• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGUS LENNON, POLITIK, dan PERSAHABATAN. Catatan para Aktivis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AGUS LENNON, POLITIK, dan PERSAHABATAN. Catatan para Aktivis"

Copied!
219
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

AGUS LENNON, POLITIK, dan PERSAHABATAN

Catatan para Aktivis

(4)

AGUS LENNON, POLITIK, dan PERSAHABATAN

Catatan para aktivis

Copyrihgt @Yayasan Budaya Guntur All rihgt recerved

Cetakan pertama, Februari 2020 Tataletak dan design oleh nofr-nofri

Design dan Gambar sampul oleh Vicensius Dwimawan Penyunting, jonminofri

Diterbitkan oleh Yayasan Budaya Guntur

(5)

AGUS LENNON, POLITIK,

dan PERSAHABATAN

Catatan para Aktivis

Yayasan Budaya Guntur

(6)
(7)

Pengantar

Agus Edi Santoso atau Agus Lennon adalah seorang aktivis yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan. Bukan oleh sahabatnya saja, tetapi juga oleh orang yang berada di sisi lain yang berbeda pendapat dengannya. Orang yang berbeda paham dengan Agus menghormatinya karena sikap Agus juga yang rajin membina hubungan perkawanan tanpa melihat perbedaan politik, budaya, agama, atau suku. Siapa saja bagi Agus, dan dari mana pun dia, adalah kawan bagi Agus. Sikap terpuji dari Agus ini mengundang simpati yang amat luas.

Karena itu, bisa dipahami bahwa setelah Agus menghembuskan nafas yang terakhir pada 10 Januari lalu, banyak sekalli tulisan ten- tang Agus muncul di media sosial, media online, dan di berbagai WAG. Pada umumnya orang yang menulis tentang Agus itu adalah para aktivis, baik yang mengenal baik Agus, atau ada juga yang tidak mengenal Agus secara pribadi, tetapi mengenal Agus dari karya buku yang diterbitkannya.

Beberapa orang kemudian mengusulkan kepada saya untuk me- nerbitkan tulisan itu dalam bentuk sebuah buku. Karena itu, saya bersama rekan saya Jonminofri Nazir menghimpun tulisan terse- but, mengedit, dan melay-out menjadi buku, lalu mencetaknya.

Rentang waktu yang sangat terbatas membuat buku ini tidak sempurna. Beberapa orang yang sangat kenal pada Agus, yang kami minta menulis untuk buku ini, terpaksa kami tinggalkan karena sampai di ujung waktu naskah masuk percetakan, tulisan tersebut belum juga datang.

Namun demikian buku ini cukup mewakili semua khalayak yang mengenal Agus Lennon. Ada teman lama, ada aktivis senior, aktivis muda, dan lain sebagainya. Kami senang mendapat tanggapan positif dari pada penulis artikel di buku ini.

(8)

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Budaya Guntur, dan nama Agus tercantum sebagai salah seorang pendiri yayasan ini.

Saya, mewakili penerbit buku, mengucapkan terima kasih ke- pada semua pihak yang telah membantu sehingga buku ini bisa di- terbitkan pada saat memperingati 40 hari setelah Agus berpulang.

Terimakasih yang besar sekali saya sampaikan kepada nama di bawah ini:

1. Denny JA 2. Hariman Siregar 3. Indra Iskandar, 4. Syamsunar

5. Himawan Sutanto alias Japra.

6. Jonminofri Nazir

7. Para aktivis yang menulis untuk buku ini

8. Keluarga Agus Lennon: Sukesi(istri); Latonia Lantang Santo- so, Luna Lukita Santoso, Muhammad Castro Santoso, dan Aisyah Charlotte Santoso (anak).

9. dan pihak lain yang tidak mungkin saya sebutkan nama mereka satu per satu di sini.

Saya mengharapkan buku ini akan bermafaat bagi semua orang. Bukan saja kepada orang yang mengenal Agus dengan baik, juga kepada semua orang Indonesia: bahwa di Indonesia pernah ada seorang aktivis yang layak menjadi teladan karena dia memperjuangkan gagasannya dengan damai, tanpa mem- benci, dan dia menempatkan teman di atas politik.

Salam,

Jakarta, 20 Februari 2020 Isti Nugroho

Ketua Yayasan Budaya Guntur

(9)

DAFTAR ISI

Prolog 1

Kita Kenang Agus Lennon Sebagai Orang Besar

Karena Sejumlah Alasan 3

Puisi 15

Puisi Denny JA, Teringat Padamu, Bung 17 - Untuk Agus Edi Santoso

Puisi Himawan Sutanto, Pamitnya Agus Lennon 20 Juftazani, Kenangan atas Agus Edi Santoso 23

Teks Pidato 27

Hariman Siregar: Aktivis itu Panggilan Jiwa, 29 Bukan Pekerjaan

Denny JA: Agus, Apimu Masih Menyala di Hati Kami 31

(10)

Tulisan Para Sahabat Aktivis 34 Aris Santoso, Ideologi Semangka ala Agus Lennon 35 Dedi Ekadibrata, Agus Lennon: Tukang Kompor dan Kawan Diskusi yang Mencerahkan 39 Denny JA, Agus Edi Santoso dan Kisah Teman 41 di Atas Politik

Bonnie Setiawan, Kawan Agus Lennon, S 47 ang ‘Haji Misbach’

Satrio Arismunandar, Agus Lennon dan Putrinya 53 Latonia Lantang Santoso

Ngurah Karyadi Ke“Lennon”Gan 59

Geisz Chalifah, “Komunis” Baik Hati Itu Pergi 63 Fauzan Anwar Sandiah, Agus Edi Santoso dari 67

Teplok Press hingga LazisMu

Syaefudin Simon, Agus, Wong Cilik, 73

dan Muhammadiyah

Agusto Sulistio, Rezim Penindas Rakyat Kita Lawan 77 tapi Tidak....

Nasihin Masha, Sang Pejalan di Pinggir 81 Moh Jumhur Hidayat, Kesaksian Kecil dari Sekian 87 Banyak Tindakan Besar Agus Edi Santoso

Nezar Patria, Agus Lennon, Pengobar Api 89 Kemarahan atas Ketidakadilan

Edriana, Agus tentang Perempuan 93 dan Cream Muka Mahal

Iwan Samariansyah, Agus Lennon dan HMI MPO 95 Saleh Abdullah, Lennon dan Nietzsche 97

(11)

Andrinof A Chaniago, Agus Lennon, Sahabat 99 yang sangat Bersahabat

Tri Agus Susanto Siswowiharjo, Selesai Tugasmu 103 Sebagai Pengompor di Dunia, Tak Perlu

Diteruskan di Akhirat

Jonminofri Nazir, Agus Jago Memasak Rawon, 107 Sop, dan Cumi a la Ibunya

Yuni ‘Neni’ Satia Rahayu, Selamat Jalan, Kamerad! 113 Mishar Ilyas, Agus adalah Sahabat, Lebih Baik 115 dari Teman

Ahmadie Thaha , Misteri Cahaya di Kafe Tji Liwoeng 117 Bob Randilawe, Agus Lennon, Aktivis Kiri-Islam 121 Indonesia yang Humanis

M Alfan Alfian, Aktivis Legenda yang Bersahaja 125 Himawan Sutanto, Agus Lennon, Buku, dan Jejaring 131 Petrus H. Harijanto, Lelucon Bung Agus Mencairkan 137

Ketegangan

Swary Utami Dewi Bagiku, Kamu Selalu Ada 141 Swary Utami Dewi Bahagia Bisa Turut Mengurus 145 Jenazahmu

Setya Dharma Pelawi, Pelukan Pertama 149 dan Terakhir dari Agus Edi Santoso

Paulus Januar Agus, Sahabat Sejak Kelompok 153 Cipayung yang Konsisten

Nurdin Ranggabarani, Agus adalah Guru yang 159 Mengajarkan Loyalitas Tunggal pada Rakyat

Mishar Ilyas, Agus Edi Santoso di Mata Saya: 161 Sahabat Lebih Baik dari Teman

(12)

Jacob Ereste, Sosok Kang Agus Lennon yang 163 Tak Mungkin Aku Lupakan

Hamid Basyaib, Gambit Gagal Agus Lennon 169 Masmimar Mangiang, Selamat Jalan, Gus 173 Hendrajit Mengenang Kembali Romantika, 177 Dialektika, dan Dinamika Kemahasiswaan

1980an Melalui Kepergian Agus Edi Santoso

Fitri Indro, Agus Lennon: Aktivis yang Berpihak 181 kepada Rakyat Kecil

Nazrina Zuryani, Nyaring panggilanmu 35 tahun 185 yang lalu, Masih Terdengar hingga Kini

Ons Untoro, Agus Lenon, Kopi, dan Foto Copy 191

EPILOG 195

Merangkai Peranjut Demokrasi para Aktivis 197

(13)

PROLOG

(14)
(15)

Kita Kenang Agus Lennon Sebagai Orang Besar Karena Sejumlah Alasan

AGUS TERBANGUN PADA DINI HARI SEKITAR PUKUL 03:00, tanggal 8 Januari 2020. Dia merasa dadanya sesak. Hal pertama yang dilakukannya adalah memanggil taksi online, dengan tujuan RS Harapan Kita. Agus menyadari ada masalah dengan jantungnya.

Agus menderita penyakit jantung sejak tiga tahun lalu, jadi dia sudah paham apa yang harus dilakukannya. Sambil menunggu taksi, sekitar 10 menit, Agus melompat-lompat dan memukul- mukul dadanya agar jantung tidak berhenti berdenyut.

Tanggal 10 Januari pkl 21:11 Agus Edi Santoso wafat. Hanya dalam beberapa menit berita duka ini menyebar ke sebagian besar orang yang mengenal Agus melalui berbagai media sosial. Mereka umumnya adalah para aktivis: teman seperjuangan Agus, orang yang berseberangan dengan Agus, dan juga korban kejahilan Agus.

(16)

Secara spontan sebagian dari para aktivis itu menuliskan pengalamannya bersama Agus, penilaian mereka terhadap Agus, dan hal lain tentang Agus. Tentu saja di dalam semua tulisan itu terselip doa agar Agus masuk surga, dengan berbagai ungkapan.

Termasuk yang lucu:”Selesai tugasmu sebagai pengompor di dunia, tak perlu diteruskan di akhirat”, yang menjadi judul tulisan Tri Agus Susanto Siswowiharjo

Selain berdoa dan menceritakan pengalaman masing-masing, mereka juga memberikan penilaian terhadap Agus. Dan, yang unik, mereka juga menyebut nama Lennon, sebagai panggilan Agus. Sebagian dari para aktivis itu bahkan “membahas” mengapa nama Lennon menempel pada nama Agus. Ada tiga pendapat soal ini. Pertama, terlalu banyak teman mereka yang bernama Agus. Untuk membedakannya, Agus aktivis ini dipanggil “Lennon”.

Kedua, mereka mengatakan Agus adalah penggemar berat John Lennon, pemilik nama asli “Lennon”. Karena itu, Agus dipanggil dengan nama “Lennon”. Ketiga, adalah teman-teman lama Agus melihat pria tinggi ini pada tahun 1980an selalu menggunakan kacamata bulat seperti Lennon. Mereka merasa pas melihat penampilan Agus dengan kaca mata bulat, karena ada kedekatan dengan phisik John Lennon: tinggi, pipinya tipis, dan rambut belah tengah acak-acakan karena hanya disisir dengan jari tangan.

Ada lagi pendapat yang kreatif: Agus memakai nama Lennon agar dekat dengan kata Lenin, yang berideologi “kiri” seperti Agus.

Lepas dari apapun alasan nama “Lennon” menempel di nama Agus, sebenarnya hal ini menunjukkan satu hal yang tersembunyi.

Yaitu, sebenarnya Agus mempunyai kemampuan membangun brand yang tinggi. Dia jago branding. Agus membangun brand

“Lennon” pelan-pelan dalam waktu lama, dan dia sabar menunggu hasilnya. Setelah sukses menciptakan dan membangun“image Lennon” di kalangan para aktivis, akhirnya semua aktivis mengenal dia sebagai “Lennon”, yang sejatinya lebih suka lagu-lagu Koes Plus. Dan, hingga akhir hanyat nama Lennon tetap menempel

(17)

Di samping membutuhkan lama, membranding diri sendiri dengan menempelkan “Lennon” pada nama Agus sebenarnya tidak mudah. Hal ini memerlukan konsistensi yang tinggi dari pemilik brand, atau dari Agus. Dia harus terus-menerus menanamkan image itu kepada “pasar”, yaitu para aktivis yang menjadi teman-temannya itu. Di sini terlihat karakter Agus: dia mampu istiqomah atau konsisten dalam jangka panjang.

Nah, di sinilah sebebarnya kekuatan Agus: konsistensi itu bukan hanya pada penggunaan nama pada diri Agus. Tetapi dalam banyak hal, termasuk dalam meperjuangkan gagasan yang diusung Agus sejak muda. Agus konsisten membela hak orang kecil, berpihak kepada wong cilik, memperjuangkan HAM, dan konsisten pula dalam sikap kritis. Sampai Agus wafat, banyak yang memberikan kesaksian bahwa dalam halyang diperjuangkannya, Agus konsisten.

Jadi, soal konsistensi ini yang paling menonjol dari Agus Lennon. Bahkan Agus dianggap aktivis yang paling konsisten oleh Paulus Januar dibandingkan dengan anggota kelompok Cipayung, kelompok yang mempertemukan mereka 30 tahun yang lalu.

Selama mengenal Agus, Paulus melihat Agus selalu kritis pada nilai-nilai yang dianutnya sampai akhir hayatnya. Siapa pun yang berkuasa, Agus selalu kritis. Agus akan berada di sisi yang berbeda dari pemerintah. Dia selalu berada di pihak rakyat yang dinilainya masih banyak yang terpinggirkan secara politik, ekonomi, dan sosial. Kita juga tahu bahwa Agus konsisten membela wong cilik, dan memperjuangkan HAM.

Apa saja nilai-nilai yang dianut oleh Agus secara konsisten hingga akhir hayatnya?

Pertanyaan ini penting kita jawab karena Agus bukan orang biasa di mata kawan-kawannya. Agus berbeda, dia tidak seperti kebanyakan orang lain, atau seperti aktivis lain. Hariman Siregar –tokoh Malari dan aktivis senior-- berkata mewakili para aktivis dalam pidato di tempat pemakaman: sepanjang hidupnya Agus

(18)

adalah aktivis sejati.

Dia menjadikan dunia aktivis bukan sebagai ladang tempat mencari makan. Dia juga tidak mengincar jabatan di pemerintahan. Dia tidak pernah iri pada orang lain, baik soal jabatan atau kekayaan orang lain. Aktivis bagi Agus juga bukan profesi. Dia dapat uang dari kedai kopi yang didirikannya, atau usaha lain yang dilakoninya sebelumnya. Tetapi, kegiatan mencari uang, bahkan keluarga, sering ditinggalkan Agus jika hatinya terpanggil untuk memperjuangkan rakyat kecil. Begitu kata Hariman Siregar yang mengenal Agus sejak “kecil” hingga akhir hayatnya.

Selain aktivis, Agus adalah orang baik seperti dikatakan oleh Denny JA dalam pidato di depan jenazah Agus: ”Saya bersaksi Agus adalah ornag baik.” Dia tetap berkawan dengan orang yang berseberangan dengannya dalam pilihan politik. Apalagi dengan teman sejalan seperti kawan-kawan aktivis, tentu Agus sangat perhatian. Agus menempatkan persahabatan di atas politik.

Pernyataan Denny JA tentang Agus adalah orang baik langsung diaminkan oleh orang yang melayat Agus di Kedai Tji Liwoeng Coffee, Condet, Jakarta Timur, yang juga rumah tinggal Agus terarkhir bersama anak dan istrinya.

Para aktivis yang menulis di dalam buku ini juga memberikan kesaksian bahwa Agus adalah orang yang baik, pejuang HAM, pembela rakyat kecil, penolong, dan rajin berkomunikasi dengan semua golongan, tidak pandang usia, jabatan, kota, atau apa saja.

Dia memandang semua orang adalah temannya.

Agus juga dianggap guru bagi banyak aktivisif yang lebih muda dari nya, baik aktivis di Jakarta, Jombang, Yogyakarta, dan kota lainnya. Dan sebagai aktivis lapangan, Agus Lennon adalah orang yang mampu merajut para aktivis dari berbagai kalangan itu untuk bekerja sama atau melakukan kegiatan bersama.Dia rajin

“lennongan” atau berkeliling mengunjungi para aktivisi di kota lain.

(19)

Karena Agus bukan aktivis biasa, maka pertanyaan nilai-nilai apa yang ditinggalkan Agus bagi Indonesia adalah pertanyaan yang penting dijawab dan diketahui oleh publik. Kelak kita akan mengenang Agus Lenon sebagai orang yang memperjuangkan nilai-nilai itu secara konsisten. Sedikit atau banyak sejarah Indonesia dipengaruhi oleh apa yang telah dilakukan oleh Agus dan para aktivis lain.

Untuk menjawab pertanyaan nilai-nilai apa yang ditinggalkan Agus yang kelak bisa menjadi teladan bagi aktivis di masa mendatang, saya akan melanjutkan cerita di awal tulisan ini , tentang apayang terjadi pada tanggal 8 Januari 2020 setelah Agus masuk Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Di atas ranjang RS Harapan Kita Kamar 2512, Agus sudah mengenakan baju warna biru, seragam pasien di rumah sakit.

Ketika itu, sekitar pukul 15:00. Ada lima orang yang menjenguk Agus termasuk saya. Banyak hal yang dibicarakan di ruangan itu.

Sebagian diselinggi tertawa keras seperti pada umumnya suasana jika sedang bersama Agus. Salah satu topik pembicaraan adalah soal rumah tinggal bagi para aktivis. Agus menyimpulkan bahwa banyak aktivis yang hidupnya keleleran dan perlu memiliki rumah.

Dari diskusi itu, Agus mengambil kesimpulan, dia harus membantu kawan-kawan aktivis yang masih belum mempunyai tempat tinggal yang layak.

“Sebentar,” kata Agus. Dia mengambil teleponnya, dan menelpon seseorang di seberang sana.

“Halo, Geisz,” kata Agus. Ternyata yang ditelepon adalah Geisz Chalifah. Tanpa banyak basa-basi Agus langsung mengemukankan maksudanya kepada orang dekat Gubernur DKI Anies Baswedan itu. Terjadi tanya jawab pendek. Tidak lebih dari satu menit, rasanya. Namun dari dialog itu, Agus mendapatkan jawaban dari Geisz: untuk mendapatkan rumah dengan DP Rp0, ada syaratnya..

Ikuti saja persyaratan yang ada. “Jadi, ada peluang Geisz?” itu pertanyaan terakhir dari Agus yang saya dengar.

(20)

Giesz masih mengingat jelas percakapan itu. Di tulisannya dalam buku ini dia menulis: “Saya juga tak menduga sedikit pun itu adalah telpon dan pembicaraan yang terakhir dengan orang baik yang selalu memikirkan orang lain.”

Kata Geisz, dalam telpon itu Agus bertanya tentang mekanisme untuk mendapatkan rumah DP Nol Persen untuk para aktivis. Geisz berjanji akan membantunya.

Setelah menelpon itu, saya mengusulkan kepada Agus dan teman-teman yang hadir di sana agar mereka mengusahakan mendapatkan Rusunawa saja. Sebab, pengeluaran per bulan jika tinggal di rusunawa, bagi aktivis lebih murah. Dan, mungkin tidak ada persyaratan tentang jumlah penghasilan sekian juta per bulan untuk menyewa di Rusunawa.

Seperti biasa, pembicaraan itu dilakukan dengan campur- campur guyon, tertawa, dan makan sate Padang yang baru saja saya belikan untuk Agus. “Saya cuma makan empat tusuk,Jon,”

katanya bercanda di WAG yang kami ikuti bersama.

Menjelang bubaran bezuk, Agus masih sempat membuka sebuah amplop yang cukup tebal yang dikirimkan seseorang. Agus mengeluarkan empat lembar uang berwarna biru untuk dibagikan ke empat temannya tadi.

Saya menangkap makna yang dalam peristiwa itu.

Pertama yang sangat kuat adalah Agus selalu berusaha membantu para aktivis lain, yang juga temannya untuk mendapatkan hak-haknya dari pemerintah. Dalam hal ini hak tempat tinggal yang layak. Bagi Agus, ini bukan bantuan kepada teman saja, tetapi membantu orang yang dipinggirkan oleh pembangunan. Mereka adalah orang yang tidak beruntung karena belum memiliki tempat tinggal. Padahal mereka adalah warga negara, dan telah berbuat banyak untuk negara. Ada semacam ketidak-adilan yang terjadi bagi mereka. Di mata Agus, warga negara harus mendapatkan hak atas sandang, pangan, dan papan.

Itu adalah tugas negara untuk mengadakannya.

(21)

Jadi, bukan karena mereka berteman, Agus membantu mengusahakan rumah buat mereka. Sebab, di luar cerita ini, sudah banyak beredar kisah betapa banyak Agus membantu teman-teman, orang miskin, atau siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Hariman dalam pidatonya: Aktivis itu terkadang tidak perduli pada diri sendiri dan keluarganya jika sudah terlibat soal-soal keberpihakan.

Seperti kita ketahui, di saat mengusakah rumah bagi para aktivis itu Agus sedang di rumah sakit, dan tadi pagi datang terburu-buru ke IGD di saat subuh. Tapi dia masih sempat

memikirkan orang lain. Agak langka kita melihat orang yang masih memikirkan orang lain di saat dia terbaring sakit di rumah sakit.

Nah, soal membantu teman dengan memberikan uang sekedar untuk transportasi juga bukan hal yang baru bagi Agus. Semangat memberi Agus tidak hilang kendati kadang-kadang dia sedang tidak punya uang. Beberapa aktivis bercerita tentang semangat berbagi Agus yang tinggi itu di tulisan dalam buku ini.

Jika sedang tidak punya uang Agus masih bisa memberikan kelucuan kepada mereka, seperti diceritakan oleh Himawan Sutanto: suatu hari beberapa belas tahun yang lalu, Agus mengajak beberapa mahasiswa menengok seorang tahanan politik di Salemba. Di perjalanan pulang, seorang di antara mereka bilang “Lennon, lapar”. Yang lain juga mengeluh yang sama. Tetapi mereka tidak punya uang. Agus dengan santainya masuk ke sebuah warung makan. Yang lain juga masuk dengan harapan bisa ditraktir makan. Tapi Agus hanya mengambil tusuk gigi, dan kemudian keluar lagi dari warung. Tentu saja mereka protes. “Siapa yang ngajak makan, saya kan cuma ambil tusuk gigi saja....” Semua jadi tidak marah malah tertawa sambil ngedumel mendengar jawaban Agus.

Agus juga sering memberikan bantuan lain berupa nasihat, bantuan hukum, atau apa pun yang dibutuhkan orang lain.

Sepanjang yang dia bisa bantu, dia akan membantunya. Pernah

(22)

suatu kali, tahun lalu, dia membawa sejumlah tunanetra ke Ancol hanya karena Agus ingin mereka bahagia merasakan angin, pasir di pantai, dan merasakan betisnya terendam air laut. Padahal di saat itu, Agus sudah diserang penyakit jantung. Dia tidak sekuat dulu.

Tapi dia senang sekali melakukan hal itu atau membantu orang lain.

Ketika memperingati tahlilan 7 hari setelah Agus wafat, di Jombang, seorang aktiivis bernama Misbahul Zakaria atau Ipul bercerita tentang bantuan yang pernah diterimadanya dari Agus ketika menghadapi kasus hukum: dia dibawa ke pengadilan karena dianggap menghasut buruh untuk demo di sebuah CV Maska Perkasa, di Surabaya. Lalu Ipul datang ke Agus di Jakarta untuk berkonsultasi. Ketika itu, Agus menyarankan agar aktivis ini pergi saja ke Belanda, dan menghilang. Sebab, menurut Agus, hukuman penjara untuk Ipul sudah diputuskan di Jakarta. Pengadilan hanya mensahkan saja.

Namun nasihat Agus tidak bisa dilaksanakan entah karena apa.

Akhirnya, Agus menyiapkan penasehat hukum top saat itu: Adnan Buyung Nasution, Artijo Alkosar, Munir, Bambang Widjajanto, dan sederet pengacara kondang lainnya. Persidangan tiga terdakwa mahasiswa yang dituduh dengan pasal karet itu berjalan cukup lama, satu tahun lebih, pada tahun 1995. “Kami didampingi pengacara hebat. Semua itu tidak lepas dari peran Agus Lennon,”

kata Ipul (https://beritajatim.com/peristiwa/jejak-agus-lenon-di- kota-santri/).

Begitulah Agus. Jika dia membantu, semua kemampuan dan jaringannya dikerahkan. Jika ada uang, dia akan membatu juga dengan uang. Tetapi, lebih dari itu, Agus mempunyai kekayaan jaringan yang luas yang bisa dimanfaatkannya untuk membela orang yang tertindas atau kesusahan.

Saya membaca banyak cerita dari para aktivis tentang Agus sebagai aktivis dan orang baik pada tulisan di buku ini. Namun, saya kira, kini sikap membantu selengkap yang dilakukan oleh

(23)

Agus sedikit saja kini dimiliki oleh para aktivis. Para aktivis sekarang bukan tidak mau memberikan bantuan seperti yang dilakukan oleh Agus, namun bisa jadi mereka sebenarnya tidak mempunyai jaringan seluas yang dimilik oleh Agus. Selain itu, para tokoh atau siapa pun ikhlas membantu Agus karena kejujuran dan keikhlasannya sangat terasa dalam membantu orang lain.

Hal lain yang banyak ditulis oleh para aktivis tentang Agus dalam buku ini adalah kecintaan pria ini pada buku. Lennon dari Madura ini, sejak kuliah di IAIN Yogya hidup dari jualan buku.

Ketika pindah ke Jakarta, dan tinggal di kantor HMI Pusat, Jl Diponegoro 16, Jakarta Pusat, Agus menemukan harta karun berupa surat-menyurat antara Nurcholis Madjid dengan Moh.

Roem. Atas izin Cak Nur, surat-surat berisi pemikiran Cak Nur tentang negara Islam itu diterbitkan menjadi buku dengan judul

“Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan” (Mizan, 1987). Buku ini meledak di pasar, dalam arti laku terjual dan menjadi topik pembicaraan luas di kalangan intelektual di masa itu.

Kecintaan Agus pada buku tampak jelas dari tas ransel besar yang selalu ada di punggungnya bila dia berpergian. Itu semua adalah buku. Orang-orang yang mengenal Agus sejak dulu, pasti bisa mengingat bahwa buku di dalamnya adalah buku “kiri”.

Sebagian diterbitkannya sendiri. Buku Tan Malaka, adalah salah satu buku terlaris yang pernah diterbitkan oleh Teplok, nama peberbitan milik Agus.

Agus juga sangat menghargai teman-teman aktivis yang menerbitkan buku. Sekali Agus mengetahui seorang teman menulis buku, maka pada setiap pertemuan, Agus akan bertanya tetang buku baru yang ditulis oleh aktivis itu, seperti dialami oleh M Alfan Alfian, dosen dan sesama pengurus di PP Muhammadyah bersama Agus. “Buku apa yang lagi kau tulis?” Itu pertanyaan rutin yang diajukan Agus kepada Alfan.

“Pertanyaan ini nyaris berpola seragam, ketika ketemu saya di berbagai urusan. Mungkin Mas Agus sudah menganggap wajah

(24)

saya seperti buku,” kata Alfan penulis buku tentang berbagai hal, termasuk novel.

Namun, dalam tulisan para aktivis tentang Agus ini tidak ada yang menyinggung usaha keras Agus dalam membuat buku tentang Mohammad Natsir, tokoh Islam, pendiri Partai Masyumi, pejuang kemerdekaan Indonesia, eks perdana menteri dan banyak lagi jabatan yang pernah dijalankan oleh Natsir. Pada suatu hari, Agus bercertita bahwa dia berusaha keras mengumpulkan bahan tentang Moh Natsir untuk diterbitkanjadi buku. Dia mewawancarai banyak orang, sampai ke Sumatera Barat.

Akhirnya, Agus berhasil menyiapkan bahan lengkap tentang siapa Moh Natsir dan bagaimana pemikirannya. Kemudian bahan buku ini diserahkan kepada pihak lain untuk diedit dan diterbitkan.

Agus bercerita bahwa namanya tidak tercantum di buku itu. Tentu Agus bertanya. Tidak protes. Juga jangan dibayangkan dia akan demo. Sebab, Agus tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri.

Bagi dia, kepentingan umat atau rakyat berada di atas kepentingan dirinya. Akhirnya buku itu terbit dengan mencantumkan namanya di daftar penerima terima kasih. Ya, hanya mengucapkan

terimakasih. Padahal, menurut Agus, hampir semua bahan di buku itu dia yang mengusahakannya, mewawancarai orang dekat Natsir sampaki ke kampung halamannya.

Dia bercerita tetang buku Natsir itu kepada saya, bukan dalam rangka mengeluh atau kecewa. Seperti disebutkan Hariman, bahwa Agus tidak pernah mengeluh. Agus bercerita hanya dalam rangka bahwa dia menyenangi dunia buku, dan buku apa saja yang telah diterbitkannya.

Bisa dibayangkan kerja keras Agus mengumpulkan bahan dan dokumen tentang Moh Natsir. Tentu lebih berat dan lama dibandingkan dia menerbitkan buku Cak Nur dari dokumen yang ditemukannya di Kantor HMI. Memang dalam hal dokumentasi Agus patut mendapat pujian dengan sepuluh jempol.

Sila baca tulisan Moh Jumhur Hidayat (aktivis Serikat Buruh),

(25)

betapa dia berterima kasih kepada Agus karena pleidoi yang dia bacakan di depan pengadilan justru dia tidak punya. Jumhur juga sudah mencari ke pengadilan, tetapi tetap tak ada. Tetapi Agus memilikinya. Jumhur senang luar biasa mendengar bahwa Agus memilikinya. “Terimakasih Gus, Insya Allah Pledoi itu akan saya terbitkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah menegakkan demokrasi di negeri ini.” Itu janji Jumhur.

Jumhur memuji Agus soal dokumentasi ini. Katanya, Agus memang sangat dikenal dengan gairahnya meliterasikan publik dengan ide-ide perubahan. Tak segan-segan dia mengumpulkan banyak tulisan dari berbagai pihak yang akhirnya menjadi penting di kemudian hari. Bahkan beberapa kali dia mendirikan penerbitan untuk menerbitkan berbagai buku “perlawanan” yang penting untuk kita baca. Banyak tokoh menyatakan kekagumannya atas tindakan “tertib” Agus dalam mengumpulkan banyak dan beragamnya literatur ini.

Selengkapnya, kecintaan Agus pada buku dan buku apa saja yang telah diterbitkannya itu banyak diungkapkan oleh beberapa penulis artikel dalam buku ini. Mereka antara lain, Himawan Sutanto dan Nasihin Masha. Nasihin adalah seorang wartawan yang tidak mengenal Agus Lennon secara pribadi, tetapi dia merasa sangat kenal dengan berbagai buku yang diterbitkan oleh Agus, yang awalnya adalah buku “kiri”.

Literasi Agus tampak jelas pada usaha penerbitan buku ini. Agus bukan menerbitkan buku dalam rangka meramaikan industri penerbitkan buku. Sebab, dia tidak menerbitkan buku populer yang mudah dijual dan menjanjikan keuntungan. Tetapi, melalui penerbitan yang dikelolanya, Agus menerbitkan buku

“perjuangan” dan “perlawanan” terhadap kekuasaan otoriter Orde Baru ketika itu.

Usaha Agus dalam menerbitkan buku ini bisa kita lihat sebagai bagian dari perwujudan sikap konsisten Agus dalam perjuangannya yang sangat peduli pada masalah Hak

(26)

Asasi Manusia, pembelaan terhadap orang yang tertindas, memperjuangkan wong cilik, dan keseriusan Agus dalam berbagi.

Agus sering mebawa oleh-oleh buku untuk para aktivis yang ditahan. Agus juga berusaha keras menerbitkan pleidoi aktivis yang diadili oleh Orde Baru. Sudah tentu Agus menyadari dari awal, menerbtikan pleidoi ini adalah proyek rugi.

Itulah Agus. Dia akan dikenal sebagai orang besar. Dia besar karena memperjuangkan HAM, memperjuangkan keadilan,

keberpihakannya yang kental pada rakyat kecil. Agus juga akan kita kenal sebagai orang yang senang memberi bantuan dalam bentuk apa pun yang dia bisa berikan.

Satu hal lagi yang kita puji dari Agus adalah sikapnya:

pertemanan itu di atas politik. Sikap yang sudah pudar pada saat ini di masyarakat kita, yang kehilangan hormat pada orang yang berbeda pendapat. (Jonminofri Nazir)

(27)

PUISI

(28)
(29)

Teringat Padamu, Bung

- Untuk Agus Edi Santoso

Puisi Denny JA

Bung, aku teringat padamu Saat itu di sebuah sore Kau bawa cerita Puluhan tunanetra Ingin tamasya ke pantai Rasakan asinnya air laut Merayakan persahabatan Kau jemput mereka menyewa lima mikrolet Tamasya ke Ancol Memanggul gitar

Tak lupa bekal nasi dan rendang

(30)

“Mereka senang sekali, bro,” ujarmu Bermain air laut

Bernyanyi, Berjoget, Mereka lepas”

Ujarmu:

“Walau mata mereka buta Tapi hati mereka peka, Tak terasa bro,

Dua puluh tahun sudah Aku menemani mereka.”

Bung, aku teringat padamu Tentang kisahmu yang lain

Pernah kau temani belasan tunadaksa menonton film di bioskop

Tapi bioskop tidak dibuat untuk mereka Tak ada tempat untuk kursi roda Tangga- tangga di bioskop Tak bisa dilalui kursi roda

“Tapi kita tetap di sana, bro Menjadi tontonan banyak orang Ini aksi Demo dalam diam,” ujarmu Bung, aku teringat padamu

Ujarmu saat itu

Bahkan masjid juga lupa

Menyediakan tempat untuk kursi roda Dirimu mencari jalan

menemani belasan tunadaksa

(31)

sholat di ruang parkir saja Mencoba khusyuk di sana Menerima apa yang ada

“Kita memang sholat, bro, Kursi roda berjajar

Dilihat orang banyak Sekaligus, kita aksi protes,”

Bung, aku teringat padamu

Ketika orang orang sibuk mengejar kuasa Ketika waktu habis menumpuk harta Terasa betapa berharga

Punya hati yang memberi Punya jiwa yang berjuang Punya nurani yang menemani Walau dengan cara yang sederhana.

Bung, aku teringat padamu.

Teringat burung dengan sayap seadanya Namun selalu ingin terbang tinggi Lebih tinggi lagi

Febuari 2020

(Menjelang memperingati 40 hari wafatnya Agus Edi Santoso Atawa Agus Lenon)

(32)

Pamitnya Agus Lennon

Puisi Himawan Sutanto

Setelah pamit, kamu sendiri Sepi menepi

Di tengah makam tanpa nisan Aku berjalan melangkah Meninggalkanmu sendiri Tanpa dupa, cuma doa

yang terpatri di dalam liangmu.

Agus Lennon pamit

Telah berbaring di antara nisan Yang terbaru darimu

Tinggal kenangan saja Tanpa resah

Tapi penuh kisah

Dengan catatan dan bacaan

(33)

Yang lewat di tanah sendiri Dari berbagai kisah tentangmu.

Agus Lennon panggilanmu Pamit sendiri di ruang batinmu Karena kamu bercerita padaku

Bahwa Mulyana W Kusuma bersama Amir Husain Daulay dan Pongke datang di kamarmu

Kami ikhlas Kami lepas

Ketika kamu mau pamit

Ketika kami pulang menjengukmu Kamu tetap Agus Lennon

Memberikan dan membagikan

Kebahagian di tengah maut menjemputmu.

Itulah kamu, Agus Lennon Semua sahabat bisa datang Tanpa diundang

Mereka menghormatimu selalu

Bahkan Hariman yang suka marah, melepaskanmu dengan rasa optimis lalu mengatakan bahwa kamu orang baik dan membawa segala kebiasaanmu sendiri

Begitu juga Denny JA mengagumimu selalu dengan kalimatmu, bahwa pertemanan selalu di atas politik

Indah memang Sederhana kalimatmu Yang berisi makna dan arti Selamat jalan Agus Lennon

Kamu telah hadir memberi makna persahabatan tanpa berjenjang Semua jadi satu mensholatkanmu

Semua jadi satu mendoakanmu Diiringi rintik hujan

Yang hilang menjadi cerah

(34)

Karena melepas kepergianmu Agus Lennon panggilanmu Kini kau telah pergi Tanpa membawa buku

Tapi kau tinggalkan sejarah panjang pencerahan jiwa dan pikiran Lewat langkah-langkah kakimu

Yang berjalan kemana mata hati

Kamu telah berhasil menebarkan kebaikan dan sikap kritis Ditengah derasnya sikap apolitis dan konsumtifme merajalela Yang hampir nyata di negeri ini.

Kamu selalu datang tanpa diundang lalu pergi tanpa dirasa Itulah kamu Agus Lennon

Kami terus mendoakanmu

Di tengah bangsa yang semakin tua Dan tanpa lelah berubah

Dalam suasana tanpa arah Menjelang keabadianmu sendiri Kini telah kamu tinggalkan

Ketika kamu pamit untuk menemui-NYA

Yang disaksikan dan diikhlaskan oleh para sahabatmu semua.

Condet, 11 Januari 2020

--ooo0ooo--

(35)

Kenangan atas Agus Edi Santoso

Puisi Juftazani

Terdengar tingkap rumah tua ditampar angin dan hujan turun semalaman Di Balekambang Kramat jati

Di bawah gerimis hujan yang tiada henti

Seseorang bertanya saat tenda ditegakkan di depan sebuah rumah sepi:

“ Siapa yang meninggal?”

“Mas Agus”, jawab seorang yang mengurus berdirinya tenda malam itu

“O, Faham!” Ujar orang yang bertanya.

Lalu ia menjenguk ke dalam rumah

Ditatapnya wajah seorang aktivis yang telah kenyang melintasi Titian danau dan sungai tempat orang-orang tertindas dan miskin

(36)

Merasai hidupnya

Lalu tingkap yang terempas angin pun diam

Dan mengikuti dendang kesedihan keluarga yang sedang ditimpa musibah kehilangan?

Jakarta tengah berduka atas hilangnya seorang yang peduli pada orang-orang pinggiran

Dan tersingkirkan

Di tengah zaman yang terus bergolak, para pemimpin dan pejabat Tega menginjak-injak harga dan harkat diri rakyat

Terdengar dari rumah-rumah reot, compang-camping dan tua Orang-orang miskin dininabobokan dangdut dan telenovela Dan Agus Edi Santoso membangkitkan mereka dari lumpur ketertindasan dan kemelaratan

Ada doa tak terucap dari dada rakyat yang pernah tersentuh tangan lembutmu

Tidurlah dalam istirahat panjangmu

Kelak kau akan bangun bersama rakyat yang sulit bangkit

Dari keterpurukannya di tengah badai politik, ekonomi Indonesia dan dunia

Dihantam resesi bertubi-tubi Selamat jalan mas Agus Edi Santoso

Di saat jasadmu ditanam dengan indahnya di pusara yang kini jadi taman

Ada yang berdoa untukmu dari pura yang sunyi di Bali:

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga, semoga semua atma suci mendapat tempat di surga, sembah

(37)

smua atma suci.”

Dan di Gereja pun bergema doa yang menyeru namamu, Agus Edi Santoso: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah

Dan di masjid pun tak pernah henti menyebut dan mendoakanmu Untuk kepulangan hari terakhirmu:

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka.

Ya, Tuhanku, dia (Agus Edi Santoso) telah terbaring dengan damai Di sisiMu

Tangerang, 11 Januari 2020

(38)
(39)

Teks Pidato

(40)

...aktivis juga tidak takut berbeda pendapat

dengan yang lain, dengan penguasa atau

temannya sekali pun

“ “

(41)

Hariman Siregar:

Aktivis itu Panggilan Jiwa, Bukan Pekerjaan

Saya kenal Agus dari masih “kecil” sampai mengantarkannya sekarang. Hidupnya susah, belum pernah senang. Tetapi, dia tidak pernah mengeluh soal dirinya. Tidak pernah iri soal jabatan dan harta orang lain.

Kalau bertemu Agus, dia pasti membahas tentang kondisi bangsa, soal ketidakadilan, dan soal keberpihakan.

Itulah ciri khas aktivis, kita semua yang ada disini, yang

menamakan dirinya kaum aktivis. Aktivis itu panggilan jiwa, bukan pekerjaan.

Kita semua di sini bisa mempunyai pekerjaan apa pun, seperti Agus yang mempunyai kedai kopi buat kehidupannya sehari-hari.

Tetapi, bila ada persoalan-persoalan ketidakadilan yang mengusik jiwanya, maka aktivis akan tampil di depan membela kaumnya.

Jadi di situlah keunggulan aktivis dari orang biasa. Aktivis itu terkadang tidak perduli pada diri sendiri dan keluarganya jika

(42)

sudah terlibat soal-soal keberpihakan.

Dan, satu lagi, aktivis juga tidak takut berbeda pendapat dengan yang lain, dengan penguasa atau temannya sekali pun.

Mau dimusuhi banyak orang sekali pun, kalau menurut dia benar, maka dia akan lawan. Makanya aktivis yang bener itu rata- rata melarat, kebanyakan mikirin bangsanya daripada memikirkan diri sendiri.

Tapi di situlah juga solidaritas penting. Aktivis terkadang gak sempat urus diri dan keluarganya. Di situlah kita saling bantu urus keluarga aktivis yang ditinggalkan sebagai sesama komunitas aktivis.

(Teks di atas adalah intisari dari pidato Hariman Siregar yang disampaikan sesaat setelah Agus Edi Santoso dimakamkan pada 11 Januari 2020. Intisari pidato di atas dibuat oleh Dr. Syahganda Nainggolan)

--oo0oo--

(43)

Denny JA:

Agus, Apimu Masih Menyala di Hati Kami

Saya bersakasi bahwa Agus Edy Santoso adalah orang baik.

Ia aktivis. Banyak sekali teman pergaulannya dari semua kalangan. Bukan saja dari kalangan yang berbeda, tetapi juga kalangan yang bertentangan dengan dirinya.

Saya mengenal Agus dengan intens sudah kenal 35 tahun.

Sepanjang masa pertemanan itu, sering kali kami berbeda pendapatan. Bahkan kami berada berhadap-hadapan dalam pilihan politik.

Kepada saya dia mengatakan: Bro, teman itu di atas politik.

Politik memang sangat penting karena politik membuat bulat- lonjong negara kita. Politik juga akan mewarnai hidup kita. Tetapi teman juga tidak kalah penting.

Karena itu, selama kami berteman 35 tahun, melewati pilkada dan pilpres, dan kerap berhadap-hadapan secara politik dan pilihan politik, tetapi kami tetap bersahabat.

Suatu kali dia berkata, ketika berdua saja, bahwa keluarga itu amanah, tapi teman adalah harta.

(44)

Saya menjadi saksi, dia rawat temanya dengan cara sederha dari hatinya yang palling dalam.

Agus, kami teman-temamu, berkumpul di sini, sampai detik terakhir, kami antar dirimu.

Kau sudah tiada.

Tetapi apimu masih menyala di hati kami, Menyala di di hati kawan-kawanmu, Dan menyala di hati keluargamu.

(Teks di atas pidato Denny JA yang disampaikan sesaat sebelum jenazah Agus Edi Santoso akan dishalatkan di masjid yang tidak jauh dari rumahnya, pada 11 Januari 2020)

--oo0oo--

(45)

Tulisan Para Sahabat

Aktivis

(46)

“ “

Khusus tentang Agus saya sedikit heran.

Saya dengar dia masuk dalam pengurus PB HMI

periode 1980-an itu, dan juga mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga (Yogya),

namun kok menaruh minat pada isu kiri.

(47)

Ideologi Semangka ala Agus Lennon

Penulis: Aris Santoso

SABTU PAGI (11/1) itu saya bergegas ke Condet (Jaktim), menuju rumah Agus Lennon, yang malam sebelumnya dikabarkan

meninggal dunia. Saya sendiri mendapat kabar duka dari sahabat yang lain, yakni Satia (Bandung), yang bila bersanding dengan almarhum Agus Lennon, ibarat sebuah “pasangan legendaris”.

Setelah mendengar kabar malam itu, mata menjadi sulit terpejam, pikiran saya menerawang pada masa-masa yang telah lewat.

Mungkinkah ini sebuah kebetulan belaka, Mas Mul (Mulyana W Kusumah) dan Agus Lennon, di masa hidupnya sama-sama tinggal di Condet. Saya datang melayat ke Condet saat Mas Mul meninggal (Desember 2013), dan kini kembali ke Condet, untuk melepas kepergian Agus. Benar, sejauh ingatan saya, saya

(48)

mengenal keduanya dalam waktu hampir bersamaan, mungkin sekitar tahun 1984.

Sebagai mahasiswa tahun kedua atau ketiga di Jurusan Sejarah FSUI (kini FIB UI), saya boleh dikata haus akan pengetahuan dan informasi, rasanya materi pelajaran di kampus sudah tidak memadai lagi bagi dahaga ilmu ini. Sehingga setiap ada acara diskusi, tanpa perlu mencermati apa temanya, saya datangi saja.

Salah satu tempat yang acapkali mengadakan diskusi adalah kantor YLBHI (LBH Jakarta), Jalan Diponegoro, yang kebeneran letaknya tidak terlalu jauh dari kampus saya di Rawamangun.

Dan kebetulan pula, berkat keberadaan tokoh semacam Bang Buyung dan Mas Mul, kantor YLBHI menjadi episentrum gerakan pro-demokrasi di Jakarta, jadi termasuk pula gerakan mahasiswa.

Dalam situasi seperti itulah saya berkenalan dengan Mas Mul dan Agus pada suatu diskusi tahun 1984. Dalam setiap diskusi, sejak dulu saya selalu duduk di deretan belakang, dan hanya sekadar sebagai pendengar.

Seperti pada diskusi siang itu, pada meja narasumber, tampak Mas Mul dan Agus. Yang surprise bagi saya, keduanya membahas isu “kiri”, sesuatu yang sangat tabu dibahas masa itu secara terbuka, namun di kantor LBH semua isu bisa dibahas, termasuk isu kiri. Apa detailnya isi diskusi hari itu saya sudah lupa persisnya, namun sejak itu, hubungan saya semakin akrab dengan Mas Mul dan Agus. Satu hal yang saya ingat, Agus sekilas menyebut Ali Shariati (intelektual kiri Iran), dan Mas Mul menyebut Tan Lieng Djie (tokoh PKI 1948).

Khusus tentang Agus saya sedikit heran. Saya dengar dia masuk dalam pengurus PB HMI periode 1980-an itu, dan juga mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga (Yogya), namun kok menaruh minat pada isu kiri. Pada masa-masa itu, pengetahuan Agus tentang Tan Malaka masih lebih bagus dari saya, yang notabene seorang mahasiswa sejarah. Setiap bertemu, Agus selalu mengajak diskusi soal kiri, mulai dari Sarekat Islam (merah), buku-buku karya Aidit atau Tan

(49)

Malaka, dan seterusnya.

Kebetulan berikutnya datang lagi, ketika saya harus menyusun tugas akhir selaku mahasiswa sejarah, lagi-lagi Agus yang

menanyakan terus bagaimana perkembangannya, saya sendiri sampai risi bila bertemu dengannya. Itu bisa terjadi, karena tema yang saya pilih masih seputar Sarekat Islam (merah), yang menjadi perhatian Agus pula. Bahkan dengan nada bercanda (mungkin), Agus akan menerbitkan skripsi saya. Saya hanya tertawa geli mendengar tawaran itu, cukup pantaskah skripsi yang menurut saya biasa-biasa saja, untuk kemudian diterbitkan. Baru kemudian saya ingat, bukankah saat masuk pengurus PB HMI masuk sebagai koordinator penerbitan, sehingga untuk urusan produksi barang cetakan, Agus sangat sigap.

Dari perjumpaan dengan Agus itulah saya jadi mengenal kiasan ideologi semangka. Seperti buah semangka, yang luarnya hijau (HMI), tapi dalamnya merah (kiri). Saya sendiri, rasanya juga kira- kira seperti itu, berdasar pengalaman saya sendiri. Pada masa- masa awal kuliah saya sempat direkrut HMI, karena memang organisasi ini terbilang paling aktif mendekati mahasiswa baru.

Memasuki dekade 1990-an, saya dan Agus semakin jarang berjumpa, meskipun masih sama-sama bekerja di lingkungan LSM, namun pada lembaga yang berbeda. Hanya pada kegiatan tertentu kita saling jumpa, semisal keperluan konsolidasi ketika rezim saat itu semakin represif. Dalam masa-masa ini tentu ada pula pasang- surutnya hubungan kami, kita sudah sama-sama berkeluarga, selain ada perilaku Agus yang acapkali membuat kesal, tapi ya sudahlah, tak ada manusia yang sempurna.

Pada akhir Juli lalu, ibu saya terkasih meninggal dunia, dan saya sungguh sangat terpukul. Mental saya benar-benar drop.

Kemudian Agus mengirim pesan ucapan dukacita melalui WA, dan ajakan ngopi sore untuk mengurangi rasa duka saya. Saya sungguh terharu, di saat dirinya masih kurang sehat, Agus masih meluangkan waktu untuk membesarkan hati saya.

(50)

Pada awal Agustus lalu, akhirnya jadi acara ngopi sore di sebuah kedai kopi di kawasan Sabang (Jl Agus Salim), Jakarta Pusat. Selain Agus, saya ingat ada sahabat-sahabat lama yang dulu aktif di Bandung, seperti Satia, Dudi, Paskah dan Endut (Miftah Fauzi). Sekadar mengingatkan, pada saat kita ngopi itulah, saat usai waktu maghrib, gempa sempat menguncang Jakarta. Saya sungguh tidak menyangka itulah menjadi pertemuan terakhir dengan Agus.

Semoga Agus sudah damai sekarang, di tempatnya yang baru.

Semoga Agus senang pula, bila melihat sahabat dan kerabat yang datang saat menuju pemakamannya, tak jauh dari rumahnya.

Pergaulan Agus yang luas, terlihat saat pemakamannya, seperti juga pemakaman sahabat kita lainnya, semisal Bambang Harri (Bandung, Februari 2008) dan Amir Daulay (Jonggol, Bogor, Juli 2013). Selamat jalan kawan-kawanku semua, semoga kalian semua bahagia, dan (mungkin) saling bersua.

--oo0oo--

(51)

Agus Lennon:

Tukang Kompor dan Kawan Diskusi yang Mencerahkan

Penulis: Dedi Ekadibrata

PERJALANAN PANJANG BERSAMA AGUS LENNON dimulai dari perjumpaan aksi di lapangan yang kami kawan kawan Bogor hadiri maupun aksi aksi bersama petani yang kami rancang di tahun 80 an. Beberapa kali Agus datang bersama Tatik memberikan materi pelatihan untuk kawan kawan buruh Bogor, sesekali Agus datang sendiri ke Bogor diskusi tentang gerakan petani dan buruh. Berkunjung ke basis petani yang kami garap di Cibodas, Rancamaya, Cijayanti, Nanggung, Majalengka.

Secara pribadi perjalanan bersama Agus banyak di Skephi bersama mas Indro Cahyono, Saleh Abud, Daniel, Tya Dharma dan kawan kawan aktivis seperti M Yamin, Japrak, Brotoseno dan aktivis Timor Timur. Saat kami kawan kawan Bogor mendirikan percetakan, Agus sering datang dan mencetak buku bukunya di

(52)

percetakan kami, lewat Teplok Press ribuan buku Tan Malaka kami cetak sesekali bukunya Pramudya Ananta Toer.

Perjuampaan di bulan Oktober 2019 di kantor Pusat Lazismu, Agus bercerita tentang kiprah Lazismu. Di kafe Tji Liwoeng Agus mendorong saya untuk mendirikan Lazismu di Bintaro, yang sampai hari ini belum terwujud. Saat itu merancang program mendirikan tempat pengolahan pupuk organik di pesantren Al Khairat di Parung Bogor, yang sampai sekarang belum tuntas (banyak pekerjaan rumah dari Agus yang belum saya selesaikan- Insya Allah saya selesaikan sebagai ladang amalnya Agus Lennon).

Perjumpaan terakhir tanggal 22 Desember 2019 di acara mengingat kawan aktivis Bogor yang sudah almarhum. Agus memberikan testimoni sekaligus wejangan buat kawan kawan aktivis yang hadir wabil khusus untuk mas Indro Cahyono. Agus tukang kompor sekaligus kawan diskusi yang mencerahkan. Insya Allah semangat menyatukan kita melawan kedzoliman akan selalu membara di hati kawan kawan Bogor wabil khusus saya pribadi.

Selamat jalan Kawan Agus Lennon, salam buat kawan kawan aktivis disana, Insya Allah Agus Edi Santoso “Lennon” wafatnya Khusnul Khatimah.

13 Januari 2029

--oo0oo--

(53)

Agus Edi Santoso dan Kisah Teman di Atas Politik

Penulis: Denny JA

GRUP KECIL ITU DIBERI NAMA KLUB AKTIVIS BAKAR LEMAK.

Setiap Minggu pagi, pukul 07.00-10.00, kami berkumpul di pantai Ancol. Didahului jalan pagi. Setelah itu senam dengan musiknya.

Ditutup dengan makan pagi, kadang sambil guyon, kadang sambil debat politik yang keras.

Pesertanya para aktivis usia 50 tahun ke atas.

Awalnya percakapan sambil lalu. Ujar Agus, ia punya masalah dengan jantung. Tapi kata dokter, kesehatannya tak memenuhi syarat untuk pasang ring. Belum bisa juga jantungnya dioperasi bypass.

Dokter menyarankan ia menyegarkan badan, dengan

(54)

menghirup udara laut sambil jalan pagi. Jika badan sudah lebih segar, terapi pasang ring atau bypass, bisa dicoba lagi.

Program pun dibuat. Kami teman-temannya di Kelompok Studi Proklamasi dan di Guntur 49 menemani Agus jalan pagi setiap Minggu pagi. Tak ada tempat lain yang punya pantai bagus di Jakarta kecuali Ancol.

Kadang Agus mengajak tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Bagi mereka jalan ke Ancol itu sekalian semacam tamasya. Kadang Agus juga mengajak istrinya.

Pantai Ancol cukup indah. Udara pagi segar. Berjumpa pula di sana para aktivis dan sahabat yang sudah saling mengenal sekitar 35 tahun. Ketika senam dengan musik, banyak pengunjung lain di Ancol yang bergabung spontan. Kegiatan Minggu pagi di pantai Ancol sempat menjadi acara favorit kami.

Seringkali gerak senam itu cukup mengeluarkan enerji. Tapi Agus menggerakkan badan seadanya saja, yang penting sesuai dengan irama musik. Sakit jantung membuatnya hanya bisa bergerak pelan-pelan.

Kegiatan jalan pagi di Ancol itu dimulai tahun 2018, dan terus melewati pilpres 2019. Walau kami semua bersahabat lebih dari 35 tahun, sejak mahasiswa, tapi tak pernah satu suara soal pilihan politik. Agus termasuk paling semangat jika menyindir dan membuat guyon.

Saat pilpres 2019 itu pembelahan politik cukup keras. Banyak grup WA pecah. Persahabatan rusak. Bahkan tak jarang hubungan keluarga menjadi tak nyaman. Apalagi isu agama dimainkan pula.

Tapi setiap Minggu pagi itu, kami lebih santai. Tiap Minggu memang kami berdebat. Tiap Minggu memang kami saling kritik kubu masing-masing. Tiap Minggu memang perbedaan pilihan politik semakin keras dinyatakan.

Tapi menyertai debat politik yang kadang sangat keras, selalu dihadirkan tawa dan ledek-ledakan.

(55)

Agus berbisik ke telinga saya: “Beginilah nikmatnya, Bro, jika berteman di atas politik. Walau kita berhadapan secara politik, tapi pertemanan tetap hangat.”

“Ya, Bro,” saya menimpali. “Politik pilpres itu acara rutin lima tahun sekali. Justu di situ kematangan kita berpolitik. Boleh dong beda politik, bertentangan ideologi. Tapi berteman jalan terus.”

“Teman di atas politik, Bro,” ujar Agus menegaskan pendiriannya.

Saya mengenal Agus Edy Santoso sejak 36 tahun lalu. Di tahun 1984, era saya mahasiswa, Agus seringkali memakai kacamata bundar seperi John Lennon. Itulah awal ia dipanggil Agus Lennon.

Itu era ketika Pak Harto sedang kuat-kuatnya.

Pak Harto juga sangat keras dan tegas terhadap “Eka dan Eki.” Eka itu ekstrem kanan: Islam radikal. Eki itu ekstrim kiri:

komunisme.

Tapi Agus punya banyak teman baik dari kalangan “kiri” dan

“kanan.” Pernah suatu malam, saya diajak Agus bertandang ke salah satu tokoh kiri. Kami ke sana berjalan. Diam-diam, Agus pun memperbanyak dan mengkopi buku Tan Malaka untuk ia sebarkan.

“Gus,” tanya saya, “Dirimu simpatisan kiri?”

“Ini buat bacaan saja, Bro,” jawab Agus santai.

Saya pernah pula diajak Agus jumpa para aktivis yang dulu aktif peristiwa Tanjung Priok. Ini aktivis dari jalur Islam keras. Agus malah memberi mereka buku Ali Shariati. Kata Agus, ini supaya mereka lebih revolusioner tapi juga visioner.

Agus pun dekat dengan tokoh moderat. Pernah suatu ketika Agus menemukan tumpukan surat di kantor HMI, tempatnya menginap. Tarnyata, itu surat-menyurat sangat penting antara Nurcholish Madjid dan Mohamad Roem. Agus dengan tekun membukukan surat itu.

Dengan izin Noercholis Madjid, buku itu disebarkan, menjadi pem- bicaraan luas. Isu utama buku tersebut, bahwa tak ada negara Islam.

(56)

Pergaulan Agus juga meluas ke aneka kalangan. Ia aktif di Lazizmu Muhammadiyah. Tapi Agus juga pendukung aliran kepercayaan suku Badui. Aguspun aktif bermeditasi dalam tradisi Budha.

Intensnya Agus bersahabat dengan aneka kelompok yang beragam, bahkan saling bertentangan, membuat Agus lebih mudah mengatasi perbedaan. Ia punya banyak teman yang dekat dari aneka kubu politik. Ini pula yang menumbuhkan spirit Agus bahwa beda politik itu biasa. “Teman di atas Politik!”

***

Setahun belakangan ini, Agus sering bertandang ke kantor saya. Ia sering curhat. Kesehatannya menurun. Ia tak bisa selincah dulu. Ia terpikir membuka usaha bisnis, tapi yang bisa ia jalankan dengan duduk di rumah saja.

Dari semua teman aktivis, Agus melihat saya yang ia anggap juga sukses berbisnis, dari urusan konsultan politik, restoran, properti, hingga kebun. Ia pun acap kali menjadikan saya sebagai teman diskusi usahanya.

Itulah awal lahir Kafe Tji Liwoeng di rumah Agus. Kafe itu tak hanya menjual kopi, tapi juga diskusi politik. Kadang ada pula acara budaya, membaca puisi.

Bersama teman teman, kita launching kafe milik Agus dengan diskusi masalah yang sedang hot saat itu: Pergolakan Papua.

Liputan media cukup luas.

Dua minggu lalu, sebelum saya liburan akhir tahun, Agus kembali datang ke kantor. Ujarnya: Kafe saya mulai ramai, Bro.

Kadang tamu datang mengobrol sampai pukul 01:00 pagi. “Asyik, ya, punya usaha sendiri,” ujarnya senang.

Mempunyai usaha kafe di beranda rumah sendiri, sambil bisa diskusi politik, menjadi usaha ideal Agus, karena kesehatannya.

Ia seringkali berkata, “Bro, saya tak bisa membalas kebaikan Bro. Saya membalasnya dengan mengirim kopi dan makanan saja

(57)

untuk Bro, ya,” ujar Agus lagi.

Saya menjawab dengan memplesetkan ucapan Agus. Jika agus berkata: “Teman di Atas Politik.” Saya membalasnya: “Santai saja, Bro. Kan, Teman di Atas Bisnis!”

“Selamat jalan, Agus Edy Santoso.”

--oo0oo--

(58)

Nampak sekali Agus

ini hanya hidup dari buku satu ke buku lain, dalam artian berkejaran

menerbitkannya. Dan buku-bukunya tentu saja

kebanyakan buku kiri.

(59)

Kawan Agus Lennon, Sang ‘Haji Misbach’

Penulis: Bonnie Setiawan

SUDAH LAMA BERENCANA INGIN MENENGOK TEMAN LAMA SATU INI, tetapi selalu saja ada alasan sehingga tidak jadi. Meski kadang masih berjumpa di sapaan telpon. Sampai datang berita di WA tentang kepergiannya. Duh Gus, koq tiba-tiba pergi. Belum sempat bertemu kawan lama. Sungguh sedih mendengarnya.

Terlintas kembali perkenalan pertama dengannya. Waktu itu aku masih mahasiswa yang aktif di Senat Mahasiswa FISIP-UI.

Sementara Agus baru saja datang dari Yogya karena menjadi pengurus di PB HMI. Kami bertemu di sebuah diskusi dan dia memperkenalkan dirinya dari Agitprop CC PKUS (Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet-red), hahaha. Maksudnya dia bercanda mewakili Partai Komunis Uni Sovyet. Memang kesannya dia ini rada nyentrik, penuh canda dan perkataan menggelitik. Dan buat

Referensi

Dokumen terkait

Suku Dayak Lawangan mempunyai sistim kepercayaan lama yang diperoleh secara turun temurun dikenal dengan istilah kaharingan, sehingga orang-orang banyak mengenal agama asli

menegaskan bahwa orang yang tidak mampu asertif akan merugikan diri sendiri. baik secara fisik maupun

Menurut pencariannya, orang-orang dari Jawa umumnya menjadi kuli karena diculik, tertarik karena cara dan tipu daya dan hanya sebagian kecil yang menjadi kuli karena suka rela

Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik

Pemilik usaha selalu membangun hubungan baik secara pribadi dengan orang lain!. Berikan contoh

Pelaksanaan bauran promosi meliputi Periklanan, Promosi Penjualan, hubungan masyarakat, pemasaran secara pribadi, dan pemasaran langsung, pada umumnya sudah cukup baik

Apakah kesadaran perpajakan, sosialisasi perpajakan, sanksi pajak, dan sikap fiskus, secara simultan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib. pajak

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan penyembelihan secara baik dan benar dapat menghasilkan daging yang berkualitas baik (daging yang sehat). Hal ini