BAB IV ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN
A. Posisi Perkara Putusan Mahkamah Agung Nomor. 1134
4. Amar Putusan
Amar putusan dari hakim adalah menolak permohonan kasasi dari Pemohon/Kasasi HANNAH tersebut dan menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah).
B. Analisis Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 1134K/PDT/2009 Dalam Memberikan Kepastian Hukum Pada Pendaftaran Tanah
Sertipikat hak atas tanah merupakan perbuatan pemerintah bersegi satu, yang lahir karena hukum dan bersifat konkret karena ditujukan bagi mereka yang tercantum dalam sertipikat tersebut serta tidak memerlukan persetujuan instansi lain.
Apabila dilihat dari akibat yang ditimbulkan, maka tindakan pemerintah dalam kegiatan pemberian sertipikat hak atas tanah adalah bertujuan untuk memperkokoh
hak kepemilikan atas tanah dan memperjelas hak seseorang yaitu Hak Milik, Hak Guna Usaha, dan Hak Guna Bangunan dan hak lainnya.
Hak milik (property rights) merupakan suatu hak yang mempunyai hubungan kepemilikan yang tertinggi tingkatannya dibandingkan dengan hak-hak kepemilikan lainnya. Hubungan tanah dengan pemiliknya menimbulkan hak dan kewajiban maupun wewenang atas tanah yang dihaki, secara luas dikatakan oleh Lisa Whitehouse ”property is basic to the social walfare, people seek it, nations war it, and no one can do without it”125. Hak milik atas tanah melekat pada pemiliknya selama mereka tidak melepaskan haknya (peralihan hak). Menurut John Locke mengenai hak milik ini yang mengatakan bahwa: Ownership of property is a natural right and that the purpose of Government is to protect and preserve natural property right.126
Hak milik merupakan hak asasi manusia yang harus dihormati dan keharusan bagi negara untuk melindungi, memelihara dan menjaga hak kepemilikan warga negaranya. sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 H dan 28 G, Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Implementasi dari jaminan perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan yang berkaitan dengan tanah (agraria) oleh Negara selanjutnya dijabarkan kedalam UUPA. Tuntutan mendaftarkan tanah ini menjadi hak atas tanah yang dilindungi tentunya tidak lagi dapat dielakkan bahwa
125 Hari Chand, Modern Jurisprudence, (Kuala Lumpur: International Law Book Series, 1994), hal. 261.
126Rock Deborah, Property Law & Human Rights, (London: First Published, Blackstone Press Limited Aldine Place, 2001), hal. 3
pendaftaran tanah sudah menjadi keharusan. Sebab sebagai hak individu yang sifatnya keperdataan diakui sebagai hak yang utuh dengan segala kewenangan dan konsekuensinya pada si pemilik harus terjamin atas hak dan fungsinya.127
Sementara tugas administrasi termasuk meneliti keabsahan bukti awal, menetapkan serta memutuskannya sebagai alat bukti yang dapat diajukan untuk bukti permulaan, untuk kemudian mendaftarkannya dan memberikan bukti haknya, serta mencatat peralihan (mutasi) hak itu bila kelak akan dimutasikan. Juga memelihara rekaman itu dalam suatu daftar yang dapat dipertanggungjawabkan.128
Dengan demikian tugas pendaftaran tanah adalah tugas administrasi hak yang dilakukan oleh negara dalam memberikan kepastian hak atas tanah di Indonesia.
Artinya negara bertugas untuk melakukan administrasi tanah, dan dengan administrasi ini Negara memberikan bukti hak atas tanah telah dilakukannya administrasi tanah tersebut. Negara hanya memberikan jaminan yang kuat atas bukti yang dikeluarkannya, bukan semata-mata memberikan hak atas tanah kepada seseorang tetapi bukti administrasi saja.129
Hubungan penerbitan sertipikat tanah dan kepastian hukum adalah hubungan sebab akibat. Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 telah menetapkan kepastian hukum yang lebih baik menentukan batas waktu bagi pihak ketiga untuk menggugat, yakni lima tahun sejak dikeluarkannya sertipikat tersebut,
127 Muhammaad Yamin, Jaminan Kepastian Hukum Atas Tanah Dalam Pendaftaran Tanah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar tetap dalam Bidang Ilmu hukum Agraria pada Fakultas Hukum, (Medan, Universitas Sumatera Utara, September 2006), hal 6
128 Ibid
129 Muhammad Yamin, OpCit, hal 12
artinya lewat dari waktu yang ditentukan maka hak bagi orang yang ingin menggugat menjadi gugur atau kadaluarsa.
Sertipikat sebagai sebagai alat pembuktian yang kuat di dalam bukti pemilikan, maka sertipikat menjamin kepastian hukum mengenai orang yang menjadi pemegang hak milik atas tanah, kepastian hukum mengenai lokasi dari tanah, batas serta luas suatu bidang tanah, dan kepastian hukum mengenai hak atas tanah miliknya. Dengan kepastian hukum tersebut dapat diberikan perlindungan kepada orang yang tercantum namanya dalam sertipikat terhadap gangguan pihak lain serta menghindari sengketa dengan pihak lain, jaminan kepastian hukum tidak hanya ditujukan kepada orang yang tercantum namannya dalam sertipikat sebagai pemilik tanah, tetapi juga merupakan kebijakan pemerintah dalam menciptakan tertib administrasi pertanahan yang meletakkan kewajiban kepada pemerintah untuk melaksanakan pendaftaran tanah-tanah yang ada di seluruh Indonesia.130
Dengan nilai tanah yang begitu tinggi dalam masyarakat, tidak mengherankan apabila begitu banyak sengketa tanah yang diperkarakan di pengadilan. Dalam hal terjadinya sengketa tanah yang telah bersertipikat, maka untuk menentukan siapa pemilik tanah yang sebenarnya, maka pengadilan harus memutuskan. Putusan pengadilan adalah putusan hukum sejak dijatuhkan sampai dilaksanakan yang mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak yang beperkara, mengikat para pihak untuk mengakui eksistensi putusan tersebut. Putusan pengadilan mempunyai
130 Wawancara dengan Agustinus, Hakim Pengadilan Negeri Medan, Pada Tanggal 12 November 2015
kekuatan berlaku untuk dilaksanakan sejak putusan itu mempunyai kekuatan hukum tetap,131
Putusan pengadilan merupakan hasil akhir untuk menentukan siapa pemilik tanah yang sebenarnya dari para pihak yang beperkara. Pembuktian juga merupakan alat yang paling pokok bagi hakim untuk memutuskan suatu perkara. Pembuktian yang disampaikan kepada hakim oleh pihak yang beperkara harus sebaik dan selengkap mungkin serta merupakan fakta yang benar. Namun, hakim tidak boleh meminta pembuktian itu harus lengkap karena apa yang dianggap lengkap oleh hakim yang satu, belum tentu dianggap lengkap oleh hakim lainnya.132
Pengadilan memiliki peranan untuk mewujudkan keadilan. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan sengketa hukum di Pengadilan, hakim harus dapat mendeterminasikan dengan baik berdasarkan gugatan dan jawaban para pihak yang beperkara, yang menurut Robert Cooter dan Thomas Ulen:
“A judge must make a determination, based on the complaint and the answer, whetther their is sufficient reason to proceed to trial. The judge may determine that the plaintiff has failed to state a valid cause of action or that the defendent has made a complete and convincing answer to the complaint”133
Penemuan hukum yang dilakukan hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara harus didasarkan pada fakta-fakta yang ada untuk membuktikannya
131Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, Cetakan Kedua, (Yogyakarta: Liberty, 2001), hal. 37
132Ibid, hal. 38
133 Robert Cooter dan Thomas Ulen, Law and Economic, Third Edition, (Massachusetts:
Addison Wesley Lingman, Inc., 2000), hal 65
apakah suatu perkara terbukti benar atau tidak yang disertai pertimbangan hukum yang matang, dan memberikan kepastian hukum dan keadilan.
Untuk menyelesaikan suatu perkara setepat-tepatnya hakim harus terlebih dahulu mengetahui secara objektif tentang duduk perkara sebenarnya sebagai dasar putusannya, dan bukan secara aprioriti menemukan putusannya sedang pertimbangannya baru kemudian dikonstruksi peristiwa yang sebenarnya akan diketahui hakim dari pembuktian. Jadi, bukannya putusan itu lahir dalam proses secara apriori dan kemudian baru dikonstruksi atau direka pertimbangan pembuktiannya, tetapi harus dipertimbangkan lebih dahulu tentang terbukti atau tidaknya baru kemudian sampai pada putusan. Setelah hakim menganggap terbukti peristiwa yang menjadi sengketa yang berarti bahwa hakim telah dapat mengkonstatir peristiwa yang menjadi sengketa, maka hakim harus menentukan peraturan mengenai sengketa antara kedua belah pihak. Hakim harus menemukan hukumnya, dan mengkualifisir peristiwa yang dianggapnya terbukti.134
Menurut ketentuan Pasal 8 Ayat 1 huruf c Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 bahwa hak milik dapat dipunyai Warga Negara Asing dengan memperoleh sertipikat hak milik berdasarkan; peralihan hak karena warisan tanpa wasiat dan harta bersama dalam perkawinan, dengan catatan bahwa ia harus melepaskan haknya dalam jangka waktu
134 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab tentang Penemuan Hukum, Cetakan Ke I, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1993), hal. 32-33.
satu tahun sejak ia memperoleh hak (lihat juga Pasal 21 Ayat 3 Undang-Undang Pokok Agraria).
Sehingga jika melihat Peraturan di atas jelas bahwa Warga Negara Asing yang mempunyai hak milik dan mengalihkannya berdasarkan wasiat seperti kasus diatas seharusnya dibatalkan, karena warga negara asing tidak boleh memiliki hak milik terlebih lagi mengalihkannya dengan wasiat yang juga kepada pihak yang masih berkewarganegaraan asing hal ini berdasarkan Pasal 26 ayat (2) UUPA yaitu peralihan hak milik kepada warga negara asing adalah batal demi hukum dan hak atas tanahnya jatuh pada Negara.
Begitu juga berkenaan dengan hak milik atas satuan rumah susun (HMSRS) oleh warga negara asing maka Undang-undang No 16/1985 tentang Rumah Susun (UURS) juga menegakkan prinsip yang sama, yakni bahwa pemilikan HMRSRS itu harus berada di atas Hak Pakai atas tanah Negara. Hal ini disebabkan karena dalam konsep kepemilikan rumah susun terdapat pemilikan secara individual dan terpisah yakni terhadap HMSRS itu, namun sekaligus juga mengandung pemilikan bersama secara proporsional dan tidak terpisah terhadap tanah bersama, benda bersama dan bagian bersama.135
Jika dilihat dasar dari Tergugat memiliki sertipikat adalah wasiat dan kuasa penerima wasiat dan surat pembayaran pajak bumi dan bangunan dengan tahun berjalan dengan mengisis blanko sprodik yang telah ditanda tangani pihak yang wajib mengetahui maka terlihat bahwa pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa saling
135Maria S.W Sumardjono, Opcit, hal 7
diuntungkan dengan perjanjian tersebut tidak mempermasalahkan kebenaran materiil, karena bagi mereka lebih mempertimbangkan praktis lebih penting dibandingkan pertimbangan yuridis. Kenyataan ini menunjukkan bahwa amanat Pasal 9, Pasal 21 dan Pasal 26 ayat (2) UUPA disampingi dalam praktiknya. Perjanjian dengan seperti itu dan dengan menggunakan kuasa seperti itu substansinya bertentangan dengan UUPA khsusnya Pasal 26 ayat (2) yang berbunyi :
“Setiap jual beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk langsung memindahkan hak milik kepada orang asing, kepada warga Negara yang disamping kewarganegaraan Indonesia mempunyai kewarganegaraan asing atau kepada suatu badan hukum kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah termasud dalam Pasl 21 ayat (2) UUPA adalah batal karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara dengan ketentuan bahwa pihak-pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung serta semua pembayaran yang telah diterima oleh pemiliki tidak dapat dituntut kembali.”
Perbuatan Tergugat mensertipikatkan tanahnya memang dilakukan secara terbuka yang artinya perbuatan Tergugat bukanlah perbuatan melawan hukum sehingga patut untuk dilindungi, yang artinya Tergugat tidak bersalah namun para instansi mana yang berwenanglah yang kurang pengawasan dalam melihat segala persyaratan untuk mendapatkan sertipikat hak milik tersebut namun putusan hakim yang memenangkan pihak tergugat telah memberikan kepastian hukum pada pendaftaran tanah bahwa sertipikat memang berfungsi untuk memberikan kepastian hak, kepastian objek, dan kepastian subjek terhadap pemilik sertipikat (sesuai Pasal 32 ayat (1) UUPA) tetapi putusan ini tidak memberikan kepastian hukum dalam proses administrasi penerbitan sertipikat karena menyimpangi dari amanat pada Pasal
9, Pasal 21 dan Pasal 26 ayat (2) UUPA, karena tidak memperhatikan bagaimana proses peralihannya atau terjadinya hak milik yang tidak sesuai dengan kepatutan.
Hak-hak atas benda termasuk tanah yang mutlak merupakan hak-hak perorangan yang paling utama. Setiap pelaku pelanggaran dari suatu hak atas tanah sebagai hak yang mutlak dapat diberikan keleluasaan untuk menuntut penghukuman pelanggar dari haknya untuk memenuhi kewajiban-kewajiban, dengan putusan hakim yang berisikan penghukuman tentunya diperoleh kepastian hukum. antar pihak-pihak yang bersengketa harus selalu diberikan putusan yang adil.136
Untuk menghindari terjadinya kekeliruan di dalam menilai dan meneliti suatu perkara, hendaknya hakim tidak saja mendasarkan pada peraturan perundang-undangan, tetapi juga lebih memperhatikan yurisprudensi Mahkamah Agung terhadap sengketa hak milik atas tanah, dimana hakim terikat dan tidak boleh menyimpang dari putusan-putusan terlebih dahulu oleh hakim yang lebih tinggi tingkatannya,137karena hakim harus menemukan hukumnya dan mengkualifisir peristiwa yang dianggap terbukti,138 Menurut Socrates hakim dalam menghadapi perkara harus bijaksana dengan mempertimbangkan dengan cermat dan akhirnya mengambil putusan tanpa memihak.139
136J.P.H. Suijling, Hak-Hak Subjektif dalam Hukum Perdata dan Hukum Publik, (Bandung : Armico, 1985), hal 13-17, dan 22-23 Terjemahan Hoesein Soemdiredja.
137Ian McLeod, Legal Method, Third Edition, (London :Macmillan Press Ltd, 1999), hal 132.
Lihat juga Ronny Hanitijo Soemitro, Meodologi Penelitian hukum dan Jurismetri, dalam Astin Riyanto, Filsafat Hukum, (Bandung : Yapemdo, 2003), hal 619.
138 Sudikno Mertokusumo dan A.Pitlo, Bab-Bab tentang Penemuan Hukum, Cetakan Ke I, (Jakarta : Citra Aditya Bakti, 1993), hal 32-33.
139 Paul Scholten, Struktur Ilmu Hukum, Cetakan Ke-I, (Bandung: Alumni, 2003), hal 64 Terjemahan B. Arief. Sidarta.
Penerbitan sertipikat menimbulkan akibat hukum, berarti menimbulkan perubahan dalam suasana hubungan hukum yang telah ada, karena penetapan tertulis itu merupakan tindakan hukum, maka sebagai tindakan hukum ia selalu dimaksudkan untuk menimbulkan suat akibat hukum. Sebagai suatu tindakan hukum, penetapan tertulis harus mampu menimbulkan suatu perubahan dalam hubungan-hubungan hukum yang telah ada, misalnya melahirkan hubungan hukum yang baru dan menghapus hubungan hukum yang tela ada, menetapkan status dan sebagainya.140
140Anna Erliyana, Keputusan Presiden (Analisis Keppres RI 1987-1998) Cetakan I, Fakultas Hukum Pasca Sarjana, (Jakarta : Universitas Indonesia, 2004), hal 111
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Prosedur pelaksanaan wasiat dihadapan Notaris untuk Warga Negara Asing dalam membuat akta memperhatikan jangka waktu hak atas tanah tersebut dengan mengecek data identitas kewarganegaraan Asing dan data pendukung lainnya, kenudian melaporkan pembuatan wasiat Warga Negara Asing tersebut ke Pusat Daftar Wasiat Subdit Harta Peninggalan di Kementrian Hukum dan HAM RI (disebut Pusat Daftar Wasiat), memberikan salinan Akta Wasiat yang pernah dibuat di Indonesia.
2. Status hukum sertipikat hak milik yang didaftarkan atas nama Tergugat (sebagai pelaksana wasiat) berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1134 K/Pdt/2009 tetap diakui sebagai milik Tergugat karena tanah yang diwasiatkan tersebut didaftarkan secara sporadik dan terbuka atas nama Tergugat berdasarkan wasiat dan kuasa penerima wasiat yang telah disetujui pejabat yang berwenang yaitu Lurah/Camat, BPN dan disaksikan oleh tetangga disekitar objek tanah tersebut walaupun pemberi wasiat berkewarganegaraan Asing dan penerima juga masih berkewarganegaraan Asing tetapi sebelum sertipikat terbit maka Tergugat telah mengganti kewarganegaraannya menjadi WNI.
3. Analisis Pertimbangan Hakim Dalam Putusan mahkamah Agung Nomor 1134K/PDT/2009 Dalam memberikan Kepastian Hukum Pada Pendaftaran Tanah
adalah dalam putusan ini memang memberikan kepastian hukum dalam pendaftaran tanah yang meliputi kepastian hak, kepastian objek, dan kepastian subjek terhadap pemilik sertipikat (sesuai Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997) tetapi tidak memberikan kepastian hukum dalam proses administrasi penerbitan sertipikat karena seharusnya satu tahun setelah diketahui sebagai penerima wasiat yang berkewarganegaraan Asing maka seharusnya melepaskan haknya yaitu berdasarkan Pasal 9, Pasal 21 dan Pasal 26 ayat (2) UUPA.
B. Saran
1. Disarankan untuk Notaris agar berhati-hati dalam membuat akta wasiat bagi penghadap Warga Negara Asing dengan memperhatikan status objek yang akan diwasiatkan dan surat pernyataan bahwa harta yang diwasiatkan tidak melebihi dari 1/3 bagian dan sebelum membuat wasiat tetap harus dimintakan surat keterangan hak waris menjaga agar jangan ada pihak yang dirugikan.
2. Disarankan kantor pertanahan harus lebih cermat dan teliti dalam memeriksa seluruh dokumen syarat pendaftaran tanah terlebih yang berasal dari pewarisan maka untuk memperoleh kekuatan pembuktian tanah dari hasil pewarisan, surat hak keterangan hak waris harus digunakan sebagai dasar pendaftaran tanah.
3. Disarankan agar hakim dalam memberikan putusan terhadap perkara dengan memperhatikan segala peraturan perundang-undangan yang terkait dengan masalah tersebut yakni tidak terfokus pada satu peraturan saja, yakni dengan
memperhatikan landasan yuridis penguasaan tanah oleh WNA, proses peralihannya atau terjadinya hak milik atas tanah yang tidak sesuai dengan kepatutan, karena hakim harus berfungsi sebagi judges as law maker sesuai prinsip the rule of law yang merupakan prinsip independensi pengadilan yang dapat menjamin memberikan rasa keadilan bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA Buku-buku
Adjie, Habib, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 2009
____________, Sanksi Perdata dan Sanksi Adminstratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Surabaya : Aditama, 2013
____________, Kompilasi 1 Persoalan Hukum Dalam Praktek Notaris Dan PPAT , Surabaya: PL Kls II, 2015
Ali, Achmad, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Jakarta: PT. Gunung Agung Tbk, 2002
Ashhofa, Burhan, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 1996
Bahri, Syamsul, Hukum Agraria Indonesia Dulu dan Kini, Penerbit Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang, 1981,
Budiarto, M.Ali, Kompilasi Kaidah Hukum Putusan Mahkamah Agung , Hukum Acara Perdata Setengah Abad, Jakarta: Swa Justitia, 2004
Chand, Hari, Modern Jurisprudence, (Kuala Lumpur: International Law Book Series, 1994
Cooter, Robert dan Ulen, Thomas, Law and Economic, Third Edition, Massa-chusetts: Addison Wesley Lingman, Inc., 2000
Daiyo, J.B., Pengantar Ilmu Hukum, Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta: PT.
Prennahlindo, 2001
Daliyo, J.B, Hukum Agraria I, Cetakan 5, Jakarta : Prehallindo, 2001
Deborah, Rock, Property Law & Human Rights, London: First Published, Blackstone Press Limited Aldine Place, 2001
Dirdjosisworo, Soedjono, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001
Erliyana, Anna, Keputusan Presiden (Analisis Keppres RI 1987-1998) Cetakan I, Fakultas Hukum Pasca Sarjana, Jakarta : Universitas Indonesia, 2004
Fachruddin, Irfan, Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan Pemerintah, Edisi Pertama, Cetakan Kesatu, Bandung: Alumni, 2004
Fajar, Mukti dan Achmad, Yulianto, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,Yogyakarta : PT Pustaka Pelajar, 2010
Friedman, W., Legal Theory, Third Edition, London: Stevens dan Sons Limited 1953 ___________ The Legal Sistem A Social Science Perspektive, New York: Russel
Sage Foundation, 1975
___________ Teori dan Filsafat Hukum dalam Buku Telaah Kritis atas Teori-Teori Hukum, diterjemahkan dari buku aslinya Legal Theory oleh Muhammad Arifin, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993
Harsono, Boedi , Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agrarian, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2003 Hermit, Herman, Cara Memperoleh Sertipikat Tanah Hak Milik, Tanah Negara dan
Tanah Pemda, Bandung: Penerbit Mandar Maju, 2004
Isnur, Eko Yulian, Tata cara Mengurus Segala Macam Surat Rumah dan Tanah, Jakarta: Buku Seru, 2012
Kie, Tan Thong, Studi Notariat, Serba-Serbi Praktek Notaris, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 2007
Kusnadi, Adi, Laporan Teknis Intern Tentang Masalah Hukum Perubahan Status, Jakarta, 1999
Locke, John “Second Treatise on Government”, 1689, dikutip oleh Rock Deborah, Property Law & Human Rights, London: First Published, Blackstone Press Limited Aldine Place, 2001
Lubis, J.B Dayo, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung: Mandar Maju, 1994 Lubis, M. Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung: CV. Mandar Maju
Lubis, Mhd. Yamin, Abd Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi, Bandung : Mandar Maju, 2010
Ma’moen, Antje M., Pendaftaran Tanah Sebagai Pelaksana UUPA Untuk Mencapai Kepastian Hukum Atas Tanah di Kota Madya Bandung Disertasi, Bandung:
Universitas Pajajaran, 1996
McLeod, Ian, Legal Method, Third Edition, London :Macmillan Press Ltd, 1999 Mertokusumo, Sudikno dan Pitlo, A., Bab-Bab tentang Penemuan Hukum, Cetakan
Ke Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1993
Mertukusumo, Soedikno, Hukum dan Politik Agraria, Jakarta: Karunika- Universitas Terbuka, 1988
__________________, Penemuan Hukum, Cetakan Kedua, Yogyakarta: Liberty, 2001
Muhammad, Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004
Muljadi, Kartini dan Widjaja, Gunawan, Kedudukan Berkuasa dan Hak Milik dalam Sudut Pandang KUHPerdata, 2003
Mustafa, Bachsan, Hukum Agraria Dalam Perspektif, Cetakan Ketiga.Bandung:
Remaja Karya, 1988
Nasution, Bahder Johan, Metode Penelitian Hukum, Bandung: CV. Mandar Maju, 2008
Parlindungan, A.P., Pedoman Pelaksanaan Undang-undang Pokok Agraria dan Tata Cara Pejabat Pembuat Akta Tanah, Mandar Maju, Bandung, 1991
____________, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Bandung: Mandar Maju, 2008
Purnamasari, Irma Devita, Kiat-Kiat Mudah Dan Cerdas Memahami Hukum Waris, Bandung : Kaifa, 2014
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000
Rusmadi, Murad, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah, Bandung : Alumni, 1991
Santoso, Urip, Hukum Agraria dan Hak-Hak atas Tanah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007
Scholten, Paul, Struktur Ilmu Hukum, Cetakan Ke-I, Bandung: Alumni, 2003
Sembiring, M.U., Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undnag Hukum Perdata, Medan : Program Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1989
Silalahi, Ulber, Metode Penelitian Sosial, Bandung: PT. Refika Aditamam, 2009 Sitorus, Dewi Inalya Junita, Perjanjian Penguasaan Tanah Oleh Indonesian Nominee
Kepada warga Negara Asing, Medan, FH USU, 2009
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1981
Soetami, A. Siti, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Bandung : PT. Eresco, 1997
Suardi, Hukum Agraria Jakarta : Badan Penerbit Iblam, 2005 Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Rieneka Cipta, 1995
Suijling, J.P.H., Hak-Hak Subjektif dalam Hukum Perdata dan Hukum Publik, Bandung : Armico, 1985
Sumardjono, Maria S.W., Alternatif Kebijakan Pengaturan Hak Atas Tanah Beserta Bangunan Bagi Warga Negara Asing dan Badan Hukum Asing, (Bogor:
Grafika Mardi Yuana, 2007
Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997
Sunindihin, Y.W, Ninik Widiyanti, Pembaharuan Hukum Agraria Beberapa Pemikiran), (Jakarta : Bina Aksara, 1980
Supriadi, Hukum Agraria, Jakarta: Sinar Grafika, 2007
Suryabrata, Samadi, Metodologi Penelitian,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998 Sutedi, Adrian, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya, Jakarta : Sinar
Grafika, 2008
Thomson, Mark P., Modern Land Law, First Published, (New York :Oxfod University Press, 2001
Yamin, Muhammad, Jaminan Kepastian Hukum Atas Tanah Dalam Pendaftaran
Yamin, Muhammad, Jaminan Kepastian Hukum Atas Tanah Dalam Pendaftaran