• Tidak ada hasil yang ditemukan

AHLI PEMOHON

1. Perjanjian mengenai Harta Benda Perkawinan

Hazairin mengemukakan bahwa ada hubungan dengan persoalan tersebut (perseoalan harta bersama) bila dalam hukum Islam diambil prinsip berdasarkan Qur’an 4:32 bahwa tidak ada harta bersama dalam

perkawinan, dengan di samping itu memberikan hak fara’id kepada janda –

atau jika lebih dari seorang kepada janda-janda itu bersama-sama – sebesar ¼ jika suami mati tidak berketurunan dan sebesar 1/8 jika suami berketurunan. Dasar hukum Islam jika suami isteri bersepakat untuk hidup dalam harta bersama mereka harus tempuh jalan syirkah;

Jika ditetapkan bagian janda dan duda seperti dalam hukum Islam, maka harus memperhatikan hal-hal dalam Islam yang berhubungan dengan

fara’id janda dan duda. Dihubungkan dengan syirkah, maka syirkah diartikan suatu perkongsian secara terbatas antara suami isteri sebagai anggota-anggotanya. Dalam syirkah secara terbatas itu, fara’id

janda tetap berlaku atas harta perseorangan suami, yaitu hartanya yang tidak masuk ke dalam syirkah;

Harta syirkah dibagi antara duda atau janda dengan dengan ahli

waris - ahli waris hubungan darah simati, yaitu menurut pertimbangan

jumlah pemasukan masing-masing anggota syirkah. Si mati dan janda

atau dudanya, dalam hal syirkah itu, difahamkan sebagai anggota-anggota

syirkah, bukan sebagai suami isteri, sehingga mungkin perkawinan bubar semasa hidup tetapi syirkah dipertahankan. Dengan matinya seorang anggota syirkah maka syirkah itu bubar dengan sendirinya;

Harta bersama dalam perkawinan, ataupun harta kelamin, yakni

himpunan semua harta (bukan saja harta perkawinan tetapi juga semua

harta perseorangan suami isteri) tidak boleh disamakan dengan harta

syarikat terbatas ataupun harta syarikat secara umum. Jika praktek di Jawa

syirkah umum yang hanya berlaku jika ada anak-anak bagi suami isteri

bersama, tetapi jika tidak ada anak-anak, maka syirkah tersebut menjadi

syirkah terbatas, yaitu sekedar harta perkawinan saja;

Jadi, menurut Hazairin, jika dipakai istilah syirkah, maka syirkah di kalangan suami isteri di Jawa itu adalah syirkah yang otomatis dapat menjadi syirkah umum dan dapat menjadi syirkah terbatas;

Hukum Adat di Jawa, walaupun mengakui hak nafkah bagi duda dari

harta kelamin, (namun Hukum Adat Jawa) memberikan hak hanya kepada janda dan tidak kepada duda untuk mendapat bagian dari harta kelamin

sebesar bagian seorang anak, jika dilakukan pembagian, yang dilindungi juga dengan syarat bahwa kepentingan janda dan kepentingan anak-anak

yang belum dewasa dapat terjamin, sehingga nyatalah bahwa bagian janda itu bagian “terbuka” dan bukan bagian tetap seperti dalam hukum Islam;

Syirkah menurut Hukum Islam tidak mempengaruhi hak fara’id janda

dan duda atas harta perseorangan si pewaris yang terletak di luar syirkah;

7.2.2 Sajuti Thalib

Sajuti Thalib adalah murid Hazairin, mengemukakan dalam buku “Hukum Kekeluargaan Indonesia, Berlaku Bagi Umat Islam”, bahwa teterjadinya “Perjanjian Perkawinan” mengenai “Harta Perkawinan” atau terjadinya

syirkah (penggabungan harta) dalam tiga macam, yaitu:

1. Syirkah dapat dilakukan dengan membuat perjanjian syirkah secara

nyata-nyata tertulis atau diucapkan sebelum atau sesudah berlangsungnya akad nikah dalam suatu perkawinan, baik (i) harta

bawaan, atau (ii) harta yang diperoleh sesudah perkawinan tapi bukan atas usaha mereka (suami isteri), maupun (iii) harta pencaharian;

2. Syirkah dapat pula ditetapkan undang-undang/peraturan

perundang-undangan, bahwa harta yang diperoleh atas usaha salah seorang suami atau isteri atau kedua-duanya dalam masa adanya hubungan

perkawinan adalah harta bersama atau harta syirkah suami isteri tersebut;

3. Di samping terjadinya syirkah dengan cara tertulis atau ucapan nyata-nyata atau dengan (berdasarkan) penentuan undang-undang, syirkah antara suami isteri itu dapat pula terjadi dengan kenyataan dalam

Cara ketiga ini memang khusus untuk harta bersama atau syirkah pada harta kekayaan yang diperoleh atau usaha suami isteri selama perkawinan berlangsung. Diam-diam telah terjadi syirkah itu, apabila kenyataan suami isteri itu bersatu dalam mencari hidup dan membiayai hidup;

Mencari hidup janganlah selalu diartikan (bahwa) mereka (suami isteri) yang bergerak kelaur rumah berusaha dengan nyata. Memang hal itu (bergerak kelaur rumah berusaha dengan nyata) adalah yang pertama dan yang terutama. Tapi di samping itu pembahagian pekerjaan yang menyebabkan seseorang dapat bergerak maju, dalam hal ini dalam soal kebendaan dan harta kekayaan, banyak pula tergantung kepada pembagian pekerjaan yang baik antara suami isteri

Syirkah yang sedemikian, menurut Sajuti Thalib, dapat digolongkan kepada

syirkah abdan;

7.2.3 Prof. Dr. H. Mahmud Yunus

Mahmud Yunus mengemukakan perjanjian suami terhadap isteri berupa

ta’lik talak yang dibuat pada waktu akad nikah, atau janji-janji lain yang

dibuat sesudah akad nikah. Tujuannya adalah untuk melindungi isteri jika suami melanggar janjinya itu;

Hakim dapat menjatuhkan talak atas isteri yang bersangkutan apabila Hakim berpendapat bahwa suami melanggar ta’lik talak atau

janji-janji lainnya;

Pemahaman saksi ahli terhadap pendapat Mahmud Yunus tentang janji-janji lain yang diucapkan suami atau dibuat suami secara tertulis sesudah akad nikah adalah (i) janji suami yang dibuat pada setelah akad nikah berlangsung, atau (ii) janji suami terhadap isteri selama dalam perkawinan berlangsung, atau (iii) perjanjian antara suami isteri mengenai hal-hal lain (misal Harta Perkawinan) pada sesudah akad nikah atau selama masa perkawinan;

7.3. PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT MENURUT KUH PERDATA

7.3.1 Prof. R. Subekti

Menurut Subekti, jika seseorang yang hendak kawin mempunyai benda-benda yang berharga atau mengharapkan akan memperoleh kekayaan, misalnya suatu warisan, maka adakalanya diadakan perjanjian perkawinan (huwelijksvoorwarden). Perjanjian yang demikian, menurut Undang-Undang

(KUH Perdata) harus diadakan sebelumnya pernikahan dilangsungkan dan harus diletakkan dalam suatu akta notaris;

Mengenai bentuk dan isi perjanjian sebagaimana halnya perjanjian-perjanjian lain pada umumnya, diserahkan kemerdekaan seluas-luasnya kepada kedua belah pihak (calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan), asalkan tidak memuat satu dua larangan yang dimuat dalam

undang-undang perjanjian, dan (perjanjian mereka itu) tidak melanggar ketertiban umum atau kesusilaan (Pasal 139 KUH Perdata);

Perjanjian perkawinan tidak hanya dapat menyingkirkan suatu benda saja, misal rumah, dari percampuran harta kekayaan, tetapi juga dapat

menyingkirkan segala percampuran. Undang-Undang (KUH Perdata) hanya

menyebutkan dua contoh perjanjian yang banyak terpakai, yaitu (i) perjanjian “percampuran untung rugi” (perjanjian persatuan untung rugi) (gemeenschap van winst en verlies), dan (ii) perjanjian “penyempurnaan penghasilan” (perjanjian persatuan hasil dan pendapatan) (gemeenschap

van vruchten en inkomsten) (Pasal 155 – Pasal 167 KUH Perdata);

Perjanjian perkawinan mulai berlaku antara suami isteri pada saat pernikahan ditutup di depan Pegwai Pencatat Perkawinan, dan mulai berlaku terhadap pihak ketiga sejak hari pendaftarannya di Kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat di mana perkawinan berlangsung. Menurut Pasal 149 KUH Perdata, “Setelah perkawinan berlangsung, perjanjian

perkawinan dengan cara bagaimanapun tidak boleh diubah”;

Apabila pendaftaran perjanjian perkawinan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri belum dilakukan, maka orang-orang pihak ketiga boleh menganggap suami isteri itu kawin dalam percampuran kekayaan;

Perjanjian perkawinan harus diikuti (dipatuhi) oleh kedua belah pihak (calon suami isteri). Apabila salah satu pihak menikah terlebih dahulu dengan orang lain, kemudian baru menikah dengan tunangannya yang lama (yang telah mengadakan perjanjian perkawinan), maka perjanjian perkawinan yang telah dibuat itu tidak dapat diberlakukan lagi;