• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Persamaan unsur intertekstual dalam legenda Tao Silosung

4.2.3 Tokoh

Persamaan Tokoh yang terdapat dalam legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar adalah antara tokoh dalam legenda Tao Silosung yaitu anatagonis dan protogonis, antagonis yaitu Datu Dalu dengan tokoh dalam legenda Lau Kawar yaitu anak si kawar/cucu si nenek. Kedua pribadi ini memiliki sifat yang sama yaitu pribadi yang lalai dalam menjaga amanah serta tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Dan Sangmaima dengan Kawar, mereka memiliki kesamaan sebagai tokoh yang baik/protagonis, walau mereka pernah lalai namun keduanya berusaha untuk memperbaiki perbuatannya.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan teks legenda berikut.

Kutipan teks legenda Tao Silosung 1) Sangmaima

a) “Jadi, dong i boanma hujur on manullang aili, dung ditullangkon hujur on tu aili i, dohot ma hujur on diboan aili i sahat tu batu harangan, adong do lubang disi nuaeng sahat tu banua toru”.

“Bah nunga mago abang hujur i, ai di boan aili i do” ninna Sangmaima.

(“Jadi, bawalah tombak ini untuk menusuk babi hutan, setelah ditusukkan tombak ini kepada babi tersebut ikutlah tombak ini dibawa babi tersebut sampai ke hutan batu, saat ini di sana ada lubang tembus sampai ke banua toru”, “bah, tombak itu sudah hilang bang, karena dibawa oleh babi hutan itu” kata Sangmaima)

b) Laho ma si Sangmaima marsihotang tu dolok saribu eme sahat tu batu harangan

(Pergilah Sangmaima mengambil rotan ke bukit seribu padi sampai ke hutan batu)

c) alani parsoalan ni nasida i na dua massi karasi jala “asa suda imana”

inna roha ni abang naon.

(karena masalah mereka yang saling keras kepala serta. “agar mati ia”

pikir abangnya)

Kutipan teks legenda Lau Kawar:

a) lupa ia naruhken ia natuhken nakanna, ei ban nggo melawen ia akapna ia nadingken nakanna, suruhna taruhken kempuna si kawar enda

(Lupa dia meninggalkan makanannya. Jadi karena sudah terlalul lama dia rasanya tidak meninggalkan makananya, disuruhnya diantarkan cucunya dari Sikawar ini)

2) Anak si Kawar/ Cucu Nenek

“Jadi i tengah dalan ban merim kel cipera enda, la ka gejapsa, tenndu lah ningen anak anak, panganina me daging manuk ndai tamana tulanna, berei kenna me man nini na ndai, i rumah enggo tading tulan”

(Jadi, ditengah perjalanan, sangkin harumnya wanginya Cipera ini, gak sadar, tahulah anak-anak, dimakannyalah daging ayam tadi.

Ditinggalkannya tulangnya, dikasihnyalah sama neneknya tadi, sampai dirumah sudah sisa tulang)

Berdasrkan kutipan teks legenda Tao Silosung dan Lau Kawar memiliki persaman dalam tokoh protagonis dan antagonis, kesamaan tokoh protagonis seperti yang tergambar dalam legenda Tao Silosung yaitu Sangmaima, walau ia lalai karena tidak dapat menjaga barang pusaka keluarganya, namun ia berusaha untuk mencari kembali barang pusaka itu, seperi yang tergambar melalui kutipan legenda Tao Silosung huruf (b), hal ini juga yang memiliki kesamaan dalam legenda Lau Kawar yaitu Kawar yang lupa memberikan makanan kepada ibunya, namun ia tetap berusaha untuk memberikan makanan kepada ibunya melalui anaknya, ia menitipkan makanan kepada anaknya agar diberikan kepada ibunya, yang tergambar dalam kutipan teks huruf (a) legenda Lau Kawar.

Selanjutnya dalam kutipan teks legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar terdapat kesamaan tokoh antagonis. Yaitu Datu Dalu dan Anaknya Kawar hal ini seperti yang tergambar dalam legenda Tao Silosung Datu Dalu digambarkan sebagai sosok yang lalai dan tidak bertangggung jawab atas perbutananya yang membuat burung Sangmaima pergi karena tidak diberikan makanan, yang berujung pada perselisihan dan kutuk/petaka, begitu juga yang terjadi pada anaknya Kawar, ia lalai dalam menjalankan tugas yang diberikan ayahnya yaitu mengantarkan nasi kepada neneknya, namun kenyatannya ia malah memakan titipan yang seharusnya diberikan kepada neneknya, dan menyisahkan tulang-tulang atau sisa makanan kepada neneknya, yang menjadi pemicu petaka dalam legenda Lau Kawar. Hal ini tergambar dari kutipan legenda Tao Silosung dan Lau Kawar sebagai berikut.

Kutipan teks legenda Tao Silosung:

Attar hera kutukan manang suppa di halaki tao on. Songon na joloi hea muse lonong popparan lubis dison, ala ni mandi, manucci, dohot na asing ma, hea muse do gubernur sumut ro na marga lubis, dung mulak sian on assogotna manang paitte leleng ittor malua sian jabatonna. Jadi tarsongon sial ma.

(Seperti kutukan atau sumpah bagi mereka danau ini, karena dahulu pernah tenggelan keturunan marga lubis di danau ini saat sedang mandi-mandi, mencuci dan yang lainnya, pernah juga gubernur yang bermarga lubis datang ke sini, setelah pulang dari sini keesokan harinya atau beberapa hari setelahnya langsung lengser dari jabatannya, jadi seperti kesialan)

Kutipan teks legenda Lau Kawar:

Si I kutuk nini eime si kawar, labo kempuna si naruhken nakan, si Kawar er merga Sembiring, ngasa wari enda, taneh Lau Kawar bagi taneh si sumpahi. Jadi setiap jelma si tading I sekitarna la banci akur.

(Yang dikutuk si nenek adalah si kawar, bukan cucunya yang mengantarkan nasi, sikawar bermarga sembiring. Hingga kini, tanah lau kawar seperti tanah yang disumpahi atau dikutuk sehingga setiap orang yang tinggal di sekitarnya tidak akan akur)

Berdasarkan kutipan teks kedua legenda di atas membuktikan kelalaian mampu mendatangkan malapetaka/kutuk, melalui bukti dari kutipan legenda Tao Silosung dan legenda Lau Kawar di atas makna dapat disimpulkan terdapat kesamaan tokoh antagonis dan protagonis dalam kedua legenda.

Dokumen terkait