingkat produktivitasnya kedua komoditas tersebut selalu mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Hal inipun seringkali dihadapi oleh petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati. Fluktuasi produktivitas tomat dan cabai merah yang dihadapi oleh petani di Desa Perbawati mengindikasikan adanya risiko produksi pada tomat dan cabai merah yang mereka usahakan. Dengan demikian, perlu adanya penelitian mengenai sumber dan tingkat risiko produksi tomat dan cabai merah yang dihadapi oleh petani di Desa Perbawati serta strategi dalam menangani risiko produksi tersebut.
Berdasarkan permasalahan yang ada di Desa Perbawati maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko produksi yang dihadapi oleh para petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati. Disamping untuk menganalisis risiko produksi pada petani tomat dan cabai merah di Desa Perbawati juga untuk menganalisis sumber risiko produksi pada tomat dan cabai merah, menganalisis tingkat risiko produksi pada tomat dan cabai merah, dan menentukan strategi yang dapat mengurangi risiko produksi.
Penelitian dilaksanakan di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi selama dua bulan mulai dari pertengahan bulan Desember Tahun 2011 hingga pertengahan bulan Februari Tahun 2012. Data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 25 responden dengan metode pengambilan responden secara sensus. Alat yang digunakan untuk menganalisis risiko produksi yaitu variance, standard deviation, dan coefficient variation.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan bahwa pada kegiatan spesialisasi baik berdasarkan produktivitas maupun berdasarkan pendapatan bersihnya, risiko produksi tomat lebih tinggi dibandingkan dengan risiko produksi cabai merah. Hal ini dapat dilihat pada nilai coefficient variation dimana risiko produksi berdasarkan produktivitas pada tomat sebesar 68,7 persen lebih tinggi dibandingkan cabai merah yang hanya 62,9 persen. Artinya jika petani menghasilkan tanaman tomat sebesar 1 kg maka risiko yang dihadapi yaitu sebesar 0,687 kg sehingga dari satu kilogram petani hanya dapat menghasilkan 0,313 kg. sedangkan jika petani menghasilkan tanaman cabai merah sebesar 1 kg maka risiko produksi yang dihadapi yaitu sebesar 0,629 kg akibatnya hasil yang dapat diperoleh hanya sebanyak 0,371kg. Berdasarkan pendapatan bersihnya, risiko produksi pada tomat sebesar 74,9 persen lebih tinggi dibandingkan pada cabai merah yaitu sebesar 65,0 persen.
Diversifikasi usahatani yaitu dengan menanam tomat dan cabai merah secara bersamaan dapat menurunkan risiko produksi menjadi 59,6 persen berdasarkan produktivitasnya dan 63,3 persen berdasarkan pendapatan bersihnya. Kegiatan
diversifikasi ini dapat lebih rendah jika petani mengusahakan cabai merah dengan luas tanam yang lebih tinggi dibandingkan luas tanam tomat yaitu dengan fraksi 60% untuk luas tanam cabai merah dan 40% untuk luas tanam tomat. Kondisi seperti ini menghasilkan risiko produksi yang lebih rendah dibandingkan kondisi aktualnya yaitu risiko produksi diversifikasi tomat dan cabai merah menjadi 50,7 persen. Dengan demikian, diversifikasi dapat digunakan sebagai suatu strategi untuk mengurangi risiko produksi.
Alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko yaitu dengan melakukan perbaikan pola tanam, pengendalian hama dan penyakit, serta pengolahan lahan ketika sebelum ditanami. Selain itu ada pula alternatif tindakan yang dapat mengurangi kerugian akibat terjadinya risiko produksi yaitu dengan pengembangan kreativitas para ibu rumah tangga dengan menggunakan alat yang sudah ada.