• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN

A. Kasus Posisi

3. Amar Putusan

Berdasarkan pertimbangan diatas dengan tidak membuktikan lebih lanjut mengenai status kedudukan termohon pailit -II, Majelis Hakim berpendapat bahwa cukup untuk mengabulkan permohonan pailit terhadap termohon pailit –II dan termohon pailit -I. Sesuai dengan salinan putusan Pengadilan Niaga pada tanggal 13 Juni 2016 dalam perkara nomor: 5/ Pdt.Sus- Pailit/ 2016/ PN.Mdn telah dijatuhkan putusan yang amarnya menyatakan sebagai berikut.

1. Mengabulkan Permohonan Pernyataan Pailit yang diajukan oleh Pemohon Pailit untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Termohon Pailit – I/ H. Prima Kurniawan sebagai Persero Pengurus atau disebut juga sebagai Pesero Firma dari CV.

Anugrah Prima, dahulu beralamat di Jl. Senam No 10 Medan,kelurahan Pasar Merah Barat, kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara, sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya diwilayah hukum NKRI, Dan Termohon Pailit – II/ Tuan Dedi Novianto, sebagai Pesero Komanditer CV Anugrah Prima wiraswasta,dahulu beralamat di Jl Senam No 10, Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota, Medan Sumatera Utara, sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya di wilayah hukum NKRI, Termohon Pailit –I/ H. Prima Kurniawan dan Termohon Pailit –II/ Tuan Dedi Novianto masing – masing sebagai Personal Gurantee dari CV. Anugrah Prima, berada dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;

3. Menunjuk dan mengangkat Saudara : Didik.S. Handono, SH.

M.H,.sebagai Hakim Pengawas untuk mengawasi proses Pailit Termohon Pailit - I dan Termohon Pailit – II;

4. Menunjuk dan Mengangkat, Saudara : Marolop Tua Sagala, SH., Kurator dan Pengurus yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang tercatat dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor: AHU.AH.04.03-13 tanggal24 Maret 2014 berkantor pada Kantor Klinik Hukum Merdeka beralamat kantor Komplek Bina Marga Jalan Pramuka Raya No. 56 Jakarta 13140 dan Setia Budi Business Point Blok BB No. 7, Jalan Setia Budi Medan –Sumut, selaku Kurator dalam proses pailit dari Termohon Pailit – I dan Termohon Pailit - II ; 5. Menghukum Para Termohon Pailit untuk membayar biaya perkara

ini, yang sampai saat ini ditaksir sebesar Rp 17.373.100,- (Tujuh belas juta tiga ratus tujuh puluh tiga ribu seratus rupiah).

B. Analisis terhadap Putusan Nomor: 5/ Pdt.Sus- Pailit/ 2016/ PN.Mdn 1. Kedudukan Personal guarantor CV. Anugrah Prima.

Berdasarkan putusan yang telah ditetapkan majelis hakim dalam kasus kepailitan CV. Anugrah Prima, personal guarantor dinyatakan sebagai debitor yang bertanggung jawab atas seluruh utang CV. Anugrah Prima sehingga para personal guarantor dijatuhi putusan pailit. Putusan tersebut bertentangan dengan Ketentuan dalam Pasal 1831 KUHPerdata yang menyatakan bahwa seorang personal guarantor tidak diwajibkan ikut dan turut membayar kepada kreditor

selain jika debitor utama lalai dan aset-asetnya telah disita dan dijual terlebih dahulu untuk melunasi utangnya . Dapat dilihat dalam Pasal tersebut terdapat perbedaan antara kedudukan debitor dengan personal guarantor yang mana personal guarantor berkedudukan sebagai the second pocket to pay if the first should be empty.154 Oleh karena itu seharusnya personal guarantor "dikejar"

setelah debitor tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya.

Selain itu pengaturan dalam UU Kepailitan juga telah menetapkan mengenai pengertian debitor yang merupakan orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.155 Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa tanggung jawab debitor terhadap pelunasan dapat langsung ditagih di muka pengadilan sedangkan terhadap pertanggungjawaban personal guarantor berlaku ketentuan dimana gugatan terhadap penjamin hanya dapat diajukan setelah proses gugatan terhadap debitor selesai dan hasilnya tidak menutup seluruh jumlah yang terhutang.

Personal guarantor belum berkewajiban melakukan pembayaran kepada kreditor dan asetnya belum dapat disita dan dilelang sampai seluruh aset debitor disita dan dilelang namun hasilnya tidak mencukupi .

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedudukan personal guarantor tidak dapat disamakan dengan debitor utama demi menjamin kepastian hukum mengenai kedudukan personal guarantor dalam perjanjian.

154 Asrul Sani, Loc.Cit.

155 UU Kepailitan, Op.Cit., Pasal 1 ayat (6).

2. Kepailitan terhadap CV. Anugrah Prima dan Personal guarantor CV.

Anugrah Prima

a. Kepailitan terhadap CV. Anugrah Prima

CV. Anugrah Prima merupakan pihak yang bertindak sebagai debitor utama dalam perjanjian kredit dengan EKSIMBANK. Perjanjian tersebut berujung dengan dipailitkannya personal guarantor CV. Anugrah Prima. Dalam putusan tersebut tidak terdapat amar yang menyatakan bahwa CV. Anugrah Prima dinyatakan pailit. Hal tersebut menyebabkan ketidakpastian hukum mengenai kedudukan CV selaku debitor utama dalam perjanjian kredit yang telah dibuat dengan pihak EKSIMBANK. Penjatuhan pailit terhadap personal guarantor seharusnya didahului dengan eksekusi harta debitor utama yang dalam hal ini adalah CV. Anugrah Prima. Namun penjatuhan pailit dalam kasus ini mengenyampingkan fakta bahwa CV. Anugrah Prima merupakan debitor utama yang harus bertanggung jawab selaku pihak yang melakukan perjanjian.

Pengaturan mengenai kepailitan CV tidak diatur secara eksplisit dalam UU Kepailitan. Dalam prakteknya penerapan terhadap penjatuhan pailit CV digunakan ketentuan yang berlaku bagi firma. Ketentuan tersebut menetapkan bahwa permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma harus memuat nama dan tempat tinggal masing-masing pesero yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh utang firma. Pencantuman nama pesero yang bertanggung jawab bertujuan untuk menentukan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap utang.

Dalam pihak yang bertanggung jawab terhadap perikatan yang dilakukan dengan pihak ketiga adalah pihak yang bertindak itu sendiri. Jadi terhadap utang- utang

CV. Anugrah Prima yang diadakan oleh H. Prima Kurniawan dengan debitor lain merupakan tanggung jawab H. Prima Kurniawan selaku pihak yang mengadakan perjanjian. Dengan demikian permohonan pailit terkait utang- utang CV. Anugrah Prima harus ditujukan kepada H. Prima Kurniawan. Namun dalam permohonan pailit terhadap utang- utang CV. Anugrah Prima yang diajukan EKSIMBANK, selain kepada H. Prima Kurniawan juga dimohonkan pernyataan pailit kepada Tuan Dedi Novianto selaku personal guarantor yang mengikatkan diri kepada EKSIMBANK selaku pemohon pailit. Penarikan Tuan Dedi Novianto selaku pihak personal guarantor dalam kasus permohonan pailit atas utang CV.

Anugrah Prima tersebut harusnya tidak dapat diterima karena Tuan Dedi Novianto bukan merupakan pihak yang bertanggung jawab atas seluruh perjanjian CV.

Anugrah Prima. Tuan Dedi Novianto hanya bertindak sebagai personal guarantor yang mengikatkan dirinya dengan EKSIMBANK untuk menjamin utang yang telah diberikan EKSIMBANK mana kala setelah dilakukan sita dan penjualan ternyata harta CV. Anugrah Prima tidak cukup lagi untuk memenuhi kewajibannya terhadap EKSIMBANK.

Permohonan pailit hanya dapat dilakukan jika terdapat kewajiban terkait utang oleh pihak termohon. Dalam permohonan kepailitan terhadap utang CV.

Anugrah Prima, Tuan Dedi Novianto selaku personal guarantor seharusnya tidak ditarik sebagai pihak karena belum muncul kewajiban bagi Tuan Dedi Novianto terkait utang CV. Anugrah Prima. Kewajiban tersebut baru muncul setelah dilakukan eksekusi terhadap harta debitor utama yang mengadakan perjanjian yaitu CV. Anugrah Prima/ H. Prima Kurniawan.

Dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa permohonan pernyataan pailit yang ditujukan kepada CV atas utang- utang CV merupakan tanggung jawab pihak CV yang bertindak melakukan perjanjian dengan pihak ketiga yang dalam hal ini adalah H. Prima Kurniawan sehingga ia selaku pihak yang bertanggung jawab dapat dinyatakan pailit jika telah memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan dalam UU Kepailitan dan terhadap Tuan Dedi Novianto harusnya tidak di sangkut pautkan dalam perkara kepailitan CV.

Anugrah Prima sebelum terbukti bahwa harta debitor utama tidak mencukupi untuk memenuhi tanggung jawab debitor setelah dilakukan sita dan penjualan terhadap seluruh harta kekayaan debitor yang dijaminnya yakni CV. Anugrah Prima.

b. Kepailitan terhadap Personal guarantor CV. Anugrah Prima.

Penjatuhan putusan pailit terhadap TERMOHON PAILIT -II/ Tuan Dedi Novianto selaku personal guarantor yang mengikatkan diri kepada EKSIMBANK selaku pemohon pailit untuk menjamin utang CV. Anugrah Prima tidak sesuai dengan syarat- syarat yang ditentukan oleh UU Kepailitan khususnya Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan yang menetapkan bahwa Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

Dalam pertimbangan hukum majelis hakim mengenai utang- utang termohon pailit dinyatakan bahwa para termohon pailit mempunyai utang kepada

Pemohon Pernyataan Pailit (EKSIMBANK) dan kepada PT.Bank Sumut/ Bank Pembangunan Daerah Sumatra Utara serta kepada PT. Bank Syariah Mandiri Medan dan salah satu utang tersebut, yakni utang kepada Pemohon Pernyataan Pailit.

Berikut adalah rincian lebih lanjut mengenai utang piutang tersebut berdasarkan pembuktian yang menjadi pertimbangan majelis hakim.

a. Keseluruhan Utang CV. ANUGRAH PRIMA/ TERMOHON PAILIT – I /H. Prima Kurniawan kepada EKSIMBANK berupa pinjaman kredit modal ekspor adalah sebesar Rp.2.714.458.188,00,- ( Dua milyar tujuh ratus empat belas juta empat ratus lima puluh delapan ribu seratus delapan puluh delapan rupiah).

b. Utang Termohon Pailit – I/ H. Prima Kurniawan kepada PT. Bank Sumut sebesar Rp.7.675.596.509,89.- (tujuh milyar enam ratus tujuh puluh lima juta lima ratus sembilan puluh enam ribu lima ratus Sembilan rupiah delapan puluh Sembilan sen).

c. H. Prima Kurniawan mempunyai utang kepada PT. Bank Syariah Mandiri Regional Financing Risk and Recovery RO I, Jl SM Raja Km 6,5 No 20- 21 Medan, dengan total perincian sebagai berikut.

1. Fasilitas I sebesar Rp. 252.390.140,36 2. Fasilitas II sebesar Rp. 284.197.440,45

Berdasarkan rincian tersebut dapat dilihat bahwa semua utang beratasnamakan termohon pailit -I atau H. Prima Kurniawan yang artinya H.

Prima Kurniawan yang harus bertanggung jawab terhadap semua utang- utang

tersebut sedangkan termohon pailit -II hanya dapat dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap utang dari pemohon pailit (EKSIMBANK) yang mana pertanggungjawaban timbul atas perjanjian personal guarantee oleh termohon pailit -II kepada pemohon pailit. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Molengraaff yang menyatakan dalam perikatan CV, siapa yang berbuat maka dialah yang bertangggung jawab kepada pihak ketiga.

Jadi terhadap putusan yang menyatakan pailitnya H. Prima Kurniawan sudah sesuai aturan hukum sedangkan mengenai pailitnya termohon pailit -II/

Tuan Dedi Novianto tidak tepat karena termohon pailit -II hanya bertanggung jawab terhadap terhadap satu kreditor yakni EKSIMBANK. Termohon pailit -II harus memenuhi asas concursus creditorium yang menetapkan bahwa debitor harus memiliki dua atau lebih utang untuk dapat dinyatakan pailit. Dalam kasus yang telah dikemukakan sebelumnya dapat dilihat bahwa termohon pailit -II hanya mengikatkan diri pada satu kreditor. Debitor yang dapat dipailitkan harus mempunyai sekurang- kurangnya dua kreditor. Apabila debitor hanya memiliki satu kreditor saja, maka permohonan pernyataan pailit atas debitor tersebut tidak dapat diajukan.156

Menurut UU Kepailitan kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang- undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.

Jika pengertian tersebut dihubungkan dengan kasus terkait utang piutang termohon pailit -II maka dapat dilihat bahwa orang yang mempunyai piutang

156 Zainal Asikin, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, (Jakarta:

PT Raja Gravindo Persada, 2001), Hlm. 35.

karena perjanjian hanya pemohon pailit (EKSIMBANK) karena termohon pailit -II hanya mengikatkan dirinya pada pihak EKSIMBANK.

Dengan demikian termohon pailit –II / Tuan Dedi Novianto yang hanya memiliki satu utang tidak memenuhi syarat untuk dinyatakan pailit sehingga penjatuhan pailit terhadap Tuan Dedi Novianto selaku personal guarantor dalam kasus ini bertentangan dengan ketentuan hukum khususnya UU Kepailitan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan dalam bab pembahasan sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Kedudukan personal guarantor dalam perjanjian kredit yakni sebagai pihak penjamin yang bertanggung jawab atas utang yang ditanggunggnya berdasarkan perjanjian pemberian personal guarantee manakala debitor utama tidak lagi mampu untuk melaksanakan perjanjian kredit yang telah disepakati antara kreditor dengan debitor utama atau lebih dikenal dengan istilah a second pocket to pay if the first should be empty..

Kedudukan personal guarantor sebagai penjamin dapat berubah menjadi debitor hanya ketika personal guarantor secara tegas telah menyatakan untuk melepaskan hak istimewanya atau ketika telah terbukti bahwa harta kekayaan debitor utama tidak lagi cukup untuk membayar utangnya setelah dilakukan sita dan penjualan terhadap seluruh harta kekayaan debitor utama.

2. Terhadap permohonan pernyataan pailit yang ditujukan terhadap CV berlaku ketentuan yang terdapat dalam Pasal 5 UU Kepailitan yang

menetapkan bahwa permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma harus memuat nama dan tempat tinggal masing- masing pesero yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh utang firma atau disebut juga sebagai sekutu aktif dalam hal perikatan CV.

Pemberlakuan ketentuan tersebut yakni karena di dalam perikatan CV terdapat persekutuan firma yang bertindak keluar mewakili CV serta bertanggung jawab sepenuhnya kepada pihak ketiga.

Pertanggungjawaban tersebut juga berlaku apabila terdapat pihak ketiga yang mengajukan permohonan pernyataan pailit atas utang-utang CV.

Jika pengurus CV terkait yang bertanggung jawab atas utang terbukti telah memenuhi segala keadaan yang telah disyaratkan dalam Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan maka terhadapnya harus dinyatakan putusan pailit dan akan dikenai akibat-akibat pailit sebagaimana yang telah diatur dalam UU Kepailitan .

Kemudian mengenai penjatuhan putusan pailit terhadap personal guarantor harus berdasarkan ketentuan yang telah diatur dalam UU Kepailitan khususnya Pasal 2 ayat (1) yang menetapkan menetapkan bahwa Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya. Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat

disimpulkan bahwa syarat – syarat agar permohonan pernyataan pailit dapat dikabulkan adalah sebagai berikut.

1. Adanya debitor;

2. Mempunyai dua atau lebih kreditor;

3. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Syarat – syarat agar debitor dapat dinyatakan pailit menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan bersifat kumulatif sehingga personal guarantor hanya dapat dinyatakan pailit jika telah terbukti memenuhi seluruh (ketiga) syarat – syarat tersebut.

Ketentuan tersebut harus dilaksanakan akibat sifat UU Kepailitan yang bersifat khusus (lex specialis) yang mana hukum yang lebih khusus mengenyampingkan hukum yang bersifat umum (lex generalis).

Selain itu terhadap personal guarantor yang dimohonkan pailit atas utang debitor yang ditanggunggnya, terhadapnya hanya dapat dimohonkan pailit apabila kedudukan personal guarantor berubah menjadi debitor yang mana hal tersebut dapat terjadi ketika personal guarantor secara tegas menyatakan telah melepaskan hak-hak istimewanya atau jika telah terbukti bahwa debitor utama tidak lagi mampu untuk memenuhi perikatannya setelah dilakukan sita dan penjualan terhadap seluruh harta kekayaan debitor.

Akibat penjatuhan pailit terhadap personal guarantor berlaku akibat- akibat sebagaimana akibat pailit bagi debitor perorangan yakni sebagai berikut. 157

1. Kekayaan debitor pailit yang masuk harta pailit merupakan sitaan umum atas harta para pihak yang dinyatakan pailit;

2. Kepailitan semata- mata hanya mengenai harta pailit;

3. Debitor pailit demi hukum kehilangan hak untuk mengurus dan menguasai kekayaannya yang termasuk harta pailit, sejak hari putusan pailit diucapkan;

4. Segala perikatan debitor yang timbul sesudah putusan pailit diucapkan tidak dapat dibayar dari harta pailit kecuali jika menguntungkan harta pailit;

5. Harta pailit diurus dan dikuasai kurator untuk kepentingan para kreditor dan debitor. Hakim pengawas memimpin dan mengawasi pelaksanaan jalannya kepailitan.

Lebih lanjut mengenai akibat- akibat pailit diatur secara khusus dalam UU Kepailitan Pasal 21 sampai pada Pasal 64 Bab II bagian kedua yang berjudul “Akibat Kepailitan”.

3. Pertimbangan hakim dalam penjatuhan pailit terhadap personal guarantor CV. Anugrah Prima melalui Putusan Nomor: 5/ Pdt.Sus- Pailit/ 2016/ PN.Mdn tidak tepat.

Setelah menganalisis fakta-fakta yang terdapat dalam putusan tersebut terlihat bahwa materi atau pokok masalah yang harus dipertimbangkan pertama kali yakni apakah benar Termohon Pailit -I/

H. Prima Kurniawan adalah Pesero Pengurus dari CV. Anugrah Prima dan Termohon Pailit -II/ Tuan Dedi Novianto merupakan Pesero Komanditer dalam CV. Anugrah Prima serta disamping itu apakah Termohon Pailit -I dan Termohon Pailit -II masing – masing

157 Sutan Remi Sjahdeini, Loc.Cit.

berkedudukan sebagai personal guarantor atas segala perikatan dari CV. Anugrah Prima sehingga Termohon Pailit dapat dinyatakan Pailit dengan segala akibat hukumnya?

Selanjutnya majelis hakim dalam pertimbangannya menyatakan bahwa Tuan Dedi Novianto merupakan sekutu komanditer dari CV.

Anugrah Prima tanpa adanya bukti apapun. Harusnya setiap pertimbangan hukum selalu diiring dengan bukti yang mendukung kebenaran adanya suatu fakta.

Kemudian terhadap Penjatuhan putusan pailit tersebut majelis hakim berpendapat bahwa syarat untuk dapat dikabulkannya permohonan pernyataan pailit adalah sebagai berikut.

1. Adanya debitor;

2. Mempunyai dua atau lebih kreditor;

3. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Syarat – syarat agar debitor dapat dinyatakan pailit menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan bersifat kumulatif sehingga personal guarantor hanya dapat dinyatakan pailit jika telah terbukti memenuhi seluruh (ketiga) syarat – syarat tersebut.

Terkait syarat mengenai adanya debitor, majelis hakim berpendapat bahwa pengikatan diri para personal guarantor dengan pihak EKSIMBANK melalui akta personal guarantee telah

membuktikan bahwa EKSIMBANK berkedudukan sebagai kreditor dan pihak personal guarantor sebagai debitor sehingga syarat terkait adanya debitor telah terpenuhi.

Pertimbangan tersebut tidak tepat karena seharusnya kedudukan personal guarantor hanya dapat berubah menjadi debitor ketika personal guarantor secara tegas menyatakan telah melepaskan hak-hak istimewanya atau jika telah terbukti bahwa debitor utama tidak lagi mampu untuk memenuhi perikatannya setelah dilakukan sita dan penjualan terhadap seluruh harta kekayaan debitor.

Dalam pertimbangannya majelis hakim menetapkan kedudukan personal guarantor sebagai debitor sebelum terbukti bahwa harta kekayaan debitor utama tidak cukup untuk memenuhi pembayaran setelah dilakukan sita dan penjualan untuk membayar utang-utangnya. Selain itu pengikatan diri oleh personal guarantor terhadap pihak EKSIMBANK tidak dapat serta merta menjadi dasar hakim untuk menyatakan bahwa personal guarantor telah melepaskan hak - hak istimewanya karena hal tersebut harus dinyatakan dengan tegas oleh personal guarantor itu sendiri dan bukan berdasarkan dugaan-dugaan.

Syarat Selanjutnya yang harus dipenuhi dalam Penjatuhan putusan pailit yakni adanya dua atau lebih kreditor.

Dalam bukti- bukti terkait terlihat bahwa utang-utang utang yang dijadikan landasan penjatuhan pailit beratasnamakan CV.

Anugrah Prima/ H. Prima Kurniawan sehingga seharusnya pihak yang dapat dinyatakan memiliki dua atau lebih kreditor hanya pihak H.

Prima Kurniawan sedangkan Tuan Dedi Novianto yang hanya mengikatkan diri dengan pihak EKSIMBANK tidak dapat dinyatakan telah memenuhi syarat terkait adanya dua ata lebih kreditor. Dengan tidak dipenuhinya syarat tersebut seharusnya Tuan Dedi Novianto tidak dapat dijatuhi putusan pailit

Dengan demikian putusan Penjatuhan pailit yang tertuang dalam Putusan Nomor: 5/ Pdt.Sus- Pailit/ 2016/ PN.Mdn Tidak tepat khususnya mengenai penjatuhan pailit terhadap Tuan Dedi Novianto yang bertindak sebagai personal guarantor dalam perjanjian kredit oleh CV. Anugrah Prima. .

B. Saran

1. Ketentuan hukum mengenai permohonan kepailitan terhadap CV dan Personal guarantor memerlukan pengaturan yang lebih khusus demi menjamin perlindungan hak bagi setiap orang yang terlibat dalam perkara tersebut. Perlindungan yang dimaksud ditujukan untuk mewujudkan keadilan dalam sistem peradilan di Indonesia.

2. Pertimbangan hakim dalam putusan mengenai penjatuhan pailit bagi CV dan personal guarantor yang masih inkonsisten

membuktikan bahwa pengaturan hukum kepailitan saat ini masih membutuhkan suatu perbaikan demi mencapai suatu kepastian hukum karena pengaturan yang masih menimbulkan tafsiran yang berbeda- beda tidak mungkin dapat menjamin kepastian hukum.

Ketidakpastian hukum akan memicu ketidakpercayaan terhadap lembaga peradilan.

3. Hendaknya rumusan hukum mengenai syarat pailit khususnya terhadap personal guarantor juga memperhatikan kedudukan personal guarantor itu sendiri yang mana personal guarantor hanya merupakan a second pocket to pay if the first should be empty. Penetapan terkait keharusan pemberian personal guarantee oleh pihak kreditor yang awalnya ditujukan untuk mengikat moral obligation pihak personal guarantor namun akhirnya malah menimbulkan kerugian bagi personal guarantor tidak jarang terjadi. Hal tersebut akan menimbulkan ketakutan pelaku bisnis untuk bertindak sebagai personal guarantor padahal syarat terhadap pemberian personal guarantee adalah syarat yang sudah umum dalam sistem perkreditan saat ini. Hambatan- hambatan untuk melakukan kredit dalam dunia usaha tentunya akan menjadi penghalang bagi kemajuan perekonomian di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Ali, Zainuddin. 2009. Metode Penelitian Hukum. Palu: Sinar Grafika.

Asikin, Zainal. 2001. Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada.

Asyhadie, Zaeni dan Budi Sutrisno. 2012. Hukum Perusahaan dan Kepailitan.

Mataram: Erlangga.

Badrulzaman, Mariam Darus. 1987. Bab-bab Tentang Creditverband, Gadai dan Fiducia. Bandung: Alumni.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Dokumen terkait