SAKSI PEMOHON 1. Septalita Andini
5. Alya Hiroko Oni
• Saksi berumur 18 tahun, lahir di Jakarta, dan tinggal di daerah Jakarta Timur. Saksi adalah anak dari pasangan perkawinan campuran dimana ibu saksi berkewarganegaraan Indonesia, sedangkan ayah saksi berkewarganegaraan Jepang. Saksi hadir dalam persidangan sebagai wakil dari teman-teman lain selaku anak dari Warga Negara Indonesia pelaku perkawinan campur;
• Pada saat saksi lahir pada tahun 1996, hukum di Indonesia mewajibkan saksi untuk menjadi warga negara sesuai warga negara ayah. Oleh karena itu, saat ini saksi masih berkewarganegaraan Jepang. Tetapi di tahun ini, sesuai dengan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru, saksi diberi hak untuk memilih. Dalam waktu dekat, saksi akan menjadi Warga Negara Indonesia;
• Sebagai anak pasangan perkawinan campuran, secara tidak langsung, saksi juga mengalami perasaan serupa dengan apa yang dialami oleh ibu saksi sebagai warga Indonesia yang menikah dengan warga negara asing karena saksi merupakan bagian dari keluarga;
• Dalam kesempatan ini, saksi ingin menceritakan secara singkat kesedihan saksi dan teman-teman lain sebagai anak pasangan perkawinan campur
yang turut merasakan ketidakadilan dan diskriminasi akibat berlakunya pasal-pasal yang diminta pengujiannya oleh Pemohon. Dulu, ketika saksi masih duduk di bangku SMP, saksi pernah bertanya kepada ibunya, “Ma,
apa bedanya perempuan seperti mama yang kawin dengan orang asing, dengan perempuan lain yang kawin dengan Warga Negara Indonesia?” Ibu
saksi hanya menjawab sambil tertawa, “Tidak ada bedanya, Kak. Tidak ada
perbedaan. Kita sama-sama punya hak dan kewajiban yang sama. Punya hak untuk memilih presiden, memilih wakil-wakil rakyat. Punya kewajiban yang sama, harus membayar pajak, harus merawat lingkungan, dan seterusnya”. Nampaknya ibu saksi benar, karena faktanya, saksi dan
adik-adiknya bersekolah di sekolah negeri, SMP negeri, SMA negeri, dan pihak sekolah tidak mendiskriminasikan atau melarang saksi yang warga negara asing untuk bersekolah di sekolah negeri;
• Sejak tiga tahun yang lalu, keluarga kami tidak seceria sebelumnya. Saksi melihat berkurangnya wajah ceria pada diri ibu dan ayahnya. Mereka sering terlihat merenung, bicara dengan wajah lelah, atau dengan nada sedih membahas sesuatu. Sekilas, saksi mendengar kata-kata diskriminasi. Namun, setelah saksi kuliah di fakultas hukum, ibu saksi mulai sedikit demi sedikit bercerita bahwa ibunya tidak bisa membeli rumah hak milik atau hak guna bangunan. Meskipun telah membayar lunas, pihak developer menolak untuk menyerahkan unitnya dengan alasan karena ibunya menikah warga negara asing;
• Menurut developer dan notarisnya, undang-undang melarang ibu saksi untuk mempunyai rumah dengan hak milik dan hak guna bangunan. Mendengar penjelasan ibunya, saksi pun merasa sedih. Saksi dan adik-adiknya merasa aturan tersebut tidak adil, tidak menjunjung asas dan prinsip keadilan justice before the law. Adik sempat berkata, “Jika mama
saja yang Warga Negara Indonesia tidak bisa beli rumah di negaranya sendiri, apalagi kita sebagai keturunan dari pasangan perkawinan campuran”;
• Saksi juga pernah tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya ketika sedang duduk berdua karena pintunya terbuka. Waktu itu, keadaan ibu saksi sedang sedih dan nampaknya menangis karena pengembang bersikeras tidak mau menyerahkan unitnya kepada ibunya.
Padahal, ayah saksi sudah membuat akta notaris yang melepaskan haknya terhadap seluruh harta dan aset selama perkawinan, namun tetap ditolak. Saat itu, saksi mendengar ayahnya berkata kepada ibunya, “Maafkan saya
karena Anda menikah dengan saya, orang asing, sehingga menjadikan Anda kehilangan hak untuk membeli rumah, membeli tanah. Mohon maafkan saya.” Mendengar itu, kaki saksi lemas, hati saksi merintih, pipi
saksi basah dengan air mata;
• Penderitaan kedua orang tua saksi begitu besar karena berlakunya pasal-pasal dalam kedua Undang-Undang tersebut. Ibu saksi hanya ingin membeli rumah dan mendapatkan haknya. Rasa sedih yang saksi alami sebagai anak dari pasangan perkawinan campuran juga pasti dirasakan oleh anak-anak lain. Hanya saja kedua orang tua saksi tidak berbagi kepedihan dan lukanya kepada anak-anaknya. Namun demikian, anak-anak perkawinan campuran juga merasakan ketakutan terintimidasi, kecamasan, dan kepedihan tersebut;
• Sekarang saksi sudah dewasa dan kebetulan saksi adalah mahasiswi Fakultas Hukum di salah satu Universitas di Indonesia. Saksi pernah menanyakan permasalahan yang dialami ibunya kepada salah satu pengajar di kampus, “Mengapa warga Indonesia yang menikah dengan
warga negara asing tidak boleh mempunyai hak milik dan hak guna bangunan atas tanah?” Jawaban pengajar, “Jika tidak mempunyai perjanjian kawin, ya, memang tidak bisa, karena undang-undangnya sudah mengatur demikian. Orang asing hanya diizinkan memiliki hak pakai saja”;
• Dalam hati saksi berkata, “Kan mama warga Indonesia bukan orang asing.
Bukankah Undang-Undang Dasar 1945 memberikan jaminan bahwa setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak dapat diambil secara sewenang-wenang oleh siapa pun dan bukankah setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif asal … atas dasar apa pun. Mengapa mama saya seorang warga negara Indonesia diperlakukan diskriminatif oleh negara?”;
• Dalam waktu dekat, saksi akan menjadi warga negara Indonesia. Kemudian, setelah lulus kuliah nanti, saksi bekerja dan dalam beberapa tahun menabung, saya bercita-cita ingin membeli dan mempunyai rumah hak milik atau hak guna bangunan, meskipun membelinya dengan cara
mencicil ke bank. Namun, ibu saksi seorang warga negara Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Indonesia. Ibu saksi menabung dan mengidam-idamkan punya rumah, ternyata ketika tabungannya mencukupi sampai seumur hidupnya, ibunya tidak akan pernah bisa punya hak milik dan hak guna bangunan atas tanah. Jika memang negara menjamin hak konstitusional seseorang dalam Undang-Undang Dasar 1945, seharusnya ibunya tidak mengalami penderitaan terintimidasi dan perlakuan diskriminatif seperti ini;
• Jika permohonan ini tidak dikabulkan maka sudah tentu di masa yang akan datang, jika saksi bersuamikan orang asing maka saksi juga akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh ibunya sekarang ini. Saksi berharap dan memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim untuk mengabulkan permohonan yang diajukan oleh Pemohon karena permohonan tersebut merupakan permohonan saksi yang juga anak-anak dari pasangan perkawinan campuran. Jeritan seluruh warga negara Indonesia pelaku kawin campur adalah jeritan anak-anak pelaku perkawinan campur;
• Mungkin orang-orang menyebut bahwa hanya separuh darah saksi warga negara Indonesia. Namun, hati dan jiwa saksi, serta anak-anak dari perkawinan campuran adalah seorang warga negara Indonesia. Yang pasti Pemohon dan seluruh pelaku perkawinan campuran, para ibu-ibu dan bapak-bapak di sini mengharapkan sebuah keputusan yang sama;