BAB IV PEMBAHASAN
4.2 Persamaan unsur intertekstual dalam legenda Tao Silosung
4.2.4 Amanat
Berdasarkan kutipan teks legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar konflik yang tergambar yaitu sama-sama memiliki permasalahan dalam lingkungan keluarga. Dan persamaan amanat yang terdapat dalam kedua legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar yakni (1) Waspada (2) bertanggung jawab
(3) Moral dalam setiap perbuatan agar perselisihan atau malapetaka dapat dihindari atau tidak terjadi. Dan diuraikan sebagai berikut.
1. Waspada
Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan legenda berikut.
Kutipan teks legenda Tao Silosung:
“Bah nunga mago abang hujur i, ai di boan aili i do”
(“bah, tombak itu sudah hilang bang, karena dibawa oleh babi hutan itu”) Kutipan teks legenda Lau Kawar:
lupa ia naruhken ia natuhken nakanna, ei ban nggo melawen ia akapna ia nadingken nakanna
(Lupa dia meninggalkan makanannya. Jadi karena sudah terlalul lama dia rasanya tidak meninggalkan makananya)
Berdasarkan leksikon mago,’hilang’ dan lupa, ‘tidak ingat’ secara gramatikal bermakna kelalaian yang dilakukan oleh kedua tokoh dalam konteks ini Sangmaima, tokoh utamadalam legenda Tao Silosung perbuatannya yang menghilangkan tombak pusaka, dan Kawar tokoh utama dalam legenda Lau Kawar lupa memberikan makanan kepada ibunya. Dalam konteks ini memiliki persamaan agar memikiki sikap yang selalu waspada dalam menjaga barang dan merawat orangtua.
2. Bertanggung jawab
Kutipan teks legenda Tao Silosung:
Laho ma si Sangmaima marsihotang tu dolok saribu eme sahat tu batu harangan.
(pergilah Sangmaima mengambil rotan ke bukit seribu padi sampai ke hutan batu)
Kutipan teks legenda Lau Kawar:
Lupa ia naruhken ia natuhken nakanna, ei ban nggo melawen ia akapna ia nadingken nakanna, suruhna taruhken kempuna si kawar enda
(Lupa dia meninggalkan makanannya. Jadi karena sudah terlalul lama dia rasanya tidak meninggalkan makananya, disuruhnya diantarkan cucunya dari Sikawar ini)
Berdasarkan kutipan teks legenda Tao Silosung Laho ma si Sangmaima marsihotang tu dolok saribu eme, ‘pergilah Sangmaima mengambil rotan ke
bukit seribu padi’ dan kutipan teks legenda Lau Kawar suruhna taruhken kempuna si kawar enda, ‘disuruhnya diantarkan cucunya dari Sikawar ini’ Secara
gramatikal bermakna bertanggungjawab terhadap sesuatu dalam konteks ini tokoh utama legenda Tao Silosung Sangmaima pergi mencari tombak yang hilang, dan dalam konteks legenda Lau Kawar tokoh utama Kawar berusaha untuk memberikan makanan kepada ibunya dengan menyuruh anaknya untuk megantarkan makanannya.
3. Moral
Kutipan teks legenda Tao Silosung:
Molo lubis dang barani tuson, ala songon tikki i molo lubis, marga lubis, boru lubis, pinoppar ni lubis ma dang boi. Attar hera kutukan manang suppa di halaki tao on.
(Kalau marga lubis tidak berani datang ke sini, marga lubis, keturunan lubis tidak bisa. Seperti kutukan atau sumpah bagi mereka danau ini) Kutipan teks legenda Lau Kawar:
Si I kutuk nini eime si kawar, labo kempuna si naruhken nakan, si Kawar er merga Sembiring, ngasa wari enda, taneh Lau Kawar bagi taneh si
(Yang dikutuk si nenek adalah si kawar bukan cucunya yang mengantarkan nasi, sikawar bermarga sembiring. Hingga kini, tanah Lau Kawar seperti tanah yang disumpahi atau dikutuk sehingga setiap orang yang tinggal di
sekitarnya tidak akan akur)
Berdasarkan kutipan teks legenda Tao Silosung Attar hera kutukan manang suppa di halaki tao on, ‘Seperti kutukan atau sumpah bagi mereka danau
ini’ dan bukti kutipan legenda Lau Kawar taneh Lau Kawar bagi taneh si sumpahi. Jadi setiap jelma si tading I sekitarna la banci akur, ‘seperti tanah
yang disumpahi atau dikutuk sehingga setiap orang yang tinggal di sekitarnya tidak akan akur’ kutipan cetak tebal teks legenda Tao Silosung dan Lau Kawar secara gramatikal bermakna kutukan dalam konteks ini akibat konflik yang terjadi dalam kedua legenda. Dalam konteks ini memiliki persamaan dalam konteks moral, pesan yang tersampaikan yakni sesama anggota keluarga harus saling mengasihi, hindari konflik yang membuat persaudaraan mendatangkan malapeta atau kutuk dalam lingkungan keluarga dan sekitar.
4.3 Perbedaan yang Terdapat antara Legenda Tao Silosung dengan Legenda Lau Kawar dari Sudut Intertekstual
Penulis membahas perbedaan antara legenda Tao Silosung dengan legenda Lau Kawar berdasarkan rumusan masalah yang penulis kutip yaitu perbedaan tema, latar, tokoh dan amanat dari kedua legenda tersebut.
4.3.1 Tema
Berdasarkan hasil analisis tema legenda Tao Silosung dan tema legenda Lau Kawar terdapaat perbedaan tema dalam kedua legenda. Yakni tema utama
legenda Tao Silosung yakni melanggar perjanjian. Dan tema tama legenda Lau Kawar yakni kutuk dari seorang ibu. Walau dalam kedua tokoh utama tetap memiliki persaaan yakni sama-sama menghasilkan kutuk akibat konflik dari kedua legenda. Namun perbedaan dalam kedua legenda dapat dilihat melalui kutipan kedua legenda berikut.
Kutipan teks legenda Tao Silosung:
“mulak ma soara songon parjolo I mago hujur inanta na ma sidege-degean di jabu sidege-sidege-degean tu toru”
(Kembalilah perkataan seperti semula maka “hilang tombak istrimu akan menjadi pembantuku)
Kutipan teks legenda Lau Kawar:
Si I kutuk nini eime si kawar, labo kempuna si naruhken nakan, si Kawar er merga Sembiring, ngasa wari enda, taneh Lau Kawar bagi taneh si sumpahi. Jadi setiap jelma si tading I sekitarna la banci akur.
(Yang dikutuk si nenek adalah si kawar, bukan cucunya yang mengantarkan nasi, sikawar bermarga sembiring. Hingga kini, tanah lau kawar seperti tanah yang disumpahi atau dikutuk sehingga setiap orang yang tinggal di sekitarnya tidak akan akur)
Berdasarkan tema utama legenda Tao Silosung yakni melanggar perjanjian mengakibatkan pertengkaran dan mendatangkan kutuk dan berdasarkan tema utama legenda Lau Kawar yakni kutuk dari seorang ibu, maka bukti perbedaan yang ditemukan dalam kutipan legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar yakni asal malapetaka atau kutuk yang ditimbulkan dari masing-masing konflik, jika dalam legenda Tao Silosung konflik yang terjadi menimbulkan kutuk dari pertengkaran abang dan adik, maka berbeda dengan konflik yang terjadi dalam legenda Lau Kawar, dalam legenda Lau Kawar sumber kutuk yang ditimbulkan berasal dari hasil sumpah seorang ibu kepada anaknya.
4.2.3 Latar
Adapun perbedaan latar yang terdapat dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar terdapat pada latar sosial dan latar waktu. Dalam latar sosial legenda Tao Silosung tergambar kehidupan sosial tentang adat istiadat yaitu pemegang warisan pusaka keluarga jatuh kepada anak yang paling tua. Dan latar sosial selanjutnya yang tergambar dalam legenda Tao Silosung tentang kehidupan kerajaan. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan teks legenda Tao Silosung berikut.
“Menurut, ba ima attong sada pusako di nasida na sa ompu.
(Menurut, ba itulah satu pusaka(tombak) mereka dari satu ompung)
“unang dah, molo mago hujuron, dang boi, Tudia pe ingkon luluan mu”.
(jangan ya, kalau hilang tombak, tidak bisa, kemana pun harus engkau cari)
Kutipan teks legenda Tao Silosung di atas menunjukkan barang pusaka diwariskan kepada cucu atau anak yang paling tua seperti yang tergambar dalam legenda Tao Silosung, tombak pusaka di pegang oleh Datu Dalu, hal ini dibuktikan ketika Sangmaima berusaha meminjamnya dari abangnya. Yaitu Datu Dalu.
Selanjutnya latar sosial kerajaan dibuktikan melalui kutipan teks legenda Tao Silosung berikut.
Tuat ma ibana tu toru, turun ma ibana sian lubang i, hape adong jolma di banua toru on jabu na rumah Batak do tong. “Jadi di sungkun raja banua toru ma imana”
(Turunlah ia ke bawah, turunlah ia melalui lubang tersebut, namun ada orang di bawah sana rumahnya berbentuk rumah adat Batak. Jadi bertanyalah raja banua toru ini kepadanya (Sangmaima))
Berdasarkan kutipan legenda Tao Silosung latar sosial tergambar yakni adanya aktifitas kerajaan di dalam Banua Toru. Hal ini yang berbeda dengan latar sosial yang terdapat dalam legenda Lau Kawar adalah budaya bertani yang didasari oleh adat istiadat yang mengucap syukur atas panen yang melimpah. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan legenda Lau Kawar sebagai berikut.
Jadi erban gendang, gendang kalak Karo nai, nina dah ndu ningen labo kerja tahun, ah merdang nuan pagei, jadi ban sangkin riahna akak kalak bas merdang ah ndai. Landek-landek, man ntahbeh akak kalak man kadih ndai, man cipera ndai
(Jadi membuat syukuranlah itu acara menanam padi. Jadi sangkin meriahnya rasa orang didalam acara menanam padi tadi, menari-nari, makan enak mereka semua. Makan cipera tadi)
Selanjutnya latar waktu yang tergambar dalam legenda Tao Silosung adalah pada malam hari. Hal ini dapat dilihat dari kutipan legenda Tao Silosung sebagai berikut.
“Jadi dung borngin mulak ma imana tu toru dung tuat imana tu toru digalaki imana ma parisapan di bara alai di pajonjong imana bakkar bakkar ni bagot i songon i di halaman.
(Setelah malam tiba ia kembali pulang sesampainya di rumah ia menyalakan rokok di depan api unggun sembari mendirikan wadah untuk aren di halaman rumahnya)
Berdasarkan bukti kutipan teks kedua legenda maka dapat dapat disimpulkan latar sosial Tao Silosung tergambar adat istiadat tentang pewarisan barang pusaka dalam keluarga dan kehidupan kerajaan, berbeda dengan Lau
Kawar yang memiliki latar sosial masyarakat yang menggambarkan aktivitas pertanian dalam mengutamakan ucapan syukur atas panen yang melimpah. Latar waktu yang terdapat dalam legenda Tao Silosung tergambar pada malam hari, namun latar waktu legenda Lau Kawar tidak ditemukan.
4.3.3 Tokoh
Adapun perbedaan tokoh dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar terletak pada jenis tokoh antagonis dan protagois, dalam legenda Tao Siloung terdapat satu tokoh antagonis dan satu tokoh protagonis yaitu Datu Dalu dan Sangmaima, hal yang berbeda ditemukan dalam legenda Lau Kawar terdapat satu tokoh protagonis dan dua tokoh antagonis yaitu Kawar sebagai tokoh protagonis dan Anak Kawar, serta Ibu Kawar sebagai tokoh antagonis.
Berdasarkan konflik yang ditimbulkan tokoh antagonis dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar terdapat perbedaan mengenai sumber malapetaka yang dihasilkan. Jika dalam legenda Tao Silosung tokoh antagonis yang bernama Datu Dalu sebagai tokoh yang mendasari terjadinya klimaks konflik maka dalam legenda Lau Kawar yang menjadi dasar dari klimaks konflik yaitu Anak Kawar dan Ibu Kawar.
Klimaks konflik dalam legenda Tao Silosung menghasilkan kutuk yang bersumber dari perselisihan antara abang dan adik. Hal ini yang berbeda dalam legenda Lau Kawar, klimaks konflik yang terjadi dalam legenda Lau Kawar didasari oleh kesedihan seorang nenek atau ibu yang mendatangkan malapetaka atau sumpah. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan legenda berikut.
Rappak matema Datu Dalu dohot Sangmaima ditikki marbadai. Jadima tao, tao na songon losung dohot sada nai tao na songon pinggan.
(Bersamaan datu dalu dan Sangmaima meninggal saat bertengkar. Jadilah danau, danau yang seperti lesung dengan satu lagu danau seperti piring) Hal ini yang menjadi malapetaka bagi keduanya, perselihan yang dialami keduanya mendatangkan malapetaka bagi keduanya, yaitu kematian. Dalam kutipan selanjutnya digambarkan kutuk, seperti yang terlihat dalam eskspresi kutipan legenda Tao Silosung berikut ini
Attar hera kutukan manang suppa di halaki tao on. Songon na joloi hea muse lonong popparan lubis dison, ala ni mandi, manucci, dohot na asing ma, hea muse do gubernur sumut ro na marga lubis, dung mulak sian on assogotna manang paitte leleng ittor malua sian jabatonna. Jadi tarsongon sial ma.
(Seperti kutukan atau sumpah bagi mereka danau ini, karena dahulu pernah tenggelan keturunan marga lubis di danau ini saat sedang mandi-mandi, mencuci dan yang lainnya, pernah juga gubernur yang bermarga lubis datang ke sini, setelah pulang dari sini keesokan harinya atau beberapa hari setelahnya langsung lengser dari jabatannya, jadi seperti kesialan)
Melalui bukti kutipan teks legenda Tao Silosung di atas lahirnya malapetaka dan kutuk didaasri oleh perselisihan antara abang dan adik. Hal yang berbeda ditemukan pada legenda Lau Kawar, terjadinya malapetaka dan kutuk didasari oleh kesedihan seorang nenek atau Ibu dari Kawar, hal ini dapat dilihat melalui bukti kutipan teks legenda Lau Kawar berikut ini.
Me teh ndu lah tua-tua si adi uga numpah numpah. terjadi me angin metur, udan, perkas, kai kerina.
(Kan tahulah kamu orangtua dulu kalo bersumpah. Terjadilah angin kencang, hujan, petir dan lainnya.)
(Si I kutuk nini eime si kawar, labo kempuna si naruhken nakan, si Kawar er merga Sembiring, ngasa wari enda, taneh Lau Kawar bagi taneh si sumpahi. Jadi setiap jelma si tading I sekitarna la banci akur)
(Yang dikutuk si nenek adalah si kawar bukan cucunya yang mengantarkan nasi, sikawar bermarga sembiring. Hingga kini, tanah Lau Kawar seperti tanah yang disumpahi atau dikutuk sehingga setiap orang yang tinggal
di sekitarnya tidak akan akur)
Berdasarkan kutipan teks legenda Lau Kawar pertama menggambarakan kesedihan seorang nenek yang menghasilkan sumpah dan kutipan teks yang kedua menggambarkan sumpah yang berujung pada kutukan.
Berdasarkan bukti kutipan teks legenda Tao Silosung dan Legenda Lau Kawar ditemukan perbedaan konflik tokoh antagonis dalam kedua legenda, mengenai proses lahirnya sebuah malapekata dan kutuk dalam konflik masing-masing.
4.3.4 Amanat
Adapun persamaan amanat yang tergambar dari legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar adalah pribadi yang harus mampu menjaga amanah dengan baik, berdasarkan persamaan tersebut terdapat perbedaan amanat yang terkandung dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar yaitu legenda Tao Silosung mengingatkan pembaca agar menjaga rasa persaudaraan antara abang beradik, jangan ada berkeinginan untuk membunuh saudara sendiri.
Seperti yang tergambar dari kutipan teks legenda Tao Silosung terlihat jelas keinginan Datu Dalu untuk membunuh adiknya, sifat inilah yang seharunsya tidak boleh ditiru.
“alani parsoalan ni nasida i na dua massi karasi jala “asa suda imana”
inna roha ni abang naon”
(karena masalah mereka yang saling keras kepala serta. “agar mati ia”
pikir abangnya)
Selanjutnya hal yang berbeda terlihat dalam amanat legenda Lau Kawar, pembaca diingatkan untuk jangan melupakan orangtua. Hal ini dapat dilihat dari kutipan legenda berikut.
“lupa ia naruhken ia natuhken nakanna, ei ban nggo melawen ia akapna ia nadingken nakanna, suruhna taruhken kempuna si kawar enda”
(Lupa dia meninggalkan makanannya. Jadi karena sudah terlalul lama dia rasanya tidak meninggalkan makananya, disuruhnya diantarkan cucunya dari Sikawar ini)
Dan bukti kutipan teks legenda Lau Kawar tergambar dalam kutipan legenda berikutnya.
“Ngadung me ia, ngadung ia, numpah me ia, numpah numpah ia. Me teh ndu lah tua-tua si adi uga numpah numpah. terjadi me angin metur, udan, perkas, kai kerina”.
(Nangislah dia, nangis dia, bersumpah dia, bersumpah-sumpah dia.
Kan tahulah kamu orangtua dulu kalo bersumpah. Terjadilah angin kencang, hujan, petir dan lainnya)
Berdasarkan konflik yang terdapat dalam kutipan teks legenda Tao Silosung dan Lau Kawar, secara khusus terdapat perbedaan amanat dalam kedua legenda. Tao Silosung mengingatkan pembaca agar menempati janji, mengasihi saudara dan menghindari pertengkaran. Hal ini yang berbeda dalam kutipan teks dalam legenda Lau Kawar, secara khusus amanat dalam legenda Lau Kawar mengingatkan pembaca agar memiliki etika yang baik dan jangan membuat
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
1. Unsur-unsur intertekstual legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar
A. Kisah legenda Tao Silosung menggambarkan perselisihan tentang perjanjian antara abang beradik karena kelalaian diantara keduanya. Berujung pada malapetaka yang menimpa keduanya, yaitu kematian dan kutuk bagi daerah tempat tinggalnya. Ada pun tema, tokoh, latar, dan amanat. Disimpulkan sebagai berikut.
a. Tema
Tema yang tersampaikan dalam legenda Tao Silosung yakni kelalaian, perjanjian, pertengkaran, kutuk, secara umum tema legenda Tao Silosung yakni, perjanjian.
b. Tokoh
Tokoh yang tergambar dari legenda Tao Silosung yakni Datu Dalu, Sangmaima, Ibu, Putri Raja Banua Toru, dan Raja Banua Toru.
c. Latar
Latar yang terdapat dalam legenda Tao Silosung dibagi menjadi tiga yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat terdapat di Pargadongan/Ladang, Banua Toru, dan Rumah/Jabu. Selanjutnya latar waktu tergambar pada malam hari. Dan yang terakhir latar sosial legenda Tao Silosung adalah gambaran adat istiadat tentang pewaris pusaka yang diturunkan kepada anak atau cucu paling tua dan keadaan sistem kerajaan.
d. amanat
Amanat yang tersampaikan secara pedagogi dalam legenda Tao Silosung yakni waspada, bertanggung jawab, kesetiakawanan dan Moral.
B. Legenda Lau Kawar mengisahkan seorang nenek yang mengutuki anaknya karna cucunya yang tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya kepada neneknya yaitu memakan makanan titipan ayahnya yang seharusnya diberikan kepada neneknya dan memberikan sisa sisa makanan kepada neneknya yang sudah lama kelaparan.
a. Tema
Tema yang tersampaikan secara khusus dalam legenda Lau Kawar yakni kelalaian, bertanggungjawab, Sumpah, kutuk. Berdasarkan keempat parameter di atas ditentukan tema umum yakni kutukan dari seorang ibu.
b. Tokoh
Tokoh yang terdapat dalam legenda Lau Kawar adalah Kawar, Nenek, dan terakhir anak si Kawar/cucu nenek
c. Latar
Latar yang terdapat dalam legenda Lau Kawar dibagi menjadi tiga. Yaitu latar tempat, latar sosial, dan latar waktu. Adapun latar tempat dalam legenda Lau Kawar yaitu Rumah/Sapo, dan Ladang/Sabah. Selanjutnya latar sosial yang menggambarkan kehidupan yang sangat mengutamakan budaya adat istiadat dalam melakukan upacara mengucap syukur atas panen melimpah. Lalu latar
d. Amanat
Amanat yang tergambar dalam legenda Lau Kawar adalah menjaga amanah yang telah diberikan orangtua, jangan sampai melupakan orangtua saat keadaan senang, dan sebagai anak harus mampu mengurus orangtua dengan baik.
2. Persamaan unsur intertekstual dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar.
Persamaan legenda Tao Silosung dang legenda Lau Kawar dapat dilihat dari segi tema. Kedua legenda memiki tema yang sama yaitu tentang kelalaian.
pribadi yang lalai dalam menjaga amanah. Kedua, dari segi latar, terdapat kesamaan latar tempat, yaitu rumah dan ladang. Ketiga, terdapat kesamaan dari sisi tokoh protagonis dan antagonis, sisi antagonis yaitu Datu Dalu dalam legenda Tao Silosung memiliki kesamaan terhadap tokoh antagonis dalam legenda Lau Kawar, kedua tokoh ini merupakan pribadi yang lalai dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Selanjutnya kesamaan terlihat pada tokoh protagonis dalam legenda Tao Silosung yang bernama Sangmaima dan Kawar dalam legenda Lau Kawar, kedua tokoh protagonis dari masing-masing legenda ini memiliki kesamaan sikap yaitu bertanggung jawab. Terlihat ketika Sangmaima berusaha untuk menemukan kembali tombak pusaka yang hilang, dan Kawar yang berusaha untuk mengantarkan kembali makanan kepada ibunya melalui anaknya.
Selanjutnya dari sisi amanat, kedua legenda ini mengingatkan pembaca agar waspada, bertanggung jawab dalam setiap perbuatan yang dilakukan, memilki moralitas.
3. Perbedaan legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar dari sudut intertekstual.
Perbedaan legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar dapat dilihat juga dari sisi tema yakni proses konflik. Perbedaanya terdapat dari sisi hubungan keluarga, jika legenda Tao Silosun mengisahkan konflik antara abang dan adik, namun Lau Kawar memiliki konflik yang terjadi antara ayah,anak dan nenek.
Berdasarkan konflik terdapat perbedaan mengenai lahirnya kutuk dalam kedua legenda, jika legenda Tao Silosung malapetaka atau kutuk lahir dari hasil pertengkaran abang dan adik, berbeda dengan legenda Lau Kawar malapetaka maupun kutuk yang lahir bersumber dari kesedihan dan sumpah/kutuk seorang Ibu.
Selanjutnya dari sisi latar dalam legenda Tao Silosung tergambar suasana latar waktu, yaitu pada malam hari, namun berbeda dengan legenda Lau Kawar, latar waktu tidak ditemukan.
Dari sisi amanat secara khusus, legenda Tao Silosung mengingatkan pembaca agar memiliki nilai kesetiakawanan dengan menjaga rasa persaudaraan dalam keluarga (abang beradik), jangan ada berkeinginan untuk saling membunuh saudara.
Selanjutnya secara khusus berbeda dengan amanat yang terkandung dalam legenda Lau Kawar pembaca diingatkan untuk memilki nilai etika, dengan memperlakukan orangtua dengan baik.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis merekomendasikan berupa saran-saran sebagai berikut.
1. Kepada para pembaca legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar kiranya dapat mengambil nilai-nilai positif atau pembelajaran yang terdapat dari kedua legenda tersebut.
2. Kepada pengelola atau organisasi yang berkaitan dengan lokasi legenda, kiranya perlu meningkatkan pengelolaan atau perawatan terhadap lokasi legenda dengan baik. Seperti menjaga kebersihan lokasi sekitar, perbaikan infrastruktur, atau penataan disekitar lokasi, dan lain sebagainya.
3. Kepada penulis lain yang meneliti legenda Tao Silosung dan legenda
3. Kepada penulis lain yang meneliti legenda Tao Silosung dan legenda