TIBA-TIBA LENNON MENGHUBUNGIKU karena ada warga Madura besok pagi datang ke Yogyakarta dan mau aksi ke DPR/
MPR Jakarta sekitar awal tahun 90-an. Seperti orang dekatnya, aku memanggil Lennon kepada pria bernama asli Agus Edi Santoso ini.
“Prak besok pagi ada warga Madura mau demo ke Jakarta, kamu bantu si Kacik (almarhum, aktivis mahasiswa Surabaya), ya,”
begitu katanya.
Lennon menambahkan, “Kamu dampingi dia, ya.” Agus juga mengharapkan saya bisa menemani sebab Kacik baru pertama kali ini ikut aksi. Demikian dialog saya dengan Lennon waktu itu di depan kampus Karang Malang.
Terus paginya, benar, para petani Madura datang lalu di-inapkan di GMKI di bilangan Yogyakarta, setelah dijamin aktivis GMKI. Lalu malamnya kami berangkat ke Jakarta dengan tiga bus yang isinya semua petani dan didampingi beberapa mahasiswa (lupa namanya semua, kecuali Kacik).
Kami menempuh perjalanan satu malam. Akhirnya, bus sampai di Jakarta pada pagi hari. Kami berhenti dulu di Tol untuk persiapan dan sarapan sekedarnya. Lalu, kami bergerak menuju DPR. Pukul 08:00 dan kami sudah memasuki wilayah Senayan. Bus besar itu masuk halaman dan mencari tempat parkir.
Kami semua rombongan masuk ke lobby, setelah turun dari bus. Ruangan lobby yang terasa amat dingin, karena AC central sudah dinyalakan. Di gedung wakil rakyat itu, kami berdialog dengan beberapa perwakilan, dan menyampaikan permasalahannya di DPR. Dialog berlangsung cukup lama.
Setelah dialog, kami meninggalkan gedung DPR. Pada dialog dengan anggota wakil rakyat itu, mereka telah menjamin bahwa kasus tanah petani akan segera ditindak-lanjuti dan diselesaikan.
Rombongan petani langsung berangkat ke Surabaya, sedangkan saya tinggal dulu di Jakarta atas permintaan Agus.
Itulah Agus Lennon. Ketika melakukan advokasi, para aktivis mahasiswa di kota mana saja selalu menjadi “korban”
provokasinya. Mereka tidak bisa menolak. Lennon selalu pandai
“membaca” siapa yang akan jadi target sasaran selanjutnya untuk
“diprovokasi”. Dan, tidak ada aktivis yang marah maupun menolak.
Dari hal diatas adalah salah satu contoh begitu dekatnya Lennon dengan aktivis dimana saja. Itulah Lennon banyak sekali hal-hal yang menarik untuk diceritakan.
Lennon juga selalu hadir dan memberikan buku sebagai bahan diskusi selanjutnya. Bahkan kalau ada buku baru Lennon selalu memberikan info utama. Lalu kalau ketemu Lennon, dia selalu mengatakan: “Buku apa yang sudah kamu baca?” lalu diajaknya diskusi mengenai buku itu. Lennon selalu membawa buku baru
yang belum saya miliki.
MEMBUKA JEJARING DAN PENERBITAN BUKU
Sebagai aktivis mahasiswa saya banyak sekali dibantu Lennon untuk anjang sana, anjang sini. Hal itu dilakukan karena Lennon ingin mengajak saya kenal dan belajar dengan para tokoh politik tanpa melihat latar belakang. Lennon berharap suatu saat saya bisa ketemu sendiri dan diskusi.
Seperti di Jakarta, saya selalu di ajak menginap di Skephi tempat markasnya mas Indro Tjahyono aktivis 77/78 . Ketika itu banyak aktivis ngumpul disana. Ada Saleh, Tya, Semsar, Yenny, Santi, Daniel, Anung, Hira, Dedi Bogor, bahkan para pejuang Tim-Tim, OPM, dan lain-lain. Kami berpindah-pindah, mulai dari Tebet sampai Skephi. Pindah lagi ke Liga Mas Pancoran.
Begitu. Kalau sudah ketemu Agus Lennon, saya selalu diajak tour --istilahku menemui para tokoh, antara lain Hariman, Joebar Ayup (Lekra), Nurcholis Madjid, Jopi Lasut bahkan diajak ke penjara Salemba menjenguk Kolonel Latif, Soebandrio, dan tahanan lainnya.
Setelah itu bertemu dengan para mahasiswa Timor-timor yang ingin memperjuangkan kemerdekaannya. Bahkan dia membuat Lembaga PIPHAM di Gg. Langgar di jalan Dewi Sartika, juga menjadi markas para aktivis dari luar kota. Sebab dari kantor PIPHAM advokasi 21 Mahasiswa yang ditangkap dan dipenjara (khususnya yang di luar kota) dari kontrakan PIPHAM yang kecil tapi sangat strategis kalau koordinasi. Ke-21 Mahasiswa tersebut ditangkap karena demo ke MPR/DPR dengan organ FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia) tahun 1993 dengan membentangkan spanduk “Seret Soeharto ke Sidang Istimewa MPR”. Dari kasus tersebut PIPHAM lembaga Lennon jadi markas sementara aktivis luar kota.
Lennon juga selalu memberi kesempatan para aktivis pergi ke berbagai kota di Indonesia ataupun mancanegara. Sebab Lennon
menginginkan para aktivis bisa menyampaikan tentang kondisi politik Orde Baru yang banyak sekali pelanggaran HAM-nya. Dari PIPHAM-ah Lennon kemudian membuat lembaga LAPASIF dan sebagainya.
Sebagai orang yang selalu konsisten dengan buku dan penerbitan, Agus Lennon melakukan banyak penerbitan pledoi aktivis yang ditahan maupun menerbitkan beberapa buku dari Che Guivera, Tan Malaka, Soe Hoo Gie dan lain-lain dengan bendera TEPLOK Pres atau FFF (Frantz Fanon Foudation)
Dari hal diatas ada beberapa buku yang diterbitkan Agus Lennon dalam dunia penerbitan. Buku tentang Transformasi Masyarakat Indonesia yang diterbitkan Kelompok Studi Proklamasi dan Agus Lennon menjadi salah satu penggagas ketika kelompok studi menjadi salah satu pilihan mahasiswa mengkritisi Orde Baru.
Lalu Agus Lennon juga mengedit dan menerbitkan tulisan-tulisan Nurcholis Madjid yang kemudian menjadi sangat dekat, karena Agus Lennon adalah jebolan IAIN Suka (UIN Yogyakarta) dan juga mantan Sekjen PB HMI tahun 80-an.
Dari penerbitan di atas, Agus Lennon sendiri juga menerbitkan buku “Di Bawah Lentera Merah” karya Soe Hok Gie yang
diterbitkan pertama kali oleh Frantz Fanon Foundation (sebuah lembaga tanpa kantor). Edisi pertama sebelum dicetak oleh Bentang Pustaka. Buku ini diterbitkan oleh FFF bentuknya buku kecil. Buku ini beredar di ujung masa Orde Baru, menjadi bacaan aktivis anti Soeharto dan buku itu masuk dalam list buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung. Dengan FFF-nya Lennon juga menerbitkan pledoi Bambang Isti Nuhroho yang dipenjara karena menjual novel karya Pramodya Ananta Toer.
Adapun buku selanjutnya adalah “Demokrasi Untuk Indonesia”
karya Hasan Muhammad Tiro diterbitkan Teplok Press setelah Soeharto jatuh. Berbarengan dengan tuntutan referendum Aceh.
Penerbit Teplok Press juga menerbitkan Madilog Tan Malaka, Das Kapital, dan beberapa buku politik lainnya. Itulah Lennon, di samping sebagai “penggiat demokrasi” Lennon juga aktif
diskusi-diskusi di berbagai daerah tentang buku dan HAM.
USIL DAN LUCU
Sekilas memang kita cukup marah dengan banyaknya intrik dan provikasinya Lennon. Tetapi dengan caranya yang humoris, semua hal menjadi lucu. Suatu hari kami menjenguk tahanan di Salemba, kemudian uang kami pas-pasan hanya buat ongkos naik angkot saja. Kemudian Nunik salah satu mahasiswi teriak
“Lennon perutku lapar..” kemudian didukung oleh semua sahabat yang kebetulan bertujuh minta mampir warung.
Kemudian, Lennon masuk warung. Kami mengikuti masuk, lalu semua duduk. Tiba-tiba Lennon mengambil tusuk gigi lalu Lennon keluar lagi dan berjalan dengan tenangnya. Kemudian pada marah sama Lennon. Dan, setelah sampai Pipham, Lennon menjawab dengan santai “Siapa yang ngajak makan, saya kan cuma ambil tusuk gigi saja.” Semua jadi tidak marah, malah tertawa sambil ngedumel.
Itulah salah satu yang membuat Lennon sulit dilupakan oleh para sahabatnya dan saya semakin yakin bahwa apa yang saya alami, bisa jadi dialami sama yang lain.
Lennon, kita masih punya janji sebelum kepergianmu
selamanya, main catur di Tji Liwoeng Coffee, tapi belum terlaksana dan kamu telah lebih dulu meninggalkanku.
“Aku didatangi Mulyana, Amir, dan Pengke,” katamu ketika aku membesukmu di kamar 2512, RS. jantung Harapan Kita, tanggal 7 Januari 2020, sebelum Santoso, Rinjani dan Desi ke kamarmu.
Kamu sendiri tertidur dan aku duduk, lalu aku foto kamu dan kamu bangun cari kacamatamu dan kuambilkan di atas kulkas, lalu kamu lihat aku dan senyum seperti biasanya. Ketika mereka pada masuk kamu sangat riang dan kami semua sempat selfie dan kamu, aku dan Santoz dengan gaya membuka jari kelima, lalu Desi bilang
“Kok jari lima dengan gaya Dada...” Itulah foto kita terakhir dan cukup mengharukan.
Tapi aku yakin Tuhan lebih sayang kamu dari pada kami.
Selamat jalan Lennon pertemuan kita terakhir di kamar 2512 memberikan banyak inspirasi baru dan ternyata surga adalah tempat keabadianmu, Aamiin.