BAB VI GAMBAR PERANCANGAN
Diagram 2.5. Alur koleksi buku lama
2.4.3. Deskripsi Kebutuhan Ruang
Dari kelompok kegiatan dan pengguna diperoleh acuan kebutuhan ruang menjadi dasar perancangan.
Jenis ruang Pengguna Kegiatan Nama ruang Zona ruang
Pengunjung
Anak-anak
Mencari informasi Ruang Katalog Publik
Mencari buku Ruang Buku Publik
Membaca buku Ruang Baca Publik
Meminjam buku Ruang Peminjaman Publik Mengembalikan buku Ruang Pengembalian Publik Mendengarkan cerita Ruang Baca Publik Menonton video Ruang Audio Visual Publik Melihat pameran Ruang Pameran Publik
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Remaja
Mencari informasi Ruang Katalog Publik
Mencari buku Ruang Buku Publik
Membaca buku Ruang Baca Publik
Meminjam buku Ruang Peminjaman Publik Mengembalikan buku Ruang Pengembalian Publik Berdiskusi Ruang Diskusi Publik Menonton video Ruang Audio Visual Publik Melihat pameran Ruang Pameran Publik
Menggunakan internet Ruang Internet Publik
Mengikuti seminar Ruang serba guna Semi
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Dewasa
Mencari informasi Ruang Katalog Publik
Mencari buku R. Buku Publik
Membaca buku R. Baca Publik
Mengembalikan buku R. Pengembalian Publik Mendengarkan cerita R. Diskusi Publik Menonton video R. Audio Visual Publik Melihat pameran R. Pameran Publik Menggunakan internet R. Internet Publik Mengikuti seminar Ruang serba guna Semi
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Pengelola
Pimpinan Perpustakaan
Memimpin dan
membuat kebijakan R. Kantor Privat
Memimpin rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Administrasi
Bekerja R. Kantor Privat
Rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Unit Pengadaan
Bahan
Bekerja R. Kantor Privat
Rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Unit Pengelolaan
Bahan
Bekerja R. Kantor Privat
Menyortir buku R. Sortir Privat Menyimpan buku
semantara
R. Simpan
Sementara Privat
Rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Unit Pelayanan,
Sirkulasi, Peminjaman
Bekerja R. Kantor Privat
Melayani peminjaman
buku R. Peminjaman Publik
Melayani pengembalian
buku R. Pengembalian Publik
Pendaftaran Anggota R. Informasi dan
Rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
Unit Pelayanan
Referensi
Bekerja R. Kantor Privat
Rapat R. Rapat Privat
Ke Toilet Toilet / WC Privat
2.5. Studi Banding Fungsi Sejenis 1. Seattle Central Library
Achitect : Rem Koolhaas
Seattle, Washington, United States
Perpustakaan ini berada pada daerah kota dengan ketinggina 8.8 meter perbedaan antara batasnya dengan Fourth and Fifth Avenues. Pada Persimpangan Fifth dan Madison, bentuk dasar perpustakaan yang mendesak berkurang hampir sampai ujungnya. Pengunjung memasuki Ruang Santai yagn sangat luas, tempat luas yang menawarkan alternatif seperti cafe kopi sebagai tempat santai, bersosialisasi, membaca, dan internet.
Di atasnya terdapat podium yang menyediakan ruang baca dan area terbuka yang dilengkpai dengan komputer. Di tengah bangunan adalah empata deret tingkatan “ Buku Spiral” yang menampung buku non-fiksi. Dengan area sirkulasi yang nyaman, seperti tangga, ram, eskalator. Dengan kapsitas untuk penyimpanan 1,4 juta buku dan berbagai benda lainnya.
• Seattle Central Library merupakan perpustakaan pusat yang menaungi 28 cabang perpustakaan daerah yang ada di Seattle, Washington, USA.
• Gedung perpustakaan ini memiliki luas bangunan sekitar 33.700 m2 dan berdiri diatas lahan seluas 38.300 m2, dengan luas parkir sekitar 4.600 m2.
• Seattle Central Library tidak hanya didefenisikan sebagai tempat penyimpanan buku- buku, sebagai tempat penyimpanan informasi dalam berbagai bentuk media-yang lama ataupun yang baru-yang disajikan secara apik dan baik. Dimasa dimana informasi dapat di akses dimana saja, sejalan dengan kemajuan media, dan yang terpenting, isi dari perpustakaan ini yang membuat perpustakaan ini menjadi penting. • Di perpustakaan ini terdapat ruang baca, book spiral, mixing chamber, meeting
2. Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru
Perpustakaan Daerah Soeman HS yang juga berfungsi sebagai Badan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Riau ini, saat ini telah menjadi salah satu tujuan wisata berbasis edukasi di Provisi Riau. Dan juga mungkin perpustakaan ini akan menjadi salah satu landmark Provinsi Riau dan juga perpustakan terbesar di Indonesia.
Perpustakaan Soeman HS ini terdiri dari 3 lantai. Lantai dasar (basement) terdapat ruang informasi, ruang bacaan anak, kafe, dan OPAC (sistem searching).
Pada lantai dua perpustakaan ini terdapat ruangan bacaan, loker penyimpanan barang (tas, jaket, dll ), ruang diskusi, dan tempat peminjaman dan pengembalian buku. Lantai dua dan lantai tiga sama seperti lantai pertama. Tapi pada dua lantai tersebut ditambah dengan ruangan internet.
Dari perpustakaan Soeman HS ini yang dapat dijadikan bahan perbandingan yaitu : fungsi perpustakaan yang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan dan peminjaman buku saja, tetapi juga dapat berfungsi sebagai salah satu destinasi wisata dan bisa menjadi salah satu landmark bagi kota tersebut.
3. University of Seville Library
Seville, Spain
Architect : Zaha Hadid
Bangunan yang terletak di Seville, Spanyol ini dimaksudkan untuk menarik dan mengundang para pengguna terutama untuk hal kebudayaan, pendidikan, dan hiburan khususnya bagi mahasiswa universitas tersebut.
Gambar 2.7. Eksterior Perpustakaan Soeman HS
Gambar 2.10. Tampak Utara University of Seville Library
Skema desain didasarkan kepada podium setengah basement yang berada di atas level jalan, sebagai tempat penyimpanan, workshop, parkir, dan utilitas. Di atas podium taman memanjang dari area publik yang menjadi transisi antara taman dan perpustakaan di bagian atas. Pengguna memasuki perpustakaan melalui taman dan 4 buah inti yang miliki zona publik seperti : resepsionis, conference room, exhibition room, cafe, dan toko buku.
Hall utama ditegaskan dengan adanya tikungan di tengah struktur yang longitudinal. Area tiga lantai yang utama menjadi perpustakaan umum yang terbagi menjadi dua bagian. Pada lantai pertama terdapat area spesial yaitu bagian informasi ilmu pengetahuan dan teknik, zona audio visual dan TICS.
Lantai kedua berisi referensi dan area belajar bagi siswa. Termasuk daerah baca yang bisa menampung 600 orang. Sebuah ruang untuk 20000 buku terletak pada bagian tengah atrium dengan tiga kali ketinggian dengan tiga level teras. Atrium dilengkapi sky light yang memanjang utara-selatan bangunan.
Gambar 2.12. Potongan 2 University of Seville Library
Gambar 2.13. Interior University of Seville Library Gambar 2.11. Potongan 1 University of Seville Library
BAB III
ELABORASI TEMA
3.I. Pengertian Tema
Arsitektur Hijau atau lebih dikenal dengan istilah Green Arsitektur bila diartikan secara harafiah:
1. Green : Warna Hijau
2. Architecture : 1) Ilmu bangunan, arsitektur, seni dan ilmu merancang seta membuat konstruksi bangunan. 2) Metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan.
Jadi, green architecture atau arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan.
Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang:
1. efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada.
2. mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya,
3. mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.
3.2. Interpretasi Tema
Green Architecture atau Arsitektur Hijau merupakan isu yang sedang berkembang di
masa sekarang. Begitu banyaknya terjadi bencana alam, peningkatan suhu dunia, rusaknya lapisan ozon menjadi pendorong penerapan arsitektur hijau dalam masyarakat.
Prinsip dari Green Architecture adalah bahwa apa yang telah kita ciptakan tidak hanya mengambil dari alam tetapi harus dapat dikembalikan juga ke alam. Tanah menjadi tanah, air menjadi air. Segala sesuatu yang kita terima dari alam dapat kita berikan dengan bebas lagi ke alam tanpa menimbulkan dampak negatif pada alam. Itulah desain yang baik. Pembaharuan material yang telah digunakan. Green artinya hijau atau bisa di artikan sesuatu yang natural, yang berhubungan dengan alam.
Pendekatan desain yang dilakukan oleh berbagai kelompok arsitek dalam memasyarakatkan Green Architecture berbeda-beda aplikasinya sesuai dengan keahlian masing-masing. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa Green Architecture adalah gerakan untuk kelestarian alam dan lingkungan untuk masa depan yang berkelanjutan dalam efisiensi energi dan sumber daya alam dalam kegiatan arsitektural untuk pembangunan yang berkelanjutan dalam mencapai tujuan ekonomi, sosial dan budaya.
Terdapat 6 prinsip Green Architecture yang diajukan oleh Brenda dan Robert Vale yang harus menjadi perhatian untuk dapat diterapkan dalam berbagai aplikasi, yaitu :
1. Konservasi energi
• Bangunan seharusnya meminimalkan penggunaan kebutuhan akan energi. • Perlindungan sumber daya alam.
• Pendayagunaan alam sebagai sumber energi bagi keperluan studi dan rekreasi. • Memanfaatkan limbah sebaik-baiknya seperti dengan manjadikan limbah
sebagai sumber energi biogas atau pupuk.
• Penentuan lokasi yang paling tepat guna dengan cara pemilihan sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan dari fungsi bangunan atau proyek.
2. Bekerja sama dengan iklim
• Bangunan bekerja sama dengan iklim dan sumber energi alam.
• Memanfaatkan energi yang tersedia di alam seperti matahari, angin, hujan, dan air.
• Pencahayaan alami pada siang hari. • Penghawaan alami.
3. Meminimalisasi sumber-sumber daya baru • Penggunaan material daur ulang.
• Penggunaan material yang dapat diperbaharui.
• Merancang bangunan dari sisa bangunan yang sebelumnya. • Penggunaan material yang ramah lingkungan.
4. Menghargai pemakai
• Green Architecture menyadari bahwa pengguna atau pemakai dari bangunan
harus diperhatikan kebutuhannya. Untuk itu dilakukan pendekatan yang memperhatikan kenyamanan penggunanya namun selaras dengan prinsip
kenyamanan pengguna, sebaiknya menggunakan penghawaan alami untuk menyejukkan ruangnan dengan ventilasi silang. Daripada menggunakan terlalu banyak energi untuk penerangan lampu pada siang hari agar pengguna tetap nyaman beraktifitas dalam bangunan prinsip Green Architecture menerapkan pencahayaan alami.
5. Menghargai site
• Seminimal mungkin merubah tapak. Misalnya dengan mempertahankan kontur tanah. Tidak mengambil jalan pintas dengan cara cut dan fill site dalam pembangunan di tapak. Memberi pori-pori bagi tanah agar tetap memiliki aliran udara.
• Menurut seorang arsitek Australia, Glenn Murcutt “Seorang harus menyentuh bumi secara ringan” yang ia kutip dari kata-kata orang Aborigin. Kata-kata ini meliputi interaksi bangunan dan sitenya merupakan suatu hal yang sangat penting dalam penerapan Green Architecture. Suatu bangunan yang menghabiskan banyak energi, menghasilkan sumber polusi dan menjadi asing bagi penggunanya tidak menyentuh bumi secara ringan.
6. Holistik
Seluruh prinsip-prinsip Green Architecture digabungkan dalam suatu pendekatan holistik pada lingkungan yang dibangun.
Heinz Frick (1999) memberikan empat kriteria arah pembangunan secara Green Architecture, yaitu:
1. Pembangunan berwawasan lingkungan menuntut adanya proses yang melestarikan lingkungan alam dan peredarannya, sehingga menghemat energi.
2. Pembangunan biologis (baubiologie) yang memperhatikan kesehatan penghuni dan menganggap rumah sebagai kullit ketiga manusia.
3. Pembangunan psikospiritual, berkaitan dengan jiwa manusia, rasa dan karsa, serta susunan organisme manusia yang mengerti arsitektur sebagai pengalaman kesadaran.
Pembangunan organik yang bobot arsitekturalnya terletak pada fungsi pembentukan dan kesenian.
Masih menurut Frick, 1997, pola perencanaan green arsitektur selalu memanfaatkan alam, sebagai berikut:
• Penyesuaian pada lingkungan alam sekitar.
• Menghemat sumber energi alamyang tidak dapat diperbaharui dan mengirit penggunaan energi.
• Memelihara sumber lingkungan(udara, tanah, air). • Memelihara dan memperbaiki peredaran alam.
• Mengurangi ketergantungan pada sistem pusat energi (listrik, air) dan limbah (air, limbah dan sampah).
• Penghuni ikut serta secara aktif dalam perencanaan pembangunan dan pemeliharaan perumahan.
• Tempat kerja dan pemukiman terdekat.
• Kemungkinan penghuni menghasilkan sendiri kebutuhan sehari-hari. • Penggunaan teknologi sederhana.
• Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan maupun yang digunakan pada saat pembangunan harus seminimal mungkin.
• Kulit (dinding dan atap)sebuah gedung harus sesuai dengan tugasnya harus melindungi dirinya dari sinar panas, angin dan hujan.
• Bangunan sebaiknya diarahkan beorientasi timur barat dengan bagian utara selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan.
• Dinding bangunan harus memberikan perlindungan terhadap panas, daya serap panas dn tebalnya dinding harus sesuai dengan kebutuhan iklim ruang dalamnya. • Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat
banyak energi.
• Bangunan sebaiknya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan penyegaran udara secara alamiah dan memanfaatkan angin sepoi-sepoi untuk membuat ruang menjadi sejuk.
• Semua gedung harus bisa mengadakan regenerasi dari segala bahan bangunan, bahan limbah, dan mudah dipelihara.
3.3. Keterkaitan Tema dengan Judul
Belakangan ini, banyak negara-negara menghadapai masalah – masalah lingkungan hidup yang telah tercemar sehingga banyak muncul isu – isu seperti isu pemanasan global (global warming) yang akan menimbulkan masalah besar apabila tidak di tanggulangi dengan
cermat. Faktor yang mempengaruhi kerusakan lingkungan yang akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia di bumi ini. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah bentuk fisik dari suatu kawasan termasuk tersedianya lahan hijau sebagai produsen oksigen utama, bangunan yang memenuhi kawasan tersebut dan juga kesadaran akan masyarakat yang tinggal di kawasan.
Di beberapa negara maju telah dikeluarkan berbagai peraturan yang berkaitan tentang lingkungan hidup seperti pembangunan kawasan yang haus ramah lingkungan, pembatasan terhadap jumlah kenderaan bermotor dan lain – lain. Departemen lingkungan hidup ditunjuk sebagai salah satu pengawas dalam perencanaan dan pembangunan kawasan perkotaan.
Salah satu solusi pemecahan masalah pencemaran lingkungan hidup tersebut , pada saat ini banyak dikembangkan konsep – konsep kota yang hijau (green city). Selain itu polusi yang timbul juga menghasilkan dampak yang buruk terhadap lingkungan hidup. Dengan kata lain kelangsungan suatu kota sangat tergantung pada kualitas lingkungan perkotaan tersebut.
Konsep green architecture sudah selayaknya diterapkan di Indonesia mengingat intensitas pembangunan yang sangat besar dan kerusakan lingkungan yang semakin parah yang banyak diakibatkan oleh pembangunan tersebut. Karena tanpa kita sadari apabila kita tidak menerapkan konsep tersebut sejak sekarang maka akan berakibat fatal di masa yang akan datang seperti krisis akan air , energi , sumber daya alam serta kerusakan lingkungan yang parah yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan manusia.
Mengapa perpustakaan harus hijau?
Pertama, karena perpustakaan sudah memperluas cakupan terhadap misinya, untuk bekerja bersama dalam kemajuan umat manusia. Kedua, teknologi bukan lagi menjadi penghalang. Ketiga, untuk menciptakan image perpustakaan yang baik. Akhirnya, pembangunan berkelanjutan menawarkan sebuah tingkat kebebasan kepada perpustakaan, karena biaya perawatan menjadi rendah.
Misi
Setiap perpustakaan memiliki misi baik lisan dan tulisan, yaitu untuk meningkatkan kondisi umat manusia. Bangunan memproduksi sekitar 40% gas rumah kaca ke atmosfer (Anisko & Willoughby,2006). Pada kenyataannya, orang-orang yang memiliki pengaruh negative dari lingkungan tidak serius lagi dipertanyakan. Saat ini, dua pertanyaan yang manjadi perdebatan adalah : apa respon kita terhadap kenyataan itu, dan apa yang dapat kita
lakukan untuk menyelesaikannya. Secara induvidu atau organisasi privat mandapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut, tetapi perpustakaan adalah sebuah investasi ke depan bagi lingkungan sosial kita. Perpustakaan bertanggung jawab untuk tidak ikut merusak lingkungan, untuk mendidik masyarakat mengenai situasi saat ini, dan memberi kekuatan bagi mereka untuk melakukan perubahan. Perpustakaan telah menemukan bahwa bangunan hijau memberikan sebuah peluang untuk mengajar masyarakat (Tseng, 2007). Jika perpustakaan melanjutkan pendirian yang lebih progresif untuk meningkatkan kondisi umat manusia, keberlangsungan akan menjadi tema utama.
Teknologi
Ketersediaan teknologi dan pengetahuan untuk membangun bangunan hijau telah melampaui poin akhir. Bangunan hijau dibanguan di seluruh belahan dunia dalam berbagai sector, ekonomi, perumahan, komersial, pemerintahan, dll. Pemecahan lainnya dengan perbedaan pada teknologi hijaunya. Terdapat pilihan keadaan, sehingga banyak pembangun memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan sumberdaya alam yang tersedia, dan menyesuaikan bangunan dalam pengoperasian yang lebih efesien dalam lingkungan local. Selama dengan keuntungan dari teknologi, peningkatan kesadaran terhadap isu-isu lingkungan akan menurunkan beban para pembangun hijau. Dengan adanya organisasi seperti USGBC dan FSC, para pembanguan hijau mempunyai informasi ketersediaan seumberdaya. Dengan keuntungan ini, pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi hayalan, tetapi menjadi sederhana menciptakan bangunan yang baik yang benar-benar dibangun.
Gambaran (Image)
Perpustakaan sudah menjadi sebuah identitas yang tertransformasi. Perancangan hijau membantu menciptakan tiga cara berbeda.
1. Bangunan yang berkelanjutan membuat pernyataan bahwa perpustakaan merupakan investasi bagi komunitas masa depan.
2. Bangunan yang berkelanjutan didesain pintar dan diperkuat dengan seni teknologi. Saat orang-orang melihat kesempatan ini, maka tidak akan mungkin lama memelihara kesalahan bentuk mengenai perpustakaan yang menyalahin zaman.
3. Lebih banyak orang lagi menempatkan lingkungan secara serius, jadi gambaran yang hijau adalah gambaran yang terbaik.
Kesadaran public pada isu ini akan semakin meningkat. Perpustakaan ingin supaya public percaya bahwa perpustakaan masih relevan, dan misi mereka unutk memperbaiki umat
manusia. Banyak yang menyatakan bahwa perpustakaan hijau merupakan perwujudan fisik dari pernyataan misinya dan itu mengandung gambaran bagaimana perpustakaan dapat bertahan pada abad ke-21.
Kebebasan
Sebagai institusi public, perpustakaan secara konsisten berjuang dengan isu keungan. Terbuai dalam ekonomi dapat mempengaruhi ongkos yang masuk ke perpustakaan, sebaik undang-undang baru. Perancangan yang berkelanjutan menawarkan kapada perpustakaan cara untuk mengurangi perawatan dan biaya energy, menyediakan mereka pada tingkatan kebebasan. Keuntungan dengan software modeling komputer, perencanaan pembangunan dapat dilakukan lebih efesien dari sebelumnya. Estimasi material bangunan yang presisi dapat mengurangi sampah dan mengurangi pegeluaran. Simulasi juga dapat dilakukan untuk memprediksi berapa besar sisitem HVAC yang dibutuhkan perpustakaan. Solar 5.5 adalah program komputer yang dapat membangun model 3D dari kebutuhan energy perpustakaan dan kemudian memasukkannya ke dalam strategi desain baik secara pasif dan aktif untuk mengetahui efek yang satu dengan yang lainnya untuk memaksimalkan penghematan energy dan biaya pembangunan; hal itu dilakukan perpustakaan di California dengan menghemat 46% biaya energi jika dibandingkan kebutuhan minimumnya (Boyden & Weiner,2000)
Salah satu bagian yang paling penting dalam perancangan hijau adalah perubahan kepercayaan dari bahan bakar fosik menuju sumberdaya energy terbaharui. Kebebasan dari bahan bakar fosil akan menghemat sejumlah uang, dan akan tetap terbebas dari harga yang akan terus meningkat.
Karena perpustkaan alami dalam jangka panjang, perncangan hijau berpotensi sedikit lebih mahal dibanding perancangan standart, sama beratnya dengan pembayaran dimuka sering kali dibayar bagi mereka, sampah dapat diturunkan, tingkat efesiensi meningkat, dan energi dan udara dapat dikonservasi. Pengembangan perpustakaan pada abad ke-21 adalah dengan praktek berkelanjutan yang terintegrasi, karena itu akan menjadi dana lebih dengan cara yang efektif.
3.4. Studi Banding Tema Sejenis
1. Heping Park, Tianjin, Cina
Ini adalah proyek Perkins+Will untuk Heping Park di Tianjin, China. Melukiskan pita tumbuh-tumbuhan yang melukiskan zona atap. Proyek diberi tanda oleh 3 menara besar. Seperti halnya ruang parkir, ruang hijau di buat dengan menciptakan suatu langit-langit dengan benih tumbuh-tumbuhan setinggi level jalan. Pengembangan kembali rencana Lingkungan meliputi konstruksi kediaman bertingkat baru yang akan menekankan suatu yang lebih tinggi mutu hidup sampai pengintegrasian ruang hijau. Pita ruang hijau yang menggelombang ke seberang, memudahkan cahaya, ventilasi, dan akses ke parkiran bawah.
Tanggapan : Pada proyek ini terlihat jelas bagaimana ruang-ruang terbangun digantikan oleh
ruang ruang hijau pada atap (Green Roof), terlihat jelas bagaimana bangunan juga menjadi tempat hidup tumbuh-tumbuhan. Selain itu Green roof ini juga berfungsi sebagai ruang- ruang publik, sehingga pemanfaatan lahan menjadi sangat efektif.
2. Editt Tower, Malaysia
Desain EDITT Tower pada sudut kota Singapura merupakan bentuk hybrid yang memenuhi keperluan pelanggan sebagai sebuah gedung Expo. Terdapat area retail ,
exhibition hall dan auditorium serta ruang kantor pada bagian atas. Bangunan 26 lantai ini
menerapkan konsep ‘green vertical urbanism’ maksudnya pengembangan kota yang ramah lingkungan secara vertikal. Dengan konsep bentuk yang organic pada bagian fasade bangunan yang berpengaruh pada ruang public dan sirkulasi untuk menghasilkan suatu bangunan yang memiliki estetika ekologi. Konsep green architecture terlihat pada taman yang dibuat hampir pada seluruh bagian bangunan serta pemanfaatan air secara efektif melalui system penampungan air hujan. Juga terdapat sun screen pada sisi sebelah timur sebagai alternatif energi untuk bangunan.
Tanggapan : konsep green pada proyek ini dihadirkan dengan adanya taman vertikal hampir
pada seluruh bangunan. Yang paling menarik adalah adanya sistem water treatment yang mengumpulkan air hujan, selanjutnya air hujan ini disaring dan digunakan untuk keperluan menyiram tanaman dan juga keperluan lainnya.
3. ACROS Fukuoka, Jepang
Bangunan kompleks perkantoran ini merupakan pemecahan terhadap masalah urban ruang terbuka. Dengan kepadatan pembangunan fisik yang tinggi, arsitek mencoba menghadirkan bangunan yang dapat mengakomodasi fungsi privat sekaligus publik. Di sebelah utara yang menghadap jalan utama, dibuat fasade bangunan yang modern. Di sebelah